Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya, tapi cerita ini asli ide saya sendiri.

Warning: TYPO(s), AU, alurnya cepet, dan berbagai kegajean lainnya.


[A/N: 1) Alurnya saya cepetin karena memang hobi saya gitu plus saya ga bisa bikin yang bertahap karena memang saya tipe ga sabaran. 2) Disini umur Kagamine twins adalah 16 tahun dan umur Rinto-ayah Rin adalah 25 tahun (sudah meninggal), lebih muda dari Lenka yang sudah 30-an lebih.]


.
Chapter 2

.

"Second, Are you sure?"

.


Se..selamat membaca u3u


"Kakak?" Rin menatap pintu yang baru saja ditutup itu.

Debaran di dadanya tidak kunjung berhenti walau beberapa kali ia mengelus dadanya. Ia tidak pernah merasakan debaran seperti ini sebelumnya. Debaran jantung yang seperti ini sangat berbeda dari saat ia berdebar-debar ketika nonton film horror atau saat dia menunggu hasil ulangan semesternya, apalagi ini adalah pertama kalinya Rin bertemu saudara kandungnya sendiri.

"Tunggu!" gadis itu berlari ke arah pintu dan segera membukanya. Dilihatnya sosok yang bagaikan pantulan dirinya itu menengok ke arahnya. Rin menelan ludah, ia kembali berlari kecil hingga sampai pada jarak yang sangat dekat dan menarik tangan yang orang yang ia panggil. "K-kubilang tunggu!" serunya sekali lagi.

"A..aku—aku Rin! Rin Kagamine! Salam kenal, Len!" ucap Rin nyaring.

Kagamine Len menatapnya. Bagi Rin tatapan itu sama seperti bermacam-macam pertanyaan yang menghujam dirinya, karena itu ia memutuskan untuk melanjutkan ucapannya yang tertunda.

"Mulai hari ini aku tinggal di rumah ini, m-mohon bantuannya. Lalu.. lalu.. terimakasih sudah membantuku mengantar koper ke kamar." Rin membungkuk-bungkukkan badannya berkali-kali. Ia menilai cara ini lebih baik daripada dirinya hanya bengong di dalam sana dan kebingungan bagaimana menyikapi Len kalau mereka bertemu muka lagi. Tapi memang menunggu reaksi Len seperti ini tetap membuatnya gugup.

"Hahahaha!" Len tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau tingkah Rin sebegini lucunya karena gugup.

"Eh?" Rin menatapnya bingung. Mata biru cantiknya itu naik turun memperhatikan Len dari atas sampai bawah. Len yang tersadar dengan tatapan bingung Rin itu pun berdehem.

"Ehem.. aku juga—"

"Lho? Len... cowok ya?" tanya Rin spontan.

Raut muka Len langsung berubah mendengar kata itu. Rin menutup mulutnya, ia sadar kalau kata-katanya kurang sopan. Tapi ia awalnya memang berpikir Len itu cewek karena ibunya bilang mereka kembar, Rin pernah beberapa kali melihat orang yang kembar seperti teman sekelasnya di sekolah, tapi semuanya mempunya jenis kelamin yang sama.

"T-tunggu! Maaf! Kukira semua orang kembar itu jenis kelaminnya sama, pantas saja saat pertama kali melihatmu aku merasa ada yang aneh.. Maafkan aku!"

'Duh.. kenapa aku jadi salting begini?' batin Rin dalam hati. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Permintaan maafmu kutolak!" Len mengulurkan lidahnya. Rin melongo. Melihat reaksi seperti itu Len kembali tertawa kecil.

"Aku bercanda.. Salam kenal juga, Rin~" Len mengulurkan tangannya.

"I..iya.." Rin menyambut tangan Len. Tiba-tiba Len menarik tangannya sebelum Rin menyentuhnya.

"Benar-benar kutolak lho.." Len tersenyum lalu mengulurkan lidahnya. Rin kembali melongo.

Len berbalik dan kembali melangkahkan kakinya, melanjutkan perjalanan yang tadi tertunda. Tangannya ia lambaikan pada Rin yang masih menganga.

'A-apaan.. apa-apaan itu!' batin Rin kesal. Rasanya malu sekali. Padahal dia sudah berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan Len. Rin tidak pernah bicara dengan orang lain selain ayahnya dan jika berbicara pada orang lain itu pun hanya kalau ia merasa penting saja. Karena itulah ia ekstra gugup karena tidak tau cara berkenalan yang baik. Dan hasilnya? Aah, Rin malu sekali diperlakukan seperti itu.

.

.

Rin memainkan sumpit yang ada di tangannya. Jari-jari lentiknya menjepit sumpit dan memutar-mutarnya seenak hati, itu ia lakukan berulang kali tanpa merasa bosan. Terkadang Rin menghela nafas. Rasanya capek sekali sehabis membereskan kamarnya. Walau ibunya tadi ikut membantu tapi capeknya tetap terasa, apalagi dia baru datang dari kota sebelah untuk kesini, perjalan hampir satu jam itu cukup membuatnya kelelahan.

Matanya melirik ke arah Len yang berada di depannya. Dilihatnya Len yang sedang melahap makanannya dengan semangat, dan berkali-kali mengambil udang yang tersedia di piring. Sangat mirip dengan yang sering dilakukan Rin. Kalau makan dan ada lauk udang, biasanya ia hanya mengambil udang itu saja tanpa mempedulikan yang lain. Rasanya Rin jadi melihat dirinya sendiri yang sedang makan di hadapannya itu, dan agak mengesalkan karena lauk yang lain tidak dihiraukan sama sekali.

Rin memangku dagunya, ia jadi mengerti kenapa ayahnya sering protes saat dirinya cuma mengambil udang saja.

"Apa sih liat-liat?" Len balik melirik ke arah Rin.

'Ck. Memang menyebalkan..' batin Rin kembali kesal, teringat tingkah Len sore tadi.

"Rin? Ayo makan, kau belum makan sama sekali dari siang tadi kan?" tegur Lenka yang memperhatikan Rin tidak menyuapi nasinya sama sekali karena mengamati Len.

"Baik!" sahut Rin buru-buru memakan nasinya. Dengan gerakan cepat ia mengambil tiga udang goreng sekaligus, takut kehabisan oleh Len. Melihat kelakuan Rin itu Lenka tertawa kecil.

'Ck, cewek ini...' batin Len kesal melihat Rin mengambil udang incarannya.

'Apa sih pandangan itu? Menyebalkan sekali..' pikir Rin tidak kalah kesal sambil mengunyah tiga udang sekaligus dalam mulutnya. Dilihatnya ada sebuah udang yang paling besar di antara 2 udang lain di piring. Secepat mungkin Rin meluncurkan sumpitnya menuju udang lezat itu, begitupun dengan Len.

Tep!

"Oi, ini milikku.." desis Len tajam. Sumpit mereka berdua sama-sama sedang menjepit si udang goreng.

"Aku yang duluan mengambilnya.." ucap Rin penuh dengan nada yang tidak mau mengalah.

"Tidak. Kita bersamaan mengambilnya. Tapi udang ini milikku."

"Sejak kapan ini jadi milikmu?"

"Sejak dia digoreng untukku."

"Wuaaa! Kau menyebalkan sekali!"

Alis Lenka bertaut melihat kelakuan kedua anaknya yang baru saja pernah makan bersama ini. Lenka merasa sering melihat pemandangan seperti ini.

"Sudah.. sudah, kalian berdua! Yang akur! Udangnya dibagi dua saja!" seru Lenka.

'Dapat!' batin Rin senang ia berhasil merebut udang tersebut saat Len menatap ke arah Lenka. Sebelum direbut kembali Rin langsung mengarahkan sumpit yang menjepit udang itu ke arah mulut mungilnya.

Tanpa Rin sadari Len maju karena tidak rela udangnya masuk ke dalam mulut Rin.

Hap!

"Hapaat~" Len menggumam tidak jelas karena berhasil melahap udang malang itu.

Kedua iris biru itu bertemu pandang. Suara nafas mereka terasa menjadi satu karena jarak yang terlalu dekat akibat Len yang nekad merebut udang dengan mulutnya sendiri—sebenarnya ia lakukan dengan sengaja. Wajah si gadis yang sadar dengan posisi ini memanas dan memerah.

'Terlalu dekaaaat!' amuknya di dalam benaknya tanpa bisa menyuarakannya ke luar.

"Ehem." Tiba-tiba Lenka berdehem.

Len buru-buru menarik tubuhnya dan duduk manis seperti sedia kala. Sadar ibunya meliriknya dengan tajam, Len menundukkan kepalanya dan memilih untuk kembali memakan nasi di dalam mangkuk.

"Anu.. ibu.. bagaimana dengan sekolahku?" tanya Rin mengalihkan suasana.

"Kau masuk satu sekolah denganku," Len menyahut tanpa mempedulikan ibunya yang juga ingin menjawab pertanyaan Rin.

"A..apa?" Rin mengerutkan dahinya ke arah Len.

"Hihi.." Lenka tertawa geli. Rin makin mengerutkan dahinya tidak mengerti. Apalagi kalau melihat wajah Len yang memerah.

"Berisik, tante kuning!" seru Len berhasil menghilangkan efek merah di pipinya yang muncul karena malu itu.

"Apa sih? Bukannya memang kau sendiri yang mengurus semua keperluan R—"

"Kubilang berisik!" Len berseru lebih nyaring.

Dahi Rin sekarang sudah seperti nenek-nenek karena berkerut terlalu banyak akibat kebingungan.

"Fufu.. ya sudah lah. Oh iya, Rin sehabis makan nanti langsung istirahat saja. Masih capek kan?" ucap Lenka mengedipkan matanya ke arah Rin entah apa maksudnya.


"Ibu besok berangkat pagi-pagi sekali karena harus mengejar jadwal kerja dan pesawat. Rin tidak apa-apa kan di rumah bersama Len?" tanya Lenka dengan lembut sambil mengelus kepala Rin yang kini sedang berbarng di atas tempat tidurnya.

"Iya.." Rin mengangguk mengerti.

Mendengar jawaban putrinya, Lenka bangkit dari duduknya di pinggir tempat tidur.

"Ibu keluar ya.." wanita cantik itu berjalan ke arah pintu. Rin memandanginya sampai pintu itu di tutup oleh Lenka tanpa suara.

"Haah.." ia menghela nafas.

Gadis itu melihat sekeliling kamarnya. Manik biru itu terus bergerak memperhatikan setiap sudut kamarnya yang memuat semua yang ia sukai, kecuali boneka pisang besar maupun kecil yang bertengger di tempat tidurnya dan juga di atas lemari-lemarinya. Bukannya ia benci pisang sih.. Tapi gadis manis itu lebih suka jeruk dari pada pisang. Tapi sudahlah, Rin berusaha mengabaikannya.

Rin lumayan penasaran.. siapa yang menata kamarnya seperti ini? Kalau tidak salah Lenka kan sibuk sekali kecuali hari ini. Masa' sih Len melakukannya? Rin menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran seperti itu. Ia meyakinkan diri bahwa ibunya lah yang melakukan semua ini.


Rin membuka matanya dengan cepat. Ia mengangkat tubuhnya dengan cepat dari tidurnya. Tangan lentiknya langsung mengarah ke jam weker kecil di meja di samping tempat tidurnya.

Pukul 8 pagi.

"Gawat! Aku bangun kesiangan! Ayah.. kita harus—" ucapan Rin terhenti.

Tangannya segera menepuk dahi putihnya. Walau udah beberapa hari sejak kematian ayahnya, ia selalu lupa kalau ayahnya telah tiada. Gadis itu selalu saja seperti ini kalau bangun pagi.

Rin menggigit bibirnya. Entah kapan ia bisa membuang kebiasaan paginya yang selalu berteriak memanggil ayahnya.

"Fuuh.." Rin mengambil nafas dan membuangnya. Wajahnya kembali menunjukkan air muka yang tenang. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Tanpa merubah cepat langkahnya, ia berjalan ke arah kamar mandi.

Namun sepertinya Rin seharusnya tidak memilih kamar mandi sebagai tempat utama untuk dikunjungi...

"Kau bangun siang sekali sih.." tegur suara berat nan shota.

Rin mendongak dengan mata sayunya. Dilihatnya Len yang mendengus di hadapannya dengan hanya memakai sebuah handuk yang diikatkan di pinggang. Tangannya yang ternyata lumayan berisi sedang menyangga tubuhnya di pinggir pintu. Bahunya yang lumayan bidang itu pun masih basah. Ditambah rambutnya yang belum kering dan masih menitikkan air—sepertinya Len tidak mengeringkannya dengan baik.

"Uwaaaaaa!" Rin berteriak kaget.

Len mengerutkan dahinya melihat spotanitas tak wajar yang dilakukan gadis serupa dengannya itu. Rin mengangkat satu kakinya tanpa sadar, matanya masih setengah mengantuk, dan kedua tangannya diangkat ke atas. Sungguh pemandangan yang mengundang tawa. Tapi tentu Len menahannya dengan menutup mulutnya sendiri dan terbatuk.

"Uhuk.. hei, sarapanmu ada di atas meja." Len melantunkan nada dingin khasnya. Setelah itu, ia berbalik dan meninggalkan kembarannya di belakang.

Rin tersadar dengan posenya, dan segera menurunkan kedua tangannya dalam diam. Semburat merah samar muncul di kedua belah pipinya seiring dengan tubuhnya yang terduduk di depan pintu. Manik birunya melirik ke arah genangan air yang disebabkan oleh Len tadi. Tangannya tanpa sadar bergerak dan menyentuh air itu dengan ujung jari telunjuk miliknya yang lentik.

Otaknya sibuk menerka ulang kejadian yang sudah dilihat gadis itu barusan, membuat semburat di wajahnya semakin memerah hingga Rin sendiri bisa merasakan panas di wajahnya. Begitu pula dengan jantungnya yang semakin memompa dengan kencang.

"U..uh.." gadis yang memasih memakai piyama kuning miliknya itu menggumam tidak jelas. Bibirnya digigit untuk menahan malu.

Aah, sepertinya Rin merasa dipermalukan untuk kedua kalinya.


TBC! Bukan nama penyakit lho..


Apdet dengan gajenya.. ini saya nyicil lho.. sangat susah menuangkan imajinasi dengan kecerdasan terbatas begini..

Maaf ceritanya banyak dialog, namanya juga cerpen #inifanficwoi!bukancerpen
Btw, untuk judulnya itu merupakan lanjutan dari judul di chap 1. Makanya jadi ga nyambung sama isi..ya kan? ya kaan? #maksa


R

E

V

I

E

W

XD