13 TAHUN LALU.

.

Dia sedang berjalan-jalan dengan kedua orangtuanya. Saat itu cuaca sangat cerah, secerah hati gadis berumur tujuh tahun itu ketika untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di taman bermain.

Suatu ketika, ia melihat seseorang dengan kostum panda sedang membagi-bagikan balon, dan ketika balon itu habis, si Panda beranjak pergi tapi anak-anak yang di sekitarnya masih mengikuti. Tertarik, anak perempuan itu tanpa sadar melepaskan tangannya dari tangan kedua orang tuanya dan pergi mengikuti si Panda juga.

Waktu ia dan sejumlah anak yang mengikuti Panda telah mendapatkan balon, ia tidak dapat menemukan orangtuanya. Ia mulai mengisak, tapi isakannya berhenti ketika ia mendengar suara yang menyapanya.

"Gadis kecil, kau kenapa?" tanya suara itu.

Anak itu mendongak, mendapati seorang wanita tua yang bungkuk sedang memperhatikannya. "Aku tidak bisa menemukan mama dan papaku."

Wanita itu mengangguk. "Baiklah, aku akan melapor pada petugas biar mereka mencarikan mama dan papamu. Sementara itu kau menunggu saja di tempatku, ya?"

Sang gadis mengangguk. Sang wanita menghampiri seseorang dengan seragam polisi. Entah apa yang ia katakan. Lalu wanita itu kembali lagi pada anak itu, mengiringnya masuk ke dalam sebuah pondok dengan papan besar di depannya bertuliskan 'RUMAH RAMAL.'

.


.

Disclaimer: Edward Kitsis & Adam Horowitz. Author tidak mengambil keuntungan.

Warning: OC, berusaha mengikuti alur canon.

.

RED
Chapter 2

by Fei Mei

.


.

SEKARANG.

.

Pagi ini aku berniat untuk sarapan di Granny's, karena aku tidak ingin lagi kena tegur ibu. Maksudku, ia sudah cukup kesal karena aku lalai membiarkan putranya bolos DAN keluar dari Storybrooke seorang diri, takutnya karena masih terbawa kesal itu ia malah memarahiku saat mendapati aku sedang memasak untuk sarapan.

Jadi ketika barang-barangku sudah lengkap, aku langsung mengendarai mobil sampai ke Granny's. Masih pagi, belum banyak orang yang datang, bahkan tadi kulihat Ruby baru mengeluarkan papan menu di depan, dan Granny sendiri masih bersiap-siap di belakang konter. Kuputuskan untuk menunggu mereka benar-benar siap dulu baru pesan, jadi sekarang aku hanya lihat-lihat kertas menu dulu.

Sambil menunggu, kulihat tiba-tiba seseorang duduk di kursi di depanku. Sheriff Graham. Ia langsung tersenyum ramah padaku.

"Kau tidak masak pagi ini?" tanya Sheriff langsung pada intinya.

Kubalas senyumnya itu. "Tidak, takutnya ibu masih kesal soal kemarin lalu tambah kesal karena aku masak pagi-pagi."

Sheriff mengangguk. "Yah, aku tahu seperti apa tampang ibumu saat sedang kesal. Makanya tadi aku agak kaget saat melihat mobilmu di parkiran."

Mobilku. Itu mobil bekas, dan bukan kubeli sendiri. Saat aku wisuda SMA tiga tahun lalu, Sheriff menghadiahiku mobil itu. Aku ingat dia dengan agak menyesal bilang bahwa tidak sanggup beli mobil yang baru, jadi ia hanya bisa beli yang bekas. Tapi aku tidak masalah, toh selama ini kupakai mobil itu tidak rewel. Ibu agak tidak senang saat tahu soal mobil itu karena berpikir bahwa Sheriff terlalu memanjakanku—aku agak setuju dengannya untuk yang satu itu—tapi ia berusaha untuk tidak marah karena melihat betapa Henry berusaha memberitahu kami kalau ia ikut menyumbangkan uang jajannya agar Sheriff bisa beli mobil itu, alias patungan.

"Hai Rozzy!" sapa Ruby yang sudah berdiri di samping mejaku—dan Sheriff—sambil memegang kertas dan pena. "Tumben sekali kau ke sini pagi-pagi."

Aku tersenyum. "Hanya mengikuti rekomendasi ibuku yang bilang sarapan di sini cukup enak."

Ruby menyengir lalu menoleh pada Sheriff. "Pagi, Sheriff. Yang biasa?" Sheriff mengangguk. "Dan kau, Roz?"

"Panekuk keju dan teh manis saja," jawabku.

Cucu Granny satu-satunya itu mengangguk dan menuliskan sesuatu di kertasnya habis itu pergi ke dapur, setelahnya kembali ke konter.

Gaya Ruby itu selalu menarik untuk dilihat. Ia punya selera fesyen yang sangat unik, lain daripada yang lain. Walau, memang sih, pakaiannya yang sekarang agak tidak sopan untuk dikenakan sebagai pelayan, tapi ia bisa menyulap seragam pelayan menjadi seperti itu.

Aku ingat pertama kali aku memutuskan untuk masuk jurusan seni rupa, aku sempat galau antara memilih seni rupa, desain grafis, atau desain fesyen. Ingin desain fesyen karena biar bisa seperti Ruby—tapi ibu tidak suka, katanya, gaya Ruby itu seperti perempuan nakal dan ibu tidak mau aku diberi cap yang sama. Untuk desain grafis ... mereka sering menggunakan komputer, sedangkan aku cukup gaptek. Yang tersisa adalah seni rupa, dan itulah jurusanku sekarang.

Ketika Ruby datang lagi dengan pesananku dan Sheriff, aku mendengar suara detak jarum jam dengan cukup keras. Langsung saja aku menyerngit.

"Ah, mungkin akhirnya ada juga yang memperbaiki jam yang di menara perpustakaan," ujar Sheriff.

Oh. Menara jam di Storybrooke selalu menunjukkan jam delapan lewat lima belas, dan jika ada suara gerakan jarum jam sekeras itu, mungkin memang dari sana.

Ruby meletakkan pesanan kami masing-masing dan kuucapkan terimakasih pelan sebelum mulai menyantap sarapanku. Kumulai dengan menyesap teh manis hangat, lalu menyendokkan panekuk keju ke dalam mulutku.

Hmm ... tidak buruk. Lembut. Mentega yang dipakai tidak berlebihan atau kurang, ini pas. Tingkat kemanisan saus karamelnya juga pas. Mungkin besok-besok aku harus mencoba membuat panekuk dengan kadar seperti ini.

"Kau sedang menjabarkan komposisinya satu-satu, ya?" goda Sheriff.

Agak tersentak, lalu kurasakan wajahku menghangat. "A-aku kebiasaan ... " Yep, kalau makan makanan buatan orang lain, aku akan benar-benar berusaha mengurai apa yang kurasakan dalam mulutku. Dan kalau makanan itu enak, aku akan mencoba membuatnya sendiri di rumah lain kali. Ibu hampir tidak pernah memasak—kecuali kalau ia ingin membuat lasagna favoritnya—, jadi sejak aku datang ke rumahnya, biasanya selalu aku yang memasak.

Sheriff terkekeh pelan, dan semakin kutundukkan wajahku dalam-dalam saking malunya.

Ketika panekuk dan tehku sudah habis, aku pun ingin menghampiri meja kasir, tapi Sheriff melarang, bilang biar ia yang bayar. Jelas aku tidak mau, tapi ia memaksa lagi, jadi aku menyerah. Kemudian aku pun pamitan dengannya untuk segera ke kampus.

.

.

Aku baru menyelesaikan kelasku untuk siang ini ketika ponselku berbunyi dan ada nama Miss Blanchard di layar ponselku. Sambil agak menyerngit aku menerima panggilan itu dengan harapan tidak ada masalah apa-apa dengan Henry.

"Halo, Miss Blanchard?"

"Rozzy, ini aku!" balas yang di seberang.

Mengerjap beberapa kali, aku sadar bahwa itu suara Henry. "Henry? Ada apa?"

"Emma ada di kantor polisi karena dituduh mencuri dari Archie!"

Lagi-lagi aku menyerngit. Emma? Oh, ya, Emma Swan, ibu kandung Henry yang semalam tiba di Storybrooke. "Dia mencuri?"

"Dituduh. Kuyakin ia melakukan sesuatu untuk Operasi Kobra! Aku dan Miss Blanchard sedang ke kantor polisi. Kau harus kemari juga, karena bagaimana pun juga kau bagian dari misi ini!"

"Um, tapi aku masih ada kelas—"

"Ayolah Rozzy! Semakin cepat semakin baik!"

Aku menghela kecil. "Baiklah."

Lalu telepon putus. Aku masih ada satu kelas lagi habis jam makan siang, dan sepertinya aku harus bolos. Jadi aku segera ke tempat parkir, masuk mobil, mengendarainya dengan cepat sampai ke kantor polisi.

Sampai tempat parkir kantor polisi, aku sudah melihat mobil Miss Blanchard terparkir di samping mobil patroli Sheriff. Di depan pintu masuk kantor juga ada Henry bersama wali kelasnya itu, kutebak mereka pasti menungguiku. Benar juga, saat aku menghampiri mereka, wajah Henry langsung menampakan ekspresi lebih riang dari sebelumnya. Jadi kami masuk sama-sama, dengan adikku itu memimpin jalan di depan.

"Hei!" sahut Henry saat kami sudah di dalam.

Aku melihat Emma sedang difoto oleh Sheriff, keduanya langsung menoleh saat mendengar seruan Henry.

"Henry!" sahut Sheriff, dengan nada terkejut karena melihat kami. "Rosalindt juga? apa yang kalian lakukan di sini?"

"Ibu mereka memberitahu Henry apa yang terjadi, lalu Henry menelepon Rose," ujar Miss Blanchard cepat.

Emma menghela. "Tentu saja. Henry, aku tidak tahu apa yang ia beritahu—"

"—kau jenius!" sahut Henry sambil mendekati ibu kandungnya.

"Apa?" tanya Emma sambil mengerjap.

"Ia berpikir kau melakukan itu semua demi Operasi Kobra," jawabku.

Wanita itu menoleh padaku dengan tatapan bingung, lalu kembali menatap putranya. "Dia tahu?"

"Tentu saja! Rozzy adalah anggota pertama untuk misi Operasi Kobra!" jawab Henry riang.

Sheriff berdeham kecil. "Maaf, aku agak bingung."

Henry menoleh pada Sheriff. "Kau tidak perlu tahu soal itu, Sheriff. Dan yang perlu kau tahu sekarang adalah Miss Blanchard akan mengeluarkan Emma dari sini."

Untuk kesekian kalinya wanita bernama Emma Swan itu mengerjap. "Benarkah? Kenapa?"

"Aku, uh, percaya padamu," jawab Miss Blanchard dengan agak gugup.

Senyum Emma mulai mengembang, lalu menyodorkan kedua tangannya yang terborgol pada Sheriff. "Yah, kau bisa lepas borgol ini, aku ada sesuatu untuk dilakukan."

.

.

Aku tidak kembali ke kampus setelahnya. Untuk apa masuk ke kelas kalau sudah sangat telat? Jadi kuputuskan untuk langsung pulang ke rumah bersama dengan Henry. Miss Blanchard kupikir juga pulang ke rumahnya, atau mungkin masih mau ke rumah sakit. Sedangkan Emma, aku tidak tahu, dia pergi begitu saja, tapi Henry yakin ibu kandungnya itu sedang mengerjakan hal lain yang berhubungan dengan Operasi Kobra.

Kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam dua belas siang lewat. Kuputuskan untuk masak makan siang. Makan sebentar, lalu sebagian lagi kumasukkan ke dalam kotak biar bisa kubawa ke balai kota untuk ibu yang masih ada di kantornya.

Ketika aku sampai di balai kota, aku melihat ibu sedang ada di taman, memungut buah-buah apel yang berserakkan. Sambil agak menyerngit aku berjalan dengan cepat menghampirinya. Kulihat salah satu pohon apel yang ada di sana telah ditebang paksa—mungkin karena itulah ibu memungut apel-apel yang ada.

"Ibu, ibu, apa yang terjadi?" tanyaku sambil ikut berlutut.

"Si Emma itu!" jawab ibu berang. "Aku sedang bekerja di kantor lalu mendengar suara berisik dari sini, ternyata ia sedang menggergaji pohon ini dengan gergaji mesin!"

Langsung saja aku meneguk ludah dengan susah payah. Emma melakukan ini? Berarti saat ia bilang bahwa ada sesuatu yang ingin ia lakukan, maksudnya adalah ini? Tapi kenapa? Aku tidak menyuarakan pertanyaan-pertanyaan itu, jadi aku hanya membantu ibu memungut apel.

"Rosalindt?" panggil suara pria. Aku mendongak, melihat Sheriff ada bersama kami. "Kupikir kau sudah pulang dengan Henry."

"Aku ke sini untuk mengantarkan makan siang untuk ibu," ujarku.

"Emma merusak properti kota, aku mau ia ditangkap," kata ibu tanpa menoleh pada Sheriff.

"Lagi?" tanya Sheriff dengan tampang tak percaya.

Aku jadi bingung. Oke, jadi Emma mencuri dari Archie, jadi Archie pasti melapor pada Sheriff. Tapi kenapa bisa ibu yang memberitahu Henry?

Ibu akhirnya menoleh pada sang pria. "Apa yang kau tunggu?!"

Sheriff menatapku dengan ragu, tapi kemudian ia menoleh pada ibu lagi. "Aku tidak yakin menangkapnya adalah rencana yang tepat. Dan aku tidak bicara soal pohonmu. Kita tidak tahu apakah dia benar-benar mencuri berkas-berkas itu."

"Oh begitu?" tanya ibu sinis.

"Maksudku, ia terlihat cukup terkejut saat aku menangkapnya," ujar Sheriff.

"Itu karena dia tidak suka tertangkap!" jawab ibu.

"Atau karena dia dijebak," kata Sheriff. "Dan jika begitu, berarti Dr Hopper berbohong. Dan jika ia berbohong, berarti ada seseorang yang memintanya."

Aku menyerngit. "Apa? Siapa?"

Ibu langsung menunjukkan telapak tangannya padaku, menandakan ia menyuruhku diam. Ia masih menoleh pada Sheriff. "Kupikir rasa tertarikmu padanya membuatmu tidak bisa membuat penilaian yang benar. Ingat—aku yang mengangkatmu menjadi Sheriff, aku bisa menarik jabatan itu dengan mudah."

Sheriff menghela. "Kalau kau ingin aku menangkapnya, baiklah."

"Bagus," gumam ibu sambil kembali memungut apel.

"Tapi dia akan tetap mendatangimu," ujar Sheriff. "Dan kutahu kau akan membalasnya, dan kau akan melakukan apa pun biar dia keluar dari sini, mungkin kau akan berhasil."

"Tidak. Aku akan berhasil," tegas ibu. "Dia putraku. Ini yang terbaik untuknya. Jika orangtua kandung Rose tiba-tiba datang, aku akan melakukan yang sama."

Wah, aku tidak pernah mencaritahu tentang orangtua kandungku, atau keluargaku sebelum masuk rumah yatim piatu, sih, jadi tidak tahu harus merasa lega atau apa.

"Aku tahu itu yang kau percaya," kata Sheriff. "Tapi jika ini berlanjut, menurutku yang akan terluka adalah Henry."

Dalam hati aku setuju. Jika ibu menjebak Emma, lalu ketahuan Emma melakukan hal yang tidak baik, antara Henry berpikir itu untuk Operasi Kobra atau malah ia sedih karena ibu kandungnya seperti itu. Jika Emma memutuskan untuk keluar dari Storybrooke dengan sendirinya, Henry akan sedih juga. Dan ini bukan lagi soal kutukan apa pun yang Henry percayai, tapi ini tentang hubungan mereka sebagai anak dan ibu.

.

.

Paling kesal, deh, kalau sedang ingin melukis, tapi ternyata cat tinggal sedikit jadi harus beli dulu. Yah, sebenarnya sebelum aku ingin melukis tadi juga tahu catnya tinggal sedikit, tapi rasanya malas saja daritadi. Biasanya aku membeli cat dan keperluan lainnya saat pulang kuliah—sedangkan tadi aku keluar lingkungan kampus sebelum kelas usai dan langsung ke kantor polisi.

Bukan untuk tugas, sih, tapi rasanya malam ini aku ingin melukis sebentar sebelum tidur. Nah, pada saat itulah aku baru ingat harus beli cat. Jadi tadi aku keluar rumah dan mengendarai mobilku ke toko seni rupa—untung masih sore.

Aku kembali ke rumah pun masih agak terang, mungkin karena baru jam lima sore. Segera aku turun dari mobil dan menjinjing kantong berisi botol cat hati-hati masuk ke dalam rumah. Baru saja aku akan membuka pintu rumah, pintu itu langsung terbuka dari dalam. Aku agak kaget karena pintu itu dibuka dengan tergesa-gesa.

Bisa langsung kulihat Henry dengan pipinya yang basah dan mata yang agak merah di depanku. Ia menangis. Anak itu segera memelukku sambil mengisak. Jelas aku bingung.

"Henry—hei, kau kenapa?" tanyaku cemas sambil mengelus punggungnya. Kurasakan kepalanya menggeleng. "Um, kau mau keluar rumah sekarang?" Ia mengangguk. "Oke, ayo."

Kutuntun Henry masuk ke mobilku, dan aku menaruh kantong catku di jok belakang. Setelah siap, aku mengendarai mobilku keluar parkiran rumah lagi.

Karena tidak tahu mau kemana, dan Henry juga tidak bilang mau ke mana, jadi aku asal pilih jalan saja. Sesekali sambil menyetir aku melirik adikku lewat sudut mata, ia sudah tidak menangis, masih sesunggukkan tapi sudah lebih tenang.

"Kau mau es krim?" tanyaku. Henry menggeleng. Aku menghela. Kuingat Sheriff paling bisa menenangkanku saat sedang sedih, membujukku untuk cerita. Tapi sepertinya aku tidak punya kemampuan yang sama untuk adikku sendiri. "Um, kau mau cerita?"

"Emma," gumam Henry. Oh, bagus, dia mau langsung bicara tanpa dibujuk.

"Ada apa dengan Emma? Tadi dia datang? Aku tidak melihat mobilnya ... " ujarku.

"Emma bilang pada ibu bahwa aku gila."

Aku menyerngit. "Ap-apa?"

"Dongeng, kutukan. Emma bilang aku butuh bantuan untuk bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Dia tidak tahu kalau aku mendengarnya dari balik pintu."

"Oh, Henry ... "

"Rozzy, kau percaya aku, kan?"

Kutatap ia yang menatapku penuh harap. "Aku selalu percaya padamu, Henry," kataku. Iyalah, mana bisa aku bilang 'tidak' untuk saat ini?

"Operasi Kobra sekarang hanya kau dan aku lagi, Rozzy," gumam Henry.

"Uh, yah, omong-omong tentang Operasi Kobra, seingatku ini adalah jam temumu dengan Dr Hopper. Kau mau ke sana?" Henry menggeleng. "Kau tidak takut dia melapor pada ibu lalu ibu menghukummu kalau kau bolos sesi?"

Henry menghela. "Kalau kau ikut ke sana, aku mau."

Aku tersenyum kecil.

.

.

"Kau yakin tidak mau bicara tentang itu?" tanya Dr Hopper.

Henry dan aku sudah duduk di kantor Dr Archie Hopper mungkin sejak lima belas menit yang lalu. Adikku ini tidak mau menjawab pertanyaan Dr Hoppter sama sekali, bahkan kadang ia pura-pura tak mendengar.

Aku hanya pernah sekali ikut masuk dan duduk saat Henry sedang sesi di sini, dan itu pun adalah ketika pertama kalinya ibu membawa adikku ke sini. Ibu tidak ikut menunggui di hari pertama Henry, jadi aku bisa ingat betapa menggebu-gebunya anak ini cerita tentang dongeng-dongeng yang ia baca. Sungguh berkebalikkan dengan yang hari ini, Henry tampak tak begitu bersemangat. Kuyakin ia masih sedih soal Emma.

Dr Hopper mengambil payungnya yang terlipat rapi. "Kau tahu, payung ini seperti jimat keberuntunganku. Apa ini yang membuatmu berpikir aku adalah Jiminy Cricket?" pancingnya. Huh, kupikir itu cara yang cerdas.

"Kupikir kau bukan siapa-siapa ..." gumam Henry lesu. Oke, jadi pancingan itu tidak berhasil.

Pintu diketuk dari luar, Dr Hopper langsung membuka pintu kantornya, dan aku langsung bisa melihat tampang Emma yang cemas.

"Miss Swan!" pekik Dr Hopper pelan. "Tunggu, aku bisa menjelaskan, Walikota memaksaku—"

"—Aku tahu," potong Emma. "Jangan khawatir, aku tahu." Lalu ia menoleh pada Henry. "Henry, aku mau minta maaf."

Hnry menoleh padaku. "Rozzy, bilang pada Emma bahwa aku tidak mau bicara dengannya."

Kugigit bibir lalu meliriknya. Emma menghela. Mr Hopper masih berusaha menghalangi wanita itu masuk.

"Miss Swan, jika dia tahu kau ada di sini—"

"Masa bodoh dengan dengan dia," umpat Emma lalu menerobos masuk ruangan, menghampiri Henry. "Henry, ada satu alasan kenapa aku tetap di sini. Kau. Aku mau mengenalmu."

"Kau pikir aku gila," ujar Henry.

"Tidak, kupikir kutukannya yang gila," kata Emma. "Dan memang begitu. Tapi, itu bukan berarti tidak benar. Sulit untuk memita orang percaya pada sesuatu, tapi ada ada banyak hal gila di dunia ini. Jadi entahlah, mungkin itu benar."

"Tapi kau bilang pada mamaku—"

"—apa yang ia ingin dengar," potong Emma.

Aku menyerngit. "Apa?"

Emma mengangguk padaku lalu menoleh pada putranya lagi. "Itu benar. Dan jika kutukannya nyata, satu-satunya cara untuk untuk menghancurkannya adalah dengan membiarkan Evil Queen berpikir bahwa kita tidak percaya. Dengan begitu, dia tidak akan mengincar kita."

"Dia tidak akan curiga," gumamku.

Ia mengangguk lagi padaku. "Bukankah itu termasuk dalam Operasi Kobra? Menjatuhkannya?"

"Cerdas!" sahut Henry, spontan riang.

Emma mengeluarkan beberapa lembar kertas dari jaketnya. Kupikir mungkin itu lembaran sobekan halaman dari buku dongeng Henry yang pernah anak ini ceritakan. "Aku sudah membaca halaman-halamannya, dan, Henry, kau benar, mereka berbahaya," kata Emma. "Hanya ada satu cara biar mereka jangan menemukannya." Ia melempar lembaran-lembaran kertas itu dalam perapian yang menyala, membiarkan api melahap kertas-kertas itu. Setelah itu Emma tersenyum. "Sekarang kita punya keuntungan."

Henry langsung bangkit dari kursinya dan memeluk ibu kandungnya. "Aku tahu kau di sini untuk menolongku."

Dan Emma membalas pelukan itu. "Itu benar, Kid. Benar. Dan tidak ada, bahkan kutukan sekali pun, yang akan menghentikannya."

Langsung saja aku tersenyum kecil melihatnya. Henry selalu ingin tahu dan menemukan ibu kandungnya. Dan sekarang ia telah menemukannya, malah sedang memeluknya. Kutahu Henry pasti senang sekali. Tapi ... rasanya ada yang ganjal. Bukan, bukan soal Henry, tapi soal Emma.

Aku berdeham. "Oke, jadi sampai sini saja sesinya hari ini?" tanyaku sambil melirik Dr Hopper.

Dr Hopper mengerjap. "Apa? Oh, kau yakin?"

Kuangkat bahu. "Setidaknya masalah Henry yang satu ini sudah selesai, kan?" Kudapati Henry menyengir padaku.

"Oh, eh, baiklah, sampai jumpa besok, Henry," ujar Dr Hopper gugup. "Hati-hati di jalan, Rose, Miss Swan."

Jadi kami bertiga keluar dari kantor Dr Hopper. Emma langsung menuju mobilnya, sedangkan Henry dengan riang masuk mobilku. Aku tidak langsung masuk mobil, tapi melongokkan kepalaku ke dalam.

"Henry, kau tunggu di sini sebentar, aku ingin bicara dengan Emma," ujarku. Ia menyerngit. "Hanya ingin berkenalan. Kami belum benar-benar berkenalan, kan?" Anak itu langsung tersenyum riang lagi.

Dengan cepat aku menghampiri Emma yang baru membuka pintu mobilnya. Ia menyadari aku menghampirinya, jadi ia menutup pintu mobilnya lagi dan tetap di luar.

"Hai," sapanya. "Rozzy, kan? Atau, Rose? Um, Henry cerita banyak tentang kau sejak dari Boston."

Aku tersenyum. "Rosalindt. Henry memanggilku Rozzy, dan yang lain kebanyakan hanya Rose."

Ia mengangguk. "Keren. Ada apa?"

"Aku tidak ingin menuduh," mulaiku, "tapi aku tahu kau tidak begitu sungguh-sungguh." Ia menyerngit. "Aku tahu kau bukannya menganggap kutukan itu gila, kau menganggapnya tidak ada dan hanya omong kosong."

"Rose—"

"—aku tidak akan bilang Henry," potongku. "Tapi, kalau kau memang benar tidak percaya soal itu, bisakah kau tetap percaya pada Henry? Aku juga tidak percaya pada kutukan itu, Emma, tapi aku berusaha mendengarkan apa yang Henry katakan seaneh apa pun—kuharap kau juga melakukannya, tanpa kepura-puraan. Jika kau tidak bisa, kau harus langsung bilang padanya. Tidak masalah jika hatinya terluka sekarang, setidaknya kau tidak membuatnya melayang tinggi dan ia terjatuh parah. Mungkin yang hari ini sudah menjadi rencanamu untuk ibu kami, tapi sebisa mungkin aku tidak ingin melihatnya sesedih tadi," jelasku panjang lebar.

Perlahan Emma mengangguk. "Aku janji tidak akan membuatnya sedih." Lalu ia tersenyum kecil. "Dia beruntung punya kakak angkat sepertimu." Aku tersenyum kecil. Dia berdeham pelan. "Tapi seingatku Evil Queen tidak punya anak, kan?"

Aku mengerjap lalu terkekeh kecil. "Oh, tidak, tidak. Ibu mengadopsiku dan Henry di tempat dan hari yang sama." Emma menggumamkan 'oooh' panjang sambil mengangguk. Sekarang giliranku yang berdeham. "Eh, aku harus segera mengantar Henry pulang. Selamat malam, Emma."

Ia tersenyum dan aku pergi, sambil berharap bahwa tidak ada satu pun perkataanku yang menyinggungnya. Atau malah sebenarnya aku menyinggungnya tadi?

.


.

TBC

.


.