Our Journey To Get Love

From : Kyunie Min_Kim Min Hee

Main Pair : ChangKyu and All of Couple in SM, [Jonghyun SHINee Lee Sungmin

SUJU as Kyuhyun's Parents], [Jung Yunho Kim Jaejoong as

Changmin's Parents] except EXO!Brothership

Genre : Journey, Romance, Hurt, Comedy

Length : Chapter

Disclaimer : God, Parents, ELF, Themselves, SMent and Their Family. Except Kyuhyun

is mine!

Warning : Typo(s), OOC, Some Plots are mussy, AU, Genderswitch For All of Ukes

Summary :

We are one! We will get a long Journey to search our Love. Our Beloved Parents.

~HAPPY READING GUYS~

Chapter 2

~o0o~

[Nowon, South Korean] [Kim's Mansion]

16 Desember 1995

10.00 Am

Pagi hari yang cerah di kediaman keluarga Kim. Kim Jong Hyun, sang kepala keluarga, seorang CEO di KIMCHO CORP yang bergerak dibidang Industri, tengah duduk tenang di Ruang Keluarga, seraya membaca Surat kabar pagi seperti biasanya. Seulas senyum terlukis dibibirnya saat melihat sang Istri, Lee Sungmin, yang membawakannya secangkir Kopi hangat dan duduk tepat disampingnya.

Sungmin tampak menatap intens suaminya, berusaha membicarakan sesuatu, namun terlihat enggan untuk mengatakannya. Jonghyun yang sadar akan raut wajah berbeda milik istrinya, menghentikan sejenak kegiatannya, lalu bertanya akan hal yang membuat istrinya muram.

"Waeyo? Ada masalah apa Ming?" Tanya Pria yang sudah tak bisa lagi dibilang masih muda itu. Usianya bahkan sudah kepala lima.

"Ani, hanya saja aku punya firasat buruk!" ucap Sungmin meyakinkan. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering memiliki perasaan tak nyaman mengenai sesuatu.

Jonghyun menelusuri mata Sungmin lebih dalam. Mencari tahu maksud firasat buruk yang diucapkannya tadi. "Kau memikirkan Kyuhyunie?" Tanya Jonghyun tepat sasaran.

Sungmin menganggukkan kepalanya. "Ne~! Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk tentang dia! Hah~! Aku merindukannya! Ini sudah dua tahun sejak dia pergi!" lirih sungmin.

"Biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya! Dia telah bahagia dengan pria brengsek itu! Jadi untuk apa kita memikirkan anak yang bahkan tak peduli pada orang tuanya!" cecar Jonghyun kesal. Ia masih menyimpan amarah pada Putrinya itu. Kim Kyuhyun.

Sungmin menatap kesal pada suaminya. Sampai kapan Jonghyun akan keras kepala? Dia hanya ingin bertemu kembali dengan putri kesayangannya. Putri kecilnya.

"Hyunie! Sampai kapan kau akan membenci anakmu! Dia Putrimu! Darah dagingmu! Dia juga tak akan pergi dari kita, jika kau memberinya restu menikah dengan pria yang dicintainya!" pekik Sungmin lagi. Air mata tak urung menggenang dipelupuk matanya. Ia menangis, memikirkan bagaimana nasib putri nya sekarang.

"Ming! Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kyuhyun! Menikah dengan Pria yang bahkan tak jelas pekerjaannya, sama saja membuat masa depan Kyuhyun jadi sengsara! Dia lebih pantas jika bersanding dengan Seorang Choi Siwon daripada menikah dengan lelaki Brengsek keturunan Jung itu!" timpal Jonghyun marah.

Sungmin kembali terisak. Selalu saja seperti ini. Suaminya tak akan mau kalah jika berdebat tentang Kyuhyun. Selalu saja egois, selalu ucapannya yang harus dianggap benar. Semua karena suaminya! Jika saja Jonghyun merestui Kyuhyun menikah dengan Changmin, kekasihya, mungkin dia bisa berbahagia saat ini melihat kebahagiaan Kyuhyun. Sampai kapan ia menunggu Kyuhyun nya kembali!

"Aku membencimu! Teruslah berpihak pada keegoisanmu!" ucap Sungmin berlalu meninggalkan Jonghyun yang terpaku. Tidak! Bukan seperti ini yang ia inginkan!

.

.

.

.

[Tokyo, Jepang] [Jung's Mansion]

Sementara itu suasana berbeda menyelimuti keluarga Jung. Jung Yunho dan Istrinya Kim –Jung- Jaejoong. Rona bahagia terpatri di wajah keduanya, ketika Informan yang selama ini mereka percayai sebagai mata-mata, memberikan kabar bahagia. Kabar kelahiran keduabelas cucu mereka! Jaejoong yang bahagia, tak pelak mengeluarkan air mata nya menatap satu persatu foto wajah keduabelas cucunya yang berhasil diabadikan oleh sang Informan saat di Rumah sakit. Berbekal informasi dan kerja sama dari Pihak Rumah sakit tentunya, tanpa sepengetahuan Kyuhyun dan Changmin.

Saat ini hanya itulah yang mampu Yunho dan Jaejoong lakukan untuk mengetahui perkembangan rumah tangga kecil milik Putra mereka, Jung Changmin. Tak banyak yang bisa mereka lakukan, mengingat Putra nya telah memutuskan hubungan dengan mereka berdua. Hingga akhirnya pergi bersama sang kekasih tercinta, dan menikah diam-diam. Yunho dan Jaejoong telah sadar dan merasa bersalah, namun tak banyak yang bisa mereka perbuat untuk mengembalikan Changmin pada mereka berdua.

"Yunie! Lihatlah, keduabelas cucu kita lucu sekali! Aku tak menyangka jika Kyuhyun sesubur itu!" pekik Jaejoong saat melihat Foto cucu-cucunya.

Yunho tak kalah senangnya, saat melihat satu foto bayi Kyuhyun yang terlihat mirip Jaejoong. "Lihat yang ini Boo! Wajahnya mirip sekali dengan mu!"

Jaejoong melihat foto yang ditunjuk Yunho. Benar! Duplikat dirinya saat kecil! Ia kemudian tertarik melihat foto lain yang menampilkan wajah tampan dengan senyum bak malaikat yang menenangkan. "Kau lihat yang ini! Wajahnya teduh sekali! Aku yakin semua orang akan terpesona hanya dengan melihat wajahnya saja!"

Yunho tersenyum mengiyakan. Wajah keduabelas cucunya sangat Cantik dan tampan. Walaupun mereka tak identik. Namun sedikit banyaknya, wajah mereka mewarisi ayah, ibu, serta kakek dan neneknya. Bahkan salah satu dari mereka ada yang mirip dengan besannya, Ani, mungkin sang besan tak menganggap begitu. Kim Jong Hyun.

"Gomawo untuk ini! Aku akan mentransfer uangnya nanti! Untuk sekarang tugasmu selesai! Akan aku hubungi lagi, jika aku membutuhkan informasi lain!" ujar Yunho pada sang Informan.

Sang Informan hanya tersenyum mengangguk, kemudian pamit untuk kembali mengerjakan tugasnya. Meninggalkan Yunho dan Jaejoong yang masih setia menatap gambaran wajah cucu-cucu mereka.

"Mereka lucu sekali! Aku ingin menggendong mereka!" tangis Jaejoong pecah. Ia sangat merindukan Putranya.

Yunho mendekap erat tubuh Jaejoong, berusaha memberikan ketenangan untuk istri tercintanya. "Sabar Boo! Suatu saat aku yakin, mereka pasti akan kembali pada kita! bersabarlah~!" bisik Yunho pelan.

.

.

.

.

.

[Beijing, China] [ChangKyu's Flat]

11.00 Am

Changmin dan Kyuhyun tengah disibukkan dengan tangisan keduabelas bayi kembarnya. Semuanya menangis disaat yang bersamaan, membuat keduanya cukup kewalahan. Bahkan untuk sarapan pagi pun mereka tak sempat, mengingat keduabelas bayi itu tak memberikan mereka cukup waktu. Seperti saat ini, empat bayinya haus disaat yang bersamaan dengan enam bayi yang mengompol, lalu dua bayi lagi yang tak bisa tidur. Semuanya hanya ingin bersama Kyuhyun. Membuat Changmin tak bisa membantu. Mereka akan semakin menangis jika Changmin yang menggendong mereka. Hanya si kecil lah, yang masih mentolerir pada Appanya. Sehun, si Magnae, masih bisa tenang jika Appa nya yang menggendong.

"Bagaimana ini Minie? Mereka semua tak mau diam?" rengek Kyuhyun. Ia sudah sangat lelah mengurus kedua belas bayinya dalam waktu empat hari ini.

"Aish! Tenangkan saja mereka satu persatu. Aku juga bingung, hanya Sehunlah yang mau aku gendong!" balas Changmin lagi. Saat ini Kyuhyun tengah menggendong baby Tao dan baby Luhan bersamaan.

Huwee Huwee

Huwee Huwee

Terdengar dua tangisan melengking yang bersamaan. Baby Baekhyun dan Baby Chen. Sepertinya mereka berdua tak nyaman mendengar tangisan para saudaranya. Sehingga membuat mereka tak bisa tidur. Kyuhyun meletakkan Luhan dan Tao di ranjangnya, kemudian menghampiri Baekhyun dan Chen, berusaha menenangkan keduanya. Sementara Changmin masih berusaha membantu dengan melihat yang lainnya.

"Eh, Kyu! Kau lihat mereka berdua?" tunjuk Changmin pada Bayi Chanyeol dan Kris tiba-tiba.

Kyuhyun menoleh sebentar melihat kedua bayinya itu. "Waeyo?" Tanya Kyuhyun bergumam.

"Mereka menangisnya keren sekali! Bayi kita yang lain menangis hingga wajah memerah, mereka berdua justru cool sekali!" ungkap Changmin membuat Kyuhyun kesal. Hya! Dia bahkan sudah lelah menenangkan bayi-bayinya, changmin malah memperhatikan Cara menangis bayinya.

"Leluconmu tak lucu! Sekarang bantu aku! Xiumin, Kai, Kyungsoo, Suho, dan Lay belum diganti popoknya!" titah Kyuhyun membuat Changmin kembali mendesah pasrah!

.

.

Berselang satu jam, kini Changmin dan Kyuhyun bisa bernafas lega. Keduabelas bayi mereka sudah tenang dan tertidur pulas. Menyisakan mereka yang beristirahat, membiarkan beberapa butiran peluh menetes di wajah keduanya.

"Kyu, kita harus segera mencari jasa Baby Sitter! Jika seperti ini, kita bisa mati mendadak!" usul Changmin pada Kyuhyun yang tengah berbaring ria di atas karpet.

"Terserah mu saja! Aku lelah sekali! Kau tidak bekerja Min?" kali ini Kyuhyun teringat jika suaminya telah cuti selama tiga hari.

Changmin menggelengkan kepalanya perlahan. "Ani! Aku cuti seminggu dari sekolah. Untungnya, Mr. Wu masih bisa mengerti!" jawab Changmin tanpa menoleh pada Kyuhyun.

Saat ini Changmin bekerja sebagai seorang Guru Matematika di Senior High School di China. Meski umurnya masih terbilang muda, 23 Tahun, namun kejeniusannya membuatnya langsung diterima bekerja disana. Sementara Kyuhyun bekerja sebagai di sebuah perusahaan Game terbesar di China. Ia berusaha membantu Changmin, agar bisa memenuhi kebutuhan mereka. Setidaknya meski jauh dari kata kemewahan, ia merasa cukup dengan kesederhanaan hidupnya sekarang bersama Changmin. Apalagi ditambah keduabelas bayinya, membuat ia semakin bersemangat untuk menjalankan hidupnya.

Jika dulu Kyuhyun yang hidup dipenuhi kemewahan akan berbagai fasilitas yang ia dapatkan hanya dengan meminta pada Appa nya. Kini ia harus berusaha sendiri untuk mendapatkan itu semua. Ia menjadi mandiri setelah mencintai lelaki pilihan hatinya, bahkan ia rela mengorbankan gelimangan harta serta kedua orang tuanya demi sang lelaki pilihannya.

~o0o~

[Beijing, China]

[Lembaga Kerajaan, China Depelovement Research Foundation]

Seorang pria berkacamata dengan tinggi sekitar 185 cm tengah sibuk berdiskusi dengan Pejabat tinggi kekaisaran. Mimik serius dengan penuh ketegangan tampak muncul di raut wajahnya. Berkali-kali ia menunjukkan kekesalan dihadapan pejabat tinggi yang mengenakan baju mewah khas kerajaan itu. Sang pejabat hanya tersenyum meremehkan menatapnya.

"Tidak bisakah kita hentikan saja undang-undang ini?" Tanya Pria tinggi itu tegas.

Sang Pejabat kembali tersenyum sinis. "Kau berani melanggar aturan! Lagipula mereka bukan berkebangsaan China. Mereka berasal dari korea! Jika mereka tak bisa menyanggupi Undang-undang ini, lebih baik mereka dideportasi dari Negara ini!" titah sang Pejabat, membuat pria itu lagi-lagi harus menelan ludah kecut.

"Tapi, bagaimanapun itu sangat tidak berperikemanusiaan! Membunuh 11 bayi dan hanya menyisakan satu bayi pilihan! Jika anda yang berada disituasi ini, apa yang akan anda lakukan?" Tanya nya kembali membuat sang pejabat berang.

"Kau hanya Petugas di Lembaga ini! Tugasmu hanya melakukan perintah Kerajaan! Jika kau tak ingin dipecat, lakukan tugasmu dengan baik!" teriak sang pejabat kesal.

Sang Pria tinggi hanya menghela nafas sejenak sebeum melanjutkan perkataannya. "Tapi, aku tak sanggup lagi! Sudah berapa bayi yang dibunuh! Hanya karena peraturan bodoh itu!"

"Terserah padamu! Kau boleh mengantarkan surat pengunduran diri jika tak ingin melakukan tugas ini!" Sang pejabat meninggalkan pria tinggi yang hanya bisa terdiam. Inilah pekerjaannya.

Drrrt Drrrt Drrrt

Disaat yang bersamaan, getaran ponsel membuyarkan lamunan sang Pria tinggi. Melihat nama yang tertera pada Layar ponselnya. Sekilas ia masih bisa tersenyum tipis.

"Hallo! Shi, Henly, Weishenme?" Tanya nya tenang.

"Mimi-Ge! Dokter bilang, sampai kapanpun kita tak bisa memiliki anak!" ujar sang penelpon membuat sang Pria tinggi kembali terpaku. Apa maksudnya?

"Bicara yang Jelas, Liu Xian Hua!" titahnya singkat pada si penelpon. Istrinya.

"Dokter bilang aku mandul, Dui Bu Qi, aku tak bisa memberimu keturunan!" isak Henly, pada Suaminya.

Sang suami, si Pria Tinggi, hanya bisa tersenyum kecut mendengar penuturan Istrinya. Berusaha tenang saat mendengar tangis istrinya. Hatinya sungguh tersayat, namun tak bisa berbuat apapun.

"Hah, sudahlah! Jangan sedih! Kita cari jalan keluarnya! Nanti kita bicarakan dirumah! Pip!" Zhoumi, sang suami, memutuskan sambungan telpon itu sepihak. Berpikir menerawang jauh akan kejadian yang barusan menimpanya.

"Sepertinya aku terkena Hukum karma! Selama ini aku membunuh begitu banyak bayi yang tak berdosa! Sekarang justru aku tak bisa mendapatkan keturunan!" zhoumi tersenyum miris. Memohon ampun akan dosanya. Walaupun bukan dia yang membunuh bayi itu secara langsung. Namun, dia juga yang bertugas memisahkan para bayi dari ibunya. Hanya sebab tugas dan pekerjaan yang ia jalani. Tak ada pilihan selain melakukan hal itu. Betapa berat saat harus melihat butir-butir kalimat ditiap lembaran undang-undang.

[Undang- Undang satu anak di China oleh China Depelovement Research Foundation. Jika seorang ibu melahirkan bayi kembar, maka bayinya yang lain akan dibunuh, dan sang Ibu hanya bisa memilih satu bayi saja untuk diasuh.]

~o0o~

[Beijing Luxury's Apartment]

7.00 Pm

Zhoumi memasuki Apartemennya dengan langkah gontai. Mencoba menelurusi setiap sudut ruangan, mencari sosok Yeoja yang ia cintai. Liu Xian Hua atau Henly. Hatinya masih saja terluka mendengar penuturan sang istri tadi siang. Istrinya mandul. Tak bisa memiliki Keturunan! Ia tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Ia juga mendambakan suara tangisan kecil dari anak yang akan memanggilnya Daddy. Semua ini karma untuknya. Ditengah kemuramannya, sang Istri menghampirinya dengan senyum paksaan yang tak seperti biasa. Senyum perih menahan tangis.

"Gege! Dui Bu qi! Aku tak tahu sebelumnya jika aku mandul!" ujar Henly terisak. Dia merasa bersalah pada suaminya.

"Ini semua salahku! Aku yang mendapatkan karma akan ulahku! Semua ini karena aku tak bisa mencegah saat bayi-bayi itu dibunuh! Tuhan menghukumku dengan tidak memberikanku keturunan!" bantah Zhoumi. Ia tak mau hanya istrinya saja yang merasa bersalah.

"Tapi… semua ini juga salahku!" ujar Henly lagi. Mencoba tak terisak kembali, namun air matanya dengan mudah lolos begitu saja.

"Hah! Besok aku harus kembali melihat bayi-bayi terbunuh!" keluh Zhoumi.

Henly menghentikan tangisannya lalu menatap mata suaminya. "Gege ditugaskan lagi? Cukup sudah! Berhentilah dari pekerjaan itu! Gege masih bisa bekerja di tempat lain! Aku juga masih bisa membantu Gege bekerja!"

Zhoumi mendekap tubuh istrinya. "Tidak mungkin! Hanya orang bodoh yang menolak pekerjaan di dalam lembaga kerajaan. Aku hanya ingin membuatmu bahagia! Aku lakukan semuanya untukmu!" lirih zhoumi.

"Untuk apa, jika dalam hidup kita dihantui rasa bersalah! Kau membiarkan saja bayi-bayi itu terbunuh, sementara kita disini juga membutuhkan kehadiran bayi!" pekik Henly dalam pelukan erat Zhoumi.

Zhoumi mencerna sekilas ucapan istrinya. Tersenyum sejenak sembari menenangkan Henly. "Ada cara lain, tanpa harus membunuh mereka!" gumamnya.

.

.

~o0o~

TBC

.

.

.

Annyeong!

Mianhae Telat Update...

Bahkan FF yang lain juga Belum di Update.

Kemarin selama Sebulan saya tak bisa login FFn.

Dan selama 3 bulan ini saya harus PPL di Desa.

Jadi Jarang Dapat sinyal untuk Modem.

Mianhae!

Last Word!

Jeongmal Gomawo

*Bow

-RNR Juseyo-