Hiden love. . .

Moshi-moshi minna-san^^

Apa kabar semua ? . Gomen kalo updatenya sangat lama =.=

Soalnya author disibukan oleh tugas-tugas sekolah yang banyaknya bejibun+penyakit malas yang selalu kumat disaat waktu luang #plak. . .

Maafkan authormu yang malas ini

Arigato yang udah rela-relain ngereview. Yang penasaran siapa pamannya disini bakal dijelasin kok (author emang suka bkin orang penasaran).

Ya udah

Ya udah. . .

Langsung aja cekidot. . .

Bleach~Tite Kubo

Hiden Love~Reina Rukii

Pairing~Ichiruki

Genre~Romantic, Friendship, Drama, Adventure.

Chapter 2

She and He

"Paman ?"

"Inoue ?"

Keduanya saling terkejut. Begitu juga dengan Ichigo dan Rukia. Mereka sama-sama terkejut.

"Waah kebetulan sekali paman lewat sini" ucap Inoue sambil membungkukan badannya agar dapat melihat pamannya yang berada di dalam mobil. Pria yang dipanggilnya paman pun keluar dari mobilnya. Terlihatlah perawakan tubuhnya yang tinggi. Rambutnya coklat berponi dan berkacamata hitam. Ia memakai celana jeans longgar dan memakai sepatu bots yang telah kotor terkena lumpur. Sedangkan atasannya ia memakai kaos dan Jaket berwarna biru tua.

"Inoue sepupuku, ini benar kau Inoue ?" dengan tatapan tak percaya

"Iya ini aku, sudah lama aku tak bertemu paman!" jawab Inoue dengan wajah sumringah.

"Paman habis dari mana ?" tanya Inoue penasaran

"Paman habis dari kebun mengambil sayuran untuk dijual di pasar" jawab Paman itu ramah.

"Oiya kenapa kau menyetop mobil yang lewat ?" tanya pamannya penasaran.

"Aah oh hn itu aku sedang mencarikan tumpangan untuk kedua temanku" jawab Inoue cepat. Sedangkan pamannya mengalihkan pandangannya kearah 2 orang yang sedang berdiri dibelakang Inoue yang sedari tadi mendengar percakapan antara Paman dan sepupunya.

Inoue yang melihat perubahan pandangan pamannya lalu menengok kebelakang.

"Kurosaki-kun, Kuchiki-san perkenalkan ini Pamanku namanya Aizen" ucap Inoue dengan senyum yang mengembang.

"Ha. .halo paman aku Rukia Kuchiki dan yang berambut oren ini Ichigo Kurosaki" ucap Rukia dengan canggung. Sedangkan Ichigo hanya bersikap tak peduli.

"Senang berkenalan denganmu nak" ucap Paman itu tersenyum kearah Rukia. Senyumannya sangat mirip dengan senyuman yang biasa diberikan Inoue. Tapi senyum pamannya membuat Rukia bergidik.

"Aku biasa memanggilnya Paman Ijen" kata Inoue angkat bicara lalu menoleh pada pamannya lagi.

"Paman apa boleh temanku ini menumpang dimobil paman, mereka ingin pulang, mereka tersesat ?" tanya Inoue meminta izin pada pamannya.

"Oh boleh nanti akan paman antarkan kalian tapi hanya sampai Kota Karakura saja ya ?" ucap Paman Ijen meminta kepastian.

"Ya tak masalah!" ucap Ichigo enteng.

"Oh iya Inoue kau tinggal sendirian disini semenjak Ayah Ibumu meninggal kan ? tinggalah dirumah Paman ? nanti paman akan menyekolahkanmu, paman tak tega melihatmu hidup sebatang kara dihutan. Pinta paman itu sambil memelas. Ichigo dan Rukia sweetdrop.

"Hmm tidak usah paman aku bisa hidup sendiri disini" tolak Inoue secara halus.

"Ayolah Inoue aku kasihan padamu" pinta paman itu sekali lagi dengan wajah yang sangat sangat memelas.

"Iya Inoue tinggalah bersama Pamanmu, apa kau mau hidup selamanya di hutan ?" ucap Rukia meyakinkan hati Inoue agar tinggal bersama Pamannya karena Rukia sendiri merasa iba dengan nasib Inoue.

Inoue bimbang ekspresinya menampakan kebingungan

"Ya baiklah aku akan tinggal dirumah paman". Ucap Inoue ragu-ragu

"Aku akan mengambil barang-barangku dulu di dalam rumah" ucap Inoue yang langsung kembali memasuki hutan meuju rumahnya.

Sedangkan Ichigo, Rukia dan Paman Ijen menunggu di tempat tadi. Tak lama Inoue kembali dari dalam hutan sambil membawa baju-bajunya. Mereka pun memasuki mobil karena mobil bagian depan tak muat untuk ditempati 4 orang. Ichigo dan Rukia terpaksa duduk dibelakang bersama sayur-sayuran yang menumpuk. Mobil pun mulai melaju di jalan yang sangat sepi itu.

Mereka duduk bersandar pada kepala mobil. "Aku tak sabar ingin pulang dan merebahkan tubuhku dikasur" ucap Rukia dengan tatapan teduh melihat pemandangan yang sangat indah yang mereka lewati.

"Bagaimana dengamu Ichigo ?" ucap Rukia yang masih menatap kearah jalan.

"Ichigo!" Rukia merasa tak didengarkan pun mengulang memanggil nama Ichigo kemudian menoleh kearah Ichigo yang berada disampingnya.

"Yah dasar malah tidur!" keluh Rukia kesal. Diperhatikannya Ichigo yang sedang tidur. Ia tertidur, wajahnya begitu tenang bahkan kerutan di dahinya saat tidur pun menghilang. Posisi tidurnya terduduk bersandar pada kepala mobil dan tangannya ia lipat diatas dadanya. Kakinya diselonjorkan sehingga kakinya nampak terlihat panjang. Rukia memperhatikan wajah Ichigo dalam-dalam *sedalam sumur*

Mata coklat yang selalu di perlihatkan didepannya kini tertutup rapat-rapat. Terdengar suara dengkuran kecil dari mulutnya, sepertinya Ichigo sangat pulas tertidur memasuki alam bawah sadarnya. Rukia tak bisa berhenti menatap wajah Ichigo. Wajah Rukia terasa panas ia ingin sekali memalingkan wajahnya memandang objek lain namun kepalanya tak bisa bergerak membuatnya terus saja menatap wajah Ichigo tanpa berkedip sedikit pun. Kini raut kesalnya dan kerutan di dahinya yang sering Ichigo tunjukan hampir setiap hari tiba-tiba menghilang saat ia sedang tidur.

"Beginikah wajah Ichigo saat sedang tidur ?" tanya Rukia walaupun tahu takkan ada yang menjawabnya.

Ia masih tetap memandang wajah Ichigo. Rukia mulai terhanyut dalam lamunannya. Ia mengingat-ngingat kejadian yang telah terjadi kemarin saat seharian ia terus bersama Ichigo.

Saat Ichigo berusaha menyelamatkanku. . .

Saat ia mencoba mengobati lukaku, ia begitu perhatian kepadaku

Saat ia menggendongku. . .

Saat ia menyuapiku. . .

Saat ia mengusap rambutku. . .

Saat melihat bintang bersama. . .

Dan saat. . .

Wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. . .

Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menyentuh kulit wajahku. Mungkin wajahku memerah saat itu. Sebenarnya aku tak mengerti dengan getaran yang selalu terjadi saat aku berada dekat dengannya. Getaran itu menjalar keseluruh tubuhku dari Ujung kaki hingga ujung kepala dan juga jantungku yang selalu berdegup tak karuan. Kau selalu membuatku berdebar-debar.

Deg. . .

Dan lagi-lagi jantungku berdegup kencang dibuatnya sekarang ini.

"Perasaan apa ini ?"batin Rukia

. . .

. . .

Wusss. . .wuss. . .angin bertiup menyentuh tubuh kedua insan manusia itu dengan lembut. Sepertinya diantara mereka ada yang terbangun karena angin yang berhembus tadi sangat dingin. Lelaki yang memiliki warna rambut mencolok itu pun terbangun dari tidur pulasnya. Dia mulai membuka matanya perlahan lalu mengucek-nguceknya.

"Hoaaamm!" Ichigo membuka mulutnya lebar-lebar namun ia merasakan sesuatu sedang bersandar di sampingnya. Dilihatnya seorang gadis mungil berambut pendek sedang tertidur. Kali ini gantian Rukia yang tertidur.

"Wajahnya kalau sedang tidur ternyata imut sekali" batin Ichigo.

"Tunggu dulu tadi aku bilang apa ?. Imut ? ada apa denganku bisa-bisanya aku memuji midget ini imut" batin Ichigo heran.

Ichigo melihat kepala Rukia yang bergerak-gerak tak seimbang karena goyang akibat jalan yang dilalui oleh mobil ini. Ichigo merasa kasihan melihatnya. Lalu Ichigo secara perlahan merubah posisi tidur Rukia yang semula duduk bersandar, kini telah tidur telentang dan menggunakan paha Ichigo sebagai bantalannya. Kemudian ia menyelimuti Rukia dengan jaket yang tadi ia pakai, ia takut gadis ini kedinginan.

"Kau ini dengan angin yang sedingin ini kau masih tetap bisa tertidur lelap ya ?" ucap Ichigo sambil memandang gadis itu lekat-lekat.

Deg. . .deg. . .

"Ahh kenapa jantungku berdetak tak karuan lagi! Apa aku mengidap penyakit jantung ya ?" ucap Ichigo ngawur.

Ichigo menjadi agak gugup. Lalu ia beranikan diri untuk menyentuh rambut hitam legam yang berantakan akibat angin yang berhembus. Tangannya sedikit bergetar saat akan menggapai rambut milik gadis dihadapannya ini.

Akhirnya Ichigo dapat mengatasi segala kegugupan itu, ia menyentuh dan mengusapnya dengan lembut. Disingkirkannya rambut yg menghalangi pandangannya untuk menatap wajah Rukia secara keseluruhan.

Wajahnya yang nan putih bersih itu bercahaya terkena pantulan sinar matahari. Bulu matanya nan lentik namun asli *bukan palsu atau dibentuk* sangat indah dilihatnya. Bibir mungilnya yang tertutup rapat itu dapat menggoda tiap kaum adam. Ichigo terus mengusap rambut Rukia, membuat Rukia semakin nyaman dan tetap tertidur.

*tiba-tiba sule muncul tak tahu dari mana asalnya (kaya jin tomang)*

*Sule : Halo saudara kembarku!*

*Ichi : saudara kembar dari Hongkong, aku sama sekali tak mirip denganmu*

*Sule : Ohh tidak bisaaa. . . rambut kita kan sama warnanya "orange"*

*Ichi : iya tapi idungmu kelelep begitu beda denganku yg mancung dan tampan ini (narsis)*

*Sule : Ohh tidak bisaa. . .tidak bisaa*

*Ichi : lalu sedang apa kau disitu mengganggu saja*

*Sule : Boleh tidak aku mengucapkan sesuatu ?*

*Ichi : Apa yang ingin kau katakan ?*

*Sule : Prikitiewww. . . .Hahaha*

*Ichi : Sialan kau. . .Zangetsuuu. . . .*

Author : Hoiiii sudah sudah kapan lanjutnya ni cerita klo kalian ribut!

Ichi : itu sule duluan!

Sule : ohh tidak bisaaa

Ichi : Arghh akan kuhajar kau!

Author : Sudah. . .sudaaaahhh. Sule sebaiknya kau pergi dan Ichigo kau kembali akting sono!

Ichigo pun mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan sekitar dengan tatapan teduh. Satu kata yang ia lontarkan "Sejuk".

. . .

. . .

at Karakura High School class 1-2

Tampak Ibu guru sedang mengabsen tiap anak muridnya satu persatu. Namun ia merasakan ada yang kurang dari jumlah murid yang masuk hari ini. Di cek-nya kembali buku absen itu. Terlihat kolom absen Ichigo dan Rukia yang bertanda "a" (alpha).

"Kemana Kurosaki dan Kuchiki ?" tanya senpai itu sedikit berteriak.

"Aku tidak tahu Yuroichi-sensei" jawab salah seorang murid kelas itu, ia berambut merah menyala.

"Baiklah kita mulai saja pelajaran kita pagi ini"

. . .

at Rukia home

"Aduh Byakuya bagaimana ini Rukia belum kembali juga sejak pulang sekolah kemarin!" ucap seorang wanita yang mirip sekali dengan Rukia dengan nada cemas dan khawatir.

"Tenang sayang tenang!" ucap Byakuya sambil memegang salah satu pundak Isterinya.

"Bagaimana bisa tenang jika Rukia hilang lebih dari 24 jam dan tak kembali" ucap Hisana dengan panik.

"Coba saja kau telpon Isshin, teman lamamu ?" usul Byakuya kepada isterinya yang hampir putus asa itu.

"Ya baiklah" ucap Hisana lalu mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Ia membuka kontak teleponnya berharap muncul nama yang sedang ia cari.

"Ahh ini dia" tampaknya Hisana telah menemukan nomor Isshin dan langsung menekan tombol berwarna hijau.

Di kediaman Kurosaki,,,

Tiba-tiba terdengar suara nada dering ponselnya tanda ada panggilan masuk

Susis wo wo wo susis. . .

Suami sien istri. . .

Susis wo wo wo susis. . .

Suami takut istri. . .

Dilihatnya layar ponselnya itu untuk mengetahui siapa yang telah menghubunginya.

"Hisana ?" ucap pria itu..

Isshin pun menekan tombol berwarna hijau tanda kalau ia menerima panggilan tersebut.

"Moshi-moshi" ucap Isshin untuk memulai percakapan.

"Isshin ini aku Hisana!"

"iya, ada apa Hisana tumben sekali kau menghubungiku ?" tanya Isshin dari seberang

"Begini apakah Rukia ada dirumahmu ?" tanya Hisana dengan nada bicara yang penuh harap.

"Tidak ada kok, memang kenapa ?" jawab Isshin sambil bertanya balik kepada wanita yang meneleponya.

"itu ah anu. . .Rukia hilang sejak pulang sekolah kemarin, sampai sekarang ia belum juga kembali" jawab Hisana cemas

"Kemarin ?. perasaan kata Yuzu, Rukia kemarin sore kerumahku lalu pamit pulang diantar oleh Ichigo. Ichigo juga belum pulang sejak kemarin"jelas Isshin.

"Berarti Rukia bersama Ichigo ?" tanya Hisana heran.

"Kemungkinan begitu" jawab Isshin santai. Sepertinya ia tak terlalu panik karena anaknya belum juga pulang sejak kemarin.

"Baiklah kita lanjutkan pembicaraan dirumahmu ya ?" tawar Hisana.

"Baiklah, sampai jumpa!"

"Ya"

Tet. . .sambungan pun terputus karena Hisana menekan tombol merah untuk mengakhiri pembicaraan.

"Apa yang dia katakan ?" tanya Byakuya penasaran walaupun mimik wajahnya menampakan kesan yang biasa saja.

"Katanya dia tidak tahu dimana. Ichigo juga ikut hilang, kemungkinan besar Rukia bersama Ichigo sekarang" Jelas Hisana.

"Ichigo! dasar anak itu" batin Byakuya.

"Ayo kita ke rumah Isshin!" ajak Hisana sambil berdiri dari duduknya.

Mereka pun berangkat menggunakan Mobil BMW hitamnya dengan kecepatan maksimal 250km/jam. Kecepatan yang hampir menyamai kecepatan mobil balap. Tak heran jika mereka dalam waktu 5 menit telah sampai dikediaman Kurosaki.

Mereka pun memasuki kediaman Kurosaki dan melanjutkan pembicaraan mereka ditelepon tadi.

. . .

. . .

2 jam perjalanan dilalui terasa begitu lama.

"Begitu jauhnya kami kesasar. . .haha" Ichigo tertawa kecil.

Diperhatikannya kembali seorang gadis yang masih tertidur dari sejam yang lalu. Gadis itu masih memejamkan matanya. Kemudian pandangan Ichigo tertarik dengan luka ditangan Rukia. Disentuhnya punggung tangan Rukia, ia meraba luka yang baru saja kering itu. Saat Ichigo ingin melepas sentuhannya Ichigo merasa kesulitan untuk menggerakan tangannya. Ternyata Rukia menarik tangan Ichigo dan menggenggamnya agar tidak lepas *gerakan tak sadar*.

Ichigo terkejut melihat Rukia menggenggam tangannya. Wajahnya bersemu merah melihat tangannya sudah terkurung oleh genggaman Rukia. Entah kenapa seperti ada getaran listrik yang mengalir disekujur tubuhnya. Setiap sentuhan yang dibuat Rukia pasti membuat dirinya seperti tersengat listrik. Terpaksa Ichigo berada di posisi seperti ini sekarang sampai Rukia terbangun.

"Apa dia tidak menyadarinya ?" ucap Ichigo yang menyunggingkan sebuah senyuman lebar yang membuatnya sangat tampan saat ini.

. . .

. . .

Selamat datang dikota Karakura

Tertulis jelas diatas sebuah jembatan sebagai ucapan selamat datang kepada para pengunjung atau yang lainnya. Mereka telah sampai dikota Karakura. Dengan bermodal mobil tumpangan mereka dapat pulang dengan selamat. Mobil itu melaju mengantarkan Ichigo ke daerah komplek perumahannya.

Mobil itu berhenti tepat didepan sebuah rumah yang memiliki sebuah klinik kecil didepannya. Rumah itu berlantai dua (tau kan rumah siapaa ?).

"Hei midget bangun!" Ichigo membangunkan Rukia yang masih terlelap diatas pahanya. Kemudian Ichigo membungkukan badannya agar wajahnya dapat mendekat dengan wajah Rukia. Perlahan-lahan kelopak mata Rukia terbuka, nampaknya ia masih belum bisa melihat secara jelas setelah matanya lama tertutup. Rukia membuka matanya lebar-lebar.

"?" Rukia kebingungan. Otaknya belum menerima respon yang ia lihat. Dan sesaat. . .

"Aaaaaaaaaaaaaaaaa. . . . ." Rukia berteriak kencang tepat didepan wajah Ichigo. Ichigo yang juga ikutan kaget malah ikutan berteriak.

"Aaaaaaaaaaaaaaa. . . ." teriak mereka bersamaan memecah kesunyian dan mengubahnya menjadi kebisingan yang amat menganggu telinga.

Inoue dan paman Ijen keluar dari mobil saat mendengar sebuah teriakan yang amat sangat teramat kencang. Sepertinya Ichigo dan Rukia belum menyadari kalau tangannya masih bertautan. Sekilas mereka merasakan sesuatu benda yang menempel pada tangan mereka. Dengan refleks mereka melepasnya dengan cepat. Rukia masih binggung dengan apa yang baru saja terjadi.

"ke. . .ke. .napa aku tidur diatas pahamu ?" tanya Rukia dengan tampang bloon *di bunuh ruki*

"La. .lalu kenapa tangan kita berpegangan ?" tanya Rukia sekali lagi tanpa memberi kesempatan kepada Ichigo untuk menjawab pertanyaan sebelumnya.

Rukia mengerutkan keningnya, tanda ia mulai curiga.

"Kau melakukan sesuatu padaku!" tuduh Rukia tanpa bukti.

"eh enak saja kau! Jangan asal tuduh, adanya juga kau tadi yang menarik lenganku lalu menggenggamnya selama kau tidur" ucap Ichigo tak terima.

"Kau bohong! Dasar mesum" Rukia mulai meninggikan suaranya

"Tidak Rukia aku tidak bohong" bela Ichigo

"Jujur saja, kau tak perlu berbohong!" Rukia semakin memojokan Ichigo kesudut sambil menodongkan jari telunjuk kearahnya.

"Sumpah Ruk. . .suwer aku tak bohong. Jujur ini udah jujur" ucap Ichigo yang mulai ketakutan sambil mengacungkan jari berbentuk huruf "V"

"Mana kutahu kejadian itu aku kan sedang tertidur bisa saja kau mengarang cerita" Rukia terus berjalan kearah Ichigo, sedangkan Ichigo terus mundur karena Rukia semakin mendekat untuk menuduhnya.

Tiba-tiba pintu rumah berlantai dua itupun terbuka. Tampak tiga orang keluar dari rumah tersebut. Dua orang Pria dan satu orang wanita. Sepertinya mereka akan pulang. Namun langkah mereka terhenti saat melihat dua orang manusia, laki-laki dan perempuan berada diatas sebuah mobil bak terbuka.

"Rukia ?" panggil wanita paruh baya itu.

"Ichigo ?" susul pria berambut hitam pendek itu.

Ichigo dan Rukia yang merasa namanya disebut pun menoleh kearah seumber suara.

"Hisana-nee ?" ucap Rukia terkejut.

"Ayah ?" ucap Ichigo ikut-ikutan.

Tak ketinggalan Inoue dan paman Ijen pun ikut menoleh kearah sebuah rumah.

Ichigo dan Rukia turun dari atas mobil.

"Rukia. . ." Hisana langsung memeluk Rukia karena khawatir.

"ICHIGOOO. . . ." teriak Isshin hendak memeluk anak pertamanya itu dengan gaya konyol.

Bruukkk. . .Ichigo berhasil menghindar dan ayahnya jatuh tersungkur mencium aspal.

"Hueeee kenapa kau menghindar ? kau kejam sekali ayahmu ini rindu padamu!"

"Tapi aku sama sekali tak merindukanmu ayah" ucap Ichigo dengan wajah kusut *maklum mukanya blum disetrika*

"Huaaaa. . . Masaki anak kita ini kejam sekali padaku hiks hiks" sambil memeluk poster Ibunya Ichigo yang gedenya segede gajah (?). *gak tau dah dapet darimana tu poster* semua sweetdrop.

"Oni-chan. . .sudah pulang" sahut seorang anak perempuan berambut coklat berjalan menghampiri Ichigo. Mereka berpelukan melepas rindu, adiknya kemudian melepas pelukannya.

Hisana melepas pelukan Rukia

"Rukia syukurlah kau selamat! Kemana saja kau ?" tanya Hisana khawatir.

"Aku tersesat saat pulang sekolah Hisana-nee bersama Ichigo" jelas Rukia

"Kenapa kau tak menghubungiku ?" tanya Hisana cemas

"Ponselku low bet Hisana-nee jadi aku tak sempat menghubungimu"

"Selama tersesat kau tidur dimana ?" tanya Hisana penasaran

"Aku menumpang Hisana-nee, ini dia orangnya yang telah memberi kami tumpangan semalam dan memberi kami makanan. Namanya Inoue, ia sangat baik kepada kami" jelas Rukia sambil merangkul Inoue.

"Ha. .halo" ucap Inoue ramah.

"Dan yang itu adalah Paman Ijen yang telah memberikan tumpangan mobil pada kami" ucap Rukia memperkenalkan.

"Terima kasih banyak ya Inoue dan Paman Ijen kalian telah banyak membantu" ucap Hisana tulus.

"Iya sama-sama, aku senang melakukannya" ucap Inoue sambil tersenyum kearah Hisana. Wanita itu sangat mirip dengan Rukia.

Paman Ijen hanya tersenyum.

"Tapi Rukia kenapa tubuhmu penuh luka begini ?" tanya Hisana yang mulai khawatir lagi akan keadaan Rukia yang penuh luka.

"ahh ini tidak perlu khawatir sebentar lagi juga sembuh. Saat dihutan aku terluka untung ada Ichigo yang mengobatiku. Kalau tidak ada dia aku pasti sudah mati" ucap Rukia sambil melirik kearah Ichigo yang wajahnya mulai blushing.

"Jadi kau sudah menolong Rukia ya ?" tanya Hisana pada Ichigo yang sedari tadi diam tanpa kata.

Ichigo tetap diam tak tau mau berbicara apapun.

"Terima kasih ya Ichigo kau telah menolong Rukia, kalau tidak ada kau mungkin Rukia takkan selamat" ucap Hisana sambil tersenyum tulus kearah Ichigo.

"Ahh itu tak seberapa" ucap Ichigo memalingkan muka.

"Cih sombong!" batin Rukia.

"Good Job my son! Ternyata kau baik sekali mau menolong Rukia-chan. Kau memang keturunanku Hahahaha" ucap Isshin mengacungi jempolnya sambil tertawa.

Semua pun ikut tertawa. . .

*Author : Hoiii byaku lo kok diam aje ?*

*Byaku: tak ada yg perlu kubicarakan cinnn. . .(ala banci taman lawang)*

*Author: Hooo begindang*

*Readers: Woyy author cepet lanjutin ni cerita*

*Author: Iye iye sabar dikit nape*

"Hm sepertinya kami harus segera pergi, ayo Inoue" ajak Paman Ijen yang mulai memasuki mobil.

"Ah iya semuanya aku harus pergi dulu untuk mengantar sayuran" ucap Inoue dengan riangnya.

"Oh terima kasih banyak Inoue" ucap Ichigo sebelum Inoue memasuki mobil

"Ya sama-sama" Inoue tersenyum kearah Ichigo.

"Semoga kita dapat bertemu kembali Kuchiki-san, Kurosaki-kun" ucap Inoue yang mulai sendu.

"Yo Inoue" ucap Rukia merespon. Inoue masuk kedalam mobil.

"Sampai jumpa!" ucap Inoue dengan riang *dipaksain*

"Selamat jalan Inoue" ucap Isshin ikutan.

Ichigo dan Rukia melambaikan tangannya. Ada perasaan sedih di hati Inoue saat berpisah dengan mereka.

"Ayo kita pulang" ucap Byakuya yang sedari tadi membisu.

"Isshin kami pulang dulu ya" pamit Hisana.

"Ya hati-hati" ucap Isshin.

"Ichigo, Yuzu aku pulang dulu" pamit Rukia

"Yo Rukia"

"Ya Rukia-nee hati-hati"

Mereka memasuki mobil BMW hitam mengkilatnya itu. Kemudian mulai melaju menjauh dari kediaman Ichigo.

. . .

. . .

Mentari pagi itu begitu menyilaukan karena betapa cerahnya cuaca pagi itu secerah rambut seorang siswa murid SMA Karakura yang sedang berjalan hendak memasuki gerbang sekolahnya. Bertepatan dengan Rukia yang keluar dari mobil BMW berwarna hitamnya itu. Mereka pun berjalan berdampingan menuju kelas. Si rambut orange seperti biasa selalu menunjukan expresi malas dan seperti orang yang pasrah hidup dan dengan langkah malasnya itu ia berjalan. Sedangkan wanita mungil disebelahnya menampakan expresi biasa saja pada wajahnya itu, gaya berjalannya pun ia buat seanggung mungkin dengan tangan yang menenteng tas sekolahnya didepan paha kakinya. Selama mereka berjalan, mereka nampak membisu tak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka tiba dikelas dan disambut oleh.. kalian-tahu-siapa ?

"Ichigooooooooooooooooo..." seorang anak lelaki yang sebaya dengan yang disebut namanya, yang memiliki rambut berwarna coklat tua berlari menghampiri ichigo bahkan hendak memeluknya.

Sebelum kejadian yang tak diinginkan pada dirinya terjadi Ichigo hanya bisa menghindar.

Gubrakkk. . . suara dentuman keras terdengar di koridor kelas. Terlihat Keigo yang sedang terpuruk menjilat lantai (?)

"Huwaaa Ichigo kenapa kau menghindariku" ucap Keigo sambil nangis bombay meratapi nasibnya.

"Sudahlah Keigo, kau sungguh konyol" ujar salah seorang temannya yang bernama Mizuiro.

Sedangkan Ichigo dan Rukia tak peduli apa yang terjadi dengan teman mereka. Mereka terus berjalan memasuki kelas. Namun saat mereka dikelas mereka dihalangi lagi oleh laki-laki bertato dan berambut merah.

"Oii.. Ichigo, Rukia! Kemana saja kalian berdua kemarin tidak masuk ? kompakan banget deh!" tanya Renji dengan penuh penasaran.

Ichigo dan Rukia terbelalak kaget mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut temannya itu. Mereka kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. Keringat dingin meluncur dari dahi sang rambut orange. Mereka bertatapan sejenak seakan meminta alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Renji.

"Aku sakit!" jawab mereka berbarengan yang jelas semakin membuat Renji curiga.

"Hebat! Kalian tidak masuk dalam hari yang sama, masuk sekolah pun hari yang sama dan jalan berbarengan dan sekarang dengan alasan yang sama pula kenapa kalian tidak masuk kemarin! Aku curiga jangan-jangan kalian. . ." ucap Renji panjang lebar dengan tatapan menyelidik seperti sedang mengintrogasi tahanan.

"Ahh apaan sih Renji! Kau jangan berpikir yang tidak-tidak pada kami. Mungkin itu hanya kebetulan saja, ya kan Ichigo ?" ucap Rukia ngeles sambil menyikut tangan Ichigo.

"Ahh i-iya itu benar!" ucap Ichigo terbata-bata.

Namun jawaban itu tidak menyurutkan rasa penasaran yang amat teramat besar di otak Renji. Belum puas dengan jawaban mereka Renji bertanya kembali "Lalu kenapa tubuhmu penuh luka begini Rukia ? Apa yang terjadi padamu kemarin ?"

"Oh-eh-ini ya hehe kemarin aku kesandung besi langsung jatuh ketanah yang dipenuhi beling pecahan kaca, ya jadilah begini" jawab Rukia sekenanya sambil menyunggingkan cengiran paksa di wajahnya.

"Ap.." belum sempat Renji menyelesaikan kata-katanya, ucapannya telah dipotong oleh Ichigo yang angkat bicara.

"Ah sudahlah Renji kami lelah, kau terus saja bertanya dengan pertanyaan bodohmu itu!". Ucap Ichigo yang langsung menuju bangku tempat ia duduk , sedangkan Rukia menuju bangku yang berada persis disebelah bangku Ichigo.

Renji hanya bisa bengong dan diam ditempat karena heran dengan tingkah kedua sahabatnya yang hari ini sangat aneh.

Teeeeeeenggggggggggggg. . .

Bel panjang berbunyi menandakan bahwa tanda kegiatan ajar mengajar di SMA Karakura akan dimulai. Seisi kelas menjadi sunyi ketika Guru mata pelajaran pada hari itu memasuki kelas.

"Selamat pagi anak-anak" sambut Guru berperawakan tinggi dan berambut putih panjang itu kepada anak muridnya dengan ramah.

"Selamat pagi sensei" ucap seluruh isi kelas dengan kompak.

"Hmm- hari ini kalian akan mendapatkan teman baru dikelas kalian, dia seorang siswi perempuan, oke silahkan masuk!" ucap Ukitake-sensei mempersilahkan.

Pintu kelas dibuka, seorang perempuan mengenakan seragam SMA Karakura, berambut panjang dengan warna orange kecoklatan dan juga dengan dada yang yah agak besar masuk kedalam kelas. Terdengar beberapa orang langsung menggunjingkan murid baru tersebut.

"Waah cantik ya dia"

"Iya dia juga seksi" ucap beberapa anak laki-laki yang berada dikelas itu

"Halo minna-san, Namaku Inoue Orihime, mulai hari ini aku akan belajar dikelas ini bersama kalian jadi mohon bantuannya?" ucap murid baru itu dengan ramah dan wajah riang.

Ichigo dan Rukia terbelalak kaget, mata mereka berdua membesar. Kemudian mereka saling pandang satu sama lain seakan mereka berbicara melalui tatapan mata yang sulit dimengerti oleh orang kebanyakan namun hanya mereka yang tahu. Mereka mengalihkan pandangannya kedepan kelas. Dilihatnya murid baru itu yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang baik hati yang telah menolong mereka saat mereka tersesat. Mereka tak berteriak ataupun tak menunjukan respon yang berlebihan.

"Benarkah dia Inoue ? sulit dipercaya! Aku hampir tak mengenalinya karena wajahnya terlihat lebih bersih dibanding saat pertama kali aku bertemu dengannya. Ia jadi terlihat lebih- cantik" batin Rukia

"Baiklah silahkan kau duduk dibangku kosong dekat jendela itu" suruh Ukitake-sensei sambil menunjuk tangannya kearah bangku kosong yang dimaksudnya.

Inoue menurut. Ia berjalan menuju bangku yang ditunjuk oleh sensei-nya itu. Saat Inoue melewati bangku Rukia, ia terkejut.

"Kuchiki-san ? Kurosaki-kun ?" ucap Inoue yang terkejut melihat orang yang sudah menginap dirumahnya selama beberapa hari dan sudah dianggap menjadi teman bagi dirinya sendiri.

"Inoue ha-halo apa kabar?" ucap Rukia yang nampak canggung. Sedangkan Ichigo diam membisu.

"Jadi kalian sekolah disini ya ? wah kebetulan sekali" ucap Inoue yang bertambah riang.

"Mm-ya begitulah, senang bertemu denganmu lagi Inoue" ucap Rukia yang mencoba seramah mungkin.

"Aku juga senang bertemu kalian berdua disini" ucap Inoue dengan senyuman khasnya.

"Sudah ya Kuchiki-san" ucap Inoue mengakhiri percakapan antara mereka dan duduk dibangkunya siap untuk mengikuti pelajaran hari ini.

. . .

. . .

. . .

"Rukia ayo kita istirahat" ajak Ichigo kepada Rukia.

"Hum ayo, apa inoue mau ikut makan siang dengan kami ?" ajak Rukia yang sudah berdiri dari tempat duduknya.

"Boleh" ucap Inoue singkat dengan senyum terulas manis diwajahnya *Inoue prasaan senyum mulu deh*

"Aku ikut!" terdengar suara seseorang berambut merah yang tiba-tiba ada di dekat mereka.

"Renji kau ini ikut-ikutan terus!" ucap Ichigo yang agak kesal dengan kelakuan sahabatnya yang mirip monyet liar ini.

"Yasudah ayo" ajak Rukia yang sudah berjalan mendahului mereka bertiga.

. . .

. . .

"Selamat Makannnn!" ujar Inoue dengan riangnya saat membuka bekal makan siangnya. Diikuti oleh Rukia yang akan membuka bekal makan siangnya juga. Sesaat Inoue terpana melihat bekal makan siang Rukia. Matanya berbinar-binar seakan ia ingin. "Waah Kuchiki-san sepertinya bekal makan siangmu sangat enak" ucap Inoue sambil memandang makan siang Rukia hingga air liurnya menetes (?)

"Eh-Apa kau mau Inoue ?, Aku bisa memberikannya padamu" tawar Rukia dengan sikap yang dibuatnya seramah mungkin.

"Te-rimakasih Kuchiki" ucap Inoue kemudian mulai mencicipi bekal makan siang Rukia. Entah mengapa Inoue diam sejenak tanpa expresi saat menguyah dan melumat makanan yang berada dalam mulutnya. Kening Rukia berkerut, tentu mengundang penasaran Rukia yang berada dihadapannya "Tidak enak ya Inoue ?" tanya Rukia dengan hati-hati.

"Tidak, hanya saja. . ." Kata-katanya tergantung seperti sulit untuk dilanjutkan kembali. "Hanya saja. . ." ia mengulang kata-katanya lagi. "Hanya saja apa Inoue ?" tanya Rukia sekali lagi yang semakin penasaran dibuatnya. Yang lain pun ikut terdiam menunggu jawaban dari Inoue.

"INI ENAK SEKALI KUCHIKI-SAN, SUNGGUH SANGAT LEZAT!" teriak Inoue secara tiba-tiba membuat Rukia dan yang lain terkejut. Rukia menutup telinganya, Renji menutup mulutnya *entah kenapa*, dan Ichigo menutup mata untuk selamanya, tapi boong #Plakk. Matanya berbinar-binar, wajahnya berseri-seri.

"E-eh benarkah itu ?" tanya Rukia untuk memastikannya.

" ini sangat enak! Siapa yang membuatnya ?" tanya Inoue yang penasaran dan menatap wajah Rukia yang ada dihadapannya.

"Itu mm-itu buatanku sendiri" jawab Rukia ragu-ragu untuk mengakuinya. Padahal makanan yang dibuatnya ini dinilainya memiliki rasa yang biasa saja, tapi sepertinya tidak untuk lidah Inoue yang jarang sekali memakan makanan yang enak. Secara Inoue kan dulu tinggal sendirian dihutan lagi.

"Halah dia bohong! Paling-paling itu masakan kakaknya!" ejek Ichigo menghina masih dalam posisi bersandar pada batang pohon yang lumayan besar.

CTAK...urat-urat Rukia menonjol dikulit-kulit kepalanya. Tanda kalau ia kesal ataupun marah atas pernyataan Ichigo barusan.

"APA KAU BILANG BAKA JERUK JELEK ?" teriak Rukia yang kesabarannya sudah habis dimakan oleh binatang(?)

"Sttt jangan berteriak berisik tau, telingaku tidak tuli midget, mungkin kau yang tuli tidak mendengar apa yang kukatakan barusan!" ucap Ichigo membela diri.

"Eiitss sudah kalian ini bertengkar terus, kalian berdua itu sangat menganggu! Kalau kalian mau bertengkar cari saja tempat yang sepi disekolah ini supaya kalian bisa leluasa untuk melakukan KDRT" ucap Renji melerai kedua temannya yang masih tak mau berhenti untuk diam. Kata-kata Renji barusan berhasil dihadiahi dua buah deathglare dari Ichigo dan Rukia. Seakaan mereka berkata "Awas kau baboon jelek!". Sedangkan Inoue hanya tertawa melihatnya.

Renji yang telah mendapatkan dua buah deathglare sekaligus itu hanya bisa bergidik ngeri.

"Inoue apa kau sakit perut ?" tanya Renji berusaha beralih ke topik lain.

"Eh-? Eng-tidak kok, memang kenapa ?" tanya Inoue yang mulai gugup dikhawatirkan seperti itu.

"Tidak aku hanya takut kau sakit perut setelah- kata-katanya terhenti, raut wajahnya datar sebelum ia melanjutkannya. Semua orang menunggu lanjutan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. "Setelah kau memakan bekal makan siang Rukia, karena siapa tahu makanan yang dibuatnya ia masukan obat nyamuk kedalamnya" wajahnya menampakan raut yang –sulit dijelaskan-

"HUAHAHAHAAAA..." Ichigo tertawa terbahak-bahak, ia tertawa sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena ia sangat keras tertawa. Sepertinya Ichigo sangat senang dengan kejailan Renji. "Bagus Renji Hahaha" ia melanjutkan tawanya lagi sambil bertos ria dengan sahabat anehnya itu.

"Argh apa mereka itu kurang ajar" batin Rukia. ia geram kesabarannya kali ini benar-benar habis. "BABOOOON JERUKKKKKK" teriak Rukia persis didekat telinga mereka berdua, sehingga membuat mereka terdiam sejenak dan tak bergeming. Untuk menyadarkan mereka dilancarkanlah satu jurus lagi.

BLETAK.

"IYAW" refleks keduanya berteriak bersamaan. Rukia telah membuat Ichigo dan Renji tersadar dengan satu kali tendangan dibagian kepala belakang mereka masing-masing. Inoue hanya prihatin melihat nasib kedua teman barunya itu. Namun kemudian ia tertawa melihat kelakuan teman-temannya.

"Sungguh menyenangkan mempunyai teman seperti mereka" gumam Inoue yang tak terdengar oleh mereka. Tersadar dari lamunan Inoue mulai melanjutkan aktivitasnya

"Lebih baik kita habiskan makan siangnya sebelum bel masuk" ajak Inoue pada teman-temannya. Semua menurut, Rukia, Renji, dan Ichigo kembali ke sikap semula.

"Eh Kurosaki tidak makan siang ?" tanya Inoue sambil menoleh pada seorang laki-laki yang duduk disebelahnya.

"Tidak aku tidak bawa bekal" ucap Ichigo tanpa mengalihkan pandangannya ke Rukia yang sedang lahap memakan makan siangnya. Rukia tidak memedulikannya ia terus memfokuskan penglihatannya terhadap apa yang sedang ia makan.

"Ah ini masih ada makanan dari Kuchiki-san yang ia berikan padaku, apa Kurosaki mau mencobanya ?" tanya Inoue penuh perhatian.

"Tidak usah, terima kasih Inoue tapi aku tidak lapar" tolak Ichigo

Brukbukbukbuk perut Ichigo berbunyi, reflek Ichigo memegangi perutnya untuk meredam suaranya. Wajahnya merah karena malu. Renji tertawa keras lagi, Rukia diam tanpa kata, dan Inoue tersenyum penuh arti.

"Kau bohong ya kurosaki, sekarang ayo makan sesuap saja! Kau tak boleh mengosongkan perutmu sampai sesiang ini- "Sudah ku bil-" perkataan Ichigo terpotong "Diam dan jangan menolak" ucap Inoue tegas. Saat Rukia mengalihkan pandangannya dari tempat bekal makan siang yang kosong namun masih terkunyah dalam mulutnya ke arah Ichigo, saat itulah Inoue menyuapi makanan yang dibuat Rukia kedalam mulut Ichigo. Rukia terdiam, ia berhenti mengunyah makanannya malah langsung menelannya masuk kedalam lambung. Begitu juga Ichigo, ia terdiam sejenak karena Inoue menyuapinya mendadak, membuatnya tidak siap. Tapi karena makanannya telah masuk kedalam mulutnya ia mencoba mengunyahnya, merasakannya terus melumatnya. Sesaat mata Ichigo sedikit membesar, ia memandang wajah Rukia yang duduk dihadapannya. Dilihatnya wajah yang sedikit menaruh harap pada Ichigo atas masakannya.

"Bagaimana enak tidak ?" tanya Inoue yang mulai tak sabar mendengar komentar tentang masakan Rukia.

"Hmm lumayan untuk rasa Shusi" ucap Ichigo sedikit berbohong karena sebenarnya rasa shusi-nya sangat enak tapi Ichigo mengurungkan niatnya untuk mengatakannya.

Tanpa disadari Ichigo, Rukia mengukir senyuman kecil di wajah mungilnya, tapi senyuman itu dilihat oleh Renji yang berada disebelahnya. Hati Rukia kini bercampur aduk antara perasaan aneh yang muncul lagi ketika Inoue menyuapi Ichigo dengan masakan buatannya dan juga perasaan senang karena Ichigo telah merasakan masakan yang dibuat oleh dirinya sendiri.

"Hey Ichigo siapa perempuan ini ? dia pacarmu ya ?" tanya Renji asal-asalan.

"Tidak, dia bukan pacarku, dia hanya temanku kau jangan asal bicara Renji" bantah Ichigo yang tidak setuju dengan perkataan Renji. Sedangkan Inoue yang mendengar kata-kata Renji wajahnya merona merah.

"Oh-hehehe aku kan hanya bercanda, habis Inoue sangat perhatian sekali padamu" ucap Renji blak blakkan. Rukia terdiam mendengar percakapan mereka entah mengapa Rukia merasakan perasaan yang sama seperti ini tapi ia tak tahu kapan saat pertama kali merasakannya. Perasaan yang aneh, sangat menusuk relung hatinya hingga membuatnya merasa sakit dan sesak.

"Aku sudah selesai, aku akan ke perpustakaan" Rukia pergi meninggalkan tiga temannya yang masih terbengong ditempat.

"Lho ? Kuchiki-san kenapa?" tanya Inoue dengan herannya.

"Aneh, tumben dia ke perpus, kesambet setan apa dia ?" batin Ichigo sambil menatap punggung Rukia yang perlahan menjauh.

Rukia berhenti sejenak "Rukia apa yang terjadi padamu, kenapa perasaanmu aneh seperti ini saat melihat Inoue sangat perhatian terhadap Ichigo. Dan lagi kenapa dadamu sakit saat Renji mengatakan kalau Inoue adalah pacar Ichigo ? ya walaupun perkataan itu hanya berupa candaan bagi Renji namun berdampak besar pada perasaanku" batin Rukia kemudian berlari menuju Perpustakaan.

"Aku akan menyusul Rukia dulu, dah semua" Renji beranjak dari tempatnya duduk dan kemudian dilihatnya sosok Rukia yang berlari menuju bangunan sekolah. "Oii Rukia tunggu aku ikut" teriak Renji dan berlari menyusulnya.

Kini tinggal Ichigo dan Inoue berdua dibawah pohon yang mereka pakai tadi untuk berteduh dari terik matahari. Tatapan Ichigo tak mau lepas dari sosok Rukia yang terus berlari dan akhirnya masuk kedalam bangunan sekolah hingga tak terlihat lagi. Inoue mencoba untuk memulai percakapan "eng- ano Kurosaki-kun apa ada seseorang gadis yang kau sukai ?". Ichigo tak bergeming, dia hanyut dalam lamunannya akan sikap Rukia.

"Kurosaki ?" Inoue memanggil namanya lagi berusaha menyadarkannya dari lamunan. Namun orang yang dipanggil tak bergeming sedikit pun

"Kurosaki-kun ? Apa kau mendengarku ?" kali ini Inoue menaikan dua kali volume suaranya dan berhasil. Ichigo akhirnya kembali ke kenyataan.

"Ah-ya ada apa Inoue" ucap Ichigo yang baru tersadar dari lamunannya itu.

"Aku tanya apa ada gadis yang kau sukai ?" tanya Inoue sekali lagi namun wajahnya mulai merona merah lagi.

"O-oh itu ya ada seseorang, ah sebaiknya kita kembali ke kelas sebentar lagi bel" ucap Ichigo mengalihkan pembicaraan. Mereka pun bangkit dan berjalan menuju bangunan sekolah.

"Ouh-eng Inoue kau duluan saja ke kelas aku ingin ke toilet dulu sebentar, dah!"ucap Ichigo buru-buru berlari. Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya, bukan ke toilet tapi ke Perpustakaan.

. . .

. . .

Treekk...terdengar bunyi suara pintu perpustakaan disela-sela kesunyian menandakan ada seseorang yang memasuki ruangan. Seorang siswi bertubuh mungil dan berambut pendek memasuki ruangan itu tanpa permisi. Ia melangkah cepat memasuki ruangan dan mulai bergabung diantara rak buku-buku yang tertata rapi sampai menjulang keatas. Ia langsung mengambil buku-buku yang baru saja ia lihat dalam sekejap mata kemudian mengambil buku lain. Tidak tahu buku apa yang siswi itu cari, ia terus saja mengambilnya dengan asal.

Treekk..pintu perpustakaan kembali berbunyi, kali ini seorang siswa bertato dan berambut merah memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. Ia seperti sedang mencari seseorang di dalam ruangan itu. Siswa itu terus menelusuri setiap rak buku sampai akhirnya ia menemukan orang yang dicarinya.

"Rukia!" seru siswa itu memanggil nama orang yang dimaksud. Namun Rukia tidak menoleh tapi ia mendengarnya. Renji pun menghampiri tempat Rukia berada. Rukia masih asik mencari buku, seakan tidak ada orang lain di sampingnya.

"Rukia" panggil Renji tuk kedua kalinya

"Hn ?" Rukia berdehem tanda bahwa ia merespon panggilan temannya. .tapi tetap saja bola matanya tak mau lepas dari deretan buku-buku. Rukia berjalan lagi mencari tempat lain untuk menambah buku-bukunya. Sedangkan Renji terus mengikuti dan memanggil-manggil namanya sehingga membuat Rukia kesal.

"Rukia"

"Rukia"

"Apa sih Renji ? dari tadi kau memanggil namaku terus ? aku sedang tidak ingin diganggu!" kali ini Rukia menoleh dengan pandangan kesal yang ia berikan pada Renji.

"Sekarang apa yang ingin kau bicarakan ?" tanya Rukia sambil berkacak pinggang.

"Rukia, kau baik-baik saja ?" tanya Renji yang khawatir atas perubahan sikap Rukia yang mendadak.

"Hah ?" ucap Rukia yang menyunggingkan senyuman sinis kearah Renji

"Kau menemuiku hanya untuk menanyakan itu ? baiklah aku baik-baik saja, sudah ya!" Rukia kembali berbalik hendak berjalan namun Renji menarik salah satu lengannya agar ia tidak pergi dari tempat. Otomatis langkah Rukia terhenti dan itu berhasil menambah kekesalan Rukia pada kehadiran Renji.

"Apa lagi sih ?"

"Kau kenapa sih Rukia ? Tidak biasanya kau ke perpustakaan dan lagi buku-buku yang kau ambil itu buku Matematika. Apa aku tidak salah ?" jelas Renji yang berhasil membuat mata Rukia terbelalak. Tapi segera ia hilangkan rasa keterkejutannya itu dengan tatapan sinis yang lebih tajam.

"Memang kenapa ? tidak boleh hah ?". timpal Rukia membela diri. Tapi Renji malah menaruh punggung tangannya dikening Rukia.

"Apaan sih Renji ?" Rukia menepis tangan Renji dari keningnya.

"Kau kenapa sih Rukia, kau tidak seperti biasanya, ada apa denganmu ? dari tadi kau marah terus setiap kali aku bertanya" ucap Renji dengan nada yang sedikit ditinggikan.

"Sudah kubilangkan tadi aku tidak mau diganggu! Tinggalkan aku sendiri!" bentak Rukia. Renji pun mulai terpancing amarah. Ia mengambil buku-buku yang berada ditangan Rukia lalu menaruhnya dirak kosong dengan kasar.

"Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku Rukia ? kenapa setelah makan siang sikapmu dalam sekejap berubah begitu saja hah ? Kau aneh! Kau itu aneh!" Bentak Renji tak kalah kerasnya. Mata Rukia mulai berkaca-kaca namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Renji yang menyadari mata Rukia memerah pun merasa bersalah. Perlahan ia memeluk gadis dihadapannya itu. Mengelus rambutnya dengan lembut. "Maafkan aku Rukia, maafkan aku. Tidak seharusnya aku membentakmu"

Rukia hanya diam, dia terus menahan air matanya agar tidak jatuh, dan ia juga tidak ingin Renji mengetahuinya kalau ia menangis. Mereka berpelukan disela-sela rak buku. Tanpa mereka sadari, ada kehadiran seseorang yang melihat mereka dari ujung sela-sela rak buku dengan tatapan tidak suka. Orang itu mematung ditempat dan tak bergerak sedikit pun. Jari-jari tangannya mengepal kuat membuat urat-urat tangannya terlihat jelas.

Dari sikapnya terlihat bahwa orang itu

Cemburu. . .

To Be Contiuned. . .

Horeee. . Horeeee akhirnya fic ini bisa kuselesaikan juga hahaha

Sekian lama kuberusaha tuk menyelesaikannya hingga halangan melintang dari Tugas sekolah, Ulangan, dan Try Out tapi aku bisa menyelesaikannya juga Hahahaha. . .

Maaf kali ini fic'a masih agak panjang *pundung*

Untuk chapter selanjutnya aku bakal hiatus lagi nih *prasaan author doyan hiatus bgt deh* soalnya Aku bakal menempuh Try Out yang ke 2, UN, Ujian praktek dan ulangan semester err- gak kebayang betapa sibuknya diriku. Paling-paling chapter selanjutnya bakal kupublish setelah selesai UN.

Di Mohon REVIEW-nya. . .

~Arigato~