Chapter 2

Her New Classroom

"Lalu? kenapa kau ada di sini?"

"Mulai hari ini aku pindah sekolah ke sini…" kata gadis itu sambil terus mengunyah onigiri yang baru ia ambil dari tas ungunya. Tas ungunya yang menggembung duduk manis di sampingnya, di atas sofa hitam ruang komite kedisiplinan.

"Kupikir haha-ue (panggilan hormat untuk ibu) tidak akan mengijinkanmu pindah kemari…" Hibari Kyouya berkata tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Matanya bolak-balik menelusuri kertas-kertas yang ia susun di atas meja.

"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Kyouya…"

Hibari Kyouya menghentikan pekerjaannya. Ia menoleh ke arah gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Si gadis hanya meliriknya sekilas, lalu kembali mengacuhkan kakaknya yang masih mengirimkan death-glare yang bakal membuat orang biasa lari terbirit-birit. Tampaknya si gadis sudah kebal terhadap death-glare Hibari Kyouya.

"Hibari Yuuya…" suaranya lirih, namun dipenuhi dengan ancaman.

"Hn?" si gadis yang merespon singkat, masih tidak begitu mempedulikan kakaknya itu.

"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan cara seperti itu"

"Hn…" dia masih tetap menikmati onigirinya. Hibari Kyouya menghela nafas. kalau dia bukan adik perempuannya, dia pasti sudah menggigitnya sampai mati. Dia meninggalkan kertas-kertasnya dan berjalan ke arah laci. Dengan sedikit tarikan halus, laci itu terbuka, menampakkan satu set seragam wanita Namimori-chuu yang terlipat rapi di dalamnya. Kyouya mengambilnya dam melemparkannya ke arah Yuuya yang dengan sigap menangkapnya.

"Gantilah bajumu dengan seragam itu, dan masuklah ke kelasmu!"

"Tapi aku masih belum tahu dimana kelasku…" dia berkata dengan nada yang agak memelas. Mengharapkan bantuan dari kakaknya.

"Tanya saja ke ruang guru!" Hibari Kyouya berbalik. Ia bermaksud mengacuhkan saja adiknya yang menyebalkan itu. Yuuya menghela nafas. Dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan malas, mencari toilet terdekat dan mengganti pakaiannya di sana. Pakaian kedodoran ala rapper yang ia pakai tadi ia lipat dengan rapi dan ia bawa kembali ke ruang komite kedisiplinan, dimana ia meninggalkan tasnya yang cukup berat. Ia mendapati ruangan itu kosong. Kyouya tidak ada di sana. Ada sedikit kekecewaan dalam hatinya. Ia berharap kakaknya itu lebih memperhatikannya. Tapi ia segera menghilangkan pikiran itu dari kepalanya . Pakaian yang ia bawa kemudian dijejalkan begitu saja di dalam tas ungu yang sudah menggembung itu.

Yuuya berjalan dengan malas keluar dari ruangan itu, meninggalkan tasnya, menyusuri koridor dan mencari ruang guru yang tak lama kemudian ia temukan.

"Permisi…" ia melongkokkan kepalanya ke dalam ruangan, kemudian masuk ke dalam setelah mendapat jawaban dari beberapa orang guru yang ada di dalam. Ia menuju meja terdekat dimana seorang guru dengan ukuran badan yang cukup kecil, hanya seukuran bayi, duduk di sana. Di atas meja itu ada papan nama bertuliskan 'Reboyama'.

"Ano… Reboyama-sensei. Saya Hibari Yuuya, murid yang baru pindah ke Namimori-chuu hari ini. Saya ingin menanyakan…"

"Hibari Yuuya…" Reboyama, yang tak lain adalah Reborn sang arcobaleno, memutus perkataanya. "Menarik… jadi kau adik Hibari Kyouya ya? Kelas barumu di kelas 2-A. Segeralah ke sana."

Yuuya mengerjapkan mata. "Kyouya pasti sangat terkenal di sini" pikirnya. "Baiklah, terimakasih Reboyama-sensei" dia membungkuk pada Reborn yang diam-diam tersenyum mencurigakan, memberi salam, dan segera keluar. Kebetulan tadi ia sudah melewati kelas itu, waktu Tsuna mengantarkannya ke ruang komite kedisiplinan tadi pagi. Itu kelas Tsuna.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke kelas Tsuna, yang juga menjadi kelasnya. Ia mengetuk pintu perlahan, tetapi cukup untuk didengar oleh sang guru. Pria itu menoleh dan bertanya, "Siapa?"

"Saya murid baru, Hibari Yuuya, maaf terlambat…"

"Ooh… Hibari ya? Eeeh… Hibari?" si pria tua itu langsung sweat drop mendengar nama itu. Nama itu adalah nama keramat bagi seluruh penghuni Namimori. Dia mengamati sosok gadis berseragam Nami-chuu yang berdiri di ambang pintu itu. Sosoknya benar-benar mirip dengan You-Know Who Namimori, Hibari Kyouya. Rambut hitamnya pendeknya yang tergerai, mata biru-kelabunya yang sipit dan tajam, serta kulitnya yang pucat. Mirip sekali dengan Hibari Kyouya, hanya saja dia perempuan dan bersikap lebih lembut dari ketua komite kedisiplinan itu.

"Boleh saya masuk?" tanya Yuuya. Ia tersenyum lembut. Namun di mata seluruh hadirin yang ada di sana, senyumnya lebih tampak seperti senyum sadis Hibari Kyouya dibanding senyum seorang gadis yang lembut. Mereka bergidik. Mereka bahkan sampai tidak menyadari bahwa gadis yang berdiri di depan mereka tidak membawa tas atau peralatan apapun untuk sekolah.

"Oo…oh… tentu saja. Sss..ssilakan Hibari-sama…E…eh…Hibari…san. Perkenalkan dulu dirimu dan…dan duduklah sesukamu" Yuuya mengangkat alisnya. ia tidak tahu kakaknya adalah orang yang sangat berpengaruh di Namimori. Tanpa pikir panjang ia segera berjalan ke depan kelas dan memperkenalkan dirinya. Ketika sekali lagi ia menyebut nama Hibari, seluruh isi kelas langsung sweat-drop. Ia pun tidak memperpanjang perkenalannya dan segera duduk di satu-satunya kursi kosong di kelas itu, tepat di belakang Tsuna. Yuuya menyunggingkan cengiran ketika melewati Tsuna, bermaksud menyapa satu-satunya orang yang ia kenal di kelas itu. Tsuna hanya tersenyum grogi, takut lebih tepatnya. Setelah melihat adegan action antara para pengguna tonfa, apalagi salah satunya adalah sang ketua komite kedisiplinan, bagaimana seorang dame-Tsuna tidak merasa takut?

-xXx-

Bel istirahat berbunyi. Manusia yang mengisi kelas tersebut mulai berhamburan keluar menuju tempat favoritnya masing-masing.

"Nee, Tsuna-kun" Yuuya menarik punggung baju Tsuna dari belakang. Ia membuat lengan kirinya di atas meja menjadi sandaran kepala. Mau tak mau Tsuna menoleh, masih sambil tersenyum takut.

"I…iya… ada apa Hibari-san?"

Yuuya terdiam. Alisnya mengerut. Bibirnya mengerucut. Ia tidak suka dengan bagaimana Tsuna memanggilnya, maupun dengan rasa takut Tsuna padanya. "Kenapa kau begitu?"

"Eh?"

"Kenapa kau tampak takut begitu?" Matanya yang tajam mengamati Tsuna dengan penuh selidik. Tsuna yang merasa bersalah jadi salah tingkah. Walau mirip, tapi ia merasa Yuuya memiliki temperamen yang berbeda dengan 'Hibari-san' yang selama ini ia takuti.

"Eeehhmm itu… anu…"

"Hei kau! Jangan mengganggu Juudaime!" tiba-tiba seorang anak laki-laki berambut perak berteriak dan berjalan mendekat. Sepuntung rokok menyembul di mulutnya.

"Go…Gokudera-kun!"

Yuuya mengerutkan alisnya. Ia paling tidak suka pada orang macam Gokudera ini. Berisik.

"Te…tenanglah Gokudera-kun. Hi…Hibari-san itu orang yang baik kok." Tsuna menahan Gokudera dengan kedua tangannya, dibantu dengan Yamamoto yang muncul dari belakang Gokudera. "Maaf ya, Hi…Hibari-san…" kata Tsuna terbata-bata.

"Yuuya saja tak apa kok." Ia menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke belakang, bertumpu pada sandaran kursinya. "Sepertinya nama Hibari mengingatkanmu pada hantu saja."

"Dia memang seperti hantu… tidak… iblis lebih tepatnya" batin Tsuna. "Ehm…Hi…Yuuya-chan, perkenalkan, ini Gokudera Hayato dan Yamamoto Takeshi" kata Tsuna. Tangannya menunjuk ke masing-masing orang yang dia sebutkan. Gokudera masih memandangnya dengan tatapan sebal, sementara Yamamoto hanya tertawa-tawa riang.

"Nee… Tsuna, kau mengenal Kyouya kan?" Yuuya bertanya dengan nada riang, namun senyumnya masih tampak seperti senyum sadis di mata Tsuna.

"Aah... kenal sih... umm... iya, aku mengenalnya, tapi kami tidak begitu akrab..." Tsuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit merinding, berusaha merangkai kata seindah mungkin supaya enak didengar oleh duplikat Hibari Kyouya yanga ada di depannya. Tiba-tiba, ada sekelebat bayangan hitam yang menendang kepa Tsuna. Tsuna berteriak mengaduh. Bayangan itu mendarat di atas meja Yuuya. Yuuya mengangkat alisnya. "Bayi?" pikirnya ketika melihat bayi berjas dengan topi fedora di kepalanya.

"Reborn!" teriak Tsuna

"Ciaossu!" sapa bayi itu. Ia mengeluarkan senyum misteriusnya. "Hibari Yuuya…"

"Hn?" Yuuya yang takjub melihat bayi itu pun memperhatikan dengan seksama.

"Apa yang ingin kau ketahui dari Hibari Kyouya?" lanjut Reborn. Tsuna yang mendengar percakapan itu mulai memperoleh firasat buruk. Ia mundur beberapa langkah ke arah Gokudera dan Yamamoto.

Yuuya langsung berdiri. Dengan penuh semangat ia bertanya,"Siapa rival Hibari Kyouya? Apakah ada orang yang pernah berhasil mengalahkannya?" Reborn tersenyum mencurigakan. Ia melirik ke arah Tsuna. Tsuna sudah ber-sweatdrop-ria. Ia berharap Reborn tidak menyebutkan namanya. Ia memasang tatapan was-was sambil memelas ke arah reborn. Sang arcobaleno hanya tersenyum. Yuuya masih memandangnya lekat-lekat.

"Rokudou Mukuro…" jawab Reborn singkat.


To be Continued…