Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini

Warning: AU, OC, OOC, Slash, Infidelity, Mpreg, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, hurt/comfort

Pairing: Akakuro, slight! Kagakuro, KagaFuri


THE TRUE EMPRESS

By

Sky


Sebuah drama yang terjadi dalam kehidupan itu tidak akan pernah padam dalam waktu yang sangat singkat, apalagi bila drama tersebut mengakibatkan sebuah skandal yang sangat besar dan pelaku dari skandal tersebut adalah keluarga kerajaan dimana raja dan ratu dari sebuah kerajaan menjadi tokoh utamanya. Berita tentang kecemburuan Ratu Seirin sampai ia melakukan perbuatan kasar terhadap selir Furihata pun menyebar begitu cepat dalam waktu kurang dari 24 jam. Tidak ada orang yang tidak tahu akan berita tersebut setelahnya, apalagi bila di dalamnya terdapat kemarahan sang Raja Seirin kepada ratu-nya karena sang Ratu sendiri begitu lancang dalam mengganggu waktu pribadinya dengan sang selir itu sendiri. Menjadi seorang raja dari sebuah kerajaan artinya ia bisa melakukan apapun, bahkan memiliki selir sebanyak apapun orang-orang tak berhak protes kepadanya, dan ratu adalah orang yang masuk dalam kategori itu. Sehingga perbuatan yang jelas-jelas menunjukkan kecemburuan pun sama sekali tidak bisa diterima, terlebih pelaku dari hal itu adalah sang Ratu sendiri.

Pujian serta kehangatan yang orang-orang tunjukkan kepada Ratu Tetsuya pun kini berubah menjadi cemooh serta sindiran. Mereka mengecap bahwa Ratu Tetsuya tak bisa membawa dirinya sendiri, apalagi sampai ia berani membentak sang Raja serta selir istana seperti kejadian malam itu, sebuah perbuatan yang tidak mencerminkan harga diri seorang ratu. Harusnya sang Ratu bersikap layaknya ratu, membutakan matanya serta beranggapan bahwa itu adalah hal yang normal, selalu berlaku penuh dengan kewibawaan yang tinggi dan tidak mengurusi urusan raja. Para pesaing ratu, khususnya dari pihak selir dan keluarganya pun menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan sang Ratu. Semua itu mampu diambil oleh sang Ratu yang sudah menenangkan dirinya dengan baik, namun sepertinya ia tak mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan komentar pedas dari sang Raja sendiri yang merupakan suaminya.

"Mungkin ini dikarenakan Tetsuya tidak memiliki darah bangsawan dan tidak dididik tata krama yang benar saat ia masih kecil, perbuatannya itu benar-benar membuatku marah dan ingin menghukumnya. Kalau saja aku tidak masih mencintainya, sudah aku batalkan pernikahan kami!"

Ucapan dari Raja Kagami Taiga itu menjadi bumerang utama yang tak dapat diterima oleh sang Ratu, namun dengan bijak Tetsuya pun mencoba untuk tidak memberikan tanggapan apapun sebab ia tak ingin memperkeruh suasana di antara dirinya dengan sang suami pada saat itu juga. Tetsuya sendiri mengakui kalau perbuatannya di ruang tahta beberapa hari yang lalu itu sedikit keterlaluan serta tak mencerminkan posisinya, sebagai seorang ratu ia harusnya bisa menerima kalau sang Raja memiliki selir serta orang lain untuk membahagiakannya, tidak seharusnya ia marah apalagi memperlakukan selir Furihata seperti itu. Namun Tetsuya yang keras kepala tidak akan mau meminta maaf kepada Taiga maupun Furihata, meskipun ia seorang ratu yang seharusnya tak boleh cemburu akan kegiatan suaminya pun ia tak bisa melakukannya. Tetsuya adalah manusia yang juga punya hati, ia bukanlah seorang boneka yang mampu menerima perbuatan suaminya yang tidur di belakang dirinya. Meski ia menerima kegiatan Taiga, sampai kapan pun Tetsuya tidak akan rela membagi suaminya dengan orang lain.

Kekanakan, desisan itulah yang sering Tetsuya dengar dari belakang namun ia menghiraukan semua itu. Ia menulikan telinganya untuk menghindari komentar pedas. Perilaku bar-bar karena sang Ratu berasal dari masyarakat rendahan, putra dari seorang tabib yang namanya saja tidak dikenal, Tetsuya juga tidak mengambil hati karena olokan tersebut.

Tiga hari telah berlalu namun berita miring tentang Tetsuya pun tidak reda begitu saja, banyak pihak yang sekarang berada di pihak selir Furihata, bahkan tak sedikit dari mereka yang memiliki spekulasi besar kalau Raja Taiga akan menggantikan posisi Tetsuya sebagai Ratu Seirin dengan Furihata Kouki, terlebih sang selir sendiri saat ini tengah mengandung anak dari Kagami Taiga yang diyakini adalah seorang putra mahkota yang nanti dapat meneruskan tahta sang Raja. Banyak kekurangan yang dilebih-lebihkan oleh pihak yang tidak menyukai sang Ratu. Mereka menganggap kalau Kagami Tetsuya itu adalah orang yang kekanakan, ia tak berasal dari keluarga bangsawan, temperamennya sangat rendah serta pembangkang, dan yang utama adalah Tetsuya sampai sekarang belum mampu memberikan keturunan untuk sang Raja.

"Aku merasa kasihan kepada Ratu Seirin, berita buruk tentang dirinya semakin menyebar dan tak padam-padam-ssu!" Ujar seorang pemuda berambut pirang keemasan yang menatap sosok sang Ratu dari jendela kamar milik sang duta besar kerajaan Teiko.

Kedua mata topaz milik Kise terus mengamati bagaimana sosok mungil dari sang Ratu Teiko itu masih terduduk di atas rerumputan hijau yang ada di taman istana, ia tak melakukan apapun kecuali merangkai bunga yang tersebar di sekitarnya bersama seorang gadis berambut merah muda yang sangat Kise kenal.

"Aku senang Momoicchi tidak meninggalkan sisi sang Ratu ketika ia sangat membutuhkan bantuan moral, rasanya aku ingin menghajar Kagami Taiga itu dengan tanganku-ssu!" Tangan kanan Kise mengepal dengan erat, buku-buku jemarinya memutih dan ia pun memukul dinding keras yang ada di samping dinding jendela, membuatnya retak namun tak sampai hancur. "Akashicchi, apa aku bisa mengubah si Kagami itu menjadi katak-ssu? Tanganku gatal."

Mungkin misi mereka bertiga adalah memata-matai bagian dalam istana Seirin dan mencari tahu kelemahan musuh dari dalam, sehingga skandal heboh yang terjadi di dalam istana ini tentu saja saja tak akan luput dari perhatian mereka bertiga, dan Kise yang merupakan orang paling sensitif di antara ketiganya mau tak mau mengeluarkan opininya serta menuangkan kemarahan serta menggumamkan ketidakadilan yang terjadi. Semuanya sudah jelas kalau dari mereka bertiga Kise Ryouta adalah orang yang mendeklarasikan dirinya akan berada di pihak sang Ratu, dari dulu Kise tak pernah bisa menerima yang namanya ketidaksetiaan apalagi bila hal tersebut terjadi di dalam pernikahan yang merupakan hal sakral dan harus dihormati oleh kedua pihak yang terkait di dalamnya. Kise tidak peduli apakah memiliki selir itu hak raja atau tidak, namun yang jelas ia tak menyukai ini.

"Aku akan memotong tanganmu bila kau ketahuan menggunakan sihir, Ryouta," jawab dari sang Kaisar berambut merah yang menyahuti pertanyaan Kise, kedua mata heterokromatik milik sang Kaisar beralih dari sosok ksatria kuningnya dan mengarah pada sosok Aomine Daiki yang masih tiduran di atas tempat tidur miliknya dengan beralaskan lengannya sebagai bantalnya. "Daiki, pastikan Ryouta tidak berbuat bodoh atau kau akan aku hukum juga!"

Perintah yang keluar dari Kaisar (yang masih menyamar menjadi duta besar Teiko untuk Seirin) Teiko itu membuat pemuda berkulit kecoklatan tersebut mau tidak mau menghembuskan nafas panjang, kedua matanya pun langsung memberikan tatapan ganas pada Kise yang mengatakan kalau ia tak ingin terlibat pada masalah yang Kise buat. Hanya saja melihat siapa partnernya itu, Aomine yakin dirinya tak akan bebas dari apa yang namanya masalah dan di akhir kalimat baik dirinya serta Kise akan mendapat hukuman dari Seijuurou.

Menghiraukan protes yang Kise berikan padanya, pemuda berambur biru gelap itu memberikan anggukan singkat sebagai jawaban dari perintah sang Kaisar.

"Terserah apa katamu, Akashi," ujar Aomine dengan sedikit ogah-ogahan, untungnya Seijuurou tak mempermasalahkan hal itu atau ia akan menemukan dirinya terbakar pada saat ini juga. Elemen api yang merupakan andalan dari sang Kaisar itu sangat berbahaya. "Oi, Kise... Jangan berbuat bodoh, aku tak ingin mendapat masalah dengan Akashi!"

Lagi-lagi tangisan penuh protes yang Kise berikan pun dihiraukan oleh Seijuurou maupun Aomine, tidak ada gunanya mendengarkan suara cempreng yang protes seperti itu.

"Aominecchi bodoh-ssu, aku tak mungkin membuat masalah!"

Seijuurou yang duduk di atas sofa yang tak jauh dari sosok Kise yang masih berdiri di ambang jendela pun hanya terkekeh kecil mendengar argumen di antara Aomine dan Kise, ia pun menghiraukan mereka berdua untuk beberapa saat kemudian untuk menganalisa apa yang terjadi belakangan ini di istana utama Seirin dimana ia dan kedua ksatria-nya tengah berada saat ini. Skandal kerajaan seperti ini bukanlah yang kali pertama terjadi dalam kehidupannya, bisa ia katakan ini adalah yang kesekian kalinya terjadi meski Seijuurou sendiri bukanlah pelaku utamanya, dan ia pun tak akan mau menjadi tokoh utama dalam drama picisan yang tak ada untungnya seperti itu. Seijuurou ingat sewaktu ia kecil dirinya sering melihat kedua orangtuanya bertengkar karena masalah sang ayah yang memiliki selir begitu banyak sehingga membuat ibunya menderita, sebuah skandal dalam keluarga kerajaan Teiko sering sekali terjadi saat ia masih kecil, terima kasih kepada sang ayah yang memiliki hidup seperti seorang Casanova, bahkan Seijuurou kecil tak dapat menghitung sudah berapa banyak wanita dan carrier yang ayahnya bawa ke tempat tidurnya untuk ditiduri. Perbuatan sang ayah itu tentu membuat Ratu Imperial Teiko geram serta marah, bahkan Akashi Shiori itu disebut sebagai wanita paling berbahaya sepanjang sejarah karena ia terkenal tidak takut oleh sang Kaisar Teiko pada saat itu, bahkan tidak jarang pula ibu dari Seijuurou tersebut menggunakan sihir untuk menghabisi para selir yang tidak disukainya dan ia tak takut akan opini publik mengenai dirinya. Akashi Shiori, naga merah dari Teiko itu adalah sorcerer terkuat pada masa itu, bahkan ayah Seijuurou sendiri tak berani menentang Shiori secara terang-terangan. Kehidupan keluarga kerajaan dimana sang Raja memiliki lebih dari satu istri itu adalah kehidupan yang kelam, satu alasan kenapa Seijuurou menolak untuk memiliki selir, bila ia memiliki permaisuri yang akan ia jadikan ratu maka orang itu adalah yang satu-satunya bagi Seijuurou. Pemuda berambut merah darah itu adalah seorang Kaisar, ia mutlak dan apapun yang menjadi keinginannya tidak bisa ditentang, ia memiliki darah naga merah Teiko di dalam nadinya. Ibunda Akashi Seijuurou ini adalah ratu yang sejati di mata pemuda itu, ia berani namun rela berkorban untuk orang-orang yang dicintainya, dan perbuatannya itu didasari oleh rasa cintanya kepada sang putra karena ia tak ingin keluarganya berantakan akibat sikap kekanakan dari suaminya. Seijuurou sangat mencintai sang ibu.

Buku yang terbuka di atas pangkuan sang Kaisar itu terabaikan begitu saja, pikirannya melayang jauh ke masa lalu dimana dirinya masih kecil dan masih tinggal dengan sang ibu, sebuah ingatan yang sangat berharga baginya dan tak bisa dilupakan begitu saja. Melihat Tetsuya pada hari itu, pemuda berparas manis itu mengingatkannya kepada Akashi Shiori. Ia lembut dan penyayang, namun ia memiliki sisi lain yang membuat dirinya kagum pada diri Tetsuya. Tetsuya yang merupakan Ratu Seirin dan diharapkan tunduk pada perintah suaminya itu sangat berani mengeluarkan pendapatnya, bahkan ia pun tak menanggapi opini publik yang mengecap dirinya sebagai orang bar-bar karena itu. Bagi Seijuurou, Tetsuya itu sudah melebihi perkiraannya dan bisa dikatakan sebagai ratu sejati, begitu mirip dengan mendiang ibunda Seijuurou.

Kuroko Tetsuya, kau adalah orang yang menarik, pikir Seijuurou kepada dirinya. Entah sejak kapan ia mulai tertarik pada pemuda manis itu, namun yang jelas baik dirinya maupun sihir yang tinggal di dalam tubuhnya tersebut tertarik pada sosok ratu yang bernama lengkap Kuroko Tetsuya tersebut, dan bila Raja Seirin bodoh itu benar-benar melakukan apa yang orang-orang prediksikan, yaitu mengganti kedudukan Tetsuya dengan Furihata Kouki maka Seijuurou akan dengan senang hati mengambil sosok pemuda berparas manis tersebut ke dalam pelukannya. Memikirkan hal ini saja sudah cukup membuat seringai tipis kembali muncul di bibir Seijuurou, sampai saat itu tiba Seijuurou akan sabar untuk menanti. Mungkin bukan hanya Kuroko Tetsuya yang akan jatuh ke dalam pelukannya, namun kerajaan ini juga akan menjadi miliknya.

Seijuurou begitu percaya diri, berita yang Murasakibara bawa untuknya kemarin itu sudah mampu membuat sang Kaisar berambut merah darah itu merasa puas, masyarakat kelas bawah tidak puas akan pemerintahan Kagami meskipun mereka tak menyuarakan protes tersebut secara langsung karena mereka takut akan hukuman yang akan diberikan sang Raja. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu Seijuurou berada di istana ini ia sudah melihat beberapa orang dihukum mati baik itu dengan dipenggal maupun dibakar hidup-hidup, kesalahan mereka itu hanya satu yaitu terbukti melakukan sihir meski beberapa dari mereka bukanlah penyihir dan kesalahan itu hanyalah dugaan belaka. Sihir adalah hal yang terlarang, dan ketakutan akan sihir yang melanda negara ini sungguh menggelikan bagi Seijuurou. Sepertinya Kagami Taiga tak mengetahui kalau istrinya itu memiliki sihir, Seijuurou penasaran akan apa yang Taiga lakukan bila ia mengetahui Tetsuya memiliki sihir.

"Menarik," gumam Seijuurou dengan seringai kecil yang masih terpatri dengan elok di wajahnya.

Gumaman kata itu menarik perhatik Kise serta Aomine yang membuat keduanya menoleh ke arah Seijuurou, namun tentu saja hal itu dihiraukan oleh Seijuurou. Mereka melihat bagaimana Kaisar Teiko tersebut menutup buku yang tadi ia buka dan meletakkannya di atas sofa, ia pun beranjak dari tempat duduknya tersebut.

"Ryouta, Daiki," kedua pemuda yang namanya disebut oleh Seijuurou langsung menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya, namun keduanya pun tidak berani mengungkapkan secara langsung karena sihir Seijuurou menyelubungi kamar tersebut dengan begitu erat. "Aku memiliki pekerjaan untuk kalian berdua."

Aomine pun segera bangkit dari posisinya, ia pun berjalan menghampiri Seijuurou dengan Kise yang menyusulnya, kedua berdiri di hadapan sang Kaisar untuk menunggu perintah selanjutnya.

"Atsushi sudah memberikanku berita yang menarik mengenai masyarakat Seirin, ia tengah menyamar menjadi pemilik toko roti di dalam kerajaan ini, aku ingin Ryouta bergabung dengan Atsushi dan yakinkanlah beberapa orang yang memiliki sihir di kerajaan ini untuk melakukan protes besar-besaran. Hasut mereka, yakinkan mereka untuk membangkang perintah Taiga," ujar Seijuurou, kedua mata heterokromatiknya menilik bagaimana Kise memberikan anggukan setuju dan ekspresi penuh keseriusan pun terlihat di wajah tampan itu. "Dan untuk Daiki, aku ingin kau berjaga di istana ini bersamaku. Kau adalah orang yang dekat dengan Satsuki, aku ingin kau mengambil sebanyak mungkin informasi dari mata-mata kita tentang Ratu Seirin."

Pekerjaan yang diberikan Seijuurou kepada Aomine itu tidaklah seberat yang diberikan kepada Kise, namun keduanya merasa sedikit penasaran akan motif Seijuurou tentang mengapa ia begitu tertarik dengan Ratu Seirin yang bernama Kuroko Tetsuya tersebut. Mereka berdua tidak perlu menjadi orang yang jenius untuk melihat ketertarikan yang Seijuurou tunjukan kepada sang Ratu, dan entah kenapa baik Kise serta Aomine memiliki perasaan yang tidak enak mengenai hal itu.

"Baiklah, kurasa Satsuki tidak akan keberatan untuk berbagi informasi mengenai Ratu Seirin kepada kita," kata Aomine dengan santai.

Anggukan singkat pun Seijuurou berikan kepada mereka berdua. "Aku tidak menerima kegagalan sedikit pun dan kalian, aku akan menunggu hasil dari kerja kalian."

Kedua sorcerer dari kerajaan Teiko itu memberikan anggukan dan kesanggupan yang diucapkan secara lisan kepada Seijuurou, mereka menjanjikan keberhasilan dan tidak akan membuat sang Kaisar kecewa. Semua ini untuk Teiko serta kemenangan, mereka tidak akan gagal dengan tugas kecil yang diberikan. Terlebih keduanya pun lebih senang melakukan pekerjaan secara langsung seperti menyusup ke sarang musuh dan melakukan aksi ketimbang melakukan pekerjaan di balik meja seperti apa yang Midorima lakukan saat ini, mengingat bagaimana penasehat kerajaan itu yang saat ini tengah mengerjakan dokumen kerajaan itu membuat kedua sorcerer tersebut tak bisa menahan tawa. Aksi lebih baik daripada tidak sama sekali, dan siapa Kise serta Aomine untuk menolak akan hal itu? Seijuurou sepertinya mengenal betul para Kiseki no Sedai dengan baik, termasuk kepribadian mereka serta kebiasaan yang aneh tersebut. Kaisar Teiko itu selalu tahu bagaimana untuk mengeluarkan kemampuan untuk mengeluarkan kekuatan dari para ksatrianya.

Setelah pemuda berambut merah darah itu menyelesaikan pekerjaannya dengan memberikan penjelasan pada Aomine dan Kise, sebuah ketukan dari arah pintu pun terdengar, membuat perhatian dari ketiga pemuda itu tersita ke arah pintu yang tengah diketuk tersebut serta siapa yang berani mengetuk kamar Seijuurou pada jam-jam seperti ini.

Sang Kaisar Teiko tersebut memiliki sebuah ide akan siapa yang tengah mengetuk pintu kamarnya serta alasan yang dibawanya, namun pemuda itu tidak mengucapkan apapun kecuali memberikan perintah kepada mereka berdua untuk segera keluar dari kamarnya menggunakan sihir, yang tentunya disanggupi oleh Kise dan Aomine yang dengan seizin Seijuurou menggunakan sihir untuk pergi dari sana, meninggalkan sang Kaisar seorang diri. Sepeninggal keduanya, Seijuurou pun langsung beranjak menuju pintu kamarnya dan kemudian membuka pintu tersebut, menampilkan seorang pemuda berambut hitam den memiliki postur tubuh tinggi berdiri di ambang pintu. Itu adalah Izuki Shun, tangan kanan dari Raja Taiga.

"Selamat siang, Seijuurou-sama, maafkan saya yang sudah lancang mengganggu waktu istirahat Anda. Saya di sini membawakan pesan dari Yang Mulia Raja, beliau menginginkan Anda untuk segera menemuinya," kata Izuki Shun dengan tenang, ia memberikan apa maksud kedatangannya di ambang pintu kamar Seijuurou pada saat itu.

Seijuurou memberikan anggukan singkat untuk menanggapi pesan yang dibawa oleh pemuda itu, ia sudah memprediksikan bahwa Taiga cepat atau lambat akan memanggilnya untuk menghadap, semua itu sudah ia pikirkan termasuk bahasan apa yang menjadi topik kali ini. Sepertinya Taiga mulai penasaran dengan kerajaan Teiko yang menurut berita menggunakan sihir di dalam pemerintahannya. Bibir Seijuurou melengkung singkat membentuk sebuah cerminan seringai yang sempurna, sepatah kata tidaklah tertaut jelas untuk menjelaskan akan ekspresinya kali ini, dan ia tak akan heran bila tuan sekretaris kerajaan semacam Izuki Shun ini akan menemukannya sedikit menakutkan. Persona Seijuurou sebagai Kaisar tengah muncul meski itu dalam jumlah kecil.

"Aku akan segera menemui Yang Mulia Raja Taiga sekarang, kau bisa memberitahunya, Izuki-san," jawab Seijuurou dengan tenang tanpa menunjukkan secercah emosi pada wajah tampan itu.

Melihat Seijuurou yang tak bisa ia baca sedikit pun, Izuki pun memberikan anggukan mengerti. Ia pun segera undur diri setelah tugas yang diberikan oleh Raja Seirin kepadanya sudah selesai, terlebih pemuda itu tak mau dekat-dekat dengan duta besar kerajaan Teiko tersebut. Orang mengatakan kalau seseorang yang sangat berbahaya itu bisa dikenali dari auranya, dan dari apa yang Izuki lihat pemuda berambut merah darah ini adalah orang yang berkali lipat bahanya, atau bahkan lebih dari apa yang ia duga sebelumnya. Sedikit yang Izuki ketahui kalau pemikirannya mengenai Seijuurou itu tidaklah meleset sedikit pun, pemuda berambut merah darah yang memperkenalkan dirinya sebagai Seijuurou kepada Seirin adalah seorang Kaisar Teiko yang berusia lebih dari 1700 tahun dan terkenal sebagai Kaisar paling berbahaya di dunia ini.

Pemuda berambut merah darah tersebut tidak beranjak dari ambang pintu meski sekretaris kerajaan Seirin sudah pergi dari sana, ia malah menyandarkan bahunya pada daun pintu dengan kedua tangannya bersedekap di depan dadanya, ia menatap koridor panjang untuk beberapa saat lamanya sebelum ekspresi yang ada di wajahnya tertata sempurna menjadi tak beremosi sedikit pun. Beberapa skenario sudah tertata pula di dalam kepalanya, akan apa yang ingin Taiga bicarakan padanya sampai sang Raja Seirin repot-repot menyuruh Izuki Shun untuk memanggilnya, apapun itu kelihatannya lumayan penting. Sesungguhnya Seijuurou tidak suka ada orang lain yang memerintahnya, biasanya mereka yang berani melakukan hal itu tidak akan menemukan nasib baik karena nyawa mereka pasti akan melayang kurang dari 10 menit setelahnya, namun demi penyamaran sempurna miliknya ini Seijuurou harus menurunkan sedikit egonya sebagai seorang Kaisar dan memenuhi panggilan tersebut. Pemuda bermata heterokromatik itu pun menghela nafas panjang sebelum ia melangkah maju meninggalkan kamarnya, pintu kamar yang terbuka itu secara otomatis tertutup dari belakang dan terkunci kemudian menggunakan sihir yang Seijuurou tinggalkan di sana.

Sang Kaisar Teiko ke-15 itu pun terus berjalan menyusuri koridor, dalam perjalanan ia pun menghiraukan beberapa tatapan penuh godaan dari para wanita serta carrier bangsawan yang ada di sana maupun sapaan dari mereka. Seijuurou tak punya waktu untuk meladeni para wanita dan carrier tersebut, ia memiliki urusan yang jauh lebih penting daripada menyahuti mereka satu persatu, terlebih lagi perhatian Seijuurou saat ini hanya tertuju pada sosok seorang ratu yang memiliki rambut secerah langit di musim panas, tidak ada orang lain lagi yang mampu menggantikan sosok di itu di mata Seijuurou. Katakan saja sang Kaisar memiliki obsesi yang tidak sehat terhadap Kuroko Tetsuya, ia tak peduli akan hal itu.

Kedua kaki jenjangnya pun akhirnya tiba di hadapan pintu besar yang menuju ruang tahta, dimana tempat itu dijaga oleh dua pengawal kerajaan yang salah satunya membukakan pintu bagi Seijuurou untuk masuk ke dalamnya.

"Tuan Seijuurou, duta besar kerajaan Teiko telah tiba!" Kata salah satu penjaga pintu yang tidak membukakan pintu tersebut, mereka mempersilakan Seijuurou untuk memasuki ruang tahta.

Tanpa mengucap apapun kepada mereka berdua, sang Kaisar Teiko itu pun memasuki ruangan besar tersebut dengan kewibawaan serta kekuatan yang menyelimuti sosoknya tersebut. Ia pun terus berjalan tanpa memberikan anggukan maupun tanggapan terhadap beberapa orang yang sudah menempati ruangan tersebut dengan Kagami Taiga yang duduk di atas singgasananya. Pemandangan biasa yang sering ia lihat pada dewan kerajaannya sendiri, namun di tempat ini ada sebuah pemandangan lain yang dari biasanya ketika Seijuurou memasuki ruangan tersebut, dan bila pemuda berambut merah darah tersebut merasa terkejut maka ia pun melakukan pekerjaan baik dengan tidak menampakkan emosi tersebut seperti orang yang tidak terpengaruh oleh apapun. Duduk di samping Taiga dan di atas singgasana sang Ratu bukanlah Kuroko Tetsuya, melainkan Furihata Kouki.

Oh... dia berani juga melakukan hal itu, benar-benar hal yang menakjubkan, pikir Seijuurou saat mata heterokromatik miliknya bertemu pandang dengan mata kecoklatan milik selir kesayangan raja tersebut. Bibir pemuda berambut merah itu melengkung membentuk sebuah senyum yang menampakkan kepuasan saat ia mendapati bagaimana selir tersebut berjengit sebelum meringkuk sedikit karena perasaan takut. Bahkan dia pun tak berani bertemu pandang denganku, sangat berbeda dengan Tetsuya. Kagami Taiga, perbuatanmu ini membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkan Tetsuya, tak kubiarkan tangan kotor itu menyakiti ratu-ku lebih dari ini.

Tatapan tajam yang Seijuurou miliki saat ia menatap selir Furihata (yang membuat sang selir sendiri ketakutan setengah mati namun berusaha untuk tegar) pun terputus saat Taiga menyapanya dengan sopan, secara tidak langsung mengalihkan tatapan Seijuurou ke arah sang Raja yang ada di hadapannya. Wajah sang Kaisar yang diliputi oleh topeng netral itu pun membentuk sebuah senyum sopan yang terlihat natural meski itu adalah senyum palsu untuk menyapa sang Raja.

"Sebuah kehormatan bagi saya ketika Anda memanggil saya ke sini, Yang Mulia Raja," kata Seijuurou dengan mulus, ia pun memberikan anggukan singkat tanpa membuat senyuman palsu itu luruh begitu saja. "Kalau boleh saya tahu, apa yang ingin Anda diskusikan dengan saya sampai Anda menyuruh Izuki-san untuk memanggil saya ke tempat ini?"

Seijuurou melihat bagaimana Taiga tertawa penuh humor ketika sahutan formal dari Seijuurou membuatnya sedikit lucu, ia pun menatap sosok Seijuurou yang berdiri di hadapannya dengan netral sebelum mengatakan maksud sebenarnya mengapa ia memanggil pemuda itu untuk datang ke ruangan ini.

"Tuan duta besar, aku ingin kau menceritakan padaku tentang negerimu. Aku dengar Teiko itu adalah negara yang sangat makmur di bawah pemerintahan sang Kaisar," ujar Taiga yang mengawali pembicaraan mereka.

Ucapan itu tidak meleset dari apa yang Seijuurou prediksikan, sebuah senyuman pun bermain di bibirnya. "Anda benar sekali mengenai Teiko, Yang Mulia Raja. Teiko adalah negara yang berbentuk kerajaan dan berada di bawah pemerintahan Kaisar Teiko ke-15, Kaisar Akashi memerintah Teiko mencapai kejayaannya selama beberapa tahun dan menjadikan Teiko menjadi kerajaan besar yang Anda kenal sekarang ini. Pendidikan, pertambangan, pertanian, pelayaran, dan kesenian sangat berkembang pesat di bawah pemerintahan Kaisar Akashi."

Teiko adalah sebuah negara besar yang pernah ada, meskipun semua orang mengetahui bagaimana jayanya Teiko tersebut, mereka tidak terlalu mengetahui kehidupan di dalam kerajaan tersebut sebab negara tersebut sangat terisolasi dari dunia luar serta memiliki hubungan yang terbatas dengan negara-negara lain, hanya beberapa kerajaan saja yang terpilih mampu menjangkau wilayah Teiko sehingga kerajaan ini bisa dikatakan kerajaan mimpi yang tak bisa dijangkau oleh siapapun. Bagaimana Kaisar Teiko mengembangkan wilayahnya sampai sepesat ini masih menjadi rahasia yang sangat besar bagi khalayak umum, dan tentu saja melihat wajah Kagami Taiga saat Seijuurou menceritakan bagaimana jayanya Teiko itu membuat sang Raja memiliki sebuah keantusiasan khusus.

"Menurutmu apa Seirin bisa bekerja sama dengan Teiko, Seijuurou?" tanya Taiga dengan keantusiasan yang terkandung di dalam nadanya, membuat sang Kaisar berambut merah darah dari Teiko tersebut merasa terkesan karena celetukan yang begitu tiba-tiba.

"Saya rasa Seirin bisa bekerja sama dengan Teiko, saya akan menyampaikan hal ini kepada Kaisar Akashi melalui surat yang nanti akan saya kirimkan kepada beliau," ujar Seijuurou dengan mulus, perannya sebagai duta besar tersebut sangat mulus sehingga tak ada orang yang menyadari bahwa duta besar Teiko ini tidak lain dan tidak bukan adalah sang Kaisar Teiko sendiri. "Dari apa yang saya tilik, kelihatannya Kaisar Teiko memiliki ketertarikan untuk menjalin persahabatan dengan Seirin, saya bisa menjaminnya dengan dikirimnya saya ke tempat ini untuk Seirin."

"Ah iya, aku harap Seirin bisa menjalin persahabatan dengan Teiko, aku rasa dari persahabatan ini kita bisa mengambil keuntungan yang sama dan yang terbaik bagi kerajaan," ujar Taiga dengan pemikiran yang matang, ia meremas jemari sang selir yang duduk di sampingnya dengan lembut dan melemparkan pandangan kepada entitas manis tersebut. Senyuman kecil pun terkembang di bibirnya, membuat Furihata yang sedari tadi mencoba untuk menghindari tatapan tajam dari Seijuurou akhirnya mengalihkan pandangannya dan memberi senyuman yang cukup manis kepada sang Raja. "Bagaimana, sayangku, kau setuju dengan pendapatku 'kan?"

Furihata mencoba memberikan senyum terbaiknya kepada Taiga, ia mencoba mengusir perasaan takut serta teror saat kedua mata berbeda warna dari sang duta besar itu menatapnya seketika, sebuah tatapan yang serasa dirinya tengah dihakimi karena dosa yang ia perbuat serta menusuk ke dalam jiwanya itu. Pemuda berparas manis tersebut tidak tahu siapa Seijuurou dari Teiko itu sebenarnya, namun yang pasti ia tak ingin bersama dengan pemuda berambut merah darah itu dalam waktu yang lama di satu ruangan yang sama, ia bisa mati bila dirinya melakukan hal seperti itu. Panggilan Taiga yang diarahkan kepada Furihata itu membuatnya lega, seperti Taiga ini adalah penyelamatnya dan secara langsung sang selir itu pun memberikan perhatian penuh kepada sang Raja Seirin. Diremasnya jemari yang menggenggam miliknya itu dengan lembut, Furihata pun tersenyum kecil dan memberikan anggukan kepalanya.

"Keputusan apapun yang Anda ambil saya rasa akan menjadi yang terbaik, Yang Mulia," jawab Furihata, jawabannya itu membuat Taiga puas sehingga sang Raja pun memberikan senyuman lebar sebelum mengecup jemari mungil yang ada di dalam genggamannya. Taiga tidak peduli akan status Furihata yang berperan sebagai selir, ia mencintainya dan terlebih lagi sang carrier tengah mengandung putra mereka, mungkin Taiga bisa memberikan mahkota ratu kepada pemuda manis ini bila perlu.

"Terima kasih, sayang."

Pemandangan yang begitu manis tersaji dihadapannya, Seijuurou merasa sedikit kasihan kepada Tetsuya karena suaminya memiliki pikiran untuk memberikan posisi ratu kepada sang selir yang bukanlah seorang permaisuri tersebut. Meski Seijuurou merasa kasihan, dalam hati pemuda itu merasa sangat puas dengan pemandangan tersebut, dengan begini ia bisa mengikat sosok manis dari Kuroko Tetsuya itu dengan dirinya karena ia yakin bila melihat sifat Tetsuya yang sangat mirip dengan Akashi Shiori pasti pemuda berambut biru langit itu tak akan tahan dengan semua ini. Tetsuya memiliki jiwa pemberontak serta keras kepala dibalik pesona kalemnya itu, tak akan ada yang bisa menduganya sampai beberapa hari yang lalu dimana Tetsuya dengan lantangnya menyuarakan protes kepada sang Raja tanpa ada rasa gentar maupun takut sedikit pun, sebuah karismatik yang seharusnya dimiliki oleh ratu. Seorang ratu bukanlah sekedar simbol sebagai pendamping raja, tapi seorang ratu harusnya individual yang pintar dan mampu mengimbangi sifat dari sang raja, mereka adalah suara kedua sehingga opini dari mereka sangat diperlukan untuk membangun kerajaan yang mereka pimpin menjadi besar. Dari apa yang Seijuurou amati selama tinggal di tempat ini mengenai sang Ratu Seirin, Tetsuya telah lulus dalam kategori tersebut, namun sayangnya selama ini sang Ratu selalu menyembunyikannya karena ia tak ingin membuat sang Raja membencinya. Mungkin kalau Tetsuya menjadi Ratu Teiko suatu saat nanti, Seijuurou tentu akan membimbingnya untuk menjadi individual yang tak pernah takut seperti sebelumnya, ia menyukai sifat tersebut dari Tetsuya. Begitu natural dan apa adanya.

Kembali kepada realita yang ada di hadapannya, sorcerer berambut merah darah itu pun memiliki sebuah senyuman kecil yang palsu ada di bibirnya, ia melihat bagaimana interaksi sang raja dengan selirnya tersaji dengan jelas di hadapannya, dan melihat bagaimana Furihata tengah melindungi perutnya dengan tangan kirinya itu Seijuurou jadi semakin yakin kalau sang carrier yang duduk di atas singgasana ratu tersebut memang tengah mengandung bayi dari Kagami Taiga. Entah kenapa pemandangan romantis yang tersaji tersebut mengingatkan Seijuurou pada sosok seorang Kaisar yang pernah ia akui sebagai ayah tak bertanggung jawab beratus tahun yang lalu, sebelum Seijuurou menebas leher ayahnya sendiri dan mengambil singgasana kerajaannya. Apa yang Kagami Taiga ini perbuat begitu mirip sekali dengan apa yang Akashi Masaomi lakukan, perbuatannya itu akan menjadi faktor kejatuhannya suatu saat nanti.

"Saya ucapkan selamat untuk selir Furihata dan Anda, Yang Mulia," kata Seijuurou dengan mulus, memberikan selamat mereka berdua karena keajaiban yang kini tengah bersemayam di dalam rahim Furihata.

Taiga kelihatan begitu bahagia karena ucapan Seijuurou, bahkan bila mungkin ia terlihat begitu bercahaya karena kebahagiaan yang ia rasakan itu. Sepertinya sang Raja begitu senang karena pada akhirnya ia mendapatkan momongan yang sangat ia idam-idamkan sejak dua tahun yang lalu, bila ia tak mampu mendapatkannya dari sang Ratu maka Taiga pun cukup puas mendapatkan anak dari Furihata yang notabene adalah seorang selir. Meski anak yang terlahir dari Furihata itu tidak pantas disebut sebagai Putra Mahkota nanti, namun Taiga tak peduli, ia akan mengakui anak itu sebagai anaknya dan menjadikannya sebagai penerus tahta Seirin yang telah ia bangun selama dua tahun lebih ini. Sepertinya Taiga sangat yakin kalau Ratu Seirin yang merupakan adalah permaisurinya itu tak akan bisa memberinya keturunan.

"Aku sangat senang dengan keajaiban yang Kouki berikan padaku, dengan begini Seirin akan memiliki seorang penerus dan aku pun bisa menjadi lega. Untuk merayakan berita bahagia ini aku akan melakukan Joust dua hari lagi, aku harap kau bisa berpartisipasi sebagai salah satu ksatria yang akan menjadi pesertanya, Seijuurou, karena aku berharap bisa berduel denganmu di arena kerajaan," kata sang Raja dengan senyum lebar yang masih terpatri di bibirnya.

Seijuurou pun memberikan anggukan kepala kepada sang Raja sebagai tanda persetujuan dari dirinya. Ia tak merasa keberatan menjadi peserta olahraga populer macam Joust ini, terlebih ia ingin mengalahkan Raja Seirin dalam adu pedang tumpul di dalam arena berkuda pada saat ini juga, dan kesempatan itu akan ia gunakan sebaik-baiknya. Sebuah seringai kecil pun terulas di bibir Seijuurou setelah undangan dari sang Raja diberikan padanya, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

"Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi lawan Anda dalam arena Joust, Yang Mulia," jawab Seijuurou dengan tenang. "Ah iya, saya memiliki sebuah keinginan dan saya harap Anda mau mendengarkannya."\

"Tentu, apa itu?"

Dan bisa dilihat seringai kecil yang terpatri di bibir Seijuurou bertambah lebar karena hal itu.


Cercaan yang diucapkan secara tak langsung kepadanya itu akan mampu membuat siapa saja merasa goyah, hancur dengan perlahan dari dalam sebelum garis depresi pun menggerogoti mereka dari dalam. Dan semua itu diperparah dengan perlakuan dingin yang suaminya perlihatkan padanya sejak kejadian di ruang tahta tempo hari itu terjadi, sang Raja masih menuduhnya bersifat kekanakan dan selama Tetsuya belum meminta maaf kepada selir Furihata karena menghinanya itu maka sang Raja akan terus memberinya perlakuan dingin seperti itu. Andai saja Tetsuya bukanlah orang yang kuat pada hatinya, bisa dipastikan sang Ratu pun akan hancur secara perlahan-lahan. Tetsuya, tidak peduli akan statusnya sebagai seorang ratu pun tak akan pernah sudi untuk meminta maaf pada Furihata meski dirinya tahu kalau itu adalah murni kesalahan di pihak Tetsuya sendiri. Furihata hanyalah seorang selir yang tak dapat menolak perintah raja untuk tidur dengannya, namun sebagai seorang pendamping hidup dari Taiga itu ada perasaan tak rela yang merasuk ke dalam, terlebih ia terang-terang mengaku iri karena Furihata dapat mengandung putra mahkota sementara dirinya sama sekali tak bisa memberikan keturunan kepada Taiga, bahkan bila itu adalah seorang anak perempuan sekali pun.

Berbagai spekulasi pun pernah ia dengar, mulai dari sang Ratu itu sebenarnya mandul karena selama dua tahun ia dan Taiga bersama tak sekalipun mereka dikarunia oleh seorang anak, namun Taiga yang barus bersama dengan Furihata selama tiga bulan pun sudah bisa hamil seperti itu. Tetsuya berani bersumpah kalau ia tidak mandul, bahkan ketika Taiga mengungkit hal itu setelah ia mengunjungi tempat tidur Tetsuya sebulan yang lalu dengan berani Tetsuya mengatakan kalau ia tidak mandul seperti spekulasi yang ada. Mereka berdua hanya belum beruntung saja, dan bila mereka mencoba untuk berhubungan badan lagi mungkin Tetsuya akan memberikan Taiga keturunan. Meski demikian Tetsuya ragu akan ide itu, ia ragu dirinya mau disentuh oleh Taiga yang sudah tidur dengan banyak orang. Andai peristiwa itu tak ia lakukan, mungkin Tetsuya akan bersikap kalau seolah-olah dirinya buta akan perihal tindakan yang suaminya lakukan di belakangnya.

Menghela nafas yang panjang, Tetsuya mengakhiri doanya di dalam kapel istana yang khusus dibangun untuk dirinya itu. Ia pun mengistirahatkan punggungnya di salah satu bangku panjang yang ada di sana dan menatap ke arah langit-langit istana megah yang berhiaskan lukisan malaikat di dalam kapel tersebut, tatapannya yang sendu serta terlihat lelah itu sudah bisa mengatakan beban apa saja yang tengah dipikul oleh sang Ratu, bahkan Tetsuya sendiri tidak heran kalau beberapa hari ini ia tak memiliki tidur yang nyenyak dan tak jarang menemukan dirinya terjaga sampai pagi. Ia selalu menghindari tatapan yang Momoi berikan padanya, dirinya ini sangat menyedihkan dibalik persona kuatnya tersebut, Tetsuya harus kuat dengan segala cobaan yang Tuhan berikan padanya.

"Apa... Raja Kagami membiarkan selir Furihata duduk di atas singgasana sang Ratu?" sebuah pekikan yang terdengar pelan itu membuat Tetsuya menegakkan punggungnya, kelihatanya pelayan yang tengah berdoa di dalam kapel istana itu lupa kalau sang Ratu juga ada di dalam ruangan yang sama dengan mereka. "Seorang selir tak seharusnya bertingkah sebagai seorang ratu dan duduk di atas singgasananya. Ya Tuhan, aku terkejut mendengar ini."

"Iya, bahkan berita itu menyebar dengan cepat di istana. Aku sangat heran kalau kau tak mendengar berita ini sebelumnya, bahkan saat Raja Kagami menerima Tuan Seijuurou kemarin aku melihat beliau mempersilakan selir Furihata itu untuk duduk di singgasana Ratu," teman dari pelayan itu ikut bergosip dan menimpali ucapan dari temannya, lagi-lagi mereka tidak sadar kalau di bangku tidak jauh dari tempat mereka duduk ada Tetsuya yang ikut mendengarkan dalam diam. "Kau tahu, kemarin aku berpapasan dengan Lord Furihata, ayah dari selir Furihata Kouki, dan ia terlihat sangat senang. Fraksi keluarga Furihata bahkan tidak ragu lagi menyebut anaknya akan menjadi Ratu Seirin dan menggantikan Ratu Tetsuya, lancang sekali ucapan Lord Furihata, namun kelihatannya beberapa petinggi istana yang menjadi dewan raja kali ini ada di pihak keluarga Furihata untuk menjadikan selir Furihata sebagai Ratu Seirin. Dan dari apa yang aku dengar dari penjaga kamar Raja Taiga, beberapa anggota deman pun mengaliansikan diri mereka ke dalam pihak fraksi keluarga Furihata."

"Itu kejam sekali, bagaimana mungkin mereka bisa melakukan hal seperti ini kepada Ratu Tetsuya. Beliau sangat baik dan juga lembut, seharusnya hal-hal yang seperti itu tidak boleh melanda sang Ratu."

"Kehidupan di keluarga kerajaan itu sangat keras, Naomi, aku juga bersimpatik dengan Ratu Tetsuya namun kita ini hanyalah pelayan yang tak bisa berbuat banyak. Terlebih selir Furihata itu tengah mengandung bayi yang diyakini adalah putra mahkota dari kerajaan Seirin yang sudah didamba-dambakan itu, kalau bayi yang lahir tersebut adalah laki-laki maka posisi dari Ratu Tetsuya pun akan semakin berbahaya dan diambang kehancuran."

"Kau sangat benar, kasihan sekali sang Ratu. Aku sangat bersyukur tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan, aku tak akan tahan memiliki suami yang tidur dengan orang lain seperti itu..."

"Hush... jangan sampai ada yang mendengarmu mengucapkan itu, Naomi, nanti kau bisa dihukum mati karena menghina keluarga kerajaan."

Percakapan dari dua pelayan yang ada di kapel itu membuat Tetsuya menghela nafas, andai saja dua tahun yang lalu ia tak menerima tawaran dari Taiga untuk menikah mungkin ia tak akan berada di posisi seperti sekarang ini, namun ia tak akan menyesali keputusan yang telah ia buat di masa lalu karena Tetsuya tak ingin hidup di dalam penyesalan seperti apa yang almarhumah ibundanya katakan padanya. Mereka harus hidup tanpa ada penyesalan, baik maupun buruk nasib yang melanda mereka adalah keputusan terbaik yang pernah diambil di masa lalu, tak selayaknya disesali apalagi dikutuk sejauh apa yang bisa mereka pikirkan. Jadi, meskipun Kagami Taiga menghancurkan cinta serta hati dari Tetsuya ia pun tak akan menyesali keputusan untuk memberikan persetujuannya dalam upacara pernikahan mereka berdua dua tahun yang lalu. Dan setidaknya Tetsuya masih bisa bersyukur kalau seorang raja hanya boleh memiliki satu orang ratu dan tak bisa menikah dengan orang lain sementara pendampingnya yang sah masih hidup atau masih menjadi istrinya, jadi meskipun Furihata tengah mengandung ia tak akan bisa menjadi istri dari Taiga selama Tetsuya masih hidup.

Perhatian Tetsuya yang terfokus pada pembicaraan dua pelayan itu pun terputus saat ia mendengar pintu besar menuju kapel itu terbuka, dan siapapun yang memasuki bangunan itu saat ini sangat sukses membungkam mulut kedua pelayan yang tengah bergosip tadi. Tetsuya tidak butuh untuk membalikkan dirinya maupun menoleh untuk melihat siapa yang datang serta memasuki kapel istana tempatnya berada saat ini, dari auranya saja Tetsuya sudah mampu menduganya siapa orang tersebut, dan jangan lupakan dengan bagaimana sihirnya menggumamkan nada bahagia ketika langkah kaki dari orang itu datang mendekat ke arahnya.

"Ratu Tetsuya," suara yang begitu merdu dan menggoda itu memanggil nama Tetsuya, membuat dua pelayan yang bergosip tadi terkejut setengah mati karena mereka baru saja menyadari kalau sang Ratu tengah bersama dengan mereka sejak tadi, yang artinya ia pasti mendengar gosip yang mereka bicarakan untuk beberapa saat lamanya.

Seperti biasanya Tetsuya tidak tersinggung bila orang-orang melupakan keberadaannya di sini, hal ini bukanlah kesalahan mereka kalau Tetsuya terlahir dengan kemampuan alami seperti itu, berkah atau sebuah kutukan ia tidak tahu namun yang jelas ia mensyukuri semua yang diberikan Tuhan kepadanya. Pemuda yang memiliki paras sangat manis itu pun menoleh ke arah Seijuurou yang tengah berdiri di samping sosoknya yang masih terduduk di bangku kapel, ia bisa merasakan bagaimana kedua mata heterokromatik indah milik sang duta besar Teiko tersebut menyambutnya dengan hangat serta emosi aneh yang tak dapat Tetsuya artikan.

"Tuan Seijuurou-kun," gumam Tetsuya, menanggapi panggilan yang Seijuurou berikan padanya. Ia pun menerima uluran tangan dari pemuda berambut merah darah yang diberikan padanya, dan begitu jemari mungil sang Ratu mengarat pada telapak tangan itu milik sang Ratu pun langung digenggam dengan lembut oleh Seijuurou.

Perasaan aneh pun menyerang Tetsuya, rasanya sedikit malu padahal gerakan singkat itu sering sekali ia terima dari orang lain ketika mereka membantunya untuk berdiri maupun naik ke dalam kereta kuda, namun ia tak mengerti kenapa jantungnya berpacu sedikit kencang saat Seijuurou melakukan hal sederhana seperti ini kepadanya. Mungkin Tetsuya tengah tak enak badan sehingga ia tak bisa berpikir jernih, pemuda berparas manis itu pun menyimpulkan pemikirannya sendiri. Anggukan singkat pun Tetsuya berikan, ia membiarkan Seijuurou membantunya berdiri dari posisi duduknya sebelum membawa jemari mungil itu ke arah kepalanya dan menyentuh kulit halus tersebut dengan belahan bibirnya, mencium jemari sang Ratu sebagai ungkapan hormat dari seorang gentleman.

"Maafkan saya yang telah membuat Anda terlalu lama menunggu sendirian di sini, dan saya ucapkan terima kasih karena Anda bersedia menemani saya untuk berkeliling ke luar istana," kata Seijuurou dengan mulus, bibirnya melengkung sedikit untuk membentuk sebuah senyum menawan yang mampu menyulap siapapun untuk takluk di hadapannya, sayangnya hal itu tak begitu berarti di mata Tetsuya yang balik menatapnya dengan ekspresi datar.

"Tidak masalah, Seijuurou-kun, Taiga-kun lah yang menyuruhku untuk menemanimu," jawab Tetsuya, ia membiarkan dirinya dituntun keluar dari kapel istana oleh Seijuurou. "Dan kau tidak perlu seformal itu padaku, Seijuurou-kun, rasanya aneh mendengar kalimat formal darimu yang ditujukan padaku."

Keduanya berjalan beriringan keluar dari kapel istana, tak sekalipun pandangan dari Seijuurou lepas dari sosok menawan yang tengah berjalan di sampingnya, bahkan ia pun tak melepaskan jemari sang Ratu karena ia malah menuntunnya untuk memegang lengan Seijuurou ketika mereka berdua berjalan bersama.

"Hoo... jadi kau tak ingin aku terlalu formal kepadamu?" seringai tipis muncul di bibir Seijuurou, terutama saat ia menemukan rona merah muda menghiasi pipi bersih milik sang Ratu. Dari sudut matanya ia bisa melihat Aomine dan Kise tengah bersiteru di samping sebuah kereta kuda kerajaan yang akan membawa Seijuurou dan Tetsuya keluar istana, melihat kondisi masyarakat yang ada di Seirin secara langsung. "Kalau begitu boleh aku memanggilmu dengan 'Tetsuya', Yang Mulia Ratu?"

Anggukan pun lagi-lagi diberikan oleh sang Ratu atas pertanyaan yang diajukan kepadanya itu, ia tidak keberatan bila ada orang memanggilnya menggunakan namanya tanpa disertai embel-embel apapun, membuatnya rindu akan masa kecilnya dimana Tetsuya masih menjadi seorang anak dari keluarga biasa tanpa dikenal oleh orang-orang penting seperti sekarang ini. Ia memfokuskan pandangannya ke arah kereta kuda yang telah dipersiapkan oleh Seijuurou untuk mereka tersebut, dan karena itu sang Ratu pun tak melihat senyuman yang terukir di wajah tampan Seijuurou maupun tatapan penuh akan kepuasan yang diberikan kepadanya, namun karena hal itu tidak ia lakukan Tetsuya sedikit tersentak karena sihirnya terasa begitu bahagia secara tiba-tiba atas respon yang ia berikan tadi, seperti mereka senang dirinya berada di dekat Tuan duta besar Teiko tersebut.

Tetsuya adalah orang yang tidak terlalu mengerti tentang sihir meski dirinya memiliki sihir bersemayam di dalam tubuhnya sejak ia dilahirkan di dunia ini, namun lingkungan tempatnya tinggal serta posisinya sebagai Ratu kerajaan Seirin tersebut membuat Tetsuya tak peka terhadap sihirnya, atau lebih tepatnya dilarang untuk mempelajarinya karena memiliki sihir di tempat seperti ini artinya adalah mati di tangan raja. Ingin sekali Tetsuya hidup bebas tanpa ada kekangan yang mengikatnya seperti sekarang ini, namun kelihatannya keinginan itu hanyalah keinginan biasa yang semu akan kenyataannya, sebuah mimpi yang tak akan pernah terjadi di kehidupan nyata. Sang Ratu Seirin itu harus menelan ludah untuk menerima kenyataan kalau sampai mati pun kehidupannya akan terus seperti ini.

Datangnya sosok Seijuurou dan Tetsuya yang ada di sampingnya itu membuat adu mulut yang dilakukan oleh dua pengawal setia Seijuurou berhenti, mereka memberikan hormat kepada dua pembesar tersebut sebelum Kise membukakan pintu kepada mereka berdua. Sementara itu Aomine mengambil tempat duduk di depan kereta kuda, tempat di mana kusir akan bertugas.

"Silakan naik, Tetsuya," ujar Seijuurou dengan nada perintah berada di dalam suaranya, namun hal itu tidak terlalu digubris oleh Tetsuya yang mempersilakan Seijuurou untuk membantunya masuk ke dalam kereta kuda tersebut.

Meski risih dan ingin protes kalau ia bisa masuk ke dalam kereta, Tetsuya berpikir kalau alangkah baiknya ia tidak memberikan nada protes pada saat ini juga kepada Seijuurou. Meski pemuda berambut merah darah tersebut terlihat sangat mengintimidasi, Tetsuya tidak terpengaruh akan hal itu sedikit pun, bahkan perasaan takut pun tak nampak pada ekspresinya karena menurut Tetsuya untuk apa ia merasa takut kepada Seijuurou, mereka berdua itu sama-sama manusia.

Apa yang dipikirkan oleh Tetsuya tersebut tentu tidak luput dari penglihatan tajam milik Seijuurou, membuat sang Kaisar itu memberikan sebuah senyum untuk sang Ratu Seirin yang sukses membuat Kise hampir tersedak ludahnya sendiri. Ini pertama kali bagi Kise untuk melihat senyuman tulus terkembang di bibir sang Kaisar yang sudah ia layani selama ratusan tahun itu, biasanya yang sering ia lihat adalah senyuman manipulatif, senyuman licik, serta senyuman kebahagiaan karena ia akan membuat seseorang menderita, dan masih banyak lainnya namun berada dalam artian negatif sampai Kise tak ingin mengingatnya. Dan layaknya Seijuurou mampu membaca apa yang tengah Kise pikirkan itu, pemuda berambut merah darah yang ada di sampingnya itu langsung memberinya sebuah tatapan dingin yang akan menjanjikan kesakitan kalau Kise masih meneruskan jalan pikiran. Merasakan keringat dingin muncul dari pori-pori kulitnya karena tatapan yang mematikan itu, sorcerer dari Teiko yang merupakan idola di kerajaannya itu pun langsung beranjak dari tempatnya di samping pintu kereta kuda untuk bergabung dengan Aomine yang tengah memegang tali kendali kuda, Kise menghiraukan tatapan penuh pertanyaan yang Aomine lemparkan padanya sebelum ditangkis oleh pemuda berambut kuning keemasan tersebut.

Aku akan menghukumnya nanti, pikir Seijuurou sebelum ia masuk ke dalam kereta kuda dan menemani Tetsuya yang sudah masuk duluan ke dalamnya. Ia pun mengambil tempat duduk di hadapan sang Ratu yang masih memfokuskan pada pemandangan yang bisa ia lihat dari jendela kecil yang tersaji di sana. Ketika pintu kereta kuda itu tertutup, kereta kuda yang ditumpangi oleh mereka pun mulai berjalan dan meninggalkan halam istana, membawa mereka semua untuk mengelilingi kerajaan Seirin atas permintaan Seijuurou kepada Taiga.

"Seirin sungguh indah, sedikit berbeda dengan Teiko," kata Seijuurou secara tiba-tiba, ia ingin memulai pembicaraan di antara mereka berdua sehingga selama perjalanan pun tidak ada kecanggungan, terlebih Seijuurou ingin mengenal calon ratu-nya dengan baik dalam pendekatan secara tidak langsung seperti ini.

Sepertinya pembicaraan mengenai Seirin itu membuat perhatian Tetsuya tertuju pada sang Kaisar Teiko yang tengah duduk di hadapannya tersebut tanpa pernah melewatkan setiap gerak-gerik yang Tetsuya buat. Entah kenapa tatapan dari sepasang mata hetrokromatik milik Seijuurou tersebut membuat Tetsuya malu dengan sendirinya, namun ia tepis semua perasaan itu sehingga ia mampu bertemu pandang dengan mata milik Seijuurou secara sekilas.

"Seirin adalah negara yang sangat indah, Seijuurou-kun, aku rasa kau akan betah tinggal di dalamnya seperti apa yang aku rasakan selama ini. Wilayah Seirin yang dikelilingi oleh laut memberikan panorama yang sedap dipandang mata, dan tidak sedikit masyarakat yang tinggal di kerajaan ini mendapatkan penghasilan dari melaut. Mungkin aku bisa menunjukkan Seijuurou-kun beberapa pantai indah yang ada di sini serta beberapa tempat menarik yang aku ketahui, aku harap Seijuurou-kun tidak keberatan akan hal itu," sahut Tetsuya dengan wajahnya yang masih datar, namun Seijuurou bisa menilik kalau pemilik dari mahkota rambut berwarna biru langit ini begitu antusias saat menceritakan tentang Seirin, tempat tinggalnya selama ini.

Jawaban yang diberikan oleh Tetsuya pun membuat Seijuurou tersenyum dalam hati, dan ia pun gantian menceritakan Teiko kepada Tetsuya, hal ini membuat suasana yang ada di dalam kereta kuda yang tengah berjalan itupun tidak menjadi canggung. Obrolan singkat serta ringan yang terjadi di antara keduanya pun benar-benar mencairkan suasana, dan mereka pun terus bertukar pikiran mengenai kedua negara serta politik yang ada di negara masing-masing, dan ketika kereta kuda yang membawa mereka berdua pun tiba di tengah kota pun Seijuurou dapat mengatakan kalau dirinya benar-benar terjerat ke dalam pesona Ratu Seirin yang ada di hadapannya tersebut. Benar-benar tak bisa diterima, namun tali jerat itu benar-benar membuat Seijuurou semakin terpesona pada sosok seorang Kuroko Tetsuya.

"Kita sampai di tengah kota Seirin yang menjadi ibukota kerajaan ini. Tempat ini adalah pusat industri yang ada di kerajaan, dan aku rasa kita akan melihat pasar kecil yang ada di tempat ini," kata Tetsuya yang kembali menjelaskan. Ia pun terlihat begitu bersemangat dengan ide menjelajahi tempat ini bersama Seijuurou, sepertinya ratu yang malang ini sangat jarang keluar dari istana kecuali bila ia memiliki urusan penting bersama sang Raja yang terus mendampinginya. Tentu kesempatan ini tidak akan Tetsuya sia-siakan begitu saja.

Pemuda berambut biru langit itu sedikit terkejut saat ia melihat Seijuurou menyodorkan sebuah mantel senada dengan warna rambut Tetsuya kepadanys, ia menatap sang pemuda berambut merah darah itu untuk meminta penjelasaan akan kenapa ia diberi mantel seperti itu, namun hanya sebuah senyuman kecil yang diberikan Seijuurou padanya untuk beberapa saat lama.

"Kau adalah ratu di negeri ini, Tetsuya, tidakkah kau harus menyembunyikan identitasmu ketika berjalan-jalan di kota agar tak ada yang mengenalimu?" Ujar Seijuurou dengan tenang, mantel yag ada di dalam genggamannya pun kini sudah berpindah pada tangan Tetsuya.

"Mereka tak akan mengenaliku maupun menyadari keberadaanku, Seijuurou-kun, aku memiliki hawa keberadaan yang tipis seperti yang kau lihat tadi di kapel istana. Terima kasih."

Mantel berwarna biru langit itu pun langsung Tetsuya kenakan untuk menutupi tubuhnya, tidak lupa ia pun mengenakan kerudung mantel tersebut untuk menutupi rambutnya sehingga orang-orang tak akan sadar kalau itu adalah dia. Sejujurnya Tetsuya mengagumi atas tindakan cerdik yang Seijuurou lakukan, dan dirinya tak perlu mengucapkan hal itu secara langsung karena Tetsuya memiliki firasat kalau Seijuurou sudah tahu akan apa yang tengah dipikirkannya saat itu. Pemuda berambut merah darah ini sangat tajam dan luar biasa pintar dalam membaca situasi, ia memiliki firasat seperti itu meski Tetsuya tidak mengenal Seijuurou dengan baik. Pembawaan yang Seijuurou miliki begitu dominan, bahkan Tetsuya mengakui kalau suaminya sendiri kalah bila disandingkan dengan sosok pemuda yang duduk di hadapannya tersebut.

"Kau terlihat manis dengan mantel itu, Tetsuya," kata Seijuurou dengan nada usil yang ada di dalamnya, namun ucapannya itu sukses membuat sang Kaisar mendapatkan hadiah berupa tatapan ganas dari sang Ratu.

Pemuda berambut merah darah itu menyeringai saat ia sadar dirinya tengah diperhatikan oleh sang pujaan hati, namun ia pura-pura tak melihatnya dan malah terlihat sibuk dengan membuka pintu kereta kuda yang jalannya sudah berhenti di tengah kota tersebut. Seijuurou pun turun duluan sebelum ia menatap ke arah Tetsuya dan mengulurkan tangan kanannya kepada Seijuurou.

Mungkin karena ucapan Seijuurou tadi sedikit menohok hati sang Ratu, Tetsuya pun mengabaikan uluran tangan yang Seijuurou berikan padanya dan memilih untuk turun seorang diri tanpa bantuan, membuat Seijuurou memutar kedua matanya namun ia tidaklah merasa marah. Kekehan kecil pun lolos dari bibir Seijuurou melihat hal itu, ia pun menggelengkan kepalanya karena melihat kelakukan kekanakan yang sang Ratu tunjukkan di hadapannya.

"Baiklah, aku tidak akan memanggil Tetsuya manis lagi, jadi jangan marah kepadaku," kata Seijuurou, ia masih setiap untuk mengulurkan tangannya ke arah sang Ratu agar Tetsuya mau menyambutnya dengan hangat.

Rengutan yang terpaut di bibirnya itu akhirnya menghilang, "Meski aku seorang carrier, aku masihlah seorang laki-laki yang jantan, Seijuurou-kun. Jadi jangan panggil aku manis," jawab Tetsuya dengan lembut.

Seijuurou membiarkan dusta yang Tetsuya lontarkan mengalir begitu saja karena uluran tangannya pun akhirnya disambut oleh sang Ratu, dan ia pun merasa sedikit senang karena itu. Tetsuya mengatakan kalau dirinya sangat jantan dan kuat, namun Seijuurou tak punya hati untuk mengatakan kalau semua itu tidaklah benar, Kuroko Tetsuya yang ia lihat di hadapannya ini memang kuat dalam menghadapi kerasnya hidup, namun ia terlihat lebih manis ketimbang jantan maupun perkasa yang kali ini dilontarkan oleh mulut mungilnya. Melirik ke arah kedua ksatria yang ia bawa, Seijuurou pun mengisyaratkan kepada Kise kalau mereka akan mengunjungi toko kue yang Murasakibara buka di kota ini, dan perintah itu pun disambut oleh anggukan singkat dari Kise yang segera pergi untuk melakukan perintahnya.

Apa yang Seijuurou lakukan itu mungkin membuat Tetsuya sedikit terkejut, namun pemuda berambut senada dengan warna langit cerah di musim panas itu tidak melontarkan pertanyaan apapun kepada Seijuurou maupun menyuruhnya untuk menjelaskan semua itu, tidak... Tetsuya terlihat tenang dan menyimpan semuanya sendiri dan Seijuurou senang akan hal itu. Keduanya mulai bergerak dari tempat semula untuk menuju toko kue baru milik Murasakibara yang beberapa minggu lalu buka di tengah kota Seirin.

Tetsuya terlihat begitu menikmati perjalanannya bersama dengan Seijuurou, rasanya sangat nyaman meskipun lengannya saat ini tengah digandeng oleh pemuda yang bukan suaminya sendiri. Mungkin ini dikarenakan sang Ratu mendapatkan kebebasan yang ia dambakan, atau mungkin karena sihirnya begitu mengapresiasi akan keberadaan Seijuurou yang dekat dengannya. Apapun itu, Tetsuya tak terlalu mempermasalahkannya karena ia begitu menikmati hari itu. Jauh dari kehidupan istana yang dipenuhi oleh segudang masalah pun cukup membuat hati Tetsuya serasa ringan. Keduanya terus berjalan menyusuri kota, keadaan kota itu memang teratur dan indah, namun Tetsuya tak dapat menahan sedikit rasa penyesalan ketika ia melihat beberapa orang menangis ketika mereka menerima sebuah selebaran, dan tak jarang ia melihat plakat kayu tertancap di halaman rumah beberapa rumah penduduk yang mengatakan kalau rumah itu akan disita oleh kerajaan karena mereka belum membayar pajak.

Sang Ratu Seirin tak perlu menjadi orang yang sangat jenius seperti Seijuurou untuk mengetahui alasan mengapa mereka menangis karena selebaran. Fenomena sihir yang menjadi hal terlarang di kerajaan ini pasti adalah apa yang menjadi alasannya, mereka yang menangis itu adalah keluarga orang yang tengah ditangkap oleh pihak kerajaan karena mereka diduga sebagai penyihir dan patut dihukum mati di alun-alun kerajaan. Ada sebuah perasaan ganjil yang menyelimuti hati Tetsuya, dan semua ini berhubungan akan fenomena sihir tersebut. Ia merasa bersalah karena dirinya menyembunyikan fakta bahwa Tetsuya adalah seorang penyihir, namun di saat yang sama ia malah melihat rakyatnya yang memiliki keadaan sama dengan dirinya dihukum mati oleh sang Raja karena kesalahan yang sesungguhnya bukanlah sebuah kesalahan. Apa yang akan mereka katakan pada Tetsuya kalau mereka tahu sang Ratu Seirin ternyata adalah seorang penyihir? Akankah mereka meludahinya? Mengolok-ngolok dirinya? Mengutuknya? Atau bahkan merasa senang dirinya dihukum mati? Membayangkan hal yang terakhir itu membuat tubuh Tetsuya bergetar sedikit karena takut, ia tak ingin mati pada saat ini.

"Tetsuya?" Panggilan yang berasal dari pemuda berambut merah darah itu membuat fokus Tetsuya terbagi, ia pun mengalihkan pandangannya serta konsentrasinya dari tempat penuh depresi itu untuk menatap Seijuurou yang memberinya tatapan penuh kekhawatiran di sana.

Tercengang akan emosi yang berpendar pada manik heterokromatik milik Seijuurou, Tetsuya pun memberikan sebuah senyuman kecil nan tipis sebelum dirinya menggeleng.

"Aku tak apa, Seijuurou-kun, kau tak perlu khawatir," sahut Tetsuya yang menjawab ungkapan kecil Seijuurou berikan padanya. "Bisa kita lanjutkan perjalanan kita, Seijuurou-kun?"

Sang Ratu Seirin tahu kalau pemuda yang tengah menggandengnya itu tidak percaya akan kalimat yang terlontar dari bibirnya tersebut, namun ia mencoba untuk mengendalikan dirinya agar ia tidak termakan akan umpan ketakutan yang sejak dulu terus menari di dalam kehidupannya.

"Baiklah, kalau kau merasa lelah dan ingin beristirahat kau harus memberitahuku, Tetsuya," itu bukanah sebuah permintaan yang Seijuurou ucapkan, melainkan sebuah perintah mutlak yang tak dapat dibantah.

"Iya, Seijuurou-kun," jawab Tetsuya yang mau tak mau bernafas lega karena pemuda ini tidak mempersulit dirinya lagi dengan memaksa Tetsuya untuk menjawab pertanyaannya yang semula.

Semua ini adalah masalah yang Tetsuya miliki, dan dirinya tak ingin menyeret siapapun untuk masuk ke dalamnya. Perjalanan pun dilanjutkan, dan barulah mereka berdua berhenti ketika mereka berdua sudah sampai di sebuah bangunan baru yang terkesan nyaman di sana. Toko kue Maiubo adalah apa yang tertulis di plakat, sebuah toko kue yang harus Tetsuya akui sangat mengesankan baik itu namanya maupun eksterior yang ada di luar. Melihat dari ekspresi Seijuurou, Tetsuya menyimpulkan kalau pemuda berambut merah darah ini kenal dengan siapapun yang menjadi pemilik toko kue baru tersebut.

"Milik kenalanmu, Seijuurou-kun?" tanya Tetsuya saat Seijuurou menuntunnya untuk masuk ke dalam toko kue tersebut, dari dekat Tetsuya bisa mencium aroma harum dari kue yang tengah dipanggang di oven. Benar-benar menggiurkan.

Anggukan singkat pun diberikan, "Iya. Pemilik dari toko kue ini adalah salah satu temanku dari Teiko yang pindah ke sini untuk sementara waktu, Murasakibara Atsushi adalah namanya," jawab Seijuurou seraya membuka pintu untuk mereka berdua, suara bel berdenting ketika pintu terbuka pun mulai muncul. "Aku rasa kau akan menyukai kue buatan Atsushi, ia terkenal sebagai pembuat kue yang handal di Teiko sebelum pindah ke sini."

Dan sepertinya Tetsuya menyetujui ucapan yang Seijuurou katakan itu, sebab ketika mereka berdua memasuki toko kue milik Murasakibara tersebut sang Ratu Seirin mampu mencium aroma kue vanilla yang tengah dipanggang, dalam sekali lihat Tetsuya jadi ingin mencicipi kue yang menjadi kesukaannya tersebut. Kelihatannya timing mereka berdua untuk berkunjung pas sekali dengan jadwal Murasakibara memanggang kue vanilla yang menjadi kesukaan sang Ratu. Pemuda yang memiki rambut berwarna biru langit tersebut membiarkan Seijuurou untuk menuntunnya ke salah satu meja dan kursi yang tak jauh dari etalase kue yang tersusun rapi di dalamnya, dan Tetsuya pun di salah satu kursi sambil menunggu pemilik toko kue keluar dari dalam dapurnya. Seijuurou pun ikut bergabung dengan Tetsuya di sana.

Mereka berdua tidak perlu menunggu dalam waktu lama sebelum seorang pemuda tinggi dengan warna rambut hitam keluar dari dalam dapur dengan membawa sepiring kue yang baru matang dari oven. Kedua mata hitam dari pemuda itu menatap sosok Seijuurou sebelum mereka mengarah pada Tetsuya yang sudah menurunkan kerudung mantel yang dikenakannya, membuat kedua manik tersebut terbelalak lebar saat melihat sosoknya dan hampir saja pemuda berwajah manis itu menjatuhkan piring yang tengah ia bawa itu ke lantai kalau saja bukan sebuah tangan besar menyentuh pundak kecilnya.

"Tetsuya-kun," gumam pemuda berambut hitam tersebut, ia pun memberikan senyuman menenangkan khas miliknya dan menghampiri dua orang yang sudah duduk di dalam toko kue milik Murasakibara tersebut. "Atau mungkin harus kupanggil Yang Mulia Ratu Tetsuya sekarang?"

Tidak hanya pemuda berabut hitam itu yang terkejut dengan kedatangan Tetsuya di dalam toko milik Murasakibara, namun Tetsuya sendiri juga tak bisa menampik fakta kalau dirinya ikut terkejut dengan kemunculan pemuda tersebut.

"Himuro-kun, hallo," ujar Tetsuya dengan sopan, membuat dirinya dan Seijuurou langsung menoleh untuk melihat pemuda yang barusan datang dari dapur dengan disertai seorang raksasa mini berambut ungu yang mengenakan baju khas koki. "Himuro-kun tetap bisa memanggilku Tetsuya, tak perlu seformal itu."

Himuro Tatsuya adalah kakak angkat dari Kagami Taiga, seorang carrier sama seperti Tetsuya namun dirinya tak memiliki sihir seperti sang Ratu. Tetsuya menganggap pemuda itu seperti kakak sendiri, tidak hanya mereka berdua adalah tetangga ketika mereka masih tinggal di desa kecil yang ada di kawasan Seirin, mereka adalah teman sepermainan pula. Dari Himuro sendiri Tetsuya bisa mengenal Taiga, bahkan karena Himuro juga mereka berdua bisa menikah meski pernikahan yang awalnya bahagia itu sekarang tidak lebih dari kenangan, terlebih bila melihat ada banyak kekuarangan serta kesenjangan dari pihak Tetsuya dan Taiga kelihatannya pernikahan keduanya sudah berada di ambang kehancuran meski Tetsuya tak rela hal itu akan terjadi.

Pemuda berambut biru langit tersebut menyimpan kenangan getir itu di balik kepalanya untuk memfokuskan konsentrasinya pada Himuro yang kali ini tengah berjalan menghampiri mereka berdua dengan sepiring kue hangat yang baru keluar dari oven.

"Senang rasanya bisa melihatmu di sini, Tetsuya-kun, aku pikir Taiga tak akan membiarkanmu untuk keluar dari istana melihat betapa posesifnya anak itu," kata Himuro dengan kalem. Diletakkannya sepiring kue vanilla yang masih berasap itu di atas meja di antara tempat duduk Tetsuya dan Seijuurou, ia pun lantas menggandeng lengan besar milik raksasa berambut ungu yang ada di sampingnya, membuat pemuda berambut ungu sebahu itu mau tak mau mendekat ke arah mereka. "Sudah tiga minggu aku bekerja di toko kue ini, dan perkenalkan ini adalah Murasakibara Atsushi, temanku serta pemilik toko kue ini. Dan Atsushi, perkenalkan ini adalah adik angkatku yang bernama Kuroko Tetsuya atau Kagami Tetsuya sekarang ini, Ratu Seirin."

Seijuurou menatap sosok Murasakibara dengan pandangan netral, dan tatap keduanya bertemu untuk sejenak kala Himuro masih memperkenalkan sosok Murasakibara kepada Tetsuya yang menatap mereka berdua dengan penuh minat. Seijuurou memang menyuruh Murasakibara untuk menyamar menjadi pemilik toko kue di Seirin, namun sepertinya ia tak terlalu terkejut kalau sorcerer berambut ungu itu akan mendapatkan seorang pekerja secepat itu, dan terlebih keduanya terlihat begitu dekat seperti sekarang ini. Seringai kecil muncul di bibir Seijuurou sebelum hal itu diikuti oleh gelengan kepala singkat dari sang Kaisar.

"Senang bertemu denganmu, Murasakibara-kun," ujar Tetsuya dengan sopan yang dibalas dengan anggukan oleh Murasakibara, lehernya sedikit pegal karena mendongak terlalu lama. Murasakibara itu terlalu tinggi, membuat Tetsuya menghela nafas panjang karena perbedaan tinggi tubuh di antara keduanya yang sangat mencolok tersebut. "Aku di sini karena harus menemani Seijuurou-kun yang merupakan duta besar dari Teiko untuk berkeliling, Himuro-kun, Taiga-kun sendiri yang memerintahkanku untuk melakukan itu."

Sebuah kerutan imajiner muncul di kening Himuro saat dirinya mendengar ucapan yang Tetsuya berikan, rasanya seperti bukan Taiga saja yang membiarkan istri kesayangannya keluar bersama dengan pria lain seperti ini, namun harus ia akui kalau adik angkatnya yang bernama Kagami Taiga itu memang menjadi laki-laki yang berubah seratus delapan puluh derajat sejak ia naik tahta menjadi Raja Seirin dua tahun yang lalu. Kalau rumor mengenai kabar Raja Seirin dengan selirnya itu memang benar, maka Himuro pun benar-benar menaruh simpatik kepada Tetsuya. Pemuda yang baru menginjak usia 19 tahun ini terlalu polos dan baik untuk disakiti, mungkin Himuro harus berbicara langung kepada Taiga mengenai hal ini, tapi Himuro sendiri ragu bila perkataannya itu akan didengarkan oleh adik angkatnya yang pertama itu.

Menghela nafas, pemuda berambut hitam itu pun memberikan anggukan singkat kepada Tetsuya sebelum ia bergabung dengan dua orang pemuda yang ada di sana, ia pun duduk di salah satu kursi. Rasanya sudah lama ia tidak bertegur sapa seperti ini dengan tetangga mungilnya yang bernama Kuroko Tetsuya ini.

"Ah... aku mengerti, Tetsuya-kun," kata Himuro dengan lembut, melihat sosok mungil dari sang Ratu yang duduk di sampingnya ini membuat Himuro ingin membungkus Tetsuya menggunakan selimut dan menyimpannya sendiri sehingga dunia tak akan menyakitinya, namun sayangnya semua itu adalah bayangan belaka karena ia mengenal betul siapa Tetsuya tersebut. "Dan Anda pasti Seijuurou yang Tetsuya maksud 'kan?"

Pemuda berambut hitam itu kini mengamati sosok seorang Seijuurou yang Tetsuya singgung tadi. Pemuda itu memiliki rambut berwarna merah darah yang menyala, wajahnya sangat tampan, dan sepasang mata heterokromatik yang sangat memikat namun luar biasa berbahaya. Himuro merasakan kekuatan yang besar datang dari sosok pemuda berambut merah darah tersebut, pembawaannya yang kelewat regal tersebut membuat Himuro ragu kalau Seijuurou ini hanyalah seorang duta besar saja, seharusnya orang seperti ini bisa menjadi raja seperti Taiga, bahkan aura Taiga saja tidak sekuat seperti Seijuurou. Kedua mata Himuro Tatsuya tiba-tiba terbelalak lebar saat mengingat apa yang Tetsuya katakan, Seijuurou adalah duta besar dari Teiko dan dari apa yang Himuro dengar dari Murasakibara kalau Kaisar yang memerintah Teiko memiliki nama Akashi Seijuurou, apa mungkin...

"Hallo, Aka-chin... senang Aka-chin mau berkunjung ke tempat ini~" ujar Murasakibara dengan nada khasnya tersebut. Pemuda bertubuh tinggi di atas normal itu mengambil sebuah kue vanila dari atas piring sebelum melahapnya. "Kuro-chin, ayo makan kue-nya, baru matang dari oven dan rasanya enak sekali."

Dia adalah Kaisar Teiko yang ke-15, Akashi Seijuurou.

Himuro membeku ditempat, tertegun dengan apa yang ia ketahui dalam waktu yang sangat dekat, dan melihat dari ekspresi yang Akashi Seijuurou tunjukkan itu (para yang kalem dengan seringai tipis menghiasi wajahnya) Himuro memiliki firasat kalau sang Kaisar tahu akan apa yang tengah ia pikirkan. Himuro Tatsuya merasakan hari ini akan menjadi hari yang panjang, tidak hanya ia memiliki Ratu Seirin berkunjung ke tempat dirinya bekerja, namun ia juga memiliki seorang Kaisar Teiko berada di sini dan duduk di sampingnya. Dan bila melihat dari ekspresi yang tertera di wajah Tetsuya serta cara mengenalkan Seijuurou ke hadapannya, Himuro berani bertaruh kalau adik angkatnya yang kedua ini tak mengetahui kalau duta besar Teiko ini sesungguhnya adalah seorang Akashi serta Kaisar Teiko yang terkenal itu, Akashi Seijuurou.


AN: Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan untuk mampir dan membaca fanfic sederhana ini.

Author: Sky