Dust to Dust

(Mengendap-endap kembali) Uhm… halo. Waduh maaf gak hadir lebih dari... dari 4 bulan!! Sudah menjanjikan satu chapter setiap dua minggu, eh malah saya nggak nongol disini. . Itu karena saya tiba-tiba dapat pekerjaan sambilan. Kerja di pabrik sosis. Belum lagi mendaftar ke universitas. Terus ada natal dan tahun baru. Dan laptop saya terkena virus rootkit…. T~T waktu perbaikan, dua minggu. Kalian hati-hati ya? Sebaiknya punya antivirus premium, soalnya kalau sampai terkena virus rootkit komputernya tanpa diperbaiki bisa dibuang ke tong sampah. Saya sampai diceramahi sama orang yang sudah memperbaiki laptop saya… Lalu ada ujian masuk (lulus :D) lalu pindah ke kota lain dan sebagainya dan sebagainya. T~T

Ya sudah, saya akan berusaha menetapkan janji saya. Satu chapter setiap dua minggu. Kalian senang, saya pun senang. ^^

Ini dia bab terakhir "Kembali ke Asal", silahkan dibaca.

Disclaimer: Naruto bukan milik saya, hanya Kichiro dan Akira.

Spoiler: bab-bab selanjutnya setelah kematian Itachi.

Asap mengepul dari desa kecil yang sudah hancur die pinggir negeri Api. Awan berkumpul cepat dan Sasuke tidak perlu khawatir hutannya akan ikut terbakar karena hujan akan segera turun. Ia berbalik dan turun dari pohon yang memberi pemandangan yang indah dari atas. Hari ini tugasnya sudah selesai dan ia bisa cepat kembali ke tempat persembunyiannya…

Sasuke berjalan menembus hutan yang entah kenapa sangat tenang sekarang. Ia kembali memakai mantelnya yang usang tapi cukup besar untuk menghangatkan dirinya. Rambutnya yang sudah tumbuh panjang sampai ke pinggul diikat jadi satu. Tubuhnya tidak memperlihatkan luka sedikitpun, hanya wajahnya memperlihatkan beberapa guratan di bawah matanya. Dan kedua matanya yang hitam memandang dunia luar dengan tatapan kosong.

Seekor elang mendarat di atas bahunya. Sasuke terdiam, lalu menutup kedua matanya. Dari Juugo ia telah belajar berbicara dengan para elang, sesuatu yang ternyata berguna sekali. Kehadiran seekor burung dimana saja bisa diibaratkan seorang mata-mata yang tidak akan pernah diketahui keberadaanya. Hal itu mengingatkannya akan seseorang.

Sasuke menghembuskan napas panjang. "Jadi sudah dimulai ya…"

Elang itu terbang, lalu menghilang di atas pepohonan. Sasuke kembali berjalan tenang. Ia sudah menunggu hari ini lama sekali… pelan-pelan ia menyentuh bekas luka yang ada di pipinya.

Tidak lama kemudian Sasuke melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, mencoba membawa para pengejarnya keluar dari hutan ini. Flash back dan beberapa memori dari masa kecilnya mengisi kepalanya. Sudah lama sekali ia tidak kembali ke lembah kematian… dan terakhir kali ia kesana, ia dikejar sahabat sekaligus saingan terberatnya.

Setelah sampai, ia berdiri di tengah-tengah lembah itu. Di depannya sungai besar dari negeri Api mengalir tenang. Sasuke tidak punya keinginan pergi ke tempat lain lagi. Ia sudah memutuskan…

Dua menit lalu di belakangnya keluarlah dua orang dalam pakaian ANBU dan mendarat tidak jauh dari Sasuke. Sasuke berbalik dan walaupun ia melihat keduanya memakai topeng, ia tahu siapa mereka.

"Kalian menemukanku lebih cepat dari yang kukira," ujar Sasuke seperti awal sebuah obrolan di antara tiga orang yang sedang main petak umpet. Para pengejarnya tidak menjawab.

"Tidak perlu memakai topengnya. Aku tahu siapa kalian. Dan topeng hanya akan menghambat daya lihat kalian kalau ingin serius bertarung denganku. Lagipula… aku ingin melihat wajah keponakanku yang tidak pernah kulihat sejak sepuluh tahun yang lalu."

Sang ANBU yang berambut hitam mencengkeram topengnya lalu melemparnya ke arah Sasuke yang menangkisnya dengan sebuah kunai. Topeng itu pecah menjadi beberapa kepingan yang jatuh ke dalam sungai.

"Aku tidak punya seorang paman, Sasuke Uchiha. Aku tidak punya keluarga sedikitpun. Berkat kamu." ANBU itu sekarang memperlihatkan kedua mata sharingan-nya yang berkobar dengan penuh kebencian.

"Berdasarkan fakta yang logis sebenarnya yang membunuh seluruh klan Uchiha adalah…"

PRANNNNG!!!!!!!!

ANBU itu sekarang ada tepat di depannya, mengacungkan sebuah pedang siap memenggal kepalanya Sasuke, tetapi ia menangkisnya dengan kunai yang dipegangnya.

"Kamu mirip denganku Kichiro… aku tahu juga kenapa kamu dapat sebutan 'Anak Beruntung dari Konoha'."

Kichiro mendesis lalu melompat ke belakang. ANBU di sampingnya melepaskan topengnya juga.

"Maaf Sasuke Uchiha, tapi kami mendapat perintah dari Hokage ketujuh untuk mengeksekusikanmu saat ini juga."

"Kakashi-sensei sangat pintar memilih kalian. Di samping kalian punya alasan yang kuat untuk membunuhku, kalian merupakan ANBU terkuat dari Konoha," Sasuke melepaskan jubahnya dan melemparkannya ke sungai.

Kichiro dan Akira memandang Sasuke dengan tatapan dingin.

---

"Ibu!!!!!!!!!" Kichiro melompat ke atas dinding desa Konoha. Pertarungannya di sekitarnya menjadi semakin sengit. Berkat sharingan miliknya, ia menemukan tubuh ibunya terbaring di atas dinding desa. Ia dikejar Akira dari belakang. Ia menemukan tubuh ibunya dan melihat seorang pria berjubah Akatsuki, memandang ke bawah dengan wajah shock.

Kichiro melihat pedang orang itu berlumuran darah dan hatinya dipenuhi amarah dan dendam. Ia melompat, menggengam kunainya dan menyerang orang itu sambil berteriak. Orang itu memandang ke atas, mata sharingan Mangekyou bertemu sharingan biasa. Lalu pipinya tergores melumuri jubah Akatsukinya dengan darah.

---

"Jawab pertanyaanku Sasuke Uchiha…" Kichiro memandang serius ke arah Sasuke dengan Sharingannya yang terus berkobar. "Benarkah kamu membunuh kedua orang tua kami…?"

Seekor elang terbang di atas mereka dan tiba-tiba tidak terdengar suara sedikitpun di sekitar mereka saat Sasuke menjawab.

"Ya…"

Sepuluh kunai terbang ke arah Sasuke dan ia melompat ke atas. Tetapi Kichiro sudah ada di atasnya siap meninju kepalanya sampai hancur. Sasuke menangkis tinju itu dan Kichiro jatuh ke bawah, membuat tanah di sekitar mereka retak dan hancur.

Saat Sasuke mendarat dari belakangnya sudah ada Akira dengan satu bayangan taju kagebunshin-nya.

"RASENGAN!!!"

Sebuah ledakan. Asap dimana-mana. Kichiro melompat ke samping Akira. "Apa kamu mendapatkannya?!"

"Belum…" Akira menunjuk ke atas patung Hokage pertama. Di atasnya berdirilah Sasuke.

Kichiro mendesis lalu berlari ke arah Sasuke dengan Chidori yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

"Kakashi-sensei mengajari kalian semua jurus aku dan Naruto ya…?" berbisik Sasuke sebelum berlari ke arah Kichiro dengan pedang yang juga dialiri dengan Chidori.

---

"Lepaskan aku Kakashi-sensei!!! Biarkan aku membunuh orang itu!! Ibuuuuuuu!!!"

"Jangan Kichiro, kalau kamu terbunuh ibumu tidak akan memaafkan aku. Akira! Cepat kesini!

Akira berlari mengikuti Kakashi lalu melihat ayahnya melompat ke arah orang berjubah Akatsuki itu. Akira berhenti, ingin berlari ke arah ayahnya dan memperingatkannya akan bahaya, tetapi Kakashi mencengkeram lengennya Akira dan membawa kedua anak itu ke tempat yang aman. Dua hari kemudian, Akira mengetahui ayahnya meninggal dalam pertarungan melawan Sasuke dan Madara Uchiha. Madara mati, tetapi Sasuke Uchiha berhasil melarikan dirinya… Sejak itu kedua anak itu berlatih dan berlatih setiap harinya. Dan keduanya menjadi shinobi yang sangat kuat… mereka dijadikan anak angkatnya Kakashi, Hokage ketujuh dari Konoha.

---

Odama rasengan milik Akira tidak mengenai Sasuke, malah mengenai dinding batu tebing di pinggir sungai. Bumi bergetar dan dinding itu runtuh sedikit.

Sekarang Kichiro dan Sasuke bertarung satu lawan satu, memakai Chidori dan jurus ilusi dengan sharingan. Saat keduanya tidak bisa menipu sang lawan mereka berhenti memakai jururs itu.

"Kenapa kamu tidak memakai Mangekyou sharinganmu?!" teriak Kichiro.

"Aku tidak punya alasan untuk melakukannya," jawab Sasuke saat menangkis jurus katon goukakyuu No Jutsu milik Kichiro.

"Kubuat kamu punya alasan!" Kichiro kembali mengeluarkan Chidori dari tangannya, kali ini lebih besar dari sebelumnya. Kumpulan listrik itu semakin besar dan besar hingga menyerupai seekor naga. Sasuke cukup terkesima melihat itu.

"Kamu mirip aku tapi kamu juga mirip dengan ayahmu…" Sasuke berbisik.

---

"Bohong… nggak mungkin…"

"Sakura-chan… tolong tenang dulu…"

"Bohong… sensei pasti bohong…"

"Maaf Sakura, tapi itulah cerita sebenarnya tentang Itachi…"

Kichiro mengendap-endap dari dapur saat mendengar ibunya menangis. Sakura melihatnya.

"Kichiro tolong ke kamar sebentar," Sakura mendorong Kichiro menjauh dari pintu dapur sambil menangis. Setelah melihat ibunya kembali ke dalam, Kichiro bersembunyi di belakang pintu, menyembunyikan chakranya juga, sebuah keahlian yang tidak Sakura ketahui dari anaknya yang berumur 5 tahun.

"Sakura, kami juga kaget, tapi kami mendengar cerita itu dari Madara dan Kakashi-sensei menanyakan para penasehat Homura dan Koharu… Jika itu benar kita akhirnya tahu kenapa Sasuke ingin menghancurkan desa Konoha…"

Sakura menangis tersedu-sedu. "Gak mungkin… Itachi… Itachi… kenapa aku tidak menyadarinya…"

"Sakura… kami mengatakan ini padamu karena ingin tahu siapa ayah Kichiro. Kamu tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Anak itu semakin hari semakin mengingatkan kita akan Sasuke dan Itachi."

Sakura menggelengkan kepalanya sambil terus nangis. Sambil terisak-isak ia berkata, "Ayahnya adalah pembohong paling besar yang pernah aku temui. Seandainya ia masih hidup sudah kuinju kepalanya… kenapa dia sampai berbohong… kenapa dia berpura-pura…"

Naruto dan Kakashi saling menukar pandangan. Perkataan Sakura sudah cukup bagi mereka untuk mengetahui apa yang mereka ingin tahu.

"Maaf Sakura-chan…" Naruto memeluknya dan Sakura menumpahkan lebih banyak air mata lagi.

Kichiro tidak tahu berapa lama ia berdiri di belakang pintu, memperhatikan ibunya yang masih menangis bahkan setelah Naruto dan Kakashi meninggalkannya atas permintaannya. Ia tidak tahu kapan ia akhirnya keluar dari persembunyiannya dan duduk di samping ibunya yang kemudian memeluknya dengan erat dan mengatakan, "Buat siapa kamu kehilangan segalanya Itachi…?"

---

Matahari terbenam. Malam membawa angin ya cukup dingin dari arah utara. Sungai masih mengalir tenang di lembah kematian.

Napas Sasuke mulai tersengal-sengal, begitu juga kedua lawannya. Mereka sekarang berdiri, saling berhadapan, menghentikan pertarungan mereka untuk istirahat sebentar.

"Kamu nggak bisa lolos Sasuke Uchiha," desis Kichiro.

"Ya… selama kalian masih hidup," Sasuke batuk.

Akira membisikkan sesuatu ke telinga Kichiro yang kemudian memandang Akira dengan serius dan terlihat seperti ingin protes, tetapi kemudian ia mengangguk. Kichiro kembali menyerang Sasuke, matanya penuh dendam dan amarah…

---

"Ehm Kichi…?"

"Jangan panggil aku Kichi."

"Oke. Ehm Kichiro?"Akira terus dengan panik melihat ke arah pintu.

"Apa?" Kichiro sibuk mencari di dalam tumpukan kertas yang sudah berdebu.

"Kamu yakin mau melakukan ini? Kalau sang Hokage tahu… ayah pernah bilang bibi Tsunade bisa jadi seram sekali. Kamu lihat sendiri 'kan waktu ayah bilang kita sebaiknya panggil dia nenek Tsunade… dia kuat sekali, walaupun sebentar lagi dia akan pensiun."

"Hm, kamu boleh kok pergi kalau mau."

"Yah gak mungkin dong! Kakashi-sensei selalu bilang pada kita, seorang ninja yang meninggalkan temanya-"

"Adalah ninja yang lebih rendah dari sampah, ya, ya" Kichiro melompat dan mengambil sebuah kardus dari lemari pojok atas. Ia membukanya dan debu berterbangan kemana-mana.

"Kayaknya ada yang datang…" Akira mulai terdengar takut saat melihat keluar dari jendela pintu yang kotor. Ia memperhatikan dua shinobi yang asyik mengobrol tentang para ninja medis dari rumah sakit.

"Siapa yang kesini? Ruang ini penuh debu, siapa yang mau pergi kesini jam segini ke ruang simpanan laporan?" Kichiro mengambil kardus yang lain.

"Benar juga sih…"

Kichiro terdiam saat membaca satu laporan. Inilah yang dicari-carinya. Dari luar terdengar beberapa suara.

"Kichiro..? Kamu menemukan file tentang ayahmu? Kasih lihat dong!" Akira berlari dan tidak sengaja menyengol sebuah kursi yang kemudian jatuh. Dari luar obrolan dua shinobi itu tiba-tiba terhenti.

"…. Dasar idiot…" desis Kichiro marah saat mendengar langkah seseorang mendekat.

"Kamu tunggu disana, biar aku lihat," terdengar dari luar.

Dengan cepat Kichiro melakukan beberapa segel. Pintunya terbuka dan salah seorang dari kedua shinobi itu melihat sekeliling. Kichiro tidak berani bergerak. Ia berharap jurusnya berhasil. Lalu dengan pelan orang itu pergi dan menutup pintunya.

"Gak ada yang aneh, mungkin cuma tikus."

Kichiro menghela napas. Ia menoleh ke belakang. "Sudah aman Akira…" dan melihat seekor marmut bersembunyi di belakangnya.

"…" Kichiro mengangkat alis. "Itu jurus yang jadi senjata rahasia yang kamu ingin tunjukkan padaku?"

Marmut itu kembali berubah menjadi Akira. "Hehe iya. Gimana hebat nggak?"

"Bodoh."

Akira mendengus kesal sambil menyilangkan kedua lengannya. Kichiro kembali membaca kertas yang dipegangnya.

"Eh ngomong-ngomong kenapa orang itu tidak melihat tempat ini berantakan? Dia nggak mungkin buta 'kan?"

"Aku tadi mencoba melakukan genjutsu."

"Wah hebat!!"

"Shhhhhh!" Kichiro menaruh jarinya di depan bibirnya.

"Sori… hehe," Akira nyengir. Lalu ia memperhatikan foto di atas kertas itu. "Dia mirip denganmu."

"Itachi Uchiha…" Kichiro tanpa sadar menyentuh foto itu.

Akira membaca laporan itu, tertulis tentang pembantaian sebuah klan, organisasi bernama Akatsuki, beberapa kasus pembunuhan… lalu ia melihat sebuah laporan lain yang ada di samping kardus, mungkin terjatuh waktu Kichiro mengambil semua laporan keluar. Akira memungutnya. Seorang lagi yang berambut hitam dan bermata hitam pula melihat ke arahnya.

"Sasuke Uchiha…?"

---

Sasuke tidak percaya apa yang dilihatnya. Akira diselumuti cakra berwarna merah yang mulai membentuk dua ekor di belakangnya.

"Siluman rubah bereekor sembilan… jadi setelah Naruto meninggal, mereka menyegelnya di dalam tubuhmu…? Benar-benar sebuah kejutan…" Sasuke tersenyum pasrah. Mereka benar-benar serius ingin membunuhnya.

Cakranya Akira bertambah besar dan ia berlari dengan kecepatan luar biasa ke arah Sasuke. Shinobi itu hanya sempat menghindar, tetapi lengannya terkena cakra itu dan ia menahan teriakan rasa sakitnya. Ia teringat akan Naruto yang pernah ia hampir bunuh di lembah ini seandainya ia tidak meminjami cakra siluman rubah bereekor sembilan.

Belum sempat Sasuke terbangun ia dihantam seseorang dari depan ke sisi jurang lembah. Suara seperti guntur terdengar di sekitarnya. Ia terkubur di dalam dinding jurang. Napas Sasuke tersengal-sengal. Semua tulangnya sudah patah. Ia memandang lubang goa di depannya yang bersinar kemerahan. Sebentar lagi matahari akan hilang sepenuhnya…

Sasuke melihat Akira berdiri di depannya. Cakra siluman rubah berekor sembilan menghilang. Sasuke sedikit heran. Lalu Akira meninggalkannya. Beberapa menit kemudian Kichiro masuk ke dalam lubang jurang dan berdiri di depan Sasuke. Ia memenggam sebuah pedang.

Sasuke menatap keponakannya dan menunggu. Tidak ada yang tahu berapa lama mereka saling memandang. Tanpa sharingan.

Saat Kichiro yang pertama bicara, goa itu sudah diselimuti kegelapan. Malam sudah datang.

"Ada sebuah keinginan terakhir?"

Sasuke tertawa sedikit, tetapi tawanya berubah menjadi batuk karena pendarahan di dalam tenggorokannya.

"Kalau kamu memang berbaik hati ingin mengabulkan sebuah permohonan terakhir… Katakan padaku… bagaimana… bagaimana… hidup ibumu dulu?"

Kichiro terdiam sebentar, lalu ia berbisik, "Ibu walaupun selalu terlihat memiliki beban berat ia simpan di dalam hati, ia sebenarnya bahagia. Ia selalu bilang aku merupakan orang paling berharga baginya. Ibu membesarkanku dengan baik. Aku sangat bangga pada ibu. Tapi ibu tidak pernah bisa memaafkan ayahku yang membohonginya."

Sasuke mengangguk. Setidaknya Sakura pernah bahagia… tapi ia mati karena kesalahannya. Sasuke tahu ini semua adalah kesalahannya. Dan ia harus membayar atas apa yang pernah ia lakukan. Ia ingin semuanya kembali ke asal. Ia menginginkan karma.

"Kichiro…" Sasuke mengangkat wajahnya melihat sebuah kilatan di depan matanya. Kedua lengan Kichiro terangkat.

"Jaga dirimu baik-baik…." Sasuke menutup kedua matanya. Ia pernah dengar dulu dari seseorang, bahwa sebelum ajal menjemput, seseorang akan teringat akan semua kejadian yang memiliki makna besar di dalam hidupnya. Seperti rekaman film yang diputar cepat…

"Nii-san! Lihat aku ya!"

---

"Kau dan aku adalah dua saudara yang unik Sasuke. Aku akan selalu jadi kakakmu walaupun kamu akan membenciku…"

---

"Kenapa Nii-san? Kenapa?!!!"

---

"Aku punya ambisi… kebangkitan klanku… dan membunuh seorang pria."

---

"Kenapa… kenapa aku malah jadi melindungimu… padahal aku sangat membencimu…"

---

"Sasuke… jangan termakan oleh dendam…"

---

"Bagiku… bersama dengan Sasuke rasanya seperti punya saudara."

---

"Kebencianku terhadapmu akan membuat mimpi menjadi kenyataan… kematianmu akan menjadi kenyataan…"

---

"Kau tidak tahu..? Itu semua adalah… untuk melindungimu."

---

"Tujuan kita yang selanjutnya adalah menghancurkan Konoha."

---

"Apa kamu tahu? Sakura sekarang punya anak dan dia mirip sekali dengan kamu, nggak tahu sih, bisa juga mirip Itachi haha- eh kamu mau kemana Sasuke?"

---

"Apa ini semua?! Kenapa kamu membunuhnya Madara?!!!"

"Gadis itu tahu semuanya tentang kita. Aku mendengarnya bagaimana ia berkata padamu tentang pembicaraannya yang terakhir dengan Itachi. Itachi telah memberitahunya rahasia akan jurus penyatuan para siluman. Itu sangat berbahaya bagi kita."

"Tapi tidak perlu sampai membunuhnya!!!"

"Kenapa tidak? Bukankah kamu juga mengacungkan pedangnya ke arahnya?"

"Saya hanya ingin melukainya!"

"Tidak mirip dengan Sasuke Uchiha yang ingin menghancurkan Konoha."

"Aku-!"

"Besok, kita akan berhadapan dengan sang Hokage keenam. Dan kita akan mengambil siluman berekor sembilan dari tubuhnya. Kamu mengerti Sasuke?"

---

"Naruto, seandainya tidak ada dunia shinobi, semuanya tidak akan sejauh ini…"

"Kamu masih tetap ingin balas dendam? Untuk apa? Demi siapa?"

"Aku harus membunuhmu."

"Itu tidak akan menyelesaikan apa-apa."

"Ayo kita mengambil siluman yang terakhir Sasuke."

"…tidak…"

"Apa?! Ohh... Jadi selama ini… Sasuke, kamu adalah mata-mata yang bekerja untuk Konoha?"

"Kamu telah mempergunakan Itachi, kamu ingin menghancurkan semuanya, kamu telah mengkhianati klanku. Kamulah yang sebenarnya ingin aku bunuh selama ini."

"Jadi kamu telah menyeldiki semua jurus dan kelemahanku dan bekerja sama dengan sang Hokage?"

"Aku membantumu menyerang Konoha, itu untuk memberimu bukti palsu terakhir kalau aku ada di pihakmu. Tapi kamu sampai membunuh seorang sahabat di depan mataku…"

"Oh jadi itu menjadi alasan kamu mempercepat eksekusiku?"

"Aku dan Naruto akan menghentikanmu untuk selamanya."

"Aku akui aku sangat terkesan Sasuke… tapi jangan berpikir kalau hal itu akan mudah."

"Ayo Naruto…"

"Seperti dulu kan Sasuke? Hehe."

"Seperti dulu…"

"Kamu benar-benar menjadi seperti Itachi."

---

"Naruto!! Naruto bertahanlah!" Para ninja medis akan datang sebentar lagi!!"

"Sudahlah Sasuke… aku sudah tidak tertolong…"

"Madara sudah mati! Semuanya sudah selesai! Tidak ada perang lagi..! Kita bisa bersahabat dan… dan… hidup tenang… Masih banyak yang harus aku lakukan. Aku masih harus menebus semua kesalahanku!"

"Makasih Sasuke… tapi kamu sudah melakukan begitu banyak buat kami…"

"Naruto..! Kenapa… kenapa kamu melindungiku tadi?"

"Dengan begitu kita impas…"

---

"Sasuke, kami semua sangat berterima kasih atas semua yang kamu lakukan. Berkat kamu dan Naruto kita bisa menghentikan Madara untuk selamanya."

"…"

"Sasuke? Kalau kamu mau kita akan mengadakan sebuah pertemuan besar besok dan mengumumkan bahwa kamu selama ini sebenarnya tidak bersalah dan telah bekerja sebagai mata-mata kita. Konoha akan kembali menyambutmu dengan senang."

"Aku tidak mau… ini semua salahku. Kematian Itachi, Sakura, Naruto… semuanya salahku."

"Sasuke…"

"Hokage. Aku hanya menginginkan satu hal. Aku ingin terus bekerja sebagai mata-matanya Konoha. Masih banyak pihak musuh dari sisa-sisa kelompok Akatsuki dan Orochimaru. Aku masih mengenal beberapa tempat dimana jurus-jurus rahasia Orochimaru diselidiki. Jika aku tetap bekerja sebagai mata-mata, Konoha akan lebih banyak mengetahui rahasia tentang mereka."

"Tapi namamu Sasuke! Kalau kamu tetap bekerja sebagai mata-mata maka semuanya akan tetap mengenalimu sebagai seorang pengkhianat dan seorang kriminal. Desa-desa yang lainnya akan tetap menganggapmu sebagai buronan kelas atas. Mereka akan mengejarmu sebagai seorang bekas anggota Akatsuki. Mereka akan membunuhmu. Aku harus terdiam dan merahasiakan semua kebenaran tentangmu!"

"Katakan pada semuanya, aku telah melarikan diri setelah Naruto membunuh Madara. Dan… ada sebuah permintaan lagi. Kalau nanti Konoha tidak bisa lagi menunda eksekusiku… aku ingin yang datang menghukumku adalah Kichiro Uchiha dan Akira Uzumaki. Aku ingin dieksekusi oleh mereka."

"Sasuke… aku tidak bisa-"

"Tolong Kakashi-sensei. Aku mohon. Ini permintaan terakhirku."

"Sasuke… kalau kamu sampai berlutut seperti itu. Aku sangat tidak setuju. Tapi apakah ini benar-benar keinginan terbesarmu? Mati sebagai seorang pengkhianat dan kriminal?"

"Ya…"

---

Akira melihat ke arah lubang di dalam sisi jurang saat berdiri di pinggir lembah. Bulan bersinar terang, terpantul di atas permukaan aliran sungai. Seekor elang tiba-tiba memekik lalu terbang mengepakan sayapnya keluar dari rimbunan daun dari pohon yang berdiri di atas jurang. Sesaat kemudian Kichiro keluar dari mulut goa. Ia melihat Akira lalu mengangguk pelan. Pedangnya berlumuran darah.

---

"Terima kasih. Kalian telah berhasil dengan baik," sang Hokage mengangguk ke arah Kichiro dan Akira. "Sekarang kalian sebaiknya pergi ke rumah sakit. Kalian terlihat parah sekali."

"Aku mau makan ramen dulu! Kichiro kamu ikut?" Akira memijat bahunya.

"Tidak aku mau ke rumah sakit dulu lalu pulang."

"Ya sudah. Sampai besok ayah," Akira nyengir lalu menghilang di belakang pintu kantor Hokage ketujuh. Sekarang hanya tinggal Kichiro dan Kakashi.

"Ada sesuatu yang ingin kamu katakana Kichiro?"

Kichiro memandang Kakashi. Ia menghela napas. "Sebenarnya hanya sebuah pertanyaan."

"Aku mendengar."

"Sasuke Uchiha… aku tidak bisa menjelaskannya. Apakah dia benar-benar seorang pengkhianat?"

"Kenapa kamu ragu sekarang Kichiro?" Kakashi menyangga punggungnya ke kursi. Ia tidak menatap kedua mata anak angkatnya.

"Sebelum aku mengeksekusinya… Ia sesaat mengingatkan aku akan ibu. Ia seperti sudah lama menginginkan kematiannya."

Kakashi menaruh topinya ke atas meja, seperti ingin terlihat sibuk, "Katakan padaku Kichiro. Apa kamu melihat desa yang dibakar oleh Sasuke sebelum kalian mengejarnya ke lembah kematian? Beritanya baru sampai sore ini."

"Ya, Sasuke Uchiha telah membakar sebuah desa kecil. Tanpa alasan. Desa itu hanyalah desa biasa."

"Apakah itu perbuatan yang terpuji?"

Kichiro menghela napas. Ia pasti cuma berkhayal tadi, bahwa mungkin Sasuke bukan seorang pengkhianat seperti yang dikatakan semua orang. Bagaimanapun juga ia adalah pembunuh kedua orang tuanya.

"Tidak Hokage."

"Kalau begitu kamu tidak perlu memikirkan soal Sasuke Uchiha lagi. Pergilah. Kamu bisa pulang sekarang."

Kichiro membungkuk hormat lalu meninggalkan kantor itu. Tidak lama setelah itu, Kakashi mengeluarkan sebuah kertas laporan dari lacinya yang terkunci. Laporan terakhir dari Sasuke yang menjelaskan tentang sebuah desa di dekat lembah kematian yang menjadi tempat rahasia terakhir dimana jurus-jurus rahasia Orochimaru masih diselidiki.

---

"Yo Kichi." Akira menemukan Kichiro duduk di bawah sebuah pohon di atas sebuah bukit dekat dari Konoha. Tempat rahasia mereka berdua.

"Hey."

"Tumben kamu tidak marah aku panggil Kichi."

"Hm." Akira tidak menghiraukan sahabatnya yang sekarang duduk di sampingnya.

"Apa itu?" Akira sekarang melihat dengan rasa penasaran foto yang dipandang Kichiro.

"Ibuku. Dan ayahku. Ibu tidak pernah mau cerita padaku bagaimana ia bisa punya foto bersama ayahku. Katanya itu adalah rahasia terbesarnya. Yang aku tahu hanyalah kalau keduanya melewatkan waktu bersama selama seminggu. Jauh dari Konoha. Hanya itu yang kutahu.

Foto itu memperlihatkan Itachi duduk di bawah sebuah pohon. Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi matanya memperlihatkan sekeping rasa damai. Di sampingnya berlututlah Sakura. Kedua tangannya terkepal di atas lututnya. Ia tersenyum. Kedua pipinya bersemu merah. Ia terlihat sangat muda.

"Akira?"

"Ya sobat?"

Kichiro menggenggam foto itu lebih erat, "Bagaimana sekarang? Kita sudah balas dendam. Kita masih hidup. Untuk sekarang semuanya damai. Tapi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

Akira yang jarang terlihat serius sekarang melihat ke arah matahari yang terbenam.

"Kita sekarang hidup demi diri kita sendiri. Melakukan apa yang kita anggap itu benar. Melindungi desa yang begitu dicintai oleh orang tua kami. Teruslah hidup."

Kichiro memasukkan foto itu ke dalam kantongnya. "Kamu benar," ujarnya tenang. Lalu sesaat kemudian, "Hari ini hari kematian ibumu… apa kamu tidak ingin pergi ke tempat peristirahatan?"

"Ya kalau setelah aku menyeretmu kembali ke desa," Akira nyengir.

Kichiro meninju bahu Akira dengan bercanda.

"Kita pergi mengunjungi kuburan kedua orang tua kita."

"Ide yang bagus."

Kichiro dan Akira kembali menunju desa Konoha. Sebelum sampai ke pintu gerbang, Akira bertanya, "Boleh aku tahu sebelum aku kehilangan keberanianku menanyakanmu, kenapa kamu membiarkan mayatnya Sasuke Uchiha hanyut di dalam sungai. Bukankah dulu kamu ingin membakarnya?"

Kichiro melihat dari atas seekor elang terbang menjauhi mereka. Elang itu menuju ke arah laut.

"Sungai itu menuju laut… aku punya perasaan ia ingin beristirahat disana. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa semarah itu lagi kepadanya. Sampai kapanpun aku tidak bisa kehilangan perasaan kalau ia ingin istirahat dengan tenang sekarang."

Akira melihat Kichiro dengan heran, tetapi kemudian ia menepuk bahunya lalu masuk melalui pintu gerbang.

Kichiro terhenti lalu melihat ke belakang. Ia melihat elang itu sekarang terbang di sisi seekor burung gagak. Dan entah kenapa pandangan itu membuat Kichiro meneteskan sebuah air mata.

Tamat


Ya itulah akhir dari "Kembali ke Asal" semoga telah menjawab semua pertanyaan kalian. Oh yaaa satu bagian yang tidak saya tulis disini, adalah dimana Hinata sebagai ketua sebuah kelompok ANBU mengejar Sasuke, tetapi kemudian mereka terkena jebakan dari pihak musuh yang lain. Sasuke mencoba menyelamatkannya, tetapi ia datang terlambat. Hal ini juga membuat Sasuke berpikir kalau kematian ibunya Akira adalah salahnya.

Saya telah menggambar beberapa gambar dari fanfiction saya, kalau punya scanner saya akan upload di deviantart.

Saya mau tetapi janji saya DX. Satu bab setiap dua minggu.

Oke sekian dulu. Sejak ini liburan paskah saya punya sedikit waktu menulis bab selanjutnya dari "Captured In His Eyes". Sampai jumpa!