Akeno: Akhirnya bisa ngetik cerita lagi nih, Sorry ya Readers nunggunya sampe karatan… =="
Len: Updatenya kok lama amat sih? Tanggung jawab dong Akeno!
Akeno: Gomen2.. Aku harus ngurus tugas sekolah yang numpuk nih Len.. :)
Len: Ooo.. gitu.. Ya ya ya.
Akeno: Eh, Rin dimana?
Rin: Hy Akeno *Bawa pisau dan ada merah-merahnya*
Akeno: Eh! Habis ngapain kamu, Rin? *Kaget*
Rin: Apa sih? Oh ini… habis motong tubuh kucing, hahaha nggak lah, habis motong tomat kok.
Akeno: Oh.. kirain... Eh, Rin tolong Disclaimernya ya! :)
Rin: Ok.
Disclaimer: Vocaloid bukan punyaku, mereka punya pihak Crypton Future Media dan Yamaha.
Warning: EYD error, Bahasa GaJe
Well… Enjoy :)
Chapter II
[Let`s go together]
[Rin`s POV]
"Ah.. Lebih baik aku segera melupakan kejadian kemarin itu, mungkin itu hanya kebetulan." Kataku sambil melihat jendela diluar kelas, karena kursiku tepat di sebelah jendela. "Ah, Len?" Len sepertinya baru saja datang ke sekolah.
"Lihat lihat! Len-kun datang!" Teriak teman-teman wanitaku, ternyata bukan cuma aku yang melihatnya, pasti kelas sebelah juga begitu.
"Rin?"
"Eh, ya? Oh Kaito, ada apa?"
Kaito..
Kaito dan aku sudah berteman sejak lama, dia satu SD, SMP, SMA, denganku, meskipun kami selalu beda kelas. Dia memiliki rambut biru yang lurus kebawah dan selalu menggunakan syal biru, sama sepertiku yang selalu menggunakan pita putih, sepertinya syal itu juga merupakan signature bagi dia.
"Kau suka dengan Kagamine Len itu ya? Rin?"
"Ah… tidak kok" Kataku sambil mengeluarkan majalah model dan menunjukkannya kepada Kaito, mencoba menjelaskannya. "Coba kau lihat model ini, Kaito, dia Hatsune Miku, cantik kan?" Kaito hanya mengangguk, aku meneruskan "Semua orang jelas menyukainya karena dia cantik, tapi bukan berarti mereka menyukainya secara… err… Kau tahu? Seperti orang menikah, mereka tidak hanya suka tapi saling menyayangi sepenuh hati" Kaito sepertinya menangkap maksudku.
"Ooo… Aku mengerti maksudmu, Rin." Jawabnya sambil tersenyum, ada apa dengan Kaito sebenarnya?
"Kenapa kau tersenyum aneh begitu, Kaito?"
"Model yang kau maksud itu… Dia adalah…. Adikku."
"Eh? Yang benar?" Aku berteriak tepat didepan wajahnya dengan wajah 99% tidak percaya.
"Sshhh..! Jangan sampai yang lain tahu" Kaito sepertinya tidak ingin orang lain tahu kalau Hatsune Miku itu adalah Adik-nya.
"Maaf… Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau Miku adalah adikmu, Kaito."
"Dia lebih muda 1 tahun dariku, jangan beritahu yang lain, OK?" Dia berbisik di telingaku lalu kembali duduk di bangku di dekatku.
"Rin." Wajahnya tiba-tiba berubah jadi serius
"Eh…? Ya? Kenapa wajahmu jadi serius gitu, Kaito?"
"Ak..."
Kriingg~ Belum sempat Kaito berbicara, Bel masuk sudah berbunyi...
"Oh! sepertinya sudah bel masuk, di istirahat kedua saja, Rin"
"Ada apa memangnya, Kaito?"
"N-Nanti saja!" Dia berlari kencang meninggalkan kelask, sikapnya itu… Aneh sekali hari ini, pertama, dia menanyaiku apa aku suka dengan si Kagamine itu, kedua, sepertinya dia ada hal penting yang harus dibicarakan denganku. Ah… Pria memang aneh.
"Hey, Rin" Luka memanggilku dari belakang "Kau sedang bicara apa dengan Kaito tadi?"
"Ah, Luka, Tidak membicarakan apa-apa kok" Bisa gawat urusannya kalau aku cerita tentang pertanyaan Kaito padaku tadi. Luka kan Fangirls-nya Len?
"Oh… Begitu ya.. Rin, kau tidak bohong kan?" Ada apa dengan Luka? Sepertinya dia sangat ingin tahu.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"E-eh tidak apa-apa kok! Lupakan lupakan! hahaha" Dia tertawa dengan garing, aku kenal Luka, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Ohayou, anak-anak" Sapa guru-ku
"Ohayou, Sensei!"
Dan pelajaran yang membosankan pun dimulai, sampai bel istirahat berbunyi, anak-anak langsung berlarian ke kantin, tapi aku tidak, Kaito, dia ingin menemuiku waktu istirahat, dia ingin mengatakan sesuatu dan sepertinya sangat penting...
"Kau tidak ke kantin, Luka? Tumben."Biasanya dia adalah orang paling pertama yang ke kantin, selera makannya sangat besar.
"Ah tidak, aku hanya sedang malas saja."
Seketika itu, Kaito memasuki kelasku dan menuju ke meja-ku, dan lagi, dengan wajahnya yang serius itu.
"Bisa aku bicara denganmu, berdua saja, Rin?" Dia bertanya, sepertinya sangat penting.
"Ah, kenapa tidak di sini saja Kaito? Lagipula tidak akan ada yang mendengar."
"Ini… Sangat penting" Wajahnya berubah agak kemerahan.
"Oh… Baiklah" Kataku sambil mengikutinya menuju ke lantai teratas sekolah (Lantai teratas sekolahku adalah sebuah lapangan terbuka atau tanpa atap) sangat jarang ada orang datang kesini.
"Rin, tolong dengarkan aku."
"Ada apa Kaito? Kalau ada masalah ceritakan saja" Kaito adalah teman baikku selain Luka, kami sering curhat satu sama lain.
"Sebenarnya ini bukan masalah… Aku hanya ingin bicara sesuatu denganmu" Dia langsung memegang kedua tanganku dengan erat.
"E-Eh? Ap.."
"Rin… A-Aku Su…ka padamu!"
"Hah?…" Aku cuma bisa membalas dengan kata-kata pendek itu, aku benar-benar kaget
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, Rin!"
"A-Aku…" Aku mulai merasakan air mataku turun ke pipi… Apa ini maksud dari pertanyaannya tadi pagi? Aku tidak tahu harus berkata apa, ini sangat mendadak. Aku tidak mungkin menolaknya... Kaito adalah sahabatku sejak kecil, tapi aku juga tidak bisa menerimanya... Saat ini aku tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya...
"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, Rin." Kaito, mungkin dia melihatku mau menangis? "Tapi bisakah aku mendapatkan jawabannya besok, Rin?"
"…" Aku hanya diam saja, Air mataku keluar semakin deras... Pipiku mulai terasa sangat basah sekarang.
Aku langsung berlari menuju ke bawah lalu kamar kecil, aku tidak ingin Kaito melihatku menangis, itu akan membuatnya merasa bersalah, tapi sebelum sampai di kamar kecil, aku salah melangkahkan kakiku di tangga sehingga aku terjatuh, tapi ada seseorang mengulurkan tangan kepadaku… Dia…?
"Hey, kau tidak apa-apa?" Len mengulurkan tangannya dan aku meraihnya.
"A-aku tidak apa-apa... Terima kasih" Air mataku masih mengalir.
Aku… Tidak ingin Len melihatnya, kenapa? Aku… Tidak tahu… Aku langsung berlari ke kamar kecil, menghindari bertatap mata dengannya.
"Hey, Rin!" Dia sepertinya mau memberitahuku sesuatu, tapi aku tidak bisa sekarang, ah… Aku akan minta maaf padanya kalau bertemu di kereta lagi.
'Hmm? Kemana Luka? Aku pikir dia tidak ke kantin hari ini?' Pikirku. Air mataku telah kubersihkan sejak di kamar kecil tadi. 'Mungkin saja dia sudah tidak bisa menahan laparnya lagi…' Aku kembali ke tempat dudukku, sejak jatuh tadi sepertinya kakiku terkilir… *menggerakkan kaki* Aw! Memang kakiku terkilir.
Entah kenapa, sepertinya anak-anak sekelas menatapku dengan pandangan iri dan benci, apa telah terjadi sesuatu? Ah, mungkin cuma perasaanku saja…
Sampai bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung pulang, berharap bertemu dengan Len, bukan karena aku ingin bertemu dengannya! Aku cuma ingin meminta maaf atas tadi pagi. Selama pelajaran tadi, Luka tidak mengajakku berbicara sedikitpun, oh iya… Luka bilang kalau dia sedang ada keperluan, jadi dia juga tidak bisa menemaniku pulang walaupun hanya sampai gerbang sekolah. Ya… aku juga tidak bisa memaksanya sih…
[Len`s POV]
Pagi ini, aku baru saja membelikan gantungan baru untuk Rin sebagai permintaan maafku, waktu aku di halaman sekolah, seperti biasa, para perempuan meneriaki namaku, aku mengangkat kepalaku, banyak Perempuan melihatiku dari jendela. Tapi mataku hanya tertuju ke jendela kelas XI-2.
"Hmm?" Aku melihat Rin dibalik jendela sedang berbicara dengan seseorang berambut biru, siapa dia? Ah… Bukankah dia Kaito? Ada keperluan apa dia dengan Rin?... Bukan urusanku, biarkan saja.
Kriinggg! Bel masuk berbunyi, Aku tidak sempat memberikan gantungan ini ke Rin.
'Ah..waktu istirahat nanti aku akan kekelasnya untuk memberikan ini.'
Waktu aku melewati kelas Rin, Kaito sepertinya baru saja keluar dari kelas Rin sambil lari, dia menabrakku.
"Ah, maafkan sa… Oh.. Kau Len? Sedang apa kau disini?"
"Kelasku lewat sini." aku menjawabnya dengan nada datar "Kau sendiri sedang apa disini? Bukankah kelasmu ada di bawah?"
"B-Bukan urusanmu!" Dia berlari lagi, aneh.
Selama pelajaran entah kenapa, aku tidak bisa berhenti memikirkan anak itu, cantik? lumayan sih, masih banyak yang lebih cantik dari dia, tapi aku merasa ada yang special dengannya...
Kriinnngg... Bel istirahat berbunyi, aku akan kekelas Rin sekarang.
"Hey Len! Mau kemana?" Mikuo bertanya sambil SMS-an entah dengan wanita siapa lagi.
"Ah, aku harus menemui seseorang, tidak perlu menemaniku."
"Hooo.. Seseorang ya?" Dia menatapku dengan pandangan pervertnya itu.. Menjijikkan…
"…" Aku mengabaikannya… Langsung keluar dari kelasku dan menuju ke kelas Rin.
"XI-2…" *Jegleg*
'Hmm? Dimana Rin?' Aku melihat ke dalam kelas.
"Kyaaa! Len-kun!" Seorang wanita didalam kelas berteriak memanggil namaku, dan wanita-wanita lain segera menolehkan pandangannya kearahku, apa mereka tidak capek ya tiap hari seperti itu?
"Apa ada yang tahu dimana Kagome Rin?" Bukan jawaban yang aku dapat, tapi malah tatapan tidak senang dari semua wanita di kelas itu.
"Memangnya kau ada hubungan apa dengan Rin, Len?" Para wanita itu mulai bergerombol mendekatiku
"Ah.. sepertinya tidak ada yang tahu, maaf mengganggu" Aku segera keluar dan kembali ke kelasku, sangat aneh rasanya jika harus diinterogasi oleh segerombolan gadis.
'Dimana ya kira-kira Rin?'
Aku berjalan kembali kekelasku melewati jalan yang melewati tangga ke atas sekolah, karena biasanya sepi, jadi aku tidak harus terganggu dengan teriakan wanita-wanita itu, tapi waktu aku berjalan, sepertinya ada seseorang yang baru terjatuh dari tangga, rambut blonde… Pita putih… 'Eh, bukankah dia Rin? Kebetulan sekali' Aku menuju ke arahnya dan mengulurkan tangan.
"Hey, kau tidak apa-apa?" Aku mengulurkan tanganku dan menarik Rin.
"A-aku tidak apa-apa, terima kasih."
Waktu aku mengambil gantungan yang akan aku berikan sebagai tanda permintaan maaf, Rin lari menuju ke kamar kecil.
"Hey, Rin!" Dia tidak mendengarku, sepertinya dia sudah tidak tahan untuk ke kamar kecil, tapi… tidak mungkin aku mengikutinya kan? Nanti malah dikira pervert lagi… Ah, ya sudahlah, aku akan memberikan gantungan ini waktu di kereta nanti kalau bertemu dengannya.
[Rin`s POV]
Waktu menuruni tangga sub-way, kakiku tidak sengaja tersandung dan rasa sakitnya semakin… SAKIT!
"Aww! Ah! keretanya mau menutup… Aku harus…!" Aku memaksakan kakiku untuk melangkah lebih cepat walaupun sakit sekali rasanya, tapi untunglah masih sempat aku memasuki kereta itu, dan aku melihat ada tempat duduk kosong tepat disebelahku, jadi aku langsung duduk. "Ah… Untunglah…" Kakiku sangat sakit, pada saat bersamaan juga, aku merasa ada orang yang menatapku, jadi aku menangkat kepalaku, mungkin saja itu Len?
"Haa?" Oh My God! Again? Ibu-ibu gendut yang kemarin merebut tempat dudukku! Dia menatapku dengan tatapan 'Minggir', tapi kali ini aku tidak mau mengalah, jadi aku memasang wajah cuek-ku.
"Ya ampun, anak muda jaman sekarang! Apa mereka sudah tidak memiliki sopan santun untuk memberikan tempat duduk kepada yang lebih tua?" Ibu-ibu gendut itu berbicara cukup keras di dalam kereta, sepertinya dia merencanakan sesuatu yang jahat padaku dan itu berhasil, semua orang mulai menatapiku dan berbisik-bisik satu sama lain. "Hei, apa kamu hanya memikirkan kepuasanmu sendiri? Tidak bisa dipercaya! Generasi muda ini, benar-benar memalukan!" Dia berhasil membuatku malu.
Aku bisa mendengar bisikan orang-orang di kereta seperti: "Ya ampun, anak itu benar-benar tidak punya sopan ya?", "Siapa sih yang mengajari dia untuk bersikap?", dan masih banyak lagi!
"M-Maafkan aku…" Aku mencoba berdiri dari tempat dudukku, aww! Kakiku sangat sakit… Aku memegang tiang disebelah tempat dudukku dan mencoba untuk berdiri dengan semua kekuatanku, tapi waktu itu, ada tangan yang mendorong pundakku dengan pelan sehingga aku terduduk kembali... Eh! Len?
"Hey, Rin, kau baik-baik saja? Sepertinya kakimu terkilir ya dari waktu kamu jatuh di tangga tadi?" Len menatapku dan mengabaikan ibu itu.
"Hey, Apa yang...!" Ibu itu berbicara kepada Len dengan nada kesal.
"Maaf, tapi kakiknya sedang terkilir, jadi untuk berjalan sangat sakit, apalagi harus berdiri lama" Len… Dia membelaku
Dan dia membuat orang-orang di kereta gantian berbisik mengenai ibu itu seperti: "Kejam sekali orang itu, dia membuat gadis muda itu kesakitan.", "Ah, benar-benar memalukan, sudah tua tapi sikapnya seperti itu." Dan wajah ibu itu menjadi merah lalu segera pergi "Huh! Seharusnya kau bilang saja kalau kakimu sakit sejak awal!"
"Benar-benar keras suara ibu itu" Gumam Len
"T-Terima kasih"
Ah kakiku terasa sakit sekali waktu berdiri tadi, aku mau menangis… Kalau aku mengedipkan mataku sekarang, aku pasti menangis… Menangis untuk hal sekecil ini… Aku tidak ingin Len melihatnya… Ini sangat memalukan, aku merasakan ada yang mengalir ke pipiku... Ah! Aku meneteskan air mataku! Aku segera menghapus air mataku, ini sangat memalukan, aku lalu melihat ke arah Len untuk memastikan... Eh, Len tidak melihatnya? Dia bersandar di tiang disebelahku dan menutup matanya, apa mungkin… Apa dia tahu kalau aku tidak ingin terlihat menangis dihadapannya? Ah mungkin cuma kebetulan saja, kemarin dia juga seperti ini. Tapi... untunglah dia tidak melihatnya…
"…"
"Hirashi, kereta telah sampai di stasuin Hirashi, pintu akan menutup dalam 3 menit" Ah ini tempat Len akan turun… Eh, kenapa dia tidak turun-turun?
"Len? Apa kau tidak turun? Ini kan tempat pemberhentianmu?"
"…"
'Hah? Ketiduran?' Aku mulai menarik-narik bajunya "Len.. Len.." Tapi dia tidak terbangun.
"Pintu akan menutup dalam 2 menit."
"Len… Len bangun!" Aku menepuk punggungnya berkali-kali, tapi dia tetap tidak terbangun.
"Pintu akan menutup dalam 1 menit."
"Len..! Pintunya akan menutup!" Aku memukulinya dengan semua kekuatanku, tapi dia tetap tidak terbangun.
*Jleg* (Pintu menutup)
"Aaa… Terlambat…" Gumamku sambil berhenti memukuli Len.
"Ah, pintunya sudah tertutup? Sepertinya aku terlalu lama tertidur." Dia terbangun tepat saat pintu sudah ditutup, sungguh tidak beruntung.
"Maafkan aku, aku sudah berusaha membangunkanmu, tapi…."
"Eh? Bukan salahmu, aku yang tertidur terlalu lama,terima kasih sudah berusaha membangunkanku.." Kenapa dia bisa berbicara dengan tenang seperti itu? "Oh iya, Rin, dimana kamu akan turuni?"
"Ah? Di… stasiun berikutnya."
"Oh, pas sekali, aku juga akan turun disana, jadi sekalian saja."
"Maksudnya?" Apa yang dia maksud dengan 'Sekalian saja?'
"Aku akan mengantarkanmu pulang dulu, Rin."
"…!"
Chapter II - END
Balasan Review di Chapter I
Yuuki Arakawa07: Bagus? O/O, Makasih Yuuki-san… ! ^^
dark 130898: Memang sebelumnya dark-san jatuh cinta sama siapa? Btw. Thanks reviewnya! ^^
Rin YahiKonan-Kagamine: Thanks sudah ngingetin saya Rin-san, akan segera saya perbaiki :), oh iya, thanks for the review ! ^^
Kurara animeluver: Semoga terwujud deh impiannya kurara-chan ^^, eh banyak typo ya? Akan segera saya perbaiki :), thanks reviewnya kurara-chan! ^^
In-Chan: Disini saya buat agak lebay FG nya Len, In-chan, hahaha ^^, akan segera saya perbaiki typonya yang salah, thanks buat saran dan reviewnya ya In-chan! :)
ChesireGrel`Len`1297: Hp saya jg nda bisa dibuat internetan padahal pulsanya masih ada :(, thanks buat sarannya Chesire-san, akan segera saya perbaiki yang salah n thanks reviewnya ^^
RNV Riikun: Keren? Makasih banyak Riikun-san! ^^, hehe.. kalau Luka saya belum seberapa paham karakternya gimana *shy*, miss-typonya akan segera saya perbaiki! Thanks buat saran n reviewnya Riikun-san! ^^
Hanna: Ah... Makasih Hanna :)
Akeno: Ahh… Selesai juga ngetik chapter ke-2.. :)
Len: Psst.. Akeno! buat aku masuk ke rumahnya Rin sekalian dong!
Rin: Ehh, aku dengar! Mau apa kamu? O/O
Akeno: Nope, ratenya akan tetap T!
Len: Maaf kalau ada kesalahan ya, para readers.. ^^ *ojigi*
Akeno: Saya sudah siap mental untuk menerima saran dan kritikan apapun dari para senpai, Mohon bantuannya! Arigatou... :) *ojigi*
