Title : Tak Lekang oleh waktu
Disclaimer : Rumiko Takahashi
o.o
Syntia : HUAA ^O^ makasih untuk semua reviewer dan reader! Maaf lama nggak ngapdet, dikarenakan buku chapter 2 menghilang dan baru ketemu setelah sekian lama.
Gaoi : Dikarenakan author malas menulis perbedaan POV, mohon maklum. Maybe OOC dan typo
o.o
"Nenek, setelah ini aku yang membunyikannya ya!" pinta seorang anak lelaki pada seorang nenek yang datang bersamanya ke kuil itu. Nenek itu mengusap kepala sang cucu dan mengiyakan, membuatnya langsung bersorak senang. Melodi konstan yang tak berubah dari tahun dan tahun, saat lonceng di gerakkan dan tangan bertepuk. Suara keheningan yang tak berubah saat masing-masing orang yang datang ke tempat itu mulai berdoa.
Srek… srek…
Terdengar suara seseorang sedang menyapu daun-daun yang berguguran. Dia berhenti sejenak dan memandang nenek dan cucunya yang sedang berdoa dan tersenyum. Teringat saat dimana dia pertama kali melakukannya bersama dengan nenek yang sudah dianggapnya sebagai neneknya sendiri. Gadis itu sedikit melamun saat tiba-tiba angin kencang menerbangkan semua daun-daun yang tadi di kumpulkannya.
'Rin!'
"Seshoumaru-sama?!" kaget gadis berambut hitam panjang itu. Dia menoleh ke segala arah dengan gelisah, sebelum akhirnya menghela nafas dan meyakini kalau dia tadi hanya salah dengar. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda itu tertiup angin kencang sekali lagi yang membunyikan lonceng di pohon suci dengan nyaring. Rin menengadahkan kepalanya ke arah pohon keramat kuil tersebut. "Sepertinya aku sedikit terbawa mimpi," sedihnya sambil tersenyum miris. Dia menatap ke arah langit yang agak mendung. Entah kenapa beberapa hari ini langit tertutup awan meskipun seharusnya cuaca cerah, Perasaannya jadi sedikit tidak enak. Entah kenapa dia jadi merasakan hal-hal buruk sepertinya akan terjadi.
"Rin!" panggil seseorang dengan nada bersemangat.
"Shouta?!" kagetnya saat seorang lelaki yang memakai gakuran datang ke arahnya. Gadis berbaju miko itu langsung tersenyum pada lelaki yang beberapa tahun ini mengenalkannya pada dunia yang dia sekarang ditempatinya.
"Kenapa kau masih disini? Jangan-jangan Kakek kembali memanfatkanmu ya?" curiga Shouta sambil memicingkan mata.
"Tidak, aku hanya melakukannya karena aku mau kok," ujar Rin dengan nada ceria. "Ah iya, aku ada PR yang tidak aku mengerti. Aku minta bantuannya malam ini juga Shouta."
"Eh? Ooh tentu. Tapi apa benar kau tidak apa-apa? Bukannya kau sudah membantu Kakek menyapu di pagi hari juga?" Rin mengangguk dengan cepat. Shouta langsung menghela nafas. "Pantas saja Kakek lebih suka kau ada disini daripada kak Kagome. Kalau kak Kagome pasti langsung mencari alasan dan pergi makan atau kemana pun asalkan tidak di rumah," ujar Shouta sambil mengangkat bahu. "Tapi Rin, kau nggak keluar jalan-jalan bersama dengan teman sekolahmu hari ini?" tanyanya.
"Emm, kami ada janji mau pergi ke Mall besok. Katanya ada film bagus dan aku dipaksa nonton," ujar Rin. Shouta mengangguk.
"Hmm baguslah. Kau sudah mulai beradaptasi dengan sekolah barumu. Aku senang. Sebenarnya aku cemas saat kau masuk. Rasanya kayak melepas seorang anak untuk melihat dunia luar," ujar Shouta sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Rin tertawa.
"Shouta, kamu masuk dulu saja. Aku mau menyelesaikan menyapu dulu," ucap Rin sambil menunjuk daun-daun yang bertebaran tadi.
"Hmm, oke! Setelah makan malam kita belajar di kamarku saja!" ajak Shouta.
"Ok!" jawab Rin kemudian melambaikan tangan pada Shouta sampai lelaki itu masuk ke dalam rumah. Begitu Shouta menghilang dari pandangan, senyum Rin memudar. Dia memandang ke arah tempat sumur tua yang katanya dulu pernah digunakan Kagome untuk pergi ke masa lalu. Dia sudah pernah mencobanya namun hal itu tidak berhasil.
Dalam diam Rin kembali mengumpulkan daun-daun kering itu. Apa mungkin ini yang terbaik? Apa dia memang orang yang dicintainya itu memang tidak ditakdirkan bersama? Karena itukah mereka berpisah? Karena itukah dia dikirim ke zaman ini? Apa ini artinya sebagai pengganti Kagome yang berada di masa lalu dia harus tinggal di masa depan? Apa ini maksudnya karena dia tidak mungkin bisa bersama dengan Sesshoumaru di masa lalu jadi dia dikirim ke masa ini untuk seseorang? Apa dia memang tidak pantas berada disamping salah satu siluman terkuat? Apa itu karena dia adalah seorang manusia?
Sesshoumaru-sama pernah bilang kalau dia seharusnya hidup bersama dengan manusia. Katanya dia harus belajar untuk hidup bersama dengan manusia dulu sampai dewasa dan bisa menentukkan pilihan, dia ingin hidup bersama dengan manusia atau bersama dengan lelaki itu. Saat itu Rin hanya mengiyakan permintaan Sesshoumaru-sama karena meskipun dia merasa agak sedih tapi dia tahu kalau pada nantinya Sesshoumaru-sama akan datang menjemputnya dan gadis itu akan memilih siluman itu diatas segalanya. Bahkan demi kehidupannya. Apa kematian belum cukup untuk membuktikannya?
Rin menatap daun-daun yang sudah terkumpul dan membakarnya. Bagaimana kalau sebenarnya ini adalah hukumannya karena sudah membuat Sesshoumaru-sama merasa bersedih karena kematiannya yang kedua? Karena itukah dia dikirim kemari? Agar Sesshoumaru-sama tidak bisa melihat kematiannya yang ketiga dan terakhir? Karena gadis itu sudah tahu bahwa sudah tidak mungkin untuk menghidupkannya lagi seandainya dia kembali meninggal.
"Sesshoumaru-sama," lirih Rin sambil melihat api yang langsung membakar dedaunan sampai hangus dan tak bersisa. Apa dia bisa seperti daun-daun itu yang bisa habis ditelan oleh api? Apa hatinya bisa menerima orang lain selain Sesshoumaru-sama? Apa saat itu perasaannya untuk Sesshoumaru-sama akan menghilang. Atau apakah perlahan ingatannya tentang yokai itu akan menghilang seutuhnya? Setelah dapat menerima keadaannya dia langsung melakukan pencarian di berbagai media dan mendapati bahwa beberapa orang perlahan melupakan masa lalu mereka. Apa dia bisa seperti itu? Melupakan kehidupannya dulu? Jaken? Ah-Uh? Nenek Kaede? Sesshoumaru-sama yang dicintainya?
Rin menggenggam erat barang pemberian yokai itu yang dimasukkan kedalam kantong jimat yang selalu dibawanya. Apa ini sebenarnya memang hadiah perpisahan? Apa dia dikirim kemari oleh yokai yang iri oleh Sesshoumaru-sama atau dikirim oleh Sesshoumaru-sama sendiri?
Rin menggelengkan kepala kuat-kuat. Berkali-kali dia berpikir demikian dan langsung membuang pikiran tersebut. Sesshoumaru-sama tidak akan berbuat demikian. Kalau yokai itu tidak mau dan tidak menginginkannya, Sesshoumaru-sama akan langsung mengatakannya. Sesshoumaru-sama tidak pernah mengatakan kalau Rin adalah gangguan saat Rin menanyakannya. Tapi… bagaimana dengan ibu Sesshoumaru-sama?
Rin pernah bertemu dengan ibu Sesshoumaru-sama saat kecil. Dia masih ingat akan paras wanita yang mirip dengan Sesshoumaru-sama itu. Apa saat itu wajah ibu Sesshoumaru-sama menyiratkan rasa kesal? Kebencian? Jijik padanya? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya? Apa itu karena dia baru saja kembali hidup sehingga tidak ingat hal itu?
Rin menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak! Aku tidak boleh memikirkannya!" ujar Rin sambil meneguhkan hati. Terkadang hatinya melemah, tapi dia sudah pernah dikatakan bahwa jalan untuk bersama dengan yokai tidak mudah. Karena itu dia tidak boleh memiliki hati yang lemah.
"Aku pulang," salam Rin sambil mengambil sandal untuk di dalam rumah yang berada di sebelah pintu.
"Selamat datang," balas ibu Shouta yang mengintip dari dapur. "Ayo Rin, bantu Ibu masak!" ajaknya. Semenjak keluarga ini tahu bahwa Rin tidak pernah merasakan hangatnya kasih saying keluarga, ibu Shouta memutuskan untuk menjadi ibu Rin, begitu juga dengan Shouta, kakek dan ayah Shouta. Mereka ingin menjadi keluarga yang tak pernah dimiliki Rin.
"Hmm, aku mencium bau enak. Rin, bagaimana keadaanmu?" Tanya kakek Shouta padanya yang sedang membantu menyiapkan meja makan meski masih menggunakan pakaian miko.
"Baik kek," jawab Rin sambil tersenyum. Kakek Shouta mengelus-elus janggutnya beberapa kali.
"Tak terasa sudah tiga tahun kau disini. Rasanya baru kemarin aku menemukanmu berada di pintu masuk kuil." Rin tersenyum. Awalnya mereka semua mengira dia sedang berada dalam pelarian dan sampai ke kuil sampai dia menceritakan tentang masa lalunya dan mendapati bahwa mereka keluarga dari Kagome.
"Kakek, kakek sudah membicarakan itu setiap hari sejak Tanabata," keluh ibu Shouta sembari meletakkan makanan di atas meja.
"Hahaha, tapi memang mengejutkan. Kami mengira kau Orihime yang tersesat."
"Kakek," ancam ibu Shouta.
"Oh ya, hari ini kakek membuat ini untukmu," ujar Kakek kemudian mengeluarkan sesuatu dari Hakama-nya. Rin memandang kotak itu bingung dan langsung membukannya.
"Ah! Boneka Kirara!" jeritnya saat melihat boneka binatang peliharaan Sango di tangannya.
"Sepertinya itu akan laku dijual sebagai boneka makhluk pengusir siluman," candanya.
"Kakek, terima kasih," ujar Rin sambil mendekap erat boneka itu.
"Tunggu, tunggu, kenapa suasananya seperti ini?" Tanya Shouta yang baru saja turun. "Kakek tidak menggoda Rin lagi kan?" curiganya.
"Ehem. Itu tidak mungkin. Rin sudah kuanggap sebagai cucuku sendiri," ujar Kakek. Shouta memicingkan matanya.
"Hmm, kalau begitu apa hadiah untuk cucu kakek yang asli?"
"Eh?! Itu… itu…" Kakek langsung salah tingkah, membuat Rin dan Shouta tertawa bersamaan.
"Shouta sudah, jangan mengerjai kakekmu. Kakek juga jangan merayu Rin lagi, nanti orang yang disukainya datang dan memukul kakek loh," canda Ibu Shouta. Rin tersenyum dan duduk di kursi yang dulu ditempati oleh Kagome.
Tiga tahun. Sudah selama itu dia berada di zaman ini dan tinggal di rumah Kagome. Namun masalahnya dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan seperti Kagome yang bisa kembali ke masa lalu. Rin bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa berada di zaman ini. Yang terakhir yang dia ingat adalah saat dia berpamitan dengan nenek Kaede dan Shipo.
Setiap hari Rin selalu membersihkan kuil, karena itu mengingatkannya pada nenek Kaede. Terkadang dia juga pergi ke sumur dan mencoba turun, namun dia tidak pernah bisa berpindah zaman. Kemudian Rin akan menyendiri dan menatap pohon keramat yang berdiri di tengah-tengah kuil. Pohon tua yang konon menurut Kagome pernah menjadi tempat penyegelan Inuyasha. Entah kenapa pohon itu juga mengingatkannya pada yokai yang disayanginya.
Setelah dia mampu beradaptasi di zaman ini, Rin diharuskan untuk sekolah oleh orang tua Shouta. Jadi setiap hari, siang dan malam dia diajari oleh Ibu, Shouta, dan Kakek. Terkadang kalau ayah Shouta sedang berada di rumah Rin juga diajarinya. Bahkan dia juga pernah mengikuti les privat. Akhirnya beberapa waktu yang lalu dia mengikuti tes masuk ke SMA dan lulus. Meskipun ada kesulitan saat membuat dokumen kelahiran, pada akhirnya hal itu dapat terselesaikan. Dan kini status Rin adalah anak angkat keluarga Shouta.
Namun karena dua tahun lebih dia harus belajar untuk mengejar ketinggalan, Rin hampir tidak punya waktu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Karena itulah dia diwajibkan Shouta untuk bermain dan bersenang-senang. Meskipun sebenarnya Shouta khawatir karena Rin hampir sama sekali tidak tahu tentang tempat-tempat hiburan di zaman ini meskipun pernah melihatnya di televisi.
Rin duduk di tepi tempat tidur Kagome dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Awalnya gadis itu merasa aneh saat tinggal di zaman ini. Namun seiring berlalunya waktu, kini dia sudah merasa familiar. Meskipun terkadang dia merasakan sedikit rasa rindu pada barang-barang yang ada di buku foto museum, namun sering digunakannya dulu.
Rin melihat pantulan dirinya di cermin. Sekarang dia terlihat seperti gadis masa kini dan bukan masa lalu. Piyama yang dulu milik Kagome melekat di badannya dengan pas. Tempat tidur yang berbeda, tata cara hidup yang berbeda, apakah dia terjebak di zaman ini dan tidak bisa kembali lagi? Apakah ini ada hubungannya dengan Shikon no Tama yang kabarnya telah menghilang?
Rin membenamkan wajahnya di bantal. Bulan terlihat bersinar dengan terang dan penuh. Rin ingat saat seperti ini biasanya Koga akan datang dan mengajak Kagome untuk menikah bersamanya dan meninggalkan Inuyasha. Rin tertawa sendiri. Dia benar-benar merindukan masa-masa itu. Ketika terkadang dia mendapati Sesshoumaru-sama memandangnya saat dia sedang memperhatikan bulan dan Jaken yang langsung memarahinya karena membuat khawatir Sesshoumaru-sama. Apa mereka tidak akan pernah bertemu lagi? Hati Rin rasanya sesak sekali. "Paling tidak, aku ingin mengucapkan selamat tinggal," sesalnya kemudian tertidur karena kelelahan.
