Aku gak nyangka ternyata ada yang baca.. thanks to BeibiEXOl... so much..

Plagiator not allowed! Go away please! This my fanfic.

.

.

.

Selamat membaca yaa

.

.

.

Tidak ada yang ia dapat lakukan ketika ada banyak waktu senggang di akhir pekan, tugas kuliahnya telah selesai dengan lancar. Ia bahkan telah nonton di bioskop yang termasuk peringkat nomor dua setelah percintaan dengan lelaki yang ia hindari. Alyssa menghela nafas, mungkin memang di dunia ini dia juga membutuhkan teman. Tidak ada yang benar-benar bisa hidup individu dengan segalanya sendiri. Jangan kira gadis itu dari kecil tidak mempunyai teman atau bahkan sahabat. Sewaktu remaja dulu gadis itu tergantung dengan sahabat, apapun itu yang terpenting adalah ia tidak sendiri dan sahabat selalu di sampingnya.

Namun juga karena itu ia sekarang tidak ingin mempunyai teman, menurutnya teman atau sahabatpun bisa menusuknya diam-diam, baik diluar tapi sungguh licik di dalam. Pacar tentu, gadis itu tidak awam dengan seorang kekasih tapi ya sekali lagi mereka semua menghianatinya. Dan itu cukup berhenti di usianya di tujuhbelas tahun.

Gadis itu lagi menghela nafas, ia kemudian mendorong pintu super market pelan dan segera mengambil beberapa roti kesukaannya untuk cemilannya di flat. Ketika akan berbalik raut wajah gadis itu memicing, pasalnya di beberapa meter tempatnya berdiri ada seorang penguntil dengan jaket tebal dan bertopi sedangkan diluar market telah hadir beberapa keamanan. Alyssa mendekat, ia berdehem dengan senyum meremehkan ketika pemuda penguntil tadi terkejut melihatnya ada di sampingnya.

"Maaf tapi cara mengutilmu benar-benar buruk". Alyssa menarik lengan pemuda itu tepat ketika keamanan melihat mereka. Gadis itu membawa pemuda bertopi di depan kasir dengan wanita berpakaian formal yang menatp mereka curiga.

"Keluarkan semua snack di jaketmu sayang". Pemuda bertopi itu terkejut, keringat dingin pada tubuhnya kentara bersama dengan tubuhnya yang gemetar. Namun ia tidak segera mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam jaketnya, pemuda itu diam kaku.

"Apa yang kau lakukan? Kita perlu membayar snackmu". Dengan gesit Alyssa segera membuka jaket pemuda itu mematung tanpa perlawanan. Di samping mereka ada keamanan yang menatap mereka waspada namun dari semua akting yang dilakukan Alyssa cukup membuat keamanan enyah ketika gadis itu benar-benar membayar semua tagihan miliknya dan milik pemuda itu.

"Maaf, pacarku ini sedikit berbeda". Setelah mengatakannya pada wanita kasir yang tersenyum maklum dan mengejek, Alyssa menarik pemuda itu dengan plastik belanjaan di sebelah tangannya.

Dari jarak yang sekarang ini cukup jauh dari market tempatnya membeli roti, jarak yang cukup untuk melepaskan pegangan pada lengan pemuda itu. Alyssa melirik kesamping, ia melihat pemuda itu melonggarkan jaketnya dan melepaskan topinya. Dari tempatnya sekarang cukup sangat jelas bagaimana rupa pemuda itu.

"Tidak kusangka, kedua kalinya kau menyelamatkanku". Alyssa membeku, ia berkedip beberapa kali mengingat-ingat kapan ia pernah menolong pemuda itu selain hari ini.

"Sebagai ucapan terimakasih waktu itu aku menciummu dipipi". Gadis itu ingat, di gang menuju flatnya. "Dan sekarang mungkin ciuman di bibir?". Sebelum pemuda itu benar-benar menciumnya, Alyssa memukul kepala pemuda itu dengan tasnya yang membuat kegaduhan kecil di pinggir jalan raya dan sempat menjadi pusat perhatian sebelum semuanya kembali semula.

"Lupakan ucapan terimakasihmu, aku hanya menolong". Gadis itu menyerahkan snack yang berencana pemuda itu curi, dan melanjutkan jalannya tanpa mengindahkan pemuda yang kini tersenyum di belakangnya.

"Hei, tunggu". Alyssa tetap berjalan, sekalipun kini pemuda itu ada disampingnya. "Namaku Zoe, siapa namamu?".

Gadis itu tidak berhenti, dan sepertinya pemuda bernama Zoe itu menyukai sesuatu berbau ekstrim. Ia memeluk Alyssa dari belakang dan cukup membuat Alyssa terkejut dengan muka memerah. "Lepasakan sialan!"

Pemuda itu tersenyum cerah, ia berbisik seduktif di telinga gadis yang kini berusaha melepaskan lengan pemuda itu diperutnya. "Beri tahu aku namamu, tempat tinggalmu dan aku akan melepaskannya".

Alyssa menghela nafas, berurusan dengan pemuda semacam ini adalah salah satu dari daftar catatannya yang ia hindari. "Alyssa, dan apa urusanmu dengan flatku?".

Zoe tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Beri tahu saja". Dengan kecupan di leher Alyssa.

Lagi Alyssa menghela nafas, amarahnya telah sampai di ubun-ubunnya siap meledak namun ia dapat dengan mudah mengontrol emosinya dan tersenyum sembari mengelus lengan Zoe yang ada diperutnya. "Paladian Park". Lirihnya mengeram, "Dan cepat lepaskan tanganmu sebelum semua mata benar-benar melihat ke kita".

Zoe melepaskannya, pemuda itu berjalan hingga sekarang tepat berada di depan Alyssa dengan senyum yang sedetik mampu membuat Alyssa kagum. "Baiklah, aku tau. Terimakasih Alyssa tunggu aku di flatmu". Zoe berjalan menjauh dengan kantong plastik penuh snack di tangannya, pemuda itu melampai dan menghilang di tikungan.

Gadis itu mengabaikan kata-kata Zoe yang terakhir, yang benar saja. Apa yang pemuda itu akan lakukan di flatnya.

.

.

##########################

.

.

Akhir pekannya telah usai, Alyssa telah sampai di kelasnya dan duduk tenang menunggu dosen masuk dan memulai kuliahnya dengan baik. Gadis itu mendengarkan sungguh-sungguh apa yang dikatakan dosennya, ia mencatat dengan rapi dan menjawab dengan baik ketika dosen menanyakan hal yang bersangkutan dengan kuliahnya hari ini. Semua berlangsung dengan lancar.

Namun ada yang sedikit berbeda dari biasanya, Alyssa yang biasanya diam tanpa mempedulikan sekitarnya kini sedikit berinteraksi dengan teman yang duduk tak jauh darinya. Walaupun itu hanya hal sepele yang mengingatkan ke temannya bahwa bolpoinnya terjatuh.

Alyssa mengeriyit ketika seorang gadis yang bolpoinnya terjatuh berdiri di samping mejanya dengan senyum kecil dan uluran tangan. "Aku grace". Alyssa menjabat tangan Grace, ia hanya mengangguk dengan sedikit senyum. Alyssa memang tidak pernah berinteraksi dengan teman-temannya namun jangan salah, gadis itu hafal betul nama dan wajah teman sekelasnya di mata kuliah ini.

"Bagaimana kalau pulang bersama?". Alyssa tersenyum sopan, ia berdiri dari duduknya. "Maaf Grace, aku bukan ingin menolaknya tapi aku tidak terbiasa pulang bersama-sama". Gadis dengan rambut pendek digerai dan gaun formal selutut itu mengangguk. "Baiklah, aku duluan. Sampai jumpa lagi Alyss". Alyssa mengangguk, ia juga berjalan keluar ruangan dengan santai.

.

.

###

.

Di persimpangan jalan ke Flatnya, Alyssa melihat sesuatu yang familiar. Namun ketika ia tahu siapa biangkeladinya. Gadis itu segera berjalan cepat melewati punggung pemuda yang tidak ia sadari telah meliriknya. Lagi Alyssa menjadi korban pelecehan, gadis itu menatapnya bosan ketika bibirnya berciuman dengan bibir tebal milik Alex. Tanpa memberikan perlawanan, Alyssa justru membalas ciuman Alex hingga keduanya benar-benar membutuhkan untuk melepaskan ciuman dikarenakan butuh untuk bernafas.

Alex melirik gadis yang menangis meminta kembali padanya itu telah pergi. "Terimakasih Alys, ciumanmu benar-benar membantu". Alyssa menatapnya bosan, ia menengadahkan satu tangannya tepat di wajah Alex.

"Mana imbalanku?". Alex tersenyum cerah, ia menarik pergelangan gadis itu dan mengajaknya berlari pelan hingga mereka masuk ke kedai es krim. Alyssa duduk dikursinya sementara Alex memesankan es krimnya di dekat kasir.

Alyssa tidak berbohong ketika pemuda itu sungguh mempesona, sebenarnya penampilannya bukanlah seperti orang kaya pecinta fashion. Namun dari itu ada beberapa yang menarik perhatiannya, sepatu pemuda itu bukanlah sepatu murahan namun terlihat kumal mungkin dikarenakan sepatunya telah lama. Ada beberapa lagi yang dapat membuktikan bahwa Alex adalah orang kaya namun Alyssa segera mengalihkan pandangannya ketika Alex telah berbalik dan berjalan ke arahnya.

"Alyssa?". Mereka bertatapan, Alyssa bahkan berani menatap lurus pada manik hitam pemuda itu. "Ini imbalan untukmu". Pelayan membawa es krim dengan cup tidak bisa dikatakan kecil, ukurannya adalah porsi Alyssa dan... "Darimana kau tau aku menyukai es krim berukuran seperti ini?". Alex tersenyum, pemuda itu mengabaikan Alyssa dan memakan es krimnya.

Hening. Alyssa tidak butuh bertanya lagi apa yang terjadi hingga pemuda itu seperti sengaja merencakan ini. Hanya perlu menunggu pemuda itu menjelaskan beberapa menit lagi. "Sebenarnya ini bukan kesengajaan yang mungkin seperti yang kau pikirkan, aku juga tidak menyangka untuk kedua kalinya kau menolongku lepas dari mereka". dan benar, pemuda itu mengatakannya.

"Jadi?". Alyssa menunggu, ia menyangga kedua pipinya dengan tangannya yang telah lepas dari sendok es krimnya.

"Kau tau dijaman sekarang ini mudah mengatakan cinta, akupun demikian. Hanya untuk bersenang-senang. Kukira disetiap perempuan itu mempunyai sikap berbeda, tapi yeah untuk kesekian kalinya aku belum bisa menemukan wanita berbeda". Alyssa menemukan pancaran berbeda ketika Alex mengatakannya, pemuda itu seperti menyukai apa yang dia katakan.

"Mereka sama, bermanja-manja, jalan kesana sini, meminta perhatian lebih, dan itu membuatku muak. Aku tidak menyukai tipe wanita seperti itu".

Kali ini Alyssa tidak terima, gadis itu menatap nyalang kearah Alex. "Kau yang sialan, sebelum kau menyatakan cinta ke mereka kau harus mengetahui bagaimana sikap mereka sebenarnya. Bukan hanya melihat tampilan fisik". Alex tersenyum, ia memakan sesuap es krimnya.

"Aku sudah memperhitungkan itu dari jauh hari sayang, kau pikir aku serendah itu?". Kini Alyssa merasa tertekan sebagai seorang psikolog. Untuk pertama kalinya. "Aku sudah mencari tau apa yang kuincar, tapi mereka adalah orang bermuka dua". Alex mendekatkan wajahnya ke Alyssa yang melebarkan matanya. "Jual mahal untuk menarik perhatian dan kemudian ketika mendapatkan yang mereka inginkan, sifat sesungguhnya terlihat".

Alyssa menghela nafas, ia tidak mau kalah. "Itulah sifat wanita, setidakpedulinya wanita pada sesuatu namun ketika ia telah berbalik mencintai sesuatu itu mereka tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang mereka cintai.. dengan cara berlebihan".

Alex menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tangannya terlipat di dada dan menatap Alyssa. Entahlah, untuk kesekian kalinya ia tidak bisa membaca arti tatapan itu.

"Kau memang berbeda".

.

.

.

tbc

.

.

Review please? /smile/