Warn : Boys Love, G nyambung, OOC, AU
Pair : Shin X Sakuraba
Inagaki and Yusuke Murata
How Can I Not Love You
. . . xXx . . .
"Aku ingin bicara sesuatu kepada kalian." ucap Sakuraba terkesan dipaksakan. Dengan gerakan sangat kaku Sakuraba memperbaiki posisi duduknya berharap bisa bicara lebih mudah kepada anggota keluarganya. Terlihat dari raut wajahnya terpancar keraguan yang sangat jelas.
Semua orang yang ada di sana memandang Sakuraba dengan pandangan 'tolong-jelaskan-apa-yang-terjadi'. Dan pandangan menyelidik itu malah membuat Sakuraba semakin susah untuk mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.
"?" tanya Sakuraba sangat cepat. Sakuraba yakin ketiga orang itu tidak dapat mendengarkan kata-katanya barusan karena kecepatannya yang memang susah ditangkap telinga manusia.
Tapi entah kenapa ketiga orang tersebut seperti dapat mengerti apa yang diucapkan Sakuraba. Mereka bertiga saling menatap selama beberapa saat kemudian saling memekik bersamaan, "APAAA?"
. . . xXx . . .
Part Two : What Do I Tell My Heart I
Flashback
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Sakuraba terus saja memandang jalanan yang basah karena guyuran air hujan dengan pandangan bosan. Dia menghela nafas sambil merapatkan jas sekolahnya ketika udara dingin dari AC mobil yang ditumpanginya membelai kulit putihnya. Selama kurang lebih lima belas menit dia berada di mobil itu, tidak juga dia berhasil menyesuaikan dirinya dengan suhu udara AC itu.
Melalui kaca spion, Shin sesekali mencuri pandang ke arah Sakuraba yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Shin tersenyum dalam hati saat melihat Sakuraba menggambar sesuatu di kaca mobilnya yang berembun. Tergambar jelas dari wajahnya kalau dia sedang sangat bosan dengan suasana ini.
Sungguh Shin merasa sangat hangat berada di samping pemuda pirang ini. Entah kenapa Shin merasa sangat nyaman bisa menatap wajah polos pemuda di sampingnya itu. Selama ini dia tidak pernah merasa senyaman ini walau bersama dengan orang tuanya sekalipun. Ketika melihat Sakuraba dia merasa ada yang bergerak di dadanya. Semakin lama gerakan itu semakin bergemuruh. Apalagi saat melihat senyumnya yang seolah menawan hatinya dan membuat jantungnya melonjak tak tenang.
Dengan membuang nafas perlahan, ditepisnya pikiran aneh yang menelusup otaknya. Namun sama sekali tidak membuatnya tenang karena sesuatu yang aneh itu bersemayam di hatinya, bukan di otaknya. Dan sejak kapan manusia bisa mengatur keinginan hatinya? Sepertinya jawabannya hanya satu, yaitu tidak bisa, dan Shin sangat mengerti akan hal itu. Seperti saat hatinya memilih Wakana, otaknya tidak ambil bagian untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Dan ketika Wakana meninggal, yang tersisa hanya perasaan perih yang lama kelamaan melumpuhkan hatinya, bukan memori yang semakin lama semakin menghilang termakan waktu. Karena cinta memang memandang logika. Bisa datang dan pergi tanpa ada perhitungan yang masuk akal.
'Dddrrrttt...'
Suara getaran ponsel Shin menyadarkan penghuni mobil itu dari pikiran mereka masing-masing. Sakuraba menoleh ke arah Shin yang sepertinya sedang sibuk dengan ponselnya.
'Shin, pulanglah sekarang. Ini sangat penting. Ibu tunggu di istana utama.'
Mata hitamnya memandang deretan kata yang membentuk sebuah kalimat itu. Setelah dia mencoba mengerti maksud dari pesan itu dia langsung memberhentikan mobilnya ke tepi jalan raya. Beberapa saat dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sakuraba yang penasaranpun akhirnya buka suara, "Ada apa, Shin?"
"Sepertinya aku harus kembali sekarang. Tidak apa-apa kan kalau kita ke hunianku dulu?" tanya Shin sambil memandang Sakuraba yang terlihat seperti sedang berfikir. Beberapa saat Shin menunggu jawaban dari Sakuraba, akhirnya dia melajukan mobilnya ke arah huniannya setelah mendapat anggukan tanda setuju dari Sakuraba.
Memang setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Sakuraba ikut ke istana terlebih dahulu sebelum mengantarkannya pulang karena tidak biasanya ibunya memberinya pesan untuk segera pulang kalau memang tidak ada urusan yang sangat mendesak. Dan dia juga tidak bisa meninggalkan Sakuraba begitu saja di sini. Shin sangat ped- hey, sejak kapan Shin peduli terhadap orang lain?
.
.
.
Dengan tatapan kagum yang berlebihan, Sakuraba memandang bangunan di hadapannya sambil menelan ludah secara paksa. Kakinya melangkah dengan gerakan kaku seakan tidak ingin melewati altar menuju bangungan utama yang berada di depan matanya.
Shin menoleh ke belakang melihat Sakuraba yang berhenti berjalan dan menoleh kesana-kemari dengan mata bersinar-sinar. Shin melanjutkan langkahnya sementara Sakuraba berlari kecil di belakang Shin. Banyak sekali pelayan yang menyambut mereka. Sakuraba sangat canggung melihat para pelayan yang membungkukkan badan kepada mereka berdua- tepatnya kepada Shin saat mereka mulai memasuki istana utama.
"Shin, apakah tidak lebih baik kalau aku menunggumu di luar saja?" tanya Sakuraba sambil menghentikan langkahnya.
"Tidak. Ikutlah denganku." jawab Shin singkat. Sebenarnya dia ingin menjadikan Sakuraba alasan agar bisa meninggalkan urusan itu dengan cepat. Dengan alasan ingin mengantarkan Sakuraba pulang tentunya. Karena mau bagaimanapun, berkumpul dengan tetua istana adalah kegiatan yang paling tidak disukai oleh Shin. Dimana tempat para tetua berkumpul membicarakan sesuatu yang menurutnya tidak penting dan sangat membosankan. Kadang juga dia harus menahan kesal karena tetua yang sering memojokkan dirinya dengan nasihat menurut Shin hanya ingin menyombongkan diri mereka saja.
.
.
.
Ruangan berukuran sedang dengan meja besar di tengah ruangan sangat nyaman dipadukan dengan perapian yang ada di sudut ruangan itu. Sepasang suami istri duduk berdampingan ditemani secangkir teh hijau yang masih mengepulkan asap. Di hadapan mereka ada para tetua yang masih diam seribu bahasa menunggu seseorang yang belum hadir dalam ruangan itu.
Seluruh mata yang berada di ruangan itu tertuju pada pintu ruangan yang terbuka. Menampilkan dua orang pemuda yang mulai melangkah mendekat ke arah mereka. Terlihat Shin yang menarik pergelangan tangan Sakuraba yang daritadi menolak ikut masuk.
Sakuraba hanya tertunduk malu saat beberapa pasang mata memandang mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Dengan rasa canggung bercampur malu yang luar biasa, akhirnya dia mendudukkan dirinya di samping Shin.
Pencahayaan ruangan yang cukup remang membuat Sakuraba menjadi sedikit rileks karena secara otomatis pandangan orang-orang yang ada di tempat itu agak samar.
"Baiklah, Shin. Langsung saja karena kami masih punya banyak urusan..." ucap seorang tetua yang memakai baju biru gelap dengan hiasan renda emas di tepi bajunya.
Sunyi senyap menghuni seluruh ruangan itu. Tidak seorangpun mengeluarkan suara. Hanya ada suara kayu terbakar yang berasal dari perapian. Menunggu kelanjutan perkataan tetua itu, Shin merasa agak cemas. Dia merasa akan dipojokkan lagi seperti biasanya. Dan di hadapan para tetua yang terkesan seperti menggurui, Shin hanya bisa pasrah dan melakukan yang mereka inginkan asal hal itu masih dapat di terima oleh akal sehat.
Dengan mengambil nafas panjang kemudian dihembuskannya perlahan, tetua itu melanjutkan, "Kau harus segera menikah untuk mendapatkan tahta menggantikan ayahmu. Tiga minggu lagi umurmu genap tujuh belas tahun. Itu berarti kau harus segera menikah sebelum umurmu menginjak tujuh belas tahun. Karena itu syarat mendapatkan tahta."
Semua orang dengan ekspressi mereka masing-masing mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Shin membeku di tempat. Dan Sakuraba sangat terkejut dengan ucapan tetua itu. Dia hanya memandang Shin yang diam dan memejamkan matanya seolah berusaha meyakinkan apa yang baru saja didengarnya hanya mimpi atau kesalahan pendengarannya semata.
.
.
.
Dengan tangan terkepal di atas pahanya, Shin berusaha tetap tersadar dan sekuat tenaga meredam kegundahannya. Dia sekarang berada dihadapan kedua orang tuanya dan di sampingnya ada Sakuraba yang berusaha mati-matian untuk tidak menyentuh punggung Shin sekedar untuk menenangkan pemuda di sampingnya itu.
Pandangan ibu Shin menghangat melihat pemuda yang dibawa anaknya beberapa waktu yang lalu itu. Pada awalnya dia sangat terkejut melihat Shin membawa pulang temannya karena memang Shin tidak pernah mengajak temannya ke sini kecuali Takami. Namun sekarang ibunya paham kepada tingkah putranya itu. Sakuraba memang anak yang lembut dan apa adanya. Terlihat dari pancaran kekhawatiran Sakuraba saat melihat kondisi Shin yang mungkin sedang dihalau perasaan galau yang begitu besar.
"Maafkan ayah, Shin. Tapi sepertinya kau memang harus melakukannya. Karena kalau tidak, tahta akan diwarisi pamanmu." ucap ayah Shin dengan suara tenangnya.
"Tapi..." terdengar suara dengan nada ragu dari ibu Shin. Dia sangat tahu Shin sangat mencintai Wakana dan kecelakaan yang menimpa Wakana setahun yang lalu merupakan kenangan pahit yang membuat Shin sangat terpukul sampai sekarang.
"Ibu tahu kalau ini keputusan yang berat buatmu. Dan bagaimana kalau kita adakan pernikahan palsu? Sekedar untuk mengelabuhi tetua dan menjauhkan pamanmu yang licik itu dari tahta kerajaan." saran ibu Shin dengan suara anggunnya.
Semua orang yang ada di situ tercengang termasuk Sakuraba.
"Dan Shin bisa memutuskan untuk menikah lagi kalau sudah menemukan orang yang dia inginkan karena itu bukan pernikahan yang sebenarnya. Ide yang bagus. Tapi... Siapa yang akan menjadi pasangannya?" tanya ayah Shin dengan raut seperti sedang berfikir.
"Kalau masalah itu aku sudah tahu orang yang tepat. Iya kan, Saku-chan?" ucap ibu Shin memandang Sakuraba dengan senyum lembut terpampang di wajah cantiknya.
"Eh?" pekik Sakuraba saat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Kau mau kan membantu Shin, Saku-chan?" tanya ibu Shin dengan penuh pengharapan. Jari-jarinya yang lentik menggenggam tangan Sakuraba dan memandang Sakuraba dengan pandangan penuh pengharapan. Dipandang seperti itu membuat pertahanan hati Sakuraba mau tidak mau sirna sudah. Dia hanya mengangguk pasrah.
"Asal Shin ti-tidak keberatan... Uhmmm..." ucap Sakuraba memandang Shin yang sedari tadi hanya diam tanpa berkomentar.
"Terserah." jawab Shin dengan nada datar dan langsung berjalan keluar dari ruangan itu. Pikiran Shin sedang kacau saat ini dan Sakuraba dapat mengerti itu. Bagaimana mungkin seorang berumur sama seperti dirinya harus melakukan hal seperti ini? Tentu saja sangat berat. Ingin sekali Sakuraba meringankan beban itu dan menyetujui ide dari ibu Shin merupakan wujud apresiasi satu-satunya yang dapat dia lakukan saat ini. Entah apa juga yang terjadi, yang jelas Sakuraba sangat peduli dengan pemuda yang dikenalnya baru beberapa jam yang lalu itu.
Senyuman merekah di bibir ibu Shin. Membuat Sakuraba yakin kalau keputusannya menyetujui penawaran itu adalah keputusan yang benar.
End of Flashback
.
.
.
"Ibu sangat mendukungmu, nak." ucap ibu Sakuraba dengan mata berbinar-binar setelah Sakuraba menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Diiringi oleh anggukan semangat dari ayah Sakuraba dan Hitaro yang sepertinya sangat setuju dengan perjodohan anaknya dengan sang pangeran Seijuro.
Melihat mobil mewah yang tadi mengantar Sakuraba pulang saja sudah mata mereka tidak berkedip, apalagi kalau Sakuraba benar-benar dinikahkan dengan Shin. Mereka membayangkan pasti kehidupan mereka akan berubah menjadi lebih sejahtera mengingat keadaan mereka selama ini yang hanya pas-pasan.
Sakuraba membuang nafas lega mengetahui keluarganya yang setuju dengan jalan yang dia ambil sekarang ini. Melihat tawa bahagia keluarganya membuatnya semakin bersemangat melewati rintanngan yang akan menghadangnya sekaligus membuatnya teguh pada pendiriannya kali ini.
'Semoga yang kulakukan ini benar-benar jalan yang terbaik...' harap Sakuraba dalam hati sambil memandang langit malam tanpa bintang melalui jendela depan rumahnya.
.
.
.
Pagi menyapa siapa saja yang mulai melakukan aktifitas mereka hari ini. Dengan sinar mentari yang menguapkan beribu tetes embun yang membuat suasana menghangat membuat Sakuraba melengkungkan senyumannya semakin lebar dihari yang sangat cerah ini. Dia melangkah dengan riang membuat orang-orang yang dilewatinya ikut melengkungkan senyuman memandang pemuda satu ini. Karena sepedanya kemarin dia tinggalkan di sekolah, terpaksa dia bangun awal karena harus berjalan kaki menuju sekolahnya.
Dengan nafas sedikit ngos-ngosan, akhirnya Sakuraba sampai di gerbang sekolah dan menyapa seluruh orang yang ditemuinya. Sampai akhirnya dia ingat dengan sepeda kesayangannya. Cepat saja dia menengok-nengokkan kepala pirangnya mencari benda berwarna jingga mencolok itu. Saat dia menemukan sepedanya berada di ujung parkiran, dia langsung melonjak riang melihat keadaan sepedanya yang baik-baik saja.
"Paman, terimaksih sudah menjagakan sepedaku." ucap Sakuraba kepada satpam sekolahnya. Satpam itu hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Sakuraba.
Tanpa Sakuraba sadari, sedari tadi ada sepasang mata memandangnya lekat dari balik jendela kelas yang berada di lantai dua. Pemuda berambut biru gelap yang dijuluki ice prince itu tersenyum samar melihat Sakuraba. Entah sejak kapan mengamati pemuda berambut pirang itu menjadi hobinya namun dia sadar betul kalau Sakuraba memang sudah menjadi obyek target pandangannya sekarang ini. Terbukti dengan kejadian pagi ini yang sangat mengejutkan. Dari berpuluh-puluh orang yang ada di bawah sana hanya Sakuraba saja yang masuk dalam penglihatannya sementara yang lainnya hanya dianggapnya sebagai angin lalu saja.
Merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya itu, Takami mengikuti arah pandang Shin yang memandang ke arah parkir sekolah. Dia hanya tersenyum maklum saat mendapati seorang pemuda berambut pirang yang sedang menjabat tangan satpam sekolah mereka entah karena apa. Pandangan matanya beralih ke arah Shin dan dia tertawa pelan saat melihat tatapan Shin melembut ketika menatap pemuda yang berada di bawah itu.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Takami harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa menyeret Shin untuk ikut bersamanya. Karena dari tadi Shin menolak untuk menemani sahabatnya itu ke kantin sekolah. Jadi kini terjadilah adegan dimana Shin meronta dari cengkeraman Takami yang menyeretnya sekuat tenaga.
Shin hanya mendengus dalam diam saat Takami tersenyum penuh kemenangan karena dapat membawa Shin ke kantin dan duduk berhadapan dengan dirinya yang sedang menyantap pesanannya. Diedarkannya mata Shin mengamati pengunjung kantin yang sangat banyak membuatnya mengusap wajahnya pelan. Saat melihat siswi-siswi mencuri-curi pandang ke arahnya membuatnya ingin segera berlari dari tempat ini dan mengurung dirinya di tempat tak berpenghuni.
Namun apa daya, Takami mengancam akan melaporkannya kepada orang tuanya kalau dia dapat nilai merah untuk tiga mata pelajaran sekaligus. Dan daripada dia harus diceramahi orang tuanya seharian penuh, dia lebih memilih untuk menemani sahabatnya itu makan di kantin saat istirahat pertama berlangsung.
Di sudut kantin, Sakuraba memandang kumpulan gadis sekolahnya yang memandang sang ice prince dengan tatapan lapar membuat orang yang dipandang sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari para gadis yang membuatnya sedikit risih. Sakuraba terkikik geli saat melihat ada seorang gadis berambut hijau muda memberi ciuman jarak jauh ke arah Shin membuat Shin sekuat tenaga menaham hasrat ingin muntahnya.
Mendengar suara tawa Sakuraba, Otawara yang sedang lahap memakan bekal makan siangnya menghentikan kegiatannya. Otawara adalah teman akrab Sakuraba sekaligus teman sekelasnya. Mengikuti arah pandang Sakuraba, Otawara melihat sang ice prince yang sedang marah-marah kepada temannya yang malah asyik makan sementara Shin sudah tidak tahan dengan suasana di tempat itu.
Melihat pandangan Sakuraba yang Otawara asumsikan mirip dengan pandangan memuja gadis-gadis yang memandang Shin, akhrirnya dia berkata kepada Sakuraba, "Jangan-jangan kau menyukainya juga ya?"
Sakuraba yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu dengan cepat membekap mulut Otawara. Mengingat temannya itu sangat bocor, dia tidak ingin teman-temannya salah sangka. Dan bisa-bisa dia dianggap aneh oleh Shin. Aneh? Takut? Kenapa? Karena dia merasa berdebar saat berada di dekat pemuda dingin yang baru dikenalnya itu. Padahal hanya sehari, namun sudah bisa membuat Sakuraba tidak berhenti memikirkannya.
.
.
.
Peluh mengalir dari pelipis menuju ke pipi kanannya karena panas yang menyengat kulit putihnya. Dengan tenaganya yang semakin menipis dia berjalan melewati pekarangan rumahnya sambil menuntun sepedanya yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Nafasnya sedikit tercekat melihat sedan hitam yang terparkir di depan rumahnya. Tangannya terulur menggapai kenop pintu rumahnya.
Beberapa detik dia menenangkan dirinya sekaligus bersiap masuk ke dalam rumahnya. Sakuraba tersenyum melihat ibu Shin yang sangat anggun sedang duduk di kursi ruang tamunya sambil melempar senyum ke arahnya. Sepertinya nyonya Seijuro itu sedang menunggu kedatangannya. Tidak ketinggalan dari pandangan Sakuraba, Shin yang duduk di samping ibunya dan anggota keluarganya yang kelihatannya sangat senang mendapat kunjungan dari kedua anggota keluarga Seijuro itu.
Dengan langkah biasa, Sakuraba mendudukkan dirinya di sebelah adiknya yang sedang nyengir lebar di depannya itu. Kemudian Sakuraba menolehkan pandangannya kedua orang yang ada di depannya masih dengan senyum canggung yang terukir di bibirnya.
"Kamu darimana saja, Saku-chan? Kami menunggumu sedari tadi." tanya ibu Shin diiringi tatapan terkejut ketiga keluarganya karena embel-embel -chan yang diucapkan ibu Shin barusan.
"Maaf, saya mengerjakan tugas di rumah teman saya tadi." jawab Sakuraba mencoba sesopan mungkin kepada calon ibu mertuanya. Ibu mertua? Sakuraba hanya blushing memikirkan hal itu.
"Oh... Ibu kira kenapa-kenapa." ucap ibu Shin lega karena sedari tadi dia khawatir dengan Sakuraba yang belum pulang padahal hari sudah mulai gelap. Karena dia tahu bahwa Shin dan Sakuraba satu sekolah namun Shin sudah sampai rumah sedari tadi sementara Sakuraba baru pulang.
'Eh? I- ibu?' teriak Sakuraba dalam hati. Hal ini sukses membuat wajahnya memanas dan dia sangat yakin jika ada semburat merah tercipta di wajahnya saat ini.
'Ah, ya tuhan. Anak ini manis sekali.' batin ibu Shin saat melihat wajah Sakuraba yang begitu- menggemaskan?
"Ehem- mulai besok kau tinggal denganku, Mayaku." ucap Shin dengan nada datarnya.
"Eh? Secepat itu?" tanya Sakuraba agak terkejut dengan pernyataan Shin barusan.
"Sebelum pernikahan, kamu harus belajar cara hidup di istana, Saku-chan." kali ini ibu Shin yang menjawab pertanyaan Sakuraba.
Sakuraba memandang kedua orang tuanya berusaha meminta izin. Dan senyumnya merekah saat mendapat anggukan semangat dari kedua orang tuanya. Ibu Shin tersenyum senang sementara Shin mengalihkan pandangannya dari Sakuraba karena tidak ingin jantungnya lepas dari tempatnya saat melihat senyum Sakuraba. Sudah berulang kali dia melihat senyum menawan dari pemuda yang akan menikah dengannya itu namun semakin lama senyum itu semakin menawan di mata Shin.
.
.
.
Angin malam dengan lembut membelai rambut basahnya. Dibaringkannya tubuhnya yang sudah sangat lelah di ranjangnya yang tidak terlalu besar itu. Dengan perlahan diedarkannya pandangannya ke langit-langit kamarnya. Tiba-tiba rasa kantuk menghampiri dirinya. Tidak mengherankan mengingat sekarang sangat kelelahan karena tidak mengistirahatkan tubuhnya dari aktifitasnya sedari tadi. Mata karamel Sakuraba terpejam siap untuk terlelap sebelum ada suara gebrakan pintu kamarnya yang membuatnya terlonjak kaget. Matanya kembali terbuka mendapati siluet ibunya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sakuraba! Ayo kita makan! Ibumu masak banyak hari ini." ucap ayah Sakuraba dengan sangat semangat. Mau tidak mau Sakuraba memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan melangkah menuju meja makan dimana seluruh keluarganya berkumpul. Walau harus dia akui kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan dari kamarnya sampai ruang makan.
Terlihat ada Hitaro yang sedang tersenyum lebar dan tawa ayah dan ibunya yang dapat menggambarkan kalau mereka sangat bahagia. Sakuraba tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Hitaro dan mengacak rambut pirang Hitaro pelan. Rasa lelah yang tadi menghinggapinya sirna sudah tergantikan semangat yang menyebar ke seluruh ototnya mendapati raut wajah penuh kebahagiaan dari keluarganya itu.
"Lihatlah, kak. Ini semua ibu yang masak khusus untuk kakak." kata Hitaro sambil menunjuk berbagai macam masakan yang tersedia di meja makan mereka.
Sementara Sakuraba hanya memandang ibunya dengan pandangan penuh tanya. "Benarkah, ibu?"
"Tentu saja. Nyonya Seijuro itu baik sekali kan? Lihatlah, ini semua bahan makanan dia yang bawa tadi. Ayo makanlah yang banyak. Bahan makanannya masih banyak sekali di dapur." jawab ibu Sakuraba diiringi tawa renyahnya.
"Iya, nyonya Seijuro itu baik sekali. Dia juga bilang akan mencukupi kebutuhan sehari-hari kita." tambah ayah Sakuraba dengan mulut penuh dengan makanan.
Sakuraba terus saja diam sambil memakan masakan ibunya itu namun pikirannya kembali tertuju pada Shin. Harus Sakuraba sadari jika tiada detik semenjak kenal dengan Shin tanpa memikirkan pemuda itu. Bahkan ketika dia hampir tertidur tadi, dia melihat sosok Shin dalam mimpinya.
'Dasar Kagi, waktu tidurpun kau sangat mengusikku. Dasar orang menyebalkan.' batin Sakuraba sambil memakan makan malamnya dengan cepat.
.
.
.
Bintang-bintang bertaburan di langit luas. Dengan sinarnya yang tidak seberapa, mereka berkelip semangat berlomba untuk menjadi yang paling terang. Pemandangan itu tidak lepas dari pandangan Shin. Dengan ditemani segelas wine di tangannya, dia duduk di bangku taman belakang istana tanpa ada seorangpun yang menemaninya.
Taman ini adalah tempat yang sangat bersejarah baginya. Di sinilah dulu dia sering menghabiskan waktu dengan Wakana sekedar berbincang dan menikmati keindahan malam yang sangat membuai seperti sekarang ini. Pandangan Shin mengabur seiring terkumpulnya air mata yang hendak mengalir dari kedua matanya. Namun sebelum itu terjadi Shin buru-buru menengadahkan kepalanya dan menenangkan dirinya. Dia tidak ingin lagi menangisi sesuatu yang tidak akan pernah kembali lagi.
Shin menolehkan kepalanya ke belakang saat dirasakannya ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Dilihatnya ibunya yang memakai dress berwarna merah jambu selutut yang sangat serasi dengan rambut biru gelapnya yang digulung ke atas.
Sosok itu mendudukkan dirinya di samping putranya dan menggenggam tangan putranya erat. Seakan tahu perasaan Shin, genggaman tangannya semakin erat. Shin memandang ibunya lekat saat ibunya tersenyum samar di tengah keremangan malam.
"Kenapa belum tidur, Shin? Besok kau harus sekolah kan?" tanya ibu Shin dengan suara lembutnya tanpa melepas genggaman tangannya.
"Aku... Ibu, apakah pernikahan yang direncanakan itu akan berhasil?" tanya Shin dengan nada ragu. Tentu saja dia merasa ragu dengan rencana ibunya itu. Pasalnya belum genap seminggu Shin mengenal Sakuraba namun tiba-tiba mereka sudah akan menikah. Mungkin memang benar pernikahan itu hanya sekedar 'main-main' saja namun tetap saja yang menghadapinya tetap akan resah.
"Tentu saja. Jujur, ibu suka sekali dengan Saku-chan. Dia anak yang baik." jawab ibu Shin semakin melengkungkan senyumnya seraya memandang langit malam yang sangat cerah itu. Semenjak pertama kali melihat Sakuraba, dia sudah mendapati aura yang sangat menyenangkan dari sosok Sakuraba.
Pernyataan ibunya barusan membuat Shin tidak mampu berkata-kata. Jujur saja dia juga berpendapat kalau Sakuraba memang orang yang menyenangkan. Rambut pirangnya yang halus mencapai tengkuknya, mata sewarna karamelnya yang bening, sifat polosnya yang apa adanya. Hanya satu kata untuk mendeskripsikannya, indah.
Dan disaat waktu yang bersamaan, Shin melihat bayangan Wakana saat memandang Sakuraba. Ya, alasan kenapa Shin tertarik dengan Sakuraba karena di dalam diri Sakuraba, Shin melihat bayangan Wakana.
.
.
.
TBC
.
.
.
Terinspirasi dari lagu berjudul How Can I Not Love You karya George Fenton, Babyface, and Robert Kraft.
. . . xXx . . .
Akhirnya satu pertanyaan terselesaikan. Namun tidak menutup kemungkinan chap yang akan datang masih dengan pertanyaan yang sama. Oh iya, 5 pertanyaan itu saya ambil juga dari lagu How Can I Not Love You.
Bagaimana? Kepanjangan? Atau kurang panjang? Saya harap tidak bosan waktu membacanya ya ^^
Sebenarnya mau lebih panjang lagi tapi saya takut yang baca malah bosen. Karena ini masih chap awal jadi konfliknya belum kelihatan jadi kalau sudah masuk konflik pasti bakal lebih panjang~
Review?
