.
.
Title : Guilty Pleasure
Genre : Drama, hurt/comfort, smooth
Rate : M
Cast : Exo
Pairs :ChanBaek vs KrisBaek vs ChanSoo (slight) HunHan, KaiLu
Length : 2shoot!
.
Warning! Bed words! Tulisan ini sama sekali bukan untuk bocah.
.
Though I know it's so wrong, but it feels so right
.
.
Start!
.
.
죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄
.
"Aku harus mencari alasan lain untuk bertemu dengan Chanyeol" gumam Baekhyun mengaduk-aduk es lemon tea nya.
"Cari alasan bagaimana lagi maksudmu?" tanya Luhan setelah menyeruput es tehnya.
Kepala Baekhyun mengangguk berkali-kali, "Karena 'lembur bersama Luhan' mulai agak beresiko" ucapnya ganti mengaduk mangkuk nasi.
"Kau tahu, sebenarnya bukan itu. Lebih seperti kau harus mengurangi intensitas bertemu dengan Chanyeol. Kau juga tidak bisa terus menyalahkan pekerjaan kantor untuk menutupi sex desire mu itu"
Baekhyun melotot –walau tetap sipit, mengingatkan Luhan bahwa ini kantin kantor, "Hei, ini bukan sekedar sex desire" ucapnya berbisik "Aku kan cinta pada Chanyeol, jangan samakan denganmu. Mau tunangan masih saja kencan dengan brondong" protes Baekhyun. Tidak terima dengan ucapan Luhan yang jelas-jelas akan bertunangan dengan Kai, tapi masih terus menjalin hubungan 'sex buddies' dengan Sehun, adik kelasnya.
"Halah. Endingnya sama saja. Kau terkapar di ranjangnya kan?" cuek, Luhan menanggapi tanpa memandang wajah Baekhyun. Menurutnya menu makan siang lebih menarik.
Baekhyun diam, antara malas menjawab atau justru setuju. Kalaupun menjawab, pasti Luhan akan membalas dengan jawaban lebih frontal dan menusuk hati. Selama ini ia selalu berasumsi bahwa Luhan selalu bicara sarkastik begitu karena ia orang China, tidak bisa menemukan diksi yang tepat untuk memperhalus ucapannya.
"Sebenarnya aku juga tidak yakin kau segitu cintanya pada Chanyeol" Luhan kemudian mengunyah potongan ikan.
Dahi Baekhyun berkerut memandang Luhan, "Maksudmu?"
"If you really love him, you would not have stayed by Kris side"
Sendok berisi nasi yang sudah tepat di depan wajah Baekhyun urung masuk mulut, "Sayangnya tidak semudah itu. You know it so well"
Mungkin akan lebih mudah jika saat masuk rumah sakit karena kecelakaan dulu jaman SMA di Jepang, Kyungsoo tidak mendonorkan darah untuknya. Ditambah tugas Baekhyun yang berhubungan dengan gambar, entah sudah berapa ratus kali dikerjakan Kyungsoo. Apa jadinya jika berakhir dengan mencuri kekasihnya?
"Dan kau bilang, Chanyeol tidak pernah sampai menyentuh... eh bukan. Maksudku sampai membenihi Kyungsoo kan?"
Dahi Baekhyun berkerut. Ia hampir terbahak mendengar kosa kata Luhan, "Lain kali jangan biarkan Sehun mengajarimu kosakata aneh-aneh lagi"
Memang benar Luhan orang China, tapi apa tadi? Membenihi? Norak sekali. Jangan-jangan akan ada istilah menyemai, menyiangi juga? Tidak terbayang. Lagipula, memangnya ia bisa tumbuh tunas, walaupun terus-terusan dibenihi?
"Ya apapun itu lah, yang artinya tidur bersama, sex atau sejenisnya?" ralat Luhan bergedik, tidak terlalu peduli sebenarnya.
Jeda beberapa detik
"Dia bilang begitu" jawab Baekhyun akhirnya.
"Dan... kau percaya?" tubuh Luhan sampai condong, mendekat ke wajah Baekhyun.
"Kepercayaan adalah pondasi cinta"
Luhan berdecak malas, seketika menyenderkan punggung di bangku, "Selingkuhan sepertimu tidak pantas mengucap quote berat macam itu"
Lirikan sadis dari Baekhyun. Temannya ini benar-benar menyebalkan.
Luhan mengangkat sendok hingga ke depan wajah Baekhyun, "Menurutmu kenapa Chanyeol tidak melakukannya?"
"Karena dia tidak mencintai Kyungsoo?" tebak Baekhyun.
"Dan Kris tidak pernah melakukan itu padamu juga kan?"
Baekhyun mengangguk.
"Karena?"cecar Luhan.
"Karena dia mencintaiku. Dia tidak ingin menyakiti_ku" ucapan Baekhyun terhenti karena ia tercekat dengan pikirannya sendiri.
"Got my point?"
Bibir Baekhyun terbuka, hampir protes. Namun ia akhirnya mengangguk lemah.
Mungkin karena Luhan kuliah di jurusan psikologi, atau karena Luhan sedang magang di rubrik curhatan pembaca, atau karena Luhan memang benar. Yang jelas, kepala Baekhyun seperti baru saja dihantam palu.
.
죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄
.
"Woy baek! Ada yang mencarimu!" teriak Yixing dari pintu kelas.
Baekhyun mendongak. Ia segera menutup bukunya yang sebenarnya dari tadi belum dibaca lalu menghampiri Chanyeol yang berdiri menatapnya di pintu kelas "Hei" sapanya dengan jarak 1 meter.
Chanyeol maju. Hampir saja merangkul Baekhyun, jika tidak mengelak, "Sudah makan siang?"
Baekhyun menggeleng "Belum"
Jawabanya ini disambut dengan gandengan tangan namun Baekhyun mengelak lagi. Ia lebih memilih pergelangan tangannya saja yang dipegang. Ini kampus, walaupun tidak sekampus dengan Kyungsoo, dan Yifan bukan kakak kelasnya, tapi tetap saja tidak boleh menimbulkan indikasi 'berselingkuh' di depan umum.
.
.
"Ke mana saja kau? Beberapa hari ini bahkan tidak mau menjawab telponku" racau Chanyeol sambil melihat-lihat buku menu.
Baekhyun tidak menjawab, berpura-pura melihat buku menu. Banyak alibi yang sudah disiapkan sebenarnya, namun lebih baik diam.
"Aku pesan penne bolognaize, salad dan lime squash" Chanyeol bicara pada waitress yang berdiri di sampingnya, "Kau mau makan apa?" ia beralih pada Baekhyun.
"Teriyaki pasta dan lemon juice" jawab Baekhyun langsung pada waitress yang kemudian pergi meninggalkan meja mereka.
"Baekhyun ah. Ada apa denganmu" tanya Chanyeol.
Baekhyun menoleh ke jendela.
"Kau ada masalah?"
Baekhyun menggeleng.
Tangan Chanyeol terulur menggenggam tangan Baekhyun di atas meja, "Hei, lihat aku"
Baekhyun menatap Chanyeol lekat. Mata bening Chanyeol... Baekhyun berusaha tidak luluh, namun akhirnya malah tidak percaya pada diri sendiri. Percakapan nya dengan Luhan waktu itu sungguh masih membekas di otaknya.
"Jika ada masalah, ceritakan padaku. Kau free kan malam ini?"
"Tidak. Tidak ada masalah. Dan aku tidak free malam ini" Baekhyun mencoba melepaskan tangannya namun malah digenggam makin kencang.
"Kau ambil editing shift malam? Ingin kujemput? Pulang jam berapa? Aku rindu padamu, sudah seminggu kita tidak bertemu" tanya Chanyeol tanpa jeda dalam satu tarikan napas.
"Apa ini tidak cukup Chanyeol ah?" Sebenarnya besok terhitung 10 hari, batin Baekhyun. Namun lebih baik tidak dikatakan.
"Cukup bagaima_"
Pertanyaan Chanyeol tersendat karena seorang waitress datang dengan pesanan mereka. Setelah waitress selesai menaruh pesanan mereka di meja, baru Chanyeol beralih pada Baekhyun.
"Cukup bagaimana maksudmu?"
"Jika rindu padaku, melihatku begini bukannya sudah cukup? Tidak perlu acara 'tidur' kan?"
"Jadi maksudmu itu?" Chanyeol meringis menahan tawa sarkastik, "Dipeluk pun kau tidak mau, digenggam tanganmu pun kau terus mengelak. Menurutmu itu cukup?"
Baekhyun kembali tertunduk, menggenggam erat garpu di tangannya.
"Baekhyun ah. Jika memang kau tidak bisa menemuiku sekarang ini, tidak masalah. Asal kau tidak muncul dengan pikiran gila entah dari mana yang bahkan tidak mau kau katakan padaku" dari nada bicaranya yang datar, bisa ditebak Chanyeol sedang menahan emosi.
Hening.
Chanyeol meraih garpu di samping piringnya. Baru saja ingin mulai makan, tiba-tiba selera makannya hilang. Ia meletakkan lagi garpunya, memandang Baekhyun tajam
"Maaf" Baekhyun tidak berani memandang.
Chanyeol meminum seteguk minumannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan 2 lembar kertas lalu meletakkannya di meja "Sebaiknya kita bertemu weekend ini saja. Saat pikiranmu sudah lebih baik" ia bangkit, tanpa menyentuh makanan pesanannya.
Baekhyun memandang kosong 2 tiket konser One Ok Rock di hadapannya.
.
죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄
.
TING TONG
Hampir senja saat Kris mendengar suara bel apartemenya. Raut wajahnya berubah sumringah saat membuka pintu, Baekhyun ada di depannya.
"Kenapa tidak mengabari dulu, jika mau datang?"
"SURPRISE!" jawab Baekhyun ceria lalu menghambur memeluk Kris, "Aku rindu padamu"
Kris tidak langsung membalas pelukan Baekhyun. Ia hanya mengelus puncak kepala kekasihnya itu, "Ada apa? Tidak biasanya kau begini?" Ia tahu ada yang disembunyikan dari nada ceria Baekhyun.
Baekhyun diam. Menenggelamkan wajah di dada bidang Kris. Menghirup sedalam-dalamnya aroma tubuh Kris. Seolah mencari ketenangan. Juga mencari cara mengurangi rasa bersalah.
"Hei, sebaiknya kau masuk dulu" Kris melepaskan pelukan Baekhyun, menuntunya ke ruang tv kemudian kikuk sendiri melihat meja berantakan dengan piring-piring bekas makan malamnya.
"Kau sedang makan?" tanya Baekhyun. Agak aneh, karena yang dimakan Kris seperti masakan rumahan. Si Bule itu tidak bisa masak.
"Sudah selesai" Kris membereskan piring-piring, menumpuknya untuk ditaruh ke dapur.
GRAB
Tepat saat akan beranjak ke dapur, tubuh Kris dipeluk dari belakang. Baekhyun kembali menenggelamkan wajah padanya. Kali ini di punggung tegap Kris.
"Baekhyun ah, ada apa?" Kris menoleh ke belakang, namun gagal memandang wajah Baekhyun. Ia menaruh piring-piring di atas lemari di depannya kemudian melepaskan pelukan Baekhyun, membuatnya menengadah, untuk memandangnya tepat di mata, "Ada apa? Katakan padaku"
Baekhyun menengadah, memandang Kris tepat di mata namun kemudian rasa itu kembali mengacak dada. Bersalah. Berdosa. Ingin Baekhyun akui itu semua, tapi tidak sanggup.
Tangan Kris berpindah ke pipi Baekhyun, mengelusnya sayang, "Jangan diam, Baekhyun ah. Setidaknya katakan padaku ada apa sebenarnya?"
"Aku..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu. Setelah menarik napas panjang, baru ia bisa mengatakan sesuatu, "Aku siap sekarang Kris. Sentuh aku"
"Baek_"
Ucapan Kris terputus bibir Baekhyun lebih dulu membungkamnya. Kali ini ia yang merasakan apa itu ciuman nafsu. Belum membalas, kancing kemeja Kris sudah lebih dulu dilucuti oleh jemari lentik Baekhyun.
Segalanya terasa lambat bagi Baekhyun. Bagaimana ia sudah polos di atas ranjang dan Kris ada di atasnya, menyesapi setiap ruas tubuhnya. Tubuh yang tidak pernah tersisa noda karena Chanyeol masih sangat waras untuk tidak meninggalkan tanda apapun di tubuh kekasih orang.
Chanyeol...
Nama itu terngiang di kepala Baekhyun. Berputar. Menimbulkan efek kebat-kebit hebat pada dada yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Baekhyun gemetar.
Kris bangkit, memandang Baekhyun yang terhenyak di bawahnya, "Jangan dipaksa jika memang kau tidak siap" ia mengencangkan lagi kancing celana jeans nya yang sudah terbuka.
GRAB
"Kris" tangan Baekhyun mencegah Kris turun dari ranjang.
Kris menghela napas, memandang Baekhyun sendu sambil mengelus kepalanya "Bukan begini cara untuk melepaskan pikiranmu. Jika ada masalah, aku siap mendengarkan apapun itu"
"Aku tidak ada masalah, hanya... aku sudah siap untuk menyerahkan segalanya_"
"Kau gemetar hebat Baekhyun ah. Sama sekali bukan indikasi kau siap untuk menyerahkan segalanya" Kris benar-benar turun dari ranjang. Meraih kaosnya yang terlempar ke dekat lemari lalu memberikan pakaian Baekhyun yang berserakan.
"Apa kau tidak menginginkanku?" Baekhyun menatap baju di hadapanya dengan air mata mengambang.
Kris kembali duduk di atas ranjang, mengelus pipi Baekhyun lalu menciumnya "Aku hanya tidak ingin kau menyesal. Kau adalah pihak yang akan kehilangan segalanya jika suatu saat kita berpisah. Biarkan begini Baekhyun ah. Sudah kuputuskan, tidak akan melakukan lebih dari ini"
Baekhyun menangis di pelukan Kris. Merasa begitu benci pada diri sendiri.
.
죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄
.
Konser usai, tapi tidak ada yang diucapkan Baekhyun. Tidak tentang suara Taka yang begitu merdu, atau petikan gitar Toru yang sangat keren, tidak juga tentang Ryouta atau Tomoya. Pikirannya terlalu sesak saat ini. Sesesak rombongan orang-orang yang berdesakan keluar stadion.
Tangan yang bertautan.
Baekhyun memandanginya dari tadi setelah keluar dari stadium.
Tanganya dan tangan Chanyeol.
Sebenarnya tangan Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun kencang bahkan selama konser. Mengingatkan masa SMP mereka dulu. Hubungan diam-diam, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu. Tidak ada bedanya juga dengan sekarang.
Kecuali bagian Baekhyun bisa curhat dengan Luhan hingga sakit hati sendiri karena selalu ditanggapi menyebalkan.
"Chanyeol ah, tidak usah terus digandeng begini" protes Baekhyun, berusaha melepaskan pegangan tangan Chanyeol.
Chanyeol berbalik, menatap Baekhyun, "Kau kecil, bisa tersesat jika kita tidak berpegangan" kemudian ia kembali menuntun –jika tidak mau dibilang menarik- tangan Baekhyun menembus keramaian penonton konser.
Protektif. Chanyeol melakukan hal sama seperti saat mereka SMP dulu. Hati siapa yang tidak berdesir parah diperlakukan seperti ini oleh sang cinta pertama?
Sayangnya Baekhyun sedang agak dikacaukan oleh pikiran yang tidak bisa disampaikan pada oknumnya langsung. Terlalu takut dengan jawaban yang akan diterima? Begitulah kiranya.
"Aku sudah membooking sebuah kamar di Hilton" ucap Chanyeol.
Hotel bintang 5, Baekhyun jelas tahu itu. Bukan pertama kali mereka membooking hotel untuk sekedar make out, tapi tidak pernah yang semewah itu. Kamar mewah hanya untuk make out? Apa tidak berlebihan? Walaupun Baekhyun paham, Chanyeol tidak akan jatuh miskin hanya karena sekali menyewa kamar di sana.
"Chanyeol ah, kau mengatakan apa pada Kyungsoo, tidak bisa dating malam minggu ini?" tanya Baekhyun begitu mereka tiba di depan mobil Chanyeol.
"Sejak booking tiket 2 minggu lalu, aku sudah mengatakan akan nonton konser dengan Minho dan Jongin" Chanyeol menoleh, menatap Baekhyun heran, "Kenapa? Sebelumnya kau tidak pernah menanyakan ini"
Iya, sebelum ini. Sebelum pikiran Baekhyun begitu kacau tentang perasaan Chanyeol padanya. Baekhyun hanya menunduk, memandangi ujung sepatunya.
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Chanyeol sambil membuka pintu mobil lalu masuk.
"Tidak ada" jawab Baekhyun begitu sudah duduk di samping Chanyeol.
"Kau sendiri, mengatakan apa pada Kris? Lembur lagi?"
"Aku... tidak mengatakan apapun padanya" jawab Baekhyun lirih. Setelah kejadian 'tidak jadi melakukan kegiatan ranjang dengan Kris' 2 hari yang lalu, Baekhyun memang sama sekali tidak mengabari Kris. Ia sendiri bingung apa yang bisa dijadikan alasan atas hal ini.
Alis Chanyeol berkerut memandang Baekhyun, "Jadi kau dari kemarin begitu murung karena sedang ada masalah dengan Kris?" tanya Chanyeol sembari menstater mobilnya.
Baekhyun mendengus, merogoh jeansnya untuk mengambil ponsel, "Tidak ada masalah dengannya" justru denganmu...
TEP
PRAK
Ponsel Baekhyun jatuh karena tiba-tiba Chanyeol menarik tangannya.
"Putuskan saja Kris. Datang padaku seutuhnya. Jika perlu, kita akan kabur ke manapun kau mau"
Baekhyun tidak menjawab. Ia menghela napas, melepaskan tangan Chanyeol lalu menunduk di bawah jok, "Nyalakan atapnya Chanyeol ah. Aku harus mencari ponselku"
Chanyeol menurut. Ia menyalakan lampu lalu ikut menunduk mencari ponsel Baekhyun. Bukan ponsel, ia malah menemukan hal lain.
Kaos Baekhyun tersingkap, memamerkan kulit mulus bahunya. Sayang, tidak semulus biasanya karena terlihat 2 noda ungu kemerahan di sana. Kiss mark.
"Sudah ketemu" Baekhyun bangkit, tanganya terulur menggapai panel lampu di atasnya namun malah ditangkap Chanyeol, "Kenapa?" ia menatap Chanyeol bingung
Chanyeol balik menatap Baekhyun tajam, tanpa ijin menarik lengan kaos Baekhyun hingga bahu sebelah kanan terpampang sepenuhnya, "Ini apa?"
Baekhyun terkesiap. Tidak menyangka bahwa perbuatan Kris menimbulkan bukti.
"Apa karena ini masalahmu?" tanya Chanyeol lagi.
"Chanyeol ah_"
SRET
Chanyeol menarik lagi kaos Baekhyun kali ini hingga dada atasnya terlihat. Lebih banyak noda tercetak di sana. Hati Chanyeol mencelos, darah seakan berhenti mengalir. Tanda itu jelas bukan ia yang membuat, ia tidak pernah seceroboh itu dan lagi itu terlihat masih sangat baru jika dibanding sudah berapa lama mereka tidak melakukannya.
Lemas, pegangan tanga Chanyeol pada kaos Baekhyun terlepas. Ia menatap nanar jendela mobil, berusaha menahan emosi yang siap meledak.
"Aku bisa menjelaskannya" ucap Baekhyun dengan suara gemetar sambil membenahi posisi kaosnya.
Chanyeol beralih pada Baekhyun, memandangnya tajam, "Kau ingin menjelaskan apa? Prosesnya? Posisinya? Rasanya?"
"Chanyeol ah, tidak ada yang terjadi_"
"Bagaimana bisa tidak ada yang terjadi jika tubuhmu menjelaskan semuanya?!"
Baekhyun tersentak. Ini pertama kalinya Chanyeol membentaknya.
Chanyeol menarik napas panjang, "Aku mencintaimu, kau tahu itu. Tapi kau sendiri yang memilih hubungan seperti ini. Sekarang aku harus rela saja, melihatmu ditiduri orang lain? Tidak bisa Baekhyun ah"
Baekhyun tersenyum miris, menahan air mata jatuh sebenarnya, "Kau yakin kau mencintaiku?"
Chanyeol menatap Baekhyun bingung, "Maksudmu?"
"Itu bukan nafsu? Bukan karena kau ingin mencari teman tidur?" terucap sudah dari bibir Baekhyun yang selama ini mengganjal di otaknya.
"Byun Baekhyun, jaga mulutmu"
"Memang benar kan? Kau selama ini hanya menganggapku teman tidur, sementara hatimu selalu untuk Kyungsoo?" suara Baekhyun sudah serak, air mata terjun bebas hingga ke ujung dagu lancipnya.
"BYUN BAEKHYUN!" kali ini Chanyeol berteriak keras walau sesaat kemudian sorot matanya kembali hangat seperti biasa. Kedua tanganya terulur meraih tubuh Baekhyun, memeluknya kencang, "Aku mencintaimu, bukan nafsu. Dan asal kau tahu, aku sama sekali tidak pernah berminat menyentuh Kyungsoo. Harus bagaimana untuk meyakinkanmu?"
Baekhyun terisak di bahu Chanyeol. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Sebaiknya kau kuantar pulang saja, mungkin kau hanya banyak beban pikiran"
.
.
"Hati-hati di jalan" ucap Baekhyun melambaikan tangan pada Chanyeol yang menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Baekhyun ah, kemari" Chanyeol melambaikan tangan, meminta bh mendekat.
Baekhyun mendekat, membungkuk di depan jendela Chanyeol. Tidak menyangka bahwa Chanyeol akan melongok keluar, mencium keningnya.
"Aku akan mengatakan semuanya pada Kyungsoo. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti" ucap Chanyeol begitu memberi jarak pada Baekhyun.
Baekhyun mengigit bibir bawah. Bingung antara senang dan... kacau. Ia hanya bisa melambaikan tangan pada Chanyeol yang kemudian menutup jendela mobil, meninggalkan halaman apartemen. Langkah Baekhyun gontai menuju lift.
Sungguh ia merasa bersalah telah meragukan perasaan Chanyeol. Tapi apa yang bisa diyakinkan dari hubungan diam-diam seperti ini? Hubungan yang dibangun dengan pondasi kebohongan, dikokohkan dengan berbagai macam trik, dijalani rahasia.
Dan memangnya apa yang diharapkan dengan kelangsungan hubungan ini? Berlanjut ke altar? Dengan lebih dulu memutuskan Kris dan Kyungsoo? Seolah akan mengadakan pesta di atas makam saudara sendiri.
Baekhyun tiba di depan pintu apartemennya. Tidak langsung menekan tombol kode pintu, ia terdiam beberapa saat membayangkan wajah sepupunya. Apa salah Kyungsoo di kehidupan sebelumnya? Bagaimana jika ia bertanya 'kenapa kau mencuri kekasihku?' jawaban apa yang harus Baekhyun beri?
Tapi cinta memang harus diperjuangkan kan? Seberat apapun itu juga?
Kode pintu : tanggal ulang tahun Baekhyun.
PIP
Pintu terbuka.
Terdengar lagu Addicted milik Kelly Clarkson mengalun dari speaker. Baekhyun melangkah masuk, mengedarkan pandangan mencari Kyungsoo namun tidak melihatnya bahkan di depan tv. Tidak mungkin pergi jalan-jalan dengan temannya, pasti hanya sedang di kamar mandi.
Baekhyun meneruskan langkah ke dapur, sekedar ingin mencari minuman dingin. Namun, langkahnya terhenti saat baru sampai pintu dapur karena melihat hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia sampai tidak bisa bereaksi, hanya tercengang.
Berjarak 3 meter dari tempat Baekhyun berdiri, ia melihat Kyungsoo sedang bercumbu dengan... Kris.
Iya, Kyungsoo sepupu yang tinggal serumah dengannya. Dan Kris, siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Sedang bercumbu.
Kyungsoo duduk di atas wastafel, menengadah tanpa baju, diciumi oleh Kris yang terlihat begitu bernafsu. Adegan berlanjut dengan mereka berciuman panas, saling hisap, hingga terdengar mengalahkan suara Kelly Clarkson yang sedang bernyanyi. Mereka bahkan sama sekali tidak menyadari Baekhyun ada di sana.
Tepat saat Kyungsoo menoleh, memudahkan Kris mencapai ceruk bahu kirinya, ia melihat Baekhyun. Refleks, ia mendorong Kris menjauh.
"Baekhyun?" mata Kyungsoo semakin bulat. Terkejut dan kalut. Ia buru-buru memungut bajunya yang tergeletak di rak piring.
Kris sama terkejutnya. Panik, ia menghampiri Baekhyun, "Baekhyun ah, aku... aku... bisa kujelaskan. Ini tidak seperti yang kau li_"
Baekhyun mundur menghindar, "Tidak. Biar aku yang jelaskan pada kalian" tersenyum memandang Kyungsoo yang memakai kaos dan Kris yang menarik tangannya. Ia merogoh celana jeans, mengambil ponsel lalu menekan salah satu kontak
"Baek, akan kujelaskan_"
"Chanyeol ah, bisa datang ke apartemenku? Ada yang kita harus bicarakan" ucap Baekhyun pada telponnya.
.
죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄죄
.
.
THE END
.
.
Iya, emang ff ini udah pernah dipost di salah satu blog ketjeh, jadi kalo ada yang ngerasa pernah baca, emang itu aku yang ngetik.
Konflik emang dibikin singkat, padat, nggantung, gak jelas karena pada dasarnya ini hanya sebuah oneshoot. Maafkan jika ada kesalahan dalam setiap huruf yang diketik. Percayalah, walau gak disengaja, tapi aku berharap emang adegan semriwing chanbaek adalah nyata /dor/
Terima kasih untuk semua yang udah mencet follow, favorite, ampe review ff biadab ini. Kalian adalah xxcbkido, vanilla92, kakjaer, fckbyxns, vitCB29, ChanBMine, reyshaa, exindira, CYBH, Roromato, septianaditya1997.
