House of Lake

by Loonatic Aqueous

Disclaimer : Bleach © Kubo Tite

Genre : Horor, Drama

Rate : M (mungkin) atau T sih (?) ==a

Pairing : IchiRuki, ByaRuki

Warning : OOC, sedikit Bloody, Typos, etc

.

.

.

Summary: Kuchiki Rukia, seorang patissier dari salah satu restaurant di New York sedang berlibur di sebuah rumah danau di sebelah timur desa Rokungai. Rumah danau yang indah namun angker tersebut sedang meminta korban kembali. Akankah Rukia mengetahui cerita di balik rumah misterius itu? Sadarkah dia akan bahaya yang mengancam nyawanya?

.

.

Rukia P.O.V

"Bye, nii-sama." Belum sempat dia membalas salamku, aku sudah meletakkan gagang telepon di tempatnya lagi.

Kulangkahkan kakiku memasuki mini market itu. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba kurasakan sebuah tepukan tangan pelan di bahuku. Dengan spontan aku menoleh dan mendapati seseorang berdiri di belakangku sambil tersenyum.

Kubalikkan badanku dan sedikit mundur, "Maaf?"

"Bisa kau pindahkan sepedamu, Nona? Sepedamu manghalangi mobilku untuk keluar."

'Eh, orange?' batinku.

Kulihat seorang pria berambut jabrik dengan warna orange yang sangat mencolok. Dia menunjuk sepedaku yang aku sandarkan ke sebuah mobil berwarna merah—mobil milik orang ini.

"Ohh, gomen ne," kataku sambil sedikit membungkukkan diri.

Segera kulangkahkan kakiku menghampiri sepedaku dan menyingkirkannya dari mobilnya yang berwarna merah itu. Kemudian menyandarkannya di tempat yang seharusnya.

"Gomen, ne," kataku sekali lagi.

"Tak apa," jawabnya sambil tersenyum. Kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobinya.

Entah mengapa aku berdiri diam di tempatku dan memperhatikannya memundurkan mobil merahnya. Sebelum pergi kulihat dia tersenyum lagi padaku, dan aku hanya bisa membalasnya dengan kikuk. Setelah orang itu pergi cukup jauh aku menggeleng-gelengkan pelan kepalaku, seolah ada lalat-lalat kecil yang mengelilinginya.

"Ah, aku belanja sekalian saja."

Aku masuk ke dalam minimarket itu. Di dalamnya ternyata cukup luas, dan sepertinya cukup lengkap. Aku berkeliling sebentar sambil memutuskan barang apa saja yang ingin aku beli. Tapi aku merasa risih, ibu-ibu di minimarket ini memandangku dengan tatapan aneh sambil berbisik-bisik.

Secepat mungkin aku mengambil barang apa saja yang aku butuhkan. Setelah cukup, aku segera menuju kasir untuk membayarnya. Aku ingin sesegera mungkin pergi dari tempat ini.

.

Dengan dua kantong plastik belanjaan bergelantungan di kanan kiri stang aku mengayuh sepedaku kembali ke rumah danau. Aku tak melewati rumah kayu si penjaga kali ini, aku lebih memilih jalan memutar.

Sesampainya di rumah aku segera mengeluarkan semua isi belanjaan dari dalam plastik dan menatanya di dalam lemari pendingin. Merasa lelah dan berkeringat aku berjalan menuju ke kamar mandi mandi. Dan aku sangat amat terkejut, di bajuku terdapat ada bekas telapak tangan seseorang.

Bekas telapak tangan itu berwarna merah. Aku mengendus bagian bahu kananku yang terdapat bekas telapak tangan itu. Amis. Seperti bau… aku mengernyit heran. "Darah?" Segera saja aku melepas bajuku. Aku mengingat-ingat siapa saja yang menyentuhku. Hanya si pemilik mobil merah dengan rambut orange mencolok itu.

Seingatku, tadi tangannya tidak kotor. Dan anehnya, bekas telapak tangan ini seperti menyentuhku dari depan. Padahal jelas-jelas si pemilik mobil merah itu menyentuhku dari belakang.

Aku bergidik ngeri. Segera aku melempar bajuku ke dalam mesin cuci. Dengan tangan yang sedikit gemetar aku menuangkan deterjen dan menekan tombol on di mesin cuci.

Jantungku berdegup kencang. Aku menghidupkan shower dan berdiri di bawahnya, menyiram kapalaku dengan air hangat. Mencoba menenangkan diri. Pantas saja tadi ibu-ibu di minimarket menatapku aneh.

'Berarti bekas ini sudah ada sebelum aku masuk ke minimarket? Tapi jelas sesudah si pemilik mobil merah dengan rambut orange mencolok itu pergi,' batinku. Aku benar-benar tidak tahu dari mana asalnya.

Selesai mandi aku pergi ke dapur, kali ini aku ingin membuat cake strawberry. Aku tak ingin keluar lagi hari ini. Lagipula hari sudah hampir gelap. Aku hanya berharap tak ada kejadian aneh lagi untuk hari ini. Rasanya sudah cukup menakutkan untuk memikirkan kembali hal-hal yang aku alami hari ini. Penjaga dengan senyum musang yang aneh, pria berambut orange, dan darah yang menempel di bajuku.

"Hiii…" Aku bergidik ngeri lagi. Segera kulanjutkan kegiatan membuat cakeku ini. Untuk membunuh sepi, aku menyalakan i-podku dan kusambungkan dengan speaker mini yang memang sengaja kubawa dari rumahku. Sesekali aku ikut bernyanyi dan menari—mengikuti alunan lagu di i-podku.

.

Kali ini aku tidur normal—tidur di tempat tidur. Semalam, selesai membuat cake dan memakan hampir setengah kue buatanku itu sambil menonton acara reality show—entah apa namanya—aku memutuskan untuk tidur di kamar. Rasanya aneh tidur sendirian di kamar ini, seperti ada yang sedang mengawasiku saja. Kupikir akan sangat menyenangkan berlibur di sini, walaupun lama-lama terasa agak menakutkan juga.

Tapi aku tidak mau membuat nii-sama terlalu khawatir padaku. Dia sudah memberiku informasi untuk berlibur di tempat yang indah ini, yeah, walaupun sedikit agak tidak menyenangkan juga… Aku akan bertahan di sini. Lagipula hari liburku di sini tinggal lima hari lagi. Aku akan sering keluar rumah saja, daripada di rumah ini sendirian.

Kulihat jam tanganku yang aku taruh di meja di samping tempat tidurku, "Jam 6.30."

Kuputuskan untuk segera bangun dan membereskan tempat tidur. Setelah itu aku segera keluar rumah dan mulai jogging selama 15 menit. Sesekali kudengar suara burung yang mencicit di pepohon di sekitar rumah. Kuhirup udara sejuk pagi ini.

"Nyaman. Berbanding terbalik dengan yang aku alami kemarin. Huft…"

Setelah cukup berkeringat, aku memutuskan untuk pergi mandi. Air dingin mengguyur tubuhku, membuatku kembali bersemangat hari ini.

"Hari ini aku harus keluar lagi! Aku juga harus menghubungi nii-sama. Baik, sudah kuputuskan!"

Selesai mandi dan memakai baju santai aku pergi keluar rumah. Kali ini aku membawa mobil unguku. Saat mobilku melewati rumah si penjaga, tanpa bisa kutahan aku menoleh ke rumah itu dan mendapati si penjaga sedang menyeret sesuatu. Seperti bangkai hewan, dan tangannya belepotan darah. Tanpa menyapa aku mempercepat laju mobilku dan meninggalkan rumah kayu jauh di belakang.

.

Aku mengendarai mobilku berkeliling kota. Jaraknya hampir lima kilometer dari dari rumah danau yang aku sewa. Di sana aku memuaskan diri untuk berbelanja dan membeli bahan-bahan kue. Setelah sampai di rumah nanti aku akan membuat muffin cherry. Aku juga harus membeli soda. Hari ini aku akan menonton Chappy The Rabbit Show Spesial Edition. Yeay!

"Hei!"

Aku menoleh dan mendapati si pemilik mobil merah berambut orange mencolok yang aku temui kemarin berdiri di belakangku—lagi.

"Oh, hai," balasku singkat.

Melihatnya membuatku teringat dengan noda darah di bajuku. Kemarin, setelah aku cuci sampai tiga kalipun nodanya tidak bisa hilang. Akhirnya aku menyerah dan melipat baju itu setelah kering lalu menaruhnya di koperku.

"Kau juga tinggal di sini?" tanyanya tiba-tiba.

"Err… aku menyewa rumah danau di pinggir kota ini."

Mendengar jawabanku, dia tampak terkejut. Matanya sedikit melebar. Tapi dengan cepat dia menghapus rasa kagetnya itu.

"Begitu, ya? Mmm… kau mau makan siang bersamaku? Akan kutunjukkan padamu restaurant terbaik di kota ini," ajaknya.

"Eh? Baiklah," kataku dengan sedikit tersenyum kikuk.

.

Aku mengikuti orang berambut orange—aku belum tahu siapa namanya—itu dengan mobilku. Awalnya dia menawariku untuk naik ke mobilnya, tapi mana mungkin aku meninggalkan mobil yang juga aku sewa ini di tempat asing seperti ini, kan?

Tak lama kami berkeliling kota, kami sampai di depan sebuah kedai dengan gaya khas tradisional Jepang. Sepertinya di sini tersedia makanan khas Jepang. Setelah itu kami masuk dan mencari tempat duduk kosong, kami duduk saling berhadapan. Aku menyerahkan padanya untuk memesan makanan untuk kami.

"Oh, ya. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ichigo. Kurosaki Ichigo," ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Aku menjabat uluran tangannya itu dan membalas, "Rukia. Kuchiki Rukia."

"Kau berasal darimana Kuchiki-san?"

"Aku dari Karakura. Aku sedang berlibur di sini. Kalau Kurosaki? Apakah kau asli dari sini?"

"Aku bukan asli dari sini, tapi kakek dan nenekku tinggal di sini. Aku juga sedang berlibur sekarang."

Aku hanya mengangguk-angguk, tak tahu lagi mau bicara apa.

"Kau menyewa rumah danau itu untuk berapa hari Kuchiki-san?" tanyanya lagi setelah hening beberapa saat di antara kami.

Aku merasa sedikit terganggu dengan pertanyaannya. Tapi entah mengapa aku yakin dia bukanlah orang jahat.

"Panggil Rukia saja Kurosa—"

"Kalau begitu panggil juga aku Ichigo saja," potongnya.

"Eh? Baiklah. Aku menyewanya untuk satu minggu sejak dua hari yang lalu. Memangnya kenapa?" tanyaku.

"Mmm… Tak apa." Dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. "Di sana kan indah, pasti kau betah," sambungnya.

"Yap. Di sana sangat tenang." Aku mengangguk setuju, "Tidak seperti New York."

"New York?" tanyanya agak terkejut. Aku tersenyum sekilas.

"Ini pesanan Anda." Seorang waitress datang membawakan pesanan kami. Di bajunya terpasang sebuah papan nama, Hinamori Momo.

"Arigato, Momo-chan," ucapku. Si waitress mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan kami.

"Kau tinggal di New York?" tanya Ichigo kemudian.

"Ya! Aku bekerja di sana. Bagaimana denganmu Ichigo?"

"Hebat sekali. Aku hanya bekerja di depan komputer saja. Terkadang berurusan dengan alat musik juga."

"Ohh? Kau seorang musisi Ichigo?" Aku sedikit terkejut.

"Bukan. Aku bekerja di belakang layar."

"Komposer? Woow!" Aku terkagum padanya, Ichigo hanya tersenyum menanggapiku.

"Ichigo, kau sangat hebat tahu," ucapku sambil mengiris daging di hadapanku.

.

Siang itu aku mendapatkan teman ngobrol yang seru, kami terus mengobrol sambil menghabiskan makan siang kami. Kemudian kami berjalan-jalan di pusat kota untuk membeli barang keperluan setelah itu.

Sorenya Ichigo mengantarku pulang dengan mengikuti mobilku. Saat melewati rumah si penjaga, lagi-lagi aku menoleh. Rumah itu terlihat sepi. Mungkin si penjaga sedang pergi. Entah kenapa mengetahui kenyataan itu aku jadi merasa lega.

"Silakan duduk," kataku begitu kami memasuki rumah yang aku sewa ini.

"Baiklah."

"Mau kubuatkan coklat panas Ichigo?" tawarku.

"Hmm… Boleh."

Aku pergi ke dapur dan menyalakan kompor lalu menyiapkan sebuah teko untuk membuat coklat panas. Kutumpangkan teko itu ke kompor setelah sebelumnya kuisi dengan air dari kran. Lalu aku mengambil bubuk coklat yang akan kubuat. Bubuk coklatnya ada di lemari atas.

"Aish… Kenapa bandanku pendek sih?" gerutuku. Aku mengambil sebuah kursi dari meja makan lalu naik ke atas kursi itu dan mengambil botol bubuk coklat. Saat turun badanku goyah, seperti ada seseorang yang mendorongku.

"Aww!" pekikku. Sikuku menyenggol teko panas yang aku tumpangkan di atas kompor—aku terjerembab di atas lantai dengan siku yang memerah karena luka bakar.

"Rukia?"

Aku menoleh dan mendapati Ichigo berlari menghampiriku dengan raut muka cemas. Dia mengambil botol bubuk coklat dari tanganku dan meletakkannya di sebelah kompor lalu membantuku berdiri.

"Kau tak apa-apa?" tanyanya. Ichigo terlihat begitu khawatir.

Aku mengangguk sambil meringis. Perih juga. Dia lalu memeriksa badanku dan melihat luka bakar di sikuku.

"Tak apa-apa bagaimana? Lihat sikumu ini?"

"Sudahlah, aku tak apa-apa Ichigo…" ucapku menyakinkannya.

Aku melepaskan pegangan tangannya di bahuku. Kuambil kotak P3K di laci sebelah kananku, tapi Ichigo mengambilnya dari tanganku—mengeluarkan beberapa botol dan kapas. Dia menuangkan salah satu isi dari dalam botol itu ke kapas dan meraih sikuku yang terluka. Dengan perlahan dia mengobati sikuku.

Aku hanya bisa terdiam memandangi wajahnya. Baru kusadari iris matanya berwarna coklat musim gugur. Matanya, terasa begitu teduh. 'Kenapa dia begitu perhatian, ya?' batinku.

Setelah selesai mengobatiku, Ichigo yang menggantikanku membuat coklat panas untuk kami. Namun selama itu, dia terus saja memaksaku untuk pergi ke rumah sakit kota untuk memeriksakan luka bakar di sikuku ini. Tapi tentu saja aku menolaknya. Aku kan tidak apa-apa, hanya sedikit luka bakar. Aku sudah sering mengalaminya.

Saat cahaya matahari mulai bergeser ke ufuk barat, Ichigo pamit pulang.

"Berhati-hatilah Rukia. Oh ya, boleh aku kemari lagi besok?"

"Tentu saja, Ichigo. Senang rasanya aku bisa menghabiskan liburan ini dengan orang lain. Sebenarnya aku bosan juga di sini sendirian," jawabku.

"Kalau begitu aku akan kesini lagi besok. Jaa nee," ucapnya begitu dia masuk ke dalam mobil.

" Jaa nee," seruku sambil melambaikan tangan. Kulihat dia tersenyum dari kaca spion sebelah kanan mobilnya.

End of Rukia P.O.V

.

.

Tiga hari setelah itu secara berkala Ichigo terus mengunjungi Rukia. Sesekali mereka juga keluar bersama lagi. Atau sering juga mereka membuat kue bersama di rumah danau yang Rukia sewa.

"Besok hari terakhir kau di sini ya, Rukia?" tanya Ichigo sambil mengaduk sebuah adonan kue.

"Mengaduknya seperti ini Ichigo." Rukia meraih tangan Ichigo dan menggerakkannya sedemikian rupa agar adonannya tidak rusak. Ichigo mengamati Rukia yang sedang memegang tangannya.

"Kau mengerti Ichi—?"

Rukia mendongak.

Tanpa sengaja mata violet Rukia dan mata coklat Ichigo saling bertemu. Mereka berdua terpaku. Baru kali ini mereka berada dalam jarak yang sebegitu dekat ini. Bahkan hembusan napas hangat Ichigo begitu terasa membelai lembut pipi Rukia.

TOK TOK TOK!

Mereka terkejut lalu saling menjauhkan diri dan memalingkan muka. Muka mereka berdua benar-benar memerah. Jantung mereka juga berdegup lebih kencang dari biasanya.

TOK TOK TOK!

"A-aku akan membukakan pintu dulu," kata Rukia sambil berlari menuju pintu depan—berusaha menyembunyikan mukanya yang memerah dari Ichigo.

"I-iya." Begitu Ichigo memalingkan mukanya lagi, dia melihat Rukia sudah berlari ke depan.

Saat Rukia membuka pintu depan, dia mundur karena kaget. Dihadapannya berdiri si penjaga danau menjulang tinggi di depannya—menutupi cahaya matahari senja.

"A-ada perlu apa?" tanya Rukia tergagap.

Si penjaga itu tersenyum, bukan, dia menyeringai—senyumnya lebih mengerikan dari yang biasanya—dan menyerahkan sesuatu kepada Rukia. Dengan tangan gemetar Rukia menerima bungkusan benda yang disodorkan penjaga itu. Tanpa berkata apapun, si penjaga itu pergi. Saat itulah Rukia melihat tulisan G.I.N di punggung si penjaga.

'Seperti nama minuman saja,' batinnya. Dengan kernyitan di dahinya, Rukia membawa bungkusan benda itu ke dapur dan menemui Ichigo lagi.

"Siapa Rukia?" tanya Ichigo begitu Rukia berdiri di depan meja dapur.

"Penjaga danau," jawab Rukia singkat.

"Ohh… Paman Urahara?"

Rukia mengernyit, "Paman Urahara?"

"Ya. Nama penjaga danau ini Paman Urahara, Rukia. Aku mengenalnya. Dia itu teman lama ayahku. Kenapa dia tidak mampir? Apa dia tidak melihat mobilku, ya?"

Ichigo terus saja meracau tentang bagaimana biasanya Urahara-san akan mampir ke rumah danau untuk mengecek keadaan rumah. Dan terlebih akan menemui Ichigo kalau tahu Ichigo ada di tempat itu. Sedangkan Rukia hanya memandang ke depan, kosong. Pikirannya sedang tidak berada di tempat. Di tangan kanannya masih terpegang bungkusan dari si penjaga danau tadi.

"Rukia?" Ichigo melihat Rukia yang sedang melamun. Dia lalu menghampiri Rukia.

"Rukia? Kau tak apa-apa?" Ichigo menyentuh bahu Rukia.

Rukia menatap tangan Ichigo yang ada di bahu kanannya. Dan secara tiba-tiba dia berjalan mundur, menjauh dari Ichigo. Pegangan tangan Ichigo pun terlepas dari bahu kanan Rukia. Rukia mulai tidak fokus. Ichigo mengernyit heran. Dia tahu Rukia sedang ketakutan.

"Rukia?"

Rukia mencoba mengedipkan matanya berkali-kali—mencoba fokus.

"Mmm… I-Ichigo. Aku tak apa-apa kok."

Rukia berusaha menyakinkan Ichigo bahwa dia tidak apa-apa, tapi sepertinya Ichigo tidak yakin dengan keadaan Rukia.

"Duduklah. Ada apa Rukia? Kenapa kau tampak ketakutan seperti itu?" Ichigo terdengar sangat khawatir dengan keadaan Rukia yang berbeda dari beberapa saat yang lalu.

"Aku—"

Ucapan Rukia terputus, dan tiba-tiba matanya mendelik.

"Rukia?"

Ichigo menoleh ke belakangnya—ke arah Rukia menatap. Tapi di sana tak ada apa-apa.

.

.

Ichigo P.O.V

"Aku—"

Ucapan Rukia terputus, dan tiba-tiba matanya mendelik.

"Rukia?" panggilku. Aku benar- benar khawatir dengan keadaanya. Ada apa dengannya? Kenapa di begitu ketakutan seperti itu?

Saat aku menoleh ke belakangku—kearah Rukia menatap, di sana tak ada apa-apa. Tap kenapa Rukia seolah melihat sesuatu yang mengerikan? Aku tahu dia ketakutan, tubuhnya benar-benar terlihat gemetaran. Apa Rukia melihat 'dia'?

"Rukia?" Aku mencoba menyentuh lengannya. Tapi sedetik kemudian dia menghindar, seolah tanganku ini menyengat lengannya. Dia menoleh bingung padaku dan kembali menatap ke belakangku.

Aku mengikuti arah pendangannya. Nihil. Tak ada apa-apa di sana. Hanya dapur yang tenang tanpa ada sesuatu yang aneh sedikitpun.

KRIIINGGG!

Kami berdua terlonjak.

Ponselku berdering nyaring di meja makan di depanku. Kubiarkan ponselku berdering. Aku hanya menatap khawatir pada Rukia.

"I-Ichigo?"

Ah, akhirnya dia bersuara juga. "Ya, kau tak apa-apa?"

Rukia mengangguk, "Ponselmu berdering Ichigo."

"Aku tahu."

"Kau tak mengangkatnya?"

"Apa kau yakin kau tidak apa-apa?"

Rukia mengangguk lagi. Aku pun beranjak mengambil ponselku dan telepon dari nenekku sambil tak melepaskan pandanganku dari Rukia yang sedang sibuk membuka bungkusan yang dari tadi dibawanya.

Aku berbicara sebentar dengan nenek, setelah menutup telepon aku bingung sendiri. Bagaimana ini?

"Ada apa Ichigo? Kau kelihatan bingung?"

"Kakekku sedang kambuh Rukia, dia punya penyakit jantung. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit," ucapku lirih.

"Lalu, apa yang kau tunggu Ichi? Cepatlah pergi. Segera antar kakekmu ke rumah sakit!"

"Bagaimana denganmu?"

"Aku apa? Aku kan tidak apa-apa."

"Benarkah? Kau tidak apa-apa?"

"Kau jangan bicara yang membingungkan Ichigo. Pergilah sekarang!"

"Tapi…"

Tiba-tiba Rukia berdiri meninggalkan bungkusan yang separuh dibukanya dan menghampiriku.

"Tak perlu mengkhawatirkan aku Ichigo. Tak akan rejadi apapun padaku. Pergilah," ucap Rukia lembut, berusaha menyakinkanku.

Benarkah? Aku tahu akan terjadi sesuatu padamu Rukia, seperti yang terjadi pada adikku tahun lalu.

"Ichi?"

"Eh, ya?"

"Ck, malah melamun. Cepatlah. Nenekmu pasti sudah sangat mengharapkanmu ada di sana sekarang," katanya sambil mendorongku.

Akhirnya aku menuruti perkataanya juga.

"Berhati-hatilah Rukia. Ini bawa saja ponselku. Hubung nomor ini kalau terjadi sesuatu," ucapku menyodorkan ponselku dan menunjukkan padanya nomor ponselku yang lain.

"Tapi Ichi?"

"Aku punya ponsel lain."

"Tapi Ichigo, aku—"

Aku meletakkan ponselku di telapak tangannya. "Tak ada tapi-tapian. Aku akan pergi. Kau berhati-hatilah Rukia."

.

Aku meninggalkan rumah danau itu. Hari sudah sore. Sebelum malam aku akan kembali kesini lagi. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rukia, seperti yang terjadi pada adikku.

Flashback

September 2009

Di desa Rokungai ini ada sebuah cerita mengerikan yang dimulai pada pertengan tahun 2007. Tepatnya pada bulan Juli 2007, seorang gadis yang menyewa rumah danau yang baru saja selesai direnovasi tiba-tiba menghilang begitu saja.

Setelah dicari kemanapun tak ada yang dapat menemukannya. Lalu empat bulan kemudian dia ditemukan meninggal di sebuah gua dengan keadaan yang mengenaskan. Tak ada seorangpun yang tahu apa penyebabnya.

Kemudian kejadian yang sama terulang pada bulan Agustus pada tahun berikutnya. Kali ini, jasadnya ditemukan di sungai, di tengah hutan tiga minggu setelah dia dinyatakan hilang.

Saat diusut, kedua gadis yang menghilang secara misterius itu memilki memiliki kesamaan, yaitu; seorang ahli dalam pengolahan makanan. Gadis yang pertama baru saja membuka restaurannya sendiri dan bermaksud menikmati hasil kerja kerasnya dengan berlibur. Gadis kedua baru saja dinobatkan sebagai chef termuda di kotanya. Kemudian dari dua kejadian itu, warga desa percaya bahwa Sode no Shirayuki Ichimaru—gadis yang meninggal sebelum gadis yang pertama menghilang mencari teman.

Juni 2006 terjadi ledakan besar di rumah danau tersebut. Korbannya adalah pemilik rumah danau itu sendiri.

Shirayuki, seorang gadis pekerja berat yang hidup berdua dengan kembarannya, Gin Ichimaru atau lebih akrab dipanggil Gin saja. Shirayuki sebenarnya adalah seorang gadis yang baik dan sangat ceria. Tapi karena rumahnya terletak di hutan, dia jarang bergaul dengan warga desa. Shirayuki begitu berbeda dengan kembarannya yang bernama Gin, Gin agak pendiam dan memang jarang bergaul dengan warga desa Rukongai.

Kejadian yang menewaskan Shirayuki tersebut terjadi saat dia sedang berada di rumah sendirian, dan Gin sedang pergi berburu binatang liar. Menurut catatan kepolisian, ledakan naas itu terjadi akibat kebocoran gas. Secara garis besar pihak kepolisian menggambarkan bahwa mungkin Shirayuki mau memasak, tetapi dia tidak sadar jika gasnya bocor. Sehingga saat memetik korek api, apinya langsung menyebabkan ledakan besar. Dan nyawa Shirayuki tidak bisa terselamatkan.

Warga desa percaya bahwa arwah Shirayuki bergentayangan mencari teman. Karena, bahkan semasa hidupnya Shirayuki tak pernah memiliki teman. Yang dia kenal hanyalah kakak kembarnya itu.

.

Kemudian setahun yang lalu, adikku Yuzu, yang sangat suka dengan hal-hal yang tidak wajar seperti ingin mencari tahu, benarkah hilangnya dua gadis asing dua tahun berturut-turut itu ada hubungannya dengan Shirayuki Ichimaru.

Setelah meledaknya rumah danau itu, Gin menjual rumahnya pada orang lain dan pergi entah kemana. Selama empat tahun ini aku tak pernah melihatnya ataupun mendengar kabarnya. Sejak direnovasi, paman Urahara lah yang menjaga rumah danau tersebut. Jadi dengan mudah adikku bisa memesan rumah danau itu untuk menginap selama beberapa hari di bulan September.

"Ichi-nii… Aku sudah menyewa rumah danau itu lho…" ucap Yuzu pada suatu hari padaku.

"Apa yang kau lakukan? Kau tahu kejadian tahun-tahun lalu di rumah itu kan?" tanyaku geram.

"Yapz! Aku bahkan sudah mengadakan research, kejadian itu berulang setelah 13 bulan. Jadi setelah kuhitung, kejadian itu pasti akan terjadi lagi bulan ini," ucapnya santai dan sambil nyengir.

"Jangan main-main!" tegasku.

"Ichi-nii, aku tak akan apa-apa. Tak akan terjadi apapun padaku," kata Yuzu menyakinkanku.

Flashback End

Kalimat itu persis sama dengan apa yang diucapkan Rukia tadi.

Empat hari setelah Yuzu menginap di sana, kejadian yang tidak aku inginkan akhirnya terjadi. Adikku menghilang. Seluruh keluargaku menjadi panik. Kami kalang kabut mencari Yuzu di seluruh hutan. Beruntung, setelah tiga hari penuh kami mencarinya akhirnya dia diketemukan.

Bayangkan, kami mencari Yuzu di dalam hutan, menyisir sungai-sungai, memasuki gua-gua gelap yang ada di hutan. Anehnya, kami menemukan Yuzu di gudang rumah, tempat yang tidak kami duga sebelumnya. Saat kami menemukan Yuzu, dia sedang dalam keadaan pingsan. Tapi kami bersyukur dia selamat, hanya saja sekarang dia tidak bisa berjalan dengan normal karena kaki kanannya patah. Dia juga berubah, yang tadinya begitu ceria dan periang kini menjadi begitu pendiam. Dulu dia suka sekali mencoba resep-resep baru makanan untuk aku coba, tapi sekarang merebus airpun dia tak mau, dan dia juga tidak pernah mau untuk datang ke desa Rukongai ini lagi.

Bulan ini adalah bulan ketiga belas setelah kejadian yang menimpa Yuzu tahun kemarin. Beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya aku melihat Rukia. Entah mengapa aku jadi tertarik padanya. Dan sehari setelahnya ternyata aku bisa bertemu lagi dengan Rukia. Aku merasa ingin lebih dekat dengannya. Apakah ini yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama?

Saat kedua kalinya aku bertemu dengan Rukia di kota, aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Ternyata dia gadis yang sangat manis, dan mata amethysnya itu benar-benar menyihirku untuk terus menatapnya. Dia juga pintar memasak seperti adikku Yuzu—sebelum kejadian di rumah danau itu tentu saja. Namun aku begitu terkejut saat tahu ternyata dia adalah penyewa rumah danau yang sedang hangat dibicarakan warga desa. Oleh karena itu selama beberapa hari ini aku terus berkunjung ke rumah danau itu dan menemani Rukia. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Pertama kali aku datang ke rumah yang Rukia sewa itu, sikunya terluka. Kali kedua aku mengunjunginya, kaki Rukia terkilir. Kali ketiga, kudapati goresan di pipi kirinya. Saat kutanya kenapa, dia bilang hanya terkena pisau. Bagaimana caranya sebuah pisau mengenai pipinya? Aku benar-benar tak habis pikir.

Sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya sendirian di rumah itu. Tapi dia benar-benar memaksaku untuk pulang melihat keadaan kakekku.

"Nenek, bagaimana keadaan kakek?" tanyaku begitu aku tiba di rumah. Nenek memandangku yang datang dengan berlarian masuk kedalam rumah, dia terlihat bingung.

"Memangnya kakekmu ini kenapa?" tanya kakek yang berdiri tegak di depan pintu dapur sambil memegang gelas susu kesayangannya.

Aku mengernyit, "Bukankah—" ucapanku teputus.

Sial!

Seharusnya aku tidak meninggalkan Rukia sendirian di rumah itu.

Aku berlari kembali ke mobilku dan ingin segera kembali ke rumah danau. Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi, tak memperdulikan teriakan kakek nenekku yang berteriak-teriak di belakang sana.

End of Ichigo P.O.V

.

.

"Akh!" seru Rukia terlonjak. Lampu rumah danau itu mati secara tiba-tiba tepat setelah mobil merah Ichigo tak trlihat.

Meskipun masih sore, tetapi hari ini matahari tertutup oleh awan mendung besar yang seolah mengumumkan akan nada hujan lebat malam ini. Dengan meraba-raba dinding atau apapun yang ada di dekatnya, Rukia berjalan menuju dapur untuk mencari lilin sebagai penerangan.

Dengan tertatih dan perlahan Rukia berjalan menuju dapur. Namun…

"Argh!"

Rukia terpeleset, kepalanya terbentur lantai dan kemudian dia tidak sadarkan diri.

.

.

TBC

Author : Ahh~ akhirnya bisa update juga sebenarnya cuma mau dibikin two-shoot tapi gak sempet ngetiknya. Gomen kalo chapter sebelumnya belum kerasa suasana horornya. Semoga kali bisa sedikit terasa horornya. Thanks yang uda review chapter sebelumnya.

.

Mind to Review?