We're Always Together, right?
Guest Star :
- Kim Junsu
- Park Yoochun
- Kim Jaejoong
- Jung Yunho
- THE MEMORIES -
Seoul, 24 Desember 1998
Minseok kecil melangkahkan kakinya di atas salju yang sudah banyak mengumpul dihalaman depan rumahnya, membuat jejak-jejak lucu di sepanjang jalan yang dilaluinya, dibelakang Minseok nampak seorang namja manis paru baya yang merupakan 'eomma' bocah itu sedang tersenyum memperhatikan tingkah bocah tersebut, tak kala terkadang Minseok kecil terjatuh ditumpukan salju karena menginjak syalnya sendiri yang terlampau panjang, tapi tak pernah ada tangisan yang keluar dari bibir mungilnya saat terjatuh, justru senyum iseng yang tertera di bibir mungilnya saat dia terjatuh.
Terkadang 'eomma' bocah itu nampak panik saat melihat anaknya terjatuh, tapi saat eommanya ingin membantu Minseok kecil berdiri, anak itu justru berlari meninggalkan eommanya jauh dibelakang.
"Minnie, hati-hati ..." seru 'eomma'nya khawatir, tapi bocah itu tidak mengubris ucahan eommanya, namja paruh baya itu menghela nafas panjang lalu dia berjalan dengan cepat untuk mengejar Minseok
"Ne Umma..." jawab Minseok asal sambil terus berlari. "Min..." ucapan eommanya terhenti saat melihat ada seorang namja paru baya di depannya dan didepan putranya, senyum namja itu mengembang sempurna saat dia yakin siapa namja tersebut.
"Yoochun hyung..." ucapnya pelan sambil tersenyum manis lalu melambaikan tangannya keudara mencoba membuat namja paru baya itu melihat kearahnya.
"Appaaa..." seru Minseok girang saat melihat namja paru baya itu menghampirinya dengan lengan terbuka menandakan pria itu siap menangkap Minseok kecil kepelukannya. Dengan semangat Minseok menambah kecepatan berlarinya, tak dihiraukan lagi salju yang bisa membuatnya terjatuh kapan saja.
"Minnie hat..."
BRUKK
Belum sempat 'eomma' bocah itu menyelesaikan perkataannya Minseok kecil sudah mendarat disalju dengan keadaan tengkurap
Eomma dan appa bocah itu dengan sigap berlari dengan cepat kearah Minseok yang sedang terjatuh.
"MinnieGwaenchanayo?" tanya Yoochun -appa Minseok- khawatir sambil menggendong Minseok kecil yang sedang membersihkan wajahnya yang belepotan dengan salju.
"Ne appa, Gwaenchana" jawab Minseok sekenanya sambil menggosokan lengan bajunya pada pipinya yang penuh salju.
Saat Minseok sedang sibuk membersihkan wajahnya dengan lengan bajunya, tiba-tiba eommanya menarik lengannya dan mencium pipinya yang dingin.
"Na, sudah tidak apa-apakan chagi?" tanya Junsu -eomma Minseok- sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut, Minseok hanya mengangguk pelan sambil tersenyum girang,
"Su-ie, hari ini kita jadi merayakan natal dirumah Jaejoong nonna?" tanya Yoochun kepada Junsu sambil melihat lurus kearah namja yang sedang mengelus-ngelus kepala Minseok.
"Tentu saja jadi hyung, Jaejoong hyung sudah menelponi-ku dari tadi" jelas Junsu kepada Yoochun.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja ya, biar tidak terlalu malam sampai-nya" ucap Yoochun sambil melirik keatas, memastikan mereka tidak berangkat terlalu gelap.
"Kajja." lanjut Yoochun sambil mencoba berjalan kearah mobil-nya yang terparkir dari tadi.
"Tunggu sebentar Yoochun hyung," kata Junsu sambil menarik lengan Yoochun, Yoochun pun terdiam beberapa saat.
Dengan lembut Junsu merapihkan syal Minseok yang berantakan karena terinjak tadi saat Minseok berlarian di salju.
"Baiklah sudah selesai" ucap Junsu sambil melipat bagian akhir syal Minseok yang dibetulkan tadi,
"Gomawo umma" ucap Minseok senang lalu dia menarik wajah Junsu dan memberikan ciuman basah dipipi eommanya
Muaaahhh...
lalu tertawa malu setelahnya, Junsu pun tertawa gemas lalu mencubit pipi gempal bocah tersebut dengan gemas.
"Minnie-ah, buat appa mana?" protes Yoochun sambil menunjukan wajah cemburunya kepada Minseok.
Muaaahhh...
Minseok kecil memberikan ciuman singkat di dagu kanan Yoochun lalu tertawa lebar setelahnya, Yoochun pun tersenyum kecil melihat tingkah laku putranya itu.
"Kajja hyung, Minnie, nanti kita bisa terlalu malam sampai dirumah Jaejoong hyung dan Yunho hyung ..." ucap Junsu sambil menarik lengan suaminya tersebut
"Arra chagi.." kata Yoochun pada Junsu yang sudah berjalan didepannya lalu melirik kearah Minseok yang terdiam sambil memeluknya.
.
.
Minseok kecil terus memandang dunia luar rumahnya dari kaca jendela mobil appanya, dia terus mengomentari segala yang dilihatnya dijalan.
"Umma, itu apa ci?" tanyanya polos sambil menunjuk kotak merah kaca di pinggir jalan.
"Itu telepon umum sayang," jawab Junsu sabar sambil melirik kearah objek perhatian Minseok.
"Oh, namyana teyepon umum ya umma" ucap Minseok lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ne chagi, waeyo?" jawab Yoochun dari balik jok depannya sambil memandang Minseok dari kaca spion depan yang selalu memantulkan semua tingkah Minseok di jok belakang.
"Aniya appa..." Jawab Minseok polos sambil terus melihat telepon umum dipinggir jalan yang lama kemaan menghilang di balik belokan.
"Umma, ko dicini banyac po'onna?" tanya Minseok sambil memutar-mutar kepalanya melihat sekelilingnya yang tiba-tiba menjadi hutan.
"Um... iya Minnie ini kita sudah hampir sampai dirumah Choi ajusshi"
"Tapi sejak kapan Yunho hyung dan Jaejoong hyung mulai melakukan reboisasi di sekitar rumahnya?"
"Entahlah hyung, aku juga tidak tau."
"Umma leboicaci itu apa?"
"Umh... reboisasi it.."
"Kita sampai"
Ucapan Yoochun barusan menghentikan ucapan Junsu, dengan cepat Junsu melihat kedepan kaca mobil, dan sampailah mereka didepan sebuah rumah yang sangat mewah, rumah itu bahkan lebih besar dari pada rumah Minseok.
"Umma, appa, ini dimanya?" tanya Minseok binggung dengan pemandangan sekelilingnya.
"Ini rumah Choi ajusshi Minnie-ah" jawab eommanya lembut
"Kajja, Minnie-ah eomma gendong" ucap Junsu lagi sambil merentangkan tangannya.
Dengan cepat Minseok berdiri dijok tempat duduknya dan menginjak dashbor mobil appanya dan sampai di jok tempat eommanya duduk, lalu menjatuhkan diri di tubuh eommanya, membiarkan eommanya yang masih muda itu menggendongnya keluar dari mobil itu.
"Aigoo, Minnie-ah, biar appa saja yang menggendongmu, masa kau digendong oleh eommamu? Kau kan berat Minnie-ah"
"Ne Appa" jawab Minseok pelan lalu merentangkan tangannya meminta digendong, tak ingin anaknya berubah pikiran, Yoochun langsung mengangkat anak tunggalnya itu
"Aigoo~ ternyata kau sudah besar ya Minnie..." ucap Yoochun yang ternyata mendapat sedikit beban tambahan di tangannya.
Sementara Minseok hanya diam, dia lebih memilih memperhatikan sekelilingnya ketimbang menyahuti ucapan appanya.
Appa mulai berjalan dan Minseok melihat kearah depan, nampaklah sebuah pintu putih besar yang tertutup, lalu eommanya mengetuk-ngetukan jarinya kepintu itu.
Tok Tok Tok
Ceklek~
"Annyeong..."
"Annyeong, Aigoo~ Su-ie, Yoochun-ah, aku pikir kalian tidak jadi datang" nampaklah seorang namja paru baya yang terlihat senang sambil mengulurkan tangannya kepada Junsu.
"Ah, mana mungkin kami tidak datang Jaejoong hyung" jawab Junsu ringan sambil menerima uluran tangan namja manis tersebut dan menempelkan pipinya di pipi Jaejoong
"Hai, Yoochun apa kab..." ucapan Jaejoong terpotong saat melihat bocah kecil berambut pirang yang digendong oleh Yoochun.
Matanya membelalak takjub melihat anak manis tersebut, dua tahun yang lalu Minseok masih sangat kecil dan baru belajar berjalan, sekarang anak tersebut sudah berusia empat tahun dan sangat berubah, kalau saat berusia satu tahun Minseok sangat imut dan sering mengeluarkan air liur dari sudut bibirnya, sekarang dia nampak manis dan tampan, ntah bagaimana Tuhan menyatukan kedua unsur tersebut sedemikian rupa.
"Kyaa~ Minseokkie kau manis sekali sekarang masih ingat padaku tidak?" ujar Jaejoong gemas sambil mencubit lembut pipi gempal tapi dingin bocah tersebut.
"Gomawo ajhumma," hanya itu yang keluar dari bibir mungil Minseok yang hampir saja membuat Jaejoong berteriak ala fangirl.
"Mianae, Minnie engga ingyat" jawab Youngmn murung. Tapi dia tetap berusaha keras mengingat-ingat siapa kah namja paruh baya ini,
"Ah~ baiklah, tak apa..." jawab Jaejoong nampak agak kecewa tapi ia mengerti kalau wajar Minseok tidak memiliki memori tentang dirinya, karena memang saat itu dia masih sangat kecil.
"Kajja masuk, udara diluar sangat dingin, kasihan Minseokkie nanti kedinginan.." ajak Jaejoong kepada keluarga kecil tersebut.
Jaejoong menyingkir dari ambang pintu lalu mempersilahkan Junsu masuk lebih dahulu dari pada Yoochun dan Minseok sendiri. Lalu dia menutup pintu dan menyusul Junsu dan berjalan sejajar dengannya.
.
.
"Appa ada cintelklas!" Minseok kecil berseru sambil menunjuk boneka sinterklas besar di atas perapian.
Otomatis langkah appanya pun terhenti, bermaksud membiarkan Minseok melihat boneka itu lebih lama lagi, ya Minseok memang sangat menyukai sinterklas.
Dulu sewaktu Halbeoji dan halmeonni-nya masih ada, harboji Minseok selalu menjadi sinterklas saat malam natal dan memberikan Minseok hadiah kecil, jika Minseok membantu eommanya membuat kue dirumah.
tapi kebiasaan itu terhenti saat Halbeoji dan halmeonni-nya meninggal dunia, kebiasaan itu tergantikan dengan kebiasaan kado saat malam natal.
Ya kado yang sengaja disiapkan eomma dan appanya saat Minseok sudah tertidur, diletakan disamping ranjangnya dikamarnya.
Yoochun yang mendadak mengingat masa lalu kemudian tersenyum simpul lalu mengelus lembut puncak kepala putranya,
"Iya, chagi," jawab Yoochun lembut setelah itu Yoochun kembali melanjutkan berjalan mengejar Jaejoong dan Junsu didepan.
"Appa, ige mwoya?" Minseok kecil bertanya, menunjuk pada hiasan di depannya (didinding kananya) berwujud dedaunan yang dipasang di tembok dekat jendela, Yoochun tertawa kecil.
"Itu mistletoe, sayang," Yoochun menjawab lembut
Minseok kecil mengerutkan dahi, masih tidak mengerti maksud 'mistletoe' ini. Ia mencoba berpikir sendiri, tapi lalu kepalanya malah jadi pusing. Sambil memajukan bibir dengan mata berkaca-kaca, ia kembali menatap Yoochun, sementara Yoochun kembali tertawa melihat tingkah putra semata wayangnya itu.
"Umh... appa Mitel... mich... eh... micletu itu apya?" tanya Minseok polos sambil menunjukan mata berbinar-binarnya. Yoochun binggung mau jawab bagaimana
"Minnie-ah bagaimana kalau kamu tanya sama eomma saja?" jawab Yoochun sambil berjongkok memberi kesempatan untuk Minseok turun, anak itu hanya mengangguk semangat lalu turun dari gendongan Yoochun dan berlari menuju eommanya
"Umma... Ummaa... Ummmaaaaaa..." teriak Minseok gaduh, Siwon hanya memutar bola matanya. Remaja berambut hitam itu tak butuh waktu lama untuk kembali menekuni buku yang dia baca.
Dan hal itu juga dilakukan oleh namdongsaeng Siwon, Minho ia pun kembali menekuni PSPnya yang sedari tadi dimainkannya
"Ada apa chagi?" tanya Junsu kepada Minseok yang sedang berlari kearahnya saat Minseok sampai kepadanya, Junsu langsung berjongkok agar tingginya dan tinggi Minseok setara dan pandangan mereka bertemu.
"Umma mich... eh... micletu itu apya?" tanya Minseok polos sambil menunjukan mata berbinar-binarnya andalannya sambil menunjuk-nunjuk dinding tepat diatas kepala dan kepala Junsu. Junsu memandang hiasan itu sambil berfikir sejenak,
"Umh... mistletoe itu hiasan natal yang biasanya ditempelkan didinding didekat jendela, kadang juga di depan pintu chagi..." ucap Junsu kepada Minseok kecil yang nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Umh... eomma kenapya dilumah kita engga ada michelu?" tanya Minseok polos , kali ini sambil memiringkan kepalanya. Junsu hampir saja menjerit ala fangirl melihat betapa imutnya Minseok.
"Umh... kenapa ya?" Junsu balas bertanya. "Ah, mungkin karena dirumah kita sudah dipasang kaus kaki santa Minnie-ah, jadi tidak memasang mistletoe dirumah kita, tapi dulu kita juga memasangnya, tapi saat kita pulang dari London hiasan mistletoe sudah tidak terlihat lagi chagi" jelas Junsu kepadanya sambil meletakan jari telunjuknya dibibirnya.
"Oh, begityu ya umma.." jawab Minseok sambil mengangguk-anggukkan kepalanya paham, Junsu tertawa gemas melihat tingkah putra semata wayangnya.
"Kau tau Minnie-ah menurut legenda, kalau dua orang berdiri di bawah mistletoe, mereka harus berciuman," lanjut Junsu kepadanya,
Mata Minseok membelalak. 'Tiuman?' Ia bertanya-tanya dalam hati, 'cepelti di delama diTV?'
Si kecil berambut cokelat itu tersenyum, maju sambil meraih kedua pipi ibunya, lalu mendaratkan sebuah ciuman basah di hidung eommanya.
MMUAH!
"Nah, cekalang cudah belesh..." kata Minseok kecil kemudian. Ia tersenyum begitu lebarnya, sampai gigi depan yang sebesar gigi kelinci itu terlihat jelas.
Mata Junsu berkaca-kaca, sebelum ia memeluk Minseok erat-erat. "Aiiihhh! Putraku manis sekaliiiiiii!" serunya gembira.
"Ya, ya, ya. Minseok memang manis sekali. Kapan ya Lulu-ku bertingkah seimut itu," kata Jaejoong iri dari arah ruang keluarga. Wanita itu berdiri sambil berkacak pinggang, mengingat puteranya, yang walaupun imut dan manis, tapi tidak pernah bersikap lucu seperti Minseok.
Di sampingnya, Yoochun dan Yunho yang tadinya sedang berbincang bersama, hanya terkikik melihat persaingan aneh istri-istri mereka.
Dengan senyum lebar masih merekah di wajah, Junsu melenggang masuk ke dalam ruang keluarga untuk duduk di samping Yoochun.
"Ah..." katanya sambil menghempaskan diri di atas sofa, "Luhannie juga imut kok. Cuma agak pendiam saja,"
"Iya kan, iya kaaaaannnn!" Jaejoong berseru, mata berbinar teringat putera bungsunya yang seumur dengan Minseok. Ia dan Junsu larut dalam pembicaraan berkecepatan tinggi mengenai kelucuan anak-anak mereka. Tentang Luhan yang setiap hari dikejar-kejar para gadis di TK untuk bermain rumah-rumahan (Luhan jadi suami, gadis itu jadi istri,).Tentang Minseok yang disangka anak perempuan di TK-nya,
Sementara itu, Minseok yang tadi ditinggal di bawah mistletoe menengok ke kanan dan kiri dengan bosan, mencari sesuatu untuk dimainkan. Saat itulah sebuah bola berhenti menggelinding tepat di kakinya. Ia melihat ke bawah dan memungut bola itu. Kedua matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
'Bola ciapa ini, kenapa ada di cini?'
"Nuguceyo?" sebuah suara mengejutkan Minseok. Ia mendongak, dan melihat seorang anak berambut hitam menatapnya curiga. Anak itu memiliki kulit yang putih dan sepasang mata hitam yang kelam.
Minseok tersenyum lebar ke arah anak itu, sekali lagi memamerkan gigi kelincinya, "Aku Minnie, KimMinceok, nuguceyo?"
Anak berambut coklat itu tampak berpikir sejenak, sebelum menjawab, "Lulu,"
"Hee...Lulu. Lulu. Lulu..." Minseok berkata berulangkali, mengetes nama itu di lidahnya. Anak berambut pirang itu nyengir lebar sambil mengulurkan tangan ke arah Luhan, "Lulu. Teman Minnie,"
Luhan ragu-ragu sejenak sebelum meraih tangan itu, "Minnie. Teman Lulu," Sepasang senyuman, dan keduanya mendeklarasikan diri sebagai teman, mulai hari ini.
"Ung...mau main?" tanya Luhan, kedua bola mata hitamnya tertuju pada bola di tangan Minseok. Si kecil bermata hitam berbinar itu menyadari hal ini, lalu menyodorkan bola ke tangan Luhan, yang diterima dengan gembira oleh teman barunya itu.
"Ayo mai-AH!" seru Minseok tiba-tiba, membuat Luhan kecil menatapnya penuh tanya. Anak berambut pirang itu menunjuk pada mistletoe di atas mereka. "Mitel...eh...mictelu! umma bilang, kalo kita beldili di bawah micletu, kita halush tiuman!" kata anak itu bersemangat.
Luhan tampak bingung, ia mengerutkan dahi dan menggaruk-garuk kepala.
"Tium?"
Minseok mengangguk-anggukkan kepalanya kuat-kuat,
"Iya, Tium! Tadi Minnie cium umma dicini!"
Luhan memiringkan kepala, "MInnie yang cium Lulu, apa Lulu yang cium Minnie.?"
Kali ini, Minseok ikut bingung,
"Ummm...cama-cama?" ia bertanya, jari telunjuk di bibir. Ia melihat eommanya tadi melakukan hal ini kalau sedang berpikir, jadi ia mengikuti. Biar dianggap sudah besar.
Luhan mengangguk, lalu memajukan bibirnya ke arah Minseok, yang juga balas memajukan bibirnya.
"Ungg..." keduanya maju dengan mata terpejam. Terus maju,maju terus, terus, dan saat Luhan maju selangkah, kaus kakinya terpeleset remah-remah biskuit di lantai. Keduanya terjatuh, dahi beradu keras.
DUG!
Tidak perlu dipertanyakan lagi, tangis Luhan dan Minseok meledak. Mereka berdua duduk di lantai sambil memegangi dahi mereka yang kini benjol.
"Huweeee! Lulu tidak mau tiuman lagiiiii!"
"Minnie jugaaa! Huweeee!"
"Ummaaaa!"
"Cakiiittt!"
Siwon menghela nafas, buku yang sedari tadi dibaca terlupakan. Sementara Minho tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkat namdongsaengnya dan keponakannyan itu
Sementara Jaejoong dan Junsu sibuk menenangkan Luhan dan Minseok yang sedari tadi terus menangis dengan kencangnya. Mereka mengelus-ngelus kepala kedua anak tersebut.
"Ya, Minnie, uljimma chagi.." bujuk Junsu kepada Minseok yang masih terus menangis Junsu mengelus-ngelus membiarkan anaknya itu menangis dibahunya.
"Ya Lulu uljimma, malu dong sama appa sama Kim ajhussi, sama Siwon dan Minho hyung juga chagi," ucap oemma Luhan sambil mengendong-gendong Luhan dan membawanya menjauh dari ruang keluarga.
Tak selang waktu yang lama, Jaejoong datang dengan senyum merekah dibibirnya,
"Ah, Jaejoong hyung Luhannie odiiga?" tanya Junsu pada Jaejoong saat Jaejoong datang seorang diri keruang keluarga,
"Ah~ Luhan sudah tertidur dikamarnya Su-ie." jawab Jaejoong santai sambil berjalan kearah sofa diruang keluarga.
"Ah..." desah Jaejoong saat bokongnya sudah terasa nyaman disofa.
"Su-ei dimana Minsokkie? Dari tadi aku tidak melihatnya anak manis itu?" tanya Jaejoong saat melihat sekelilingnya.
"Ah dia sudah tertidur di kamar Minho tadi" jawab Yunho.
"Nampaknya kita akan merayakan malam natal tanpa kehadiran dua malaikat manis itu" ucap Yoochun sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah lah... ayo kita mulai saja makan malamnya." ucap Yunho sambil berjalan kearah meja makan yang langsung diikuti oleh Siwon dan Minho.
- TBC
Luhan : YA! kenapa engga jadi tiuman cama Minceok hyung!?
Minseok : *Blushing* Lu.. Lulu kau membuatku malu /
Siwon : dasar Rusa Yadong! prevent!
Luhan : Bial taja~ *hug Minseok*
Sehun : kapan Thehunnie keluar je?
Chanyeol : sebentar lagi kita keluar magne, bersabarlah sedikit..
Sehun : Tapi kapan Chanyeol hyung!?
Baekhyun : Sebentar lagi Sehunnie, sabar ne..
Tao : Tau juga mau keluar gee~
Kris : *Puk puk kepala Tao*
Sehun : Baiklah, hukss.. review ya chingudeul, biar Thehunnie cepat keluar hukss..
Hello guys, ketemu lagi sama Jeje di fic ini, makasih ya yang udah mau baca prolog fic ini, saya benar-benar bersyukur karena masih ada yang mau baca prolog fic abal buatan saya, Jeongmal Gamsahamnida :)
Ada ga ya yang tertarik sama fic ini? aku mau tau ada ga ya yang tertarik, aku penasaran aja, kalo tertarik tolong review yaa.. :D
Mind To Review?
