"Dan sejak itu. Kerajaan Emeraldia hanyalah menjadi sebuah sejarah dunia," jelas Guru itu lalu menutup bukunya.
Entah sudah berapa kali Blaise menguap tanda mengantuk. Ia memang tidak suka dengan pelajaran Sejarah disekolahnya, menurutnya pelajaran sejarah adalah pelajaran yang membosankan.
Theo selalu bersemangat dengan hal yang berhubungan dengan sihir.
Saat ini hanya kerajaan Greyssia yang memiliki inti sihir di dunia. Maka dari itu Draco tidak pernah menyebutkan nama keluarganya didepan banyak orang.
"Waw. Aku tidak pernah tau jika Emeraldia adalah kerajaan terkuat!" pekik Theo pelan dengan kedua mata yang berbinar.
Draco memutar kedua bola matanya malas.
"Sudah kubilang. Greyssialah yang memiliki kekuatan terkuat!" balas Pans pelan.
"Tidak. Emeraldia adalah kerjaan terkuat! Dan aku ingin sekali bertemu dengan pangeran itu. Apakah benar dia sudah mati?" lirih Theo pelan.
Pans mengangkat bahunya tidak peduli.
"Sejarah mengatakannya tidak pasti. Ada beberapa sumber yang mengatakan jika pangeran telah menghilang, diculik lalu meninggal mengenaskan di hutan terlarang," ujar Pans.
Theo mengangguk setuju.
"Emeraldia. Mereka mengatakan jika pangeran memiliki warna mata yang indah!" seru Blaise dengan teriakan tertahan.
Pans mengangguk setuju kali ini.
"Kira-kira, apa ya warnanya?" gumam Theo pelan sambil melirik kearah Draco.
"Emerald bercampur Zamrud indah," lirih Draco tanpa sadar.
"Ya. Anda benar Mr. Draco. Warna mata dari sang pangeran Emeraldia adalah Emerald bercampur Zamrud," balas Guru itu sambil tersenyum bangga.
Disampingnya Pans dan Theo tertawa pelan saat melihat Draco yang tersentak kecil. Mereka berdua tau jika Draco mengucapkannya secara tidak sadar karna mengingat pangeran itu.
"Tidak ada yang bisa membohongi perasaan di sini~" ujar Pans dengan nada sing a song.
"Kau benar Pans. Seorang pangeran yang kehilangan pujaan hatinya, dan selalu berpikir jika pujaan hatinya masihlah hidup," tambah Theo lalu bersiul pelan.
Draco memutar kedua bola matanya malas.
Hanya Theo, Blaise dan Pans saja yang mengetahui identitasnya.
"Jangan menggodanya! Pans. Lihat! ia akan malu nanti," ledek Theo pelan dengan kekehan khasnya.
"Aw. Dia manis Theo," balas Pans dengan kedua mata yang berbinar.
Blaise bangun lalu menguap sebentar. Menatap kearah dua temannya dengan tatapan tajam.
"Kalian berdua sangat berisik! Bahkan aku dapat terbangun saat ini," ujarnya kesal.
"Kau selalu tertidur. Blaise," balas Pans malas.
"Masalah? Aku tidur karna bosan dengan pelajaran sejarah," Ujar Blaise tenang.
Theo memutar kedua bola matanya malas.
"Ayolah. Aku bukanlah seorang yang selalu mendengarkan penjelasan tentang sejarah lalu mengingat seseorang yang ada datang diimajinasiku," balas Blaise pelan.
Draco menatap tajam kearah Blaise saat dirinya tersindir jelas.
"Ups... Sorry. Mr. Malfoy," ujarnya berbisik.
Draco menghela napasnya pelan.
Blaise mengangkat bahunya tidak peduli lalu kembali tidur.
~Emeraldia~
Hagrid menatap kesekitarnya dengan bahagia.
Ia telah menemukan tanaman obat langkah di hutan dan jarang ditemukan dimanapun.
Dari kejauhan terlihat sosok manis dengan rambut panjang sepinggang berwarna hitam gelap, saat rambut itu terkena cahaya. Rambut itu akan berkilau indah.
Gaun putihnya terlihat kotor dibagian bawah akibat terjatuh berulang kali ke tanah.
Tatapannya selalu tajam dan waspada kesekitar untuk mencari mangsa yang dicarinya.
Dan saat seekor Rusa itu lewat, panah tajam yang terbuat dari kayu tertancap sempurna di tubuh rusa yang kini sudah tidak sadarkan diri di atas tanah.
Tersenyum senang, Kemampuan memanahnya memang tidak pernah diragukan lagi. Ia pandai memanah sejak kecil untuk berburu ataupun menjadi sebuah perlindungan.
"Bidikan yang bagus Mrs. Emeraldia," ujarnya sopan.
Sosok itu tertawa pelan lalu mencabut panahnya dengan kuat. Namun sayang, karna tarikannya terlalu kuat panah itu ikut hancur.
"Oh. Ayolah, panggil aku Era ataupun Eraldia jika kau mau. Emeraldia itu terlalu panjang," gerutuhnya pelan.
Sosok kecil yang selalu menemaninya itupun tertawa pelan.
"Baik Mrs. Eraldia," ujarnya sopan.
Emeraldia tidak mengatakan apapun lagi saat usahanya sia-sia saja.
"Dobby. Apakah paman Hagrid akan membuat ramuan baru dengan orang aneh itu lagi?" tanya Emeraldia setengah berbisik.
"Tentu. Mrs. Eraldia. Dan sekarang Mr. Hagrid sedang mencari bahannya di tengah hutan," jelas Dobby pelan.
Emeraldia mengangguk tanda mengerti.
"Ayo Dobby. Kita pulang!" ajaknya sambil membawa Rusa hasil buruannya.
Dalam perjalanannya Emeraldia berceloteh ringan lalu menyandungkan nada lagu yang melintas dipikirannya saat itu juga.
Hingga ia bertemu dengan sebuah tanaman yang hampir mati di sana. Tanpa pikir panjang, Emeraldia menyentuh pohon itu lembut lalu memejamkan kedua matanya, berharap pohon itu kembali hidup dengan dedaunan yang lebat.
Emeraldia melihat usahanya yang tidak membuahkan hasil. Sedih, Emeraldia melangkahkan kakinya kembali menuju sebuah Gubuk tua di hutan.
Baru saja Dobby akan mengikuti Tuannya jika ia tidak melihat sebuah perubahan indah yang terjadi pada pohon itu.
Pohon mati yang disentuh Emeraldia perlahan kembali berubah hidup dengan dedaunan yang lebat sekaligus subur di saat bersamaan.
Kedua bola mata Dobby berkaca-kaca lalu menangis haru. Setelah sekian lama, kekuatan Emeraldia terbuka kembali, kekuatan itulah yang menuntun tuannya sendiri.
Namun, kekuatan itu masih lemah karna belum sempurna.
Emeraldia sampai dulu di gubuk itu dengan riang. Membuka pintu perlahan lalu menaruh rusa itu dekat dengan meja yang ada di dapur.
Dobby dengan cepat menuju Hagrid dengan kekuatan Elf yang ia punya.
"Dobby. Ada apa? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak memakai sihir saat ada Emeraldia?" tanya Hagrid tajam.
Dobby menunduk pelan.
"Maafkan Dobby. Ada yang harus Dobby sampaikan saat ini juga! Kekuatan sihir Emeraldia mulai terbuka Sir, namun masih terlihat lemah," jelas Dobby.
Hagrid mengangguk tanda mengerti.
"Anak itu sudah bisa menggunakan kekauatannya?"
"Tentu belum,"
"Lalu apa maksud dari Elfmu itu?"
Hagrid menghela napasnya kasar.
"Bukan punyaku! Lagi pula. Seorang Elf akan selalu setia dengan Tuannya hingga kapanpun," jelas Hagrid.
Orang itu mengangguk tanda mengerti.
"Lalu bagaimana dengan kekuatannya?"
"Bukankah Dobby sudah mengatakan jika ia menggunakannya secara tidak sengaja?" tanya Hagrid kembali.
"Sengaja ataupun tidak sengaja. Tetap saja namanya sihir," jawabnya lalu memutar kedua bola matanya bosan.
"Baiklah. Sihir yang lemah dan belum sempurna! Karna sihir itu selalu menuntunnya diamanapun ia berada. Dan aku terkejut saat sihir itu sendiri yang mengarahkannya untuk menolong pohon yang sudah mati," jelas Hagrid.
Orang itu mengangguk tanda mengerti.
"Kita bisa tenang saat ini karna sihirnya masih lemah sehingga jejeknya tidak akan ditemukan para penghianat itu,"
Hagrid mengangguk setuju.
"Kita harus mengajarinya saat agar ia dapat mengendalikannya," tambahnya pelan.
Hagird menggeleng tidak setuju.
"Tidak. Sampai ia menemukan jati dirinya yang asli," jawab Hagrid tenang.
Orang itu memutar kedua bola matanya malas.
"Kau tidak bisa melakukan itu," Desisnya tidak suka.
"Tentu aku bisa! Keselamatan nyawanya adalah tanggung jawabku yang diberikan langsung oleh James dan Lily. Severus," ujar Hagrid tenang.
Severus tidak dapat berkata apapun lagi selain memaki kesal.
"Apa yang sedang anda buat. Sir?" tanya Emeraldia sopan sambil melihat ramuan yang ada di dalam kuali besar di atas kompor.
"Ageing Potion. Membuat siapapun yang menjadi lebih tua dari usianya, kau ingin mencobanya?" tanya Severus dingin.
'Deg'
Kedua matanya membola terkejut saat melihat sosok yang bertanya tadi. Ia tidak pernah bertemu langsung dengannya dan sekarang sosok itu ada dihadapannya.
Hagrid tertawa pelan saat melihat sosok itu mundur selangkah dengan menutup mulitnya horor.
"Kau membuatnya takut. Severus," ujar Hagrid.
"Kau tidak pernah bilang jika-"
"Hanya pemanjang rambut," bisik Hagrid pelan.
Severus mengangguk mengerti dan kembali melihat sosok dihadapannya.
"Maaf atas kelancangan saya. Nama saya Emeraldia. Sir," ujarnya sopan sambil menunduk lalu kembali menegakkan tubuhnya.
Severus tidak akan menyangkal jika aura bangsawan kerajaan yang dipancarkan sosok dihadapannya itu tidak pernah hilang sedikitpun. Namun sayangnya, bukan sosok gagah seperti seorang pangeran melainkan anggun seperti seorang Putri.
Severus kembali berpikir. Apakah karna perjodohan yang direncanakan Narcissa padanya?
Severus menggeleng pelan. Sebelum kejadian itu sosok dihadapannya selalu bertingkah layaknya seorang anak laki-laki umunya.
Dan Severus masih merasa bersalah karna ia tidak memberitahukan pada keluarga Malfoy dan membuat mereka terus bersedih.
Jika seorang Harry James Potter masih hidup dan sekarang menyamar menjadi Emeraldia seorang gadis hutan yang memiliki aura bangsawan dan terlihat anggun walaupun dengan pakaiannya yang sederhana.
"Kau tidak pernah melihat duniabluar Hagrid,"
Hagrid kembali tertawa pelan.
"Aku tidak perlu ke dunia luar. Severus, Tuagasku menjaga sosok ini," ujarnya lembut sambil merangkul Emeraldia.
"Nama yang bagus," ujar Severus.
Emeraldia tersenyum ceria.
"Terima kasih. Sir,"
"Aku akan kembali. Sampai jumpa Hagrid dan kau Emerlad," pamit severus lalu meninggalkan gubuk itu.
Saat Severus mulai menghilang dari pandangannya. Hagrid menuangkan ramuan itu dalam wadah tidak butuh waktu lama.
Emeraldia melihat kearah cermin yang ada di kamarnya.
Rambut panjang itu perlahan berubah menjadi pendek dan wajahnya menjadi seorang anak laki-laki pada umumnya walaupun masih terlihat manis.
Kedua matanya yang awalnya berwarna biru cerah perlahan berubah menjadi Emerald bercampur Zamrud indah.
"HAGRID!"
"HARRY!"
Panggilan itu terdengar secara bersamaan. Hagrid memutar kedua matanya kesal.
"Bisakah kalian diam!" perintah Hagrid tajam saat melihat 2 sosok dihadapannya.
"Oh. Harry, apakah ramuan itu telah hilang efeknya?" tanya Hagrid pelan.
Emeraldia a.k.a Harry memutar kedua bola matanya malas.
"Hagrid. Kenapa kau meminta ponakanku untuk menjadi seorang gadis?" tanya Sirius tajam.
"Itu demi keselamatannya," jawabnya tenang.
Sirius memutar kedua bola matanya bosan dan langsung memeluk Harry erat. Harry ingin memberontak namun gagal.
"Aku tak percaya kau akan menjelma menjadi seorang gadis," sindir Sirius lalu tertawa keras.
Harry memutar kedua bola matanya 'Lagi' saat sirius membahasnya ulang.
"Bagus. Kau seperti seorang Putri bangsawan walaupun sebenarnya kau seorang-"
"Bagaimana Rusa panggang menu makan malam ini Harry?" tawar Hagrid sambil memotong ucapan Sirius.
Harry tampak berpikir sebentar.
"Ide bagus. Hagrid!" pekiknya senang dan langsung berlari ke arah kamar saat pelukan itu meregang.
Sirius berjalan kearah Hagrid.
"Kau tidak memberitahunya?"
"Aku tidak ingin membuat psikisnya buruk," jawab Hagrid tenang.
"Kau menyembunyikan identitasnya," lirih Sirius pelan.
"Kau siap jika Harry akan depresi atas kematian orang tuanya?" sindir Hagrid pelan.
Sirius berpiki sebentar lalu menggeleng.
"Biarlah air itu mengalir dengan sendirinya,"
~Emeraldia~
"Tetap di barisan anak-anak!" teriak seorang guru tegas.
Ada beberapa orang anak yang tidak mendengarkan dan justru bercanda hingga keluar barisan.
"Tetap dibarisanmu!" Perintah Flich tajam diikuti seekor kucing di sampingnya.
Hari semakin gelap menandakan malam akan tiba.
Blaise dan Theo sibuk mengerjai beberapa anak murid yang sedang berjalan. Bahkan Fred dan george ikut menjahili mereka.
Draco tidak mempedulikan tingkah konyol yang dilakukan kedua sahabatnya.
Memilih terus berjalan hingga ia sadar telah kehilangan jejak rombongannya. Mengeluarkan kompas itu malas lalu melihat arah jalan yang akan ditempuh.
Bukannya bertemu dengan rombongannya. Justru ia memasuki hutan lebih dalam. Tanpa sadar kakinya terpleset dan Draco terjatuh ketepi jurang.
Draco memaki pelan karna gayanya bukanlah Malfoy-ish sekali, bisa-bisa ia dicoret dari daftar kerajaan Greyssia karna kecerobohannya sendiri.
Baru saja ia ingin berdiri, namun sakit yang menyerang di kepalanya ridak bisa ia tahan. pandangannya mulai buram dan Draco pun jatuh pingsan.
Dari kejauhan terlihat Pans yang mencari Draco cemas.
"Blaise. Kau melihat Draco?"
Blaise menggeleng pelan.
"Bukankah biasanya kau selalu mengikutinya layaknya seekor anak ayam," sindir Blaise.
Pans mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Apa kau bilang?!"
"Ok Guys. Sebaiknya kita mencari, bukan bertengkar," saran Theo.
"Kau benar Mr. Nott atau Raja dan Ratu akan menghukum kita," balas Pans pelan.
Blaise dan Theo mengangguk mengerti dan langsung mencari Draco kesegala arah.
Tbc~
(Maaf jika terjadi kesalahan kata/typo dalam penulisan cerita)
~Farida Lil Safana~
