Author's Note : Makasih buat yang udah meluangkan waktu buat baca dan review! Aku bahagia bisa update chap 2 :'D btw, ini ficnya berchapter, maaf banget lupa kasih tbc-nya di chap sebelumnya (_ _). Ayo tebak apa keinginan Draco? Hohoho~ Silahkan dibaca, yey!
Emerald eyes is a mystery
Starin' through to the heart of me – Fleetwood Mac-Emerald eyes
"Argh!"
Sudah 15 kali Harry mengerang frustasi menatap perkamen tugas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang hanya berisi satu kalimat padahal dia harus membuat satu setengah lembar perkamen. Sementara hari mulai sore dan pengumpulan tugasnya besok. Otaknya sungguh tidak bekerja bila berurusan dengan mata pelajaran satu ini setelah pergantian pengajar oleh Severus Snape. Disampingnya, Ron tengah mengalami kendala yang sama bahkan dia sendiri masih tidak tahu kata pertama apa yang harus ditulisnya di atas perkamen. Sementara Hermione dengan santai disamping perapian, membaca beberapa buku yang dipinjam dari perpustakaan. Tugasnya sudah selesai dengan kilat seperti biasa, bila Ron mulai merajuk untuk meminta bantuan maka hanya dibalas senyuman mengejek dari Hermione.
"Bloody hell! Mione, bantulah lelaki malang ini!" pekik Ron, dia benar-benar sudah sekarat.
Hermione mendengus sambil melempar sebuah buku dari tumpukan buku miliknya, "Kalian harus mencintai perpustakaan."
Harry dan Ron langsung berebut buku yang dilempar itu karena mereka tahu, kunci dari semua masalah ada dibuku itu. "Thanks, Mione!"
Hermione hanya memutar matanya melihat tingkah laku kedua sahabatnya itu. "Harry, bukannya kau mau ke tempat Hagrid?"
"Oh, iya! Aku lupa!" dengan tergesa dimasukannya perkamen dan buku dari Hermione.
"Hei! Aku juga sedang melihatnya!" Protes Ron.
"Kau bisa mengandalkan otak genius pacarmu Ron!" Harry berlari meninggalkan Ron dan Hermione yang bersemu merah.
Under Star
By. F-Nine
Disclaimer : J.K. Rowling
Happy Reading
Mata silver kebiruan itu menatap danau yang tenang, mungkin cumi-cumi raksasa sedang tidur atau dia malas ke permukaan. Bicara tentang malas, hari ini Draco sudah melewatkan pelajaran Ramuan dan Charm. Bisa dipastikan dia akan diamuk oleh Professor Snape nanti. Tapi siapa peduli? Lebih menyenangkan duduk di bawah pohon memandangi danau tanpa suara berisik dari para Gryffindor dan Slytherin yang saling mengejek satu sama lain. Walaupun pada tingkat satu Draco sempat melakukan itu juga tapi dia hanya mengejek tiga sekawan itu karena disana ada Harry dan dulu dia berpikir akan mendapatkan perhatian dari pemuda berkacamata itu. Namun hasilnya nihil, Draco tertawa betapa bodoh masa kecilnya. Ditutup kedua matanya sembari bernyanyi pelan dan membayangkan wajah Harry yang tersenyum, hal sangat mustahil sekali melihat Harry tersenyum di depannya.
And I wish I knew everything there is to know about you
And I want you to see just exactly what you mean to me
And you, you think you know me
I guarantee there's a lot more to see
And you don't believe it's true
That if I'm dreaming, I'm dreaming of you*
Merasakan kehadiran seseorang, Draco membuka matanya dan di sampingnya berdiri Harry dengan tatapan kagum namun berubah panik saat sadar Draco tengah melihatnya sekarang.
"Ah, ma-maaf! Aku tadi mau ke tempat Hagrid tapi dia entah kemana dan aku kesini untuk mengerjakan tugas lalu..." Harry menepuk dahinya, mengumpat dalam hati betapa bodohnya dia, siapa peduli dengan alasan di depan Draco Malfoy, musuh bebuyutannya.
"Duduk lah dan kerjakan tugasmu, aku akan diam dan berpura-pura seperti patung." Ujar Pemuda berambut platinum itu dan dia kembali menutup matanya.
Dengan canggung Harry duduk dan mengeluarkan perkamen dan buku, tidak ada yang berbicara hanya suara gemeresak dedaunan yang terkena angin dan suara pena bulu milik Harry saat dia menulis. Draco menggumamkan lagu tadi yang membuat Harry semakin canggung karena dia tidak tahu kalau seorang Malfoy mempunyai suara yang bagus. Entah kenapa wajahnya mulai semerah langit sore hari ini saat memikirkan Draco.
"Kenapa kau bernyanyi? Kau sedang jadi patung sekarang."
Draco mendengus pelan, "Bahkan lukisan wanita gemuk saja bernyanyi, aku bukan patung muggle kenapa kau protes?"
Harry menatap tajam Draco, "Tapi kau yang bilang menjadi patung, patung tidak bernyanyi."
"Baiklah Potter sang pahlawan."
Tidak ada jawaban dari Harry membuat Draco membuka matanya untuk melihat pemuda berambut hitam disebelahnya itu. Mata emeraldnya menggambarkan kesedihan membuat Draco merasa bersalah. "Hei, ka-"
"Kenapa semua orang selalu bilang aku pahlawan? Karena aku pernah selamat dari Voldemort? Karena aku yang ditakdirkan untuk melawannya? Aku sama sekali tidak mengerti. Kalau harus memilih maka aku tidak ingin menjadi pahlawan, karena aku tidak perlu kehilangan Ayah dan Ibuku. Tidak perlu mencelakakan teman-teman yang mencoba menolongku. Tidak perlu melihat teman yang meninggal begitu saja di depanku." Harry terdiam sejenak, teringat bagaimana Sirius yang mencoba melindunginya dan mengorbankan nyawanya sendiri "Tidak perlu melihat... Ayah baptis yang sangat aku sayangi meninggal dan menghilang di hadapanku. Aku ingin hidup yang normal, aku ingin menjadi Harry Potter yang biasa saja. Aku tidak mau jadi pahlawan."
Tidak ada lagi yang berbicara, Draco dapat melihat jelas mata Harry yang berkaca-kaca dan siap menumpahkan air matanya. Seumur hidup Draco mengenal seorang Harry Potter, tidak pernah dilihatnya pemuda itu bersedih. Dia selalu melihat Harry yang ceria, pemberani dan jangan lupa dengan mata emeraldnya yang selalu bersinar membuat semua orang iri. Pemuda bersurai platinum itu merebut perkamen milik Harry dan memasukkan semuanya ke dalam tas. Dia menarik tangan Harry membuat pemuda berkacamata itu kaget. "Ikut aku."
Tanpa perlawanan Harry mengikuti langkah Draco menuju menara Astronomi. Langit sore mulai gelap seutuhnya dan matahari senja kini berganti dengan bulan dan bintang yang bersinar terang. Dengan tergesah Draco membawa Harry ke beranda menara Astronomi, dimana tempat yang sangat jelas untuk melihat bintang.
"Itu!" Draco menunjuk sebuah rasi bintang. "Itu rasi Canis Mayor, kau lihat bintang yang paling terang?"
Harry mengangguk, "iya, aku melihatnya."
"Bintang itu bernama Sirius, dia selalu ada, tidak pernah hilang. Kau tidak perlu sedih, dia menjadi bintang paling terang."
Harry menatap takjub bintang Sirius yang ditunjuk oleh Draco, begitu indah dan terang daripada bintang yang lain. "Wow."
"Keluarga Black dan Malfoy memberikan nama pada keturunannya dengan nama bintang atau rasi. Menurut mereka, jika suatu hari meninggal maka kami akan menjadi bintang di langit seperti pahlawan atau dewa dan dewi menurut mitologi Yunani." Jelas Draco.
"Kau juga akan jadi bintang suatu saat nanti?" mata emerald Harry membulat penuh keingin tahuan.
Draco menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin menjadi bintang, terlalu bagus untukku, huh? Para Gryffindor pasti akan berpikir seperti itu."
"Lalu kau ingin menjadi apa?" tanya Harry.
Tak ada jawaban dari Draco, dia hanya menatap langit berbintang dengan mata silvernya. Sedetik itu, Harry dapat melihat pemandangan yang dilihatnya waktu itu. Cahaya bulan yang menimpa rambut platinum itu dan membuat jantung Harry berdesir. "Apa keinginanmu?"
Manik silver kebiruan itu bertemu dengan manik emerald. Pemuda itu membuat jarak yang sangat dekat hingga dia dapat menghirup aroma vanilla Harry. "Ry?"
"Ah?" Seakan terhipnotis oleh manik milik Draco, pemuda berkacamata itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, bahkan saat hidung mereka saling bersentuhan. Otak Harry berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri, bahwa Malfoy adalah musuhnya selama ini. Namun dia tetap diam dan membiarkan Draco semakin meniadakan jarak.
Tangan Draco mengusap lembut pipi Harry seakan dia adalah gelas yang rapuh dan dapat hancur kapan saja. "Apa yang harus aku lakukan agar dapat dekat denganmu?"
Harry menatap Draco tidak percaya, "Aku-"
"Kumohon, Ry." Pinta Draco.
"Aku tahu selama ini kau membantuku walau aku masih berpikir mungkin kau tidak benar-benar bermaksud menolongku. Tapi... kau cukup menjadi dirimu yang sekarang dan aku menyukainya." Harry memandang ke arah lain mencoba menghindari tatapan Draco yang membuat wajahnya semakin panas. "Tapi..."
"Tapi?" Draco menaikan salah satu alisnya.
"Kau tidak mencium sesuatu dari jarak sedekat ini? Aku baru saja makan kacang segala rasa Bertie Bott dan dapat rasa kaus kaki kotor."
Diacaknya rambut platinum miliknya, "Argh, harusnya aku tidak mengajakmu kesini. Seorang Potter benar-benar tidak dapat diajak serius."
Harry tertawa, "Maaf sekali Malfoy, aku hanya mencoba menjadi pahlawan yang humoris."
"Terserah kau saja Potter." Dengus Draco.
"Tapi.. terima kasih sudah menunjukan Sirius padaku." Harry tersenyum.
Draco mengangguk pelan dan membalas senyum Harry, "Sama-sama."
"Er, sepertinya aku harus kembali ke asrama, tugasku baru separuhnya." Harry berjalan menuju tangga. "Lain kali, kau bisa menunjukan rasi bintang yang lain."
Draco dapat melihat wajah merah Harry dan pemuda berambut hitam berantakan itu segera berlari meninggalkan Draco sendiri. Manik silver kebiruan itu kembali menatap bintang Sirius, "Kau punya anak baptis yang lucu, Sirius. Sayang sekali kau meninggalkannya, aku berharap kau bisa menjaga Harry lebih lama."
Setelah puas berbicara pada 'Sirius', pemuda itu meninggalkan menara Astronomi. Dia melewati lorong-lorong dengan tenang walaupun Filtch menatapnya curiga melihat Draco menuju ruangan Albus Dumbledore. Tangan Draco akan mengetuk saat pintu ruangan Dumbledore terbuka dengan sendirinya. Dapat dilihatnya laki-laki tua dengan kacamata bulan separuhnya tengah memberikan makan pada burung phoenixnya.
"Mr. Malfoy apa kau perlu sesuatu? Jangan meminta kenaikan nilai padaku, kau tahu sudah 5 orang hari ini yang meminta nilai tambahan untuk pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Mungkin aku harus meminta Severus berbaik hati sedikit pada murid?" Dumbledore tertawa.
"Professor pasti sudah mengetahui tujuanku."
Dumbledore membalasnya dengan senyuman, "Cepat atau lambat harus melakukannya bukan?"
Draco menatap Fawkes yang mengepakan sayapnya pelan, "Ya, harus dilakukan. Karena itu, aku mohon padamu, Professor."
Wajah tenggang Narcissa tidak dapat disembunyikan ketika membuka pintu kayu sebuah bangunan kecil yang tampak tua namun terawat. Matanya melihat sosok laki-laki berjubah hitam yang tengah membaca Daily Prophet. "Sev."
Severus Snape menutup korannya dan berdiri mendekati Narcissa dan membantu wanita yang gemetar hebat itu untuk duduk, "Duduklah, tenangkan dirimu."
"Aku tidak bisa tenang, Sev. Kau tahu tugas yang diberikan kepada Draco?" Tangis Narcissa pecah.
Snape hanya mengangguk, mungkin keluarga Malfoy merupakan pelahap maut paling setia namun kali ini Narcissa sungguh tidak dapat menerima saat anak semata wayangnya ditugaskan untuk membunuh Dumbledore. Severus semdiri menyadari kekuatan Draco yang hebat tetapi dia tetap remaja berumur 16 tahun, tubuhnya belum bisa mengeluarkan kekuatan yang besar dalam dirinya dan bila dipaksa akan membahayakan Draco. Tampaknya Voldemort sendiri mengetahui potensi calon pelahap mautnya itu, sehingga dia menyuruh Draco untuk melakukan tugasnya. Dia sangat yakin kalau Draco akan dengan mudah menghilangkan Dumbledore yang merupakan penjaga Harry.
Narcissa mencengkram lengan Snape, "Aku mohon, Sev. Jaga anakku, selamatkan dia."
"Aku akan menjaganya, ten-" Snape merasakan interupsi saat dilihatnya Draco yang tengah berdiri di depannya. "Kau... bagaimana bisa?"
Draco hanya menaikkan bahunya, "Kalian tidak perlu khawatir tentangku, tapi aku butuh bantuan Professor untuk menjaga Harry. Aku akan menjalankan perintah Dark Lord."
"Tapi Draco..." ujar Narcissa pelan.
Pemuda bersurai platinum itu mendekati ibunya dan memeluknya, "It's okay, Mom. Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja."
"Kau yakin dengan semuanya, Draco?" tanya Snape tampak tidak yakin.
"Ya, aku yakin Professor." Draco menyeringai.
~TBC~
*Under star by Tom Felton (Judulnya aku ambil dari lagu Tom Felton, jadi berasa Draco yang nyanyi~ haha :D)
