Author : ChristineOnKey2MinKaiLu22

Cast : Kim Jong In ( Kai )

Xi Luhan ( Luhan )

Oh Sehun ( Sehun )

Jung Krystal, etc.

Genre : Romance, Hurt

Warning : Miss Typo, alur ga jelas, tidak sesuai EYD,

Don't Like Don't Read!

Happy Reading!

Luhan sudah tidak tau berapa banyak air mata yang jatuh dari matanya karena sikap dingin dan datarnya Kai. Luhan masih mengurung diri didalam kamar, sedang merenungi kenapa sekarang sikap kai berubah dari yang perhatian menjadi dingin terhadapnya.

Drt...drt, Luhan merasakan kalau telepon genggamnya bergetar dan mengangkat panggilan tersebut.

"Yeoboseoyo, Kai ada apa?", senang Luhan karena yang menelepon sang kekasih.

"Luhan, ada yang aku ingin bicarakan denganmu? Aku tunggu di cafe xoxo jam 2 siang ini", kata Kai dengan nada dingin setelah itu dia langsung matikan panggilan tersebut.

Luhan langsung kecewa biasanya sebelum mematikan teleponnya Kai selalu mengucapkan "saranghae" padanya.

"Ah, shit!", Kai melempar umpatan kesalnya saat tiba-tiba saja hujan mengguyur deras tanpa ada tanda akan mendung sebelumnya. Ia melepaskan jaket yang ia kenakan untuk kemudian ia tudungkan pada kepalanya sehingga terlindung dari tumpahan air langit.

Kai berlari tanpa memperdulikan kesibukan di sekitarnya. Bukan hanya dirinya, bahkan beberapa orang melakukan hal yang sama. Dapat ia rasakan dengan nyata jika hujan semakin lama semakin deras. Suatu hal yang tidak wajar jika tubuhnya tidak basah di

tengah hujan deras seperti ini. Ia terus berlari sampai akhirnya berhenti di depan Cafe yang terlihat hangat dan nyaman, tempat pertemuannya dengan Luhan. Mengatur napas

tersenggalnya beberapa saat sebelum kemudian ia memutuskan untuk masuk ke dalam.

"Astaga Kai, kau basah", deraan kekhawatiran langsung ia dapatkan begitu tubuhnya bergerak menuju salah satu meja dimana seseorang telah menunggunya.

Luhan. Pria dengan wajah cantiknya yang terlihat indah di tengah suara rinai hujan yang menggebu tampak memandangnya dengan penuh kecemasan. Tangan halus Luhan menangkup di kedua pipinya yang begitu dingin. Memberikan rasa hangat yang nyaman menyelubungi Kai untuk beberapa waktu.

"Seharusnya kau tidak perlu kesini", kini Luhan sibuk menggosokkan tangannya pada leher namja dengan tubuh tan atletisnya tersebut. Terus menggosok dengan perlahan dan tatapan lembutnya yang penuh kehangatan. Kai tidak bisa menghindari kenyataan jika ia nyaman dan merindukan segala perhatian yang diberikan Luhan untuknya sejak dia yang kurang perhatian terhadap Luhan 6 bulan yang lalu. Dia bukannya tidak tau tetapi sekarang dia bingung tentang perasaannya terhadap Luhan, kekasihnya yang juga namja seperti gender yang sama dengannya. Selalu merasakan lembut yang meneduhkan disetiap ia menatap manik mata deer berbinar laki-laki indah itu. Tapi entahlah, hidup harus memilih bukan?

"Sudah hentikan", ia menjauhkan tangan Kai dari tubuhnya kemudian beralih untuk duduk pada kursi di dekatnya. Luhan menghela napas beratnya dalam diam sembari mengalihkan tatapannya ke arah lain. Perih. Rasa semacam ini lah yang ia coba tahan agar tidak semakin memberi rasa siksaan terhadap batinnya. Ia masih berdiri beberapa saat sebelum kemudian kembali tersenyum hangat dan mengambil tempat duduk yang tepat berada di depan Kai.

"Ada yang ingin kau bicarakan?", tanyanya lembut sebelum setelahnya tangan indah miliknya bergerak meraih secangkir cokelat panas dihadapannya untuk kemudian ia letakan dihadapan Kai. Luhan memperhatikan Kai beberapa saat sebelum ia menarik

senyumnya untuk melanjutkan kembali kalimatnya. "Minumlah, ini masih begitu hangat".

"Luhan, aku ingin membicarakan sesuatu", ucap Kai. Ia sedikit penasaran melihat bagaimana reaksi Luhan setelah ia mengutarakan maksudnya. Apakah figure dengan mata deer indah ini masih akan menaruh perhatian terhadapnya?

"Aku tahu. Tapi kau terlihat kedinginan. Jadi sebaiknya kau hangatkan dirimu terlebih dahulu", Luhan kembali menyodorkan cangkir yang mengeluarkan kepulan asap hangat untuk Kai dan kemudian kembali tersenyum ketika Kai menerimanya untuk menegak habis isinya.

"Kau tahu bukan jika hubungan ini tidak wajar?", Kai memulai pembicaraan serius begitu ia meletakkan cangkir yang telah kosong diatas meja. Dari sudut matanya ia dapat menangkap kesimpulan bahwa Luhan tampak mematung tanpa ekspresi apapun.

"Aku tahu", jawabnya tertahan dalam tundukan kepalanya.

"Aku menyukai seorang yeoja", Kai memberi jeda pada kalimatnya, atau lebih tepatnya ia tidak ingin melanjutkan kembali kata-katanya. Ia terus mengamati wajah sendu di depannya, namun tetap tidak bisa memperoleh reaksi berarti dari Taemin.

Hening. Terasa hening bagi dua manusia ini di tengah ributnya deras air hujan yang menghantam bumi. Bahkan keributan beberapa pengunjung Cafe lainnya tidak berarti sedikitpun untuk mengusik sunyi yang membelenggu secara abstrak.

"Kau sudah menjalin hubungan dengan yeoja itu?", akhirnya Luhan mengangkat kepalanya meski tergurat jelas segala kekecewaan tersimpan dari caranya menatap Kai.

"Belum", Kai menggerakkan kepalanya dengan menggeleng. "Tapi aku akan segera melakukannya. Aku akan mendapatkannya".Tsk, terdengar begitu percaya diri memang, tapi bukan Kim Jongin jika ia tidak memperoleh apapun yang ia inginkan.

Luhan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berpura-pura memperhatikan rintikan hujan meski hal itu hanyalah alibi agar ia tidak memandang mata Kai. Matanya masih terus bertahan dengan hujan hingga setelah itu ia memejamkan matanya sesaat dan

suatu hal yang membuat Kai terperangah adalah, ia tersenyum dengan begitu hangat saat ia berpaling untuk memandang Kai kembali.

"Apa aku mengenal yeoja itu, Kai?", kata Luhan sambil tersenyum pada Kai. Walaupun dalam hatinya tersayat atas pengkhianatan Kai terhadapnya.

"Kau mengenalnya dia temanku dari Amerika", kata Kai sambil memalingkan mukanya pada Luhan. Kai tidak kuat melihat mata deer Luhan yang menyiratkan kekecewaan terhadapnya.

"Kau mengenalnya dia temanku dari Amerika", kata Kai sambil memalingkan mukanya pada Luhan. Kai tidak kuat melihat mata deer Luhan yang menyiratkan kekecewaan terhadapnya.

"Apa yeoja itu Jung Krystal, Kai?, Luhan bertanya kembali pada Kai dan hanya memastikan apa yeoja itu yang membuat Kai berubah menjadi orang yang datar dan dingin.

Kai membalikkan kepalanya dan bertatap muka dengan Luhan kembali.

"Ya, yeoja itu memang benar Jung Krystal teman masa kecilku dan juga cinta pertamaku? , kata Kai sambil menatap mata deer Luhan.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan", terdengar begitu tegar namun Kai bersumpah ia dapat mendengar dengan jelas jika suara lembut Luhan bergetar.

"Jeongmal gomawo untuk segalanya", ia bangkit dari posisinya sebelum kemudian membungkuk sopan ke arah Kai. Luhan mulai bergegas untuk meninggalkan Kai yang masih duduk ditempatnya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba saja ia membalikkan kembali tubuhnya.

"Kau kedinginan, pakailah jaket ini", Kai mendongak untuk selanjutnya mendapati dirinya sendiri dalam keadaan terkejut yang begitu luar biasa ketika Luhan, namja berkulit putih salju itu menyodorkan jaket miliknya untuk Kai.

Luhan menghela napas kesal karena Kai hanya termenung menatapnya. Merasa tak sabar, akhirnya ia meletakkan begitu saja jaket miliknya di atas meja sebelum setelah itu ia berbalik dan mulai ingin meninggalkan Kai.

"Luhan"

Langkah Luhan terhenti ketika suara lirih Kai terdengar memanggil namanya. Ia menunggu Kai mengatakan apa yang ingin disampaikannya tanpa berbalik sedikitpun.

"Jeongmal Gomawo"

Mata Luhan terpejam beberapa waktu, menghela napasnya dengan begitu dalam kemudian melangkah pergi tanpa mengucapkan kalimat apapun. Diam, adalah satu keputusan emas yang memang harus ia ambil. Terlalu takut jika ia membalas kalimat Kai, yang ada hanyalah suara bergetar penuh isak dari mulutnya.

Kai terpaku menatap punggung Luhan yang semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya seluruh tubuhnya menghilang di balik pintu. Refleks Kai meraih dadanya untuk ia cengkram kuat. Entahlah. Tapi sesuatu yang berbeda mendesak masuk mengetuk hatinya.

Namja bertubuh mungil itu berjalan sendiri menembus guyuran hujan yang masih sangat deras. Memilih bertemankan hujan dari pada menunggu sampai hujan pergi meninggalkan bumi. Ia merentangkan kedua tangannya dan membiarkan tetesan hujan membelai permukaan kulit wajahnya yang mendongak menatap langit.

Terdengar kekehan keras dari suaranya. Meski teredam diantara suara geraman air hujan, ia tidak peduli. Terus tertawa sendiri sebelum beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah. Tak ada lagi kekehan dari bibirnya, terganti dengan cairan bening yang berasal dari kedua mata deer indahnya.

Hujan. Meski hanya berupa tumpahan air, namun begitu rintikan derasnya menghantam kulit, tetap saja terasa sakit. Begitupun dengan air mata Luhan. Meski hanya berupa aliran air mata yang asin, namun begitu ia keluar menelusuri setiap permukaan kulit wajah Luhan, tetap saja akan terasa menyakitkan saat ia mengingat penyebab mengapa air mata itu bisa mengalir.

Isakan keras Luhan tersamar oleh hujan, sehingga ia merasa bebas untuk melakukannya tanpa peduli apapun. Hanya ketenangan yang ia perlukan. Tak lebih dari itu, semua hanya takdir semu yang menyakitkan bagi Luhan.

Terlahir sebagai seorang namja memberikan dua penyesalan besar untuk hidupnya. Pertama, apa yang akan ia lakukan dengan wajah cantiknya jika ia berstatus namja? Dan kedua, terlepas dari keadaan fisiknya, ia menyesal harus diberikan perasaan cinta yang justru membuatnya terikat perasaan dengan sesama namja.

Kini, siapa yang harus disalahkan atas penyesalannya? Tuhan kah?

Tidak. Suatu anugerah besar jika Tuhan menitipkan sebuah kehidupan untuknya. Kai?Meski namja itu yang membuat Luhan terikat dengan perasaan bernama cinta, namun bagaimanapun juga ia bukanlah orang yang memegang kendali atas perasaannya. Atau dirinya kah? Haruskah ia menyalahkan diri sendiri atas kepelikan hidupnya?

TBC

Karakter Sehun dan Krystal belum muncul mungkin di part selanjutnya?

Aduh kayaknya ceritanya makin ancur ya?

Mianhae klo masih ada miss typo'a?

Mianhae klo ada yang ga suka sama karakter dalam ff ini, soalnya ini crack pairing?

Mohon reviewnya ya chingu? buat penyemangat saya buat lanjutin ff ini