Nam and Jin's fict

.

.

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin | Jung Hoseok | Min Yoongi | Park Jimin | Kim Taehyung | Jeon Jungkook

.

.

.

"Don't think for a moment that I really like any of the characters I've played. I'm not. That's why it's called acting." -Leonardo DiCaprio

.

.

.

.

.


Namjoon pernah mendengar istilah bersenang-senang dahulu lalu mati kemudian. Atau paling tidak yang semacam itu. Sekarang ia sedang sibuk membanding-bandingkan istilah tersebut dengan perlakuan Hoseok padanya. Bagaimana tidak? Selama enam tahun saling mengenal dan lima tahun bekerja dalam hubungan manajer-artis, Hoseok tidak pernah sekalipun membelikannya sesuatu. Bahkan saat Namjoon minta tolong dibelikan permen karet saja, ia menuntut uang ganti. Lalu di siang hari yang cerah ini tiba-tiba ia mengajak Namjoon makan di restoran seafood. Seafood! Lengkap dengan dua buah lobster sebagai hidangan utama. Dan yang paling membuat Namjoon merinding adalah semua pembayaran seratus persen Hoseok yang tanggung. Namjoon perkirakan dunia akan berakhir sebentar lagi.

"Woah, lobster memang yang terbaik kan, Namjoonah? Ayo ayo habiskan." Nada antusias yang ia gunakan jelas hanya tipuan. Hoseok sibuk memisahkan daging lobster dari cangkangnya dan memberikan dagingnya ke atas piring Namjoon. Masih belum menyadari atau pura-pura tidak menyadari tatapan penuh selidik dari orang yang sejak tadi tak merespon banyak keantusiasan palsunya.

"Yak, Jung Hoseok. Aku jadi merasa seperti seorang napi hukuman mati yang sedang dikabulkan permintaan terakhirnya."

"Haish apa yang kau bicarakan? Seorang sahabat sedang berbuat baik, dinikmati saja."

"Berbuat baik, pantatmu! Katakan saja langsung apa hasil keputusan perusahaan dari pertemuan tadi pagi."

Namjoon langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat Hoseok membanting kasar penjepit lobster ke atas piring, menimbulkan bunyi nyaring yang menarik perhatian pengunjung lainnya. Apalagi ketika akhirnya Hoseok membalas tatapan mata Namjoon yang sejak tadi ia hindari. Hoseok si pria matahari seketika bertransformasi menjadi pembunuh bayaran kelas atas. "Bisakah kita makan dengan tenang? Aku sungguh sedang berbuat baik padamu, Kim Namjoon. Anggap saja setelah ini kau tidak bisa lagi menikmati makananmu."

Oke, baiklah. Jadi Namjoon benar-benar mengambil peran sebagai napi hukuman mati yang sedang dikabulkan keinginan terakhirnya. Andai saja Hoseok bilang sejak awal, selain makan siang mewah, Namjoon pasti akan meminta tambahan keinginan seperti berlibur ke Las Vegas. Tapi untuk sekarang, ia turuti dulu ucapan Hoseok barusan karena selain takut Hoseok akan sungguhan membunuhnya yang tetap keras kepala, juga yeah anggap saja ini menu terakhir yang ia nikmati di dunia. Selama ini ia begitu mempercayai sang manajer. Jika Hoseok berkata setelah ini Namjoon akan ke neraka, maka begitulah kenyataannya.

Melihat reaksi Namjoon yang langsung bungkam dan mulai makan dengan tenang sesuai permintaannya, Hoseok jadi merasa sedikit bersalah. Namjoon adalah orang yang paling ia kasihani detik ini, walaupun kalau di ingat-ingat semua yang akan terjadi nanti merupakan konsekuensi dari kebrengsekannya di masa lalu.

"Jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku kehilangan nafsu makan." Namjoon berseru. Menyadarkan Hoseok dari lamunannya dengan mata yang menatap intens sang sahabat.

Ia segera menyibukkan diri lagi, memotong-motong ikan atau mengambil sebuah abalone untuk dicongkel isinya menggunakan garpu. "Kau pikir kau tidak membuat diriku kehilangan nafsu makan?" Hoseok tak berniat mempertemukan mata mereka lagi, takut situasi akan semakin canggung dan mereka benar-benar kehilangan nafsu makan. Hoseok tidak mau uangnya terbuang sia-sia dengan menyisakan banyak makanan di atas meja.

"Maaf."

Satu kata dari Namjoon yang berhasil menyelewengkan jalan masuk daging ikan ke jalur pernapasannya, alhasil ia tersedak hingga batuk-batuk. Namjoon tadinya ingin pulang saja dan membiarkan manajernya mati tersedak, tapi untunglah ia masih punya sedikit sisa hati jadi yang ia lakukan adalah menyodorkan segelas air putih untuk Hoseok yang langsung menenggaknya habis. Nyaris satu menit Jung Hoseok berjuang dari serangan batuk dadakan, setelah itu ia mulai berangsur-angsur tenang, lalu memberikan tatapan takjubnya pada Namjoon. Seolah sang sahabat sekaligus artis asuhannya baru saja bilang akan menghadiahkan Hoseok sebuah pulau di Hawaii.

"Kau meminta maaf? Kau Kim Namjoon sungguhan 'kan? Bukan alien yang sedang menyamar?!"

Namjoon memutar malas bola matanya, tak pernah bisa terbiasa dengan sikap super berlebihan dari Hoseok. "Ya, Jung Hoseok. Aku, Kim Namjoon, meminta maaf karena selama ini selalu merepotkanmu. Puas?" Beberapa detik tidak ada reaksi selain bola mata Hoseok yang seolah memancarkan bintang-bintang kecil.

"Belum, bisa kau ulangi lagi? Aku ingin merekamnya agar suatu saat nanti bisa kutunjukan pada anak cucuku kalau keajaiban itu ada."

Cukup sudah. Jung Hoseok sukses membuatnya kehilangan nafsu makan. Namjoon bangkit berdiri dari kursinya bersiap pergi dan memilih bertanya sendiri pada CEO tentang hasil keputusan pertemuan tadi pagi. Tapi di saat yang bersamaan Hoseok juga ikut berdiri, menarik kuat pergelangan tangan Namjoon hingga yang lebih tinggi kembali duduk di kursinya.

"Yah, yah, yah, aku hanya bercanda. Mengapa kau jadi sensitif sekali sih?"

"Aku sedang tidak nafsu bercanda."

"Ya, memang nafsumu hanya pada perempuan-perempuan berdada besar di pinggir jalan."

"Sialan." Tangan gatal Namjoon berhasil meraih kotak tisu untuk dilemparkan pada Hoseok yang untungnya tidak berhasil menghindar sehingga keningnya menjadi korban kebrutalan Namjoon. "Seperti kau tidak bernafsu saja pada mereka."

Kali ini Hoseok diam saja, tak memiliki keinginan membahas hal ini lebih jauh. "Sudah cepat habiskan makanannya jika ingin segera mendengar hasil pertemuan tadi pagi."

Namjoon menurut meski sedikit curiga akan reaksi aneh sahabatnya. Mereka menghabiskan setiap isi piring-piring yang tersaji tanpa adanya ocehan lagi. Keduanya sama-sama ingin kepura-puraan ini segera berakhir. Namjoon sudah pasrah pada neraka macam apa yang akan menyambutnya setelah ini. Ia akan menjalani konsekuensi layaknya laki-laki dewasa yang keren. Meski diam-diam Namjoon tetap berdoa dalam hati agar hukuman yang diterima tidak menyentuh musik-musiknya, sialan-sialan begini ia masih ingin terus memproduksi musiknya sendiri meski nantinya bukan lagi dirinya yang menampilkan langsung di atas panggung.

"Jung Hoseok?"

Kejadian langka telah terjadi di depan mata Namjoon dimana biasanya nama Rap Monster selalu diucapkan oleh orang asing yang datang tiba-tiba ke arah mereka, kini suara lembut itu dengan jelas memanggil nama lengkap sang manajer. Hoseok lebih cepat beberapa detik dari Namjoon untuk bereaksi pada panggilan tersebut. Ia mengalihkan pandangan dari piringnya di atas meja, memberi perhatian penuh pada sang objek yang memanggil namanya diiringi nada bertanya.

Dan Namjoon bersumpah baru pertama kali ia melihat mata Hoseok melebar dua kali lipat. Namjoon merinding sendiri membayangkan bola matanya yang nyaris melompat keluar. "Yoongi?!"

"Benar ternyata. Hai, lama tak bertemu." Sapanya mencoba ramah. Kata mencoba perlu di garis bawahi sebab ekspresi wajah tanpa senyum yang ditunjukan sang pemuda terlalu datar untuk bisa disebut beramah-tamah. Namjoon tanpa sadar memperhatikannya, lebih ke mengobservasi mengingat tatapan yang ia berikan terlalu intens. Sesuatu mengatakan bahwa sebelumnya ia pernah melihat laki-laki berkulit kelewat putih yang mengenakan hoodie hitam kebesaran dan jeans ketat yang juga berwarna hitam.

"Ah, ya.. senang bertemu denganmu lagi."

Kecanggungan yang kental menguasai keadaan di antara mereka. Senyum Hoseok terlihat sekali dipaksakan, seperti bertolak belakang dari apa yang ia ucapkan kepada si pemuda pucat.

"Benarkah? Aku pikir kau tidak terlihat begitu senang bertemu denganku lagi." Benar ia menyadarinya. Namjoon mengira bagi yang sudah lama mengenal Hoseok akan mudah menyadari kebohongan yang dilakukan. Apa itu artinya mereka sudah lama kenal? Tapi tak biasanya hubungan pertemanan Jung Hoseok berakhir secanggung ini. Kali ini Namjoon mengamati tingkah manajernya, ia sudah membuka mulut siap memberi bantahan, sebelum pemuda lainnya kembali bersuara. "Mungkin kalimat itu lebih cocok kukatakan padamu. Senang bertemu denganmu lagi, Jung Hoseok. Aku pergi." Dan ia benar-benar pergi. Membungkuk asal pada Hoseok dan Namjoon tanpa secuil senyumpun di bibirnya.

Sepeninggal pemuda yang Hoseok panggil Yoongi itu, Namjoon mendapati mata sang manajer masih mengikuti gerak-geriknya. Sampai Yoongi kembali ke mejanya sendiri dimana terdapat satu orang pemuda lagi disana. Namjoon memicingkan matanya, jarak meja mereka dengan Yoongi yang cukup jauh membuat matanya yang sudah minus tak bisa melihat jelas. Tapi Namjoon pastikan ia seorang laki-laki juga.

"Yah, siapa di.."

"Habiskan makananmu, Namjoon."

Cih. Jelas sekali Hoseok tak mau membahas Yoongi lebih jauh dengan Namjoon atau bahkan dengan siapapun. Justru yang seperti ini yang membuat Namjoon semakin penasaran. Ia akan memaksa Jung Hoseok bicara suatu saat nanti.

Butuh waktu tiga puluh menit kemudian bagi mereka menghabiskan seluruh isi piring yang ada. Namjoon sampai berpikiran kalau ia akan mati karena kekenyangan. Setelah menenggak habis sisa jusnya (entah dari buah apa, Hoseok yang memesan), ia menatap diam Hoseok yang juga tampak sudah selesai mengisi perut. Manajernya kini sedang membersihkan sudut-sudut bibirnya menggunakan tisu dengan cara yang terlalu elegan untuk orang yang tak jauh beda cerobohnya dari Namjoon.

"Ehem, jadi.."

"Gay."

"Hah?!"

Kali ini Namjoon yang merasa matanya membesar dua kali lipat. Sepertinya bukan hanya soal penglihatan, telinga Namjoon juga sudah mulai minus pendengarannya. Hoseok balas menatapnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda ia sedang bercanda. Manajernya ini sedang dalam mode serius seratus persen.

"Agensi ingin mengubah image-mu, dari playboy brengsek yang menghamili wanita, menjadi gay penyayang pasangannya."

Namjoon membuka tutup mulutnya persis ikan yang baru dinaikkan ke darat. Memilah-milih kalimat yang tepat selain umpatan untuk ia ucapkan. Mendadak seluruh makanannya yang tadi ia telan berdesakkan di kerongkongan, meminta kembali dikeluarkan. Namjoon tahu Hoseok sedang menatapnya iba, bahkan nyaris menyebrangi meja dan memeluknya. Namjoon juga tahu tak ada yang bisa ia dan Hoseok lakukan lagi selain menuruti apa yang agensi inginkan.

"Namjoonah, mulai sekarang kumohon berhenti menjadi brengsek. Ayo buat hidup ini mudah kita jalani."

Hoseok memohon, pertama kali dan mungkin juga untuk yang terakhir kali. Karena kebrengsekan Namjoon bukan hanya mempersulit hidupnya sendiri, tapi juga milik Hoseok dan orang-orang yang bekerja bersamanya.

.

.

.

"Kim Seokjin.." adalah dua kata yang sedang ia ketik di mesin pencarian internet. Hoseok menolak menceritakan banyak hal tentang siapa Kim Seokjin yang ia bawa-bawa dalam pembicaraan tadi siang, jadi ia memilih mengambil inisiatif sendiri daripada dihantui rasa penasaran. Hasil yang didapat cukup membuatnya merinding, baik itu foto-foto di majalah atau cuplikan-cuplikan adegan dari film dan drama yang pernah ia mainkan.

Beberapa hal yang dapat ia ketahui tentang Kim Seokjin dari artikel-artikel di internet adalah:

1. Mereka seumuran. Kim Seokjin lahir di bulan Desember, sementara Namjoon di bulan September.

2. Kim Seokjin memulai kariernya di dunia akting di tahun 2012, langsung mendapat peran utama di drama pertamanya. Awalnya, ada rumor yang mangatakan itu karena dia memiliki koneksi khusus dengan sang sutradara. Tapi setelah melihat caranya berakting, rumor tersebut menghilang dengan sendirinya dan masyarakat mengakui kemampuannya.

3. Di tahun keempat kariernya, Seokjin mendapat tantangan bermain film bertema cinta sesama jenis. Walaupun saat itu tema tersebut masih belum sepenuhnya legal, film yang ia mainkan nyaris meraih keuntungan dua kali lipat dari biaya produksi. Masyarakat menyambutnya antusias dan nama Kim Seokjin semakin diperhitungkan di dunia akting.

4. Setelah promosi film selesai, tersebar gosip yang menyatakan bahwa Kim Seokjin benar-benar seorang gay. Dilengkapi foto-foto dimana ia terlihat tengah berjalan mesra dengan lawan mainnya di film tersebut. Hingga detik ini, belum ada bentuk penyanggahan dan pembenaran apapun dari agensinya, jadi masyarakat menyimpulkan sendiri bahwa hal itu memang benar.

5. Sudah lebih dari lima film serta satu drama tv dimana ia berperan sebagai gay dan semuanya meraih keuntungan yang tidak sedikit. Image gay semakin menguat dari dirinya. Selain itu, Ia juga seorang penyanyi yang diperhitungkan. Suaranya selalu menghiasi soundtrack-soundtrack film atau drama yang ia mainkan.

6. Menurut Namjoon, ketampanan seorang Kim Seokjin telah melampaui batas manusia. Hell, perpaduan mata coklatnya yang lebih bulat di banding mata orang Korea pada umumnya dengan alis tebal berbentuk kurva sempurna tanpa sentuhan operasi apapun, hidung mancung, bibir tebal dan penuh serta bewarna kemerahan yang alami, bentuk rahang yang sempurna (sudah berapa kali kata sempurna muncul?), dan rambut yang terakhir kali ia warnai coklat kemerahan. Namjoon yakin jika mereka bertemu nanti ia akan terlihat seperti pelayannya.

7. Memiliki sifat sosial tinggi. Sering diam-diam terlihat mengikuti kegiatan sosial tanpa terekspos media, seperti donor darah, membantu korban bencana alam, mengunjungi rumah yatim piatu dan panti jompo, rutin menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk orang-orang yang membutuhkan, bahkan ia juga tercatat sebagai salah satu artis Korea yang menjadi anggota organisasi dunia UNICEF.

8. Memiliki pengunjung fancafe nyaris mencapai satu juta orang. Tapi juga memiliki banyak haters yang berasal dari fans artis-artis pria yang dikabarkan tengah dekat dengannya. Pernah mendapat ancaman pembunuhan karena hal itu.

9. Kesempurnaannya membuat Namjoon mempertanyakan eksistensi hidupnya selama ini dan berkeinginan untuk menenggelamkan diri saja ke dasar bumi.

10. Gay adalah satu-satunya hal cacat yang Kim Seokjin miliki di mata Namjoon.

"Aaarrrgggghhh!"

Lenguhan putus asa dari seseorang yang tengah mempertanyakan arti hidupnya selama ini. Namjoon melempar asal ponselnya ke sisi lain sofa, lalu menopang kepalanya yang berat pada sandaran sofa yang ia duduki. Beberapa detik menutup mata, ia membukanya lagi, karena bayangan wajah Kim Seokjin langsung muncul disana. Ini menyeramkan. Baru melihat wajahnya lewat foto saja, Kim Seokjin sudah berhasil mengambil alih isi otaknya. Apalagi nanti menjalankan hari demi hari dengannya? Namjoon pernah dengar bahwa gay itu menular, sial, ia masih ingin menikmati segala fantasi liarnya dengan seorang wanita!

Ding

Namjoon melirik ke arah tempat ia melempar asal ponselnya tadi. Terdapat sebuah pesan masuk yang sudah dapat diperkirakan siapa pengirimnya. Jung Hoseok memang tidak akan pernah lagi membiarkan hidup Namjoon tenang.

From: Jung Hoseok

August 8, 2017 09.36PM

Kuharap kau tidak tidur larut malam ini. Besok ada pertemuan untuk membahas proyek film pertamamu. Kujemput pukul delapan tepat. Jangan telat bangun atau aku akan membakar rumahmu. Selamat malam ^^

Namjoon bergidik sendiri melihat emoticon diakhir kalimat, ia semakin melihat Hoseok sebagai seorang psikopat profesional. Proyek film yang dimaksud adalah yang akan ia mainkan bersama Kim Seokjin sebagai pasangan. Pasangan. Pasangan. Butuh tiga kali pengulangan agar Namjoon yakin itulah keyataannya. Hoseok bilang itu merupakan langkah awal dari process mengubah image Rap Monster. Fakta bahwa selama ini ia dikenal sebagai salah satu idol yang mendukung persamaan hak bagi para kaum pecinta sesama jenis adalah awal yang bagus bagi sang pencetus ide. Well, Namjoon melakukan itu memang bukan sekedar basa-basi untuk pencitraan apapun, ia sungguhan mendukung mereka. Hanya saja hal itu tidak berarti suatu saat nanti ia berharap menjadi bagian dari mereka. Serius, Namjoon jadi migrain sendiri memikirkannya.

.

.

.

Sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi Seokjin jika sedang bingung ingin melakukan apa di hari libur, ia akan datang ke gedung agensi Yoongi dan mengacaukan studio pribadi milik sang sahabat. Yoongi sendiri yang sudah lelah mengomel dan mengusirnya berakhir pasrah menerima konsentrasinya yang hancur karena kehadiran Seokjin. Saat nanti produser utamanya mempertanyakan hasil kerja yang selalu telat, Yoongi tinggal menjawab bahwa ada aktor tampan, tapi gay, bernama Kim Seokjin telah mengganggu pekerjaannya. Yoongi harap Seokjin dapat menggunakan jurus rayuannya untuk menggoda bosnya agar tidak marah.

Malam ini pun sama, Yoongi tak perlu repot-repot mengalihkan perhatian dari peralatan komputernya saat pintu studionya dibuka kasar karena hanya ada satu orang yang berani berbuat begitu.

"Hai, Yoongi baby!"

"Hanya karena kau tidak bisa lagi memanggil Hyosang seperti itu, jangan menjadikanku pelampiasan."

Decihan Seokjin terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang ia hempaskan ke atas sofa hitam disana. Bisa dibilang sofa di studio Yoongi adalah tempat favoritnya selain rumah. Seokjin melepas ransel dan membuka masker yang ia gunakan untuk menyamar seadanya. Melenguh nyaman sembari menutup mata saat ia berhasil menyandarkan kepala sepenuhnya pada sofa. "Jangan mengingatkanku lagi padanya, sialan."

"Yaps, panggilan itu terdengar lebih keren disandang olehku."

Membuka sebelah matanya untuk sekedar mengintip apa perhatian Min Yoongi belum juga teralih dari pekerjaan dan menemukan kebenaran dari asumsinya. Bahkan melirik kearahnya pun tidak. Si penggila kerja satu ini..

"Yoongi, aku butuh hiburan."

"Aku bukan wanita penghibur."

"Lalu? Aku bahkan tidak suka wanita."

"Kalau begitu aku juga bukan laki-laki penghibur."

Seokjin mendengus kasar, dibuat memikirkan ulang alasannya bersahabat dengan Yoongi sejak zaman sekolah karena berada di dekat si pemuda pendek itu Seokjin selalu merasa gula darahnya naik drastis. Tak bisa lagi menahan rasa jengkelnya, Seokjin meraih bantal sofa terdekat, melemparkannya ke arah Yoongi, dan berhasil mengenai pundak sempit sang sahabat.

"Kim Seokjin sialan!" Umpatan yang sejak tadi ia tahan keluar juga. Memutar kursinya untuk memberikan tatapan membunuh andalannya pada si korban.

Tawa Seokjin muncul sesaat sebagai bentuk kepuasan saat akhirnya ia tidak merasa jengkel sendiri. "Jangan jadi terlalu membosankan, Yoongi! Aku takut Jimin akan meninggalkanmu karena itu."

Walaupun dengan berat hati, sebagai sesama gay yang 'berposisi' sama, harus Seokjin akui bahwa Min Yoongi memiliki hubungan percintaan yang sedikit lebih baik. Terlepas dari ruwetnya kisah cinta pertamanya dulu, hingga Seokjin pernah menemukannya nyaris menggores pergelangan tangan menggunakan gunting, kini Yoongi bisa dibilang sangat beruntung memiliki jelmaan malaikat serupa Park Jimin. Di awal Seokjin mempermasalahkan perbedaan umur dua tahun di antara mereka, tapi seiring berjalannya waktu, Jimin berhasil meyakinkan Seokjin kalau ia memang yang terbaik untuk Yoongi.

"Dia bebas meninggalkanku kapan saja, aku tidak peduli." Sayangnya setelah insiden di masa lalu, kepercayaan Yoongi pada orang lain berkurang drastis. Hanya Seokjin orang yang paling ia percaya saat ini, bahkan orangtua dan kakak kandungnya masuk daftar hitam yang ia buat.

Berteman sekian lama, Seokjin dapat dengan mudah mengetahui kebohongan yang Yoongi buat hanya melalui tatapan mata dan gerakan tubuhnya. Seokjin tidak pernah belajar ilmu psikologi apapun, tapi mengerti apa yang Min Yoongi inginkan semudah mengerti keinginan dirinya sendiri. "Aku tahu kau peduli. Dan mari hentikan pembicaraan ini, aku punya kabar lebih baik!"

Yoongi terlihat mengerlingkan alis, menatap sinis keantusiasan Seokjin yang biasanya akan berakhir tidak begitu menarik. Ia menopang dagu pada sandaran kursi putarnya, "Apa? Hyosang meneleponmu dan meminta maaf?"

"Bukan! Kalaupun ia melakukan itu aku tetap tidak akan memaafkannya. Ada yang lebih baik!"

Kali ini giliran Yoongi yang mendengus, tahu kebohongan memuakkan dari kalimat Seokjin tentang Hyosang. Yoongi yakin sahabatnya yang lembut hati ini akan langsung memberi maaf di satu detik pertama setelah Hyosang memintanya. "Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan."

Dan senyum Seokjin yang muncul rasanya jauh lebih terang di banding lampu remang-remang yang jadi penerangan utama dalam studio Yoongi, "Aku mendapat proyek film baru!"

"Tema seperti biasa?" Seokjin mengangguk antusias, masih dengan cengiran lebarnya. "Woah, selamat! Akhirnya kau punya kesempatan melupakan Hyosang." Nada datar yang Yoongi gunakan sangat berlawanan dengan kalimatnya yang lebih cocok memasukkan keantusiasan di dalamnya. Selesai memberi selamat ala kadarnya, Yoongi memutar lagi kursinya kembali menghadap meja kerja dimana pekerjaan menumpuk sebagai hal yang harus ia selesaikan selanjutnya.

Mungkin orang lain akan sakit hati diberi respon seperti itu, tapi ini Kim Seokjin, yang sudah mengenal Min Yoongi luar dalam depan belakang, baginya Yoongi sudah menunjukan respon terbaiknya.

"Terimakasih. Tapi bagian terakhir itu salah, kau ingat pagi ini aku sudah berjanji untuk hanya fokus berakting tanpa membawa perasaan sesungguhnya."

"Perasaan manusia bukan sesuatu yang dapat kau kendalikan seenak jidatmu, Seokjinah."

Sebagai seorang produser, kata-kata yang Yoongi jadikan sebagai lirik lagunya memang terkenal menyentuh. Tapi Seokjin bersumpah sang produser hampir tak pernah menggunakan kata atau kalimat tersebut dalam percakapan verbalnya di dunia nyata. Jadi, hal yang Yoongi ucapkan barusan padanya adalah sesuatu yang mengejutkan dan cukup untuk sekedar membuat Seokjin merenung kecil.

"Setidaknya berusaha untuk tidak kembali tersakiti bukanlah sebuah kesalahan. Aku mendukungmu jika kau ingin mencoba bersikap profesional kali ini." Lanjutan dari Yoongi merupakan fakta yang berlawanan dari dugaan. Seokjin nyaris dibuat menangis lagi, saat mabuk semalam persediaan airmatanya untuk Hyosang sudah ia habiskan. Kali ini ia menangis bukan karena sakit dari patah hati yang menjijikan, melainkan rasa bersyukurnya memiliki Yoongi sebagai sahabat.

Yoongi memekik kaget ketika tanpa aba-aba Seokjin sudah memeluknya erat dari belakang. Saking eratnya Yoongi bisa mengategorikannya sebagai tindakan pencekikan. Anehnya daripada menyuarakan protes, Yoongi pilih sedikit menikmati kontak fisik yang Seokjin berikan karena tahu hal itu adalah yang paling dibutuhkan Seokjin saat ini.

.

.

.

.

.

Secara mengejutkan, Namjoon bisa bangun tepat waktu tanpa alarm yang lupa ia atur. Ancaman Jung Hoseok nyatanya lebih ampuh di banding alarm berkekuatan jutaan desibel sekalipun. Jadi saat Hoseok membuka pintu apartemennya, Namjoon sudah berpakaian rapi, bahkan sempat menikmati sarapan tanpa terburu-buru seperti biasa. Mereka mengenakan pakaian kasual yang tetap formal. Hoseok bilang pertemuan akan di hadiri oleh CEO langsung, beberapa staf kreatif, pihak produser film, serta artis lain yang sudah di konfirmasi akan bermain dalam film. Sejauh yang Hoseok tahu, hanya Kim Seokjin yang baru di pastikan ikut bermain selain Namjoon.

"Kau gugup?" Hoseok menyadari tingkah Namjoon yang aneh. Mulai dari gerakan mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke lantai sampa meremas-remas telapak tangannya. Mungkin terakhir kali Namjoon melakukan semua itu adalah saat masa-masa awal debutnya, setelah itu kepercayaan dirinya meningkat hingga ke level menyebalkan bagi orang yang melihatnya. Jadi hampir saja Hoseok melewatkan tanda-tanda itu kali ini.

Namjoon hanya menatap Hoseok dalam diam, berpikir ulang untuk mengatakan hal sejujurnya atau berbohong demi harga diri. Pintu lift yang mereka naiki terbuka dan saat itu lah keputusan untuk jujur yang ia pilih karena percuma juga berbohong pada seseorang yang sudah tau kebenaran pastinya. "Sedikit. Kau masuk duluan, aku ingin ke toilet sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Namjoon segera berlari menuju arah yang berlawanan dari ruang pertemuan. Hoseok hanya dibuat bengong tak berdaya. Tapi dalam hati berjanji akan benar-benar membunuh rapper itu jika berani mengacaukan pertemuan hari ini.

Setiap lantai dalam gedung memiliki toiletnya sendiri-sendiri, letaknya di ujung kanan koridor yang tidak terlalu panjang. Jadi berlari ke arah toilet yang hanya butuh satu menit berjalan normal, agaknya terlalu berlebihan. Tapi orang panik mana memedulikan hal-hal tersebut. Ia justru berlari untuk mengurangi gugup yang entah bagaimana bisa menyerang. Padahal ini hanya sebuah pertemuan biasa, tidak terlalu formal, dan tidak ada media manapun yang meliput sehingga tidak perlu takut kesalahan kecil yang akan ia buat di ketahui publik.

Bersamaan dengan pintu toilet yang tanpa sadar ia dorong menggunakan kekuatan penuh, terdengar suara erangan memilukan. Pintu tidak terbuka sepenuhnya dikarenakan sosok yang kini jatuh terduduk sembari menutupi wajahnya. Namjoon semakin panik, ia masuk dan menutup asal pintu, lalu berjongkok guna mensejajarkan tinggi dengan seorang laki-laki yang masih mengerang kesakitan. Kini ia tahu mengapa terkadang rasa gugupnya membuat Hoseok ketakutan sendiri, Kim Namjoon yang sedang gugup daya hancurnya akan bertambah dua kali lipat.

"Anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Saya sungguh minta maaf karena tidak berhati-hati membuka pintu."

Namjoon berusaha meraih tangan sang pemuda yang digunakan untuk menutup wajahnya. Ia harus melihat separah apa luka korbannya, agar bisa mengambil tindakan secepatnya sebelum terjadi hal yang lebih buruk. Sang korban masih meringis kesakitan bahkan sekarang Namjoon bisa mendengar isak tangis. Oh, apa semenyakitkan itu sampai-sampai pria yang dikenal sebagai makhluk anti menangis, kini terisak di hadapan pria lainnya.

"Tolong perlihatkan wajah Anda agar saya bisa membantu menangani lukanya." Bujukan dari Namjoon perlahan didengar olehnya, tangannya yang gemetar mulai bergerak sendiri menuruni wajahnya.

Perlahan tapi pasti, Namjoon melihat mata yang tampak tidak asing meski dalam keadaan memerah karena tangis, lalu mulai terlihat bagian hidung yang memerah dan darah segar mengalir lancar dari kedua lubangnya. Oh shit, apa Namjoon telah mematahkan hidungnya? Dan saat telapak tangannya yang berlumuran darah berhasil terlepas sempurna dari wajahnya, Namjoon dibuat tersungkur ke belakang. Jantungnya berdebar tak nyaman karena terkejut dan sedikit ketakutan.

"Kim Seokjin?!"

.

.

.

.

.

Continued

.

.

.

.

.

.

.


Pertama, aku harap kalian tidak keberatan hyung line disini aku buat seumuran, well, aku sedang mencari suasana nulis NamJin yang baru~ Kedua, bagiku menulis ACT ini lebih sulit dibanding Second karena aku harus membuat dua cerita di dalam satu cerita. Satu untuk kehidupan real NamJin as a rapper and actor, satunya lagi untuk alur film yang akan mereka mainkan. So, it's hard and I'm challenging myself in this T.T Ketiga, my fav actor of bl is Gun Atthaphan from Thailand. He's so cute and almost all of his films are bl theme! Jadi ACT ini terinspirasi darinya haha

Last, I officially confirm the couples in this story will be NamJin and triangle love of MinYoonSeok (Yoongs as uke ofc). Untuk VKook aku masih ragu akan membuat mereka sebagai pasangan atau just platonic as always. Mari lihat ke depannya saja.

Dan wow, dua story in one week? Haha anggap saja salam perpisahan dariku buat liburan yang tersisa sehari lagi. Terimakasih respon kelewat baiknya buat ACT di chapter awal kemarin, walaupun aku tetap akan mengutamakan Second untuk tamat terlebih dahulu, baru setelah itu fokus disini. Kutunggu responnya untuk chapter 2 ^^