XX
Wonwoo berjalan sendirian sore itu, kelasnya berakhir 15 menit yang lalu tapi Wonwoo baru keluar sekarang karena ia harus menyalin beberapa materi yang dosennya tuliskan di papan tadi. Wonwoo berencana untuk mengambil beberapa buku yang ia tinggal di lokernya. Besok ada kuis dan ia merasa kalau ia harus belajar. Tinggal satu tikungan lagi untuk sampai ke deretan loker para mahasiswa saat didengarnya samar-samar suara seorang wanita menangis tersedu-sedu. Wonwoo mengecek jam ponselnya, jam setengah 4. Kalau hantu tidak mungkin kan?
Wonwoo memutuskan untuk menyembulkan kepalanya ke sumber suara. Disana, berdiri seorang pria dengan seorang wanita yang mengapit erat lengannya serta seorang wanita yang berdiri di depan keduanya. Wanita itu menangis sesenggukan, dilihat dari raut wajahnya Wonwoo dapat memastikan kalau wanita itu sedang merasa sedih dan marah diwaktu yang bersamaan. Wonwoo tidak bisa melihat wajah si pria dan wanita yang satu lagi karena posisi mereka yang membelakangi Wonwoo. Wonwoo memperhatikan mereka lekat-lekat. Dia baru sadar, itu Mingyu dan Tzuyu. Rambut birunya membuat Wonwoo dengan mudah mengenalinya dimana-mana.
"Kau, dasar kau brengsek Kim Mingyu. Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja! Aku sudah memberikan semuanya padamu! Aku bahkan meninggalkan kekasihku hanya agar aku bisa bersamamu! Kau bajingan, kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
Wonwoo ingat, itu Hwayoung. Gadis yang tadi disebut Seungkwan, dia tahu karena mereka pernah satu kelas saat masa orientasi dulu. Tzuyu tersenyum remeh, wajahnya mencerminkan keangkuhan luar biasa. Saat ini ia bangga tentu saja, Kim Mingyu yang dipuja semua orang sekarang jadi miliknya.
"Kau dan semua omong kosongmu. Berhentilah sok suci Lee Hwayoung, aku tahu semua kebusukanmu. Wanita murahan sepertimu tidak pantas untukku."
Mingyu berucap dingin tanpa intonasi. Hwayoung membelalakan matanya, tidak menyangka perkataan seperti itu akan keluar dari mulut Mingyu padanya.
"Aku tahu aku murahan, aku tahu aku memang buruk. Tapi aku sudah berubah untukmu, ku berubah untukmu Kim Mingyu! Aku berubah karena aku begitu mencintaimu!"
Mingyu mendecih, wajahnya tampak mengejek.
"Bukankah sudah jelas kukatakan padamu? Aku tidak suka barang bekas, apalagi bekas hidung belang sepertimu. Kau tahu, kau kelihatan jauh lebih menjijikan kalau sedang memohon seperti ini. Jangan ganggu aku lagi, aku muak melihat wajahmu."
Hwayoung tertohok mendengarnya, dengan wajah yang masih penuh dengan air mata ia berlari meninggalkan Mingyu dan Tzuyu berdua. Tambahan bertiga kalau Wonwoo yang tidak tahu sejak kapan sudah berdiri sambil menyandarkan bahu kanannya ditembok sambil melihat sekilas drama yang terjadi barusan dihitung. Dia memandang mereka datar tanpa suara.
Tzuyu mengubah posisi Mingyu agar menghadap ke arahnya, dengan kedua tangan melingkar manis dileher Mingyu.
"Aku sudah tahu sejak awal kau akan memilihku, aku tidak habis pikir kenapa dulu kau mau bersama dengan si murahan itu. Kau membuatku menunggu terlalu lama. Kau tahu, aku harus menahan cemburu tiap kali melihatmu bersama dengan gadis itu."
Tzuyu bicara dengan nada merajuk. Tangannya yang semula berada di leher kini mengusap-usap pipi Mingyu. Dengan gerakan perhalan ditariklah wajah Mingyu mendekat ke arahnya, dengan tatapan menggoda Tzuyu menatap Mingyu. Saat bibir mereka hampir bersentuhan Mingyu tanpa diduga memegang tangan Tzuyu yang masih menempel di pipinya. Lalu menjauhkan wajah mereka, ditatapnya Tzuyu dengan tatapan datar. Tzuyu terkejut dengan perlakuan Mingyu barusan.
"Gyu-ya, apa yang-"
"Aku tidak memilihmu, tidak sekarang ataupun nanti."
Tzuyu terperajat
"Apa maksudmu? Lalu kenapa tadi kau-"
"Cuma agar Hwayoung berhenti mengejarku, harusnya kau tahu kalau dari dulu aku tidak pernah tertarik padamu. Tidak sama sekali."
Mingyu berujar santai, kelihatan tanpa beban. Tzuyu marah, dia merasa dipermainkan. Tanpa aba-aba tangannya sudah mendarat dengan mulus ke pipi kiri Mingyu. Plak! Wonwoo meringis melihatnya, dari suaranya saja ia yakin kalau itu tamparan yang lumayan bertenaga.
"Kau memang benar-benar brengsek Kim Mingyu."
Lalu ia pergi dengan amarah setelahnya. Mingyu mengusap-usap pipinya yang terkena tamparan Tzuyu pelan. Bohong kalau bilang itu tidak sakit. Mingyu bersiap beranjak, saat ia membalikkan badan ke kanan dilihatnya Wonwoo sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Posisinya masih sama seperti tadi, berdiri dengan bahu kanan bersender di tembok. Kedua tangannya ia masukkan ke saku jaket yang ia kenakan. Mereka berpandangan cukup lama, tanpa suara. Wonwoo mengalihkan pandangan, tersenyum miris setelahnya.
'Menikah dengan seorang brengsek seperti dia? '
Wonwoo memutuskan untuk berbalik arah lalu berjalan menjauh dari sana. Lupakan tentang kuisnya, itu bukan hal penting untuk Wonwoo sekarang.
XX
Wonwoo berdiri di samping meja belajarnya sore itu saat sang Ibu yang entah kenapa kelihatan bersemangat sekali mengemasi baju-bajunya ke dalam koper. Wonwoo cuma diam memperhatikkan, wajahnya yang memang sudah asli datar jadi berkali-kali lipat tambah datar karena apa yang Ibunya lakukan. Wonwoo akan pindah ke apartment malam ini, jadi Ibunya sibuk mengemasi barang-barang yang akan Wonwoo bawa pindah nanti.
Wonwoo menghela nafas entah untuk yang keberapa hari ini. Sejak pagi Ibunya sudah cerewet tentang ini-itu yang berkaitan dengan pindahnya Wonwoo, padahal Wonwoo-nya biasa saja. Kalau seperti ini kesannya malah Ibunya yang mau pindah, bukan Wonwoo.
"Jaket ini mau dibawa tidak? Sudah ada 5 jaket yang masuk koper, cukupkan kalau yang ini tidak dibawa? "
Wonwoo cuma mengangguk, masa bodoh. Ibunya kembali memasukkan baju-baju yang sekiranya biasa Wonwoo kenakkan kedalam koper, benar kan Ibunya girang. Ia bahkan bersenandung kecil saat memasukkan baju-baju Wonwoo kekoper.
"Bu, tolong ingatkan kenapa aku harus mau menikah dengan si Kim Mingyu itu."
Ibunya menoleh sebentar, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.
"Karena kami mau kau berada di tangan yang tepat nak. Mingyu itu baik, dia akan menjagamu. Lagipula keluarga kita kan sudah saling mengenal lama, jadi Ibu yakin kau akan bahagia bersamanya."
'Orang yang tepat? Brengsek yang tepat maksud Ibu? '
Wonwoo berujar dalam hati, diam-diam mengumpat sendiri. Tidak, Mingyu bukan orang yang tepat untuknya.
"Ibu tahu, orang yang sudah berpacaran lama lalu menikah saja banyak yang berpisah. Apa yang Ibu harapkan dari hubungan kami nanti? Waktu 6 bulan itu sebentar Bu, dengan waktu sesingkat itu aku tidak yakin kami akan bisa saling mengerti satu sama lain."
Wonwoo bersuara setelah sekian lama bungkam, ia tidak tahan sungguh. Wonwoo hanya mau menyampaikan apa yang ada di pikirannya selama ini. Menikah itu bukan hal mudah baginya, bagi semua orang malah.
Dan 2 hari yang lalu, ia diberitahu kalau ia akan menikah dengan seorang pemuda yang bahkan belum pernah ia kenal seumur hidupnya 6 bulan lagi. Disuruh tinggal satu atap agar bisa saling mengerti satu sama lain. Ia kadang tidak habis pikir, para orang tua itu mengatur segalanya seakan semua itu cuma hal sepele. Sepele bagi mereka, tapi rumit bagi Wonwoo.
Ibunya menatap Wonwoo lagi, ia berjalan ke arah Wonwoo. Kali ini ia benar-benar menghentikkan kegiatannya, lalu menarik Wonwoo pelan untuk duduk di sisi kasur bersamanya.
"Ibu tahu mungkin ini kelihatannya tidak adil untukmu, ini juga terlalu mendadak. Ibu tahu itu sayang, tapi inilah yang Ayahmu inginkan. Ibu juga terkejut awalnya, namun setelah Ayahmu menjelaskan segalanya Ibu jadi mengerti. Ayah cuma mau kau aman Woo, Ayah ingin kau dijaga oleh orang yang bisa dia percaya. Sekarang dan di masa depan nanti. Ayah hanya terlalu sayang padamu, dia hanya tidak ingin kau terluka. Dan menurutnya, Mingyu adalah orang yang tepat untukmu, disamping memang Ayah sudah membuat janji dulu. Tapi Mingyu orang baik, dan kami percaya dia bisa jadi pelindungmu. Karena itu kami menyerahkanmu padanya."
'Orang baik Ibu bilang? '
"Untuk kali ini, kabulkanlah permintaan Ayahmu. Kalau kau mau menerima perjodohan ini, Ayah pasti akan sangat senang nak."
Wonwoo mendengus tidak percaya,
"Kali ini? Kali ini Ibu bilang? Beritahu aku, kapan aku pernah membantah omongan Ayah? Kapan aku pernah tidak menuruti omongan kalian!"
Wonwoo tidak tahu sejak kapan, tapi sekarang ia merasa kalau matanya mulai pedas. Tidak tahukah mereka kalau apa yang mereka ingin Wonwoo lakukan sekarang malah membuatnya terluka? Wonwoo merasa kebebasannya direnggut saat ini, ia merasa sudah terlalu didikte orang tuanya.
"Saat aku mau sekolah bersama Dongjin, Ibu dan Ayah mengatakan bahwa sebaiknya aku bersekolah di sekolah lain. Dan aku menurut, tidak tahukah kalian kalau waktu itu aku menangis semalaman karena sedih? Dia teman baikku sejak TK Bu, waktu itu aku benar-benar ingin bersamanya, tapi kalian menyuruhku untuk bersekolah di sekolah yang berbeda darinya. Jujur aku kecewa, tapi aku tetap menurut kan? "
Wonwoo mulai berkaca-kaca, Ibunya cuma diam. Tampak speechless dengan omongan Wonwoo barusan, saat Ibunya dirasa mau bicara Wonwoo kembali meneruskan kalimatnya.
"Saat SMA, Ibu dan Ayah tahu aku suka musik. Aku sudah bilang kalau aku mau masuk SOPA. Tapi apa yang Ayah katakan? Dia bilang tidak, lalu menyuruhku masuk sekolah biasa. Apa aku membantah? Tidak Bu, tidak. Aku menerimanya, aku sama sekali tidak pernah menolak. Ayah menyuruhku jadi arsitek-pun aku tidak menolak. Lalu sekarang, kalian menyuruhku untuk menikah dengan seorang pria yang bahkan aku belum pernah kenal seumur hidupku 6 bulan lagi?Bukan cuma kali ini Bu, sudah berulang kali aku menuruti kalian. Dan tidak sekalipun aku berpikiran untuk membantah."
Wonwoo berdiri dari duduknya, melepas tangan Ibunya yang masih setia bertengger ditangannya.
"Aku tahu kalian ingin aku bahagia, aku tahu mungkin menurut kalian ini adalah yang terbaikku untukku. Tapi tidak Bu, untuk kali ini aku akan bilang tidak. Aku tidak akan menikah dengannya apapun yang terjadi."
Lalu Wonwoo berjalan menuju pintu kamarnya, meninggalkan Ibunya yang cuma bisa termenung memikirkan perkataan Wonwoo. Saat Wonwoo hampir memegang knop pintu, seseorang membukanya dari luar. Ayahnya muncul dari balik pintu setelahnya, Wonwoo diam. Tidak berniat bicara sama sekali.
"Kalau begitu, cobalah dulu."
Ayahnya bersuara, Wonwoo masih saja diam.
"Ayah benar-benar minta maaf padamu, Ayah tahu apa yang kami lakukan kali ini mungkin keterlaluan bagimu. Tapi kami serius melakukan ini untukmu Woo, kami hanya mau kau bersama orang yang tepat. Tolong jangan bilang tidak dulu, kau bisa-"
"Aku sudah memikirkannya Ayah, dan aku tidak mau. Kim Mingyu bukan orang yang tepat bagiku, aku tahu itu. Aku tahu diriku sendiri, dia tidak tepat untukku."
Wonwoo bicara, menatap Ayahnya.
"Sekali ini, tolong dengarkan aku. Aku tahu Ayah tidak mau aku terluka, tapi kalau Ayah terus memaksaku untuk menerima semua ini, itu justru membuatku terluka Yah."
Wonwoo berbicara pelan, terlalu lelah dengan semua ini. Dipandangnya si Ayah dengan pandangan melas, sementara yang dipandang membalas dengan tatapan lembut. Hening melanda sejenak sebelum si Ayah mengeluarkan suara.
"Baiklah, Ayah tidak akan memaksamu untuk menikah dengannya. Tapi maukah kau mencoba? 6 bulan ini, tinggalah bersamanya. Kalau setelah 6 bulan kau tetap merasa tidak cocok, kita dapat membatalkannya. Ayah janji, tapi tolong jalani dulu semuanya."
Ayahnya berujar lembut, mencoba membujuk Wonwoo. Wonwoo menoleh ke kanan saat dirasa sang Ibu memeluk tangannya. Memandang Wonwoo dengan tatapan sayang, Wonwoo menunduk. Wonwoo benar-benar ingin menolak, tapi bagian kecil dari dirinya yang "penurut" menyuruhnya untuk berkata iya.
Wonwoo bimbang, apa yang harus ia lakukan? Wonwoo menarik nafas dalam kemudian mengangguk pelan, hanya tinggal bersama kan? Tidak akan terjadi apa-apa padanya, pasti. Kepalanya terangkat saat sang Ayah menariknya, memeluk tubuhnya erat.
"Terimakasih nak, terimakasih. Ayah janji kau akan bahagia, Ayah janji."
XX
Wonwoo mengantar Ibunya sampai ke pintu apartment, bukan cuma Ibunya. Ibunya Mingyu, Ayahnya dan Ayah Mingyu. Semua disini, mereka baru mengecek apartment yang akan Wonwoo dan Mingyu tempati, sekaligus membawakan perabot rumah tangga yang mungkin mereka berdua perlukan. Ada dua kamar dalam apartment itu, jadi Wonwoo dan Mingyu punya kamar sendiri. Lagipula Wonwoo juga tidak mau kalau harus sekamar dengan Mingyu.
"Kami pulang dulu ya, jaga diri kalian. Jangan pulang larut, jangan menonton tv sampai malam. Jangan malas masak, Ibu tidak suka kalau kau terlalu banyak makan makanan instan, juga cucian kalau-"
"Sudahlah, biarkan mereka istirahat. Ini sudah malam, aku yakin mereka lelah. Lagipula semuanya juga sudah siap, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Ayah Wonwoo mencoba menengkan istrinya, tidak enak juga kalau ceramahnya didengar tetangga.
"Mingyu juga jago memasak, aku yakin Wonwoo tidak akan kelaparan."
Itu Ibu Mingyu yang bicara, tangannya setia menggandeng Mingyu. Wonwoo cuma tersenyum kecil menanggapi.
"Kalau begitu kami pergi, Mingyu titip Wonwoo ya."
Mingyu mengangguk sambil tersenyum, keempat orang tua itu pergi, Wonwoo melambai ke arah mereka sebelum mereka menghilang di balik pintu lift. Wonwoo langsung masuk ke dalam, ingin cepat-cepat tidur. Terlalu lelah dengan kegiatannya di kampus ditambah pindahan ini, Wonwoo ingin cepat-cepat tiduran di kasur.
"Aku tidak menyangka kau akan menerima perjodohan ini dengan semudah itu, kupikir kau tipe orang yang keras kepala."
Wonwoo menoleh,menatap Mingyu yang sekarang berdiri tidak jauh darinya. Tangannya sudah memegang knop pintu, bersiap membukanya. Mingyu menatap dengan tatapan mengejek, maksudnya apa?
"Aku juga berpikir begitu."
Wonwoo sudah mau masuk ke kamarnya saat didengarnya Mingyu kembali bicara.
"Saat pertama kali aku diberitahu kalau aku akan dijodohkan, aku berpikir kalau itu adalah hal yang benar-benar konyol."
'Bingo, aku juga berpikiran sama denganmu.'
"Tapi setelah aku tahu kalau ternyata aku akan dijodohkan denganmu, aku langsung bilang mau."
Wonwoo mengerutkan dahinya.
"Apa kita pernah kenal sebelumnya? "
Mingyu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menyeringai.
"Kau cukup terkenal dengan semua kedataranmu, jadi menurutku pasti menarik bisa bermain-main dengan orang sepertimu."
Wonwoo mendengus keras-keras, sengaja supaya Mingyu mendengarnya.
"Kita tidak akan menikah, tidak akan pernah. Aku tidak peduli apakah kau menerima perjodohan ini karena memang kau ingin atau kau cuma mau main-main. Tapi yang jelas, aku tidak akan menikah dengan orang sepertimu."
Belum sempat Wonwoo membuka pintu kamarnya, Mingyu membalik badannya secara tiba-tiba lalu menghimpitnya di pintu. Wonwoo kaget, mencoba melepaskan cengkraman Mingyu dibahunya, tapi nihil. Mingyu memeganginya terlalu kuat.
"Lepaskan,"
Wonwoo berujar datar dengan mata mengarah pada Mingyu, tatapannya tajam. Sementara Mingyu sibuk menelusuri wajah Wonwoo secara seksama. Poni hitam yang menutupi dahinya, mata sipit yang selalu memandang segalanya tajam, hidungnya yang mancung. Kurang sedikit lagi sampai hidung mereka bisa saling bersentuhan. Lalu bibirnya, tipis tapi menggoda bagi Mingyu. Ia jadi penasaran, bagaimana rasanya bibir Wonwoo.
"Jangan pandangi wajahku seperti itu, kau kelihatan seperti ahjussi-ahjussi mesum."
Perkataan Wonwoo barusan menyadarkan Mingyu dari kegiatan mengamatinya, ia kembali memandang bibir Wonwoo sekilas sebelum beralih menatap matanya. Hening melanda mereka beberapa saat, suasananya sangat sepi sampai Wonwoo berpikir bahwa ia bisa mendengar suara nafas mereka sendiri. Wonwoo masih setia memandang Mingyu, Mingyu juga balas menatapnya. Wonwoo menatap Mingyu tanpa ekspresi, sementara Mingyu. Ia menatap Wonwoo dengan tatapan entah apa artinya.
"Akan kubuat kau jatuh cinta padaku Jeon Wonwoo."
TBC
(-) Chap dua chap dua, chap 3 mungkin aku publish 5 hari dari sekarang.
(-) Dipanggil datar itu,beneran deh nggak enak. Aku ngalamin sendiri soalnya -_-
(-) Reviewnyaa,makasih ya
