Story by Bhatara Yura.
Naruto by Masashi Kishimoto.
Rate: T-M
Genre: Romeance/Drama/Maybe Humor.
MainPair: /U/Naruto.
Warning! OOC, Typo, AU, Kata-kata lumayan frontal dan kasar, posisi SasuSaku terbalik, dll.
"Saya hanya Author baru yang gampang lupa. Jadi mohon bantuannya."
Hello Celeb!
.
.
DLDR!
.
.
Well, siapa sangka.. bahwa hari ini rumah Uchiha yang biasanya tenang –bahkan kelewat tenang itu- pagi ini berisik dikarenakan teriakan-teriakan si bungsu Uchiha, yang BIASANYA sangat dingin dan arogan. Lihatlah, tangannya di tahan oleh dua orang berbaju hitam dan berbadan kekar.
"Apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan aku Brengsek!" teriak Sasuke ke kedua orang berbaju hitam itu. Kini dia berada di dalam kamarnya. Sedang enak-enaknya tidur, eeh.. tiba-tiba tangannya di angkat lalu di talikan kebelakang. Siapa yang tidak marah coba? Benar-benar tidak sopan.
BRUK
Terdengar debaman keras dari balik pintu, dan dalam sekejap pintu kamar Sasuke terbuka, dan terpampanglah Itachi si Sasuke dengan wajah datar melihat si adik yang kini merasa terganggu dengan talian di tangannya itu. Dia hanya menatap diam Sasuke yang sedang berusaha melepaskan diri dari dua laki-laki berbadan kekar itu.
"Aniki! Apa yang kau lakukan hah? Cepat bantu aku melepaskan mereka." Teriak Sasuke ke Itachi. Benar-benar, bungsu ini tidak ada sopan santunnya kepada sang kakak melainkan hanya ke sang Ayah saja dia bersopan santun. Itupun hanya setengah-setengah.
Itachi diam beberapa detik, sebelum tersenyum tipis -layaknya seorang iblis.
"Gomen ne Sasuke.." ucap Itachi datar, membuat Sasuke terdiam dan matanya menatap Itachi.
"Kali ini aku tidak bisa melepaskanmu." Lanjut-nya datar. Sasuke yang bingung hanya mengernyitkan alis. "Tunggu, apa maksudmu dengan 'tidak bisa melepasku' hah?" Tanya Sasuke.
Lagi-lagi Itachi hanya tersenyum.
"Bawa dia." Ucap Itachi tegas. Dengan sigap kedua orang berbadan kekar itu segera membawa –baca: menyeret- Sasuke ke lantai satu. "He-Hei! Tunggu, apa-apaan ini?! Cepat lepaskan aku brengsek!" Sasuke terus berteriak dan mengumpat kasar tanpa peduli ini di Rumah atau di Bar.
'Sial! Sial! Sial!' batin Sasuke benar-benar kesal dengan tingkah laku kedua pesuruh Itachi ini.
Kini Sasuke di berdirikan tepat di bawah Lampu ruang keluarga Mansion Uchiha itu. Dengan mata tajam, dia menatap 2 laki-laki yang ada di depannya. "Apa maksudnya ini?" tanyanya dingin. Terutama pada Itachi. Karena dia tau, Ayahnya tidak akan tega berbuat seperti ini kecuali kakaknya.
Itachi mendesah pelan, sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofanya itu. Fugaku, sudah menyerahkan urusan ini sepenuhnya ke Itachi sehingga, masalah ini Itachi lah yang mengendalikan-nya.
"Well, Sasuke.. begini. Kau sudah terlalu lama berfoya-foya dengan uang kami. Bahkan kau tidak berkerja sedikitpun. Kerjamu, hanya meminta, lalu menggunakannya tanpa pikir. Jadi saatnya kau harus mengerti bagaimana susahnya mencari uang."
Ucap Itachi tenang. Fugaku hanya diam menatap datar kedua anak laki-laki nya itu.
"Jadi? Intinya?" tandas Sasuke cepat, sambil mengerakan pergelangannya yang tidak nyaman –namun selalu ditahan oleh kedua pria berbadan kekar yang ada di belakangnya itu.
"Kali ini kami akan memberikan pelajaran kepadamu. Bagaimana susahnya mencari uang itu. Maaf Sasuke untuk kali ini kami tidak akan tanggung-tanggung menghukummu sekaligus memberi pelajaran. Kau akan dikirim ke Afrika, ke Desa paling pelosok. Disitu kau akan menemui seseorang yang akan melatih –ah lebih tepatnya mendidik mu." Ucap Itachi.
Sasuke hanya tersenyum sinis.
"Hanya itu? Kau pikir dengan begitu bisa membuatku jera heh? Aku tinggal menelepon dan memin-"
"Seluruh koneksimu dengan kami akan diputuskan, ponsel mu kami sita, kau tidak akan menerima uang kiriman dari kami lagi, segala kartu kredit dan fasilitas keuanganmu telah dibekukan. Dan yang kau bawa hanyalah-
Itachi menunjuk koper berukuran sedang dan seonggok dompet Sasuke
-Paspor dan data diri serta pakaianmu saja."
Mata Sasuke terbalak lebar. Apa lagi ini?! pagi-pagi sudah diikat layaknya buronan kelas kakap, lalu di-seret ke bawah dan di buang?
"Kau membuangku?!" Tanya Sasuke dingin. Itachi tertawa kecil. "Bisa dibilang ya, atau bisa dibilang tidak. Terserah tanggapanmu apa. Kau akan di sana selama 6 bulan. Semoga berhasil." Ucap Itachi dengan wajah tanpa dosa.
"Bagaimana jika pelatihan mu itu tidak berhasil?" Tanya Sasuke dengan seringaian sinis. Itachi balas menyeringai, "Aku yakin dia pasti berhasil." Ucap Itachi percaya diri. "Bagaimana kalau tidak?" ucap Sasuke ngotot. "Kalau tidak berhasil, kami akan menuruti segala kemauanmu dan kau tidak perlu bekerja. Setuju?"
Sasuke menyeringai. "Setuju."
'hanya 6 bulan heh? Aku yakin, pelatihku akan menyerah bahkan belum sampai seminggu.' Ucapnya dalam hati dengan seringaiannya itu.
Dengan begini, sebuah cerita jadi mengasyikan bukan? Di karenakan sebuah kenakalan, dan taruhan dengan kakaknya, Hidupmu akan berputar 180 derajat Uchiha muda.
Kita lihat saja siapa yang menang.
Sasuke atau Pelatihnya?
.
.
Di tempat lain, Sakura menatap jengkel kertas yang ada di genggamannya itu. matanya dengan cepat bergerak-gerak mengikuti tulisan-tulisan yang terpampang di kertas tersebut. Mood-nya langsung buruk ketika melihat lapora baru yang di berikan oleh Neji.
Disaat mood-nya sedang buruk, Ino malah menyerobot masuk ke dalam tanpa permisi, "Jidat! Serius akan ada orang baru masuk ke basecamp kita? Siapa orangnya? Laki-laki atau perempuan? Kalau lak-laki keren tidak? Atau mung-"
Brak!
Dengan tiba-tiba Sakura menggebrak meja dan menatap Ino dengan pandangan tajam dan tidak suka. Ino hanya bisa menatap Sakura terkejut, "A-ada apa Sakura?" Ino sadar, kalau Sakura sedang marah itu fatal akibatnya jika dia diganggu. Dan sepertinya dia lupa dengan aturan itu.
'Bodoh! Bodoh! Bodoh!' dalam hati Ino terus merutuki kebodohannya menganggu Sakura saat ini.
"Kau.." desis Sakura. Matanya berkilat tajam. Oh, Tuhan! Jerit Ino dalam hati. Tolong selamatkan aku dari amukan Sakura hari ini kumohon! Doanya. Matanya menatap ngeri Sakura yang kini sedang marah luar biasa itu.
Sakura menyadari bahwa Ino ketakutan akan dirinya. Sakura menyesal membuat sahabtnya sampai memandang dirinya seperti itu. Ini bukan salah Ino. pikirnya mulai kalut. Perlahan mata Sakura melembut, dan menatap mata Ino dengan tatapan datar, namun Ino tau. Di balik mata datar itu, Sakura sedang menyimpan Emosinya yang siap meledak kapan saja.
"Kau tau dari siapa?" tanya Sakura langsung tanpa menatap mata Ino. Ino bergumam sebentar, "Ng.. dari Na..ru..to." ucapnya lambat-lambat. Takut membuat Sakura meledak seperti tadi lagi. Cukup mengerikan jika ketua organisasi relawan ini jika sedang mengamuk.
Sudah kuduga. Batin Sakura.
Sakura mendesah pelan, lalu membuka dokumen yang barusan di bantingnya itu. "Uchiha Sasuke." Mata Ino membulat. Dengan cepat dia menatap Sakura dengan pandangan 'apa-aku-tidak-salah-dengar?' Sakura hanya membalas tatapan Ino dengan malas.
"Tanyakan saja ke Neji. Aku saja terkejut, jika orang itu akan masuk ke organisasi ini." Ucap Sakura dingin. "Kukira, Uchiha tidak akan pernah masuk ke organisasi semacam ini." Gumam Ino, namun cukup keras untuk didengar Sakura.
Sakura hanya mendesah pelan, tanpa membalas ucapan Ino. Sakura memijit pelipisnya pelan, sambil terus bergumam tidak jelas. Ino hanya bisa melihat iba sahabat sekaligus ketuanya itu. "Lalu keputusanmu apa? Dan aku tau kau tidak mungkin menerima orang malas ini dengan alasan yang tidak jelas." Ucap Ino. Ino tau, sekarang Sakura sedang tidak mood atau apapun. Dia hanya butuh tempat curhat mengenai kekesalannya atas Uchiha bungsu dan Neji mungkin. Jadilah hari ini dia siap mendengar keluhan dari Sakura.
Sakura tetap dia di posisinya beberapa detik sebelum menjawab, "Kau tau.. kita kekurangan dana." Ucap Sakura memulai cerita. Terdengar bunyi 'grek' saat Ino menarik kursi di depan Sakura, lalu duduk dengan tenang. Membiarkan Sakura melanjutkan ceritanya.
"Lalu?" tanya Ino. "Neji, berhasil mendapatkan dana. Dan cukup besar, lebih besar dari yang kita butuhkan malah." Lanjut Sakura, Ino hanya manggut-manggut dalam diam. "Aku tau dana tersebut kita peroleh dari keluarga Uchiha, dan aku cukup tau mereka tidak akan membantu kita tanpa menerima imbalan." Lanjut Sakura lagi. Ino hanya menatap Sakura yang kini berubah posisi duduknya, menjadi menyender di kursinya.
"Aku kira, mungkin imbalannya salah satu dari kita akan di ambil, untuk di pekerjakan di perusahaan mereka, atau setidaknya kita akan memberikan informasi mengenai, lahan-lahan yang sangat strategis untuk investasi perusahaan mereka." Ucap Sakura, Ino hanya bisa menggeleng pelan sambil ber-ckck.
"Kau bodoh apa? Usaha mereka itu berupa Peternakan Rusa. Tidak mungkin mereka mau membuka peternakan rusa di gurun seperti ini. Lagi pula salah satu dari kita akan di ambil? memang, di Jepang mereka kekurangan orang yang jenius apa? hingga jauh-jauh mengambil kita yang ada di ujung benua ini?!" Ucap Ino spontan. Sakura menatap tajam Ino, "Jangan lupakan bahwa mereka juga punya rumah sakit di daerah Tokyo lalu Universitas mereka itu! Tentu Sangat Mungkin jika mereka mau menginvestasikan dana mereka di daerah gurun seperti ini untuk membuka Rumah sakit atau Universitas." Ucap Sakura tajam. Tapi untuk mengambil salah satu dari mereka, Sakura tidak mengelak.
Sepertinya Ino memang benar. Untuk kali ini. Batin Sakura tidak mau mengalah.
Ino hanya menatap datar Sakura, oke sekarang posisi mereka bukan lagi Anggota dan pimpinan. Melainkan Sahabat. "Dan, tidak mungkin mereka akan membuka Universitas di sini, di daerah gurun seperti ini. Kau gila?! Bisa rugi mereka karena tidak ada mahasiswa yang akan mau kuliah disini bodoh! Ini daerah pelosok, bukan kota besar!" ucap Ino sedikit meremehkan otak Sakura, mungkin semacam balas dendam karena Sakura selalu mengejek dirinya dan otaknya itu.
Sakura sedikit tersentak, ah betapa bodohnya dia sampai tidak menyadari pikiran yang disampaikan Ino. Sakura bungkam. Ino yang melihat temannya bungkam, hanya bisa menghela napas besar. lalu menyeringai tipis.
"Jadi, intinya? Kau tidak tau syaratnya? Bukankah Neji biasanya akan memberi taukan dulu sebelum membuat perjanjian seperti ini?" jelas Ino dengan nada malas. Okelah, dia sudah tidak penasaran lagi dengan masalah seperti ini. Baginya, yang menarik adalah Uchiha akan datang! sayangnya, demi sahabatnya yang baginya cukup bodoh untuk menyadari alasan yang sangat sepele itu, Ino akan bersedia menemani Sakura hari ini.
"Yah.." ucap Sakura mendesah pelan, "Neji tidak memberitahukan apa-apa, lagi pula waktu itu aku terlalu senang, sehingga tidak menyadari bahwa mereka menolong kita dengan pamrih." Ucap Sakura lesu. Ino meringis pelan.
"Well, setidaknya itu bisa menjadi hiburanmu Sakura." ucap Ino setengah bercanda. Sakura mendelik tak suka, dengan kata-kata Ino. "Kau gila?! Hiburan?!" Ucap Sakura setengah memekik.
Ah, yah.. mungkin hiburan untuk melampiaskan emosinya. Ino tidak tau sebenarnya mengapa Sasuke bergabung kesini.
"Baiklah.. baiklah santai saja Sakura! Oke, aku sebenarnya sibuk. Jadi aku pergi dulu ya?" ucap Ino sambil beranjak berdiri. "Jadi kau kesini hanya untuk mendengar masalah Uchiha itu? iri sekali aku dengan orang itu." ucap Sakura mencibir, Ino hanya tertawa pelan. "Aku tau, kau akan butuh tempat untuk meceritakan masalah ini. Lagi pula, kami semua cukup terkejut, ternyata kau menerima Sasuke kesini lho~" ucap Ino sambil mengerling jahil.
Dahi Sakura berkerut tidak suka, "Ralat! Tepatnya, terpaksa menerima." Ucap Sakura cemberut. Ino hanya tertawa, "Terserah.. aku sangat menanti bagaimana reaksimu bertemu laki-laki tampan itu." ucap Ino lagi, "Oh.. semua laki-laki biasa saja di mataku." Ucap Sakura enteng mulai sibuk dengan dokumen-nya yang lain.
Ino tersenyum, cukup tipis. "Siapa yang tau? Kau akan tertarik atau tidaknya?" ucap Ino memancing. Sakura mendongak, menatap aneh Ino. "Kenapa? Toh aku juga tidak tertarik dengan laki-laki pemalas itu." ucap Sakura.
"Bagaimana kalau kita bertaruh saja?" tanya Ino. Sakura semakin heran dengan sikap Ino yang aneh ini, "Kau kena-"/"Apakah Uchiha itu bisa membuat mu jatuh cinta lagi atau tidak? Atau malah sebaliknya, atau juga yang berlawanan." Ucap Ino ambigu.
"..Hah?" Sakura terdiam. "Apa maksudmu? Berlawanan?" ucap Sakura bingung. Ino menyeringai 'dasar polos!' batin Ino. "Yah, berlawanan.. kukira kau cukup peka dengan Naruto." Ucap Ino, Sakura hanya menatap Ino. "Kau aneh." Setelah beberapa detik terdiam Sakura menjawab seluruh pernyataan Ino dengan kata-kata yang cukup menusuk untuk menutup seluruh pembicaraan aneh ini.
"Yah.. kita lihat saja nanti." setelah mengatakan itu, Ino keluar dengan meninggalkan tanda tanya besar di kepala Sakura. 'Apa maksudnya?'
.
Sasuke berangkat tepat setelah percakapannya dengan kakaknya. Tanpa pamit dengan Ayahnya dan Kakaknya, dia diseret menuju mobil yang biasa di tumpanginya bersama sopirnya –bedanya kali ini di awasi oleh 2 pengawal.
Tidak ada talian lagi di pergelangan tangannya.
Dan dalam sekejap mata. Semua kemewahan dan ke-Glamouran yang biasanya menghiasi hidupnya menghilang.
Tidak ada ponsel Canggih.
Tidak ada mobil Mewah.
Tidak ada rumah Megah.
Tidak ada pesawat Pribadi.
Yang ada kini dirinya sedang berada di pesawat penumpang, jurusan Afrika dan duduk di kelas Ekonomi.
Dan tidak ada lagi kelas EKSEKUTIF!
"Tunggu? Kita akan naik pesawat penumpang? Di kelas EKONOMI?" tanya Sasuke tajam ke kedua pengawalnya itu.
"Kami hanya menerima perintah dari Fugaku-sama dan Itachi-sama, Sasuke-sama. Jadi kami tidak bisa membantah." Ucap salah seorang pengawalnya.
"Ckk! Sial, aniki benar-benar serius rupanya." Gerutu Sasuke.
Sasuke mendesis pelan ketika dia duduk di bangkunya. 'Keras' pikir Sasuke kesal. 'Sempit pula' tambahnya lagi, dahinya berkerut, ketika kedua pengawalnya duduk di belakangnya, dan di sampingnya duduk seorang nenek-nenek yang cukup menor dandanannya. Sasuke mengernyit kesal dengan dandanan nenek di sampingnya ini.
'Menjijikan' oh tuhan.. bisakah orang ini tidak mengkritik sedikitpun tentang hal yang sepele?
Sasuke segera menoleh ke belakang, "Berikan Ipod ku." Ucapnya tanpa bisa di bantah. Salah seorang dari pengawalnya menjawab dirinya dengan tenang. "Maaf tuan, Ipod anda juga disita."
Sasuke melongo seketika. Apa-apaan? Bahkan Ipodnya.. "Kuso!" umpat Sasuke lumayan keras hingga membuat nenek-nenek tersebut menoleh. Bibirnya yang merah merekah, membuat Sasuke hampir muntah melihatnya.
Untungnya nenek-nenek tersebut hanya menoleh sebentar, lalu membuang mukanya. Dengan santai nenek-nenek tersebut mengeluarkan Ipod canggih dari tasnya, dengan senyuman tua khasnya dia menatap Sasuke dengan pandangan remeh seolah memamerkan Ipodnya yang canggih itu. Sasuke hanya bisa mendelik kesal dengan tingkah laku nenek tersebut yang baginya kekanakan itu. seolah mengetahui pikiran Sasuke, nenek-nenek tersebut malah memasang dengan perlahan earphone nya dan menyetel musiknya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya kekanan dan kekiri.
Menikmati alunan musik yang mengalir di telinganya itu.
Pada akhirnya Sasuke hanya bisa duduk terdiam, sambil memandang bosan langit biru yang disekelilingnya. Pesawat sudah Take off sejak tadi.
Untuk pertama kalinya, Sasuke melakukan perjalanan yang panjang tanpa benda-benda elektroniknya itu.
.
.
TBC
.
A/N:
Maaf, saya apdetnya telat banget. Kesibukan di dunia nyata membuat saya sering kelupaan dengan ffn sy yg baru ini. Maunya cepet-cepet apdet, maunya sih. Bahkan sampe mau ikutan savers banjir tomat ceri aja nggak bisa -_- maaf juga kalo masih banyak typo. ._. nggak bisa lepas yang satu itu!
Maaf juga kalau masih pendek di ch 2 ini, saya sengaja membuatnya pendek karena mungkin, mungkin lho ya! nanti ch selanjutnya bakal panjang-panjang banget. Apalagi konflik, SasuSakuNaru. Harus dimatangkan sekali agar ceritanya tidak menjadi ber-belit-belit dan akhirnya membuat para readers bingung, dan cerita ini menjadi membosankan. Untuk Pair, ini SasuSaku kok. Hehehe.. bocoran untuk SasuSaku Lovers! Untuk NaruSaku, maaf saya bukan pecinta pairing itu. (:
Mungkin cerita ini akan lebih dari 10 ch. Atau malah lebih dari 15 ch. Saya sendiri tidak yakin. Intinya, saya sangat berterimakasih kepada seluruh riviewers, readers, dan silent readers sekalian! Saya nggak nyangka banget kalau cerita ini akan banyak yang nge-fave atau follow. Sungguh! Saya terharu sekali! :") riview kalian itu membuat cerita ini semakin hidup.
Jadi jika ada kritik, saran, maupun penyemangat lainnya saya sangat bahagia membaca riview kalian! Untuk flame saya pikir-pikir dulu. Soalnya, motto saya itu Flamers juga pembaca, bedanya riview mereka mencemooh bukan memberi saran.
Jadi, kadang rada gimana gitu kalau ngelihat flamers yang berbaik hati mau ngeflame dengan bahasa yang santun.
Intinya, anda sopan, saya juga sopan. Saya orangnya nggak bakal emosi, tapi kalo udah kelewatan, bahasa saya akan sangat kasar. Jadi, tolong flamers, silahkan nge-flame. Asalkan concrit dan bahasa kalian sopan!
Sekian bacotnya :v terimakasih untuk seluruh Readers, dan Silent readers, dan orang-orang yang mau memfave atau follow Hello Celeb ini. Kata maaf, dan terimakasih tidak cukup untuk membalas kebaikan kalian yang membuat saya tetap semangat melanjutkan cerita ini.
Mind to riview? Thanks before.. :3
Sign.
Bhatara Yura
