Control
By: pingmoo
Warning: BOYS LOVE. BOYXBOY. YAOI. TYPO. DLDR.
Pairing: ChanBaek
.
.
.
-Chapter 1-
Seoul, 24 December 2012.
"Sudah kubilang tidak, Jongdae!" ngotot Baekhyun sambil berkutat dengan buku-bukunya. Di meja belajarnya bertebaran buku-buku hukum tebal dengan laptop yang menyala, terdapat pula secangkir kopi ditemani setangkup sandwich diskon yang sebentar lagi basi dari 7-11, salah satu tempat Baekhyun bekerja part-time, yang diambilnya saat managernya menyuruhnya untuk membuang semua stock makanan nyaris basi itu. Baekhyun begitu heran dengan sistem tempat kerjanya. Kenapa makanan masih layak makan ini harus dibuang, sementara di luar sana begitu banyak mahasiswa tidak mampu macam dirinya yang dengan senang hati akan menerima anugrah gratisan macam ini. Daripada di buang kenapa tidak disumbangkan saja? Sungguh sangat membingungkan. Kulkas Baekhyun pun terisi untuk beberapa hari ke depan. Dan hey, makanan itu masih layak makan kok walau kadang expired datenya sudah lewat. Lihat saja sandwich ini, expired datenya 21 Desember 2012, tapi nampaknya masih layak makan. Belum ada makhluk multiselular yang berkembang biak. Aman.
Matanya kembali menilik salah satu lembar buku hukumnya. Di malam natal pun Baekhyun tetap berpikir untuk tetap belajar, karena dia merupakan mahasiswa tingkat akhir. Skripsinya harus selesai sebentar lagi. Dia tidak mau menjadi mahasiswa lama-lama di kampusnya. Makin cepat lulus, makin baik. Tidak perlu membayar uang kuliah yang mahalnya luar biasa, tidak perlu membeli buku pelajaran yang harganya selangit, tidak perlu ketemu dosen menyebalkan lagi. Pikirannya cuma satu, cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan layak di perusahaan bonafit dengan gaji tinggi bagian legal, atau menjadi pengacara. Dia tidak sudi menjadi pelayan convenience store dan restoran seumur hidupnya. Tidak terima kasih, hidup susah kok berkepanjangan.
"Waeeeeee..." jerit Jongdae.
"Jongdae, umur kita sudah berapa? Kita sudah 22 tahun! Saatnya kita lebih berkonsentrasi dengan pendidikan kita. Kau tidak mau jadi mahasiswa terus menerus kan?" tanya Baekhyun sok bijak.
"Malam ini saja Baek! Please! Aku sudah terlanjur janji dengan Minseok untuk makan malam natal bersama, dan malam ini dia akan mengenalkanku pada orang tuanya. Kau tahu betapa pentingnya ini bagiku, Baek. Akhirnya keluarga dia mau menerima kami sebagai pasangan walaupun kami sama-sama pria!" ucap Jongdae. Lelaki itu sampai bersimpuh di kedua lututnya memohon.
"Gampang, kau tinggal call sick saja ke tempat kerjamu. Beres kan?" tanya Baekhyun. Matanya tidak lepas dari laptopnya. Jemarinya mengetik lincah kata demi kata untuk proposal sidangnya.
"Baek, kalau aku cuma kerja di Chicken Shop sepi itu aku berhenti juga tak mengapa walau sayang juga sih melepas kerja makan gaji buta begitu, tapi ini kerjaanku yang di club, Baek. Kau tahu, club yang di daerah Gangnam itu. Gajinya tinggi, bahkan lebih tinggi dari gaji kantoran pegawai kau tahu!" ucap Jongdae masih bersimpuh.
"Tetap tidak, Jongdae. Aku benar-benar harus menyelesaikan ini. Call sick sekali tidak akan membuatmu dipecat." Baekhyun bersikeras.
"Tidak, Baek. Kau tidak tahu betapa mengerikannya manajer mereka. Nama manajernya, sebut saja Mawar. Dia amat menyeramkan, Baek. Ancamannya tidak main-main, dan dia tahu betapa banyak orang lain yang menginginkan untuk bekerja di Monstrum Club. Dan malam natal itu biasanya club ini sangat ramai oleh tamu VVIP, mereka akan membutuhkan banyak pegawai untuk melayani pengusaha-pengusaha kaya sialan itu." tutur Jongdae masih setia dengan pose bersimpuhnya.
"Oh, kalau begitu suruh saja Yixing yang menggantikan shiftmu. Aku dengar dia lowong malam natal ini. Kenapa harus aku?"
"Tidak bisa Baek, dia itu kurang gesit sepertimu, kau tahu. Lemot bahasa halusnya. Kami butuh pegawai yang gesit dan cepat tanggap!" memikirkan Yixing yang menggantikan shiftnya saja sudah membuat Jongdae bergidik, lebih baik Jongdae resign saja sekarang semua akan lebih mudah.
"Lalu kau berharap aku bagaimana?" tanya Baekhyun mulai sedikit merasa iba, diletakkannya bukunya perlahan, dibukanya kacamatanya.
"Datanglah sebagai aku, Baek. Aku akan meminjamkan seragamku dan name-tagku serta access key ke staff room. Ya, ya, ya, ya Baekkie-yaaaahh.. aku akan mentraktirmu seminggu penuh setelah ini, plus gaji malam ini yang konon katanya akan dibayar dua kali lipat, semuanya akan kutransfer ke rekeningmu." Rengek Jongdae yang sudah bangkit dari pose bersimpuhnya dan mulai bergelayut manja di lengan Baekhyun.
"KONON." Balas Baekhyun sewot. Ditariknya lengannya jijik dari Jong Dae.
"Aish, bantulah temanmu ini apa salahnya?" Jongdae merenggut.
"Muka kotak sialan. Kuharap Minseok juga ikut andil dalam mentraktirku dua minggu ke depan." Cibir Baekhyun.
"Satu minggu, Baek!"
"Dua minggu atau lupakan pembicaraan ini pernah terjadi."
"Aisshhh, kau ini temanku atau bukan sih?"
"Aku sahabatmu, Jongdae. Ingat itu? Jadi dua minggu, ya? Deal!"
"Waeeeee..."
-Monstrum Club, Gangnam District, 19.40 KST-
"Muka kotak sialan, kalau bukan karena ditraktir makan dua minggu dan gaji double pay, aku tidak akan sudi datang malam ini." gerutu Baekhyun dalam hati sambil mengganti baju casualnya dengan baju seragam club yang boleh dibilang agak norak ini. Dia mengenakan setelan blazer hitam dengan dalaman putih. Lengan bajunya juga agak berenda, dan dibagian lehernya bukanlah dasi melainkan seutas kain tipis seperti tali yang dikaitkan seperti simpul pita. Heol—siapa sih yang merancang seragam club norak macam begini? Dikiranya ini tahun 1600an pakai renda-rendaan? Baekhyun hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepalanya. Pantas saja si muka kotak itu menyuruhku mengganti baju seragam di tempat kerja.
Selesai mengenakan seragam yang tidak bisa dibilang seragam kerja itu, Baekhyun pun menyematkan name tag –Kim Jong Dae— di dada sebelah kirinya. Dia pun menggesekkan kartu ID milik Jongdae ke mesin absen yang terletak di staff room, pertanda bahwa dia telah datang dan siap memulai shiftnya.
Kalau ditanya bagaimana mungkin Baekhyun bisa menggantikan posisi Jong Dae malam ini simple saja. Tidak akan ada yang mengenali bahwa Baekhyun sebenarnya tidak bekerja di tempat ini. Menjelang natal, club ini menambah jumlah pegawai casualnya dengan tidak tanggung-tanggung sampai puluhan orang. Dan rasanya mustahil bagi manager mereka untuk mengingat dan menghapal wajah serta nama mereka satu persatu. Selama mereka membawa ID Card yang diberikan, dan mampu mengakses ruang staff, semua aman. Toh, sehabis tahun baru kebanyakan dari pegawai casual itu akan diberhentikan. Resiko pegawai casual ya begitulah.
"Hey, anak baru. Rose mau kita berkumpul di ruang meeting 04." Ujar salah seorang staff.
"Ah, terima kasih. Bisakah kita ke sana bersama—diliriknya name tag staff di depannya itu—Ryeowook-ssi?" tanya Baekhyun sopan. Padahal dalam hati sebenarnya ini taktik saja agar dia tidak ketahuan bahwa dia sebenarnya tidak tahu sama sekali di mana ruang meeting 04 itu lantai berapa.
"Tentu saja Jongdae-ssi. Sebelah sini."
Ruang meeting 04 itu sudah dipenuhi oleh para staff yang dengan gelisah menanti petunjuk acara malam ini dari manager mereka. Tak dapat dielakkan, beberapa dari mereka pun mulai bergosip.
"Kau tahu, aku dengar ada keluarga kerajaan yang akan datang ke pesta VVIP ini!"
"Mana mungkin bodoh, kau mau mereka masuk headline besok?"
"Wartawan tahu darimana? Club ini tidak menerima sembarang orang masuk, apalagi ini pesta VVIP!"
"Aku dengar malam ini Beyonce yang bakalan menghibur tamu-tamu kita."
"Gosip tolol darimana itu? Aku tahu pemilik club ini kaya, tapi apa sanggup dia mendatangkan Beyonce hanya untuk pesta ini?"
Gosip-gosip itu terdengar semakin tolol di telinga Baekhyun. Keluarga kerajaan? Beyonce? Omong kosong tolol apa ini? Kata Jongdae seleksi untuk masuk kerja di club ini sangat sulit, bahkan mereka melakukan background check untuk setiap pegawainya. Tapi kenapa dari yang Baekhyun lihat pegawainya setolol ini?
Sebuah suara tepukan tangan mendiamkan semua celoteh gosip tak jelas itu. Sesosok wanita berambut pirang dengan blazer warna merah dan kemeja putih dipadukan dengan rok merah menyala. Pasti wanita ini si Mawar, eh Rose.
"Kalian di sini bukan untuk gosip melainkan untuk kerja. Jangan lupakan kontrak kerja yang kalian tanda tangani saat diterima melamar kerja di sini! Apapun yang terjadi di dalam ruangan VVIP tempat kalian bekerja nanti, stay in that room. Kalian mengerti? Apapun yang terjadi, dan apapun yang kalian lihat. Abaikan. Tugas kalian hanya melayani para tamu undangan tuan besar itu sebaik-baiknya. Pastikan nampan kalian selalu terisi dengan kudapan maupun champagne. Aku tidak mau melihat ada nampan yang kosong barang sedetik pun. Kalian paham?" ucapan wanita itu seakan menggelegar ke seluruh ruangan. Badannya saja yang kecil, tapi suaranya WOW.
"Rose, bolehkah aku berbicara sebentar?" seorang pria berpakaian rapi dan sialan, setelan itu nampak sangat mahal dan membalut tubuh pria itu dengan sempurna.
"O—OH? Kim Junmyeon-ssi? Astaga saya tidak sopan. Tuan besar Kim, silakan tentu saja." Ucap Rose gugup. Tubuhnya langsung memberikan bungkuk 90 derajat pada pria yang baru saja masuk itu.
"Selamat malam semuanya. Aku Kim Junmyeon, yang bertanggung jawab atas tempat ini." Pria tampan berkulit putih itu memperkenalkan dirinya.
"Lucu ya? Aku, kau dan dia sama-sama bermarga Kim, Jongdae-ssi. Tapi lihatlah posisi kita yang jauh berbeda." Bisik Ryeowook pelan di samping Baekhyun. Ah, iya. Malam ini dia harus membiasakan diri dipanggil Jongdae.
Baekhyun tidak terlalu memperdulikan apa yang dikatakan lelaki itu, dia malah lebih fokus ke kulit Kim Junmyeon yang entah kenapa terlihat begitu bagus. Orang kaya ini, nampaknya perawatan kulitnya seminggu biayanya lebih mahal daripada uang makan Baekhyun selama setahun. Tapi kelihatannya dia tidak terlalu sombong, hanya saja terlihat sangat..terawat? Kalau mau dibandingkan dengan dirinya, rambutnya saja entah kapan terakhir kali dia sisir? Hanya disisir jari saja, membuat rambutnya nampak mengembang menggemaskan kata Minseok, tapi hey kau tidak bisa mendengarkan pendapat temanmu. Mereka suka membuat segala sesuatunya terdengar terlalu indah.
"—oleh karena itu mohon kerja samanya. Terima kasih." pemilik club itu mengakhiri pembicaraannya. Sial, Baekhyun terlalu fokus pada hal lain sampai ia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Kim Junmyeon. Tapi rasanya pasti sama saja dengan pidato lainnya. Sopan kepada pelanggan, nampan penuh, senyum lima jari, pelanggan adalah raja, blah, blah.
"Baiklah, silakan menuju ruang VVIP. Champagne dan kudapan disediakan di pinggir ruangan. Tugas kalian hanya memutari ruangan dengan nampan penuh kalau-kalau ada pelanggan yang ingin menikmati champagne atau kudapan." ucap Rose menjelaskan.
Dalam ruangan temaram itu, tamu-tamu VVIP mulai berdatangan. Nampak beberapa sosok penting yang sering terlihat di televisi, politikus, serta artis papan atas dengan bayaran 6 digit USD sekali manggung. Pelayan-pelayan pun mulai berjalan memutar mengelilingi ruangan menawarkan kudapan dan champagne kepada para tamu. Alunan musik pun mulai memenuhi ruangan. Baekhyun pun bersiap-siap dan berjalan ke arah tamu berkumpul.
"Hanya putar-putar ruangan aku bakal digaji 70.000 won sejam? Pantas saja si Jongdae ngebet sekali dengan pekerjaan ini. Easy money! Hahahaha..." Baekhyun tertawa nista dalam hatinya.
...
Atau begitu pikir Baekhyun.
Sudah tidak terhitung sedari tadi betapa dia sangat ingin melemparkan isi nampannya di muka orang-orang kaya kelebihan duit ini. Sungguh, apa mereka tidak pernah diajar tata krama oleh orang tua mereka pada saat mereka masih kecil?
Sialan para politikus itu. Depan TV saja mereka tersenyum ramah dan membela rakyat kecil, tapi memperlakukan pelayan saja tidak sopannya minta ampun. Ibarat hanya seonggok sampah di pinggir jalan cara mereka memperlakukan para pelayan di sini. Belum lagi artis papan atas yang selalu menampilkan sosok keibuan di dramanya atau depan kamera di hadapan fansnya, Lee Min Hae. Malam ini, ibu tiri cinderella bahkan nampak lebih keibuan daripada dia! Menyesal Baekhyun sempat nge-fans dengan dia. Hancur sudah image yang didambakannya selama ini. Inikah realita kehidupan yang sebenarnya?
Pantas saja dulu Jongdae bercerita dia harus menandatangani banyak surat-surat kontrak sebelum memulai pekerjaan ini. Tempat ini banyak skandal rupanya. Mereka tidak mau aib mereka sampai tersebar luar. Wajar mengingat untuk menjadi anggota VVIP Monstrum Club ini, biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Jadi maklum saja kalau anggota VVIP-nya pun menginginkan privacy mereka sangat terjaga. Dan tentu saja mereka bisa berbuat seenaknya karena itu.
Ck. Baekhyun berdecak kesal, diliriknya jam tangannya. Baru menunjukkan pukul 10 malam, masih ada sekitaran 3 jam lagi sebelum shiftnya berakhir. Itu kalau suasana dirasa sepi, tapi kalau masih banyak tamu-tamu berseliweran, Baekhyun harus rela untuk tinggal lebih lama sampai tamu-tamu mulai berkurang.
Dilihatnya nampannya, gelas champagne yang tersisa tinggal satu. Menghela napas, Baekhyun pun berjalan kembali menuju sudut ruangan untuk mengisi kembali nampannya. Bergegas kembali ke tengah ruangan dengan nampan yang sudah terisi penuh, Baekhyun pun melihat sinyal salah seorang tamu memanggilnya untuk meminta champagne di nampanya. Namun belum ada lima langkah dia menapak, sebuah tangan kurang ajar mendadak meremas bokongnya yang boleh dibilang sintal untuk ukuran pria itu.
"HEY!" sontak Baekhyun berteriak kaget. Dibalikkannya tubuhnya untuk melihat siapa orang kurang ajar yang dengan seenak jidatnya meremas pantatnya. Dipikirnya ini properti umum apa? Belum pernah merasakan jurus tendangan hapkido pemegang sabuk hitam nampaknya orang ini. Mata sabit Baekhyun mendelik marah pada bapak paruh baya di depannya ini, wajahnya terlihat agak familiar. Mungkin Baekhyun pernah melihatnya politikus kah? Atau orang penting di pemerintahan?
"Berapa?" tanya bapak itu singkat.
"Apa?" Baekhyun bingung. Bukannya minta maaf malah bertanya berapa? Berapa apa? Champagne ini harganya berapa maksudnya?
Mencoba bersikap profesional, Baekhyun mencoba tersenyum—walaupun amat sangat tidak rela—pada bapak-bapak di hadapannya ini. "Ah, champagne ini disediakan oleh pihak penyelenggara pesta, dan kami tidak menarik biaya untuk champagne ini." Baekhyun menjelaskan.
"Bukan itu maksudku bodoh! Berapa tarifmu semalam?!" hardik bapak itu tidak sabar.
APA? Tarif semalam? Babi tua ini—
Dia pikir aku pelacur?
"Maaf, tuan saya rasa anda sudah mabuk. Jika anda mau anda bisa ke ruang istirahat yang letaknya tidak jauh dari ruang pesta ini—" Baekhyun masih mencoba untuk bersikap profesional dan masih mencoba untuk tersenyum. Kesabarannya sudah diambang batas.
"Siapa yang mabuk? Kau jual mahal, eh? Cantik sedikit saja belagu. 3 juta won cukup tidak untuk tarifmu semalam? Mumpung aku sangat sedang murah hati!"
"Saya rasa anda sudah mabuk, Tuan. Saya tidak cantik. Saya ini pria." Baekhyun masih mencoba sabar walaupun jidatnya sudah berkerut kesal.
"Aku tahu kau itu pria! Kau pikir aku buta, apa? Lelaki cantik sepertimu pasti sudah sering digauli lelaki lain. Sebutkan saja berapa tarifmu!" balas pria tua tersebut sewot. Jemari gemuknya menunjuk muka Baekhyun tak sopan.
/PYAARR/
Dilemparkannya nampan penuh champagne itu ke wajah bapak tua itu. Terdengar beberapa suara pekikan kaget dari tamu sekitar area itu dan bisik-bisik pun mulai terdengar.
"YAKKK! DENGAR YA BABI TUA SIALAN! KAU PIKIR KAU SIAPA? KAU PIKIR AKU SUDI DIPERLAKUKAN TIDAK TERHORMAT SEPERTI INI? AKU MEMANG CUMA PELAYAN DI SINI TAPI TOLONG JAGA TINGKAH LAKUMU!" emosi Baekhyun sangat tersulut. Baru kali ini dia merasa begitu direndahkan. Memang dia hanyalah seorang mahasiswa miskin yang berjuang untuk meraih gelar sarjananya. Namun harga dirinya begitu tinggi. Dia tidak akan rela harga dirinya diinjak-injak seperti ini.
"Ka—kau! Tikus sialan! Apa kau tahu siapa aku, hah?" orang itu terlihat sangat murka. Mukanya memerah dan tangannya mengepal. Beberapa tamu nampak cekikikan melihat peristiwa ini.
"Ya, aku tahu siapa kau. Kau babi tua bangka sialan yang tidak tahu sopan santun!" balas Baekhyun sengit.
"ASTAGA ADA APA INI?" jerit Rose panik. Dilihatnya salah satu tamu VVIPnya sekarang basah kuyup bermandikan champagne, dikelilingi pecahan gelas champagne.
"Tuan Jung! Astaga, mari saya antarkan ke ruang private untuk membersihkan diri." Rose menawarkan diri.
"Tidak perlu! Dengar! Tikus kecil ini harus diberi pelajaran!"
"Apa kau babi tua? Aku bisa menghajarmu kalau aku mau!" Baekhyun mulai menggulung lengan kemejanya bersiap-siap menghajar lelaki tua tersebut.
Sebuah kekehan kecil terdengar dan entah kenapa semua tamu VVIP pun langsung terdiam. Baekhyun menoleh ke arah suara tersebut. Dilihatnya seorang pria dewasa yang nampak masih cukup muda, mungkin berusia 25 tahunan nyaris mendekati 30 tahun sedang terkekeh. Dari gaya dan penampilannya yang sangat memukau, jas licin, sepatu hitam mengkilap, terlihat jam tangan mahal yang mungkin tak akan pernah mampu dibeli Baekhyun walau dia bekerja keras selama 10 tahun sekalipun. Di sampingnya, terlihat seorang yang juga tidak kalah tampannya dengan kulit sedikit kecoklatan untuk orang Korea berdiri santai sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celananya. Matanya menatap malas seperti orang ngantuk, namun tetap terlihat tampan.
Pria yang tadinya terkekeh itu tampan. Ketampanannya terlihat begitu unik. Telinganya terlihat luar biasa lebar, matanya pun berbanding terbalik dengan mata Baekhyun yang sipit. Mata pria itu bulat menatapnya tajam. Baekhyun balas menatap tatapan itu. Entah setan apa yang selalu membuat Baekhyun fokus pada hal-hal yang tidak penting, tapi pria di hadapannya ini mempunyai proporsi wajah yang bagus sekali menurut Baekhyun. Proporsi 1:1:1 dari dahi, pipi dan rahang. Ibarat wajah seorang raja. Dan jangan lupakan tinggi badannya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ada orang Korea yang bisa setinggi ini? Kakinya terlihat begitu jenjang. Kalau Baekhyun berdiri di depannya secara langsung pasti lehernya akan capek mendongak ke atas hanya untuk bertatapan mata dengan orang ini.
Menyadari pikirannya yang terdengar sangat goblok, ingin sekali Baekhyun menepuk jidatnya keras-keras kalau situasinya tidak mencekam seperti ini. Seseorang tolong tampar dia sekarang juga agar sadar.
"Menarik sekali hiburan malam ini." Suaranya terdengar sangat berat dan angkuh, dan entah kenapa Baekhyun jadi makin kesal mendengarnya. Orang kaya sombong yang lain.
"Tuan Park, maafkan. Kejadian ini akan saya bereskan secepatnya." Kim Junmyeon yang entah darimana munculnya tahu-tahu sudah membungkukkan diri 90 derajat di hadapan Tuan Park itu.
Heh, pasti orang penting sampai pemilik tempat ini ikut-ikutan membungkuk. Batin Baekhyun.
"Junmyeon-ssi! Bagaimana mungkin kau memperkerjakan orang bar-bar seperti ini? Lihat apa yang sudah diperbuatnya terhadapku!" babi tua itu mulai mencak-mencak lagi sambil menunjukkan setelan jasnya yang basah. Bau champagne menguar dari jasnya, ditambah lagi bau parfumnya yang menyengat membuat Baekhyun mengernyit jijik.
"Kau yang mulai duluan dasar babi tua!" ledak Baekhyun. Sungguh baru kali ini dia diperlakukan seperti ini. Memangnya mereka pikir mereka ini Tuhan? Seenaknya memperlakukan orang sesuka hati hanya karena mereka memiliki kekuasaan dan mengganggap semua dapat dibeli dengan uang hanya karena mereka memiliki harta berlimpah yang tidak habis tujuh turunan sekalipun.
"Kau! Jaga mulutmu! Kau hanya seekor tikus kecil! Kau tak tahu siapa aku?"
Adu mulut mereka benar-benar menjadi tontonan seruangan pesta tersebut. Para tamu VVIP itu bahkan telah membentuk lingkaran dan mengelilingi mereka. Kasak-kusuk sedari tadi terdengar, mendominasi suara alunan musik di ruangan tersebut.
"Kau pikir aku perduli siapa kau?" Kau tahu? Aku paling muak dengan orang sepertimu! Sok berkuasa dan sok kaya! Aku doakan semoga kau tahu rasanya jadi orang susah!" balas Baekhyun yang doanya malah terdengar seperti menyumpahi itu. Baekhyun menilik kerumunan para tamu yang mengerumuni mereka. Hal ini sangat membuatnya risih, dia paling benci menjadi pusat perhatian.
Ada satu hal yang menarik perhatiannya, pria tinggi yang tadi tertawa itu mengangkat malas tangannya dan di belakangnya, Kim Junmyeon serta beberapa pria besar berbaju hitam terlihat sedang menunggu sesuatu. Seolah pria tinggi tersebut memberikan mereka isyarat untuk menunggu sampai ia selesai menonton pertunjukan adu mulut Baekhyun dan pria tua tersebut. Baekhyun pun berasumsi bahwa Kim Junmyeon lah yang memanggil para bodyguard tersebut kalau-kalau fisik sampai terlibat dalam hal ini, namun Baekhyun yakin bahwa dirinya lah yang akan habis dihajar oleh tangan kelebihan otot para bodyguard tersebut. Daripada ambil resiko, Baekhyun sadar inilah waktunya untuk angkat kaki dari tempat terkutuk ini.
"Aku sudah muak berada di sini! Minggir! Gajiku lupakan saja. Anggap saja malam ini aku jadi relawan di sini melayani orang-orang sombong macam kalian!" Baekhyun berjalan keluar marah dari ruangan VVIP tersebut, kerumunan para tamu pun sontak membuka jalan dengan cepat. Bisik-bisik tak sopan terdengar dan Baekhyun tidak mau ambil pusing lagi. Dia hanya ingin keluar dari tempat ini secepatnya. Dihentakkannya kakinya marah, sembari melangkah menuju ke ruang ganti staff, Baekhyun mulai membuka lilitan simpul pita dan blazer hitam yang menjadi luaran seragamnya. Semakin cepat dia melepaskan seragam jahanam ini, semakin cepat dia bisa ganti baju dan keluar dari tempat laknat ini.
Saking emosinya, Baekhyun tidak sadar bahwa sedari tadi ada sosok yang mengikutinya. Sosok tersebut mengikuti Baekhyun dengan langkah yang jenjang namun tenang. Tidak terdengar suara ketukan sepatunya, hanya suara langkah Baekhyun saja yang terdengar. Seutas seringai nampak jelas di wajah pria tampan tersebut.
Menarik.
Digesekkannya ID Card milik Jongdae di mesin gesek pintu masuk ruang staff dengan nafas tersengal karena masih menahan emosi, Baekhyun masuk ke dalam ruang staff itu dengan marah. Kalau saja ruang pintu staff itu bukan jenis sliding door tapi memiliki daun pintu, mungkin pintu itu sudah dibanting keras-keras oleh Baekhyun sebagai pelampiasan emosinya. Dibukanya pintu locker milik Jongdae, diambilnya baju kaos biru miliknya. Baekhyun melempar masuk blazer hitam serta tali seragamnya. Dia sedang membuka kemeja putih yang menjadi dalaman seragamnya ketika dia mendengar bunyi –piip- dan suara sliding door yang terbuka.
Baekhyun tidak terlalu ambil pusing untuk menoleh dan melihat siapa yang masuk, toh dia juga tidak mengenal seorang pun di tempat ini. Sampai dia mendengar suara kekehan sialan yang sekarang terdengar cukup familiar di telinganya.
"Wow, aku tidak menyangka akan mendapatkan pemandangan indah seperti ini." ujar pria tersebut tersenyum lebar memamerkan semua giginya yang membuat Baekhyun bergidik ngeri matanya menatap nyalang dada dan perut Baekhyun yang terekspos.
Apa senyum dengan memperlihatkan gigi sebanyak itu bisa dibilang normal? Batinnya dalam hati.
"Ini ruangan khusus staff! Tunggu, bagaimana tamu sepertimu bisa masuk!" tanya Baekhyun bingung. Walaupun dia tamu VVIP tidak mungkin dia memiliki akses untuk masuk ke ruang staff.
"Park Chanyeol." ucap pria itu. Seolah hal itu menjelaskan segalanya.
"Hah?" tanya Baekhyun bingung.
"Aku Park Chanyeol." ulang pria itu. Seakan menunggu Baekhyun untuk mengenali namanya. Reaksi apapun, terkejutlah, takutlah, kagumlah. Reaksi!
"Well, Park Chanyeol. Ini ruangan khusus staff, dan bisakah kau angkat kaki dari sini? Aku mau ganti baju." Jawab Baekhyun kesal. Orang ini benar-benar sangat menyebalkan. Sungguh, apa ini penyakit orang kaya untuk menjadi menyebalkan?
Bukannya beranjak keluar dari ruang staff, pria tinggi itu malah terbahak-bahak sambil menutupi matanya. Membuat Baekhyun semakin kesal saja.
"Astaga, kau tidak tahu siapa aku? Di rumahmu pasti tidak ada TV, ya? Semiskin itukah kau? At least harusnya kau pernah baca majalah atau koran." pria itu—Chanyeol—menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ekspersinya sungguh membuat Baekhyun jengkel.
"Aku tidak tahu siapa kau. Memangnya siapa kau? Aku tidak perduli bahwa jika kau ternyata adalah salah seorang personil EXO yang katanya paling beken se-Korea atau anak raja sekalipun. Tolong angkat kaki dari sini, ini ruang khusus staff. Pintu keluarnya kau tahu di mana letaknya. Nagajuseyo." ucap Baekhyun sambil merentangkan tangannya ke arah pintu keluar.
"Berapa yang kau mau?" tawar Chanyeol.
"Kau!" tangan Baekhyun terkepal kuat. "Aku bukan pelacur!" hardik Baekhyun.
"Jangan sungkan, sebut saja nominalnya. Aku berbeda dengan babi tua tadi. Aku bisa menyanggupi nominal sebesar apapun. Sebut saja angkamu. Pabrik televisi pun bisa kubelikan untukmu.—mata bulatnya melirik papan nama yang tertulis di pintu locker— Kim Jongdae. " lanjut Chanyeol.
"Astaga! Untuk apa kau punya telinga selebar itu? Fungsinya hanya sebagai aksesoris, kah? Kau tidak mendengar apa yang kukatakan di ruang pesta tadi dan barusan, hah? AKU. BUKAN. PELACUR!" Baekhyun betul-betul ingin meninju pria di hadapannya ini sekarang juga, namun Chanyeol lebih sigap.
Ditangkapnya tangan kanan Baekhyun, dikuncinya lengannya ke belakang, Chanyeol mendorong kasar tubuh Baekhyun dibenturkannya ke arah locker menimbulkan suara yang lumayan keras.
"Suka main kasar, eh Jongdae?" bisik Chanyeol menggoda di telinga Baekhyun yang membuatnya bergidik geli. Hembusan napas dari bisikan dan suara berat milik Chanyeol terasa begitu berlebihan.
"Ergh—LEPAS!" Baekhyun meronta berusaha melepaskan diri, namun cengkraman tangan Chanyeol terasa begitu kuat. Padahal dia bisa mengalahkan orang yang lebih besar daripada dirinya di berbagai turnamen hapkido yang ia ikuti, namun kenapa begitu susah untuk lepas dari cengkraman orang ini.
"Kau bahkan lebih cantik dilihat sedekat ini. Hmm? Kau memiliki tahi lalat di kanan atas bibirmu? How cute. Aku jadi ingin mencicipinya." Hanya itu peringatan yang diberikan oleh Chanyeol, detik berikutnya bibir milik Chanyeol sudah mendarat di atas bibir tipis merah muda milik Baekhyun. Agak sulit karena tinggi mereka yang cukup berbeda.
Baekhyun membelalakkan matanya kaget. Dengan tangannya yang bebas dia berusaha mendorong Chanyeol menjauh, apapun untuk melepaskan ciuman itu. Dipukul-pukulnya dada bidang milik Chanyeol, namun Chanyeol dengan sigap mendongakkan kepala Baekhyun untuk memudahkan akses ciuman tersebut. Ciuman tersebut berubah menjadi lumatan, lidah Chanyeol menyapu gigi Baekhyun, memaksa ingin masuk ke rongga mulut Baekhyun dan memainkan lidah mungil milik Baekhyun tapi Baekhyun dengan keras kepala mengatupkan erat giginya tak sudi menerima ajakan main lidah Chanyeol.
Kesal, Chanyeol mencengkram keras pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun memekik dalam ciuman tersebut, sontak bibirnya terkatup kecil. Moment ini dimanfaatkan Chanyeol untuk memasukkan lidahnya untuk menyapa lidah Baekhyun. Chanyeol tersenyum kecil di antara ciuman tersebut. Nampak sekali bahwa Baekhyun tidak berpengalaman sama sekali dalam berciuman. Gerakan bibirnya terasa begitu kikuk, tapi terasa bahwa Baekhyun mulai terlena dalam ciuman tersebut. Lidahnya yang sedari tadi begitu malu-malu untuk diajak bermain, mulai berani membalas liukan lidah Chanyeol. Dalam hati, Chanyeol sudah tersenyum penuh kemenangan ketika dirasakannya lengan Baekhyun tidak lagi memukul dadanya melainkan mencengkram jasnya. Napas keduanya terdengar begitu memburu. Sadar akan kebutuhan oksigen yang harus disuplai sesegera mungkin ke paru-paru mereka, Chanyeol memutuskan untuk melanjutkan permainan ke babak berikutnya.
Dilepaskannya bibir Baekhyun, mulut Chanyeol merangkak turun pelan ke arah leher jenjang Baekhyun. Kesempatan ini digunakan Baekhyun langsung meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Menatap singkat leher Baekhyun yang putih jenjang tanpa jakun itu, ingin rasanya Chanyeol menanamkan rasa kepemilikan di leher putih tersebut. Indah sekali seperti leher wanita saja. Namun baru saja Chanyeol hendak melaksakan niatnya tersebut, nada dering hp miliknya berdering keras, memecahkan moment intim tersebut.
Seolah sadar apa yang baru saja terjadi, Baekhyun buru-buru mendorong jauh Chanyeol. Matanya membelalak seolah dia sadar apa yang baru saja dibiarkannya terjadi. Jemari lentiknya menutupi mulutnya yang menganga tak percaya.
"Cih!" Chanyeol berdecak kesal. Dirogohnya saku celananya, matanya menilik kesal nama yang terpampang di layar hp miliknya.
"APA?" bentak Chanyeol marah pada orang diseberang sambungan telepon tersebut. Nadanya begitu menyeramkan, membuat Baekhyun kasihan pada orang tersebut. Di sisi lain, ingin rasanya Baekhyun berterima kasih pada siapa pun yang menelpon Chanyeol karena merusak moment terkutuk tadi.
Baekhyun tidak percaya bisa-bisanya dia terlena dicium seorang pria, bahkan bisa dibilang menikmatinya. Demi apapun, dia bukan gay! Sampai sekarang dia tidak pernah memiliki ketertarikan apapun pada seorang pria, atau pada siapapun. Baginya asmara itu hanya buang-buang waktu.
"Dasar, begitu saja tidak becus!" umprat Chanyeol kepada orang di seberang telepon itu. Dengan kasar dimatikannya hp miliknya. Matanya kembali menatap Baekhyun, namun Baekhyun kali ini lebih waspada. Sudah siap menghindari serangan yang mungkin berikutnya akan diluncurkan oleh Chanyeol.
"Kita lanjutkan nanti, Jongdae." Chanyeol menghela napas.
"Lanjutkan? Apa yang mau dilanjutkan? Tidak akan ada yang dilanjutkan! Jangan harap setelah ini aku masih mau melihatmu!" semprot Baekhyun histeris tak percaya. Kalau raksasa bertelinga lebar ini pikir sehabis ini Baekhyun masih mau menampakkan batang hidungnya di hadapannya, dia pasti berdelusi. Kalau bisa seumur hidup tidak usah bertemu lagi, lanjutkan nanti katanya? Tidak terima kasih.
"Kau boleh pulang sekarang, Jongdae. Akan kuminta sopirku untuk mengantarmu. Tunggu di sini. Aku ada urusan, nanti kita bertemu lagi. " Chanyeol tidak menggubris perkataan Baekhyun barusan seolah itu hanya angin lalu saja. Sembari berjalan keluar ruangan, dirogohnya lagi hpnya, menginstruksikan sopirnya untuk stand by di depan club.
Orang ini gila! Pikir Baekhyun.
Setelah Chanyeol benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Baekhyun langsung dengan buru-buru mengganti bajunya seperti dikejar setan. Begitu keluar dari ruang staff tersebut, Baekhyun celingak-celinguk ke kanan dan kiri, memastikan raksasa gila itu sudah hilang dari peredaran. Baekhyun pun keluar mengendap-endap lewat pintu belakang tempat keluar masuk para staff. Siapa yang sudi diantar sopirmu pulang.
Beberapa staff menatapnya sepanjang lorong menuju pintu keluar, namun dia tidak ambil pusing. Yang penting dia harus keluar segera dari tempat ini. Sempatnya dia melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 11:11 pm. Sebentar lagi akan berganti hari menjadi hari natal. Baekhyun mendengus keras.
Sungguh malam natal paling sial yang pernah dia alami seumur hidupnya.
.
.
.
.
TBC
a/n: terima kasih banyakkkkkk saya ucapkan untuk review-reviewnya. Terima kasih sudah membaca cerita saya. Maafkan saya tidak bisa membalas reviewnya satu persatu, tapi sungguh saya membaca review anda satu persatu. Terima kasih atas semangatnya. Buat yang meng-follow dan meng-favourite cerita saya, terima kasih. Buat yang menebak-nebak, jangan bosan menebak, ya... /digampar/
Ada beberapa review yang bilang gak suka ada Baekyeon, jangan khawatir. Taeyeon gak bakalan muncul lagi kok, dia hanya cameo di prolog and that's it. Yang muncul lagi paling hanya namanya, tapi Baekhyun gak bakalan ketemu dia lagi. Hohoho.. :)
Jadi Chanyeol itu sebenarnya siapa? Anggota boyband EXO kah? lol
Sampai ketemu di chapter berikutnya. Chapter depan masih flashback, ya. FF ini alurnya mundur, nanti setelah beberapa chapter baru maju(?). :)
Thanks for reading.
Review?
