Updated: 09/03/2016

Naruto © Kishimoto Masashi

enjoy!


"..Kau memang belum berubah. Tetap tampan dan berbakat. Bahkan sikapmupun masih sama. Aku jadi ingat saat kita masih 'bersama' dulu..."

Wanita berambut cokelat-merah tua yang berucap itu menyeka bibir berbalut lipstik merah tuanya secara perlahan dengan sapu tangan agar kosmetik itu tidak hilang dari permukaan bibirnya. Setelah selesai meneguk anggur, dipandangilah sosok pemuda tinggi berkulit pucat yang berdiri di depan mejanya dengan lekat sambil melempar senyuman misterius yang bagi pemuda itu sendiri itu senyuman yang menakutkan.

Sementara pemuda pucat ituーUchiha Sasuke bukanlah orang yang suka bicara. Jika dianggapnya penting, dia pasti akan bicara. Jika tidak, masa bodoh dengan itu. Lagipula, jika bicara seperti itu jawaban apa yang harus diberikan? Apa Sasuke harus mengikuti rayuan itu dan berakhir sebagai 'korban'? Yang jelas Sasuke tidak mau menanggapinya.

Sasuke diam. Wanita itu diam.

Suasana begitu tenang seolah-olah tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Hanya terdengar bunyi AC di sudut ruangan dan dentingan jam dinding karena dua orang itu hanya diam tanpa suara, saling menatap, wanita glamor itu lantas mengambil satu potong sushi dengan sumpit dan mengunyahnya secara perlahan seolah-olah menjaga image seorang wanita berwibawah yang makan di luar rumah. Tak sedikitpun wanita itu membiarkan makanan tadi menyentuh bibir berlipstiknya. Sasuke yang melihat semua itu hanya memutar bola mata. 'Bahkan kebiasaan lamanya belum hilang' ucapnya dalam hati.

Dari balik pintu dapur, terlihat satu orang yang sibuk menguping. Namun tidak ada hasil karena suara dua orang di ruangan utama seolah teredam lapisan kaca pada pintu. 'Sial! Usahaku sia-sia!' Yang mencoba mengupingーYamanaka Ino mengumpat kesal.

"Kalau tidak salah namanya Terumi Mei, yang dikenal sebagai kritikus makanan yang paling memberi pengaruh buruk bagi para chef handal. Banyak restoran yang bangkrut karenanya. Seperti beberapa waktu lalu, ada restoran yang bangkrut hanya karena ucapannya. Benar 'kan Kiba?" Ino yang sibuk menguping sambil mengintip dari kaca pintu dapur itu bertanya pada sosok lain yang berdiri beberapa cm di belakangnya. Yang ditanya hanya mengangkat bahu tak tahu dan berjalan mendekat. Sepertinya kedua orang itu mulai penasaran apa yang sebenarnya dibicarakan wanita itu dengan sahabat mereka. Yang di ruang utama hanya saling menatap, sementara yang di luar ruangan, tepatnya di dapur, merekalah yang was-was ingin segera mengetahui pendapat sang kritikus wanita tentang rasa makanan chef tersayang mereka. Bukan mereka yang berhadapan langsung tapi malah tak tenang, sementara yang berhadapan langsung saja tetap tenang dan diam saja, melainkan si 'predator' yang bicara. Ini sungguh membuat panik dan membuat jantung tidak berdetak normal, apalagi si chef tersayang yang expressionless dari sononya, walau sedang sedih atau senang, tidak ada yang tahu. Entah apa tanggapan sang kritikus tentang masakannya, entah baik atau buruk, hal itu jelas tak bisa dibaca dari wajah expressionless milik si chef bernama Sasuke maupun si wanita glamor yang masih saja tersenyum misterius. Bisa saja dia sedang memuji atau mengolok? Ino dan Kiba semakin tak tenang.

"Sial aku tak bisa dengar apa-apa! Bahkan menangkap ucapannya pun tak bisa!" Yup, Ino mulai marah dan tidak tenang. "Dia pasti menggoda Sasuke! Lihat saja wajahnya yang dari tadi tersenyum begitu.. Oh andai saja aku bisa mendengar pembicaraan mereka!"

Kiba hanya mengangkat bahu mendengar ucapan perempuan di sampingnya. "Siapa yang tahu isi pikiran wanita.. Jika aku mereka, mungkin aku akan memahaminya." ucapnya dengan menekan kata wanita sambil melirik ke arah Ino.

Ino tersenyum miring lalu menoleh dan memberi tatapan mengejek pada si pria penyuka anjing. "Walau menjadi wanitapun kau tak akan pernah memahaminya!"

Kiba hanya mendesah kecil mendengar ejekan itu. Otaknya tak seluas samudra raya yang bisa memahami perkataan yang penuh makna terselubung. Seperti halnya wanita, sosok manusia yang sukar dipahami jalan pemikirannyaーtepatnya yang sedang berdiri di sebelahnya ini.

Kembali ke ruang utama, ruang VIP lantai dua,

"Sudah berapa banyak gadis beruntung yang kau kencani, anak muda?"

Sasuke menautkan kedua alisnya. Kritikus bergender wanita ini menanyakan pertanyaan yang membuatnya bingung. Dia tak mengerti apa maksud pertanyaan itu namun dia berusaha-menjawab-sesopan-mungkin, "Pardon me?"

Si wanita hanya tersenyum kecil sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas bermotifnya, menyadari si chef muda memang masih polos dan tak ingin orang lain mengetahui privasinya. Dia berujar, "Kau mengerti maksudku," lalu mengambil pemantik dan menyalakan ujung rokok. Dia kembali berujar, "Siapapun yang nanti akan menjadi istrimu, dialah wanita yang paling beruntung."

Sasuke sama sekali tidak peduli dengan perkataan wanita itu. Dia menjawab, tanpa-adanya-rasa-hormat-pada-yang-lebih-tua, "Ini ruang VIP, nyonya! Tidak untuk merokok." yang secara langsung menghentikan kegiatan wanita itu.

Sang kritikus tertawa nyaring.

Ino dan Kiba menatap ngeri dari dalam dapur.

Setelah puas tertawa, wanita itu kembali tersenyum misterius sambil berucap, "Aku banyak mendatangi tempat-tempat terkenal, tapi belum pernah dipermalukan seperti ini. Beruntung hanya ada kau dan aku di sini." Dia bangkit dari kursi pelanggan, tak lupa mengisi kembali barang-barang berharganya. Dirinya berucap lagi, "Aku sedang radang, jadi tak ingin bicara banyak." ucapnya sambil menyesap rokok bermerknya.

Sasuke masih tetap dengan ekspresi datarnya setelah-dengan-beraninya menegur orang yang lebih tua. Apakah wanita itu tersinggung? Atau marah dan akan memberi kritikan tajam padanya? Sasuke sudah pasrah. Akan dia terima semua akibat ucapannya itu.

Diluar dugaan, Terumi Mei berucap, "Teruslah memasak." dan untuk kali ini wanita itu tersenyum tulus, berbeda dengan senyumannya yang lalu-lalu.

Sasuke seperti tersetrum listrik. Lumpuh seketika. Bukannya tidak bahagia, dia masih tidak percaya. Bahkan seorang kritikus ternamapun mengakuinya? Bukannya dulu wanita itu pernah meruntuhkan harga dirinya saat masih belajar di kuliahnya? Rupanya wanita itu memang sengaja ingin membuat Sasuke menjadi lebih terdepan. Tidak sia-sia ucapan tak berprikemanusiaannya waktu itu, yang mengubah Sasuke hingga bisa seperti sekarang. Sasuke menyadari semua itu.

Dan jika saja, Sasuke itu perempuan, pasti dia sudah berteriak histeris, melompat, guling-guling (?), apapun, agar perasaan bahagianya tersalurkan. Namun, darah keturunan keluarga Uchiha bahkan-lebih-dingin dari es. Pemuda ini hanya tersenyum, kemudian membungkuk dalam memberi hormat. "Terima kasih banyak, Terumi Mei-san. Saya harap anda akan berkunjung lagi di tempat ini. Dan..." Sasuke sempat berhenti sebelum melanjutkan, "..maaf... untuk yang tadi.. err... karena sudah berkata.. yang tidak sopan, Mei-sensei.." Untung saja dia sedang membungkuk jadi wajah malunya bisa disembunyikan. Betapa malunya Sasuke karena meminta maaf saat itu. Wanita bernama Terumi Mei adalah dosen pembimbingnya saat masih kuliah jadi wajar Sasuke meminta maaf atas ketidaksopanannyaーmungkin karena dia masih kesal dengan ucapan hinaan si dosen, dan lagi Sasuke memanggil nama kecil wanita itu untuk mengenang saat-saat mereka masih 'bersama' dulu.

Sang kritikus wanita kembali tersenyum melihat tingkah si bungsu Uchiha. Dia berucap memohon, "Aku masih ingin mencicipi masakanmu. Jika kaupun tak keberatan, aku ingin salah satu rekanmu mengantarkannya setiap pagi di tempatku tinggal. Oh, dan jangan lupakan taburan cintanya…" kemudian mengedipkan matanya dengan genit. Sasuke yang sempat melihat itu balas tersenyum. Mantan dosen yang satu ini memang belum berubahーtetap cantik dan centil dimata Sasuke.

"Kalau begitu, aku pulang dulu.."

"Sensei..." Sasuke menghentikan kepergian sang mantan dosen dengan suara bisikkan kecil.

Wanita itu lantas memandangnya. "Hm?"

"Ada yang ingin kubicarakan.."

Dari nada bicaranya, Sasuke seperti sedang putus asa. Mantan dosennya tahu, pikiran pemuda di depannya memang tak di tempat ini sejak tadi. Dihampirilah Sasuke lalu menepuk-nepuk pundaknya penuh perhatian. "Aku tahu kau sedang ada masalah, tapi jangan biarkan semua itu melemahkanmu. Tetaplah seperti 'Sasuke' yang dulu, seperti 'Sasuke-ku' yang tak kenal menyerah, cukup seperti 'Sasuke' yang dulu.."

Sasuke menatap sang mantan dosen yang tersenyum padanya. Dia lalu membuang mukanya yang memerah? Yah, karena memang mereka punya 'sesuatu' dulu.

"Sensei.." Lirih Sasuke yang masih membuang muka. "Kau terlalu dekat, merekaーteman-temanku bisa curiga..."

Wanita itu mundur selangkah untuk menjauh. "Aku hanya ingin lihat wajah tampanmu dari dekat, tapi tenanglah aku sudah puas. Cukup seperti ini saja."

Sasuke berkata dalam hati, 'Apa dia belum puas melihatku dari tadi? Dua orang di sana, mereka pasti akan curiga.'

Sementara sang mantan dosen merapikan riasannya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan. "Aku masih ada urusan, nanti aku berkunjung lagi. Sekalian melihat dapurmu." Wanita itu lalu berbalik dan mulai berjalan, sebelum kembali berbalik menghadap Sasuke dan berucap, "Aku sudah tinggalkan alamat rumahku yang baru. Nomor ponselku masih yang dulu, hubungi aku kalau kau butuh bantuan. Dan.. ingat 'janji' kita? Aku pergi dulu!" setelahnya wanita itu melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu.

Sasuke masih membungkuk sampai sang mantan dosen menghilang sepenuhnya. Dilepaskannya topi chefnya dan memandang meja yang tadinya ditempati wanita itu. Ada amplop yang dibawahnya terselip kartu nama. Belum sempat dia mengambil benda itu, tahu-tahu dua orang rekannya, Yamanaka Ino dan Inuzuka Kiba sudah berlari hingga berhenti di samping tempatnya berdiri.

"Apa yang dikatakannya?" Tanya Ino cepat.

"Semoga ini bukan berita buruk!" Tambah Kiba was-was.

Sasuke menatap kedua orang itu bergantian dan tetap diam. Tak ada perubahan raut mukanya. Membuat dua orang itu semakin penasaran.

"Katakan pada kami, Sasuke?" Pinta Ino saking penasaran hampir melompat.

Sementara tiga orang lagi datang dari lantai satu. Jūgo, Shion, dan Aburame Shino.

"Chef!" Shion berlari menghampiri, menghentikan langkah kaki di samping Ino.

Jūgo mengambil tempat di belakang Shion.

Sementara Shino berdiri tak jauh di sebelah ketiga chef itu.

Sasuke mulai bicara, saat semua sudah berkumpul. Mengungkapkan kembali kata-kata yang bisa membuat orang melambung ke langit tertinggiーsebut saja kata-kata yang menghibur untuk mengembalikan semangat.

Selanjutnya minna-san silahkan berimajinasi sendiri kira-kira apa yang terjadi setelah itu.

Berbeda dengan yang lain, Sang head chef tetap diam. Diambilnya amplop dan kartu nama dari atas meja.

Jūgo mengekornya. "Wanita itu kenalanmu 'kan?"

Sasuke tidak menjawab. Dia hanya mengisi benda tadi di dalam saku seragamnya dan mengalihkan pembicaraan. "Sudah selesai di bawah sana?" ーlebih terdengar seperti kalimat sindiran tapi percayalah, Sasuke sedang 'baik' dia tidak bermaksud menyindir tapi memang harus memastikan. Kafe ditutup pukul 12AM dan sekarang mungkin baru setengah jam mendekati tengah malam. Mungkin masih ada pengunjung yang datang?

Sementara chef lain yang masih ribut karena terlalu bahagia mendadak diam mendengar ucapan sang head chef. Belum saatnya untuk berhenti berkerja tapi mereka sudah seenaknya bersenang-senang sendiriーminus tiga orang iceman, Sasuke, Jūgo dan Shino yang tetap diam.

Ino memberanikan diri untuk bicara, "Ini bukan kesempatan yang bisa terjadi dua kali, chef. Sudah seharusnya kita merayakannya."

"Head chef kita tidak suka keramaian, kau tahu?" Jawab Shino yang bersandar malas di tembok.

"Kita bisa merayakannya di sini." Ino kembali bersuara. "Aku yangー"

"ーKalian tidak perlu repot-repot. Kita rayakan saja di tempatku."

Ada suara yang memotong kalimat Ino. Sosok yang terlupakan, gadis bersurai merah bata sepinggang, berkacamata, dan bertubuh tinggi, sosok aktris yang mengenakan kaos atasan bahan chiffon longgar ditemani bawahan black legging dan medium heels prismUzumaki Karin membenarkan letak kacamata minusnya sambil berucap, "Kalian bilang ada perayaan bukan? Aku datang sebagai sukwati. Dan aku tidak terima penolakan!"

"Karin-san?" Ino menolehkan kepala pirangnya ke arah yang baru saja bicara. 'Kenapa dia ada di sini? Ah.. tapi kalau dia di sini, berarti..' Ino tersenyum mengingat sosok idolanya pasti akan segera muncul juga. Dia tak jadi bertanya malahan tersenyum sendiri.

"Kau sendirian?" Tanya Jūgo memastikan.

"Aku bersama Suigetsu." Karin menunjuk ke belakangnya. "Mungkin dia masih di bawah."

"Aku juga di sini tahu! Kalian jangan sekali-kali melupakanku!" Suara misterius berupa ancaman itu terdengar sesudah gadis berkacamata menyelesaikan kalimatnya. Hozuki Suigetsu menggeram dari balik pintu karena merasa kehadirannya tidak disambut secara baik oleh penghuni ruanganーkarena memang sebagian besar dari mereka tak mengharapkan kehadiran si pria bergigi hiu. Bukannya tidak suka dengan sifatnya, tapi jika mulai mabuk alkohol pasti selalu bercerita panjang lebar dengan cerita yang tidak masuk akal yang membuat bosan orang yang mendengarnya. Apalagi akan ada perayaan berati ada alkohol, repot nanti yang mengurusnya kalau gigi hiu itu mabuk. Hanya Sasuke yang bisa menanganinya. Sampai Suigetsu begitu menghormati-menyayanginya seperti kakak sendiri. Apa yang Sasuke katakan selalu diturutinyaーmelebihi perintah tuan putrinya, Uzumaki Karin.

Dan untuk situasi sekarang, sepertinya sang pemilik kafe belum memberi jawaban apa-apa, jadi orang-orang malang di sana tetap setia menunggu. Hingga… Sasuke tak kunjung memberi jawaban. Itu berarti, tidak ada perayaan. Tidak ada istilah 'perayaan' dalam KBBSーKamus Besar Bahasa Sasuke.

Yang lain mendesah pasrah sambil melangkahkan kaki ke tempat masing-masing untuk kembali bekerja. Sasuke masuk ke ruang pribadinya meninggalkan Karin dan Suigetsu yang tidak menyadari kepergiannya.

Selang beberapa saat...

"Sasuke?" Panggil Karin di depan pintu ruangan pribadi milik kenalannya. Dia mengetuk untuk memastikan apakah pria yang dipanggil memang ada di dalam sana atau tidak karena sosok itu menghilang dari pandangannya beberapa menit yang lalu.

Mengetahui tidak adanya jawaban, gadis berkacamata itu menunggu. Dia mendengar suara laki-laki dari dalam ruangan yang tak begitu jelas hingga terpaksa harus menempelkan telinganya ke daun pintu. "Mungkin dia sedang berdoa." ucapnya saat mendengar suara dari dalam yang berupa ucapan doa.

"Itu dosa jika mengganggu orang yang sedang berdoa." Suigetsu, si gigi hiu yang bersandar di tembok sambil memainkan kuku jarinya berujar mengagetkan Karin. Si scarlet menghentikan perbuatannya dan menggangguk pelan.

"Dia sedang berpojok-doa jadi bersabarlah sedikit sampai dia selesai." tambah Suigetsu yang masih memainkan kuku jarinya.

"Ah. Maaf kalau begitu.." Karin mengaruk-garuk pipi salah tingkah. "Ngomong-ngomong… Anak itu, Menma.. Apa kau tidak menghubunginya? Aku belum memberitahunya karena kupikir dia masih sibuk dengan urusannya." Karin berhenti sesaat untuk melirik jam dinding. "Sudah hampir tengah malam. Mungkin dia sudah selesai. Coba hubungi dia?"

Pria bermarga Hozuki mengangguk patuh.

Beberapa saat kemudian, Sasuke keluar dari ruang pribadinyaーmasih dengan seragam chef tentunya. Dia memandang Karin yang tersenyum padanya.

"Kau mau makan apa?"

"American's Burritos." Jawab Karin sambil tersenyum.

Sasuke sempat menatap Karin yang terus tersenyum padanya, dia memberi tatapan, 'Ada sesuatu di wajahku?'

"Tidak.." Jawab Karin, dia melanjutkan dalam hati,'Aku hanya ingin memandangmu saja. Jarang aku bisa melihatmu setiap hari, cukup satu detik tidak apa asalkan aku bisa melakukannya." Karin tertawa kecil setelah mengucapkan kalimatnya.

Suigetsu yang selesai menelpon sempat melihat senyuman bahagia Karin, kali ini dia mencoba mengusili sang aktris bermarga Uzumaki itu. "Dia terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini. Mirip gadis yang sedang kasmaran." Ucap si gigi hiu sambil memukul pelan pundak Sasuke. "Aku ingat, akhir-akhir ini dia juga terlihat lebih akrab dengan manajernya," Dia lalu mengusap dagunya seolah berpikir, "Hoh… Sepertinya ada misteri baru yang belum terungkap.."

Karin menatap Suigetsu dengan satu alis yang naik. "Aku? Dengan si ubanan itu?" Gadis itu berdecih sambil memutar bola mata. "That was insane, y'know? Aku memang ada urusan kecil dengannya. Selebihnya kalian tidak perlu tahu!" Dia menggantung kalimatnya. "Ini juga demi kebahagiaan seseorang…"

"Seseorang?" Suigetsu bingung.

"Ya! Seseorang!" Jawab Karin dengan pasti seraya mengambil tempat duduk di salah satu kursi pelanggan. Seolah-olah pembicaraan itu SUDAH selesai dan tidak ada yang perlu dibahas lagi.

Sementara Sasukeーyang seperti biasa tidak peduli dengan dunia sekitarnya hanya ber-hn dan memulai kegiatannya.

Suigetsu mengikuti si pria Uchiha. Diperhatikannya sedetail-mungkin bagaimana terampilnya tangan pucat itu menggerakkan alat-alat dapur yang dia sendiri tak begitu hafal namanya. Mungkin pisau, wajan, spatula, dan separuhnya yang dia ketahui. Untuk beberapa saatーkarena terlalu terpesona, Suigetsu malah melupakan apa yang mau dikatakannya. "Kau… Luar biasa…" Sampai kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dia bahkan tidak sempat menahan diri untuk mengeluarkan kalimat pujian itu.

"Kau bicara sesuatu?" Sasuke yang tidak mendengar dengan jelas kalimat itu sedikit memiringkan kepalanya ke samping untuk memastikan. Suara cipratan minyak terlalu berisik dan menulikan pendengarannya.

Sementara Suigetsu yang terkejut dengan pujiannya sendiri buru-buru mengganti topikーkembali ke topik pembicaraan mereka sebelumnya. "Aku bilang, mungkin aku tahu siapa orang yang dimaksudnya… Dia bicara tentang kebahagiaan, dan 'seseorang' itu, aku mungkin tahu siapa dia.."

"Hn. Baguslah itu." Sasuke kembali fokus pada wajan berisi cincangan daging sapi dan rempah-rempah yang sedang digorengnyaーSalah satu aspek yang memengaruhi rasa makanan adalah teknik penggorengan. Digoreng setengah matang lebih banyak diminati banyak orang. Sebaiknya dengan api sedang yang berwarna biru.

"Ya." Jawab Suigetsu. Pandangannya masih terarah pada jari-jari terampil itu. "Mungkin, si Menma?" Kali ini dia mulai bicara asal-asalan. Tak tahu topik apa lagi yang harus disampaikan.

"Menma? Adiknya bukan?" Sasuke bertanya tanpa menoleh. Beberapa lembar tortilla sudah diletakkan di atas dulang. Siap untuk digulung. Tinggal menunggu isian yang digoreng tadi mulai berbau harum dan hampir dingin, lalu digulung dan disajikan.

"Ya Menma. Si pira-err si playboy terkenal itu." Suigetsu mulai ngiler melihat isian burritos yang sudah berbau harum hampir matang. Saking tak bisa menahan rasa lapar yang tiba-tiba, dia hampir salah menyebut nick-name orang lain.

"Dia tidak kemari?" Tanya Sasukeーtanpa adanya rasa curiga. Diambilnya beberapa daun selada kemudian diletakkan di atas keripik tortilla. Sebelum digulung membentuk silinder, tentunya dimasukkan isiannya tadi. Tinggal satu lagi finishing touch maka satu porsi American's Burritos akan tersaji di atas piring dan siap dinikmati.

Melihat makanan berbentuk kebab Turki yang masih beruap panas itu membuat si gigi hiu mulai tergoda. Dia menjawab sambil menelan ludah, "Dia bilang akan kemari. Mungkin sedikit lagi tiba." Melihat makanan Sasuke membuatnya lapar dan ingin segera menelan makanan sekali suap. Namun harga diri menghentikan niat jahatnya. Bukannya harga diri merupakan hal utama bagi manusia bergender laki-laki? Mereka akan tetap mempertahankannya walau dengan cara mustahil sekalipun, asal harga diri mereka tak jatuh. Walaupun Sasuke sudah dianggap 'adik kandung' olehnya, tetap saja ini tempat umum. Lain halnya di apartemen Sasuke, Suigetsu akan lahap menelan makanan buatan Sasuke tanpa dikunyah lebih dulu. Toh hanya mereka berdua di sana, bahkan tuan putrinyapun tak tahu sikap yang satunya itu.

Sementara Sasuke hanya mengangguk dan menolehkan kepalanya kearah Karin. Sepertinya dia lupa menanyakan minuman apa yang mau diminum sang aktris berkacamata. "Minumanmu?"

"Tidak perlu," Karin menggeleng sambil mengulum senyuman lain. Dia bangkit dari kursi menuju pintu pembatas dapur dan ruang utama. "Sudah kusiapkan sebelumnya. Tapi sepertinya tertinggal di bagasi. Aku segera kembali."

Sasuke kembali mengangguk.

Suigetsu masih menatap makanan di atas meja tanpa mengedipkan mata.

Karin yang sudah di ambang pintu malah berbalik dan menarik lengan orang terdekatnya. Gadis pirang bermarga Yamanaka menjadi sasarannya. "Aku pinjam dia sebentar!" Seru Karin meminta izin.

"Chef! Aku segera kembali!" Teriak Ino sebelum menghilang di balik pintu.

"Sasuke…" Suigetsu memanggil sambil menunjuk dengan jari-jari yang sedikit bergetar ke arah piring batu putih di hadapannya. "Boleh aku buat punyaku sendiri? Entahlah mungkin mengiris bawang dan membuat isinya? Kau juga tahu 'kan, aku tak bisa tahan semenit saja tanpa masakanmu. Karena itu aku mau mencoba..." Celotehnya panjang lebar sampai-sampai author tak punya ide lagi harus menulis apa. Yang pasti si gigi hiu ingin mencoba membuat American's Burritos pesanannya sendiri.

Sasuke menanggapi itu dengan anggukkn kepala.

"Dan satu lagi, aku mau ukuran jumbo!" Tambah Suigetsu sambil tersenyum lebar.

Kali ini bukan dengan anggukkan kepala tapi Sasuke menanggapi permintaan itu dengan menaikkan bahu. Dia hanya perlu melihat dan memberitahu jika si Hozuki kesulitan dalam pekerjaannya.

.

.

Di luar ruangan, tempat parkir cafe,

"Apa Sasuke sudah punya kekasih?"

Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Karin yang sedang menggendong satu kardus minuman beralkohol, membuat gadis lain bersurai pirang harus menautkan alis karena heran. Dia berusaha menjawab, "Ah… Aku tidak tahu pasti dengan itu.." sambil menerima kardus tadi dari si penanya, lalu melanjutkan, "Kami memang akrab tapi tak pernah membicarakan hubungan semacam itu. Masa lalunya juga suram, kau pasti mengetahuinya." Dia menatap Karin untuk memperjelas jawabannya. "Dia juga… sangat tertutup. Meskipun ka…"

Tapi jawaban itu harus terhenti karena satu hal-yang-lebih-penting memaksanya untuk segera berhenti saat itu juga.

"Beri aku lima menit!" Pintanya dan dengan cepat mengembalikan dus cokelat tadi pada Karin. Dengan langkah cepat pula dirinya bergegas meninggalkan aktris berkacamata yang menatapnya dengan wajah bingung.

Jika insting memang bekerja, pemuda yang tengah berjalan memungguninya itu memang Uzumaki Naruto, sosok yang pernah menjadi belahan jiwanya, sosok pujaan yang selalu dinantinya untuk kembali berjumpa. Bukan hanya postur tubuh, melainkan caranya berjalan. Ino yakin itu adalah Naruto.

'Naruto…' Hanya nama itu dipikirannya, yang membuatnya tanpa pikir panjang meraih lengan kekar pemuda pirang di hadapannya.

Pria itu menoleh, mendapati gadis berwarna rambut serupa dengannya sedang memandangnya. Saat itu juga dirasakan cengkraman di lengannya melemah seiring perubahan ekspresi gadis yang tidak dikenalnya.

"I'm sorry." lirih Ino yang menundukkan kepalanya ke arah pantofel mengkilat. "I mistook you someone…"

Si pria misterius mungkin tertawa, ataupun mengejeknya karena kesalahan yang dibuatnya. Terbukti dengan ucapan pria itu yang sedang menelpon, "Oh, uh, all is fine. I just meet pretty-sick-girl. Though she's pretty, I should get her phone number instead, or what do you think?"

Ino memutar tubuh lesunya tanpa memedulikan ucapan pria itu. Dengan langkah gontai sambil mengurut keningnya. 'Naruto… Dimana kau sebenarnya? Apa kita bisa bertemu lagi? Aku ragu, semua itu bisa terjadi."

Pria misterius itu menghentikan langkah Ino dengan mengajaknya bicara. "Miss... could you gimme your phone number?"

.

.

Kembali ke Dapur Lantai 2...

"Bukannya seperti ini Sasuke?" Suigetsu bertanya saat mengiris bahan isian. Si chef melirik sekilas seperti apa bentuk-tebal-tipis irisan hasil karya si gigi hiu.

"Masih tebal. Dicincang saja." Komentar sang chef. Irisan bahan-bahan itu lebih mirip potongan daging yang dipotong dadu dengan ketebalan yang tidak sama, seharusnya dicincang halus tapi maklumlah masih pemula memang sulit.

"Ah! Dimengerti!" Suigetsu kembali mencoba.

Melihat sikap Suigetsu yang tidak biasanya seperti ini membuat Sasuke teringat sesuatu.

Tanpa sadar dia sudah larut dalam lamunannya.

.

.

.

.

.


Sasuke's Flashback

"Aku lelah sekali!" Keluh Sasuke sambil menyeka wajahnya yang berkeringat dengan punggung tangan. Hukuman yang diterimanya kali ini merebut semua kekuatannya. Siapa yang tidak lelah dihukum berlari keliling lapangan sekolah yang luasnya saja seperti landasan bandara? Apalagi dihukum berlari 75 putaran saat jam 1 siang? Terkecuali Sasuke itu om-om perut buncit yang ingin diet atau olahragawan yang sedang latihan.

Walaupun masalah yang diperbuatnya sudah selesai, Sasuke masih jengkel mengingat kalimat cemooh yang dilontarkan kakak-kakak kelas berandal yang tidak dikenalnya itu.

Semua berawal saat Sasuke keluar dari WC saat jam istirahat siang. Tiba-tiba tiga orang murid tak dikenal sudah berdiri di depan pintu keluar dan menatapnya dengan raut wajah yang mengisyaratkan rasa jijik dan sejenisnya.

Si dingin Uchiha tak memedulikan hal itu dan berjalan keluar, namun langkahnya terhenti saat salah seorang dari siswa itu mengejeknya. "Bukannya dia seorang prostitute? Penjerat om- om kaya berkepala 3… bahkan 4?" Orang pertama yang memulai dengan menyilangkan tangan di depan dadadia mungkin ketua kelompok berandal ini.

"Lihat saja tampangnya yang feminim itu! Aku bertaruh dia itu bottom…" Orang kedua memberi tatapan menghina yang memuakkan untuk dilihat.

"Kira-kira sudah berapa banyak om-om yang sudah tidur dengannya? Pemuda cantik sepertinya tak cocok diposisi top!"

Orang ketiga menatap Sasuke dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memerhatikan bentuk tubuh ideal yang cukup banyak menarik perhatian orang lainbahkan di mata laki-laki sekalipun. Apalagi Sasuke memang suka memamerkan dada mulusnya *coughs.

Awalnya semua ejekkan itu tidak berdampak bagi Sasuke. Dia hanya bergumam dalam hati, 'Remaja labil… Urusi urusan kalian dan enyalah!'

Dan kali ini Sasuke terpaksa harus menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan mulut yang membuat tekanan darahnya naik seketika. Hampir serangan jantung jika saja Sasuke itu penderita hipertensi karena ucapan sang ketua kelompok berandal itu yang bunyinya, "Bukannya keluarga keturunan Uchiha memang begitu? Mereka bermasalah dengan orientasi seksualnya... Tak heran jika yang satu inipun juga begitu. Hati-hati dengannya kare" belum sempat kalimat itu habis terucap, murid beranting itu sudah ambruk di atas lantai keramik yang dingin. Satu pukulan telak di dagu rupanya sangat bermanfaat untuk 'menidurkan' orang dan juga sebagai penyalur emosiini fakta, percayalah. Prinsip hidup Sasuke, orang lain boleh mem-bully-nya sesuka hati, asalkan jangan sekali-kali menjelekkan nama keluarganya. Dia tak akan segan-segan menghajar orang itu. Seperti yang terjadi sekarang.

Sementara dua muridanak buah pengikutnya hanya bisa membelalakkan bola mata karena saking terkejutnya. Ketua mereka 'kalah telak' hanya karena satu pukulan? Mereka buru-buru mengembalikan kesadaran sang ketua dengan mengguncang-guncang tubuhnya. "Suigetsu-san! Suigetsu-san! Kau baik-baik saja? Apa kau sedang bercanda? Mana mungkin kalah telak karena pukulan itu? Bangunlah ketua! Ketua!"

"Apa aku terlalu berlebihan?" Tanya Sasuke menatap puas satu korban kejahatannya yang tengah berbaring-dengan-tenang di atas lantai, tentunya sambil mengurut punggung tangannya yang nyut-nyut. Lalu berganti menatap dua calon korban berikutnya. "Any last word?" Sasuke berjalan mendekat dengan senyuman iblisnya.

Dua murid berandal itu berteriak keras yang secara langsung mengundang murid-murid lain untuk menyaksikan perbuatan bengis Sasuke, sampai-sampai wali kelasnya datang juga. Menyaksikan bagaimana murid berandalan yang telah berulang kali masuk daftar hitam babak-belur di tangan Sasuke, yang seorang diri menghabisi mereka.

Berakhir dengan hukuman lari 75 putaran yang membuat Sasuke juga hampir kehilangan kesadarannya karena terlalu lelah. Dia berbaring lemas di atas rumput hijau tua yang sewarna dengan kausnya. Kedua tangan dilebarkan di samping badan. Iris kelam malamnya bersembunyi di balik kelopak matanya. Baju seragamnya dia tinggalkan di kelas karena sudah kotor oleh darahyang pasti bukan miliknya. Sementara celana seragamnya juga diganti dengan celana training hitam.

"Temui aku setelah ini di UKS." Wali kelasnya yang muncul dari balik gedung mengajaknya bicara sambil menyerahkan sebotol minuman berion.

Namun si bungsu Uchiha tidak begitu saja menerima 'kebaikan' itu. Dia malah menjawabmembela diri sendiri, "Bukan aku yang memulainya jadi aku tak akan meminta maaf!" karena dia tahu arti ucapan itu, pergi ke UKS, tentu saja untuk meminta maaf atas perbuatannya. Tapi Sasuke tak mau melakukan itu.

"Aku tahu itu, Sasuke. Setidaknya maafkan mereka. Karena perbuatanmu itu mereka pasti sudah jera." Wali kelasnya yang biasa disapa Iruka-sensei mencoba memberi saran. Siapa tahu bisa membuat si Uchiha berubah pikiran dengan sifat keras kepalanya ini.

"Sensei..." Panggil Sasuke dengan nada bicara yang biasa, dirinya sedikit bergeser ke arah pepohonan agar sinar terik matahari tidak langsung mengenai kulitnya yang mulai memerahefek lelah dan terlalu lama terkena sinar matahari. Dia melanjutkan, "Jika kata 'maaf' itu mudah untuk diucapkan, mungkin sudah kuucapkan setiap saat.."

Sasuke sadar, sepertinya Iruka-sensei sedang tersenyum, jelas dari nada bicaranya yang sedikit berubah. "Kau sudah kumaafkan untuk kejadian hari ini... /Jadi kuharap kaupun melakukan hal yang sama untuk mereka./"

Dia sedikit mengangkat tubuhnya untuk memastikan pendapatnya. Wali kelasnya memang tersenyum. Matanya semakin sipit karena senyuman itu.

Mengetahui itu Sasuke lalu menunduk sambil menggaruk lehernya. "Terima kasih.. untuk 'yang ini'..." dia mengangkat bahu lalu memiringkan bibir kearah minuman berlabel buah kelapa hijau di tangannya, "dan.. 'yang lainnya'..." lanjutnya dengan nada malu karena pengakuannya.

Umino Iruka seorang yang pandai, dia pasti mengerti maksud perkataan si tsundere Uchiha bungsu. Dia bergumam pelan, "UKS setelah ini ok?" kemudian berjalan menjauh meninggalkan si Uchiha yang berbaring di rerumputan taman sekolah.

Si Uchiha baru saja akan menutup kelopak matanya sebelum dirasanya ada tekstur kain kasar berbau minyak wanginya terjatuh dari atas menutupi wajahnya. Diraihnya handuk kecil tersebut dari wajahnya untuk melihat siapa gerangan yang berani mengganggu acara tidur siangnya. Yang ditemuinya hanyalah cengiran dungu yang sudah biasa dia lihat tiap hari.

"Yo!" Cengiran itu terlukis lagicengiran yang hanya milik Uzumaki Naruto.

Sasuke lebih memilih untuk kembali menutup wajahnya dengan handuk tadi karena menurutnya wajah Naruto lebih terang dibanding matahari. Wajah sok imut itu tergambar begitu jelas di bola matanya walau sudah ia pejamkan erat-erat. 'Usuratonkachi! Dia bahkan lebih indah dari matahari!' Sasuke hampir menggigit lidahnya karena pesona 'matahari lain' di depannya. Untunglah wajahnya sudah tertutup handuk sehingga dia bebas berekspresi ala remaja labil.

Entah mengapa, matahari di Kota Higashiosaka hari ini lebih terik dari sebelumnya. Membuat keringat ditubuhnya mengalir lebih deras. Apalagi karena 'mataharinya' ada bersama dengannya sekarang.

Mendengar tak ada jawaban, Naruto lantas mendudukkan pantatnya di sebelah Sasuke. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya sambil melirik cowok yang sedang menutup wajahnya. "Handuk kecilmu tertinggal di kelas jadi aku datang untuk mengantarkannya padamu. Aku juga bawakan minuman. Kau pasti lelah sekali.."

"Aku baik-baik saja." Jawab Sasuke cepat, berusaha untuk segera mengunjungi alam mimpinya. Mengingat perkataan korban kekerasannya tadi tentang istilah 'Prostitute', 'Top', 'Bottom' dan 'Orientasi Seksual' saat ada Naruto bersamanya membuat pikirannya mendadak mesum seketika.

'Aku Top atau Bottom? Seme atau Uke?' Pikir Sasuke dengan wajah yang semakin memanas. 'Mereka bilang aku cantik.. berarti aku Uke? Tidak! Tidak! Si idiot ini terlihat lebih cantik dariku. Apalagi jika menggunakan kosmetik. Aku yang Seme! Dia Ukenya! Uke tersa'

"S'UKE!"

Hingga Sasuke harus terbelalak mendapati wajah Naruto yang hanya seinci di atas wajahnya. Rupanya dia terlalu sibuk dengan pikiran mesumnya sehingga tak menyadari ada yang terlupakan sejak tadi. Handuk kesayangannya bahkan sudah hilang entah kemana. Hanya tatapan jengkel yang dia tangkap dari remaja lain bermarga Uzumaki di atas wajahnya.

"Ya hear me, Teme?!" Bentak Naruto penuh emosi karena sedari tadi dicuekkan. Hasilnya dia tidak mendapat jawaban yang diinginkan.

Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk tetap memasang ekspresi datarnya, walau jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. "Get off of my face, do-be!" Setelah beberapa saat diam dalam posisi yang sama, Sasuke pun bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk dan berusaha menormalkan detak jantungnya seperti sedia kala sebelum kedatangan remaja blonde.

"Am I talking to a stone or what?! Aku datang untuk tujuan baik, Teme!" Suara Naruto terdengar lebih tinggi satu oktaf dari sebelumnya. Dia menunjuk lengan kanan Sasuke yang berdarah. Namun nada bicaranya kembali normal pada kalimat terakhirnya, "Kau punya luka di lenganmu. Harus diobati karena darahnya masih mengalir."

Sasuke menatap lengan kanannya. "It won't kill me, you moron! Luka seperti ini bukan apa-apa!"

Naruto mencibir lalu meninju lengan berdarah Sasuke.

Sasuke setengah mati menahan rasa sakit. "Demi Odin! Apa yang kau lakukan?"

Naruto tersenyum puas melihat ekspresi kesakitan Sasuke. Dia tambah mengejek, "Kau bilang luka itu tak akan membunuhmu tapi baru kusentuh saja kau sudah kesakitan setengah mati. Mirip cacing kepanasan!"

Jika saja tangan bebas yang satunya tidak sibuk menahan pendarahan deras dari lengannya, mungkin si dobe pirang juga sudah menjadi orang ke-empat korban kemarahannya. Sasuke marah dan menahan sakit disaat bersamaan.

"Kau bukan menyentuhnya tapi meninjunya, otak udang!" Sasuke menggertakkan giginya dan hampir membenturkan keningnya dengan kening Naruto. Namun rasa sakit ini sungguh melumpuhkan pergerakkannya. "Ahh! Fuck! Sakit sekali!"

Naruto malah tertawa besar menyaksikan tingkah si bungsu Uchiha.

Sasuke tambah murka. "Akan ku kubur kau hidup-hidup, Uzuma"

Tapi kalimat itu tak sempat dilanjutkan karena Narutotanpa ada rasa keberatan melilitkan jaket oranyenya pada lengan Sasuke. "Begini," ucapnya lembut, "Dengan begini pendarahannya akan berhenti."

Untuk beberapa saat lamanya, Sasuke tak bergeming. Senyuman secerah musim panas itu sudah mengembalikan tenaganya yang tadi sempat terkuras habis. Bahkan hanya karena sentuhan hangat jari-jari berwarna tan itu, Sasuke mampu mengucapkan kata-kata permohonan maaf pada ke-tiga orang korban kekerasan yang mungkin masih belum sadarkan diri di UKS. Juga karena sentuhan itu, Sasuke akhirnya memutuskan, 'Aku yang mungkin akan jadi uke untuknya...'

End of Flashback


.

.

.

.

Suigetsu menatap Sasuke penuh tanda tanya. Tidak biasanya sahabatnya yang berprofesi sebagai chef ini tersenyum tanpa alasan yang pasti. Bagi Suigetsu sendiri Sasuke sekarang mirip Karin yang selalu tersenyum tiap kali bertemu dengannya. Beda lagi saat gadis itu sedang ada shooting, dia terlihat lebih serius dan bicara seadanya saat diwawancarai. Mirip Sasuke yang selalu diam dan bicara jika ditanya walaupun itu jawaban yang SANGAT singkat.

"Melihatmu seperti ini, aku jadi berpikir ulang kalau kau dan Karin memang menyembunyikan sesuatu. Buktinya kau dan dia suka tertawa sendiri akhir-akhir ini." Ucap Suigetsu yang heran melihat Sasuke tersenyum sendiri dengan lembut.

Sasuke tertawa kecil. Dia menyembunyikan bibirnya yang terbuka cukup lebar di balik punggung tangan. "Aku tadi bernostalgia." Dia melanjutkan dalam hati, 'Teringat sosok matahari kecilku.. dan alasanmu mengejarku sampai sejauh ini.'

"Ah, benar juga. Aku mau bilang.." Suigetsu menggaruk kepala. Kata 'bernostalgia' tadi juga mengingatkannya pada kejadian masa lalu yang tak pernah dia lupakan. "Sejujurnya... Aku sungguh berterima kasih padamu, Sasuke!"

"Huh?"

"Kau orang pertama yang berhasil meruntuhkan harga diriku. Harga diri seniormu yang begitu tinggi.. Well, sekali lagi aku berterima kasih! Untuk satu alasan itu juga aku rela membuang hidupku untuk mengikutimu sampai ke sini, Los Angeles.." Suigetsu mengakui sambil tetap menggaruk kepala. Kali ini aura 'senior' miliknya muncul.

Sasuke menyanggupi dengan anggukkan. 'Kau belum melupakannya ya senpai? Tapi benar juga, kejadian itu memang sulit dilupakan.'

"Kau juga pasti belum lupa kan?" Suigetsu mulai curhat. "Kau tahu, waktu aku bilang kau seorang prostitute hanya karena isu yang kudengar dari beberapa teman-teman gay di bar. Kau lumayan popular di kalangan mereka jadi kupikir kau juga seperti mereka. Aku hanya ingin mengetesmu dan hasilnya aku yang babak belur. Benar-benar.. senpai seperti apa aku ini?" Dia mengakui kebodohan dan kesialannya. Kalah telak hanya dengan satu pukulan? Dan Sasuke, adik kelasnya berhasil menemukan kelemahannya dan merobohkannya. Bahkan kedua anak buahnya juga ikut roboh. Tapi jangan heran, mereka akrab sekarang. Sampai-sampai 'kakaknya' rela mengikutinya terbang jauh-jauh dan begitu menyayanginya seperti adik sendiri walaupun hubungan mereka hanya senior dan junior.

"Sejujurnya, aku sadar waktu itu aku juga berlebihan." Jawab Sasuke dengan anggukan. "Aku begitu menghormati nama baik keluargaku jadi tanpa berpikir panjang menghajarmu. Aku minta

maaf! Hanya aku dan abangku yang tersisa dari keluarga kami. Jadi..."

"Kau masih punya kami, Sasuke! Kami juga keluargamu! Keluarga besarmu!" Suigetsu memotong ucapan Sasuke sambil tersenyum, menampakkan gigi hiunya.

Sasuke balas tersenyum. Toh dia memang sudah menganggap mereka semua keluarganya. Keluarga yang akan selalu memberinya dukungan. Terkecuali seseorang yang dianggapnya melebihi batas saudara. Sosok yang telah lama menghilang ditelan bumi. Sosok cinta pertama dan terakhirnya, siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto, dobenya seorang.

Tiba-tiba, "ASTAGA! Gosong semua!" Suigetsu berteriak karena makanan yang digorengnya sudah berwarna hitam.

.

.

Ino meraih gagang pintu kaca untuk mendorongnya terbuka. Gerakannya sedikit terhambat karena dihalangi satu dus minuman yang didekapnya sementara Karin berjalan di belakangnya. Smartphone milik si pirang berdering cukup kerasーmasih dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Dia merogoh saku seragam chefnya untuk mengambil benda berwarna kuning tersebut. Berucap meminta izin beberapa menit kemudian bergeser sedikit agar dapat berkomunikasi dengan si penelpon.

"Sakura?" Ino memulai dengan menyebut nama yang menelponnya.

.

"Aku sudah di depan. Maaf aku terlambat. Macet diluar prediksiku. Seharusnya kucek dulu schedule hari ini." Sakura memberitahu alasan keterlambatannya sambil turun dari mobil menunggu sahabatnya yang akan menjemputnya.

.

"Ya. Tak apa. Aku segera kesana." Ino memutus saluran telpon. Dia berucap pada gadis berambut scarlet di sampingnya, "Karin-san duluan saja ke lantai dua, aku harus menjemput temanku di luar. Nanti ku susul."

"Aku duluan ke lantai dua." Karin menunjuk anak tangga dan melangkahkan kaki jenjangnya.

Ino berjalan menuju pintu keluar, dus minuman tadi masih dalam dekapannya. Melihat itu Karin berucap, "Dusnya, biar aku saja yang membawanya."

Ino berbalik menatap Karin. "Ah tidak perlu repot-repot, Karin-san. Dus ini lumayan berat, aku bisa memー"

"ーTidak apa-apa." Potong Karin. "Kau pergilah jemput temanmu." Dia lalu mengambil alih dus cokelat itu. "Akan aneh jika dia melihatmu membawa dus menemuinya, lagipula dus ini memang milikku."

"Tapi.."

"Aku duluan ke lantai atas." Selesai dengan kalimat itu, si scarlet langsung melangkahkan kaki jenjangnya ke lantai dua. Ino tak punya pilihan lain selain menurut kemudian berlalu menemui sahabatnya yang sedang menunggunya di luar.

.

.

Halaman cafe, tempat parkir...

Di halaman kafe cukup ramai, selain kendaraan, dua orang manusia berjenis kelamin perempuan, yang satu berambut pirang sebatas pinggang yang satunya berambut merah jambu sebatas leher yang saling berpandang dan membalas senyuman.

Raga lain berbisik-bisik tanpa mereka sadari. Terbang sana-sini. Meramaikan suasana Kota Glendale yang mulai sepi pas lewat tengah malam.

"Ino! Bagaimana kabarmu? Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi!" Ucap perempuan berambut merah mudah yang mendekat dan memeluk teman curhatnya.

"Kau saja yang terlalu sibuk dengan urusan bedahmu, Sakura! Kapan terakhir kali kau mampir ke sini?" Ino membalas pelukan itu. "Aku sempat melihat posting -mu baru-baru ini. Apa benar kau sudah akan menikah? Calon suamimu yang sering kau ceritakan itu memang beruntung sekali, apalagi memiliki istri dokter seperti dirimu! Aku turut senang untukmu, Sakura!"

Sakura tertawa. "Makanya aku datang kemari untuk membicarakan itu. Dia ituー"

Lampu terang dari mobil baru yang memasuki halaman kafe membuat Sakura terpaksa menghentikan omongannya. Dengan bantuan tangan, gadis pinkette itu menyembunyikan indra penglihatannya dan melepaskan pelukannya. "Ada yang datang?" Bisiknya pelan.

"Ya." Jawab Ino. "Aku tahu siapa dia."

"Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan dia?" Ino tersenyum tulus. "Menma…"

Begitu nama uniknya selesai disebut, dengan cekatan lelaki berpakaian mencolok ala J-Rockers itu sudah keluar dari mobil bermerk Lamborghini seraya berjalan mendekati kedua gadis. "Hei dua gadis cantik yang di sana! Sungguh suatu anugerah terindah karena disuguhkan pemandangan dua sosok bidadari di malam hari ini." Dia dengan yakinnya menaruh kedua lengan besarnya pada pundak dua bidadarinya. "Bisa aku minta nomor telpon kalian?" Godanya menampilkan cengiran lebar.

"Tidak semudah itu, tuan. Anda harus meminta izin pada pemilik kami terlebih dahulu." Ino balas menggoda. Menggerakkan tangan kecilnya memeluk pinggang Menma. "Aku mungkin masih bisa melayanimu, tapi bidadari yang satu itu sudah ada yang memilikinya. Jadi berhentilah bermimpi untuk mendapatkannya, tuan Menma."

Sakura hanya tertawa mendengar godaan itu. Dia memandang dua kenalannya secara bergantian.

"Sayang sekali..." Keluh Menma pura-pura kecewa. "Padahal aku butuh dokter cantik untuk mengurusku saat sakit. Karena hanya dengan melihat senyumannya tiap pagi, aku sudah cukup sehat untuk menjalani hari-hari beratku.."

Inopun berpura-pura seolah sedang cemburu. Gadis itu membuang muka dan mencibir. "Bagaimana denganku? Aku masih tetap favoritmu bukan?"

"Ah, tentu saja, manis! Kau akan selalu dan tetap jadi my-favourite-girl! Karena iris birumu itu adalah alasanku untuk terus hidup." Kali ini gombalannya terdengar sedikit lebayーmaaf OOC.

Ino tertawa lepas. Sakura juga masih tertawa.

"Sudah, sudah!" Bujuk Ino setelah puas tertawa. Ingin kembali ke sifat normalnya. "Sebaiknya kita segera ke atas. Jika tidak, Chef pasti akan membunuhku."

"Aku juga ingin bertemu si sombong itu!" Jawab Menma. "Aku ingin membuat taruhan dengannya!"

"Taruhan?"

Menma mengangguk.

"Dengar." Ino mencoba menjelaskan. "Bukan berarti aku memihak Sasuke, tapi sebaiknya kau jangan cari masalah dengannya. Dia memang pendiam, tapi dia bisa saja membunuh siapapun yang berani mengacaukan hidupnya. Dan… Aku jujur, sejujur-jujurnya!"

Sakura bergumam dalam hati. 'Dari caranya bicara, dia mungkin pernah mendapat ancaman terburuk dalam hidupnya. Ino juga tidak pernah bohong. Sepertinya Uchiha Sasuke memang berbahaya.'

Menma hanya mengangkat bahu. Antara tidak percaya dan tidak peduli. "Bukan taruhan seperti yang kalian pikirkan. Tapi taruhan yang lain."

"Terserah kau saja. Jangan menyesal nanti." Jawab Ino pasrah sepenuhnya.

"Tidak akan..." Menma menambah jawaban dengan sebuah senyuman miring. Yakin sekali dengan keputusannya.

Sakura kembali menatap dua orang itu secara bergantian. 'Ini urusan mereka jadi sebaiknya aku tak ikut campur.'

Karena teringat sesuatu, Menma berhenti melangkah dan berkata pada dua gadis yang berjalan di depannya. "Oh ya, kalian duluan saja. Aku ada urusan kecil. Nanti aku kembali!" Setelah berucap begitu si Uzumaki muda bergegas masuk ke mobilnya, dengan cepat mobil sport itu melaju dan hilang dari pandangan.

Dua gadis itu melambaikan tangan kemudian masuk kedalam cafe.

.

.

Dari jendela lantai dua, Kiba menyaksikan semua kejadian itu. 'Aku mendapat makanan enak dari atas sini.'

"Chef!" Panggil Kiba. "Kau harus melihat ini."

"Hm?"

Kiba menunjuk. "Sepertinya ada yang bersenang-senang di bawah sana. Bukannya tadi dia bersama Karin? Apa Karin sudah berubah wujud menjadi dua orang yang berbeda gender?"

"Aku di sini, Inuzuka Kiba!" Karin berteriak dari pintu, ditangannya ada satu dus kecil berwarna cokelat. "Suigetsu, bantu aku!" Dia meneriaki pria lain yang sedang galau karena makanannya gosong.

"Se-segera, Tuan Putri!" Suigetsu segera berlari menghampiri Karin. Diambilnya dus minuman yang dibawa sang aktris dan meletakkannya di atas meja.

"Yang di bawah sana itu Menma?" Sasuke bertanya pada Karin yang baru saja duduk di kursi.

"Menma?" Karin balik bertanya. "..Ya, mungkin juga. Aku suruh Suigetsu menghubunginya tadi. Sepertinya itu memang dia."

"Itu memang Menma." Jawab Kiba membenarkan jawaban Karin. "Ada gadis lain yang juga disana. Mungkin pacarnya."

"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau tahu 'kan, Menma itu adik-kesayangan-seseorang disini." Suigetsu sekali lagi mencoba mengusili Karin.

"..." Karin hanya diam tanpa menjawab maupun merespon. Dia malah melepas kacamata berbingkainya dan membuka dus di atas meja, mengeluarkan satu kaleng minuman berlogo dan membukanya. "Aku ingin mabuk hari ini jadi jangan ada yang mengganggu!" Bertepatan dengan ucapan itu, si gadis scarlet meneguk hingga setengah isi kaleng. Dan sesuai perintah sang aktris tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya. Dia hampir mabuk tapi tetap memaksa untuk minum lagi. Sasuke meletakkan piring berisi pesanannya di atas meja. Ada rasa cemas. Tapi apa daya? Turuti permintaannya saja daripada dia mengamuk. Uzumaki Karin yang sedang marah akan membuat siapa saja takut, termasuk Sasuke. Lebih baik diam daripada mendapat masalah.

Selang beberapa saat kemudian..

Pintu ruangan terbuka diikuti suara seseorang yang cukup keras, "Astaga! Onee-chan!" Suara Menma terdengar cukup keras memenuhi seluruh ruangan. Karin sepertinya sudah mabuk tapi belum sepenuhnya kehilangan kesadaran. Dia hanya menggumamkan kata-kata yang tidak bisa ditangkap jelas oleh indra pendengaran. Satu kata yang bisa didengar jelas oleh adiknya yaitu "Rokok." Karin mengangkat tangannya ke udara, meminta sebatang rokok.

"Kau menghabiskan sebanyak ini?" Menma membelalakkan mata. Dihitungnya beberapa kaleng minuman beralkohol yang sudah dihabiskan kakak perempuannya. "Harusnya kau beritahu aku jika ingin mabuk-mabukkan seperti ini! Tidak seru jika hanya kau sendiri yang mabuk!" Bukannya mencemaskan keadaan kakaknya malah berkata begitu. Untung sedang mabuk kalau tidak Menma pasti sudah mendapat jitakkan dari Karin.

Tapi karena dia menyayangi kakak perempuan satu-satunya itu, pemuda berambut raven sebahu dan bermata biru mirip warna langit itu mengeluarkan sebungkus rokok bersama pemantik dari saku jaket kulitnya lalu menyerahkan benda berbahaya itu pada kakaknya yang sedang menyandarkan wajahnya di meja kaca mengkilat. "Ini rokok dan pemantiknya. Kembalikan setelah kau gunakan." Ucapnya singkat.

"Kau memang.. hh... anak pintar!" Karin mengangkat muka, masih dengan mata yang terpejam meraih pemberian adiknya dengan tidak sabaran. "Nyala...kan untukku.."

Adik kesayangannya berbuat sesuai permintaan sang kakak. "Satu batang saja, ok?"

"Satu..." Belum sempat menerimanya, Karin sudah kehilangan kesadarannyaーpingsan karena terlalu banyak minum alkohol.

Menma mendesah kecil melihat hal itu. Diselipkannya batangan rokok yang sudah terbakar diujung pada kedua belahan bibir merahnya tapi bukan untuk merokok, hanya ingin dia selipkan sajaーya, bukan merokok tapi hanya bergaya karena memang dia bukan perokok. Setelah itu dia menoleh mencari Suigetsu. "Suigetsu-san, tolong antar kakakku pulang." Pintanya yang langsung dituruti si gigi hiu.

Si raven lalu menoleh mencari si pemilik kafe. Sosok yang dicarinya juga sedang menatapnya. Menma berujar, "Chef!"

Sasuke hanya memberi tatapan andalannya yang saat itu sedang meneguk air putih.

"Aku pinjam ruanganーkamar kecilmu."

Sasuke memberi tanda setuju dengan menunjuk ke arah tempatnya sering mengurung diri.

Menma melangkah menuju tempat yang dimaksud.

Sasuke melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 01:27 AM. Kafe sudah ditutup 1 jam lewat 12 menit yang lalu. Pandangannya beralih ke sekitar tempat duduknya. Sepi memang. Ino dan temannya sudah pulang setelah beberapa menit kafe ditutup. Jūgo juga meminta izin pulang karena ada pekerjaan kecil yang harus dilakukan. Tersisa Kiba yang sudah beres-beres untuk pulang, Shino yang baru saja meninggalkan ruangan, dan Shion yang sedang membersihkan lantai.

"Chef? Kau tidak pulang?" Tanya Shion menatap Sasuke dari belakang.

"Kau sendiri?"

"Sebentar lagi. Setelah selesai menyapu lantai." Shion menjawab sambil tersenyum.

"Aku juga akan pulang setelah Menma selesai dengan urusannya." Jawab Sasuke lalu beranjak berdiri. Dia meraih topi chefnya dan melangkah menuju ruang pribadinyaーmenyusul Menma. "Kalian juga, pulanglah setelah selesai." Dirinya bahkan sempat membuka dua kancing baju teratas sebelum menyadari masih ada pengguna ruangan yang untung saja saat itu tidak menyaksikan kegiatan-hampir-strip-miliknya. Buru-buru dia menutup pintu.

Dia lalu membuka seragam chefnya. Kini dia topless, membiarkan udara dingin menyentuh permukaan kulit pucatnya. Diambilnya kaos hitam yang tergantung di lengan kursi dan memakainya. Setelahnya duduk dan menaikkan kakinya di atas meja kerja sambil menyandarkan kepalanya yang terasa pening di kepala kursi. Akan lebih baik jika sekarang dia pulang dan tidur. Memori tentang kejadian puluan tahun lalu kembali muncul dipikirannya dan itu sangat mengganggu.

"Kenapa harus sekarang?" keluhnya dengan suara kecil sambil mengurut-urut kening.

Bunyi aliran air dari dalam WC meramaikan suasana.

Yang lain bersuara dari luar. Saling mengucapkan salam perpisahan sebelum kembali ke gubuk masing-masing.

Sasuke meraih dompet dari saku celananya dan mendadak autis menatap isinya. Dompetnya masih tebal berisi lembaran uang. Bukan lembaran bernilai itu yang membuatnya lumpuh. Melainkan selembar foto.

Keningnya semakin sakit sebelah mengingat ulang kenyataan pahit yang menimpanya beberapa tahun silam. Namun bukan saat yang tepat untuk mengenang masa lalu dan terluka lagiーuntuk kesekian kalinya. Sepertinya dia harus mencuci muka agar tidak terlalu larut.

Dompet berbahan kulit itu dia masukkan dalam saku jaket dan berjalan menuju WC.

Menma masih di dalam sana. Lampu masih menyala dan bunyi kran yang dihidupkan masih terdengar.

Sasuke mengetuk beberapa kali.

Tidak ada jawaban dari dalam.

Semenit kemudian pintu terbuka.

"Sudah sele.." Sasuke ditarik paksa masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Tubuhnya terhimpit diantara pintu dan tubuh tinggi di hadapannya. Tangannya dicengkram erat hampir membiru. Pelaku tidak bersuara, keningnya dia sandarkan di bahu Sasuke.

Sasuke berusaha keras menyimak apa yang sedang terjadi. Pergerakannya tak bebas karena terkena himpitan. Siapa sangka orang yang lebih muda usia daripada dirinya bisa membuatnya mati gerakan hanya karena satu cengkraman? Dia hanya memiringkan kepalanya saat merasakan nafas hangat menyentuh urat saraf di lehernya. Antara ingin mengusir gejolak aneh dari dalam tubuhnya atau memberi akses lebih bagi pemuda lain untuk menikmati permukaan kulit itu.

"Sasuke..." Menma memanggil dengan nafas yang berat. "Aku sudah lelah! Aku ingin jujur!"

Sasuke diam. Alisnya bertemu. Bukan bingung, tapi tidak mengerti arti ucapan itu.

"Bagaimana.. kalau sekarang aku jujur saja?" Menma melanjutkan lalu mengecup kulit leher pucat di hadapannya.

"Kalau.. aku bilang aku ini Naruto... Apa yang akan kau lakukan, S'uke?"

.

.

to be continued


* Pojok doa ungkapan puji syukur oleh umat Kristiani khususnya Kristen Katolik

* American's Burritos makanan khas U.S yang juga terbuat dari tortila dengan isi nasi, pasta kacang, selada, saus salsa, daging, guacamole, keju dan krim masam yang digulung membungkus isinya

*Kota Glendale (The Jewel City) di bagian utara wilayah metropolitan Los Angeles yang memliki persamaan dengan kota Higashiosaka di Jepang (kota kelahiran Sasuke di ff ini) BUKAN kota Glendale di Arizona yang letaknya di bagian baratdaya Amerika Serikat

misteri sudah mulai terungkap karna semakin banyak 'clue' yang muncul. tolong di-review supaya otak saia bisa sedikit terbuka buat munculin ide baru.

sengaja di-upload 9 Maret 2016 pas gerhana matahari supaya diinget pertemuan naru ama sasu, the sun meets the moon #eaaa

glacias.

if you liked it you could leave a review. NO FLAME!