"Ayo!"
Setelah sepersekian detik penuh kecekaman yang melemaskan raganya, Yixing pun kembali mendapatkan kekuatan serta kesadarannya. Keduanya pun melesat keluar dari pintu depan.
Namun derap kaki mereka harus terhenti secara paksa.
Di depan rumah Keluarga Zhang, banyak orang-orang, ironisnya para tetangga sekitar, yang berdiri menghadap rumah. Mereka semua menatap keduanya dengan mata hitam mengerikan itu. Seperti mayat hidup, menakutkan.
Kakak-adik itu membatu di tempat ibarat mendapat tatapan dari Medusa, merinding dan diliputi ketakutan besar dalam diri mereka.
'Kali ini, demi Tuhan,' batin Yixing.
Ia akan benar-benar pingsan!
"Bagaimana, ge?" tanya Tao. Kedua tangannya yang mencengkram lengan sang kakak makin mengerat. Ia benci situasi ini. Ia benci menjadi sosok yang tak ada bedanya dengan anak kecil yang masuk rumah hantu. Tapi ia bisa apa sekarang?
Pria itu mendesah sekilas, sebelum menelan ludahnya mentah-mentah. Barangkali saliva yang tertelan ikut melunturkan paranoia yang meliputi dirinya, "Tidak apa-apa. Gege tidak akan melepaskan tanganmu," bisiknya pelan.
Kakak beradik itu saling mengeratkan genggaman pada satu sama lain. Kemudian, mereka pun melangkah dengan cepat melalui orang-orang itu, menuju jalan yang nampaknya lebih longgar di sebelah kanan.
"God's belong are foolish,"
Yixing mengacuhkan kalimat itu, berusaha untuk tetap fokus pada jalan keluar. Jangan sampai kata-kata mereka menggoyahkan benteng keberaniannya.
"Sold your soul to Demon,"
Tao menatap nanar anak kecil itu, ia ingat. Namanya Linfeng. Kediamannya dekat taman bermain, tak jauh dari rumahnya. Ia sering melihatnya bersama teman-temannya bermain ketika pulang sekolah. Tapi sekarang, anak ceria itu telah lenyap. Ia tak ada bedanya dengan Toshio dari Ju-On. Atau malah lebih seram lagi.
"Only Him the Mercy and Affection,"
Salah seorang dari mereka, seorang pria paruh baya dengan kepala miring ke sisi kanan atas, mencengkram pundak Yixing. Rahangnya lantas membuka lebar, menampakkan barisan gigi runcing tajam yang rapat namun berantakan. Mengeluarkan auman keras yang menakutkan.
"Lari!"
Inspired by The Stain and Legion
Ajeng Hyakuya proudly present
x
x
Chained Up : Demon Slaves
Chapter 2
'RUN AND FIGHT'
x
x
Disclaimer : All characters belong to their God, parents, and fans
Genre : Horror, Suspense, Angst, Romance, Mystery
Cast : EXO members and SM artists
Pair : SuLay, HunHan, and others
Rate : T+ (for story) and M (for blood, horror, and sexual scene)
Warning : Shou-ai (Boys Love), Typos, OOC, AU, dll.
x
x
x
If you don't like, just don't read
If you like, just read
I'm not force you to give a review
But i will very happy to get a review sincerely from your deep heart
x
x
This work is pure from my mind and doesn't copy any fanfiction
x
x
x
Deru napas yang cepat dan berat terdengar kentara dari balik dinding kokoh sebuah gudang penyimpanan yang terbengakali. Kedua Zhang bersaudara nampak terduduk lemas bersandarkan dinding kusam berhias lumut salah satu sisi gedung.
Yixing menarik satu napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sebisa mungkin menormalkan tempo pernapasannya seusai pelarian mereka yang memacu adrenalinn dan cukup menguras energi.
Setelah memastikan sang adik menjadi lebih tenang, ia pun melayangkan pertanyaan yang telah terpendam lama dalam kepalanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Tao? Kenapa semuanya tiba-tiba-"
"Tadi, baba dan mama berada di pekarangan rumah, menikmati hujan," sela pemuda bermata panda itu. Nada suaranya terkesan begitu enggan untuk menceritakan kembali persitiwa beberapa waktu lalu. Tapi Tao bukanlah tipikal saudara yang mau membuat kakaknya tersiksa oleh ketidaktahuan, "Setelah hujan reda dan keduanya masuk rumah, baba tiba-tiba merasa kepalanya sangat pusing,"
"Lalu sesuatu yang mengerikan terjadi,"
Anak sulung keluarga Zhang itu masih menutup mulut, membiarkan saudara bungsunya itu menyelesaikan ceritanya.
"Baba mulai bertingkah aneh. Ia terus menggeram dan menjadi sangat agresif. Sampai aku dan mama tak punya pilihan lain selain menguncinya di dalam kamar,"
Oh, jadi begitu ceritanya.
"Aku sangat takut, ge," isak Tao, air matanya menetes satu. Pemuda dengan mata tegas namun lembut itu mulai terseguk-seguk. Sepertinya berusaha untuk tidak melampiaskan tangisannya dengan raungan keras seperti orang menangis pada umumnya. Dan yang jelas itu lebih sakit daripada melampiaskannya.
Yixing pun memeluk sang adik yang bermandikan peluh dingin. Rasa sendu terpancar jelas dalam manik kelabunya.
Kenapa hidup mereka harus berubah menjadi serumit ini?
...
Seorang pemuda berlari dengan putus asa menyusuri jalan sempit antar gedung-gedung tinggi. Air muka bingung dan panik tercetak jelas dalam rupa manisnya.
Sedangkan di sisi lain, sebuah bayangan gelap melesat bak elang, terus mengincar sang mangsa hingga terdapat sebuah celah dan kemudian sepasang kaki bercakarnya akan mengurung mangsa itu dalam cengkramannya.
Lelaki dengan hamparan kulit seputih susu itu berusaha untuk memekikkan kata 'tolong'. Namun sayangnya, saat ini ia tak bisa berpikir dengan logis dan matang. Otaknya tak bisa memerintahkan saraf pita suaranya untuk bergetar. Yang ada saat ini di dalam otaknya hanyalah kabur, belok kanan, belok kiri, lurus, seterusnya sampai ia tak dikejar lagi oleh makhluk misterius itu.
Ia terus memaksakan tubuh kurusnya untuk tetap berlari. Meski kakinya sudah terasa begitu berat dan pegal.
Ia tahu dirinya sudah tidak kuat lagi.
Ia ingin berhenti, tapi ia tak bisa berhenti di saat maut hampir menjemputnya!
Tanpa ia sadari, makhluk misterius itu berhasil mencapai belakang tubuhnya. Bayangan hitam gedung yang jauh lebih gelap menutupi wujud aslinya, tak membiarkan siapapun menyaksikannya. Kecuali rahang manusia yang terfokus pada bibir seksi yang menggairahkan.
"Luhan ..." desah sosok itu tepat di kepingan telinga kirinya. Singkat dan sepintas, namun begitu kental oleh obsesi dan nafsu.
"Jangan mendekat!" pekik sang lelaki.
Tubuhnya sontak berbalik ke arah belakang. Memberanikan diri untuk menatap langsung sosok yang tak ada lelah-lelahnya mengejarnya.
Namun ia tak mendapati apapun di sana.
Kosong.
'Ke mana perginya sosok itu?' pikir Luhan.
Pandangannya masih terfokus pada seluruh sudut jalan sempit itu. Luhan memilih untuk diam di tempat, menstabilkan hembusan napasnya yang tidak karuan setelah berlarian sejak menit yang lalu.
"Kenapa makhluk seperti manusia itu tahu namaku?" gumamnya, bertanya pada dirinya sendiri.
Ia kembali mengalihkan pandangan ke sekitar tempat itu. Memastikan tak ada satupun makhluk menakutkan yang menungguinya ataupun bersiap menerkamnya.
Sebaiknya ia segera mencari tempat yang aman.
...
"Tao, kau tahu tempat yang .. aman mungkin?"
Yang ditanya terkesiap sejenak, berpikir, sebelum akhirnya mengutarakan pemikiran yang didapat otaknya, "Kurasa tempat yang jauh dari keramaian. Tapi entah, ya?"
Yixing mendesah singkat, sedikit kecewa dengan jawaban sang adik. Tapi mau bagaimana? Ia tak bisa memaksa Tao yang memang tidak tahu banyak.
Beberapa detik kemudian, langkah santai keduanya harus terinterupsi ketika Yixing membentangkan lengan kirinya, mencegah saudaranya itu berjalan lebih jauh. Yang ia lakukan secara mendadak itu jelas bukan tanpa alasan.
"Sembunyi!" perintahnya setengah berbisik.
Keduanya pun dengan cepat menghampiri jalan buntu kecil dengan tumpukan kayu yang berserakan.
Seorang, sepertinya salah satu korban fenomena wabah misterius hari ini, melintas. Langkahnya nampak begitu lesu, seperti tak punya tenaga.
"You can run away," racau orang itu sebelum berhenti beberapa meter dari sisi ujung jalan tempat Zhang bersaudara bersembunyi. Tubuhnya membelakangi mereka.
"But once a target, forever will be found,"
Tao dan Yixing lantas saling memandang satu sama lain. Saling menanyakan lewat pandangan apakah mereka memikirkan hal yang sama mengenai dua rangkaian kata-kata barusan.
Seolah memanfaatkan satu-dua sekon kelengahan mereka, pria paruh baya itu pun berbalik dalam satu kedipan dan menyerang ke arah mereka.
"Menghindar!"
Lagi-lagi Yixing menarik lengan Tao seperti yang ia lakukan di rumah beberapa saat yang lalu. Membuat penerkam mereka menabrak dinding jalan yang kosong.
Yixing reflek merentangkan tangannya, kode bahwa ia takkan membiarkan adiknya menjadi korban manusia jadi-jadian itu. Tremor ketakutan kembali menjangkiti tubunya.
Tidak.
Tidak.
Ia tidak boleh takut kali ini!
Ketika penyerang mereka memutar badan, spontan terdorong oleh rangsangan syaraf tak sadar, Yixing pun mengambil sebuah kayu berujung tajam dan menghujamkannya telak ke dada orang itu.
Si korban hujaman pun ambruk seketika. Darahnya yang sehitam matanya mulai merembes keluar, menggenangi tubuh tak bernyawa itu.
"Wow ... " decak Tao kagum.
Keduanya saling memandang satu sama lain. Yixing melemparkan senyuman penuh arti dan Tao hanya bisa tersenyum takjub atas kehebatan yang didemonstrasikan kakaknya barusan.
Kemenangan manis itu sayangnya tak bertahan lama karena ketika mereka keluar dari jalan buntu itu, beberapa orang yang terinfeksi-oke, sekarang disebut saja zombie, dengan langkah terseok-seok menuju ke arah mereka.
"Tao, kau masih ingat jurus-jurus wushu-mu?"
"Tentu saja,"
"Kau masih takut pada mereka?"
Tao mengangguk pelan.
"Tapi kau tak keberatan untuk menghajar mereka?"
"Aku usahakan, iya"
"Oke. Aturannya sederhana. Kalau jumlah mereka kurang dari lima, kita serang mereka. Tapi jika jumlah mereka lebih dari lima, kita lari. Dimengerti?"
"Dimengerti, gege,"
Kedua bersaudara Keluarga Zhang itu saling menyiapkan kuda-kuda bertarung.
"Ayo, kita hajar mereka,"
...
"Rencanamu sukses besar sepertinya,"
Suho menolehkan kepala sedikit ke arah belakang. Ia sudah tahu siapa yang datang, ia kenal betul dengan suara beratnya. Dan alasan ia mengalihkan pandangannya sejenak hanya untuk melihat rupa rekannya itu.
Tapi, dibilang rekan, ya, bukan rekannya juga, sih.
Hanya sesama bangsa iblis.
Yang kebetulan saling menghormati antara satu dengan yang lain.
"Jangan khawatir, Kris. Mereka bukan hanya budakku, tapi juga budakmu dan para iblis lainnya. Budak kita semua," tuturnya dengan nada yang setenang mata air surga, seindah nyanyian bidadari Taman Eden. Sulit dipercaya bagaimana sesosok iblis laknat seperti Suho bisa memiliki secuil kenikmatan surga yang setara dengan ribuan kenikmatan dunia.
Mendengarnya mau tak mau membuat Kris mendengus kecil dan menyimpulkan senyum miring.
Setelah itu, keduanya terkesiap untuk beberapa saat. Sama-sama menjadi saksi dari menara itu, tentang betapa dahsyatnya mahakarya sang iblis di mana satu cawan kecil bisa merubah kota yang hidup menjadi mati.
"Sepertinya sisa-sisa hukuman dari Tuhan masih membekas padamu," terka Suho tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Kris hanya bisa mendesah pasrah. Tak seperti iblis lainnya yang memiliki wujud sempurna baik serupa monster maupun semirip manusia, ia nampak lebih mirip hantu. Terlihat samar-samar dan agak tembus pandang.
Dan iblis rupawan bak malaikat langit ketujuh itu tak mau membahas bagaimana ia bisa mendapatkan hukuman tambahan dari Tuhan selain dilemparkan dari surga bersama bangsanya.
"Aku tak bisa menggunakan kekuatan penuhku saat ini. Aku perlu tubuh manusia,"
Seringai licik pun terpatri dalam wajah Kris. Dan Suho yang merasakan hal itu hanya bisa mendengus dan menggeleng kecil.
"Tubuh yang sempurna sebagai inangku,"
...
"Baekhyun,"
Lelaki bersetelan jas putih itu membalikkan badan, menghadap seorang wanita muda dengan rambut cream lusuh yang terurai begitu saja. Rasa cemas dan panik tercetak jelas dalam wajah keibuan itu.
"Kau harus segera bertindak," desaknya.
Baekhyun terdiam menatap sang mantan kekasih, "Aku harus bertindak bagaimana, Taeyeon?"
"Kau adalah Sang Cahaya. Dunia butuh cahayamu untuk mengusir kekacauan yang diperbuat para iblis itu," tutur Taeyeon tanpa ragu. Ia tak peduli jika orang-orang bak mayat hidup itu akan menyerang rumah ini. Ia justru peduli dan merasa sedih pada orang-orang bak mayat hidup itu sendiri yang sudah menjadi korban dari kebejatan para iblis tak tahu diri itu. Seenaknya saja mempermainkan mereka. Memangnya mereka itu marionette yang bisa digerakkan sesuka hati?
"Tapi cahaya berasal dari api. Dan api itu sudah lama padam,"
Baekhyun menundukkan kepala, memutus kontak mata dengan wanita itu. Raut wajahnya nampak begitu sendu dan penuh kerinduan. Ia melirik ke sebuah liontin kecil yang berada di atas meja.
Liontin berbentuk burung api.
Phoenix.
x
x
x
To Be Continue
x
x
x
Rembulan mulai menampakkan dirinya pada cakrawala malam. Anehnya tak seperti matahari yang sejak siang dikurung oleh barisan awan-awan gelap kehitaman. Mungkin langit sedang berbaik hati pada mereka yang masih selamat dengan memberikan cahaya bulan sebagai pelita mereka dalam kegelapan malam.
Yixing dan Tao terlihat menyusuri jalanan kota yang senyap dan kacau. Suasananya bahkan sudah seperti Kota Pripyat di Ukraina; mati.
"Gege lapar?"
"Ya tentu saja lapar. Kita berdua sudah berlarian sepanjang hari, belum kalau ada zombie. Ah, kamu ini," gerutu Yixing. Tao pun tertawa cekikan melihat ekspresi kesal kakaknya yang justru terkesan lucu, "Ya sudah. Bagaimana kalau kita cari makan dulu?"
Pemuda bermata panda itu mengangguk setuju, "Boleh,"
Keduanya pun berhenti melangkah.
"Tao, kau ke toko roti itu," komando anak sulung Keluarga Zhang itu ke sebuah toko di sebelah kanan mereka, "Aku akan ke toko bakmi di sebelah sini," Yixing menunjuk toko yang tepat berhadapan dengan toko satunya tadi.
"Oke, ge,"
Keduanya pun berpencar. Barangkali bisa mendapatkan sesuatu untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Namun, tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar debuman-debuman yang diiringi jeritan ketakutan. Semakin lama, semakin jelas dan dekat.
"Cepat, lari!"
"Lari, ada zombie!"
"Lari!"
Yixing yang menyadarinya pun spontan berlari keluar toko untuk menghampiri sang adik. Namun, ketika di tengah jalan, gerombolan besar orang-orang itu menerjangnya. Dan ia bisa melihat Tao berdiri mematung di depan toko seberang.
"Tao!"
"Gege!"
"Tao!"
Lay berusaha menerobos gerombolan manusia yang masih normal itu. Namun apa daya, ia akhirnya terseret dan mau tak mau mengikuti ke arah mana mereka pergi. Meninggalkan adiknya di sana. Sendirian.
Ajeng Hyakuya here, guys. *lambai-lambai*
Yang menjawab Suho, selamat kalian semua benar!
Jujur, aku kaget banget ternyata fanfic ini dapat respon banyak. Makasih, semuanya. Aku usahakan untuk update cepat dan melanjutkan fanfic ini sebisa mungkin.
Makasih untuk kritik dan sarannnya. Maaf ya kalau bahasa penulisanku ini terlalu tinggi. Akan aku usahakan supaya lebih mudah dipahami ke depannya. Maaf buat yang merasa nggak nyaman untuk perbedaan kebakuan narasi sama dialog-nya.
Dan maaf banget aku nggak bisa jawab review kalian satu-satu. *deep bow* Tapi aku usahakan chapter depan bisa balas review kalian semua. Oke?
Sampai jumpa di chapter berikutnya. Jangan lupa review-nya, ya, chingu-deul. Sekali lagi terima kasih buat kalian semua yang membaca Chained Up.
Annyeong... ^^
