Loha! Emm... saya gak bisa bilang banyak dulu soalnya masih chapter awal sih. Tapi makasih banyak buat yang udah beri review, buat yang baca fic ini, and buat yang rela jadiin fic ini sebagai fic favorit, bahkan sampe ada yang main follow segala... makasih banyak yaaaaa. Saya sangat terharu dengan kebaikan readers. O, iya, hampir lupa... soal perpindahan setting di chapter 1. Sebenarnya saya udah beri tanda berupa tiga simbol bintang tapi tau-taunya setelah di upload kok pada hilang ya? Tapi tenang aja. Saya udah perbaiki. Makasih buat yang ingetin. Dan, tentang Sasuke yang manggil Naruto 'teme' di chapter awal... hehehe... maaf. Saya salah ketik di situ. Makasih buat yang ingetin ya?

Oke deh, tanpa banyak bacot... selamat menikmati chapter 2. Semoga memuaskan dan humornya kerasa. (Soalnya, saya paling takut kalo humor saya terasa garing. Hahaha...)


"Empty Letter"

By Zero Eleven (011)

Cast : Uchiha Sasuke; Uzumaki Naruto; Haruno Sakura; Hyuuga Hinata

Genre(s) : Romance ; Humor

Rate : T

Warning : AU/AT; OOC; Kesalahan ketik dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat

.

.

.


BAB 2

Hinata baru saja tiba di sekolah tanpa didampingi Sakura. Biasanya, jika dirinya berangkat seorang diri, itu karena dia terlambat bangun atau Sakura yang terlambat. Mereka sudah sepakat untuk masalah ini. Hinata tidak ingin Sakura terlambat karena dirinya. Begitu juga sebaliknya. Dan khusus untuk pagi ini, Sakuralah yang terlambat bangun. Entah apa yang temannya pikirkan sepanjang malam hingga membuatnya kesiangan.

Hinata mendesah. Rasanya aneh berangkat tanpa Sakura yang cerewet. Hinata terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ketika dia berbelok di persimpangan, tubuhnya tertabrak sesuatu—atau mungkin seseorang?

"Ah! Maaf." Hinata membungkuk.

"Hyuga-san?"

Ketika Hinata mengangkat kepalanya, dia terbelalak.

"Ma-maafkan aku, Naruto—eh, Uzumakin-san?"

"Hahaha… Kau membuatku merasa kaku. Panggil Naruto saja. Sebagai gantinya, boleh aku memanggilmu Hinata? Atau Hinata-chan?"

Hinata tidak tahu harus berkata apa. Mendengar Naruto menyebutkan namanya membuat Hinata merasa seperti Narutolah yang memberikan nama itu padanya. Rasanya seperti pertama kali mendapat nama. Rasanya sangat menyenangkan. Mulai sekarang, cara Naruto memanggilnya akan menjadi musik favoritnya.

Namun, sepertinya Naruto salah mengartikan sikap diam Hinata. Sepertinya dia mengira Hinata tidak nyaman dengan panggilan itu. "Emm… aku rasa Hyuga-san saja—"

"Hinata-chan! Panggil aku Hinata-chan!" seru gadis itu.

Naruto terkejut. "Ng… ba-baiklah… Hinata-chan?"

Detik itu juga Hinata segera menyadari perbuatannya dan merasa sangat malu. Kedua pipinya memanas. "Ma-maafkan aku. Aku terlalu senang."

"Senang? Karena… aku?" tebak Naruto agak ragu.

"Eh?" Hinata tidak yakin dengan pendengarannya.

"Tidak, tidak, tidak. Lupakan saja." Naruto mengusap lehernya.

Hinata melihat Sasuke mendekat. Kehadiran pemuda itu sukses membuat mood-nya berubah. Kenapa dia harus muncul di saat seperti ini, pikirnya. Sasuke bagaikan bencana baginya. Kehadirannya hanya akan membuat Hinata teringat kejadian memalukan kemarin.

"Oi, Sasuke. Kau kenal dia, kan? Dia Hinata. Temannya Sakura."

"Tentu saja aku mengenalnya," balas Sasuke datar. "Tidak mungkin aku tidak mengenalnya."

Hinata mengerjap. Perasaannya saja… atau Uchiha ini juga tidak senang dengan keberadaannya? Bahkan Hinata sempat menangkap beberapa nada tidak menyenangkan ketika lelaki itu berbicara.

"Tentu saja kau akan mengenal Hinata. Dia kan teman dekat dari gadis yang menolakmu," ejek Naruto.

Sasuke melempar tatapan tajam ke Naruto. Namun dengan secara terus-terang diabaikan oleh lelaki eksotik itu.

"Jangan pedulikan Sasuke, Hinata. Kau tahu, dia sudah seperti ini sejak masih dalam kandungan ibunya. Abaikan saja pokoknya," ungkap Naruto kemudian mengedipkan salah satu matanya—sukses membuat Hinata tersipu.

"Di mana temanmu itu? Kenapa aku tidak melihatnya?"

Itu pertama kalinya Sasuke bertanya pada Hinata. Sangat sulit baginya mempercayai itu. Jika saja tatapan menuntut lelaki itu tidak tertuju ke arahnya, mungkin Hinata akan menyalahkan telinganya sendiri.

"Ehem! Baru beberapa jam tidak bertemu, kau sudah sangat merindukan gadismu, Sasuke?"

Tentu saja Narutolah yang berkata seperti itu. Tidak mungkin Hinata—dia tidak akan berani memancing Uchiha itu.

"Terserah apa katamu, Naruto." Sasuke terlihat bosan.

"Sa-sakura kesiangan. Sepertinya semalam dia begadang. Jadi, kami berangkat terpisah pagi ini," ujar Hinata.

Tidak berapa lama setelah itu, Sakura tiba-tiba muncul dari belakang Hinata. Hinata terkejut oleh kebetulan itu.

"Apa… yang sedang terjadi di sini?" tanya Sakura sambil melihat Hinata, Naruto, dan Sasuke bergantian.

Sungguh di luar dugaan, Sasuke segera mendekatinya. Membuat Sakura merasakan ketegangan. Belum sempat dia bertanya, pemuda itu telah menyeretnya menjauh.

Hinata terlonjak kaget. "Sa-sakura!"

"Tenang, Hinata-chan. Meskipun tampangnya seperti itu, Sasuke tidak akan menyakiti perempuan."

Hinata mencoba mempercayai kata-kata Naruto. Ya, Sakura akan baik-baik saja, pikirnya.

Setelah terdiam cukup lama, barulah Hinata tersadar. Naruto sedang memegang pergelangan tangannya! Pada saat itu juga wajahnya langsung merona merah karena malu.

"Ada apa?"

"Ti-ti-tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Sungguh."

.

.

.

"Apa yang kau inginkan dariku, Uchiha?!" tuntut Sakura setelah berhasil melepaskan tangannya dari cengkeraman Sasuke. Kemudian mengusap pergelangannya yang memerah.

"Apa kau menyadari dampak dari kebohonganmu, huh?"

"Dampak dari kebohonganku? Apa maksudmu? Dan, satu hal yang harus kau ingat. Lain kali, jika kau ingin bicara denganku, tidak perlu pakai acara seret-seret! Aku bukan karung beras, Uchiha!"

"Berhenti berteriak, Haruno. Aku tidak tuli."

"Oh, tentu saja! Seorang Uchiha tidak mungkin tuli. Hanya saja, jika ingin berbicara dengannya, orang itu harus mempertegas suaranya agar bisa menarik perhatian sang Uchiha yang dingin dan sok tampan!" sindir Sakura sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Sasuke mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Dingin? Aku akui itu. Tapi, sok tampan? Kau yang mengatakan itu, Sayang."

Sakura tersentak. Apa Sasuke baru saja memanggilnya 'sayang'? Dan ditambah dengan seringai nakal lelaki itu, apa Sakura masih bisa bersikap seolah dia tidak merasakan apa-apa? Tidak! Apa pun yang dirasakannya, dia tidak ingin memperlihatkannya pada Sasuke. Ditambah lagi, dia yakin lelaki itu hanya ingin mempermainkan perasaannya. Tidak lebih.

Seorang pangeran kutub utara yang playboy, huh?

"Untuk apa kau membawaku ke sini?" Sakura mengamati tempat mereka berada. Daerah belakang sekolah yang sepi. "Kau tidak berencana melakukan sesuatu padaku, kan? Maksudku, seorang Uchiha tidak mungkin memiliki pikiran kotor, bukan?" sindirnya.

Sasuke tertawa. Membuat Sakura hampir menganga seperti orang bodoh. Pangeran kutub… baru saja tertawa di depannya. Tepat di depan matanya!

"Karena kau yang menyinggungnya pertama kali, bukankah itu artinya kaulah yang memiliki pikiran kotor di sini?"

Sakura mengumpat. Inilah yang disebut 'senjata makan tuan'. Sebelum bersuara, dia berdehem. "Ehem. Katakan apa yang kau inginkan. Jika kita berlama-lama di sini, Hinata dan—terutama—Naruto bisa salah paham."

"Kau takut?" tantang Sasuke sambil maju selangkah. "Sejak awal Naruto sudah salah paham padaku. Dan sekarang kau ingin aku untuk menjaga sikap? Kau tidak bermaksud membuatku tertawa, bukan? Karena jika memang iya, leluconmu sama sekali tidak lucu, Haruno."

Sakura bergidik. Sasuke benar-benar membuatnya merinding. Dan mata itu, mata gelap itu membuatnya tak dapat bergerak bebas. Bahkan untuk menarik napas saja rasanya begitu sulit. Jarak yang semakin pendek membuat Sakura semakin tidak nyaman. Dan sekali lagi, lelaki itu membuatnya merasa seperti orang kerdil. Berdiri berhadapan seperti itu membuat Sakura terpaksa menengadahkan kepalanya agar tatapan mereka tetap terhubung. Dia berusaha bernapas normal agar Sasuke tidak menyadari betapa gugup dirinya saat ini.

"Maafkan aku soal itu. Asal kau tahu, itu tidak terencana."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk bertanggung jawab, Haruno? Karena kebohonganmu, aku telah menjadi bahan olok-olokan Naruto dan kakakku. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Naruto karena aku cukup tahu itu akan menyakiti harga diri temanmu."

"Aku berterima kasih padamu untuk itu. Jangan beritahu Naruto. Hinata sudah cukup malu dengan kau sebagai saksinya." Sakura terdiam, tampak berpikir. "Tunggu dulu. Setelah aku pikir-pikir, aku tidak sepenuhnya bersalah, Uchiha. Kaulah yang telah merampas amplop itu. Jika kau tidak melakukan hal itu, Hinata tidak akan menanggung malu dan aku juga tidak akan melakukan kebohongan. Itu kesalahanmu, Tuan. Kaulah yang seharusnya menyelesaikan kesalahpahaman ini!"

"Baiklah. Anggaplah kita berdua sama-sama tidak bersalah. Lalu salah siapa ini? Salah temanmu karena mengarahkan suratnya padaku dan mengira aku adalah Naruto? Baiklah. Mari kita salah Hyuga Hinata." Sasuke memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Tidak! Ini bukan salah Hinata, dan jangan berani menyalahkan temanku!" sahut Sakura sambil menekan telunjuknya di dada Sasuke.

Sasuke mendengus. "Lihatlah betapa naifnya dirimu, Haruno." Setelah itu, dia mulai menjauh, berniat meninggalkan Sakura.

"Apa maksudmu?"

Sakura diabaikan.

"Aku tanya, apa maksudmu, Uchiha Sasuke?!"

Tetap terabaikan.

Merasa sakit hati, Sakura segera melepas salah satu sepatunya dan melemparnya ke arah lelaki itu. Dengan sangat mulus dan keras, sepatu itu mendarat tepat di kepala Sasuke.

Tak ada reaksi. Sasuke tetap membelakangi Sakura namun langkahnya telah terhenti oleh serangan itu. Sakura menanti dengan perasaan was-was. Dia bahkan tidak menyadari perbuatannya sendiri. Untuk sesaat, dia berniat untuk meminta maaf. Namun, harga diri Sakura terlalu tinggi untuk bisa mengungkapkan niatnya itu.

Sasuke mulai bereaksi. Pertama, dia memegang kepalanya yang baru saja menerima 'ciuman mesra' dari sepatu Sakura. Kedua, dia mendekati sepatu itu dan memungutnya. Dia pun kembali mendekati Sakura.

Sungguh mengejutkan. Padahal Sakura sudah bersiap-siap menghadapi kemarahan Uchiha muda itu. Tapi yang terlihat justru biasanya saja. Dengan raut wajah datar, Sasuke berdiri tepat di depan Sakura.

"Sungguh disayangkan," ujar Sasuke. "Sepertinya, mulai dari sini," dengan santainya, ia memegang dagu gadis itu, "kau harus berjalan dengan satu kaki, Sayang."

"Apa maksudmu—"

Sakura terbelalak. Sasuke baru saja melempar sepatunya hingga melayang melewati tembok pembatas. Membuat sepatu itu mendarat di tengah-tengah semak belukar dan pepohonan yang tumbuh liar di sisi lain tembok tinggi itu.

Dan yang lebih menyakitkan lagi, sebelum pemuda itu menghilang dari jarak pandangnya, Sakura melihat Sasuke menyunggingkan senyum yang sangat… seksi! Membuatnya menjadi serba salah. Senyum itu terlalu seksi hingga mampu membuatnya tersipu malu namun amarahnya juga tidak dapat diabaikan begitu saja setelah menerima perlakuan kurang ajar.

"Uchiha Sasuke! Aku bersumpah akan membalasmu! Tunggu saja!"

.

.

.

"Jadi… bisa kau ceritakan apa yang terjadi antara kau dan Sakura di belakang sekolah?" tanya Naruto di kala jam istirahat. Dia dan Sasuke tetap tinggal di kelas.

"Tidak ada yang terjadi." Sasuke membuka halaman selanjutnya dari buku yang sedang dibacanya.

"Oh… benarkah? Lalu kenapa aku merasa kau sedang berbohong padaku?" goda Naruto.

Sasuke mengabaikannya dan malah sibuk membaca.

"Tidak perlu malu, Bro. Aku bisa memberimu nasehat apa pun, terutama seputar para gadis."

Ya ampun. Lihatlah gayanya. Betapa belagunya Naruto. Seolah-olah dia adalah seorang master para wanita. Kenyataannya, dia bahkan tidak menyadari perasaan Hinata.

"Baiklah. Aku butuh nasehatmu."

"Tentu saja, Bro. katakan padaku."

"Katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa membungkam mulutmu karena kau sangat mengganggu, Bro."

Mata Naruto mengejap tak percaya. "A…apa kau benar-benar membutuhkan nasehatku untuk itu?"

Sasuke mengangguk mantap.

"I-itu…" Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Akh! Baiklah! Aku akan diam. Puas?"

Sasuke tersenyum puas. Ia lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan melanjutkan bacaannya.

Naruto memajukan bibir bawahnya. "Ngomong-ngomong, buku apa yang sedang kau baca?" tanyanya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Naruto memilih mendekat dan melihatnya sendiri.

Icha Icha Paradise.

"Ternyata oh ternyata. Buku yang sejak tadi kau baca Icha Icha Paradise? Punya Kakashi-sensei?"

Sasuke mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku.

"Bagaimana menurutmu buku karya kakek Jiraiya?"

"Agak porno," jawab Sasuke seadanya.

Naruto tertawa.

Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda.

"Bagaimana bisa sepatumu menghilang?" tanya Hinata.

"Semua gara-gara Sasuke!"

"Dia menghilangkannya?"

"Tidak! Dia membuangnya tepat di depanku!"

"Dan… kenapa hal itu bisa terjadi?"

Sakura mendelik kesal. "Apa itu penting sekarang?"

"Tidak juga. Aku hanya berpikir… orang seperti Sasuke tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu tanpa alasan yang jelas."

"Jadi sekarang kau membelanya, huh?"

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Sakura."

Sakura membuang muka. Ia lalu bersandar ke kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sangat menyebalkan. Sekarang dia harus terjebak di kelas gara-gara masalah sepatu. Dia tidak mungkin ke kantin dengan sepatu yang hanya sebelah atau tanpa mengenakan sepatu sama sekali. Terima kasih pada Sasuke yang telah membuatnya harus menahan lapar di kelas.

"Aku akan ke kantin mencari sesuatu untuk di makan. Kau tunggu di sini," ujar Hinata setelah mendengar suara keroncongan dari perut Sakura.

"Aku harap kau tidak lama karena aku benar-benar akan mati kelaparan di sini."

Hinata tersenyum. "Duduk saja di sini dengan manis."

Dan seperti yang Hinata perintahkan, Sakura tetap duduk manis di tempatnya. Namun Hinata sangat lambat. Perutnya sudah tidak tahan. Tiap kali perutnya berdenyut maka kemarahannya pada Sasuke juga akan ikut bertambah. Karena Hinata tak kunjung kembali, Sakura memutuskan untuk menyusul. Namun langkahnya terhenti di depan salah satu jendela kelas Sasuke. Melalui kaca bening itu, dia melihat lelaki itu seorang diri di dalam kelas.

Sasuke terlonjak kaget saat Sakura merampas buku bacaannya. Namun tak berapa lama setelah itu ekspresinya kembali datar.

"Kembalikan." Nada suara Sasuke terdengar santai namun entah mengapa Sakura merasa seperti sedang diberi perintah.

"Enak sekali kau bisa bersantai sementara aku kelaparan."

"Ke kantin saja. Tidak ada yang melarang," balas Sasuke. Kemudian menggerakkan jari telunjuknya sebagai perintah agar Sakura mengembalikan bukunya.

"T.I.D.A.K. Tidak. Kembalikan sepatuku maka bukumu kembali."

"Baiklah. Silahkan simpan buku itu sesukamu. Lagi pula itu bukan milikku. Sebaiknya beritahu Kakashi-sensei sebelum kau benar-benar mengambilnya." Sasuke bersandar ke kursi lalu melipat salah satu kakinya di atas paha—membuatnya terlihat semakin maskulin.

Alis Sakura terangkat. "Apa hubungannya dengan Kakashi-sensei?"

"Untuk masalah sepatu, Kakashi tidak ada hubungannya. Tapi jika menyangkut buku itu, kau wajib meminta izinnya karena dialah pemilik buku itu."

"Dan kenapa aku harus percaya padamu?"

"Aku tidak bilang kau harus percaya padaku, Sayang."

Lagi-lagi Sakura mendengar panggilan itu. "Memangnya buku apa ini?" tanyanya.

"Kau bebas memeriksanya."

Sakura merasa curiga ketika melihat Sasuke menyunggingkan senyum penuh makna kepadanya. Dan hal itu sukses membuatnya semakin penasaran. Ketika Sakura memeriksa buku itu, dia tidak membaca secara menyeluruh. Dia hanya membaca secara garis besar dan membuka halamannya secara acak. Entah apa yang dia temukan di buku itu hingga membuat wajahnya memerah. Dengan kasar, Sakura segera menutup buku itu rapat-rapat.

"Sudah menemukan sesuatu yang kau cari, Haruno?" tanya Sasuke santai namun Sakura sangat tahu bahwa lelaki itu sedang mengejeknya. "Sepertinya kau sudah menemukannya," tebaknya sambil mengamati wajah gadis itu.

"Aku membencimu, Sasuke!" Sakura menghempas buku itu ke meja.

Sasuke meletakkan salah satu sikunya di meja, kemudian menopangkan dagunya di telapak tangan. "Aku anggap itu sebagai pujian." Tanpa kata-kata lagi, dia menikmati ekspresi marah Sakura.

"Aku serius! Aku sangat membencimu!"

Sasuke tersenyum. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Haruno. Ada saatnya kata-kata bisa menjadi senjata. Dan ada saatnya senjata bisa memakan tuannya sendiri. Senjata makan tuan. Kau pernah mendengarnya?"

Sakura mendengus. "Terus apa masalahmu jika ucapanku menjadi senjata dan senjata itu menyerangku? Itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Tentu saja aku akan terlibat." Sasuke mencondongkan tubuhnya ketika melihat raut bingung di wajah gadis itu. "Karena kau bisa saja jatuh cinta padaku," bisiknya dengan nada sensual.

Sakura terdiam. Menatap Sasuke dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia bahkan mulai meragukan apakah lelaki yang duduk di depannya sekarang adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang selama ini selalu memilki image dingin dan tak berperasaan, serta kaku dan pelit bicara? Jika lelaki itu tetaplah lelaki yang sama, lalu di manakah letak kebenaran berita-berita itu?

Pertama, berita yang mengatakan bahwa Sasuke adalah lelaki yang dingin. Sampai-sampai dia mendapat julukan Pangeran dari Kutub Utara. Baiklah. Berita ini ada benarnya. Tapi, mengapa Sakura merasa bahwa Sasuke tidaklah sedingin julukannya?

Kedua, berita bahwa Sasuke tidak berperasaan. Baiklah. Untuk yang satu ini, Sakura setuju—mengingat sepatunya baru saja menjadi bukti.

Ketiga, berita yang mengatakan Sasuke kaku. Kaku? Oh, ayolah. Apakah Sasuke pernah tampak kaku di depannya? Tidak! Yang terjadi justru sebaliknya. Sakuralah yang kaku tiap kali berada di dekat Sasuke.

Keempat, berita tentang Sasuke yang pelit bicara. Sakura selalu ingin tertawa miris tiap memikirkan hal ini. Baginya, Sasuke justru sangat cerewet. Jika dia mengingat kembali semua pembicaraan mereka, maka dia akan menyadari bahwa Sasuke selalu menjadi pemenang tiap kali mereka berdebat. Entah mengapa, semua pernyataan Sakura selalu mendapat balasan yang akan membuatnya tersudut. Seakan-akan Sasuke telah mengetahui apa yang akan Sakura.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura pada akhirnya. Tatapannya menajam.

Sasuke mengangkat bahu. "Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya memberimu peringatan, Haruno."

Sakura mendengus. Meremehkan peringatan Sasuke.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Seperti yang Naruto katakan, aku gadis pertama yang menolakmu. Sungguh disayangkan karena hal itu didasari oleh kebohongan. Tapi... baiklah. Aku akan membuat hal itu menjadi kenyataan."

.

.

.

"Selamat datang ke—" Sakura batal membungkuk. "Oh, kalian."

"Apa-apaan sikapmu itu, Jidat? Kami ke sini sebagai pelanggan. Aku bisa saja mengadukan cara pelayananmu pada bosmu."

"Aku pesan bolu lapis, brownies extra cokelat, cheese cookies—"

"Aku bahkan belum selesai bicara, Chouji!" Ino melotot pada lelaki gendut di sebelahnya.

"Tapi… aku kelaparan, Ino." Chouji murung. Ia mengelus-elus perutnya seperti ibu hamil.

Ino mendengus. Dia segera mendekati salah satu meja yang masih kosong di sudut ruangan, diikuti oleh Chouji dan Lee.

"Jadi, apa pesanan kalian?" tanya Sakura saat menghampiri mereka.

"Aku ingin sesuatu yang rendah lemak," ujar Lee sambil mengamati bayangannya melalui cermin di tangannya. Sepertinya sedotan yang satu ini tidak pernah lepas dari cermin. Dengan gerakan gemulai, dia merapikan poni lemparnya dan sesekali tersenyum bangga pada pantulannya di cermin. Menaikkan kedua alisnya, sesekali berkedip genit, dan ada kalanya dia memasang mimik sok seksi dengan bibir yang dimanyunkan agar mirip Angelina Jolie.

"Eh?" Salah satu alis Sakura terangkat. "Rendah lemak?"

"Kau tidak bisa lihat? Aku sedang diet. D. I. E. T."

Apa? Si kurus kering ini sedang diet? Sakura tidak habis pikir, apanya lagi yang ingin Lee kurangi? Padahal sejak awal dia sudah kekurangan daging. Jangan bilang Lee ingin menonjolkan tulang-tulangnya karena mengira hal itu akan tampak seksi. Sakura menahan tawanya. Bagaimanapun juga, saat ini Lee sedang menjadi pelanggan. Sakura tidak boleh berbuat seenaknya—jika tidak ingin dipecat.

"Kau yakin ingin tetap diet?" Sakura meragukannya. Dia kemudian melihat Chouji yang sedang menatap rakus beragam kue-kue di lemari kaca. Lihatlah tubuh yang bulat itu. Chouji terlihat seperti sedang terjebak di bajunya sendiri. Apa dia tidak sesak napas? Sakura menggeleng cepat, menepis pikirannya. Kenapa dia harus peduli? Terserah Lee ingin diet atau tidak, Sakura tidak berniat ikut campur. "Jika kau mencari makanan rendah lemak, kau salah tempat, Lee—"

"Lily," potong Lee sambil mengetuk-etuk jari telunjuknya ke meja.

Sakura memutar bola matanya—bosan. "Baiklah, baiklah, Lily. Toko kami hanya menjual kue-kue full cream, kue kering, serta beberapa manisan. Jika kau mau, aku bisa menawarkan beberapa jus buah?"

Setelah mencatat pesanan ketiga pelanggannya itu, Sakura bergegas pergi. Ketika dia kembali dengan masing-masing nampan yang berisi pesanan di kedua tangannya, Sakura terperanjat. Bagaimana tidak, dia melihat Hinata duduk tepat di sebelah meja Ino, Lee, dan Chouji. Sebenarnya, bukan sosok Hinata yang membuatnya terkejut. Tapi, orang-orang yang sedang bersama Hinatalah yang mengejutkannya.

Ketika Sakura mendekati meja Ino untuk meletakkan pesanan, dia menyaksikan sikap kaku gadis pirang itu. Jika saja dia tidak mengetahui alasan di balik sikap itu, mungkin Sakura akan bertanya-tanya apa yang terjadi pada musuhnya itu. Ino yang terbiasa mengangkat dagu—untuk menunjukkan keangkuhannya, kini tertunduk… malu. Sikap itu membuat Sakura merasa seperti sedang berhadapan dengan Hinata.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura.

"Apanya?" Alis Ino berkerut.

"Tidak. Lupakan saja." Apa dia baru saja mengkhawatirkan Ino? Sakura tidak dapat mempercayainya. Dia merasa telah dikhianati oleh dirinya sendiri dan secara diam-diam mengutuknya.

Setelah meletakkan semua pesanan, Sakura menghampiri Hinata. Awalnya, Sakura mengira Hinatalah yang telah mengundang dua pemuda di depannya, Naruto dan—Sakura mengumpat dalam hati—Sasuke. Namun setelah menatap mata Hinata yang sama bingungnya dengan Sakura, Sakura berasumsi dua makhluk itu datang tanpa diundang.

"Sakura…" ujar Hinata pelan—lebih terdengar memelas di telinga Sakura.

Sakura bisa merasakan kecemasan gadis itu. Tatapannya seakan meminta Sakura untuk tetap di sisinya karena dia tidak berani jika harus seorang diri menghadapi Naruto dan Sasuke.

"Hai, Sakura," sapa Naruto. Seperti biasa, pemuda itu terlihat ramah dan bersahabat. Hanya dengan satu senyuman polos, kecanggungan dapat dicairkan.

"Selamat pagi, Uzumaki." Sakura melirik Sasuke sebentar lalu kembali melihat Naruto. "Aku agak terkejut karena sepertinya kau mulai akrab dengan Hinata," akunya.

"Panggil Naruto saja." Sekali lagi Naruto memamerkan senyumnya. "Aku dan Hinata kebetulan bertemu saat baru saja tiba di sini." Naruto diam sejenak lalu segera melirik Sasuke dan Sakura secara bergantian. "Dan Sasuke juga ingin bertemu denganmu, Sakura-chan." Naruto tersenyum jail.

"Jangan memanggilku 'Sakura-chan'!"

"Kenapa? Padahal Hinata sangat senang dipanggil Hinata-chan."

Hinata tersipu.

"Apa kau kau baru saja membandingkan diriku dengan Hinata?"

Naruto tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia mengamati Sakura dan Hinata bergantian.

Sakura memiliki rambut pendek sebahu, meski kini terikat rapi ke belakang. Beberapa helai rambutnya tergerai di tekuk lehernya. Sepertinya karena terlalu pendek hingga tidak terikat. Dan juga, beberapa helai tergerai di masing-masing sisi wajahnya, menutupi beberapa di daerah telinga, pelipis, dan pipi. Postur tubuhnya? Tak perlu diragukan. Tubuhnya terlalu tinggi untuk ukuran para gadis dan memiliki struktur bahu yang tegap hingga jauh dari kesan feminim. Satu-satunya aset feminim Sakura adalah sepasang mata hijau cerahnya—menurut pengamatan Naruto. Mata itu sangat jernih hingga membuat Naruto berpikir dapat menggunakannya sebagai cermin. Dan, Naruto setuju Sakura tidak cocok dipanggil dengan embel-embel '—chan'.

Kemudian Hinata. Gadis itu memiliki rambut panjang hingga ke pinggang. Bahkan mungkin lebih panjang lagi, pikir Naruto. Cukup dengan melihatnya saja Naruto dapat mengetahui bahwa rambut itu sangat halus dan lembut. Poninya yang telah memanjang—atau jangan-jangan Hinata sengaja memanjangkannya—menutupi seluruh daerah dahi dan alis. Bahkan hampir menutupi matanya juga. Ketika Naruto berhenti di mata gadis itu, dia terkagum-kagum. Sepanjang dia mengenal Hinata, dia mengira gadis itu memiliki mata abu-abu polos. Dan jujur saja, hal itu membuatnya beranggapan bahwa mata itu sama sekali tidak menarik. Namun, setelah diperhatikan baik-baik, mata gadis itu tidaklah polos. Tepat di sekitar pupil mata, Naruto melihat warna keungu-unguan cerah. Warna itu tidak sebanyak warna abu-abu. Sama sekali tidak menonjol dan terkesan malu-malu. Satu hal yang Naruto pelajari dari penemuannya itu adalah, warna keungu-unguan itu memiliki persamaan dengan Hinata. Keduanya sama-sama tidak menonjol, terkesan bersembunyi, dan ragu-ragu untuk menampakkan diri. Tapi, ketika orang mulai menyadari keberadaannya, secara ajaib mereka menjadi sangat menonjol dan berkilau.

Hinata melihat ke arahnya saat menyadari sedang diamati. Membuat wajah yang tadinya menghadap ke Sakura, kini menghadap ke Naruto. Dan posisi itu membuat cahaya berhasil mengenai matanya secara langsung. Membuat Naruto… susah payah menelan ludah. Mata Hinata berkilauan—terutama di daerah ungu itu. Tatapannya yang polos membuat Naruto lupa untuk berkedip.

"Ada apa, Naruto?" tanyanya dengan kepala yang agak dimiringkan.

Naruto menegang. "Bo-boleh aku minta segelas air putih?" tanyanya pada Sakura. "Se-sekarang!"

Sakura mengerutkan dahi saat mendengar nada frustasi Naruto. Beruntung saat ini Sakura dengan dalam mode 'pelayan toko yang baik hati dan penurut'. Jika tidak, dia benar-benar akan menonjok rahang pemuda itu karena telah berani memberinya perintah. Dia segera pergi lalu kembali lagi dengan segelas air putih di atas nampan yang dibawanya.

Naruto menghabiskan air itu dalam satu kali teguk. Seakan-akan belum pernah mencicipi setetes air selama beberapa hari terakhir. Naruto memegang dadanya yang naik-turun sambil menarik napas dalam-dalam.

"Apa yang terjadi?" Salah satu alis Sakura terangkat dengan ekspresi masam.

"Ti-tidak apa-apa," bohong Naruto sambil menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangan.

Sakura sangat tahu Naruto berbohong. Tapi toh dia juga tidak peduli. "Apa temanmu punya penyakit tertentu?" tanyanya pada Sasuke.

Hebat! Sasuke baru saja menyaksikan temannya sekarat—setidaknya, seperti itulah kelihatannya, namun ekspresinya tetap datar dan bahkan terkesan tidak peduli. Sasuke mengangkat bahu untuk merespon pertanyaan Sakura barusan. "Satu-satu yang aku tahu, dia bersikap seperti ini hanya di saat dia sedang gugup."

Gugup? Apa yang membuatnya gugup? Pikir Sakura sedikit penasaran.

"Na-naruto… kau baik-baik saja?" Kedua mata Hinata membulat. Ketika dia agak mencondongkan diri ke arah Naruto, beberapa helai rambutnya tergelincir melewati bahu lalu mendarat di permukaan meja. Secara spontan, dia kembali menyelipkan rambut itu ke belakang telinga.

Imut! Pikir Naruto.

Naruto berdehem. "Aku baik-baik saja. Maaf karena membuat kalian terkejut. Hehehe…" ujarnya dengan jari telunjuk berada di bawah hidungnya.

Sakura memutar bola matanya—bosan. Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya, yaitu ketika tanpa sengaja melihat Sasuke dan Naruto yang saling bertukar pandang secara sembunyi-sembunyi, kemudian melihat wajah Naruto mendadak merona merah, sementara Sasuke justru terlihat seperti baru saja memenangkan pertempuran. Bibir Sasuke melengkung samar-samar, membentuk senyum mengejek.

Sangat tamp—Sakura tersentak dan segera menepis pikirannya. Dia menggelengkan kepalanya dengan kasar. Dia pasti sudah gila.

"Silahkan sebutkan pesanan kalian!" pinta Sakura—atau lebih pantas disebut perintah.

"OMG! Lihat! Beruntung sekali Hinata bisa berada di meja yang sama dengan Sasuke!" bisik Lee di sela kegiatannya menelan sepotong kue brownies berlapis cokelat.

Ino melirik melalui bahunya. Perasaan cemburu terasa seperti sedang merambat ke seluruh tubuhnya.

Lee kembali menghasut. "Jika tetap seperti itu, Sasuke bisa saja direbut. Dan kau—Hei, Chouji! Makan makananmu sendiri! Jangan sentuh punyaku!" bentak Lee sambil menjauhkan kuenya dari jangkauan Chouji.

"Kau sedang diet, kan? Berikan saja padaku." Chouji menjulurkan tangan untuk mengambil kue Lee.

Lee berteriak dan teriakannnya melengking ke seluruh ruangan. "Arghh! Stop deh ah! Khusus untuk hari ini aku berhenti diet! Kue ini terlalu enak untuk diabaikan."

"Kalau begitu, setidaknya berikan aku satu potong saja." Chouji memelas.

"Tidak akan, Gendut! Pesan lagi kalau masih mau!" Lee tetap menjauhkan kuenya dari Chouji.

"Aku kehabisan uang…"

Lee dan Chouji tetap saling menyolot. Tidak ada yang berniat mengalah. Dan itu sukses membuat mereka menjadi bintang utama di toko itu. Seluruh penghuni dan pengunjung melihat ke arah mereka. Jika hanya Lee dan Chouji yang diperhatikan, Ino akan tetap tinggal diam. Masalahnya, orang-orang juga ikut menatap ke arahnya sebagai orang ketiga yang berada di antara si kurus dan si gendut.

Sudah cukup! Teman-temannya telah membuatnya sangat malu di depan umum.

"Hentikan, Kalian berdua!" Ino menghentakkan kedua tangan ke meja. "Berhenti sekarang juga. Silahkan pesan kue sebanyak yang kalian mau dan aku yang akan membayarnya. Tapi, dengan satu syarat, berhenti membuatku malu!"

"Kau serius?" tanya Lee dan Chouji.

"Ya. Setidaknya aku belum berubah pikiran." Ino kembali bersandar ke kursi dan menyilangkan kedua tangan serta kakinya.

Seperti yang Ino perkirakan, Lee dan Chouji langsung termakan umpan itu.

"Kerja bagus, Pisang Ambon. Lagi-lagi kau berhasil menjinakkan mereka."

Ino tidak sepenuhnya kesal mendengar ucapan Sakura karena meskipun gadis itu menggunakan kalimat mengolok, Ino bisa merasakan pujian Sakura tidak sepenuhnya palsu. Tapi, tetap saja! Ino kesal melihat Sasuke berada di pihak Sakura. Apalagi setelah mendengar penuturan Naruto tentang Sakura sebagai gadis pertama yang menolak Sasuke. Cih! Jangan sombong Sakura! Bukankah Naruto bilang Sakura sempat menyatakan perasaan pada Sasuke tapi kemudian menolaknya? Dasar munafik! Ino telah lama menyukai Sasuke—sejak SD seingatnya, namun dia belum pernah mendapat kesempatan berbicara pada lelaki itu. Selain karena dia terlalu malu menatap langsung mata Sasuke, dia juga kerap kali dihadang oleh gadis-gadis yang mengaku sebagai fans fanatik Sasuke. Dan Sakura berani menolak Sasuke? Memangnya apa yang Sakura punya dan tidak dimiliki Ino?

"Urus urusanmu sendiri, Jidat." Ino menyeruput minumannya melalui sedotan. Sebenarnya dia tidak yakin tapi tetap nekad melirik ke arah Sasuke. Ketika mendapati Sasuke sedang melihat ke arahnya, bahkan sebelum dia sempat melirik lelaki itu, minumannya mendadak tersangkut di tenggorokan. Ino batuk-batuk dan matanya berkaca-kaca.

Sakura tersentak. "Tadi Naruto yang bertingkah aneh, dan sekarang kau? Oh, ada apa dengan hari ini?" ujar Sakura dengan nada sarkastis. Meski begitu, dia tetap mengambilkan Ino segelas air putih.

"Sekali lagi aku katakan, urus urusanmu sendiri." Ino merebut air itu lalu meminumnya.

Sakura memutar bola matanya dan dengan senang hati meninggalkan Ino.

"Sekarang," Sakura mengangkat buku nota ke depan dada dan mengarahkan mata pulpen ke halaman yang masih kosong, "sebutkan pesanan kalian," ujarnya pada Hinata, Naruto, dan Sasuke.

"Pesananku tetap seperti biasa," balas Hinata.

Sakura mengangguk mengerti sambil menulis 'Jus Alpokat dan Bolu Chocolate Cheeze' ke permukaan nota. "Kau?" Sakura mengarahkan dagu kepada Naruto.

"Sama seperti pesanan Hinata."

Salah satu alis Sakura terangkat. "Kau yakin?" Naruto bahkan tidak tahu apa yang Hinata pesan. Bisa jadi lidahnya tidak cocok dengan rasa alpukat—sama seperti Sakura yang sejak dulu membenci buah itu.

"Tentu saja." Naruto tersenyum mantap.

Terserah. Jangan salahkan aku jika tidak sesuai seleramu, pikir Sakura dan kembali mencatat. "Lalu kau?" Sejak bicara dengan Naruto gaya bicara Sakura telah kasar. Tapi, ketika berhadapan dengan Sasuke, sikapnya bahkan lebih kasar lagi.

Sasuke membaca daftar menu. Sakura menunggu dengan sabar.

Naruto mendekat ke Hinata untuk membisikkan sesuatu. "Aku bisa menebak apa yang akan Sasuke pesan."

"Benarkah?" Hinata ikut berbisik.

"Dia akan memesan—"

Dahi Sakura mulai berkerut. Dengan kesabaran yang mulai menipis, Sakura menghentak-hentakkan kakinya di lantai. "Maaf, Tuan," Sakura meremas pulpen, "bisa sebutkan pesanan Anda?"

Tetap dengan sikap tenangnya, Sasuke meletakkan daftar menu lalu menatap Sakura. "Seperti inikah caramu melayani pelanggan?"

Sakura terkesiap. Nada bicara Sasuke yang dingin dan menusuk membuat Sakura kehilangan kata-katanya. Perasaan ini sama seperti ketika dia pertama kali berhadapan langsung dengan Uchiha itu. Aura yang ada di sekitar lelaki itu membuatnya merasa tersudut dan terintimidasi. Ke mana perginya Pangeran Es yang Playboy? Jujur saja, Sakura lebih nyaman dengan kepribadian Sasuke yang playboy daripada kepribadiannya yang sedingin es dan terlalu mengintimidasi ini.

Napas Sakura tercekat di tenggorokan. "Ma-maafkan aku… Tuan." Lalu membungkuk sopan—meski membuat harga dirinya terluka. "Silahkan sebutkan pesanan Anda," pintanya setelah kembali berdiri tegak.

"Jus tomat."

"Baikla—Eh? Apa?" Dengan kurang ajarnya, Sakura mengorek kupingnya lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sasuke. "Bisa diulangi, Tuan?"

"Jus tomat. Dan tidak akan ada pengulangan lagi."

"Tebakanku benar, kan?" bisik Naruto pada Hinata lalu keduanya menyembunyikan tawa mereka.

Sakura kehilangan kata-kata. Matanya meredup dan mulutnya terbuka lebar. Hampir saja dia menjatuhkan pulpen dari peganganya jika tak segera mengumpulkan kesadarannya. Tentu saja Sakura sudah pernah melihat wujud jus tomat—meski belum pernah mencicipinya. Hanya saja, yang membuatnya sangat terkejut adalah, fakta bahwa Sasuke baru saja memesan jus tomat. Uchiha Sasuke yang sedingin es… baru saja memesan segelas jus tomat. Sakura tidak bermaksud mengkritik selera seseorang. Tentu saja semua orang punya hak dengan selera mereka masing-masing. Hanya saja… seorang Uchiha Sasuke dipadukan dengan segelas jus tomat… tidakkah itu sangat… kontras? Sakura menggeretakkan giginya, berusaha menahan tawa.

"Baiklah, Tuan." Hanya itu yang mampu ia katakan sebelum menyingkir dari hadapan Sasuke.

"Kenapa Sakura bekerja? Untuk memenuhi kebutuhannya?" tanya Naruto.

"Bukan seperti itu. Bisa dibilang… Sakura bekerja untuk mengatasi rasa bosannya," jelas Hinata. Melihat Naruto menatapnya dengan tatapan menuntut, Hinata melanjutkan, "Aku tidak bisa berbicara banyak. Secara garis besar, orangtuanya berada di luar negeri. Jadi, untuk sementara dia ditinggal seorang diri. Untuk mengatasi rasa bosan—dan juga rasa sepi, Sakura memutuskan untuk bekerja part-time. Di sini dia bisa berinteraksi dengan orang-orang. Ada saatnya Sakura akan merasa kesepian dan tempat yang akan dia tuju untuk menghilangkan rasa gelisahnya adalah toko ini. Dia hanya bisa bekerja tiga hari dalam seminggu. Jika bukan karena urusan sekolah, dia pasti akan meminta untuk dipekerjakan selama seminggu penuh. Ketika rasa sepi menghampirinya lagi dan pada saat itu di luar jam kerja, dia akan mendatangi toko ini sebagai pelanggan."

Naruto teringat kata-kata Hinata barusan. Gadis itu mengatakan dia tidak bisa berbicara banyak. Namun, mendengar gadis itu tetap membicarakan temannya tanpa henti, Naruto tidak mungkin menyuruhnya berhenti, bukan? Bahkan, jauh di lubuk hatinya, Naruto menikmati pembicaraan itu.

"Seorang diri? Tanpa ditemani oleh seorang pembantu, mungkin?" tanya Naruto.

"Sakura tidak butuh jasa pembantu. Katanya, dia bisa mengurus dirinya sendiri. 'Aku bukan bayi, Hinata'," ejek Hinata dengan mengikuti gaya bicara Sakura yang kasar. "Aku sudah sering mengajaknya tinggal denganku untuk sementara, tapi selalu ditolak mentah-mentah. Aku juga sering memintanya untuk mengatakan padaku jika dia membutuhkan bantu atau sejenisnya, tapi dia akan mengatakan, 'Tenang, Hinata. Aku baik-baik saja.' Dia gadis yang kuat dan berpendirian teguh. Sekaligus gadis paling keras kepala dan egois yang pernah aku kenal! Dia juga mudah sekali marah. Dia tidak ingin merepotkan orang lain dan ketika dia sedang dilanda masalah, dia tidak akan mengatakannya padaku—kecuali aku mencurigai ada yang tidak beres dan memaksanya untuk menceritakan padaku. Bahkan aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kali aku melihat Sakura menangis. Aku tahu dia bukan gadis yang lemah dan manja—berbanding terbalik denganku. Tapi setidaknya, aku ingin bisa berguna untuknya! Jika sedang sedih atau sepi, kunjungi aku! Ceritakan semuanya padaku! Bukannya justru ke sini dan memakan cake—tanpa mengajakku! Maksudku, aku tahu kue-kue di sini sangat enak dan sangat cocok di makan ketika sedang dilanda masalah! Hanya saja, setidaknya—" Hinata mendadak berhenti. Tanpa sadar kedua tangannya telah mengepal erat di atas meja dan mendapati Naruto sedang serius menyimak setiap perkataannya. Bahkan Sasuke juga melihat ke arahnya—meski tidak seantusias Naruto. "I-tu…" Hinata tertunduk malu. "Ma-maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana. Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan?"

Naruto tersenyum hangat. "Tidak. Kau baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kau katakan pada Sakura sejak dulu. Bukannya justru menyimpannya dalam hati."

"Terima kasih, Naruto. Sudah lama aku ingin mengatakannya pada Sakura. Tapi aku terlalu takut. Kau tahu Sakura. Dia pasti akan mengomel tujuh hari tujuh malam padaku." Kemudian Hinata tertawa nyaring.

Di sisi lain, Ino masih bertahan di tempatnya. Sementara Chouji dan Lee terlalu terlena dengan kenikmatan dari cakes di depan mereka. Lagi-lagi Lee dan Chouji berdebat dan Ino tidak tahu penyebabnya karena perhatiannya sedang tertuju ke Sasuke. Dia hanya berani melirik lelaki itu sedetik—paling lama sekitar lima detik, sebelum kembali memalingkan tatapannya ke minumannya. Ino mendapati Lee dan Chouji sedang saling mendorong. Entah mereka menyadarinya atau tidak, mulut mereka belepotan krim. Tidak bisakah mereka berhenti membuat Ino malu? Mendadak Lee dan Chouji terdiam dan menatap satu per satu kue di depan mereka. Lee menatap ngeri ke kue-kue itu.

"Akh!" pekik Lee tiba-tiba. "Aku akan gendut jika tetap memakan ini!" Dia segera mengambil cermin dari dalam tas dan berkaca di depannya. "Ya, Tuhan! Pipiku mulai bengkak! Tidak!" Lee meraba-raba wajahnya. "Dan, lihat perutku! Perutku tiba-tiba saja membesar! Tenang, Lily. Tenang. Kau harus diet! Harus diet!"

Ino memutar bola matanya. Pipi Lee membengkak hanya karena beberapa menit yang lalu dia memakan cakes? Jangan konyol. Dengan mata telanjang pun Ino dapat melihat tulang pipi Lee mencuat keluar akibat kekurangan daging. Dan perutnya yang membesar? Ino mendengus. Apanya yang aneh dari perut yang membesar setelah makan puluhan potong cakes? Lee mendadak gemuk? Ino menggeleng. Di matanya, Lee justru terlihat seperti korban busung lapar.

"Aku gendut, Ino! Bagaimana ini?!"

"Akh!" Chouji ikut berteriak. "Bagaimana ini? Sepertinya berat badanku juga bertambah. Jika begini terus aku akan gendut!" Chouji meremas pipi tembemnya.

Lee menghantam kepala Chouji. "SEJAK AWAL KAU MEMANG SUDAH GENDUT, GENDUT!"

Ino memukul jidatnya sendiri. Dia terlalu malu untuk bisa menegur teman-temannya. Dia hanya bisa tertunduk pasrah sambil mengumpat dalam hati.

"Segera bereskan barang-barang kalian. Kita pergi dari sini." Ino bangkit dan bergegas ke kasir membayar seluruh tagihan.

Di sisi lain, Sakura sedang memblender sebuah alpovat.

"Siapa lelaki yang sedang bersama Hinata?"

Sakura melirik ke belakang dan mendapati Tentenlah yang sedang bertanya. "Sasuke dan Naruto. Mereka siswa dari sekolahku." Sakura mengambil gelas kemudian menuangkan isi blender ke dalamnya.

"Mereka lelaki yang tampan," puji Tenten.

Sakura tertawa kecil. "Mereka bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Uchiha Itachi."

"Maksudmu pria tampan yang waktu itu?"

Sakura mengangguk.

"Ya, kau benar. Pria itu jauh lebih mempesona. Tapi untuk gadis seumuran kita, pria itu mustahil didapatkan. Aku memperkirakan jarak usia kita dengannya lebih dari sepuluh tahun. Terlalu tua." Tenten menggeleng kecewa.

"Jika kau tertarik dengan lelaki yang setahun lebih tua dari kita, aku rasa kakak lelaki Hinata memenuhi standar. Tampan dan tidak terlalu tua."

"Aku baru tahu Hinata punya saudara." Alis Tenten terangkat.

"Mereka saudara sepupu. Ayah Hinata dan ayah Neji terlahir sebagai anak kembar. Makanya orang-orang selalu mengira Hinata dan Neji juga saudara kembar. Mereka memiliki banyak persamaan, terutama pada mata."

"Oh, namanya Neji. Hyuga Neji?"

Sakura mengangguk. Setelah itu bergegas ke tempat di mana Hinata, Naruto, dan Sasuke berada.

"Baiklah. Bolu Chocolate Cheese dan segelas jus alpokat untuk Hinata," Sakura meletakkannya di meja, "Begitu juga dengan Naruto. Dan terakhir, segelas jus tomat spesial dipersembahkan untuk tuan muda Uchiha Sasuke yang dibuat oleh pegawai muda dan berbakat, yaitu aku." Sakura mengarahkan acungan jempol ke wajahnya untuk memuji diri sendiri.

Naruto tak kuasa menahan tawa.

Sasuke menatap Sakura. "Terima kasih, Haruno. Kau terlalu berusaha hanya untuk membuatku senang. Kau mengharapkan hadiah dariku?" Sasuke tersenyum tipis—bahkan hampir tak terlihat.

"Siapa bilang aku ingin membuatmu senang?"

"Aku," jawab Sasuke enteng.

Sakura mendelik kesal. "Dan kenapa aku harus membuatmu senang?"

"Karena kau menyukaiku." Sasuke mengaduk pelan jusnya menggunakan sedotan kemudian memasukkan ujungnya ke dalam mulut. "Mmm... pas. Sangat pas di lidahku." Sasuke menjilat bibirnya dengan gerakan sensual. "Aku bisa merasakan jus ini memang dibuat hanya untukku… oleh pegawai muda dan berbakat, Haruno Sakura."

Cukup! Sasuke keterlaluan! Wajah Sakura sudah sangat merah. Jika lelaki itu tetap menggodanya lebih dari ini, mungkin Sakura benar-benar akan melarikan dari tempatnya. Menghilang seperti pecundang.

Tidak hanya Sakura, Hinata juga merasakan dampaknya. Apalagi ketika melihat adegan Sasuke menjilat bibir. Gadis itu tertunduk malu, membuat rambutnya berjatuhan hingga terlihat seperti Sadako—salah satu hantu di Jepang, mirip kuntilanak.

Naruto menendang kaki Sasuke di bawah meja. Tidak puas hanya satu kali, Naruto kembali menendangnya dengan lebih keras, membuat Sasuke meringis kesakitan. "Aku tidak melarang kau menggoda Sakura. Tapi setidaknya perhatikan tempatmu, Bro."

Sasuke menghadiahi Naruto tatapan tajam. Meski kesal, pada akhirnya Sasuke diam juga dan memilih menikmati jus tomatnya.

Sakura segera menyingkir dari situ dengan alasan dia harus melayani pelanggan lain—meski pada kenyataannya dia hanya ingin melarikan diri dan bersembunyi sejauh mungkin dari Sasuke. Instingnya mengatakan lelaki itu berbahaya dan sewaktu-waktu bisa saja menyerangnya. Sakura bisa merasakan lelaki itu memiliki sisi yang lebih liar lagi. Hanya saja, untuk beberapa alasan, lelaki itu belum berniat memperlihatkannya pada Sakura.

Jika Sakura adalah tikus, maka Sasuke adalah kucing. Jika Sakura adalah tikus, maka Sasuke adalah ular. Jika Sakura adalah tikus, maka Sasuke adalah elang. Jika Sakura adalah tikus, maka Sasuke adalah buaya. Jika Sakura adalah tikus, maka Sasuke adalah singa. Bagaimana pun juga, Sakura tetaplah tikus, sementara Sasuke justru meliputi seluruh pemangsa.

.

.

.

To be continue…


Huff... akhirnya selesai juga. Saya hanya bisa berharap semoga kagak ada kesalahan di chapter ini. Soalnya, setelah menyelesaikan bagian ini saya gak periksa lagi. Hehehe... semoga aja kagak ada typo. Dan, seperti biasa... harap minta reviewnya ya? Makasih. Nantikan chapter 3 yoooo...

Salam persahabatan,

Zero