chapter 2

Cast: Wu Yifan (Kris) Huang Zitao (Tao)

Author: Onyx-tan

Pair; KrisTao, others

Genre: Romance, family, humor little bit hurt


Chapter 2

Oke.

Tarik nafas. Hembuskan. Tarik nafas. Hembuskan.

Tao menatap dua bocah kembar dihadapannya dengan pandangan jengkel. Sejak insiden meng-klaim Tao sebagai "mama" mereka, bocah-bocah ini terus menempel padanya, bahkan berebut untuk duduk dipangkuannya— yang berakhir si pirang platinum Jihoon memeluk kakinya dan si pink Yoongi bergelantungan di lengannya, padahal Tao tidak suka. Diteriaki tidak mungkin, nanti yang ada malah menangis dan bikin runyam. Setidaknya ia bersyukur kalau ini hanya satu hari saja. Yeah, itu patut di syukuri. Dia tidak akan pusing menghadapi tingkah menyebalkan murid-muridnya.

"Apa kalian tidak ingin bermain dengan teman-teman kalian?" tanyanya yang langsung dapat gelengan. Dia menggeram dalam hati, ingin sekali rasanya menendang si kembar tapi sekali lagi TIDAK MUNGKIN. Dia tidak bodoh, dia tau orang tua si kembar merupakan pengusaha yang terkenal, dan itu cukup membuatnya masuk Koran dan masuk penjara hanya karna menendang mereka berdua. Dalam hati Tao berharap mendiang kakeknya bangkit dari pemakamannya dan menggembleng dua bocah ini, konyol? Memang!

"Bisakah kalian tidak terus bersamaku? Aku risih" ujarnya.

"Tidak bica, Jihoonie tidak mau belpicah cama mama"

"Yoongi juga tidak mau"

Twitch

Twitch.

"Dengar ya, aku bukan mama kalian! Jangan memanggilku mama! Aku. Tidak. Suka" dengan kesal ia melepaskan diri dari si kembar Wu dan meninggalkan mereka jangan lupakan gerutuan yang terus menguar dari mulutnya. "Mama kejam ne hyungie"Jihoon mempoutkan bibirnya lucu. "Sudahlah Jihoonie, lihat saja, nanti dia juga pasti akan jadi mama kita Jihoonie, fufufu" lagi-lagi Yoongi mengeluarkan smirknya. Ckckck, anak jaman sekarang.

.

.

.

"Mama~"

"Mama~"

Panggil si kembar dengan suara yang imut membuat siapa saja pasti ingin mencubit gemas mereka, tapi tidak dengan Tao, dia ingin memukul kesal pantat mereka. Sekolah sudah bubar, kedua bocah ini masih mengikutinya. Belum dijemput samchon, itu alasan mereka sebelum ia sempat protes. Dia mencoba menulikan telinganya dari panggilan si kembar. "Jangan dengarkan mereka, jangan dengarkan mereka" gumamnya urgen. Yoongi langsung mendelik padanya. "Mama! Kami haus!" teriak Yoongi yang cukup mengundang perhatian banyak orang. Sialan! Tao jadi dilihat dengan tatapan tajam—yang kelihatan seperti mengatakan 'orang-tua-macam-apa-kau'. Dasar bocah tengik, rutuknya dalam hati. Dia beralih menatap sikembar yang kini tersenyum puas. "Mama, Jihoonie hauc cekali" adu si bungsu sambil mengusap tenggorokannya dan raut wajah yang mengatakan 'aku-sangat-haus' itu. Tao menatap keduanya tajam. "Kami tidak bohong kok ma, aku dan Jihoonie benar-benar haus, minum kami sudah habis sedari tadi" kata Yoongi yang setengah benar dan setengah lagi bohong alias mereka modus. Haus memang haus, tapi air minum mereka yang dibawakan dari rumah tidak sepenuhnya habis, mereka sengaja menyembunyikannya.

Tao merasa kasihan sebenarnya, tapi dia gengsi sekali. "Yasudah ayo kita beli minum! Tapi kalian harus membayar uangku nanti" ujarnya ketus lalu menggandeng tangan si kembar

.

Setelah membeli milkshake, ketiganya memutuskan untuk duduk disebuah bangku ditaman yang tak jauh dari tempat mereka membeli milkshake.

Si kembar terus saja menyandungkan lagu dari bibir mereka membuat telinga milik Tao muak, bukan karna suara si kembar tidak bagus, suara mereka sudah bisa dibilang lumayan bagus untuk anak seumuran mereka. Tapi karna sikembar terus menyanyikan lagu yang sama secara berulang-ulang. "Berhentilah bernyanyi, suara kalian tidak enak di dengar" ucapnya tak lupa dengan nada yang ketus. Yoongi mempoutkan bibirnya. "Enak saja, suara kami tidak jelek. Kata Jiminnie suara kami bagus kok" Tao memutar mata jengah. Apa tadi katanya? Jiminnie? Anak bantet dengan pipi gembulnya itu? Yang terang-terangan kelihatan menyukai Yoongi? Heol! "Ya! cuala kami tidak jelek kok, papa bilang cuala kami baguc, mungkin cuala mama yang jelek, mama caja tidak mau belnyanyi cepelti kyungcoo-caem" sindir Jihoon yang membuatnya teringat saat di kelas tadi ia yang dengan keras kepala tidak mau bernyanyi. "Suaraku terlalu berharga untuk kalian dengarkan" sahutnya cuek.

"Dimana samchon kalian itu?" tanyanya setelah dua puluh menit dilanda keheningan. "Dilumah" jawab Jihoon kalem. Tao mendecakkan lidahnya. "Maksudku kenapa dia tidak menjemput kalian? Aku ingin cepat pulang". Yoongi menatap calon mamanya dengan tatapan jahil. "Sekarang samchon pasti tidak tau kami berada dimana"—dia menyeruput milkshakenya lagi lalu kembali menatap Tao—"Jadi sekarang, mama harus mengantar kami pulang"

"MWO?!"

Tao refleks berdiri dan menatap mereka tidak percaya raut wajahnya blank seketika "Mengantar kalian?" sikembar mengangguk. "Kalau tidak mau kami akan berteriak kalau kami diculik mama" kata Yoongi enteng yang terasa seperti ancaman ditelinga Tao. "Apa-apaan kalian! Aku tidak mau!" ucap Tao setengah hampir berteriak. Yoongi kini menatap adiknya yang dengan tenang memperhatikannya dan Tao. "Jihoonie teriak" perintahnya pada si bungsu.

"TOLOOONGG! KAMI DI CULIK! TOLOO—eemmpphh"

Tao dengan cepat membekap mulut Jihoon dan menatap Yoongi tajam. Untungnya tidak ada yang melihat kearah mereka. "Bocah tengik! Beraninya kalian!" desisnya tajam, "Baiklah-baiklah, aku akan mengatar kalian sampai dirumah" lanjutnya setelah melepaskan bekapannya dari mulut kecil Jihoon. Si kembar tersenyum girang dan Tao mendengus jengkel.

.

Hampir tiga puluh menit mereka berkeliling dan belum sampai juga. "Ya Tuhan, sebenarnya dimana rumah kalian?!" teriak Tao frustasi. Jelas saja frustasi, ini bahkan hampir jam makan siang dan mereka belum sampai juga? Jangan katakan bocah-bocah tengik ini tersesat. "Mama tenang caja, cebental lagi kita campai kok" kata Jihoon tak lupa dengan senyum manisnya, hampir membuat Tao luluh dengan si bungsu yang cadel. Tanpa Tao sadari, Yoongi—yang berada didepan Tao dan Jihoon—kini tengah memberi smirk andalannya.

"Stop" titah Yoongi. "Kita sudah sampai" lanjutnya.

Tao menghembuskan nafas lega saat melihat sebuah rumah yang kelihatan megah—yang sepertinya rumah si kembar Wu. Tapi tunggu, ada yang aneh. Dia menatap sekitarnya. Ia sepertinya sudah melewati rumah ini, dia mendelik saat mendengar si kembar terkikik.

"Astaga! Jangan bilang kalian mengerjaiku?!" tawa si kembar pecah begitu saja. Sialan! Tao sedang dikerjai oleh bocah berumur lima tahun! Hampir tiga puluh menit ia berkeliling dan ternyata rumah yang mereka cari tidak jauh dari taman tadi yang mungkin hanya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk kesini! Dia menggulung lengan bajunya, bersiap-siap untuk memberi pelajaran bagi si kembar.

"Dasar kalian—"

"Ya ampun! Yoongi Jihoon!"

Gerakannya terhenti saat melihat seorang pria tengah berlari dan membukakan kunci pagar. Penampilan pria itu acak-acakan; rambut yang tak beraturan, hanya memakai bokser dan kaos rumahan, jangan lupakan wajah kusut dengan kerak air liur yang berada disudut bibirnya. Tao dan si kembar Wu langsung bersorak 'iyuuhh' dengan tampang dibuat jijik. Pria yang diketahui sebagai Namjoon itu tidak peduli. Dia langsung memeluk si kembar tanpa menghiraukan keduanya yang protes.

"Ya Tuhan! Aku pikir aku akan kehilangan kalian" ujar Namjoon yang agak membuat Tao terharu. "Jika aku kehilangan kalian, aku pasti akan di depak dari rumah ini dan menjadi gembel untuk selamanya"

Ngek!

Rasa haru Tao langsung menghilang. Dasar keluarga edan! Paman seperti apa pria ini, bisa-bisanya malah memikirkan dirinya sendiri, makinya dalam hati. Namjoon yang menyadari Tao hanya terkekeh. "Terima kasih sudah mengantar mereka pulang, anda benar-benar penyelamatku" Tao bergeming dengan wajah datar—ia masih ilfeel dengan pria ini. "Apakah anda mau mampir?" tawarnya yang langsung diteriaki Tao. "TIDAK MAU DAN TIDAK AKAN PERNAH MAU" setelah itu Tao langsung pergi meninggalkan sikembar dan paman mereka yang melongo tidak jelas.

.

.

.

"Papa pulang~"

Hening.

Tidak ada yang menyahutnya. Apalagi kedua anaknya yang biasanya akan menyambutnya dengan suara mereka yang menggemaskan itu.

"Kau pulang hyung?" ia menolehkan kepalanya saat melihat Namjoon yang kini sibuk mondar-mandir. "Dimana anak-anak?"

"Mereka dikamar, sepertinnya marah padamu"

Ck, bagus sekali. Bagaimana ia bisa lupa, kedua anaknya pasti sedang merajuk. Terkadang ia menyesali sikapnya yang menyebalkan seperti tadi pagi. Hufftt, sepertinya ia butuh kerja keras untuk menaklukan hati kedua anaknya.

Ketika memasuki kamar Yoongi dan Jihoon, ia bisa melihat keduanya yang terlihat duduk dimeja belajar masing-masing dan terlihat (sok) serius belajar. "Halo sayang~" sapanya yang sama sekali tidak mendapat jawaban. "Err.. Yoongi? Jihoonie?" masih tetap tidak dapat jawaban. Huhhh, dengan langkah pelan ia mendatangi kedua buah hatinya. "Papa menyapa kalian kenapa kalian tidak menja—"

"Papa belicik, apa papa tidak lihat Jihoonie dan Yoongi hyung belajal!"

"Mana ada orang belajar yang membaca bukunya dengan terbalik Jihoonie-ya"—Kris menatap si bungsu geli—"Dan mana ada orang yang belajar sambil makan es krim Yoongie" lanjutnya.

'Brak'

Kris dan Jihoon menatap ngeri pada Yoongi yang barusan menggebrak meja dengan kuat. Ouch, apa tangannya tidak sakit? Yoongi berdiri diatas kursinya dan menatap papanya garang. Dia mendengus—dengan memperagakkan gaya mendengus ala Tao, "Ck, papa ini papa semacam apa! Tega-teganya meninggalkanku dengan Jihoonie!"

'Gluk'

Astaga, kenapa ia baru menyadari anaknya semenyeramkan ini? Dan kata-katanya itu sangat menusuk hati Kris. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yoongi-ya, papa—"

"DASAR PAPA JAHAT! PAPA KAN SUDAH JANJI UNTUK MENGANTARKAN AKU DAN JIHOONIE. PAPA PAPA—HUWEEEE"

Tangis Yoongi langsung pecah, bukannya merasa iba Kris malah merasa gemas. Jelas saja, anaknya ini kan super menggemaskan. Tadi putra sulungnya marah-marah padanya, dan sekarang menangis dengan tangan yang direntangkan seperti minta gendong. Dia terkekeh geli. Kris menggendong si sulung dan mengelusnya sayang, lalu beralih pada si bungsu dan juga menggendongnya. Dia mengecup sayang kedua putranya.

"Nah, sekarang ayo tidur"

.

Seharusnya pagi ini adalah pagi yang menyenangkan untuk Tao setelah kemarin ia lelah berkutat dengan murid-muridnya yang menyebalkan. Harusnya hari ini dia tidur hingga jam sembilan pagi, lalu bersih-bersih rumah, dan pergi bersama teman-teman sesama underground rapper, harusnya sih harusnya, harusnya semua terjadi sebelum Negara api menyerang, eh enggak kok.

Maksudnya sebelum teleponnya berdering yang lagi-lagi menampilkan nama 'Luhan-ge'. Dia tidak tau, setelah mengangkat telepon dari gegenya dia malah kena sial. Iya sial. Karna gegenya yang menyebalkan itu dengan enteng berkata "Aku sedang berada di Beijing menemani Sehun, tolong gantikan aku, hanya tiga bulan saja kok" Tao jadi ingin tertawa sinis. Hanya tiga bulan kata gegenya? Hanya? Satu hari saja dia tidak sanggup apalagi tiga bulan! Mati saja pasutri Oh itu! Sekarang dia bukan ingin menangis lagi, tapi MEMANG sudah menangis.

"HUWAAA MAMA BABAA"

Setelah acara menangis tidak elitenya, Tao segera berangkat ke Bangtan kindergarten. Ketika ia sampai Sebagian murid-murid sudah datang, ia menghela nafas lega karna ia tidak terlambat seperti hari pertama. Dia menatap sekelilingnya waspada, oh sepertinya si kembar menyebalkan belum datang. Ia melangkahkan kakinya dengan riang.

"MAMAA~~~"

Oh shit. Dia kenal suara-suara itu. Seseorang tolong katakan kalau ia salah dengar.

"MAMA~~~~"

Sialan. Sepertinya dia tidak salah dengar. Dengan malas ia membalikkan badannya. Benar saja, si kembar sedang berlari kearahnya dengan senyum lebar mereka yang dijawab dengan muka masamnya. Ketika sampai didepan Tao keduanya langsung menerjang sampai Tao hampir terjungkal. "Ya! Ya! Ya! kalian hampir membuatku terjatuh!" kesalnya. "Kami cangat melindukan mama" ucap Jihoon dengan wajah berkaca-kacanya. 'tapi aku tidak' jawab Tao dalam hatinya.

"Yak! Jangan panggil aku mama. Kalian ini menyebalkan sek—"

"Apa yang kalian lakukan?"

Tao mengalihkan pandangannya dari si kembar, itu kan Kris Wu? Papanya si kembar yang tampan itu. Ahem! Keduanya saling bertatapan.

Tiba-tiba entah lagu dari mana terdengar—

neoneun nae chwihyangjeogyeok ~nae chwihyangjeogyeok
malhaji anhado neukkimi wa
meoributeo balkkeutkkaji da

neoneun nae chwihyangjeogyeok~ nan neoreul bomyeon
gajigo sipeoseo andari na
jagi jeonkkajido saenggagi na
pow

"—err Yoongi, bisakah kau mematikan lagunya. Kau sangat berisik"

Yoongi menatap tajam samchonnya yang sangat merusak suasana. Padahal tadi ia merasa papanya dan calon mamanya sedang berbunga-bunga.

Tao yang terlihat malu segera menarik Yoongi dan Jihoon, berusaha menyembunyikan wajahnya. Duh dia kan malu.

TBC

Yeee! Chapter dua up ^^ terima kasih udah ngedukung onyx /nangis Bombay/ maafkan jika kurang panjang. Memang Cuma mentok segini. Cha~~ mari berikan review anda! Tolong beri onyx kritik dan saran minna-san, karna kritik dan saran dari minna-san sangat membantu untuk melanjutkan fic tak seberapa ini.

Big Thanks to;

Hzffan, Park Rinhyun-uchiha, keyd.o , Aiko vallery, Yeezi-L, Yonsy Fajar S, Ajib4ff, Rina271, hztao, Yesung's Baby, Hasti Huang, Cici fu, LVenge, Kim Youngzie, Skylar Otsu, DillahKTS90, Precious panda, ia (Guest), celindazifan, Firdha858, TaoTaoZiPanda, xolovelydesy, HannyZhie68, TKsit, mjejje, Akashi764, poo, bukan princess syahrini, taona39, elhuang, ugiii, zitaofans, guest

Sekali lagi maaf kalo salah penulisan nama dan yang gak ketulis ya ^^ Onyx itu manusia super hilap/? Mungkin chapter ini gak bales review minna-san, tapi chap depan lagi pasti kok ^^

RnR?