Draco's Pov

"jika isu itu terus berkembang, kerajaan bisnis kita tidak akan bisa bertahan lagi Narcissa…"Ayahku berbicara sambil memegangi keningnya

"apa kau yakin hanya dengan cara itu,Lucius?"Tanya Ibuku sambil menatap Ayahku serius

"hanya ini jalan terbaik yang bisa terpikir olehku, lagipula tak ada gunanya mempertahankan kemurnian darah pada situasi ini, dan aku yakin Draco pasti bisa mengerti "

"lalu apa kau sudah punya rekomendasi?"Tanya Ibuku lagi

"jika harus seorang Muggle born, maka hanya ada satu nama yang ku anggap layak untuk Draco"aku merapatkan telingaku untuk mendengar siapa orang itu, tapi aku tidak dapat mendengarnya

"memang harus dia, dia adalah gadis yang sangat sempurna untuk mendampingi Draco…tapi apa yang membuatmu berpikir ia akan menerima tawaran ini?"Ayahku hanya tersenyum menatap Ibuku

"aku sudah cukup lama menyelidiki latar belakang dan kehidupan gadis itu semenjak ide ini terpikir olehku Narcissa, pada akhirnya ia pasti akan menerima tawaran ini"aku melangkah menuju kamarku setelah mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuaku, aku merebahkan diriku di ranjang dan menatap langit-langit kamarku yang terukir indah. Mereka akan mencari orang yang bisa mendampingiku, orang yang pasti akan mampu menyurutkan isu yang marak beredar di lingkungan kerajaan bisnis Malfoy , isu yang mengatakan bahwa keluarga Malfoy diam- diam menjadi budak Voldemort dan masih membeda-bedakan status darah…ku akui kami memang keluarga yang masih sedikit kuno dan menganggap bahwa akan lebih baik jika keluarga Malfoy tetap menjaga kemurnian darahnya, tapi bukan berarti kami membenci Muggle karena isu bodoh itu, banyak investor yang mulai goyah dan ingin menjual sahamnya, sehingga orang tua ku memikirkan ide yang bahkan lebih bodoh dari isu itu sendiri tanpa mengatakan apapun padaku. menikahkan aku, ahli waris tunggal kerajaan bisnis Malfoy dengan seorang muggle born yang aku bahkan tak tahu siapa.

"mencari pasangan muggle born untukku?hebat…"aku mendengus dan mengacak-acak rambutku sendiri, jika Ayah sudah merencanakan sesuatu, maka ia tidak akan pernah membiarkan rencana itu terhambat, dia pasti sudah menyiapkan ini semua dengan nafas panjang dan kupejamkan mataku sambil berharap bahwa yang kudengar tadi hanyalah mimpi

.

.

.

Hermione's Pov (normal pov)

"kenapa kalian baru bicarakan masalah ini sekarang Mom?Dad?"tanyaku tak percaya saat mendengar pernyataan orang tuaku yang cukup mengejutkan

"kami hanya tidak ingin kau merasa terbebani Mione, kami tak ingin prestasimu menurun"aku mendengus mendengar penjelasan Ibuku

"setidaknya kalian bisa menceritakannya padaku sebelumnya, agar aku bisa mencari cara untuk membantu…atau setidaknya aku tidak seterkejut ini saat melihat rumah kita sudah disita"

"maafkan kami Mione"ucap Ayahku

"Rumah sakit kalian bangkrut dan kalian tidak pernah memberitahuku?bahkan sampai semuanya telah habis kalian tidak pernah menyinggung masalah ini. aku menemukan semuanya sendiri baru kalian bisa jujur?aku tak masalah dengan keadaan kita yang mulai dari awal lagi, tapi tidak bisakah kalian berbagi denganku?"air mataku mulai menetes membuat kedua orang tuaku bergerak memelukku

"kami sungguh-sungguh minta maaf Mione…"gumam Ibuku disela tangisnya

"Sophie belum tahu apapun kan?"tanyaku lagi, jika mereka tidak menceritakan ini padaku, mustahil mereka membicarakan hal ini pada adikku

"tidak, dia tidak tahu apapun, dan Dad mohon jangan katakan apapun padanya"

"lalu bagaimana jika ia mengetahuinya nanti?semuanya akan sama saja pada akhirnya Dad…"

"dia tidak akan pulang liburan ini, dia akan tetap di London untuk perawatannya, penyakitnya semakin parah Mione, kita tidak boleh membiarkan dia tahu, itu bisa memperburuk keadaannya"aku terdiam saat mendengar keadaan adikku memburuk, sudah setahun sejak kami tahu bahwa ia menderita kanker otak, sehingga Ayahku memutuskan untuk mengirimnya kepusat penanganan kanker di London untuk menjalani perawatan intensif, jadi ia melanjutkan masa junior high schoolnya di London ditemani nenekku

"bagaimana keadaan Sophie?"tanyaku lagi

"dia semakin lemah dan penyakitnya lebih sering kambuh, Granny sudah menghubungi kami dan rencananya kita akan menjenguknya sehari setelah natal…"

"apa yang harus kukatakan padanya nanti Dad?aku tak bisa berbohong padanya"

"kau tidak perlu berbohong Mione, jangan pernah bahas masalah ini dihadapannya, itu saja"

"lalu bagaimana dengan biaya pengobatannya Dad?kita bahkan tidak punya rumah sekarang"Ayahku terdiam sementara Ibuku hanya memandang sekeliling apartemen kecil yang kami sewa untuk tempat tinggal

"jika memang sudah tidak memungkinkan, kita akan membawanya pulang…tidak ada pilihan lain, karir kami sudah hancur dan bank tidak memberi pinjaman pada Dokter yang sekarang hanya bekerja pada klinik kecil seperti kami, untuk sementara kami masih punya uang untuk perawatannya di London, jadi kau tenang saja Mione"

"apa kalian sudah membeli tiket pesawat?"Tanya ku lagi

"belum, kami masih mengumpulkan uangnya"hatiku terasa teriris mendengarnya, orang tuaku bahkan tidak punya uang untuk membeli tiket pesawat

"kita berappearate saja, daripada hanya membuang biaya untuk tiket..aku bisa membawa kalian"mereka menatapku dengan wajah setengah tersenyum

"baiklah,thanks dear"jawab Ibuku

"tapi karena kalian belum pernah berappearate sebelumnya kalian mungkin akan merasakan pusing dan mual, kuharap itu tidak apa-apa"ucapku lalu melangkah menuju kamarku

.

.

.

Hari natal terlewati begitu saja, aku mendapat beberapa surat dari teman-temanku yang mengucapkan selamat natal tapi tak ada satupun yang menarik nafas panjang lalu ku masukan baju-bajuku ke koper karena kami akan menghabiskan waktu kami di rumah Granny bersama dengan kemudian, kudengar pintu kamarku diketuk

"kau sudah siap Mione?"Tanya Ibuku sambil tersenyum

"ya Mom…"aku keluar dari kamar dan berdiri diruang tamu

"apa semua sudah dikunci?"Tanya ku, dan Dad hanya mengangguk

"pegang koper kalian,lalu pegang tanganku"ucapku, mereka pun segera mengikuti instruksiku

"jangan lepaskan sebelum kita sampai"gumamku, lalu aku pun berappearate

.

.

.

"Sophie!"pekikku begitu melihat Sophie berdiri didepan pintu menyambut kami, aku memeluknya erat

"bagaimana keadaanmu?"tanyaku sambil memegang tangannya

"aku baik-baik saja"Sophie tersenyum lalu memeluk orang tua kami, aku menatap Sophie yang semakin kurus dan kepalanya yang sudah botak sepenuhnya, wajahnya juga pucat sekali. Dia pasti menutupi apa yang dirasakannya dari kami

"aku merindukan kalian"gumam Sophie

"kami juga merindukanmu dear"sahut Ibuku lalu memeluknya lagi

"jadi bagaimana sekolahmu Mione?kau akan memasuki tahun terakhirmu, pasti sangat menyenangkan, andai aku bisa sepertimu"ucap Sophie beralih padaku

"tahun terakhir akan menjadi tahun yang paling sibuk Soph, apanya yang , bagaimana sekolahmu?"Sophie menggelengkan kepalanya sambil menjawab pertanyaanku

"aku tidak diijinkan sekolah dulu untuk beberapa saat, mereka bilang akan menunggu kondisiku membaik, setiap minggu aku harus ketempat pengobatan dan semakin hari obat dan terapi yang mereka berikan semakin banyak…membosankan sekali"dengusnya

"mereka begitu agar kau cepat sembuh Soph, tunggu beberapa waktu lagi maka kau akan kembali sehat seperti dulu"kami berdua tersenyum lalu Nenek datang

"ayo masuklah, disini sangat dingin"ucap Nenek yang mendorongku dan Sophie masuk kerumah karena kami terlalu lama berdiri didepan pintu

.

.

.

Tak terasa besok sudah memasuki tahun yang baru dan sebentar lagi aku harus kembali ke Hogwarts meninggalkan Sophie dan kedua orang tuaku dalam keadaan seperti ini, hatiku mencelos saat memikirkan bagaimana bisa orang tuaku membiayai perawatan Sophie, cepat atau lambat Sophie pasti akan dibawa sadar air mataku menetes saat menatap wajah Sophie yang sedang tertidur pulas disampingku, baru saja aku akan memejamkan mata,kala aku mendengar jendela kamarku diketuk dan kulihat seekor burung hantu membawa surat untukku, kutatap sejenak burung itu, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, lalu ku ambil dan kubaca surat itu

Miss Granger,

Keluarga kami akan sangat senang jika kau bersedia makan malam bersama keluarga kami besok. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu, kami harap kau tidak keberatan, besok siang anak kami akan menjemputmu di London. Maaf jika ini mendadak, tapi ini benar-benar penting.

Narcissa Malfoy

Aku mengerutkan kening saat membaca surat itu, keluarga Malfoy ingin mengajakku makan malam?untuk apa?hal sepenting apa yang membuat seorang Draco Malfoy akan menjemputku kekawasan Muggle seperti ini…tapi tak ada salahnya aku pergi , mungkin hal yang ingin mereka sampaikan benar-benar pun membalas surat itu untuk mengabari bahwa aku akan datang.

.

.

.

Aku sudah mengenakan gaun dan make up tipis saat Draco menjemputku dengan wajah dingin seperti biasanya,

"bagaimana kakimu?"tanyaku setelah beberapa saat kami saling diam

"sudah tidak apa-apa, Healer pribadiku sudah mengobatinya"jawabnya singkat

"sebenarnya ada masalah apa sehingga orang tuamu mengundangku?"tanyaku lagi sambil berusaha membaca ekspresi Draco yang tak berubah sedikitpun

"aku tidak tahu"jawabnya singkat dan membuatku mendapat kesan bahwa ia sudah mengetahui alasannya

Setibanya di Malfoy Manor kami langsung masuk ke ruang tamu, disambut oleh Malfoy senior

"selamat datang di Malfoy manor Miss Granger"ucap Lucius sambil mempersilahkan ku duduk

"terima kasih atas undangan kalian Mr dan Mrs Malfoy"ucapku canggung dan tanpa kusadari Draco sudah tak ada diruangan itu, kulirik jam dinding dan kusadari waktu baru menunjukan pukul 5 sore

"jadi apa yang ingin kalian sampaikan padaku?"tanyaku lagi

"tidak usah begitu tegang Miss Granger, kau akan segera tahu"sahut Narcissa sambil tersenyum

"panggil aku Hermione saja Mrs malfoy"sahutku sambil ikut tersenyum

"baiklah Hermione, kau juga panggil saja Lucius dan aku dengan nama depan agar terlihat lebih dekat"aku tersentak mendengarnya, keluarga Malfoy bukan lah tipe keluarga yang seramah ini dengan orang lain apalagi dengan seorang Muggle born sepertiku

"umm…baiklah Narcissa"

"jadi Hermione, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?"Tanya Lucius tanpa memandangku

"aku baik-baik saja sir"

"apa kau yakin?"Tanya Lucius lagi dan membuatku sontak terdiam

"kau menakutinya Lucius"tegur Narcissa cepat

"sebenarnya apa yang membuat kalian mengundangku kemari?"tanyaku sambil menatap mereka berdua

"Hermione, kami hanya.."

"apa gunanya mengulur-ulur waktu lagi Narcissa,katakan saja yang sebenarnya"potong Lucius

"baiklah, sebenarnya kami punya suatu penawaran untukmu"

"apa itu?"

"menikahlah dengan Draco…"

"apa?"

.

.

.

Kutatap intens wajah Draco selama perjalanan pulang, wajahnya tenang tanpa ia tidak tahu apa yang baru saja di bicarakan orang tuanya denganku?

"apa?"Tanya Draco tanpa menatapku, sepertinya ia merasa terganggu diperhatikan terus

"tidak apa-apa"gelengku lalu menarik nafas panjang, merenungkan lagi tawaran dari Malfoy senior tadi,mencoba mengetahui apa alasan dibalik penawaran gila seperti lagi wajah Draco, apa mungkin dia yang meminta pada orang tuanya karena dia menyukaiku?tidak mungkin….kami bahkan tidak kenal dekat, lalu apa alasannya, aku bukan anak orang kaya atau semacamnya,lagi-lagi kutarik nafas panjang lalu memejamkan mataku, berpikir.

.

.

.

"hei Mione" sapa Sophie dengan suara serak, ia baru saja tertidur saat aku masuk kekamar

"hei…bagaimana keadaanmu hari ini?"tanyaku

"mereka menyuntik banyak obat ketubuhku hari ini, aku tidak tahu kenapa, tapi mereka memperketat jadwal perawatanku"aku tersentak mendengarnya, pasti kondisinya semakin memburuk.

"kau akan sembuh Soph, aku yakin…"aku tersenyum padanya, ia hanya balas tersenyum lalu kembali memejamkan matanya

Aku beranjak dari kamar, mengurungkan niatku untuk tidur dan malah merebahkan tubuhku di sofa ruang keluarga dan tanpa kusadari air mataku mulai menetes, entah karena siapa…Sophie?Mom?Dad?atau untuk diriku sendiri?semua terasa tidak benar, keluargaku tidak sepantasnya menerima hal ini.

"Mione?"aku terkejut mendengar suara Ibuku, dengan cepat kuhapus air mataku

"ya…Mom,belum tidur?"tanyaku sambil menatap Ibuku yang berjalan mendekatiku

"belum, kau sedang apa disini?"

"aku hanya lelah…"

"jika lelah sebaiknya kau tidur Mione…bagaimana acara makan malam dengan temanmu?"aku sedikit tersentak

"kurasa cukup menyenangkan"jawabku dengan senyum dipaksakan

"apa yang terjadi dengan Sophie?dia bilang jadwalnya akan diperketat"tanyaku lagi

"dia semakin memburuk Mione, dia harus segera dioperasi "

"lalu kenapa mereka hanya memperketat jadwalnya?seharusnya dia langsung dioperasi, tunggu apalagi Mom?"Ibuku menunduk dan menjawab pelan

"kami yang meminta untuk menunda operasinya…"

"kenapa Mom?"Ibuku tidak menjawab lagi,sepertinya ia menangis

"jangan bilang karena tidak ada lagi biaya"Ibuku masih terdiam,aku segera memeluknya

"kita harus menyelamatkan Sophie Mom…aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya"

"kami akan berusaha semampu kami untuk mengumpulkan biaya operasinya Mione, kau tidak usah khawatir, semua pasti baik-baik saja"

"aku akan lakukan apapun Mom…apapun untuk bisa menyelamatkan Sophie"Ibuku memelukku dan berbisik

"kami tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi padamu dan Sophie, kami akan menjaga kalian, apapun yang terjadi…"aku hanya menangis dipelukan Ibuku, nyawa adikku berada di ujung tanduk tapi yang bisa kulakukan hanya kami terdiam sampai aku teringat suatu hal…

"aku bisa menyelamatkan Sophie"gumamku kecil

.

.

.

TBC