DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16 (light novel) © Kodansha, 2011. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Oke, saya tahu konsekuensinya kalau punya dua fic multichapter yang sama-sama lagi on-going. Mau nggak mau saya harus bagi perhatian saya sama kedua fic itu...

Karena itulah saya meng-update fic ini!

Nah, rencananya, chapter 2 ini adalah satu-satunya chapter yang menggunakan POV Doremi, sedangkan chapter lainnya akan saya tulis dengan menggunakan POV Kotake (seperti chapter 1 kemarin), tapi ini belum fix sih. Masih ada kemungkinan rencananya akan berubah.

Anyway, selamat membaca!


Love?

.

Chapter 2 – Impatient


Doremi's POV

'Tak ada jawaban...'

Sudah hampir setengah tahun sejak aku memberikan surat itu kepadanya, tapi ia masih tak kunjung menjawabnya juga...

Apa yang terjadi?

Aku tahu bahwa mungkin saja ia tak sempat menjawab suratku karena kesibukannya berlatih di klub sepak bola, tapi... kalau saat itu saja ia sempat menerima suratku di pantai itu, kenapa sekarang ia tidak sempat menjawabnya? Dan kenapa harus selama ini aku menunggu jawaban darinya yang sampai sekarang tak kunjung datang?

Sebenarnya... apa yang terjadi? Apa sekarang ia sudah tidak mencintaiku lagi? Apa rasa itu telah hilang dari hatinya sejak penampilannya berubah dan membuat dirinya menjadi populer? Apakah dia telah menghapus namaku dari dalam hatinya?

Sebelumnya, aku sangat yakin bahwa ia memang pernah mencintaiku, dan memang, aku merasa bersalah karena tidak pernah menyadarinya selama ini, sampai pada suatu ketika Hazuki, seorang sahabatku sejak kecil, membuatku menyadari bahwa perhatian yang ia berikan padaku selama ini lebih dari perhatian seorang teman. Ia mencintaiku.

Tapi... sekarang aku merasa ragu. Kalau memang ia masih mencintaiku saat ini, kenapa ia tak kunjung memberikan jawaban apapun atas suratku? Kenapa ia tega membuatku menunggu selama ini?

Apa yang dipikirkannya?

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku mengakui bahwa aku memang tidak memperhatikan kalau selama ini ia menaruh perasaan yang lebih terhadapku, tapi lambat laun aku menyadari semua itu. Aku menyadari bahwa semua perhatian yang pernah ia berikan padaku adalah bukti bahwa ia mencintaiku.

Aku masih ingat betul dengan kata-kata yang kutulis dalam surat itu. Surat yang masih belum terjawab juga...

.

Dear, Kotake.

Mungkin kau bertanya-tanya, apa yang membuatku ingin sekali bertemu denganmu di pantai hari ini, tapi didalam surat ini, aku akan menjelaskan hal itu padamu.

Apa yang akan kujelaskan dalam surat ini mungkin akan membuatmu sedikit tidak percaya, bahkan mungkin kau akan berkata bahwa aku tidak serius menulis hal itu, tapi disini, aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa apa yang kutulis dalam surat ini benar-benar merupakan apa yang kurasakan dari hatiku yang paling dalam: aku mencintaimu.

Sudah bertahun-tahun aku mencari arti cinta yang sesungguhnya, dan kurasa kau juga mengetahui akan hal itu. Selama ini, aku sudah pernah jatuh cinta kepada banyak orang, tapi dari sekian banyak orang itu, tidak pernah ada satupun yang bisa membalas perasaanku seutuhnya...

Namun sekarang aku menyadari, bahwa aku tak perlu mencari sosok cinta sejatiku terlalu jauh, karena ada kau yang selama ini peduli padaku.

Ya, aku memang telah mengetahui semua itu, dan aku minta maaf kalau selama ini aku tidak memperhatikan hal itu, karena aku percaya, orang lain pasti akan langsung mengetahuinya ketika melihat semua perhatianmu padaku.

Aku benar-benar menyesal karena aku baru menyadari hal itu saat ini, dan aku baru mengetahuinya dari orang lain. Seandainya aku bisa lebih peka terhadap perasaanmu, mungkin sudah sejak dulu aku menuliskan surat ini untukmu.

Karena itulah aku menulis surat ini, hanya untuk memastikan bahwa rasa itu masih ada untukku, dan kuharap kau dapat dengan cepat menjawabnya, demi kejelasan hubungan kita kedepannya. Kutunggu jawabanmu secepatnya.

Doremi.

.

Aku masih memikirkan hal itu. Kenapa sampai sekarang, Kotake belum menjawab suratku...

Memang selama ini, Kotake telah banyak berubah. Sekarang, ia menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Wajahnya juga menjadi lebih tampan. Aku bahkan tidak mengira bahwa ia akan berubah menjadi seperti itu.

Karena bakatnya bermain bola, ia bahkan menjadi kapten tim sepak bola sekolah kami, membuatnya menjadi sangat populer dan digemari hampir semua siswi SMP Misora mulai dari adik kelas, teman seangkatan, sampai senior sekalipun.

Aku tersentak. Jangan-jangan Kotake telah berpaling ke salah satu diantara sekian banyak penggemarnya itu, karena banyak juga diantara mereka yang berpenampilan menarik, tidak seperti aku yang hanya berpenampilan seadanya saja.

Itukah sebabnya Kotake tidak pernah menjawab suratku? Karena ia telah mencintai gadis lain yang lebih cantik dariku? Tapi... bagaimana denganku?

Baiklah, kurasa semuanya sudah jelas. Dia tidak ingin menjawabnya karena ia tidak ingin melukai perasaanku dengan jawabannya yang sudah jelas dibenakku: "Kau terlambat. Aku sudah mencintai gadis lain, dan apa yang kaurasakan itu sudah tidak penting lagi buatku."

Dan selesailah semuanya. Aku telah gagal untuk kesekian kalinya.

Aku menghela nafas. Mengapa hal ini selalu menjadi hal yang terberat buatku? Mengapa sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan cinta sejatiku?

Aku tahu, bahwa semua orang diciptakan berpasang-pasangan, dan suatu hari nanti, aku pasti akan bertemu dengan cinta sejatiku, tapi... kapan hal itu akan terjadi?

Mungkin aku terkesan tak sabar dalam hal ini, tapi aku bersikap seperti itu bukan tanpa alasan. Hampir semua orang yang berada di dekatku yang seumuran denganku telah memiliki kekasih hatinya masing-masing. Tidak salah kan, kalau aku ingin sekali seperti mereka?

Aku melangkahkan kakiku kedepan cermin yang biasa kugunakan untuk menatap pantulan wajahku saat aku menyiapkan penampilanku, kemudian memandang kearah pantulan wajahku disana, dan kupikir... wajahku tidak terlalu jelek. Kurasa wajahku terlihat cukup cantik...

Lalu apa yang membuatku belum juga memiliki pacar sampai sekarang?

Aku memperhatikan warna mataku. Tidak ada yang salah dalam hal itu. Menurutku, warna magenta di mataku membuatku terlihat manis.

Hidungku juga lumayan. Tidak terlalu mancung, tapi juga tidak bisa dibilang pesek.

Aku lalu memaksakan diri untuk tersenyum (walau apa yang baru saja kusadari membuat hatiku terluka untuk kesekian kalinya), dan aku merasa bahwa senyumanku terlihat natural. Aku cukup cantik dengan penampilan seperti ini. Gigiku juga tumbuh dengan rapi di sekeliling mulutku...

Baik, ada satu hal yang masih belum kuamati, dan itu adalah rambutku.

Harus kuakui, sudah banyak orang yang mengatakan bahwa model rambutku ini sangat aneh. Mereka berkata bahwa rambut odangoku membuat kepalaku terlihat lebih besar dari aslinya, walau aku berpendapat bahwa itu membuatku terlihat lebih manis...

Tapi bagaimana kalau pendapat mereka itu benar? Kalau rambutku ini membuatku terlihat aneh? Bagaimana kalau apa yang selama ini kupikirkan ternyata salah total?

Masalahnya, kalau memang begitu, apa yang harus kulakukan terhadap rambutku?

Membiarkannya terurai panjang? Kurasa itu bukan ide yang bagus. Kuakui rambutku memang bagus kalau digerai, tapi itu juga membuatku merasa gerah. Rambutku terlalu panjang...

Atau... biar kupotong saja rambutku ini?


Catatan Author: Nah, yang satu ini sudah sesuai dengan sumbernya kan? (harapan saya sih begitu, tapi kalau memang ada yang masih belum sesuai atau kurang sreg, readers jangan sungkan untuk kasih tahu lewat review ya?)

Seperti yang sudah saya bilang diatas, chapter selanjutnya akan balik lagi ke POV-nya Kotake, jadi jangan ada yang nanya lagi soal itu ya? (soalnya kan Ojamajo Doremi 16 pake POV Doremi, jadi saya takut kalau pake POV Doremi juga, nanti bakalan ada yang nggak sesuai, jadi saya prioritaskan ke POV Kotake).

Dan seperti biasa, reviewnya masih ditunggu...