Pure
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan
Cast : DBSK, dll
Genre : Drama, School Life, Romance, Friendship, Family, YAOI
Rate : T
Alur suka – suka dan membosankan
.
.
.
.
.
~ Chapter 1 : Perkenalan ~
.
.
.
.
.
Aku adalah Jaejoong, yang tengah menatap dengan takut namja yang ada di depanku. Kami duduk disatu ruangan hotel bernuansa romantis karena tadi siang kami baru saja melangsungkan acara pernikahan.
Ya, aku telah menikah dengan dirinya dan menjadikan namaku menjadi Jung Jaejoong yang sebelumnya adalah Kim Jaejoong. Namja di depanku ini bernama Jung Yunho, itu yang aku tahu tadi siang. Eh? Aku memang baru tahu namanya menjelang pernikahan kami.
Bagaimana menceritakannya? Aku pun tidak mengerti karena semua ini terjadi begitu cepat hingga aku pun bingung harus memulainya darimana.
Lima bulan yang lalu appaku meninggal menyusul eommaku yang telah meningga terlebih dahulu sepuluh yang lalu. Aku benar – benar sedih karena hanya appa yang aku miliki, hanya dia yang baik padaku. Sedangkan mama dan adik tiri yang usianya tidak jauh denganku sedikit menjengkelkan untukku.
Dan setelah appa meninggal kehidupanku berubah. Eomma tiriku yang dulu masih bisa menahan bencinya terhadapku mulai menyuruhku macam – macam, mulai membersihkan rumah, memasak, mencuci dan aku kadang harus bolos sekolah karena kadang mereka menyuruhku dengan kejam hingga aku sakit dan hanya bisa terbaring lemas dirumah.
Aku melakukan semua itu karena aku pikir itu merupakan tugasku sebagai anaknya, jujur saja bagaimanapun perlakuan mereka aku tetap menyayangi mereka karena mereka keluargaku. Eomma tetap membiayaiku sekolah namun aku juga pergi untuk bekerja paruh waktu pada toko bunga yang tidak jauh dari rumah dan mendapatkan beasiswa untuk sekolahku.
Dan seminggu lalu seorang namja yang sangat cantik bernama Jung Heechul datang ke rumah, dia memelukku seakan mengenalku lama. Menggumamkan kata tidak apa – apa dan semua akan baik – baik saja, jujur saja aku bingung karena aku merasa tidak mengenalnya.
Setelahnya sebuah pengumuman mengejutkan datang, dia memintaku untuk menikah dengan anaknya, tinggal dirumahnya dan mereka akan mengurus semua kebutuhanku. Aku menolak karena bagaimanapun aku masih memiliki keluarga walaupun tiri tapi aku menyayangi mereka.
Dan mama...
Dia malah bertanya tidak bisakah adikku, Ahra yang menggandikanku untuk menikah dengan anaknya. Aku heran sendiri bagaimana bisa mama meminta hal itu dan diangguki antusias oleh Ahra. Apa mereka mengenal orang itu? Kenapa orang itu seakan sangat terkenal?
Heechul sshi menolaknya dengan tegas dengan alasan bahwa aku adalah anak kandung dari appa dan eommaku sehingga hanya aku yang boleh menikah dengan anaknya. Ternyata dia adalah sahabat eomma dan appaku, mereka berselisih paham dan tidak saling bertukar pesan selama belasan tahun dan Heechul sshi bilang bahwa dia baru mengetahui kematian appaku belum lama dan langsung mencariku.
Aku tetap menolak tapi keesokkannya dia membawa dua orang namja kerumah, mereka adalah suami dari Heechul sshi dan ayah dari sang suami. Kakek itu meminta padaku, lebih tepatnya memohon. Aku bingung tidak memberikan respon apapun sehingga mereka memberikan waktu satu hari bagiku untuk berpikir.
Malamnya Ahra memakiku yang tidak mengenal siapa keluarga Jung, tentu saja aku tidak mengenal mereka. Ahra yang bersekolah di sekolah elit Toho pasti tahu sedangkan aku hanya bersekolah di sekolah biasa mengandalkan beasiswa. Nyatanya keluarga Jung adalah donatur terbesar di sekolah Toho, mungkin itu sebabnya Ahra tahu siapa keluarga Jung.
Aku ingat bagaimana mama ikut bersama Ahra memarahiku, mengatakan aku tidak berguna jika aku menolak apa yang diminta Heechul sshi. Menikah? Kenapa harus? Aku bahkan tidak mengenal mereka. Mama mengancamku untuk menerima apa yang Heechul sshi katakan, kenapa? Mama tidak mengatakan alasannya tapi dia menarik rambut belakangku dan mengancamku.
Jadi, esoknya saat Heechul sshi datang ke rumah aku hanya bisa mengangguk dalam tundukkanku. Terdengar pekikan senang setelahnya dan dia memutuskan akan menjemputku tiga hari lagi untuk melakukan acara pernikahan. Tidakkah terlalu cepat? Dia menjawab tidak dan aku kembali harus pasrah dibuatnya.
Semua terasa cepat hingga akhirnya aku berdiri disamping namja tinggi suami Heechul sshi, Hangeng sshi yang memintaku memanggilnya dengan appa setelah aku dan anaknya menikah, dia memberitahu bahwa anaknya pasti senang mendapatkanku dan menyebutkan nama Yunho, saat ini aku baru tahu bahwa nama suamiku nantinya adalah Yunho. Dia membawaku ke altar, mempertemukanku dengan seorang namja tinggi, rahang tegas dengan bibir bawahnya yang tebal serta mata musangnya yang menatapku tegas.
Acara pemberkatan itu berlangsung dengan cepat dengan dia yang meninggalkan kecupan pada dahiku. Aku melirik ke arah mama yang tersenyum sangat lebar serta Ahra yang menatap tajam diriku, apa ada yang salah dariku? Kenapa dia menatapku seperti itu?
Diacara resepsi yang berlangsung sangat sederhana namun mewah itu juga aku sangat canggung padanya bahkan aku tidak mengeluarkan satu kata pun padanya. Aku gugup dan tidak tahu harus berbuat apa. Disana aku bertemu dengan adik dari Yunho, mereka adalah Changmin dan Jungkook. Changmin berusia lima belas tahun dan Jungkook masih berusia sembilan tahun. Lalu berapa usia Yunho? Aku pun belum tahu karena terlihat dari wajahnya dia masih sama sepertiku, duduk dibangku sekolah.
.
- KIM JAEJOONG POV END -
.
Yunho berdehem menghilangkan kesunyian yang ada di dalam ruangan hotel yang mereka tempati. Entah apa yang eommanya lakukan dia bisa dengan mudahnya menyetujui semua hal ini. Gila? Mungkin!
Eommanya bercerita bahwa terakhir kali dia bertemu dengan Jaejoong adalah empat belas tahun yang lalu saat usia Jaejoong tiga tahun dan dia langsung jatuh cinta pada namja cantik itu, hanya saja karena perselisihan dengan sang sahabat akhirnya mereka tidak saling bertemu dan sang eomma menangis dalam pelukannya dua minggu lalu menceritakan kisah pilu keluarga sang sahabat.
Hingga seminggu yang lalu dia memaksa Yunho untuk menikah anak dari sahabatnya yang Yunho sama sekali tidak tahu. Yunho benar – benar tidak berkutik saat eommanya mengancam bahwa dia akan menikahkan Jaejoong dengan Changmin atau Jungkook saja atau dia akan bunuh diri jika semua anaknya menolak. Dan Yunho tidak mau eommanya semakin gila dengan pemikirannya hingga akhirnya menyetujui pernikahan ini.
Yunho menatap namja yang ada di depannya, dia ragu apakah benar yang duduk didepannya adalah seorang namja? Tentu saja ragu, bagaimana bisa seorang namja memiliki kulit putih bersih, mata bulat, bibir penuh berwarna merah walaupun tanpa polesan dan kulitnya sangat lembut.
Intinya adalah sekarang Yunho bertanggung jawab pada Jaejoong, dia adalah suami dari Jaejoong. Apa appanya tidak tahu Yunho sudah cukup pusing dengan kerja part timenya dikantor sang appa dan sekarang harus menambah tanggung jawab juga? Belum lagi dia juga harus mengurus sekolahnya, hey dia baru sembilan belas tahun dan ada di tingkat akhir yang seharusnya fokus pada belajarnya. ck... Merepotkan...
" Tidurlah" Ucap Yunho
" Ta-tapi..."
" Aku tahu ini berat untukmu tapi untukku pun begitu. Lebih baik ganti pakaianmu dan tidur hari sudah semakin larut"
" Ne"
Jaejoong mengangguk pasrah dan dia beranjak dari ruangan itu menuju kamar mandi, Yunho memperhatikan punggung Jaejoong hingga namja itu masuk kedalam kamar mandi.
" Keluarga tirinya pasti melakukan banyak hal setelah ini" Gumam Yunho
Dia tahu bagaimana kehidupan jaejoong setelah appanya meningga, sang eomma sudah menceritakannya dan dia baru tahu bahwa adik Jaejoong bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Lalu kenapa Jaejoong tidak bersekolah disana juga? Sungguh aneh...
.
.
.
Jaejoong keluar dari kamar mandi sudah memakai piyama berwarna merah jambu, warna kesukaannya. ya... Dia menyukai merah jambu, memang tidak boleh? Dia berjalan kearah sofa dan melihat Yunho terduduk dengan menunduk dan tangannya bersedekap didada.
" Tidur?"
Dengan ragu Jaejoong mendekat dan melihat lebih jelas, Yuho memang tertidur. Mungkin lelah setelah apa yang mereka lakukan seharian ini. Jaejoong menggoyang pelan bahu Yunho.
" Yunho sshi... Giliranmu, Yunho sshi"
" Ng.. Ne"
Yunho meregangkan tubuhnya dan membuka matanya, dia kemudian berjalan kearah kamar mandi. Tadi memang rasa kantuk menyergap tapi dia menahannya dan akhirnya dia tertidiru juga sembari menunggu giliran mandi.
Sedangkan Jaejoong bingung apa yang harus dilakukannya, ingin tidur tapi... Tempat tidur di hotel ini hanya ada satu walaupun berukuran king. Masa Jaejoong harus tidur dengan Yunho? Jadi Jaejoong duduk kembali disofa dan memainkan jari – jarinya. Ingin mengirim pesan pada sang sahabat hanya saja ponselnya ditahan oleh sang eomma mertua tadi pagi.
Jaejoong bersenandung lirih menghilangkan kebosanannya, sesekali matanya menatap interior yang ada dalam ruangannya. Bahkan taburan kelopak bunga mawar menghiasa tempat tidur dan lantai kamar hotel. Mungkin kalau Jaejoong dan Yunho benar sepasang kekasih pasti akan sangat indah dan mereka menikmati semua ini tapi...
Wajah Jaejoong berubah menjadi sendu, Jaejoong bahkan baru mengenal Yunho tadi dan mereka tidak bicara banyak. Bagaimana dengan nantinya? Bagaimana mereka menjalankan kehidupan pernikahan mereka? Jaejoong tidak mau melanggar janji pernikahan maka dari itu dia menolak permintaan Heechul untuk menikahi anaknya.
Jaejoong ingin janji pernikahannya suci, atas dasar cinta. Baginya pernikahan hanya sekali seumur hidupnya dengan orang yang dicintainya. Bukannya tidak menghargai appanya yang menikah dua kali hanya saja Jaejoong ingin menjaga janji pernikahannya. Bisakah?
Jaejoong tersentak saat pintu kamar mandi terbuka, dia melihat Yunho keluar menggunakan piyama navy dan dia sedang mengeringkan rambutnya. Yunho mengerutkan keningnya saat melihat Jaejoong masih duduk disofa.
" Kenapa tidak tidur?" Tanya Yunho
" Itu... Dimana aku harus tidur?" Jaejoong bertanya balik
" Tentu saja ditempat tidur"
" Lalu kau bagaimana Yunho sshi?"
" Tentu saja di tempat tidur juga"
" MWO?"
Jaejoong terpekik kaget, mungkin Jaejoong lupa jika Yunho adalah suaminya sekarang? Bukankah hal wajar jika sepasang suami istri tidur dalam satu tempat tidur?
" Tenanglah, aku akan tidur disisi sebelah kiri dan kau tidurlah disisi sebelah kanan. Aku sungguh lelah hari ini dan tidak mampu untuk tidur disofa"
" E-eh?"
" Kau sudah terlihat sangat lelah, tidurlah. Aku janji tidak akan melewati batas tengah tempat tidur"
Jaejoong menatap Yunho, mencari kebohongan namun Yunho memberikan keyakinan hingga akhirnya Jaejoong mengangguk dan berjalan kearah tempat tidur. Dia tidur pada sisi kanan tempat tidur dan memejamkan matanya setelah menyelimuti dirinya.
Yunho baru tahu Jaejoong sepolos ini, memang kenapa dia harus terkejut karena mereka tidur dalam satu tempat tidur? Mereka kan sama – sama namja? Yunho menggelengkan kepalanya kemudian dia beranjak menuju tempat tidur sebelah kiri dan merebahkan tubuhnya disana. Malam ini biarlah mereka tidur saling memunggungi...
.
.
.
.
Jaejoong membuka matanya saat merasakan kehangatan, dia menajamkan matanya, ingin bergerak namun sulit karena gerakannya terasa terbatas. Jaejoong langsung tersentak kaget saat dia melihat yang ada didepannya adalah tubuh Yunho yang masih berbalut piyama berwarna navy. Jaejoong berteriak hingga membuat Yunho membuka matanya dan menatap kaget dirinya yang ternyata memeluk Jaejoong.
" Tolong lepaskan tanganmu" Ucap Yunho
" M-mwo?"
Jaejoong menatap horor tangannya yang dengan lancang memeluk pinggang Yunho. Dia segera menarik tangannya dan duduk diatas tempat tidur dengan menepuk – nepuk kedua pipinya.
" Maaf aku tidak tahu!" Jaejoong menundukkan kepalanya
" Aku pun sama, aku juga tidak tahu"
" A-aku akan mandi dulu Yunho sshi" Ucap Jaejoong kemudian beranjak namun langkahnya terhenti saat Jaejoong akan membuka pintu kamar mandi
" Panggil aku Yunho tanpa embel – embel sshi"
" Huh?" Jaejoong menoleh
" Bagaimanapun kita sudah menikah dan aku ingin menghilangkan kecanggungan diantara kita"
Perlu sepuluh detik untuk Jaejoong mencerna kata – kata Yunho namun setelahnya dia menarik kedua sudut bibirnya dan mengangguk, ini langkah awal yang bagus bukan? Jaejoong langsung masuk kedalam kamar mandi setelahnya.
Dan Yunho terpaku pada senyuman yang diperlihatkan oleh Jaejoong, bagaimana bisa seorang namja tersenyum seperti itu? Senyumannya sangat indah hingga membuat hati Yunho menghangat.
" Aku pikir ini bukanlah ide yang buruk"
Sementara itu Jaejoong yang ada didalam kamar mandi sedang menenangkan degup jantungnya, dia sungguh malu karena bangun tidur dengan memeluk Yunho dan Yunho bersikap baik padanya pagi ini, mengizinkannya untuk memanggilnya dengan tidak formal.
" Aku rasa Yunho bukanlah orang yang jahat"
.
.
.
Jaejoong memutuskan untuk menunggu Yunho mandi sebelum mereka menikmati sarapan di restoran hotel ini bersama keluarga mereka. Yunho sendiri tadi sudah bertanya apakah Jaejoong ingin pergi terlebih dahulu atau tidak dan Jaejoong menjawab ingin pergi bersama dengan Yunho.
Jadilah Jaejoong yang sudah rapi itu duduk disofa menunggu Yunho mandi yang ternyata menghabiskan waktu hingga setengah jam. Setelahnya mereka berjalan menuju restoran yang ada dilantai lima hotel itu.
" Itu mereka" Ucap Yunho
Jaejoong menoleh dan mencari keberadaan keluarga Yunho dan Jaejoong menemukan Mrs. Jung yang tengah melambaikan tangannya, disebelahnya duduk Ahra dan mamanya. Yunho dan Jaejoong menghampiri mereka dan memberikan salam.
" Bagaimana malam kalian?" Tanya Mrs. Jung
" Aigo... Eomma ada Kookie disini" Ucap Changmin
" Hehehehe, eomma ingin tahu saja"
Jaejoong menunduk, tentu saja malu. Bagaimana jika keluarga Yunho tahu bahwa tadi dia memeluk Yunho dengan erat? Ugh... Sungguh malu.
" Kami tidak melakukan apapun"
Jaejoong mendongak saat Yunho mengucapkan kata itu, bukan kata – katanya yang membuat Jaejoong kaget tapi nada suara Yunho. Suara Yunho terdengar begitu datar dan dingin? Jaejoong melirik Yunho, oh... Bahkan wajahnya terlihat datar. Bagaimana ini? Jaejoong jadi khawatir bahwa dirinya melakukan kesalahan?
" Duduk dan mari sarapan bersama"Ajak Mrs. Jung
Jaejoong dan Yunho duduk bersebrangan dengan kedua orangtua Yunho juga haraboji Yunho dan mama Jaejoong. Sedangkan pada Jaejoong duduk disamping Yunho dan disebelahnya ada Ahra, Changmin dan Jungkook.
" Kenapa Jae?" Tanya mama Jaejoong atau kita sebut dia Mrs. Go
" Tidak apa – apa mama" Jawab Jaejoong pelan
" Apa Yunho menyakitimu?" Kali ini Mrs. Jung yang bertanya, mendatangkan tatapan mematikan dari Yunho
" Tidak ng..."
" Panggil eomma saja Joongie ah"
Jaejoong terperangah saat melihat senyum dari seorang Kim Heechul, sungguh menawan dan anggun. Berbeda dengan senyum eommanya yang terkesan lembut.
" Tidak eomma, Yunho memperlakukanku dengan baik tadi malam" Jawab Jaejoong
" Baguslah"
" Sudah kita mulai saja makannya,kalian pasti lapar" Ucap sang haraboji
Pagi itu mereka makan dengan tenang kecuali Changmin dan Jungkook yang sesekali bercanda hingga mengundang tawa bagi Jaejoong. Dan tentu saja Ahra yang sesekali melirik kearah Yunho yang sedang tenang memakan sarapannya.
" Kalian sudah tahu bukan bahwa Jaejoong akan tinggal bersama kami mulai hari ini?" Mr. Jung membuka suaranya setelah makan pagi selesai, pertanyaan itu ditujukan untuk Mrs. Go
" Ya, kami tahu dan itu sungguh berat untuk kami. Kami sangat merasa kehilangan Jaejoong karena dia adalah anak yang penurut" Jawab Mrs. Go
Bisa diyakini dia akan pusing jika Jaejoong tidak ada, siapa yang akan mencuci, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah jika Jaejoong tidak ada?
" Maaf kami harus mengambil Jaejoong, sekarang dia adalah bagian dari keluarga Jung sehingga dia harus tinggal bersama kami"
" Ya, mau bagaimana lagi" Mrs. Go menatap Jaejoong " Baik – baiklah disana, jangan menyusahkan keluarga Jung"
" Ne mama, aku mengerti" Jawab Jaejoong
Mrs. Jung melirik Mrs. Go seakan dia tahu apa yang ada didalam hati mama dari Jaejoong itu. Tapi dia tidak boleh menunjukkannya, harus pelan – pelan...
" Jika kalian merindukan Jaejoong, datang saja kerumah kami atau kalian bisa menginap" Ucap Mr. Jung
" Ne, kami akan melakukannya sesekali" Jawab Mrs. Go
Yunho sebenarnya sudah bosan dengan semua basa – basi ini, dia pun menoleh kearah Jaejoong yang sedang memegang gelas air putihnya dan memainkannya. Sepertinya Jaejoong juga bosan...
" Kami harus berberes dikamar, bisa kami pergi?" Tanya Yunho
" Pergilah, haraboji tahu ini membosankan untukmu kalau bisa ajak Minnie dan Jungkookie juga" Ucap Jung haraboji
" Ne, kajja"
" Yaaayyyy!" Changmin dan Jungkook berteriak senang kemudian berdiri
Yunho berdiri dari tempatnya dan beranjak dari sana, meninggalkan Jaejoong dan Ahra. Jaejoong sendiri bingung dan dalam hati bertanya apakah tadi Yunho mengajaknya atau tidak? Jaejoong juga takut bertanya karena sepertinya Yunho masih bersikap dingin.
" Hey Jaejoong ah..." Yunho memanggil Jaejoong saat mereka sudah berada agak jauh dari Jaejoong
" Eh? N-ne?" Jaejoong memandang Yunho dengan gugup
" Kenapa melamun, ayo pergi ke kamar"
" Ba-baik!"
Jaejoong dengan cepat berlari kearah Yunho setelah memberikan salam pada semua keluarganya disana, Ahra terdiam sampai akhirnya dia membuka suaranya.
" B-boleh aku ikut mereka?" Tanya Ahra
" Oh, silahkan" Ucap Jung haraboji
" Jaejoong ah tunggu!"
.
.
Jaejoong dan Ahra berjalan jauh dibelakang Yunho, Changmin dan Jungkook. Jaejoong berjalan dengan menundukkan kepalanya, bingung dengan keadaannya.
" Aku yakin kau sangat senang bisa menikah dengannya Jae"
Jaejoong menoleh, dia melihat Ahra tengah tersenyum padanya, senyum sinis dan Jaejoong hanya tersenyum membalas perkataan Ahra.
" Tapi kesenanganmu itu tidak akan berlangsung lama, lihat saja... Yunho oppa akan jatuh ketanganku"
jaejoong mengerutkan keningnya, kenapa Ahra berkata seperti itu padanya? Yunho adalah pasangannya sekarang dan jatuh ketangan Ahra? Kenapa?
" Aku tidak pernah rela orang yang aku sukai menjadi milikmu, tidak akan pernah"
Ah... Jadi itu alasan Ahra? Jaejoong menggigit bibir bawahnya berusaha menekan apa yang ada didalam hatinya sampai mereka tidak sadar bahwa mereka sudah sampai didepan kamar yang tadi malam ditempati oleh Yunho dan Jaejoong. Jaejoong melihat Changmin dan Jungkook sudah mengobrol diatas sofa ruangan itu sedangkan Yunho duduk pada sofa yang bisa diduduki dua orang memperhatikan mereka.
" Kemarilah" Yunho menepuk ruang kosong yang ada disampingnya
Jaejoong mengangguk dan berjalan kearah Yunho kemudian duduk disamping namja bermata musang itu.
" Duduklah Ahra, aku harap kau tidak keberatan aku memanggilmu Ahra" Ucap Yunho masih dengan nada datar
" N-ne tidak apa – apa. Aku harap kau juga tidak keberatan jika aku memanggilmu Yunho oppa"
" Terserah saja"
Ahra duduk pada sofa single, mereka hanya memperhatikan bagaimana kedua adik Yunho bermain, sesekali Jaejoong menjawab apa yang ditanyakan oleh Changmin dan Jungkook. Jaejoong merasa senang dengan sifat kedua adik Yunho yang ceria sehingga dia tidak merasa bosan.
Saat ini Jaejoong tengah membuatkan susu untuk dirinya dan Changmin yang sedang duduk tak jauh dari bar dalam kamar hotel itu. Changmin merengek ingin Jaejoong membuatkan susu untuknya dan Jaejoong menurutinya. Mereka ada di bar dan bercanda disana.
Sedangkan Ahra kebosanan hingga tidur pada sofa yang dia duduki tadi, Jungkook juga sudah tertidur pada sofa panjang diruangan itu. Yunho sendiri tengah menatap layar ponsel canggihnya, dia bertukar pesan pada sahabatnya yang sangat bawerl. Kenyataannya, sabahat Yunho pun tidak menghadiri pernikahan dadakan yang diadakan oleh Yunho. Sang sahabat tengah mengunjungi neneknya yang sakit di pulau Jeju. Dia terus mengirimkan pesan maaf pada Yunho dan Yunho memakluminya.
Sesekali Yunho menoleh saat dia mendengar suara Jaejoong yang menurutnya lembut itu tertawa. Sungguh keadaan seperti ini membuatnya merasa nyaman. Padahal baru sehari dia mengenal Jaejoong namun namja itu bisa membuatnya nyaman seketika.
" Hey Minnie, ini sudah gelas kelimamu dan kau masih mau tambah?!" Jaejoong menatap tidak percaya pada namja kurus yang ada dihadapannya
" Ne" Changmin menganggukkan kepalanya dengan semangat
Yunho menghampiri keduanya dan menepuk pundak Changmin.
" Kau tidur saja, aku akan membangunkanmu saat makan siang. Jangan ganggu Jaejoong, dia juga pasti lelah"
" Hyuunngg~~~"
" Tidurlah dulu Min"
" Ck, araseo" Changmin menatap Jaejoong dengan senyuman terpantri diwajahnya " Hyung, aku tidur dulu ne?"
" Ne"
Changmin segera berlari menuju tempat tidur dan tak lama suara hembusan perlahan terdengar dari mulut Changmin. Menandakan dia sudah terlelap.
" Mwo? Tidurnya cepat sekali?"
" Ya, Changmin memang seperti itu"
Yunho memutuskan untuk duduk ditempat Changmin duduk tadi sedangkan Jaejoong masih berdiri dan dia berdiri berhadapan dengan Yunho, dia sedang membereskan gelas dan susu bubuk yang dia gunakan tadi.
" Tidak usah dicuci, biar saja pegawai disini yang membereskan semua"
" Ah ne" Jaejoong menundukkan kepalanya, bingung apa yang harus dibicarakan pada Yunho
" Aku tahu kita masih canggung tapi aku benar – benar berharap kau bisa membiasakan diri dengan semua ini"
Suara Yunho terdengar lembut ditelinga Jaejoong, tidak seperti tadi dimana suara Yunho terkesan dingin dan datar. Jaejoong mendongakkan kepalanya, dia mengangguk dan memberikan senyuman untuk Yunho. Dia akan berusaha lebih baik lagi dikeluarga Jung.
.
.
.
Jaejoong menaiki sebuah mobil sedan saat dirinya beranjak pulang, dia berada satu mobil dengan Yunho. Mereka berdua duduk dikursi belakang karena Yunho memang belum mendapatkan lisensi mengemudi, usia Yunho masih sembilan belas tahun.
Jaejoong cukup sedih harus berpisah dengan mamanya dan Ahra, dia juga sedih harus meninggalkan rumah yang merupakan peninggalan kedua orangtuanya. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia harus membiasakan diri tinggal dirumah keluarga Jung.
Mata Jaejoong membesar saat mereka memasuki sebuah kawasan mewah, Jaejoong tidak pernah berpikir bahwa keluarga Yunho memiliki rumah atau istana yang sangat mewah. Saat turun ada beberapa maid yang langsung menghampirinya untuk membantu membawakan barang.
Dengan santainya Yunho melenggang masuk kedalam mansionnya diikuti oleh Jaejoong. Didalam, keluarga Yunho sudah menunggu. Mereka duduk diruang tengah kecuali Changmin dan Jungkook yang sudah berlari kearah kamar mereka.
" Kemarilah Joongie ah" Ucap Mrs. Jung
Jaejoong duduk disamping Yunho dan menatap Mrs. Jung, Yunho sendiri menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memainkan ponselnya.
" Kau bagian dari keluarga Jung sekarang, dan kau harus memanggilku eomma"
" Ne?"
" Bukankah kau memanggil appa Yunho dengan appa? Kau juga harus memanggilku dengan eomma. Ne?" Mrs. Jung menunjukkan puppy eyes andalannya
" A-ah ne" Jaejoong menganggukkan kepalanya
" Semoga kau bisa beradaptasi dengan semua ini Joongie ah dan Minah akan ada disampingmu, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memberitahu pada Minah. Nanti aku akan memperkenalkanmu padanya"
" Lebih baik kau istirahat saja Joongie ah, appa tahu kau kelelahan kemarin" Ucap Mr. Jung
" Ne"
" Yunho yah... Antarkan Joongie ke kamar"
Yunho berdiri kemudian membungkukkan tubuhnya pada keluarganya kemudian berjalan menuju tangga.
" Joongie ah, ikuti Yunho saja. Maaf jika anak itu sangat dingin"
" Dingin?"
Jaejoong tidak pernah berpikir bahwa Yunho adalah seseorang yang dingin, bukankah Yunho berbicara lembut dengannya? Bahkan dia melihat Yunho tersenyum!
" Semoga kau berbisa menghadapi anak kami ne?" Ucap Mrs. Jung sekali lagi
" Ne eo-eomma"
" Aigo manisnya"
" Kalau begitu aku menyusul Yunho dulu"
Jaejoong memberikan salamnya kemudian agak berlari menyusul Yunho yang sudah sampai diujung tangga. Jaejoong menolekh ke kanan dan ke kiri melihat lukisan yang terpajang pada koridor lantai dua, sungguh indah. Ada juga beberapa foto keluarga Yunho, mereka tersenyum sangat bahagia didalam foto itu.
Jaejoong ingat bahwa dirinya juga sering berfoto bersama appa dan eommanya tapi itu dulu. Sebelum eommanya meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Setelahnya Jaejoong juga masih sering mengambil foto bersama appanya sebelum sang appa diambil juga oleh Tuhan.
" Kita sampai"
Jaejoong menghentikan langkahnya, dia melihat punggung Yunho yang terlihat lebar dengan jelas dari belakang. Yunho membuka pintu yang ada didepannya dan melangkah masuk, jaejoong berharap dia bisa dengan cepat beradaptasi dengan semua ini.
" Whooa..."
Jaejoong bergumam pelan saat memasuki kamar super luas yang dia masuki, kamar bernuansa hijau laut begitu damai dilihatnya. Sebuah tempat tidur berukuran King ditutupi sprei berwarna merah dan diatasnya sebuah selimut dilipat rapi.
Jaejoong memperhatikan sekitarnya, kamar ini sudah terisi dengan barang – barang, meja belajar, lemari, semua sudah tertata rapi seperti ada yang menempatinya. Tunggu...
" Ini kamar siapa?" Tanya Jaejoong bingung
" Kamarku" Yunho membalikkan tubuhnya dan menatap lurus kearah Jaejoong
" Eh?"
" Yang sekarang menjadi kamar kita"
" N-ne?"
.
.
.
.
.
.
Jaejoong membuka matanya saat mendengar ketukan adri luar kamar, dia menggeliat dan bangkit dari tidurnya. Dia menoleh kearah kanan, Yunho masihlah tidur nyenyak disampingnya. Jaejoong menghela nafasnya, dia tidak berpikir akan ditempatkan satu kamar dengan Yunho. Dia berharap kamarnya terpisah dari Yunho tapi nyatanya dia kembali satu kamar dengan Yunho.
" Tuan Jaejoong, Tuan Yunho..." Panggil seseorang dari luar kamar
" Y-ya! Aku sudah bangun"
" Tuan dan Nyonya besar menunggu diruang makan"
" Baiklah"
Jaejoong menyingkap selimut yang dipakainya bersama dengan Yunho. Dia pergi ke dalam kamar mandi yang ada didalam kamar untuk membersihkan dirinya. Kemarin malam saat masuk kedalam kamar mandi dia bisa membayangkan kamarnya yang tidak lebih luas dari kamar mandi yang ada didalam kamar Yunho. Sungguh, apa keluarga Yunho sangat kaya?
Keluar dari kamar mandi Jaejoong menuju sebuah pintu, dan didalam pintu itu terdapat ruangan untuk pakaian mereka. Jaejoong mencari seragam sekolahnya namun dia tidak menemukannya. Dia keluar dan melihat dua buah seragam digantung disebelah meja rias.
" Ini milik Yunho kan?"
Jaejoong mengenali seragam itu karena Ahra memakai seragam yang serupa namun untuk wanita. Kemeja berwarna putih dilapisi almamater berwarna navy dengan lambang dan nama sekolahnya disebelah kanan, Toho School.
" Lalu dimana seragamku?"
Jaejoong bergerak ke sana dan kemari demi mencari seragamnya, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan dia tidak mau terlambat. Jaejoong berpikir bahwa dia harus mulai menyesuaikan waktu berangkatnya ke sekolah agar tidak terlambat, dia benarkan?
Namun Jaejoong tidak tahu, karena dia agak sedikit berisik membuat sesosok namja yang bergelung nyaman di atas tempat tidur mengusap matanya dan bangkit dari tidurnya. Dia menatap bingung Jaejoong yang masih memakai bathrope sebelum membuka mulutnya.
" Mencari apa?"
" Omo!"
Jaejoong terpekik kaget, dia masih belum terbiasa tidur bersama dengan orang lain. Dia menoleh dan hampir saja tertawa melihat betapa berantakannya Yunho kalau saja dia tidak ingat harus mencari seragamnya.
" Maaf, aku mencari seragamku" Ucap Jaejoong
" Bukankah itu seragammu?" Yunho menunjuk kesatu arah dan Jaejoong mengikuti arah itu, Yunho menunjuk kesamping meja rias dimana seragam sekolah Toho terpampang
" Itu kan seragammu"
" Satu lagikan milikmu"
" Eh?"
" Eomma tidak bilang kalau kau sekolah di Toho mulai hari ini?"
Tuhan...
Apa lagi ini...
.
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Annyeong, sebagai pengganti Otaku yang tamat Cho mulai update Pure buat kalian, semoga gak terlalu mengecewakan ya?
.
Special Thanks :
.
akiramia44, jejewaeyo, leemomo. Chan520, D2121, Bestin84, RereYunjae Pegaxue, nabratz, GaemGyu92, dwi. Yuliani. 562, himeryo99, Shieru Hana, fans jj, Princess Jae, dheaniyuu, misschokyulate2, herojaejae, birin. Rin, mha. Feibudey
.
Para Guest, yang udah follow, fav dan para SiDer
.
Makasih ya udah baca ff Cho, maaf juga karena Cho lambat update, lagi stuck juga + sibuk kkkkk
.
.
Oh ya, ada beberapa orang atau name pen yang meminta Cho buat publish ff Cho di Watpad Hmm... Cho pikirin dulu ya ^^
.
Ya udah, see u next chap?
Chuu~~~
.
.
.
Rabu, 25 Mei 2016
