TITLE : CALL ME KAI
GENRE : DRAMA. ROMACE. FS
MC : HUNKAI
RATED : T – M
WARNING! GS
TYPO(S) EVERYWHERE
Ps : Chapter ini semuanya Flashback. Dan disini bakal aku jelasin gimana ceritannya mereka bisa saling kenal dan siapa Jongin sama Kai.
....
FLASHBACK
Cercahan sinar matahari musim panas yang hangat masuk melalui jendela yang tertutup korden dengan tidak rapat. Berkas – berkas sinarnya masuk secara perlahan dan semakin terang kala matahari sudah naik dengan sempurna. Seberkas cahaya mengenai tepat diwajah seorang lelaki tinggi yang sedang tidur dengan tidak elitnya diatas sofa ruang tamu. Pria tinggi itu (Park Chanyeol) semalam terpaksa tertidur diatas sofa yang panjangnya setengah dari tubuhnya, ini akibat dari menunggui sorang pria lain yang sampai sekarang ini masih terjaga didepan layar labtop yang menampilkan tulisan – tulisan kecil berbait rapat. Matanya sudah mulai memerah dan kantung mata hitam terlihat jelas dibawah mata sipit pria yang masih memandang layar persegi panjang itu.
'HOOAAMM'
Chanyeol terjaga dari tidurnya, kemudian bangkit sambil meregangkan ototnya yang kaku karena tidur dengan posisi tidak nyaman.
"Badanku". Kata Chanyeol setelah selesai dengan peregangannya. "Kau sudah bangun, Kapan? Ku kira hanya aku yang bangun terlalu pagi".
Chanyeol terus berbicara sedangkan kakinya mulai melangkah menuju dapur. Ia menggeledah seluru isi rak makan mencari cari bungkus kopi miliknya yang ia bawa dari Seoul. 'Ini masih pagi menyeduh kopi mungkin asik' begitu pikirnya sebelumnya. Karena tidak menemukan apa yang dia cari maka Chanyeol memutuskan untuk membuka kulkas lalu mengambil sebotol air. 'Bukankah semalam semuanya masih utuh. Lalu kemana semua kopi – kopinya? Sehun tidak mungkin meminumnya. Chanyeol sudah hafal diluar kepala kalau Sehun telah berhenti mengkonsumsi kopi'.
Tidak mau ambil pusing Chanyeol melangkahkan kakinya keruang tamu menghampiri kawannya yang masih setia berkutat dengan sebuah layar.
"Aku menaruh semua kopiku dirak kemarin, tapi kenapa sekarang tidak ada ya! Apa kau melihatnya Hun?". Chanyeol meminum air dari botol ditangannya setelah selesai bertanya pada Sehun. Belum sampai dikerongkongan kini air dalam mulutnya sudah menyembur setengah keluar dari mulutnya.
"Kau minum kopi, Semuanya? Oh Sehun!". Chanyeol meletakan botol air minumnya lalu tangannya teralih untuk menyentuh cangkir – cangkir kopi yang berserakan dilantai samping meja ruang tamu.
"Ada sekitar 10 bungkus kopi instan dan aku hanya menyeduh satu bungkus, jangan bilang kau meminum sembilan sisanya". Kalau dihitung dari cangkir plastik yang ada sudah tidak diragukan lagi, pasti lelaki ini pelaku pencurian kopinya.
"Ya Oh Sehun! Tunggu, apa itu kantung mata? Kau tidak tidur semalaman?". Chanyeol terus meneriaki pemuda disampingnya, walaupun tidak ada respon yang berarti dari lawan bicaranya.
Sehun baru menghentikan pekerjaannya setelah Chanyeol menutup paksa layar labtopnya.
"Hyung!". Sehun baru akan protes tapi Chanyeol lebih dulu memulai bicara.
"Dengarya, Aku mengajakmu kemari untuk menemani Hyungmu ini berlibur. Bukan untuk mengajakmu pindah kerja. Aku heran padahal kau sudah hampir setahun ini berhenti bekerja, tapi kau terus saja sibuk dibulan liburan seperti ini. Awas saja kalau Paman Oh tau kau masih mencari data – data sialan itu". Chanyeol menghentikan ocehannya lalu matanya menatap melotot kearah Sehun. Detik berikutnya tagannya beralih membuka labtop yang tadi ia tutup paksa.
Mulutnya mengangah saat melihat apa yang ada dilayar di hadapannya. Layar itu menampilkan sebuah data keluar masuk penerbangan dibeberapa negara.
"Kau gila!". Iya mungkin hanya dua kata itu yang pantas untuk Sehun. Mencari satu nama orang diantara jutaan orang yang keluar masuk sebuah negara sama saja dengan mencari jerami ditumpukan jarum.
"Kau akan mendapat masalah sebentar lagi Tuan Oh!".
"Aku tidak akan dapat masalah kalau Hyung diam dan tidak mengadu pada ayah".
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi kali ini. Lalu tubuhnya terhempas begitu saja disofa bekas tidurnya tadi. Kalau begini caranya bisa mati stres dia. Bayangkan saja ini sudah hari ketiga acara liburan musim panas Busannya yang tadinya ia pikir akan sangat menyenangkan karena akan terbebas dari pekerjaan selama seminggu. Tapi ini juga salahnya bukankah awalnya Sehun menolak saat ia menawarkan liburan akhir musim semi lalu. Nasi sudah menjadi bubur sekarang Sehun sudah bersamanya dan mengacaukan liburan yang sangat ia nanti – nanti selama setahun terakhir.
Bunyi air kran kamar mandi membuyarakan penyesalan pagi Park Chanyeol. Sehun mandi? Tidak biasanya dia mandi sepagi ini.
Beberapa menit kemudian Sehun keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melingkar dipinggang serta tangannya yang terus mengelus rambutnya yang basa dengan handuk lainnya.
"Mandilah Hyung! Aku tidak mau jalan – jalan dengan orang bau iler".
Apa barusan telinga yodanya tidak salah dengar. Sehun bilang jalan – jalan.
"Kau tidak sedang merayukukan?". Chanyeol bangkit dari posisinya lalu menatap Sehun dengan memicing.
"Ya aku merayumu! Hyung pikir aku tidak tau apa yang ada dipikiran hyung sekarang. Bisa mati stres aku". Kini Sehun berucap menirukan Chanyeol diakhir kalimatnya.
"Bagaimana kau tahu! Aish kau benar – benar!". Sepontan Chanyeol langsung menutup matanya dengan telapak tangan miliknya. Oh Sehun dengan mode seperti ini benar – benar menghawatirkan.
...
Pantai Haeundae, Busan
Sekarang Chanyeol dan Sehun sedang berjalan ditepi Pantai Haeundae. Sebuah pantai pasir putih yang terkenal di Busan. Mereka sangat menikmati suasana pantai dengan terik matahari yang tidak begitu menyengat. Chanyeol tersenyum idiot saat beberapa kali kakinya terseret ombak. Lalu Sehun yang biasanya nampak suram hari ini dapat tersenyum karena kehadiran Chanyeol yang selalu ampuh menularkan energi positif pada orang sekitarnya.
"Tuh kan sudah kubilang, udara segar dapat membuat stresmu hilang".
"Kau yang stres Hyung bukan aku".
"Baiklah kita seri". Kemudian keduanya tertawa bersama dan berjalan beririgan dipinggir pantai.
"Hyung! kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku karena mengajakmu jalan – jalan".
"Kenapa harus berterima kasih. Bukankah ini memang yang seharusnya kita lakukan saat liburan. Kau saja yang terlalu sibuk dengan duniamu sendiri sampai lupa kalau kita sedang ada di Busan".
"Ya! Setidaknya beliakan aku minuman atau apa. Hyung yang memaksaku ikut. Ingat?".
Kedua alis Chanyeol berkerut. Kalau dipikir – pikir kasian juga anak ini sudah dipaksa habis kerja lembur pula.
"Kau tunggu sini jangan hilang kemana – mana! Aku akan mengurus sesuatu". Seringai muncul diwajah Sehun. Nampaknya pemuda yang tidak kalah tinggi dengan Chanyeol itu sudah tau apa makna 'Sebuah Urusan' bagi Park Chanyeol.
Chanyeol sedang menganteri untuk membeli 'Suatu Urusan' yang ia janjikan untuk Sehun. Antrean cukup panjang sampai membuatnya harus mengibaskan tangan untuk mendinginkan badannya karena panas matahari menjelang sore yang sudah mulai terik.
Selang waktu berikutnya Chanyeol sudah hampir mendekati sipenjual hanya tinggal seorang lelaki yang kini sedang memesan, kemudian seorang wanita berambut pendek sebahu dibarisan nomor dua dan dua orang berpakaian pelajar SMA yang berdiri tepat dihadapannya. Chanyeol maju satu langkah saat lelaki pertama selesai dengan urusannya.
"Gamsahamnida Ajushi".
Chanyeol langsung meninggikan kepalanya begitu mendengar suara wanita berambut pendek sebahu tadi mengucapkan terima kasih pada ajushi yang melayani pesanan tempatnya mengantri. Suara itu! Ya Chanyeol ingat betul suara itu sama persis dengan suara gadis yang ada di video yang setiap malam Sehun lihat.
Wanita itu berjalan begitu saja melalui Chanyeol dan membuat Chanyeol dengan jelas melihat wajah gadis yang ia sangka adalah kekasih Sehun yang hilang beberapa tahun lalu. Dia memang tidak dekat dengan Jongin (nama kekasih Sehun), tapi dirinya tahu betul bagai mana wajah dan rupa Jongin walau hanya beberapa kali bertemu ditempat kerja.
"Tuan? Anda jadi memesan?". Kembali suara ajushi tadi membuyarkan konsentrasi Chanyeol. Ternyata dua orang anak SMA didepannya tadi sudah pergi makanya ajushi itu memanggilnya.
Chanyeol datang menghampiri Sehun yang sudah duduk tergelepar diatas pasir.
"Kenapa lama sekali Hyung?". Tanya sehun setelah menerima makanan berbungkus kertas dari Chanyeol. "Aku mengantri cukup panjang". Sehun hanya mengangguk atas jawaban dari Hyungnya.
"Apa jika kekasihmu memotong rambutnya kau masih mengenalinya?".
Sehun mengangguk mantap. "Tentu saja kami sudah tinggal bersama untuk waktu yang lama".
"Lalu apa pendapatmu jika aku baru saja bertemu dengan Jongin".
Sehun menghentikan acara makannya. "Tidak mungkin ini Korea Hyung! Dia hilang diluar Korea. dan kemungkinan besar dia ada di Korea Utara atau masih disekitar Edinburgh".
"Tapi aku baru saja bertemu dengannya. Disini! Di Busan!".
"Kau jangan mengada – ada Hyung!".
"Aku serius, bukankah kau selalu melacaknya diluar Korea dan tidak pernah menumukannya? Itu semua mungkin saja kalau dia ada di dalam Korea. Jadi sekeras apapun kau melacak juga tidak akan ketemu jika dia ada negara yang selalu kau abaikan".
"Kau yang meyakinkan aku kalau Jongin telah meninggal Hyung! Lalu sekarang dengan gampannya kau bilang kalau kau baru saja bertemu dengannya!". Sehun terlihat tidak nyaman dengan arah pembicaraan Chanyeol.
"Kau mau kemana Hun?".
"Aku akan kembali kehotel". Chanyeol mencegah Sehun yang hedak bangkit dari duduknya dengan mencekal tangan lelaki casper itu.
"Kita baru dua jam diluar kamar hotel!"
"Itu salah Hyung karena sudah menghancurkan moodku".
Park Chanyeol hanya bisa pasrah ketika jejak kaki Sehun mulai terlihat diatas pasir putih yang kemudian hilang diterpa ombak.
...
Besok Chanyeol dan Sehun sudah harus meninggalkan Busan untuk kembali kepada rutinitas padat mereka di Seoul yang keduannya tinggal selama beberapa hari terakhir ini.
Di hari – hari setelah kejadian di Pantai, Chanyeol selalu berusaha untuk menyakinkan Sehun kalau dirinya benar – benar bertemu dengan Jongin. Tapi semua itu hanya menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri. Karena setiap kali mereka masuk kedalam topik itu yang lebih muda pasti akan ngambek dan mogok untuk di ajak jalan – jalan. Kan berabe kalau harus terus terkurung di dalam kamar hotel yang pengap. Bisa – bisa kulitya jadi sama pucatnya dengan Sehun.
"Hun hari ini temani aku ya!". Chanyeol coba merayu Sehun kali ini.
"Tidak Jalan – jalan kok! Hanya ke Pasar sebentar saja. Aku akan membelikanmu lobster dan membuatkanmu sup. Bagaimana?"
Sehun masih tetap tidak bergeming dari tempat tidurnya. Malah dia semakin mengeratkan gulungan selimut tebalnya.
"Ayolah Hun. Besok kita harus pulang! Aku tidak mau dibully sepupumu lagi. Dia pasti akan mengejekku karena liburanku begitu menyedihkan".
"Jam sepuluh! Aku masih ngantuk".
"Kau mau? Yeay asahh".
Chanyeol besorak gembira. Akhirnya sifat batu Sehun berhasil ditaklukannya dengan Lobster Busan.
.
.
Ditempat lain
"Kai nanti sebelum siang temani bibi kepasar ya".
"Lagi Bi?, bukannya tadi pagi – pagi sekali Bibi baru dari Pasar ya!".
"Iya, tapi karena kau akan segera kembali ke Seoul Bibi memutuskan untuk belanja lagi dan memasakan makannan kesukaanmu".
"Sup Lobster pedas?". Bibinya mengangguk dengan senyum hangat.
"Apapun untukmu sayang". Kai berjalan menghampiri Bibinya yang sedang menyiram bunga dihalaman. Lalu tangannya dengan hangat mulai melingkar pada pinggang ramping Bibinya.
"Terima kasih Bi, untuk semua yang telah Bibi korbankan untuk ku dan juga Kakak. Dan maaf karena kami telah menjadi beban untuk hidup Bibi".
"Kalian bukan beban. Jika ada yang harus minta maaf disini maka akulah yang pantas melakukannya Kai. Bibi sudah lalai menjaga kalian dan membiarkan Kakakmu pergi jauh dari mu".
"Kakak suka Sup Lobster Pedas, Dia selalu menghabiskan bagianku. Ya sudah Kai mandi dulu kita berangakat tiga puluh menit dari sekarang".
Bibi Kai hanya tersenyum simpul sambil memandangi punggung keponakan semata wayangnya yang perlahan hilang masuk kedalam rumahnya. Kilatan – kilatan memori lama mulai terputar dengan seksama dalam ingatan wanita berkepala empat itu. Ingatan saat Jongin yang pulang dengan seragam SMA nya lalu Kai kecil yang menangis karena berebut mainan dengan anak tetangga rumah sebelahnya. Sudah hampir sepuluh tahun wanita itu mengemban amanah dari Kakak lelakinya untuk menjaga dan merawat kakak beradik Kim itu. Wanita itu tidak pernah kesepian dalam beberapa tahun terakhir karena kehadiran dua gadis itu dalam hidupnya. Tapi sejak Jongin pergi tanpa kabar wanita bermarga Kim itu mulai kesepian lagi. Jongin pergi, begitu pula Kai yang sudah memulai kuliahnya di Seoul setahun belakangan ini.
"BIBI BISA TOLONG AMBILKAN AKU SABUN!"
Suara teriakan Kai terdengar sampai ketelinga Bibinya yang masih berada diluar Rumah. 'Hem anak itu lagi – lagi, Dasar pelupa'.
...
Pasar Jagalchi, Busan
Dua pemuda jangkung itu sedang berjalan berdampingan ditengah keramaian Pasar Jagalchi yang notabenya adalah Pasar Ikan terbesar di Korea Selatan. Kau selalu bisa mendapatkan semua yang kau mau disini. Apalagi hal yang berbau ikan, jangan tanya lagi mulai ikan yang kecil sekecil teri nasi sampai yang sebesar lumba – lumba ada di Pasar ini.
"Kenapa ke Pasar Ikan?".
"Aku kan sudah bilang akan membelikanmu Lobster. Jadi kalau tidak kesini ya kemana lagi".
"Aku tidak suka Sup Lobster Hyung".
"Mwo? Jangan bilang kau berhenti makan Sup Lobster sama dengan kau berhenti minum kopi gara – gara Jongin?".
Sehun mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan terlihat malas untuk mulai membahas obrolan unfaedah itu untuknya.
"Seberapa banyak dirimu berubah? Apa Paman Oh sudah tau banyak?".
"Jika kau terus membahas ini lebih baik kita pulang sekarang Hyung!".
"Iya iya. Kau ini sensi sekali". Chanyeol kembali berjalan diikuti Sehun dibelakangnya. "Tapi aku akan tetap membeli Lobster karena kita sudah terlanjur disini". Sehun hanya mengigit bibir bawanya seolah mengatakan 'Terserah Hyung saja'.
Saat sudah menemukan yang dicari, Chanyeol mulai memilih – milih Lobster mana yang kira – kira cocok dengan keinginannya. Saat sudah menemukan yang cocok Chanyeol merogoh saku jaketnya mencari – cari dompetnya.
"Ah Hun dompetku ketinggalan disaku mantel dan mantelku ada didalam mobil. Bisa tolong kau ambilkan! Aku masih harus memilih beberapa hal lain". Sehun tidak berkata apa – apa. Lelaki itu hanya menurut dan langsung melenggang pergi dari sana.
Saat sedang memilih – milih ikan tanpa sengaja tangan Chanyeol bersentuhan dengan salah satu tangan pembeli disana. Dan...
Bukankah dia wanita yang ia temui di Pantai kemarin. Jika dilihat dari dekat wajah perempuan itu sangat mirip dengan Jongin. Apalagi saat tersenyum mereka seperti pinang dibelah dua.
Wanita itu menoleh kemudian tersenyum kearah Chanyeol sambil sedikit menundukan kepalanya setelah tangan mereka bersentuhan.
Seorang wanita parubaya memanggil wanita yang mirip dengan Jongin itu. Setelah membayar yang mereka beli keduanya pergi meniggalkan penjual ikan tempat Chanyeol yang masih mematung.
'Ini bukan halusinasikan? Itu benar benar Jongin. Walau ada beberapa hal yang terlihat berbeda. Tanpa berfikir dua kali Chanyeol langsung berlari menghampiri wanita tadi dan menarik tangannya sehingga wajah mereka saling bertatapan.
"Ada apa Tuan? Apa saya meninggalkan sesuatu?".
"Tidak, tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya di Seoul?".
"Bagaimana anda tau kalau saya tinggal di Seoul? Tapi saya baru memulai kuliah dan tinggal sekitar setahun di Seoul. Dan sepertinya kita baru bertemu beberapa menit yang lalu!".
"Siapa nama Agashi?".
"Kai. Kim Kai!".
"Oh kalau begitu saya salah orang. Maaf telah membuang waktu anda".
Gadis itu yang telah diketahui Chanyeol bernama lengkap Kim Kai tersenyum manis sebelum akhirnya pergi dan hilang ditengah kerumunan orang didalam Pasar.
'Kim Kai? Marganya sama, wajahnya sangat mirip bahkan suaranya! Tapi kenapa dia tidak mengenalku?'
Chanyeol terus memutar otaknya mencari – cari hubungan antara Kim Jongin dan Kim Kai. Bukan tidak mungkin jika gadis tadi adik Jongin. Tapi kalau dipikir – pikir lagi mungkin juga. Sekarang umurnya 28 tahun dan Jongin seumuran dengan Sehun berarti usianya sekitar 25 atau 26 tahun. Jika gadis tadi baru setahun berkuliah berarti usiannya sekitar awal 20 tahunan. Beda 6 tahun bukan tidak mungkin jika mereka seorang kakak beradik. Tapi apamungkin dunia sesempit itu? Bahkan dirinya tidak tau pasti Jongin punya saudara kandung atau tidak.
"Nak kau jadi membeli atau tidak?". Suara sang penjual ikan tadi terdengar keras ditelinga besar pemuda jangkung itu.
"Iya jadi Paman!" Chanyeol berjalan menghampiri sipedagan dan menemukan Sehun yang sedang berlajan tidak jauh dari sana.
Chanyeol membayar semua belanjaanya lalu berjalan menuju jalan keluar Pasar bersama Sehun. Dalam pikirannya dia terus menimang – nimang apa iya harus menanyakan hal tadi pada Sehun atau tidak.
"Apa Jongin punya Saudara kandung? Seperti seorang adik misalnya".
"Kurasa iya. Aku melihat fotonya bersama seorang remaja berbaju SMP didalam dompetnya. Memangnya kenapa? Sepertinya kau mulai tertarik dengan Jongin belakangan ini".
"Apa pendapatmu jika aku baru saja bertemu dengan Adik Jongin".
"Apa ini mengarah pada wanita yang kau bilang mirip Jongin di Pantai kemarin". Mereka menghentikan jalan masing – masing dan mulai saling bertatapan untuk bicara yang mengarah pada mode serius.
"Mungkin iya! Tapi aku bertemu dengannya lagi saat kau pergi untuk mengambilkan dompetku yang tertinggal". Alis Sehun saling taut seolah meminta penjelasan atas apa yang baru saja dia dengar.
"Kami bertemu bahkan bicara. Wajah, suara dan bahkan marga mereka sama. Dan dia baru saja memulai kulia di Seoul. Itu berarti dia lebih muda dari Jongin". Chanyeol mejeda kaliamatnya. "Apa mungkin dia Adik Jongin?".
"Bukan! Dia bukan Adik jongin. Ada ratusan wajah dan suara orang yang mirip didunia ini Hyung. Apalagi marga, ada jutaan orang bermarga Kim di Korea yang dapat kau temui di Pasar Ikan sekalipun".
"Itu karena kau belum melihatnya. Ayolah kita cari dia lalu kita tanyakan padanya. Mungkin dengan begitu kau akan percaya kata – kata kami kalau Jongin sudah pergi untuk selama – lamanya".
Sehun mengerti dengan maksut Chanyeol. Lelaki itu pasti mengajaknya bertemu wanita yang ia sebut – sebut sebagai adik Jongin untuk meyakinkan dirinya bahwa Jonginnya telah pergi untuk selama – lamanya atau dalam istilah kasarnya mati.
Tapi memang pada dasarnya Sehun masih belum menerima kenyataan. "Tidak perlu aku bisa mencarinya sendiri".
"Tapi jika kau bertanya mungkin masalahmu akan cepat selesai Hun". Chanyeol berusaha mengejar Sehun yang berjalan menghindar darinya.
"Apa Kau belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya? Jika itu benar kau harus merelakannya Hun. Apa sesulit itu untuk melupakan seseorang setelah kau move on pada orang lain selama dua tahun ini".
Sehun menghentikan langkah panjangnya dan menjatuhkan kantung belanjaan dari kedua tangannya. Wajahnya nampak merah padam karena menahan marah. Kalau tidak sedang di tempat umum mungkin rahang Chanyeol sudah bergeser karena tinjuan Sehun.
"Iya aku tidak bisa menerima semuannya". Kata Sehun sambil menutup matanya. Kilatan kemarahan terlihat jelas dari mata elangnya saat dirinya membuka mata.
"Jika Hyung ada diposisiku lalu Baekhyun menghilang tanpa kabar dan semua orang mengatakan orang yang sangat kau cintai itu telah mati apa kau akan langsung percaya?". Suara Sehun meninggi diakhir kalimatnya.
"Tidak! Karena itu tidak akan pernah terjadi pada hubungan kami. Ini semua salahmu karena berhubungan dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya". Ucapan Chanyeol terdengar datar tapi sangat menusuk bagi Sehun.
Sehun sudah tidak bisa berkata – kata lagi kemarahannya sudah memuncak sampai keubun – ubun mendengar kata – kata terakhir dari Chanyeol. Kenapa pemuda itu malah ikut campur dalam masalah pribadinya. Ayahnya bahkan iya – iya saja saat mengetahui hubungannya dengan Jongin.
"Kau Keterlaluan Hyung!". Itu kata – kata terakhir Sehun sebelum dirinya berlari meninggalkan Chanyeol sendirian.
...
Chanyeol pulang sendirian ke Hotel karena Sehun meninggalkannya sendirian tadi. Saat sampai didalam Hotel Chanyeol sedikit kebingungan saat mendapati ruangan itu dalam keadaan gelap gulita.
Tangannya menekan tombol saklar dan membuat ruangan terang karena cahaya dari lampu. Ruang tamu tampak bersih, tidak adalagi dikumen – dokumen milik Sehun yang biasanya tercecer disana. Langkahnya tertuju pada kamar. Dibukannya lemari pakaian dan dapat ia ketahui bahwa pakain dan barang – barang Sehun sudah tidak ada. Kemudian kakinya berlari kecil menuju rak sepatu. Dan lagi – lagi sepatu Sehun tidak ada.
"Kau tidak benar – benar pulang ke Seoul kan Hun?". Tanya Chanyeol entah pada siapa.
Kemudian tangannya mencari ponsel lalu mencari nomor Sehun dan segera menghubunginya.
"Kau dimana? Kenapa semua barang – barangmu tidak ada?".
"Kau pulang?".
"Baiklah sampaikan salamku pada Baekhyun. Mungkin aku akan lebih lama tinggal disini".
Chanyeol menutup sambungan teleponnya. Sekarang tekadnya sudah bulat dia akan mencari Kim Kai untuk membantu Sehun menyelesaikan masalahnya.
...
Keesokan harinya Chanyeol kembali lagi ke Pasar Jagalchi. Menghampiri pedagang ikan kemarin.
"Apa kau datang untuk membeli Lobster lagi?". Tanya si pria tua.
"Tidak Tuan! Saya hanya ingin bertanya. Apa Tuan mengenal seorang Ahjuma yang belanja disini bersama saya kemarin siang?". Dahi pria tua itu berkerut. Seperti sedang berfikir tentang apa yang baru saja ditanyakan oleh Chanyeol.
"Seorang Ahjuma besama anaknya bernama Kim Kai! Dia membeli Lobster yang sama dengan saya". Tambah Chanyeol memperjelas.
"Nyonya Kim?". Chanyeol mengangguk mantap
"Apa Ajushi tau dimana rumahnya?".
Rumah Bibi Kim
"Kai ada seorang lelaki mencarimu!".
"Siapa Bi?".
"Sepertinya dia lelaki yang kau bilang salah orang di Pasar! Apa barangmu benar – benar tertinggal padanya? Mungkin dia berniat mengembalikan".
"Tidak kok Bi! Aku sudah mengeceknya dan tidak ada yang hilang". Kai berkata sambil berjalan menuju ruang tamu. Dia melihat seorang lelaki dengan tubuh tinggi duduk disalah satu sofa yang menghadap keluar rumah.
"Ada maksut apa Tuan kemari?". Suara kai terdengar dari dalam rumah. Lalu menghampiri Chanyeol yang sedang duduk dalam diam.
"Apa Tuan sedang mencari saya?". Tanya Kai lagi.
"Tidak perlu seformal itu. Bukankah usia kita tidak terpaut begitu jauh".
"Saya tidak mengerti maksut anda? Kenapa tidak langsung keintinya saja".
Chanyeol menghela nafas ringan. "Baiklah. Aku hanya ingin bertanya, apa kau adik Kim Jongin?".
"Bagaimana anda tau?".
"Jadi benar kau adik Jongin?".
Chanyeol mengeluarkan sesuatau dari dompetnya, kemudian menyerahkannya pada Kai.
"Aku dan kakak mu bekerja ditempat yang sama. Aku kesini untuk mencari kakakmu!".
"Kami sudah tidak berhubungan sejak dua tahun terakhir ini. Jadi aku tidak tau dimana dia sekarang".
'bahkan keluarganya sendiri juga tidak tau dimana Jongin'.
"Sejak kapan kakakku menjadi bagian dari NIS?".
"Kau juga tidak tau kalau kakakmu bekerja pada negaranya sendiri".
"Dia sudah meninggalkan rumah sejak lulus SMA untuk melanjutkan kuliahnya di Seoul. Kami menjalani hubungan jarak jauh selama kakakku kuliah, kurang lebih selama empat tahun. Dan kami masih sering berhubungan selama itu. Dia bilang setelah lulus dia sudah bekerja tapi aku tidak bertanya dimana dia bekerja karena hubungan kami masih lancar. Tapi dia tidak bisa dibungi dua tahun belakangan ini". Jelas Kai dengan panjang kebar.
"Jongin juga sudah menghilang dari pekerjaannya selama dua tahun terakhir. Salah seorang dari kami sudah berusaha mencarinya tapi sampai sekarang Jongin masih belum jelas ada dimana". Keluh Chanyeol pada Kai.
"Bukankah kalian Badan Intelegent Negara? Pasti bukan perkara sulit untuk menemukan satu orang saja".
"Aku tidak tau bagaimana mengatakannya tapi menurut analisa kami kemungkinan Jongin sudah meninggal".
"Mwo?".
"Maaf bukan aku bermaksut kasar tapi kemungkinan besar Jongin memang sudah meninggal".
"Jika anda kesini hanya untuk bicara hal tidak penting seperti tadi, lebih baik ada keluar sekarang!".
"Baiklah tapi kalau kau butu bantuan kau bisa mecariku ke Seoul. Kau bisa membaca kartu namaku kan".
.
Beberapa Minggu Setelahnya
.
Seoul, Korea Selatan
"Ya Park Chanyeol!". Gadis bermata sipit itu terus saja meneriaki nama kekasihnya sejak dari meja resepsionis.
"Ada apa Baby?". Baekhyun yang mendengar suara kekasihnya langsung mendekat dan meleyangkan satu tabokan dipantat sintal kekasihnya itu.
"Ya! Kenapa kau memukulku?".
"Kau pantas mendapatkannya!". Jawab Baekhyun dengan ketus.
"Apalagi sih salahku Baek? Kau ini setiap hari seperti sedang PMS saja".
"Kau kira aku tidak tau kalau kau baru saja menghamili seorang anak sekolahan!".
"Tunggu – tunggu aku menghamili? Anak sekolah lagi, kau ini suka sekali menudu kekasih sendiri yang tidak – tidak".
"Kalau begitu siapa wanita yang mencarimu di resepsionis?". Tanya Baekhyun dengan nada lebih tenang dari sebelumnya.
"Ada yang mencariku? Apa dia seorang wanita muda dengan rambut sebahu dengan kulit tan eksotis?".
"Ya! jadi kau benar menghamili wanita itu?".
"Yes! Aku sudah menunggunya beberapa minggu ini". Baekhyun hanya memandangi kekasihnya dengan tatapan kosong. Menyesal dia selalu mengabaikan nasihat Sehun.
...
"Kau ingin mencari Jongin?". Kai mengangguk mantap.
"Maaf tapi aku bukan seorang yang bisa membantumu mencari Jongin".
"Bukankah anda yang menyuruhku datang saat aku sudah berubah pikiran? Aku sekarang datang dan aku sudah berubah pikiran. Aku ingin mencari Kakakku".
"Maafkan aku tapi aku tidak bisa. Kalau tidak ada yang mau kau tanyakan lagi aku harus pergi ada pekerjaan yang menungguku". Chanyeol beranjak dari duduknya.
"Ku mohon tolong aku. Dia satu – satunya yang aku punya dan ada sesuatu yang harus kutanyakan pada Kakakku. Semua itu sangat menentukan hidupku". Ucap kai dengan nada sekaligus wajah memelas
Chanyeol berbalik. "Baiklah jika kau memaksa, tapi aku tidak yakin ini akan berhasil atau tidak". Chanyeol kembali pada posisi duduknya semula.
"Sekarang kau pulang lalu besok kembalilah jam sembilan pagi! Dan jangan sampai terlambat". Chanyeol menjeda kaliamatnya lalu memperhatikan dengan seksama penampilan Kai hari ini yang nampak sangat santai dengan jelana jeans dan kemeja kotak – kotaknya.
"Dan yang paling penting kau harus berpenampilan seperti orang yang meyakinkan! Dan jangan terlalu memakai make up tebal. Kau harus membuat dirimu terlihat pintar dan meyakinkan. Kau mengerti maksutku kan!".
.
Kesokan Harinya
.
Hari ini Kai kembali datang kekantor NIS dengan setelah baju yang lebih formal. Masih dengan tema kotak – kotaknya, Kai menggunakan kemeja putih yang dimasukan kedalam rok kotak – kotak selutut serta sepatu tanpa hak dan rambut dibiarkan terurai tanpa hiasan apapun.
"Kau datang lebih awal ya. Sudah membawa apa yang aku minta?".
Kai membuka tas punggungnya lalu mengeluarkan beberapa dokumen dan memberikannya pada Chanyeol. Setelahnya Chanyeol menarik tangannya masuk kedalam gedung besar tempat markas Badan Intelegent Korea yang terkenal dengan keelitannya itu.
"Jadi dia benar – benar adik Jongin? Aku tidak heran wajah mereka sama persis. Bagaimana menurutmu Eonni?". Perempuan disamping Baekhyun hanya tersenyum dengan memperlihatkan dimple pipinya sebagai tanggapan dari perkataan penuh bumbu drama dari Baekhyun.
"Kau benar – benar harus mengusahakannya Baek! Dan Yixing Noona aku mohon bantuannya hanya Noona yang bisa kupercaya mengurus ini".
"Kau tenang saja Chan. Aku dan Baekhyun aku mengusahkan sebisa kami. Tapi ini semua tergantung pada Paman kekasihmu".
"Sekarang kau pergilah urus pekerjaamu. Aku akan mengurus Kai".
Chanyeol tersenyum dengan ikhlas kemudian berlalu meninggalkan Kai pada Baekhyun dan Yixing.
"Baiklah Kai namaku Byun Baekhyun dan ini Zhang YiXing. Karena sepertinya kami lebih tua jadi kau bisa panggil kami Eonni! Yixing Eonni akan mengurus sisanya sekarang kau ikut aku, kau harus bertemu seseorang".
Kai mengekor dibelakang Baekhyun. Sampai keduanya masuk kedalam sebuah ruang kerja yang didominasi kesan klasik yang sangat ketara.
Didalam ruangan itu Kai bertemu dengan seorang lelaki berusia setengah abad yang kemudian ia ketahui kalau lelaki yang dipanggil Baekhyun dengan sebutan Paman Oh adalah Ayah dari Oh Sehun. Dan didalam ruangan itu juga Kai untuk pertama kalinya bertemu dengan sosok Oh Sehun yang selalu menjadi bahasan mereka selama beberapa jam terakhir. Sebelum pria berwajah sedikit western itu masuk dengan sangat terlambat.
Walaupun pada akhirnya Kai harus diusir paksa keluar dari ruangan oleh Sehun. 'Siapa sebenarnya lelaki itu? Dia sepertinya tau lebih banyak tentang kakaknya dari pada Kai sendiri'.
"Sudah selesai". Chanyeol dan Yixing datang menghampiri Kai.
"Aku tidak tau! Sepertinya belum".
"Apa Baekhyun ada didalam? Tanya Chanyeol lagi.
Belum sempat Kai menjawab Baekhyun sudah keluar duluan dari dalam ruangan tadi.
"Sebaiknya kau pulang dulu Kai. Kami masih belum bisa memutuskan sekarang. Aku akan segera menghubungi mu setelah ini". Baekhyun kemudian memanggil seorang lelaki yang kemudian mengantar Kai kedepan gedung.
"Kita perlu bicara serius"
Ruang Kerja Baekhyun
Baekhyun menutup rapat semua jendela dan pintu ruangan agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka bertiga.
"Ini lebih rumit dari yang kita pikirkan". Baekhyun memulai perbincangan.
"Sehun marah pada kita! Terutama pada Chanyeol Oppa".
"Apa Pamanmu itu tetap memaksa Sehun kembali keperkejaanya?".
"Disituasi yang kritis seperti sekarang ini anggota Intelligence on North Korea adalah yang terpenting dalam NIS untuk mengawasi kegiatan di Korea Utara, Karena Sehun berhenti otomatis hanya ada Lee Taeyong disana sebagai pemimpin sekaligus penanggung jawab". Baekhyun memperjelas.
"Lalu kenapa jika hanya ada Lee Taeyong? Dia sama cerdasnya dengan Sehun". Sanggah Yixing.
"Taeyeong masih terlalu muda. Dari segi pengalaman dia juga kalah jauh dengan Sehun. Apalagi bertindak sebagai pemimpin dan penanggung jawab sekaligus! Itu bukan perkara yang muda Noona". Jawab Chanyeol dengan nada menggantung.
"Beberapa Badan lainnya juga sudah mulai mengeluh karena kemunduran Sehun. Perannya terlalu besar, ditambah dengan pengaruh Ayahnya disini. Kita adalah butiran debu jika melawan Sehun dalam masalah pekerjaan".
"Apa Sehyun juga tidak bisa membantu?". Sahut Yixing dengan penuh harap.
"Oh Sehyun atau Choi Minho sekalipun tidak bisa berbuat apa – apa. Lagi pula mereka tidak bisa pulang dari Amerika dengan mudah". Jawab Baekhyun dengan putus asa.
"Kita harus cari lain Chan. Jika dibiarkan terlalu lama aku takut mereka mengetahui tentang Kai".
"Maafkan aku Noona tapi kau tahu kan aku bukan apa – apa disini!". Chanyeol menunduk dalam.
"Jangan mengatakan itu lagi. Jangan pernah merendahkan dirimu karena posisimu". Baekhyun berkata dengan halus kemudian memeluk Chanyeol dengan erat dan mengelus punggung pria yang telah singgah dalam hidupnya selama hampir lima tahun itu dengan lembut dan penuh perasaan.
Didepan kantor NIS
Kai sedang berjalan keluar dari dalam gedung megah itu dengan pelan. Didalam otaknya wanita itu sekarang sedang menimang – nimang sesuatu.
"Tunggu!". Sebuah suara berat dan langkah kaki tergesa terdengar mendekat kearahnya.
GREBB
Tiba – tiba saja tubuhnya dipeluk dengan erat oleh pemilik suara itu. Kai berusaha melepaskan diri tapi pelukan itu malah semakin erat mengekang tubuhnya.
"Kau tahu seberapa besar rinduku padamu?". Kai menahan nafas mendengar suara orang yang memeluknya. Itu suara Oh Sehun! Kenapa orang ini tiba – tiba memeluknya.
Sehun melepaskan pelukannya kemudian menatap Kai dalam – dalam. Tampak ada sedikit rasa kecewa diraut wajahnya.
"Apa yang kau lakukan? EMMPPP". Bibir Kai terkatup dalam saat Sehun mulai memagut bibirnya dengan lembut. 'Apa – apaan pria ini kenal saja belum sudah bilang rindu kemudian menciumku lagi' bisik Kai pada dirinya sendiri.
Dengan sekuat tenaga Kai mendorong tubuh Sehun darinya. Kemudian tangannya dengan kasar mengusap bibirnya yang belepotan oleh salivanya yang bercampur dengan milik Sehun.
Wajah Sehun berubah datar seketika kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Kai dengan penuh tanda tanya besar. "Mianhae Kim Kai". Itu adalah kata – kata terakhir Sehun sebelum benar – benar pergi dari sana dengan mobilnya.
"Ya! kau baik – baik saja Kai?". Baekhyun yang melihat semua kejadian tadi datang menghampiri Kai begitu Sehun sudah benar – benar tak terlihat.
Kai masih cengong ditempatnya. Jiwa nya masih hilang entah kemana, badannya panas seketika dan pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.
Keesokan Harinya
Chanyeol berjalan dengan tergesa – gesa, beberapa kali dirinya membukung pada rekan kerjannya yang tidak sengaja tertabrak atau tersenggol tubuh tingginya. Langkah panjangnya terhenti saat melihat Yixing yang sedang berkutat dengan komputernya.
"Bagaimana mereka tahu?". Tanya Chanyeol dengan nafas memburu.
"Aku juga tidak Chan. Datanya hilang begitu saja".
"Apa Noona sudah menemukan penyebabnya?".
"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang lebih gawat sekarang nama Jongin berada dijajaran teratas most wanted Korea Utara". Yixing masih terus berkutat dengan komputernya. "Seandainya kita tau apa yang Jongin dan Sehun sembunyikan. Kita bisa memulai nego dengan mereka".
"Aku sudah mencoba membujuk Sehun tapi dia tidak mau memberi petunjuk barang satu huruf saja". Chanyeol yang frustasi mulai mengacak rambutnya.
"Nyawa Kai dalam bahaya jika ini tidak segera diatasi".
"Yeolla~". Baekhyun berlari menghampiri meja kerja Yixing dengan raut wajah tegang sekaligus khawatir yang sangat ketara.
"Sehun pergi dia sudah pergi!". Serunya sambil menyerahakan selembar kertas A4 pada Chanyeol. "Aku tidak mengira dia akan secepat ini. Semalam aku mendapat laporan kalau seorang mantan anggota NIS meminta perpanjangan Paspor. Aku tidak berfikir kalau itu Sehun".
"Kita harus segera menghentikannya!". Kata Chanyeol sambil mengambil ancang – ancang untuk berlari.
"Terlambat Yeolla~. Sehun sudah berangkat menggunakan penerbangan pagi". Sesal Baekhyun lagi. Chanyeol menjatuhkan tangannya yang memegang kertas A4 dari Baekhyun. Selesai sudah semuanya.
Tiba tiba ponsel yang ada disaku Chanyeol berdering dan menampilakan nama orang yang sedang hinggap dalam pikirannya.
"Oh Sajangnim? Untuk apa dia menelfonmu?". Tanya Yixing pada Chanyeol setelah selesai menerima telepon.
"Ini belum berakhir!".
.
TBC
.
Ini udah lebih dari sebulan setelah aku upded Chapter pertama. Gak nyangka ada yang mau baca apalagi comment sama fav.
ada yang tanya: judul ff ini diganti ya thor?
jawabannya: iya. nggak tau kenapa yang pertama agak kurang srekk aja
yang kemarin ngingetin tentang uke sama seme aku makasih banget soalnya aku juga gak sadar kenapa pengantarnya malah kayak gitu (maaf ya)
Aku mau tanya sama kalian, jadi kalian itu lebih suka ff ini perchapternya dibuat panjang apa pendek? Kalau pendek itu 1k – 3k kata kalau panjang bisa lebih dari 5k. Tolong jawab di comment ya soalnya aku rada bimbang pas updednya takut kalau kepanjangan kalian malah bosen.
See You Next Chap Kawan ~
