BLUE SKY
Chapter 2
Lumina's POV
Pakaian hitam, payung hitam, orang-orang yang menunduk. Aku benci suasana ini. Di depanku telah berbaring manusia kaku tanpa nyawa, ia yang pernah melahirkanku. Perlahan ia memasuki negeri bawah tanah. Entah mengapa aku hanya bisa diam, tidak bisa menangis ataupun berteriak. Aku benar-benar ingin diam saat ini. Untuk yang pertama kalinya, aku merasa kematian itu dekat.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. "Sabar, Nak. Jangan menyerah dengan kehidupan."
"Nenek?"
Wanita tua itu tersenyum tulus, meski aku tahu bahwa ia sedang menahan tangis. Aku tidak tahan lagi, aku memeluknya, menjatuhkan semua air mata yang kupunya.
"Mengapa harus aku, Nek? Mengapa orang yang kusayangi semua meninggalkanku?"
"Sshh... Inilah hidup. Sabar, Nak..."
Aku mencoba mengangkat kepala dan menatap nenek dalam-dalam.
"Nek... Apa aku bukan anak yang baik?"
"Kau ini sedang bicara apa, Nak?"
"Kata ibu anak yang baik memiliki takdir yang baik. Apa aku bukan anak yang baik? Apa aku gadis yang menyebalkan? Mengapa ibu harus gantung diri? Mengapa ayah harus menceraikannya?" Aku sesegukan, membenamkan kepalaku dalam pelukan nenek, satu-satunya keluarga yang kupunya saat ini.
"Nenek akan tinggal bersamamu, bergembiralah."
(Flashback: on)
From: Dr. Trent
Lumina, cepat kembali ke Kota Forget-Me-Not, ibumu gantung diri.
Kakiku seperti mati rasa, seluruh tubuhku seakan membeku. Aku terjatuh.
"Bohong kan? Ini bohong kan? Kalau ia berbohong, aku akan memaafkannya, asalkan ia berbohong."
"Hei, kau kenapa?" Gray berjongkok mendekatiku. Aku masih terdiam. Bibirku kaku. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya aku senang. Pria pertama yang kusukai memperhatikanku. Tapi berita ini melucuti semuanya, bahkan keinginanku untuk bertemu ayah menghilang begitu saja.
Tubuhku lemas. Aku nyaris kehilangan kesadaranku.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Aku berusaha menahan mataku agar tidak menangis. "Maaf, Gray... Aku harus pulang sekarang. Terima kasih sudah mau mengantarku." Aku mencoba berdiri. Tanpa kuduga Gray memutar tubuhku ke punggungnya.
"Gray, apa yang..."
"Kau mau pulang kan? Ayo pulang bersamaku."
(Flashback: off)
Aku memandangi nisan ibuku. Ribuan memori hangat tentang orang tuaku melintas bebas dalam otakku sekarang.
"Kau belum pulang?"
Aku menoleh.
"Gray..."
Gray meringis. "Cih, mengapa udara dingin sekali?" Gray membuka jaketnya dan mengenakannya padaku. Aku terdiam. Entah apa yang seharusnya kurasakan saat ini. Di satu sisi aku bahagia bisa dekat dengan Gray, tapi masalahku terlalu menyesakkan, membuat kebahagiaanku hambar.
"Gray, maaf, liburanmu di Kota Mineral berantakan karena mengantarku kesini." Aku membuka percakapan. Kini kami duduk di depan rumahku. Langit berwarna hitam pekat, tidak ada bintang satupun.
Gray terdiam, matanya kosong menatap ke langit. "Bukan masalah, lagipula aku sudah bosan berada disana."
Aku merasa air muka Gray sedikit berbeda kali ini. Ia menjadi sosok yang dingin, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sudah malam, aku pulang dulu." Gray berlalu. Aku menatap punggungnya lekat-lekat.
"Sepertinya aku mencintai orang ini."
BRUKK! Beberapa buku jatuh menimpaku saat aku merapikan kamar ibuku. Aku meringis, dahiku tergores. Aku merapikan buku-buku itu kembali.
Mataku tertuju pada salah satu buku tua bersampul cokelat. Aku memungutnya.
"Blue Sky... Mungkinkah ini diary ibu?"
Disana terselip beberapa foto ibu dan ayahku. Aku sedikit ragu, tapi hawa penasaran mengitari logikaku. Kemudian aku membuka lembaran pertama...
Claire's POV
Hari ini hari pertamaku masuk SMA. Aku memperhatikan seragam baru yang kukenakan beberapa kali.
"Kau terlihat manis mengenakannya, Nak."
Aku tersenyum pada ibuku.
"Cepatlah, kau akan terlambat."
Sejak lahir aku belum pernah melihat ayahku. Ibu bilang ayah sudah meninggal. Sebenarnya aku ingin seperti anak-anak kebanyakan, memiliki keluarga lengkap. Tapi tidak apa-apa untukku, memiliki seorang ibu saja sudah cukup.
Aku mengayuh sepedaku dengan cepat. Tidak pernah kusangka bisa menjadi siswa Mineral High School. Demi masuk sekolah ini aku belajar mati-matian. Impianku dari dulu bisa bersekolah di sekolah yang memiliki ruang musik sendiri, di kota ini hanya ada satu sekolah yang memilikinya, Mineral High School. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan bidang akademik, aku lebih suka bermain piano.
Pelajaran pertama adalah fisika, sangat membosankan. Pria tua berkacamata berusaha membuat lawakan-lawakan tidak lucu disela pelajarannya. Aku tidak tahan. Aku berjalan jinjit keluar kelas.
"Ah, ruang musik." Aku berlari mencari ruang musik, ruangan yang menjadi alasanku bersekolah disini. Tapi sekolah ini terlalu luas, aku tersesat bahkan di sekolahku sendiri. Aku mulai panik, tiba-tiba terdengar suara piano Alice yang mengalun indah. Aku mengikuti suara itu. Langkahku terhenti di depan pintu tua berdebu. Aku mengintip ke dalam.
Mataku terbelalak. "Wah… Orang itu... Bagaimana mungkin ia bermain sebagus itu?"
Aku masuk ke dalam. Ruangan ini benar-benar penuh debu, dindingnya nyaris berlumut saking tuanya. Di dalamnya pun hanya ada piano dan biola. Tidak seperti ruang musik dalam khayalanku. Aku menghampiri anak laki-laki yang bermain piano itu. Ia menghentikan permainannya.
"Kenapa berhenti?"
"Aku tidak bisa bermain kalau ada yang pengganggu."
"Ah, apa aku mengganggumu? Aku hanya kagum dengan permainanmu."
Anak laki-laki itu menoleh ke arahku.
"Kau junior ya? Baru jadi junior sudah berani membolos, cih."
"Jadi kau senpai? Maaf, aku..."
"Duduklah."
Detakan nadiku seperti terhenti. Ini pertama kalinya aku merasakan hal ini.
"Apa yang sedang kau lakukan? Duduklah, bermain bersamaku."
Aku mengikuti permintaannya. Kami bermain bersama, menghabiskan seluruh sisa jam pelajaran di ruang musik ini. Hari ini sangat menyenangkan, seperti keajaiban.
"Ayah, apa dia pangeran untukku? Bagaimana mungkin aku menyukainya bahkan saat kami pertama bertemu? Sepertinya aku bukan hanya menyukai permainannya, aku menyukainya."
"Yaah hujan." Tanganku menengadah, berharap hujan cepat berhenti agar aku bisa cepat pulang. "Karena main piano, aku lupa waktu."
"Kau menyesal bermain piano bersamaku hari ini?"
Aku terkejut, kemudian menoleh. "Se-senpai?"
"Tidak bawa payung?"
"Ha? Iya. Aku membawa sepeda."
"Tinggalkan sepedamu untuk malam ini, hujan tidak akan berhenti secepat itu." Senpai menyerahkan payungnya. "Ini."
"Apa ini?"
"Tentu saja payung, bawa olehmu saja. Aku sedang ingin hujan-hujanan." Laki-laki itu berlari di tengah hujan.
"Senpaaaai…. Jika aku akan mengembalikan payung ini, bagaimana aku menemukanmu?"
"Carilah ke kelas 3-5, namaku Jack."
(To be continued)
Terima kasih telah membaca. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. –znc-
