Ohayou minna chan (bungkuk hormat)

Maap banget baru update... tadinya saya kirain crita ini agak lebay...dan saya sempat mikir buwat discountinou, soalnya g ada yang repiu... eh setelah click sana sini baru tahu deh tempat repiunya dimana hehehe (maklum author baru), maaf juga ya kalau masih berantakan di sana-sini. Maaf juga kalau saya tidak punya sopan santun, tidak nyapa dulu, 'n langsung to the point ke crita semua itu karena saya seorang author baru dari jaman batu alias primitif and norak banget hehehe... pairingnya juga agak bingung nih... peran utamanya saya tulis pertama sakura, akatsuki, gaara baru sasuke... tapi yang keluar kok malah kebalikannya...

Iyuhh seneng beud ada 4 temen yang udah mau repiu...

angodess : teng qiu udah mau repiu... critanya ketebak ya? Iya gaara suka sama sakura... aduh saya masih pemula hehe... gak bakat buwat rate lebih dari ini...tapi mungkin nanti dipertimbangkn lagi

Oke deh tengkyu buwat yang lain yang udah mau pegel-pegel ngetik repiu buwat aq. Met menikmati... enjoy it...

"Ada apa Gaara?",tanya wanita yang tadi bersama mereka. Kankuro ikut berhenti dan menoleh ke Gaara saat mendengar pertanyaan wanita itu.

"Hn",

"...",

"Apa boleh aku minta satu hal Nii san? Nee san?

Chapter 2

Itachi's Feeling

"Apa yang kau lakukan?",tanya Sasori dingin sedingin-dinginnya orang dingin begitu rombongan Kankuro menghilang. Itachi yang sudah melepaskan tangannya dari pinggang Sakura begitu rombongan itu menghilang di balik pintu kini menatap Sasori. Sakura menoleh dan memasang wajah orang bodoh seperti berkata "memang apa yang kulakukan?".

"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu tadi itu pertemuan penting! Dan kau merusak segalanya!",kali ini suara Sasori meninggi. Sakura merengut.

"Aku bisa jelaskan Nii chan! Aku sungguh tidak tahu tentang peraturan itu! Ada yang mencoba menjebakku Nii chan!", jawab Sakura setengah merajuk.

"Aku tidak peduli apapun itu! Kau pikir hanya itu kekacauan yang kau buat! Dari awal kau masuk ruangan ini kau sudah membuat masalah bahkan sampai akhirpun kau masih tidak sadar juga kalau sedang berbuat ulah! Apa kau pikir kita disini sedang bermain-main!".

"Nii chan ini bagaimana? Bukannya berterima kasih malah memarahiku! Aku tadi membela Nii chan!",balas Sakura kali ini dengan suara sedikit tinggi.

"Membela katamu! Ya Tuhan yang benar saja! Kau membuatku malu tahu tidak! Berterimakasih? Harusnya aku menendangmu sejak pertama kali kau masuk!".

"Nii chan!", Sakura menjerit, airmatanya tergenang di pelupuk matanya. Sasori terpaku. Itachi hanya diam.

"...",

" ...",

"Baik! Aku akan pergi dari hadapanmu! Aku pikir kau peduli padaku ternyata kau jahat! Aku juga tidak akan peduli lagi padamu! Aku benci padamu!". Sakura mengusap airmatanya yang hampir tumpah. Ia berjalan ke arah seorang pengawal dan merampas gitar yang tadi di bawanya dan berbalik hendak menuju pintu. Karena berjalan sambil menghapus sisa airmatanya ia tidak melihat kalau seorang pria telah berdiri beberapa langkah dari dirinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat ke depan. Langkahnya terhenti. Iris hijaunya bersiborok dengan iris yang sama pemuda itu. Gaara. Entah halusinasi atau memang sungguhan, ia melihat seringai kecil di wajah pemuda berambut merah tersebut. Wajahnya semakin menekuk masam. "Huh...Ini salah satu sekutu pria menyebalkan tadi",gerutunya dalam hati. Tak mau berlama-lama berhadapan dengan pemuda itu, Sakura membuang muka asal dan kembali berjalan dengan angkuh. Namun tepat di samping pemuda itu, langkah Sakura kembali terhenti saat mendengar suara Sasori.

"Ah Sabakhu sama, sudah berapa lama anda di sana?",sapanya dengan sopan walau ada kesan dingin. Sakura reflek membalikkan tubuhnya dengan cepat dan menatap Sasori sengit.

"DASAR PENJILAT!",teriaknya kemudian kembali berjalan menuju pintu dan membantingnya kasar. Sasori terbelalak mendengar kata-kata Sakura tapi kemudian hanya bisa menghela nafas. Pandangannya kini beralih ke arah Gaara yang masih menatap kepergian Sakura.

"Ada apa anda ke mari Sabakhu sama?",tanyanya pada pemuda itu. Gaara berbalik menatap Sasori.

"Hn, buku catatanku tertinggal", katanya sambil berjalan menuju tempatnya tadi. Mata Sasori menangkap sebuah buku agenda yang ada di atas meja.

"Ah baiklah Sabakhu sama",

"...",

"...",

"Apa tidak apa-apa?". Suara itachi memecahkan keheningan di ruangan itu. Sasori menoleh memandang Itachi tidak mengerti. Gaara mengangkat kepalanya untuk menatap Itachi.

" Nnngg?",

"Sakura...Apa tidak apa-apa membiarkannya pergi?", tanya Itachi lagi.

"Memangnya kenapa kalau dia pergi? Dia bukan tipe orang yang gampang bunuh diri. Apalagi hanya karena masalah pertengkaran tidak penting", jawab Sasori acuh.

"Kalau tidak penting kenapa kau mengajaknya bertengkar?". Sasori mendengus.

"Bukan urusanmu!". Itachi menarik sedikit sudut bibirnya.

"Aku pikir nantinya kau akan kerepotan mencarinya".

"Untuk apa aku mencari pengacau seperti dia? Kalau bukan Pein yang mengikutsertakannya, aku tidak akan repot-repot mengurusnya",

"Entahlah Sasori, tapi aku merasa nantinya dia akan menjadi...kunci...", kata-katanya terputus-putus. Matanya bergulir pelan dari Sasori ke Gaara dan menatapnya intens. Gaara hanya diam menunggu kata-kata Itachi selanjutnya. "...sebuah perjanjian kerjasama...mungkin", kata Itachi lagi dengan sedikit menggantungkan kata-kata terakhirnya. Sasori menatap arah pandang Itachi, Gaara. Lalu menatap mereka bergantian. Ia lalu menghela nafas.

" Cih... apa maksudmu?",

"Entahlah... mungkin hanya perasaanku", ucap Itachi mengalihkan pandangannya dari Gaara. Bersamaan dengan itu ponsel Sasori berdering. Sasori mendengus dan menyentuh menu "answer" pada layar ponselnya. Terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang. Sedangkan Gaara yang merasa sudah mendapatkan apa yang dia cari mengacuhkan Itachi dan bermaksud keluar dari ruangan itu.

"Sakura itu susah diatur dan tidak mau dikekang", kata Itachi lagi entah pada siapa. Langkah Gaara terhenti. Dia menoleh menatap Itachi dengan pandangan datar. Tapi Itachi tahu dalam hatinya sebenarnya bertanya apa maksudnya. Itachi tersenyum tipis sebelum akhirnya Sasori mendatanginya.

"Aku tidak tahu ada hubungan batin apa antara kau dan Pein...", ia menggantungkan kata-katanya dan menatap Itachi cukup lama. Itachi diam dan hanya balik menatapnya. "...dan dia menyuruhku membawa Sakura". Itachi tetap diam, tidak terkejut seperti sudah mengetahui semuanya. " mungkin kau benar tentang mencari Sakura. Tapi tentang perjanjian kerja sama sepertinya tidak ada...",

"Ini baru awal Sasori", ucapan Itachi memotong kata-kata Sasori. Sasori mendengus mendengarnya. Ia tahu kemampuan Itachi tentang analisis. Itachi bisa membaca cepat jalan pikiran, strategi atau trik orang lain dengan cepat dan juga cepat membuat strategi balasan. Kecepatan dan ketepatannya membuat keputusan patut di acungkan jempol. Bahkan dengan beberapa kalimat saja ia bisa membuat seseorang mengikuti perkataannya atau memberitahu informasi yang diinginkan seperti dihipnotis. Dia seorang penginterogasi yang mengerikan dan penegosiasi yang handal. Siapa saja yang berhadapan dengannya lebih memilih mati daripada harus di introgasi olehnya. Dan hampir seratus persen orang menyetujui saat bernegoisasi dengannya. Mungkin ini salah satu kelebihannya yang membuat Itachi dapat masuk ke Perusahaan Pein. Dan kadang kemampuan Itachi ini membuat Sasori kesal karena tidak tahu jalan pikirannya. Itachi kembali menatap Gaara yang masih menatapnya datar.

"Cari anak itu! Seret saja jika dia menolak!", perintah Sasori pada seorang anak buahnya. Anak buahnya itu mengangguk lalu memberi kode ke beberapa orang lain yang kemudian mereka berlari ke arah pintu.

"BRAKKK!"

Belum sempat mereka mencapai pintu, seseorang membukanya dengan kasar. Sakura. Ia terengah-engah seperti habis berlari. Semua mata menatap ke arahnya. Terutama Gaara yang menatapnya dengan seringai yang kembali terukir di wajahnya. Sakura yang sudah dapat mengatur nafasnya menatap bingung ke semua orang yang menatapnya. Namun akhirnya tatapannya berpusat ke satu orang yang dicarinya. Sasori. Ia melangkah mendekati Sasori.

"Apa acara marahmu sudah selesai? Baguslah aku tidak perlu repot-repot mencarimu", ucap Sasori setengah mengejek.

"Cih.. dalam mimpimu! Kau mencariku? Huh sulit di percaya", balasnya sarkastik. Itachi tersenyum tipis melihat kelakuan dua kakak beradik ini.

" Beri aku uang!", kata Sakura lagi.

"Apa?",

"Aku bilang beri aku uang!". Suara Sakura meninggi. Sasori tersenyum sinis.

"Apa aku tidak salah dengar!".

"Dasar sombong! Jangan terlalu percaya diri!", bentak Sakura salah tingkah. "Aku...Aku hanya meminjam! Aku kesini tidak bawa uang, akan ku ganti nanti!", katanya lagi.

"Sepertinya yang sombong itu kau Nona", balas Sasori dingin. "Meminjam uang dengan nada memerintah seperti itu! Sepertinya kau harus masuk sekolah etika untuk menyekolahkan kelakuanmu!", katanya lagi. Wajah Sakura sukses cemberut mendengar kata-kata Sasori.

"Kalau tidak mau meminjamkan ya sudah! Tidak usah pakai menghinaku segala!", semburnya sambil menghentakan sebelah kakinya. "Aku akan mengingat ini baka Nii chan! Lihat saja, kalau nanti kau memintaku sesuatu walau kau memintanya sambil merangkak di bawah kakiku aku tidak akan memberikannya! Ingat itu baik-baik Nii chan!", ancam Sakura lagi sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan mereka.

"Tentu aku akan mengingatnya Sakura.", jawabnya membuat Sakura semakin kesal. Ia menghentak-hentakan kakinya saat berjalan keluar. Sasori kemudian memberi kode pada anak buahnya. Sakura yang tidak tahu maksud Sasori masih meneruskan langkahnya tanpa menyadari ada yang mengikutinya sampai kedua lengannya di pegang erat oleh dua anak buah Sasori.

"Apa-apaan ini!", bentaknya pada kedua orang tersebut.

"Tentu aku akan mengingatnya Sakura", ulang sasori lagi. Sakura yang bingung dan kesal menoleh menatap Sasori meminta penjelasan. "Tapi aku tidak akan pernah meminta sampai merangkak di kakimu...". Sasori sengaja menggantungkan kalimatnya. "... karena aku akan memintamu secara paksa",ucapnya lagi dengan senyum yang menurut Sakura sangat menyebalkan. Walau sebenarnya masih tidak mengerti, Sakura tahu Sasori akan membawanya ke sebuah tempat yang sudah pasti tidak ingin di datanginya. Karenanya ia meronta mencoba melepaskan diri.

"Lepaskan aku baka! Apa kalian ingin mati hah!", bentaknya pada kedua anak buah Sasori yang mencengkeram erat kedua lengannya. "Lepaskan aku atau kalian akan kupecat!", teriaknya lagi.

"Memang siapa yang menggaji mereka Sakura?". Sasori tersenyum mengejek. "Kalau mereka melepaskanmu, aku yang akan memecat mereka!", ujarnya lagi. "Bawa dia", perintah Sasori pada dua anak buahnya yang dibalas dengan anggukan. Mereka menyeretnya menuju pintu. Sakura tidak tinggal diam. Dia masih meronta-ronta dengan beringas sambil berteriak-teriak mengumpat Sasori dan kedua anak buahnya itu. Namun ia sadar itu tidak akan membuatnya berhasil melepaskan diri.

"Kalian yang memaksaku untuk melakukan ini!", teriak Sakura sebelum akhirnya menginjak sekuat tenaga kaki salah satu pria yang memegang tangannya. Pria itu mengaduh memegangi kakinya yang membuatnya reflek melepaskan cengkeraman tangan Sakura. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Sakura. Ia kemudian memegang bahu pria yang satu lagi sebagai tumpuan untuk lompat dan menendang perut pria itu. Pria itu terhuyung ke bawah dan membuat Sakura dengan mudah memukul tengkuknya dengan siku tangannya. Seketika pria itu tergeletak tak sadarkan diri. Sakura tentu tidak melupakan pria yang satu lagi. Ia memukulkan gitar yang dibawanya ke arah wajah pria yang hendak menangkapnya dari belakang. Seketika hidung pria itu berdarah sebelum akhirnya ia juga jatuh tidak sadarkan diri.

"Aku pastikan kau akan mati di tanganku kalau ada sedikit goresanpun di gitarku! Apa kau pikir ini gitar murahan! Gajimu sepuluh tahun tidak akan mungkin membeli gitar ini!", bentak Sakura pada pria yang sudah pingsan itu. Itachi tersenyum melihat aksi Sakura yang merobohkan dua pria itu. Sedangkan Sasori hanya menatapnya tak percaya. Gaara masih dengan seringainya yang makin terlihat jelas. Sakura yang hendak berlari keluar, dihadang oleh beberapa anak buah Sasori yang lain.

"Cih... Kalian benar-benar pengecut! Hanya untuk menghadapi seorang perempuan kalian harus main keroyok! Apa kalian benar-benar laki-laki!", sindir Sakura sinis. Dia menghitung jumlah mereka. " cih... delapan orang", katanya dalam hati. Dia agak sedikit ragu bisa mengalahkan mereka berdelapan. Belum lagi anak buah yang berjaga di luar. Seingatnya ada empat orang. Belum lagi pria di sebelah Sasori yang tampaknya adalah pemimpin pengawal itu. Tentu saja ia sangat yakin kemampuan kepala pengawal jauh di atas para anak buahnya. Ia mendengus. " Tidak ada waktu untuk ragu!", teriaknya dalam hati. "Hanya ada dua pilihan, menang atau kalah!". Dengan kepercayaan penuh ia menatap mereka berdelapan dengan tatapan menantang. Satu yang di yakininya, mereka tidak akan melukainya. Mereka hanya ingin menangkapnya. Hal itu yang membuatnya makin percaya diri. Dua orang maju menyerangnya dan mencengkeram kedua tangannya. Saat dia hendak menginjak kaki pria di sebelahnya seperti tadi, dua orang pria lagi memegang kedua kakinya dari belakang. Kali ini dia benar-benar tidak bisa bergerak.

"Cih! Tak kusangka kalian benar-benar banci!", umpatnya kesal. Ia menoleh ke arah pria di sebelah kanannya. Dengan sekuat tenaga ia mengigit tangan pria itu. Pria itu menjerit kesakitan. Spontan ia melepas cengkeraman di tangan Sakura membuat gigitan Sakura juga ikut terlepas. Saat gigitan Sakura terlepas, darah segar mengalir dari luka bekas gigitannya. Sakura tersenyum sinis. Kini ia menoleh ke arah pria di sebelah kiri. Dengan gerakan super cepat ia meninju wajah pria itu. Pria itu terhuyung ke belakang. Tinggal dua pria yang memegang kakinya. Sekuat tenaga ia menghantam wajah kedua pria itu dengan kedua siku tangannya. Kedua pria itu tesungkur ke belakang. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ia langsung menyerang pria yang tadi di gigit olehnya. Saat pria itu menangkis serangannya ia memelintir tangannya dan membawa pria itu ke tembok lalu membenturkan kepalanya disana. Jangan tanya lagi. Pria itu pingsan seketika. Ia melihat dua pria yang tadi memegang kakinya mencoba berdiri, dengan gerak cepat Sakura menjatuhkan tubuhnya, menggunakan bobot tubuhnya untuk memukul tengkuk salah satu pria itu dengan siku tangannya. Tak mau ketinggalan ia menendang dagu pria yang satu lagi yang berada tepat di hadapannya. Bernasib sama dengan yang lain, kedua pria itu pingsan juga. Ia menoleh ke pria yang tadi memegang tangan kirinya, pria itu sudah berdiri dengan hidung yang berdarah. Sakura melempar gitarnya pada pria itu. Reflek pria itu menangkapnya. Tapi ternyata itu adalah trik Sakura. ia lalu maju menendang selangkangan pria itu. Tanpa perlu menunggu lama pria itupun ambruk. Sakura menoleh ke arah empat pria tersisa yang sedang menyiapkan kuda-kuda. Ia agak sedikit mengatur nafasnya. Melawan empat orang membuat tenaganya sedikit terkuras.

"Kalian tahu? Gigiku lebih tajam dari pisau. Kalau kalian ingin menyekapku seperti tadi, sekap juga kepalaku kalau tidak ingin berakhir seperti mereka berempat! Kalian dengar pria-pria pecundang!", ucap Sakura menantang. Sasori masih menatapnya tidak percaya.

"Sejak kapan dia bisa berkelahi?", tanyanya heran. Itachi tersenyum mendengarnya.

"Sepertinya kau harus meluangkan waktumu untuknya Sasori", jawab Itachi santai. Sasori memandang ke arahnya. "Aku pikir kau yang paling dekat dengannya tahu banyak tentangnya? Ternyata Pein yang tidak dekat dengannyalah yang paling tahu dia", kata Itachi lagi. Sasori mengerutkan dahinya.

"Pein?", tanyanya dalam hati. Ia kembali menatap Sakura yang sedang menyerang empat pria yang tersisa menggunakan stik golf yang entah di dapat darimana. Tidak butuh waktu banyak keempat pria itupun tumbang. Sakura yang tampak kelelahan kemudian mematahkan stik golf itu menggunakan pahanya dan melemparkannya kehadapan Sasori.

"Makan itu pecundang!", umpatnya. "Apa kau juga seorang pecundang yang akan berkeroyok menyerangku?", geramnya lagi. Sasori tersenyum sinis.

"Asal kau tahu Sakura! mereka tidak pernah menyerangmu. Mereka hanya ingin menangkapmu. Kau yang menyerang mereka". Sakura mengerutkan dahinya. Sasori berjalan ke arahnya. "Kalau aku menyuruh mereka menyerangmu kau pasti sudah kalah dari awal! Jadi jangan sombong dulu bocah!", lanjut Sasori sinis. Sakura menggeram. "Sebaiknya kau ikut aku, sebelum aku habis kesabaran!",kata Sasori mengancam. Sakura tertawa mengejek.

"Apa kau sudah mulai pikun baka Nii chan? Kau lupa kata-kataku tadi? Walau kau memintaku sampai merangkak di kakiku aku tidak akan mengabulkannya", ucapnya tersenyum sinis. "Makanya jangan sombong! Dasar pelit!", umpatnya lagi. Sasori memejamkan mata dan menghela nafas.

"Dan apa kau juga sudah pikun Sakura? kau lupa kata-kataku tadi? Aku tidak akan memintamu sampai merangkak di kakimu...". ia menggantungkan kata-katanya kemudian membuka matanya perlahan. "Karena aku akan memintamu secara paksa!", sambungnya lagi sebelum akhirnya maju menyerang Sakura. sakura yang mendapat serangan mendadak tentu saja syok. Dia tidak menyangka Sasori akan menyerangnya. Sasori sengaja memberi pukulan di perut Sakura sebagai serangan awal. Pukulannya tidak begitu kuat tapi mampu membuat Sakura terhuyung ke belakang.

"Ukkhhh!", jeritnya kesakitan sambil memegang perutnya. Sasori tidak mau memberinya kesempatan ia kembali maju dan melancarkan tinju ke wajah Sakura yang hampir mengenai wajah cantiknya kalau saja Sakura tidak segera menangkisnya dengan tangan kirinya. Adu kekuatan tangan terjadi. Sakura menyipitkan matanya berusaha sekuat tenaga menahan tangan Sasori. Sedangkan Sasori hanya menatap dingin wajah Sakura di bawahnya. Karena merasa akan kalah adu tangan Sakura memutar tubuhnya untuk menendang Sasori dari belakang. Sasori mundur sambil menyilangkan tangannya di depan dada sebagai pertahanan untuk menangkis tendangan Sakura. Sakura sedikit meringis mengusap tangan kirinya yang tadi menangkis Sasori. Kali ini dia merasa berbeda dengan sebelum. Sasori sangat kuat berbeda dengan pria-pria sebelumnya. Sungguh ia merasa sedikit kewalahan apalagi tenaganya sudah terkuras untuk melawan sepuluh orang sebelumnya. Saat ia mencoba berdiri tegap ia merasa sakit di perut yang tadi di pukul Sasori. Ia kembali mengerang. Disaat yang sama Sasori kembali melayangkan pukulannya. Sambil masih meringis Sakura mengelak dari pukulan itu. Tapi sepertinya bukan sekali pukulannya saja, Sasori bertubi-tubi memberinya pukulan. Dan mau tak mau Sakura harus bersusah payah menghindar dan sesekali menangkis. Sakura mulai panik. Ia benar-benar kewalahan menghadapi Sasori.

"Sasori nii kenapa kau jahat sekali! Kau curang! Kau tahu aku habis menghadapi sepuluh orang!", katanya setengah merengek.

"Kau tahu Sakura? di dunia ini tidak ada yang adil", jawabnya santai. Gaara yang tadi menyeringai melihat Sakura terkejut mendengar kata-kata Sasori. Tiba-tiba ia merasa kepalanya berdengung. Ia mengerang pelan sambil memegang kepalanya. Itachi yang menyadari itu menoleh ke arahnya dan mengerutkan dahinya. Namun ia segera memalingkan wajahnya kembali menatap Sasori dan Sakura saat Gaara melirik kearahnya. Sakura yang jengkel mendengar jawaban Sasori kemudian mengepalkan tangannya dan berlari menyerang Sasori.

"Kalau dunia ini tidak adil, aku yang akan membuatnya adil dengan membasmi orang tidak adil sepertimu!", teriaknya sambil melayangkan tinju kearah wajah Sasori. Tapi karena terlalu tersulut emosi Sakura tidak tahu kalau tindakannya terlalu gegabah. Sasori menangkap pergelangan tangannya dan memelintirnya hingga tubuh Sakura berbalik membelakangi Sasori. Sasori merapatkan tubuhnya dan mengunci gerakan Sakura dengan sebelah tangannya dan memaksa Sakura berlutut serta menekan kedua kaki Sakura dengan sebelah kakinya. Sakura meringis karena merasa sakit di kedua tangan dan kakinya. Ia dapat melihat gitarnya yang berada dua langkah di depannya. Akhirnya ia hanya bisa menangis menahan sakit.

"Hikhikhik Nii chan!", serunya. "Sakit Nii chan Sakit hikhikhik!", isaknya lagi. Sasori sedikit mengendurkan tangannya. Tidak mengira kalau cengkeramannya membuat Sakura menangis. Padahal tadi sewaktu di cengkeram oleh anak buahnya Sakura tidak seperti ini. Apa dia terlalu keterlaluan? Hatinya agak sedikit mencelos. Ia melepaskan tekanan kakinya. Namun ternyata ia membuat kesalahan. Dengan sekali hentak Sakura melepaskan diri dan segera meraih gitarnya yang memang berada tak jauh darinya dan melemparkan ke wajah Sasori. Seperti anak buahnya tadi, Sasori reflek menangkap gitar itu namun saat itu juga Sakura dengan posisi yang masih terduduk sekuat tenaga menendang perut Sasori. Sasori terjatuh ke belakang.

"Ukhhh", erangnya tertahan.

"Dunia tidak ada yang adil Nii chan!Rasakan! Itu balasanku untuk pukulanmu yang tadi!", serunya lantang. Ia berdiri dan berbalik hendak melarikan diri sebelum hidungnya yang menabrak tubuh seseorang yang entah sudah berapa lama berdiri di belakangnya. Ia kembali terjerembab ke belakang saking kerasnya ia menabrak orang itu. Sementara yang di tabrak tidak bergerak sedikitpun. Dengan garang Sakura menatap orang yang sudah menghalangi jalannya. Itachi. Sakura menelan ludahnya. "Ini buruk", pikirnya.

"Hentikan Sakura!", perintahnya dingin.

"Ba.. baiklah!", balas Sakura agak gugup tapi masih menantang. "Aku akan berhenti kalau kalian juga tidak menghalangi jalanku! Aku harus pergi untuk mengurus sesuatu!", ucapnya lagi.

"Kau bisa mengurusnya lain kali Sakura. sekarang ikutlah dulu dengan kami", ucap Itachi tenang dan dingin.

"Aku tidak mau!",jawab Sakura cepat. "Bagiku tidak ada yang lebih penting dibanding urusanku ini! Ini menyangkut harga diriku!", kata Sakura lagi. Itachi tersenyum mendengar kata "harga diri" dari mulut Sakura. "Apa yang kau tertawakan?!", bentak Sakura tersinggung melihat Itachi tersenyum.

"Tidak", jawabnya singkat. "Hanya agak terkejut, ternyata kau masih punya harga diri juga?", jawabnya sambil tersenyum. "Kupikir urat malumu sudah terputus". Sakura menekuk wajahnya seketika.

"Apa maksudmu! Kau menghinaku!", bentak Sakura. "Minggir! Aku mau pergi!".bentaknya lagi sambil bangkit berdiri.

"Kupikir tidak ada salahnya kau ikut dengan kami. Kurasa Pein bisa membantu menyelesaikan masalahmu Sakura", ucapan Itachi membuat Sakura tertegun.

"Sudah kuduga", katanya dalam hati. Ia mendengus.

"Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Dan bilang pada Pein nii jangan mengatur hidupku dan menyeretku seenak jidatnya!",balas Sakura sadis.

"Percuma kau memintanya baik-baik Itachi!", suara seorang dari belakang Sakura mengiterupsi mereka berdua. Sakura menoleh. Ia melihat Sasori berjalan ke arahnya sambil memegang perutnya. Reflek saja Sakura berbalik menyilangkan tangannya di depan dada dan memasang kuda-kuda. Sakura mundur tatkala melihat Sasori semakin mendekat. Ia sedikit kaget saat punggungnya menabrak dada Itachi. Ia menoleh untuk sekedar memandang Itachi. Namun lebih terkejut lagi saat kembali memandang ke depan, ia mendapati wajah Sasori berada beberapa centi di depan wajahnya. "Karena kau itu keras kepala!", ucap Sasori lagi. Setelah itu Sakura merasa tubuhnya terputar hanya dalam hitungan detik. Wajahnya kini menempel di dada Itachi. Kedua pergelangan tangannya ada yang mencengkeram dari belakang dan Sakura yakin pelakunya adalah Sasori. Sasori menekan tubuhnya ke tubuh Itachi.

"Hei apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!", bentaknya

"Dalam mimpimu Sakura!", balas Sasori dingin. Sakura panik. Ia merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya. Setelah ia mendengar seperti sesuatu yang di kunci, Sasori mengendurkan cengkeramannya. Namun saat Sakura hendak menggerakan tangannya, ia sadar kalau ia di borgol. Sasori yang sudah mengendurkan cengkeraman tangannya kini beralih menekan kedua kakinya dan memborgolnya juga.

"Sial!Lepaskan aku baka Nii chan!", teriak Sakura frustasi.

"Kau benar-benar merepotkan", ucap Sasori kesal. Ia kemudian membalikkan tubuh Sakura, membungkukkan tubuhnya, menaruh perut Sakura di bahunya dan memegang paha belakangnya. Seketika itu juga Sakura merasa tubuhnya terangkat ke atas dengan kepala menghadap ke punggung Sasori. Sontak saja ia menjerit.

"Baka! Kau pikir aku karung beras! Turunkan aku baka!",jeritnya lagi. Namun Sasori tidak menggubrisnya. Dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan itu dengan Sakura di atas bahunya. Itachi hanya menatap datar kedua orang itu lalu menghela nafas. Ia kemudian menoleh ke arah Gaara yang masih di ruangan itu dan menatapnya penuh arti.

"Maafkan kekacauan hari ini Sabakhu sama", ucapnya akhirnya. Ia menundukan kepalanya kemudian memberi kode pada pengawalnya untuk mengurus anak buah Sasori yang pingsan. Ia menatap Gaara sekilas lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan itu. Tinggallah Gaara yang menatap kepergian Itachi. Tiba-tiba seringai kembali muncul di wajahnya.

"Sakura!", desisnya menyeringai. Ia menjilat bibir bawahnya. "Kau sangat menarik!", ucapnya lagi sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar ruangan itu.

Monster's

Sasori melirik Sakura yang sudah terlelap bersandar di bahunya. Ia tersenyum tipis melihat posisi tidur Sakura yang sedikit aneh. Mungkin karena rambutnya yang di ikat dua kesamping membuatnya harus tidur dengan posisi kepala menoleh ke arah jendela mobil. Dan tentu saja tangannya yang di borgol membuatnya tidak nyaman kalau harus bersandar di sandaran kursi sehingga ia bersandar di bahu Sasori. Sasori sendiri bertanya-tanya dalam hati apa dia juga tidak pegal tidur dengan posisi seperti itu? Setelah setengah perjalanan ia meronta-ronta minta di lepaskan dan juga setelah berkelahi melawan sepuluh orang tadi Sasori sangat yakin Sakura tidak akan peduli dengan posisi tidurnya sekarang. Ia melepaskan earphone yang tadi dipakai untuk menyumpal telinganya dari teriakan-teriakan Sakura yang sangat mengganggu sebelum akhirnya gadis itu jatuh tertidur karena kelelahan. Ia menghela nafas sambil membenarkan posisi Sakura agar sedikit nyaman dengan meluruskan tubuh gadis itu ke arah jendela mobil. Namun lagi-lagi ia hanya mengulum senyum tatkala Sakura yang menggeliat karena tindakannya, mengangkat kaki kirinya dengan tidak sopan ke pangkuan itachi yang duduk di sebelahnya karena merasa terganjal dengan kursi mobil. Itachi menatap datar kaki tak diundang itu lalu menoleh ke Sasori yang juga menatapnya dengan senyum super tipisnya. Ia tetap diam lalu beralih menatap wajah polos Sakura yang sedang tidur.

"Kau tahu bagaimana diakan?",kata Sasori memecahkan keheningan diantara mereka.

"Tidak masalah", jawab Itachi mengerti maksud Sasori. Ia kembali menoleh ke arah luar jendela.

"...",

"...",

"Apa kau tahu sesuatu?", tanya Sasori lagi. Itachi berbalik menoleh ke Sasori lagi dan menatapnya penuh tanda tanya. "Tentang Sakura? yang tadi kau katakan?', jelas Sasori. Kini Itachi paham maksud Sasori. Ia menatap ke depan.

"Sudah kubilang itu hanya perasaanku saja", jawabnya singkat.

"Tapi biasanya perasaanmu selalu benar Itachi", balas Sasori masih menatapnya intens.

"Entahlah...". Sasori terdiam mendengar jawaban Itachi.

"...",

"...",

"Aku hanya tidak ingin dia terluka", kata Sasori kemudian setelah beberapa saat mereka saling terdiam.

"Apa kau pikir aku ingin dia terluka?", balas Itachi dingin. Sasori menatapnya. Itachi yang tadinya menatapnya kini beralih ke Sakura. "Aku orang pertama yang akan melindunginya. Karena dia...", ucapan Itachi terhenti. Ia menelan ludahnya. " Karena dia yang memberiku hangat musim semi di tengah hidupku yang di selubungi salju musim dingin". Sasori tercekat. Ini pertama kalinya Itachi bersikap melankolis di hadapannya. Ia tahu bagaimana hidup Itachi yang mengerikan sebelum masuk ke perusahaan kakaknya. Ia juga tahu betapa dingin dan tertutupnya pemuda itu sebelum bertemu Sakura yang sering membuatnya tersenyum. Itachi tidak pernah sekalipun menunjukan perasaannya sekalipun pada orang lain. Memang kalau diperhatikan ia akan sering tersenyum kalau ada Sakura namun setelah itu ia akan kembali menjadi Itachi yang dingin dan tertutup. Segelintir pemikiran masuk ke otak Sasori. Apa pemuda ini menyukai adiknya? Tapi pikiran itu di tepis. Siapa yang tidak akan tersenyum melihat tingkah adiknya yang tidak tahu malu itu. Tapi tentu saja perkataan penuh perasaan barusan membuat Sasori harus berpikir dua kali. Mungkin Itachi memang menyukai Sakura?Atau jangan-jangan perjanjian yang dikatakan Itachi tentang Sakura itu begitu berbahaya sehingga pemuda itu berkata seperti akan kehilangan Sakura dan ia ingin melindunginya? atau...

"Hah...". Sasori menghela nafas. Sepertinya ia terlalu banyak berpikir. Apapun perasaan pemuda itu pada adiknya itu bukan urusannya. Perasaan tidak bisa dipaksakan bukan? Dan bukannya bagus kalau Itachi menyukai Sakura. Itachi pemuda yang cerdas, sangat berbakat dan dapat dipercaya. Walau masa lalunya mengerikan Sasori tahu itu bukan keinginannya dan ia juga tidak peduli. Ia menatap wajah adiknya lalu beralih ke Itachi.

"Kuharap kau benar, dan kuharap dia tidak merepotkanmu nanti Itachi", jawab Sasori penuh arti. Itachi tidak membalas. Ia hanya menatap Sasori datar lalu beralih menatap ke depan. "Ngomong-Ngomong Itachi... sepertinya kau lebih banyak tahu tentang Sakura di banding aku", kata-kata Sasori mau tak mau membuat Itachi menoleh tak mengerti ke arah Sasori. Sasori menatapnya lalu menarik salah satu sudut bibirnya. Mobil mereka kini memasuki pekarangan luas sebuah rumah megah berwarna putih yang tampak seperti "White House" milik presiden Amerika Serikat. Sasori menoleh keluar saat sadar mereka telah sampai ke tujuan. Sebelum turun ia menoleh pada Itachi. "Tolong jaga Sakura", kata Sasori sebelum kemudian menggendong Sakura didepan dadanya membawanya keluar mobil dan berjalan masuk rumah itu. Itachi tertegun mendengar kata-kata Sasori sambil menatap kedua orang tersebut. Namun beberapa saat kemudian ia ikut keluar mobil dan melangkah mengikuti mereka berdua.

TO BE CONTINUE