Chapter 2

Duka


Bagaimana Hermione berhasil sampai di rumah sakit masih misteri baginya. Ia mati rasa saat mencoba menghubungi Mr. James Potter lewat jaringan Floo di kantornya. James Potter tengah merapikan berkas-berkas saat Hermione mengabarkan kejadian yang dialami anaknya. Ia segera pergi ke rumah sakit muggle dan memindahkan anaknya ke St. Mungo sebelum dokter muggle dapat menyentuh tubuh anaknya. Setelah panggilan Floo terputus, Hermione mengabarkan teman-teman Harry mengenai kondisinya saat ini. Sadar betapa sedihnya dia, mereka langsung memberikan kata-kata hiburan untuk menenangkannya, ia berusaha untuk mengontrol emosinya demi teman-temannya. Ia telah mengatakan pada mereka bahwa ia baik-baik saja, meski nyatanya perasaannya masih kacau.

Mr. Potter sudah di rumah sakit saat ia tiba, dia terlihat seperti baru saja menangis. Siapa yang tidak? Harry adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki James Potter. Istrinya, Lily Potter, meninggal saat melindungi anaknya dari serangan Voldemort pada malam Halloween. James dan Harry bertahan pada malam itu. James terlindungi oleh darah-murninya dan hanya dipukul minggir oleh Voldemort sementara Harry diselamatkan oleh cinta ibunya. James tak pernah menikah lagi setelahnya dan mendedikasikan hidupnya untuk mengurus serta menjaga Harry dan dunia sihir dari kejahatan.

Dan fakta bahwa mereka masih berdiri di depan UGD dengan banyak tubuh lemah dan penuh luka yang lewat sama sekali tidak membantu. Mereka tetap berharap bagaimanapun juga tubuh Harry tidak akan separah pasien-pasien yang lain.

Hermione sedang duduk di bangku lobi, menunggu penyembuh yang sedang merawat Harry. Ia tak melihat kedatangan teman-temannya. Sebuah tangan menyentuh pundaknya lalu ia mendongak dan melihat teman-temannya, Luna, Hannah, dan salah satu sahabat Harry, Ron, di belakang mereka.

Ia membuka mulutnya untuk menjelaskan apa yang terjadi, namun tak ada suara yang keluar. Suaranya tercekat dan air matanya mulai jatuh. Luna dan Hannah memeluknya sementara Ron menatap mereka.

"Harryku, Harryku." Ia mengucapkan kata-kata yang semakin menghancurkan hatinya.

Mereka mendengar langkah kaki dan melihat ayah Harry dengan seorang penyembuh.

Penyembuh itu mulai menjelaskan kondisi Harry, "Harry menderita trauma otak parah di kepalanya. Ia terlempar ke depan dan kepalanya membentur kaca mobil dengan sangat keras. Ada pendarahan di dalam kepalanya, tapi kami sudah bisa mengurusnya. Kami telah memindahkannya ke ruang penyembuhan dimana ia akan dimonitori untuk sementara ini. Saat kondisi vitalnya telah stabil, ia dapat dipindahkan ke kamarnya."

Hermione telah menemukan kembali suaranya dan bertanya, "Apakah ia akan baik-baik saja?"

Penyembuh tersenyum dan memberikan jaminan. "Sekarang, ia baik-baik saja. Namun saya menyarankan beberapa tes untuk memastikan tidak ada kerusakan serius pada otaknya."

Hermione meremas tangan Luna saat mendengar kata-kata terakhir dari penyembuh. Kerusakan otak, jadi ini belum berakhir. Mr. Potter melihat kekhawatiran Hermione dan menggenggam tangannya.

"Ia akan baik-baik saja," Mr. Potter meyakinkan. "Dia kuat dan dia punya kita yang akan merawatnya."

Hermione mengangguk dan berterimakasih pada Mr. Potter. Ia benar, pikirnya. Aku akan selalu ada untuk Harry, apapun yang terjadi. Dia menunduk memandang cincin tunangan di jari manisnya. Apapun yang terjadi.


Saat Harry dipindahkan ke kamarnya, ia masih tidak sadar. Penyembuh berkata bahwa akan memerlukan waktu sebelum ia bisa sadar. Hermione melihat mendekat pada tubuh Harry; Kepalanya diperban. Wajah dan tangannya dipenuhi memar yang sekarang sudah mulai sembuh.

Hermione meminta cuti dari kerjanya agar ia dapat meluangkan waktu untuk merawat Harry. Mr. Potter lebih dari senang mendapati Hermione dapat merawat anaknya. Ia tahu seberapa besar cinta Hermione kepada anaknya.

Malam sudah larut ketika Harry bergumam dalam tidurnya. Hermione meremas tangannya, berbisik di telinganya, memberitahunya bahwa segalanya baik-baik saja dan dia ada di sana. Pagi-pagi sekali di hari berikutnya, ia terbangun dan meminta segelas air. Hermione membiarkannya menyesap air dari sedotan kemudian ia kembali tidur. Saat itu pertama kalinya perasaannya tenang, paling tidak ia sudah sadar. Meskipun ia tetap terus kembali tidur, ia tahu suatu saat ia akan terbangun.

Saat itu hari Sabtu. Luna, Hannah, Ron, dan Neville ada di rumah sakit. Neville datang hari berikutnya segera setelah ia mendapat berita mengenai kecelakaan itu.

"Kapan ia akan sadar? Ini sudah hari ketiga." kata Ron yang terlihat frustasi.

Neville mencoba menjelaskan, "ia sudah beberapa kali terbangun."

"Aku tahu, tapi ia hanya meminta segelas air dan kembali tidur," Ron membalas keras kepala.

"Penyembuh bilang ramuannya habis hari ini," Hermione menjawab tenang.

Dan seakan Tuhan mendengarkan, Harry bergerak dan membuka matanya. Luna dan Hannah dengan gembira memanggil Mr. Potter yang sedang mengobrol dengan para penyembuh di luar. Ia langsung menyerbu masuk ke dalam dan melihat Harry tersenyum.

"Hai," Harry tersenyum kepada ayahnya. Namun ia tetap memalingkan pandang dari wanita yang duduk di sebelahnya.

Mr. Potter tersenyum dan duduk di kaki tempat tidur. Harry melirik Ron dan Neville, sahabatnya selama bertahun-tahun, lalu melambai singkat pada mereka. Mereka berjalan ke arahnya dan menjabat tangannya.

"Selamat datang kembali, Harry," kata Neville.

"Bloody hell, Harry," Ron berseru. "Kau tak tahu bagaimana kacaunya tampangmu."

Harry memberikan senyum lemah dan melihat gadis di sampingnya. Ia berlinang air mata dan tersenyum padanya. Kening Harry berkerut dan memandang dua gadis yang duduk di samping gadis itu.

Harry melirik ayahnya yang dengan jelas sedang menunggu reaksinya. Namun satu-satunya hal yang dikatakannya adalah, "Apa aku mengenalmu?"


Apa aku mengenalmu?, Hermione menggigit-gigit bagian bawah bibirnya dan melangkah mondar-mandir di luar kamar. Luna dan Hannah sudah pergi. Namun mereka tetap meyakinkannya sebelum pergi.

"Dia hanya sedang syok, Hermione," kata Hannah. "Dia akan mengingatmu. Mustahil melupakan tunangannya sendiri."

Luna mengangguk dan berusaha mencegahnya menangis. "Hermione kau adalah wanita yang kuat. Kau akan melewati ini semua. Ini hanya sementara."

"Kuharap yang mereka katakan benar." bisik Hermone. Mr. Potter dan penyembuh masih berada di dalam bersama Harry. Mereka segera memanggil penyembuh setelah sadar bahwa Harry tidak banyak mengingat setelah kecelakaan. Ia bahkan tidak dapat mengingat dari mana ia sebelum kecelakaan itu.

Hermione mendengar beberapa pertanyaan yang diajukan penyembuh kepada Harry, mengenai alamatnya, pekerjaannya, nama orang tuanya. Dia terduduk di atas kursi di depan kamar dan memutar-mutar rambutnya dengan jari-jarinya. Dia selalu melakukan itu saat gugup. Ia mendengar pintu membuka dan menutup. Mr. Potter dan penyembuh keluar dari kamar untuk berbicara padanya.

"Baiklah, kurasa ia menderita apa yang disebut muggle Retrograde Amnesia. Dalam kasus ini, penderita akan sulit mengingat hal-hal yang terjadi sebelum kecelakaan," jelas penyembuh.

"Kapan ia akan memulihkan kembali ingatannya?" tanya Hermione.

"Kami tak dapat memastikan. Ada beberapa kasus saat pasien dapat pulih dengan sangat cepat, ada pula yang membutuhkan bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun?" seru Hermione. "Tapi dia mengingat ayahnya dan teman-temannya. Kenapa ia tak bisa mengingatku?"

Penyembuh mencoba menjelaskan dengan tenang, " seorang pasien tidak harus melupakan segalanya saat menderita amnesia. Dalam kasus Harry, kelihatannya ia tak dapat mengingat kejadian beberapa tahun ke belakang. Kurasa teman-temannya sudah bersamanya sejak di Hogwarts atau sebelum itu, jadi itulah mengapa ia masih mengingat mereka."

"Untuk membantu memulihkan ingatannya, keluarga dan teman-temannya perlu bersamanya. Ini dapat sangat mengesalkan pasien jadi ia butuh dukungan dari kalian."

"Harry harus menjalani beberapa tes, saya telah mendaftarkannya untuk memperoleh mantra khusus yang setara dengan CT dan MRI muggle. Aku perlu tahu apa ada kerusakan otak yang menyebabkan amnesia ini. Namun selain itu, secara fisik ia telah pulih." Ia mulai memberi Mr. Potter dan asisten penyembuh instruksi untuk selanjutnya.

Hermione memandang ke dalam kamar dan melihat Harry berbicara kepada teman-temannya. Ia tertawa oleh lelucon Ron. Ron tak pernah gagal membuatnya tertawa. "Aku juga membuatnya tertawa," Hermione berbisik pada dirinya.

Harry melirik ambang pintu yang terbuka dan melihat Hermione memandangnya. Hermione memberikan senyum hangat dan melambai. Harry hanya menatapnya, menatapnya seakan ia tidak pernah mengenalnya. Tatapan Harry beralih kembali ke teman-temannya.

Tangan Hermione terjatuh di sisinya dan ia memejamkan mata.

Bagaimana sakitnya bila orang yang sama yang selalu kau tunggu dan doakan benar-benar mengabaikanmu? Melepasmu begitu saja seakan kalian tak pernah berbagi jiwa yang sama? Seakan tak pernah berbagi rasa?

Hermione memandang sekilas cincin tunangan yang ia pakai di jari manisnya. Ia akan membantu Harry untuk mengingat. Aku akan mencintainya dan bersamanya apapun yang terjadi.


A/N: Jangan lupa review ya kawan-kawan. Btw, Happy Valentine's Day!