Sequel of Fever © ddideubeogeo17

.

.

Bittersweet Moments for Kim Mingyu

.

.

Inilah masa dimana Mingyu merasakan kebahagiaan yang membuncah sekaligus cobaan terberat dalam hidupnya

.

.

Yaoi. BxB. Typo(s). AU!. Mpreg!.

.

.

Hana

Dul

Set

Enjoy it~

.

.

.

Mingyu tidak pernah membayangkan hidupnya akan mengalami fase ini. Dulu ia sangat mengidam-idamkan hal tersebut dan cenderung tidak sabar, namun saat sudah dihadapkan pada situasinya langsung, Mingyu akui jika sedikit banyak ia merasa kewalahan.

Memang fase apa sih?

Fase dimana emosi sang istri sedang sulit ditebak. Sebentar-bentar bersikap manis, lalu tiba-tiba galak, tak lama kemudian menangis, dan masih banyak emosi yang sangat out of character dari seorang Kim –Jeon– Wonwoo.

"Mingyunie~"

Mingyu memejamkan mata erat, ia menarik napas dalam. Bersiap menghadapi tingkah sang istri yang mampu membuat saraf di sekujur tubuhnya menegang.

"Apa sayang?"

"Hiks hiks"

"E–eh? Sayangku kenapa?" Mingyu segera beranjak dari dapur dan menghampiri Wonwoo yang memang sedari tadi berada di ruang tengah, sementara Mingyu di dapur menyiapkan kudapan berupa buah-buahan untuk kesayangannya.

Sesampainya di ruang tengah, Mingyu bisa melihat Wonwoo tengah menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Mingyu panik, dengan gelagapan ia segera membawa tubuh Wonwoo ke dalam pelukannya.

"Sayangnya Mingyu, kenapa?"

Wonwoo tidak menjawab, ia balas memeluk tubuh Mingyu masih dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.

Mingyu tidak bisa berkata-kata dan tak tahu harus melakukan apa, ia sungguh bingung.

"Sayang?" tanya Mingyu dengan tangan yang tidak berhenti mengusap kepala Wonwoo, istrinya itu tengah mengusalkan wajah di leher Mingyu.

"Hiks hiks Mingyunie~"

Mingyu benar-benar pusing dengan tangisan Wonwoo yang semakin menjadi. Bukan apa, hanya saja Mingyu khawatir jika mata Wonwoo akan bengkak nantinya. Sebab bukannya mereda, bahkan sekarang Mingyu bisa merasakan tetesan air mata Wonwoo di lehernya.

Mingyu meregangkan paksa pelukan keduanya, ia menangkup wajah Wonwoo dan mengusap air mata yang membasahi wajah sang istri. "Ssshh sayangnya Mingyunie ini kenapa sih, hm?"

Wonwoo diam, jari-jari tangannya berputar-putar membuat pola abstrak di dada bidang Mingyu yang tertutupi kaos santai.

"Wonwoo sayang? Kenapa?"

Mata Wonwoo sesekali melirik mata Mingyu dan kemudian menunduk kembali, terus berulang hingga beberapa kali. Mingyu tak berani berucap sepatah kata pun, takut jika bertanya lagi maka Wonwoo akan mengira jika Mingyu memaksanya.

"Aku tidak suka."

"Hm?"

"Aku tidak suka cerita di novel yang kemarin kau belikan! Sangat menyedihkan, Mingyunie! Hatiku sakit membacanya."

Mingyu menghela napas dalam, 'Ya Tuhan, ini semua hanya karena sebuah novel?!' batin Mingyu tak habis pikir.

"Ya sudah, jangan dibaca lagi." Ujar Mingyu berusaha selembut mungkin sambil merapihkan poni Wonwoo yang sudah memanjang menutupi dahinya, menambah kadar kemanisan sang istri yang tengah mengandung.

Wonwoo menggeleng, "Tidak, jika tidak membaca sampai selesai rasanya seperti ada yang mengganjal. Tidak seru."

Mingyu terkekeh geli melihat ekspresi Wonwoo. Siapa yang menyangka jika Wonwoo yang lebih sering berekspresi datar, bisa sebegitu menggemaskannya jika sudah di depan Mingyu.

"Tapi daripada menangis seperti ini, lebih baik tidak usah dibaca saja. Jangan memaksakan diri, oke? Aku sedih tahu melihat kesayanganku ini menangis." Ujar Mingyu sambil menyeka bekas air mata di pipi halus Wonwoo.

Wonwoo tersenyum tipis, dengan mata yang masih berkaca-kaca sisa menangis dan pipi yang terdapat bekas air mata, sungguh ia terlihat begitu menggemaskan.

Mingyu mencubit kecil pipi Wonwoo, kemudian ia mengusap bekas cubitan main-mainnya itu.

"Kenapa tersenyum-senyum manis begitu? Tidak tahu apa jika detakan jantungku jadi semakin menggila?"

Wonwoo justru terkekeh, "Dasar perayu ulung!"

"Eiyh~ Biar begini, kau mencintaiku, kan?"

"Tidak."

"Sayang?!"

"Tidak salah lagi." Setelah menjawab begitu Wonwoo dengan santainya mengecup kilat bibir Mingyu, lalu ia merebahkan tubuh di sofa dan menjadikan paha Mingyu sebagai alas kepalanya.

Mingyu tersenyum, ia mengusap sayang kepala Wonwoo. "Sayang, bangun dulu. Aku mau mengambil buah-buahan yang tadi sudah ku potong."

Wonwoo menggeleng, ia mengambil salah satu lengan Mingyu dan memeluknya.

"Tumben manja, kenapa hm?" tanya Mingyu heran.

Bukannya tidak senang, justru mendapati sikap Wonwoo yang seperti ini ia sangat bahagia. Hanya saja memang agak aneh jika Wonwoo bertingkah clingy begini.

"Aku tidak mau kau seperti tokoh di novel itu! Masa dia meninggalkan kekasihnya hanya karena masalah sepele!" sungut Wonwoo tanpa sadar.

Mingyu tersenyum geli melihat Wonwoo yang sangat ekspresif, "Memang apa masalah sepelenya?"

"Dia mengakhiri hubungan dengan kekasih yang sudah dipacarinya salama bertahun-tahun dan malah menerima perjodohan dari orangtuanya, kau tahu sebabnya apa? Hanya karena sang kekasih selalu mengabaikannya. Padahal tidak seperti itu! Karakter kekasihnya memang pendiam dan tidak pandai mengeskpresikan diri."

"Karakternya sepertimu dong?"

"Ish!"

"Pffthahaha" Mingyu merunduk dan mengecupi bibir Wonwoo berkali-kali karena gemas.

"Jadi hanya karena itu kau menangis, hm?"

"Apa?! 'Hanya' kau bilang? Uhhh dasar tidak berperasaan!" Wonwoo sontak mendudukan tubuhnya dan menghadap Mingyu. Ia memukul dada Mingyu sebal.

"E–eh?" Mingyu menelan ludah gugup saat sepasang mata sipit sang istri menghujamnya, seolah-olah tengah melubangi kepala Mingyu dengan tatapan tajam itu.

"Coba bayangkan jika dirimu memiliki sifat bawaan lahir yang memang pendiam seperti itu, namun karena kau tidak bisa mengungkapkan perasaamu dengan benar, lalu aku meninggalkanmu. Kemudian aku memilih menikah dengan orang lain, bagaimana?"

"Andwae! Kenapa diumpakan pada kita?"

"Agar kau tahu bagaimana sedihnya aku saat membaca cerita itu, dan tidak menyepelekan orang yang menangis karena suatu bacaan."

"Sayang, aku tidak bermaksud begitu."

"Terserah. Pokoknya aku sebal padamu!" Wonwoo menolehkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap Mingyu.

Sementara Mingyu tengah mengusap wajahnya frustasi, 'Baru beberapa menit yang lalu dia menangis, sekarang sudah marah-marah lagi. Ya ampun, untung aku sangat mencintaimu. Coba jika aku tidak mencintaimu, eh tapi itu tidak mungkin sih. Arghhh! Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?' batin Mingyu pusing sendiri.

"Kenapa diam saja?!"

"Ne?!" Mingyu terkejut dengan pertanyaan Wonwoo yang begitu tiba-tiba.

"Kenapa kau diam saja? Tidak berniat minta maaf? Atau membujukku?"

"Aku minta maaf." Ujar Mingyu cepat.

"Kau pasti tidak tulus! Dan kenapa harus menunggu disuruh olehku?" tanya Wonwoo dengan bibir yang tanpa sadar melengkung ke bawah. Raut wajahnya menunjukan kekecewaan.

"Sayangku, tidak tidak, bukan begitu." Mingyu panik melihat raut wajah Wonwoo yang sangat menyedihkan, sudah seperti tokoh protagonis yang tengah disakiti dalam suatu drama.

"Kau sudah tidak menyayangiku dan aegi ya? Kau sudah tidak memedulikan kami! Kau–"

Ucapan Wonwoo terputus saat bibir Mingyu menubruk lembut bibirnya, mereka berdua terdiam dalam posisi itu selama beberapa saat.

Hingga saat Mingyu tahu jika Wonwoo sudah mulai tenang, dilepasnya tautan bibir itu. Ia menangkup wajah Wonwoo, dan menatap matanya dalam.

"Jangan berkata begitu lagi. Kau dan calon anak kita itu prioritas utamaku, bahkan aku rela melakukan apapun demi kalian."

"Benarkah? Tapi aku merajuk saja, kau sudah tidak mau repot-repot merayuku seperti biasa!"

'Sabar dan kuatkan aku, Tuhan.' Batin Mingyu memohon.

Mingyu mendekap –lagi– tubuh ramping Wonwoo dengan erat. "Sayang~ Kau tahu jika aku memang paling bodoh dalam menyangkut urusan perasaan, kan? Bahkan sepupumu Hansol, selalu bilang jika tingkat kepekaanku itu berada di level terendah, sangat memprihatinkan."

Wonwoo diam, ia menyimak perkataan Mingyu.

"Dan asal kau tahu, tadi aku tengah berpikir tentang apa yang harus ku lakukan pada si manis kesayangannya Mingyu ini. Aku tidak ingin salah berucap atau bertindak."

Wonwoo secara tiba-tiba mengecup sudut bibir Mingyu,"Hu'um. Entah kenapa tadi bawaannya aku ingin marah padamu. Maaf ya, Mingyunie~"

Mingyu tersenyum, ia mengangguk pelan. 'Hah~ Syukurlah, Wonwooku dalam mode manja sudah kembali.' batinnya senang.

"Sayang?"

"Hm?"

"Makan buahnya, jadi tidak?"

Wonwoo menggeleng, ia memeluk leher Mingyu dan berbisik, "Taruh di kulkas saja ya, aegi sedang ingin tiduran berbantalkan paha appanya."

"Itu keinginan aegi atau eommanya, hm?" tanya Mingyu dengan menyematkan senyum jahil hingga gigi taringnya ikut mengintip, lalu ia mengecup kilat hidung Wonwoo.

"Jika keinginan dua-duanya, boleh tidak?" tanya Wonwoo balik dengan wajah polosnya.

"Tentu boleh! Tunggu ya." Mingyu mengelus perut Wonwoo lalu mengecup bibirnya kilat, kemudian ia segera ke dapur untuk memasukan buah-buahan tadi ke dalam kulkas.

Sedangkan Wonwoo, ia tengah tersenyum sambil mengusap perutnya. Sudah memasuki bulan keenam masa kehamilan, dan Wonwoo akui ia salut pada Mingyu yang kebal menghadapi segala tingkahnya.

Wonwoo terkadang berpikir jika emosinya sedang tidak stabil, maka sikapnya akan benar-benar persis seperti Mingyu. Bahkan semenjak masa kehamilannya, Wonwoo merasa jika sikapnya dan Mingyu jadi tertukar.

Wonwoo jadi mudah merajuk, selalu ingin diperhatikan Mingyu, bahkan ia cenderung lebih manja. Sementara Mingyu, ia masih tetap hobi menggombali sang istri, namun di luar itu semua sikapnya jadi mirip seperti Wonwoo, cenderung lebih tenang, penyabar, dan yang pasti mampu bersikap dewasa menyikapi segala tingkah ajaib Wonwoo.

"Mingyunie~ Cepatlah!" teriak Wonwoo tidak sabaran.

"Ay ay, tunggu sebentar Wonwooku!"

Wonwoo bisa melihat jika Mingyu berlari dari dapur dan segera duduk di sampingnya, kemudian lelaki bermarga Kim itu menarik pelan bahu Wonwoo guna memposisikan agar sang istri tidur berbaring.

Wonwoo memejamkan mata saat tangan Mingyu mulai mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang, dan sesekali mengusap perutnya juga.

Meskipun hanya bersantai di atas sofa ruang tengah, namun akhir pekan itu terasa sangat menyenangkan bagi keduanya.

.

.

.

.

.

THE END

*Hmm tadinya sequel fever cuma chap sebelumnya aja, pas wonu lagi ngidam/? Tapi setelah baca beberapa review, iya juga sih. Kalo dilanjut kek nya seru juga, cuma masalahnya ide di otak esvi itu pasaran, jadi ya maaf2 aja kalo hasilnya begini wkwk

**esvi gabisa ngejanjiin apapun, dan gatau ini bakal ada lanjutannya atau ngga. Tp kalau ada inspirasi esvi bakal update, tapi kalo idenya mentok yaaa ngga hehe. Lagipula, mungkin kalau ada lanjutannya pun cuma cerita2 singkat yg ringan tanpa konflik serius. Yang mau nyumbang ide atau request juga boleh, walau esvi ga janji bisa menuhin request-an itu secepatnya.

***mind to RnR? Gomawo^^