[!]

warning:

smut, badly written smut, abusive!Jungkook, dan…

non-con? Enggak juga sih, soalnya Tae sebenarnya menikmati juga kok digituin Jungkook, wkwkwk.

.

btw, ini crack!fic yang di-angst-kan, sorry!

.

. .

. . .

.dua.

Sudah lebih dari seminggu, menjadi rutinitas bagi Taehyung untuk melakukannya dengan Jungkook. Pemuda yang mengklaim sebagai kekasihnya itu selalu menjemputnya seusai kuliah dan membawanya ke hotel bintang lima di daerah Myeongdong, dan kadang ke sebuah apartemen eksklusif di distrik Yeongdeungpo seperti saat ini. Entah apa yang membuat Taehyung selalu membiarkan Jungkook melakukan apapun padanya tanpa banyak bertanya.

Tapi, Taehyung sadar, sepenuhnya sadar kalau ini bukan hal yang benar. Ada keraguan yang muncul setiap kali ia mengingat klaim kekasih yang selalu disinggung oleh Jeon Jungkook. Ia merasa kalau apa yang Jungkook sebut dengan kekasih, tidak lebih dari hubungan yang murni seksual. Dan Taehyung mulai mengkhawatirkan soal itu. Sekali dua kali, ia bisa memaklumi dan menerimanya. Tapi, kalau setiap hari melakukan itu? Bukannya itu semakin membuktikan kalau dalam hubungan aneh ini, yang Jeon Jungkook inginkan adalah murni hubungan fisik?

Pikiran itu membuat Taehyung sangat takut.

.

.

"Kenapa?" Jungkook segera menyadari kalau kekasihnya itu sedang memikirkan sesuatu yang rumit saat melihat kerutan di kedua alisnya. Taehyung hanya menjawab dengan helaan nafas panjang sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk. Mengabaikan perhatian Jungkook, ia berusaha mencari telepon pintarnya di atas kasur yang tampak berantakan setelah dua tubuh saling menyatu. Mengingat itu, rasanya selalu berhasil membuatnya merona walaupun malam ini bukan malam pertamanya ia melakukannya dengan Jungkook.

Ketika tangannya mendapatkan apa yang ia cari, matanya membola saat menyadari kalau ini sudah nyaris pukul sebelas malam. Taehyung tidak mau kalau harus pulang lebih malam dari ini, makanya, ia mencari potongan pakaiannya yang tersebar di seluruh ruangan. Jeon Jungkook yang tidak sabaran itu memang selalu melucuti pakaiannya dan melemparkannya di sembarang tempat. Ketika melihat kemejanya tergeletak di lantai, Taehyung baru mau bangkit dari kasur saat lengan Jungkook menahannya.

"Mau ke mana?" dan mendengar itu, rasanya Taehyung ingin menghajar Jeon Jungkook. Tentu saja dia mau pulang. Walaupun membiarkan Jungkook melakukan apapun, Taehyung tidak mau kalau ia harus bermalam di sini. Dan nanti, kalau Jungkook tidak mau mengantarnya pulang, dia juga bisa naik taksi. Apapun, yang penting dia tidak perlu bermalam dengan Jungkook. Si mesum berbahaya ini pasti akan melakukannya berkali-kali kalau sampai Taehyung menginap.

"Pulang," jawaban singkatnya tidak membuat Jungkook puas. Laki-laki berkulit putih itu masih menahan pergelangan tangan Taehyung yang cukup kontras dengan warna kulitnya. Alih-alih melepaskan, ia malah melekatkan kedua tangannya dan memeluk Taehyung dari belakang. "Nggak mau sekali lagi?" katanya, suaranya berbisik menggoda dengan sangat dekat ke telinga Taehyung. Untungnya, Taehyung kali ini bisa mengendalikan nafsunya dan tidak seketika bangkit. Taehyung menjawab "tidak," dengantegas dan berusaha melepaskan diri dari eratnya pelukan Jungkook. "Ayolah, tadi kan cuma sebentar," katanya lagi. Kalau membunuh itu tidak dilarang, rasanya Taehyung ingin membunuh Jungkook sekarang juga. Rasanya ingin membelah kepala Jeon Jungkook untuk memastikan kalau laki-laki mesum itu mempunyai otak.

"Jungkook, berhenti, ah…yah!" dan kali ini Taehyung berhasil menghindar tepat sebelum tangan Jungkook meraih miliknya. "Aku mau pulang," dan itu keputusan finalnya. Selama ini, Taehyung selalu menurut dan memberikan tubuhnya untuk dinikmati Jungkook, makanya kali ini, kalau ia tidak menuruti kemauannya, Taehyung tidak akan tinggal diam. Dan Jungkook yang melihat keseriusan ekspresi Taehyung, akhirnya mengalah dan berdecak dengan sebal.

"Oke, tapi cium sekali lagi," dan Taehyung tidak sempat menolak saat dengan mudahnya Jungkook menahan kepalanya saat menyerang mulutnya. Ia membiarkan Jungkook menggigit bibir bawahnya, sedikit mengerang saat gigitan itu terasa sakit dan celah itu digunakan Jungkook untuk memasukkan lidahnya. Tubuhnya yang sudah sangat sensitif sebenarnya mudah untuk dirangsang lagi, kalau begini, Taehyung bisa-bisa terjebak untuk melakukan sesi kedua. Makanya, Taehyung berniat untuk menghentikan ciuman jebakan ini dengan menggigit lidah Jungkook.

Belum sempat ia menggigit lidah nakal itu, pintu kamar mendadak terbuka, membuat mata Taehyung membola saat melihat laki-laki yang tidak ia kenal mematung dengan air muka terkejut di depan pintu. Jungkook yang menyadari kalau si pemilik kamar sudah datang, akhirnya menghentikan ciumannya dan mengalihkan pandangan pada laki-laki itu, Park Jimin. Well, Jungkook lupa memberitahu Jimin kalau dia akan menggunakan kamarnya malam ini, tapi berhubung Jungkook sudah tahu kode untuk mengakses kamar Jimin, ia tidak memandang itu sebagai masalah.

"Er…um…sori," dan Jimin dengan kikuknya menutup pintu dan keluar dari kamarnya sendiri. Gila, lain kali, dia akan mengganti passcodenyaagar Jungkook tidak sembarangan menggunakan kamarnya lagi… dan…. sialan, Jimin merasa matanya kotor karena harus melihat dua tubuh telanjang berciuman di atas kasurnya. Omong-omong soal kasur, tolong ingatkan Jimin untuk membuang seprei itu karena dia tidak mau tidur di atas cairan kotor Jeon Jungkook.

.

.

"Um…, tadi siapa?" Taehyung akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Dan Jungkook tidak langsung menjawab itu, ia masih memfokuskan perhatiannya pada jalanan kota yang masih ramai walaupun sekarang sudah nyaris tengah malam. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Jungkook baru menyempatkan untuk menjawab "Temanku," dengan singkat. Jungkook masih terlalu enggan membahas Jimin yang menyebalkan karena sudah membuatnya gagal melanjutkan sesi kedua dengan Taehyung.

"Kalau ada perlu sama dia, aku bisa pulang naik taksi kok. Dia kan sudah jauh-jauh ke kamarmu," dan sebelum lampu berubah hijau, Jungkook menjawab enteng. "Enggak. Itu kamarnya kok." Jawaban yang membuat Taehyung tidak percaya karena… jadi selama ini, Jungkook membawanya ke kamar orang lain? Padahal, Taehyung sempat senang saat menyangka kalu itu adalah kamar Jungkook. Kenyataan ini membuat Taehyung semakin yakin kalau, di manapun tempatnya, yang Jungkook pedulikan hanyalah seks. Dan entah kenapa, rasanya Taehyung jadi sakit sendiri saat memikirkannya.

.

.

Sejujurnya, Jungkook masih amat kesal dengan Jimin yang sudah mengganggu kegiatan sakralnya. Tapi, mengingat kalau Jimin punya hak penuh atas kamarnya sendiri, membuat Jungkook memaafkan perbuatan Jimin. Bukan berarti Jungkook tidak kesal. Ia sungguh masih kesal pada Jimin, karena itu artinya, untuk dapat merasakan Taehyung lagi ia harus menunggu sampai besok dan besok adalah waktu yang cukup lama.

"Jadi, kekasihmu itu laki-laki?" si Park Sialan Jimin dengan entengnya menanyakan itu tanpa rasa bersalah. Membuat Jungkook semakin kesal saja. Makanya, ia memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan itu dan merebahkan diri di sofa. Bersahabat sampai nyaris sepuluh tahun membuatnya tidak merasa malu untuk mengakui kalau ya, dia tertarik dengan laki-laki. Tapi, bukannya Park Jimin dan Min Yoongi yang sama-sama laki-laki itu juga berpacaran? Kenapa ini jadi masalah?

"Luar biasa. Padahal selama ini seingatku Jeon Jungkook itu lurus. Bahkan lebih lurus dari baja. Lalu, apa yang membuatmu berbelok?" tawa nyaring terdengar sampai membuat kuping Jungkook gatal. Sialan memang, padahal Park Jimin sudah kalah taruhan tapi tetap saja dia tidak berlaku selayaknya budak. Makanya itu membuat Jungkook kesal dan ia ingin mengingatkan Jimin soal perannya selama setahun ke depan. "Eh, budak, jangan berisik deh," gusarnya. Dan entah Park Jimin yang menyebalkan atau dia memang tidak punya kesadaran, sahabatnya itu malah tertawa dan menjawab "Ups, maaf Yang Mulia Jeon," dengan nada mengejek.

"Tapi, serius. Apa yang membuatmu tertarik dengan laki-laki?" dan pertemanan selama nyaris sepuluh tahun membuat Jungkook sadar kalau mengabaikan pertanyaan Park Jimin adalah hal mustahil. Dia akan terus mengulang pertanyaan itu sampai mendapatkan jawaban. Makanya, Jungkook tidak punya pilihan selain menjelaskan soal Kim Taehyung: soal pertemuan mereka di klub malam seusai pentas, juga soal kutukan itu, dan juga, bagaimana Jungkook akhirnya bisa memuaskan hasrat seksualnya yang tertahan selama lima tahun dan meluapkannya pada tubuh pengutuknya. Sebuah pembalasan dendam yang manis. Tapi, sepertinya Park Jimin tidak menganggap itu sebagai hal yang manis. Alih-alih terpukau, ia malah mengernyitkan alisnya, cemas.

"Aneh. Kamu tidak merasa aneh? Kamu tidak berpikir kalau ini, mungkin saja, adalah tipu daya? Maksudku, ini mungkin saja efek dari kutukan itu, kan? Lima tahun terakhir kamu tidak pernah tertarik pada laki-laki, dan apa perlu kusebut daftar mantan pacarmu yang semuanya perempuan itu?" dan mungkin Park Jimin ada benarnya. Jungkook jadi terpikir soal hal itu. Tapi, untuk apa memikirkannya dalam-dalam? Toh saat ini dia puas. Dia bisa melakukan itu sepuas mungkin dan ada untungnya juga Taehyung laki-laki, itu artinya Jungkook tidak perlu memikirkan resiko soal mempertanggungjawabkan kalau-kalau nanti Taehyung hamil. Abaikan kalimat terakhir.

"Entahlah, Jimin, aku tidak mau memusingkannya. Selama aku puas, aku akan melakukannya dan mungkin aku baru akan berhenti saat aku bosan," Jawaban itu bukannya tidak membuat Jimin khawatir. Masalahnya, walau dikenal sebagai playboy ulungdan mudah melupakan orang lain, Jimin khawatir karena bisa dibilang ini pertama kalinya Jungkook melakukan hubungan intim dengan seseorang. Ia hanya berharap kalau kelak, tidak ada yang akan tersakiti dalam hubungan abnormal ini.

.

.

.

Sore itu, seusai praktikum, Taehyung terus mendapatkan panggilan dari Jungkook. Pagi tadi ia bisa menghindar dengan berangkat lebih awal, jauh sebelum Jungkook sempat menjemputnya. Dan sekarang, rasanya Taehyung masih enggan untuk bertemu muka dengan Jeon Jungkook. Apalagi, Taehyung tidak bisa menepis ingatan soal kemarin. Ia jadi malu sendiri kalau mengingat sudah dipergoki oleh teman Jungkook saat sedang melakukan itu. Membuat Taehyung semakin merasa seperti jalang murahan karena nyaris seminggu ini selalu menurut pada ajakan Jungkook. Lagi pula, ia sempat menyangka kalau itu kamar Jungkook. Menyebalkan saat mendapati kenyataan kalau itu ternyata cuma kamar temannya. Taehyung jadi merasa ngilu sendiri saat kenyataan ini cuma memperkuat dugaannya kalau bagi Jeon Jungkook, dia cuma jalang murahan, pemuas nafsu, atau apapun sebutannya. Fakta bahwa tidak peduli di manapun tempatnya, asalkan Jungkook mendapatkan yang ia mau, itu tidak bisa disangkal.

Sialan.

Taehyung jadi kesal dengan pikiran-pikiran yang sangat mengganggu itu. Makanya, sebisa mungkin, dia mau menolak panggilan Jungkook. Dan masa bodoh kalau nanti Jungkook akan kesal. Taehyung segera mematikan teleponnya karena Jungkook belum juga menyerah untuk menghubunginya. Hari ini, dan mungkin untuk beberapa hari ke depan, dia sungguh ingin menghindar dari Jeon Jungkook.

.

.

.

Sudah sejak semalam, Jungkook tidak mendapat kabar dari Taehyung. Segala jenis chat, sms, panggilan, semuanya tidak direspon oleh kekasihnya itu. Harus diakui, ternyata itu menyebalkan. Jungkook tidak pernah merasa se-butuh ini pada seseorang. Khawatir? Mungkin. Tapi, tidak biasanya Jungkook mengkhawatirkan orang lain sebegini parah. Jungkook merasa gelisah. Lucu. Ternyata Jeon Jungkook bisa merasakan gelisah seperti ini.

Lagipula, kenapa Kim Taehyung menghilang? Ini memang weekend, tapi bukan berarti Jungkook tidak membutuhkan itu. Justru, karena ini akhir pekan, Jungkook bahkan sudah merencanakan perjalanan ke oncheon. Ia sudah berniat untuk menghabiskan waktu libur mereka yang singkat ini dengan bercinta sampai puas. Masalahnya, sudah lewat tengah hari dan Taehyung belum juga mengabari. Membuat mood-nya untuk memanjakan kekasihnya itu mendadak hilang dan yang ada, Jungkook malah ingin menghukumnya habis-habisan karena sudah membuatnya um...khawatir?

Ralat, Jeon Jungkook tidak pernah menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan orang lain.

Sekali lagi, Jungkook meraih teleponnya yang tergeletak di atas dashboard mobilnya. Di layar telepon pintarnya, Taehyung tampak manis tersenyum sebagai latar menunya. Foto hasil curian yang diam-diam ia pindahkan dari ponsel Taehyung karena, sungguh, Jungkook benar-benar membutuhkannya. Setidaknya melihat wajah bahagia itu bisa membuatnya tersenyum sendiri (well, Taehyung jarang tersenyum kalau bersamanya, ia lebih sering panik dan terkejut dan itu sungguh membuatnya gemas) dan, entah kenapa, saat melihat air muka senang yang berharga itu, Jungkook, ajaibnya, bisa merasa tenang.

Omong-omong, selain foto yang ia curi, sebenarnya Jungkook juga punya foto-foto lain yang diam-diam ia ambil saat Taehyung terlelap. Tapi, ia tidak mau memamerkan foto itu pada siapapun. Paras damainya, juga posturnya yang semampai, terlebih saat tubuh itu hanya terselimuti sehelai kain, Jungkook tidak akan pernah menunjukkan itu pada siapapun. Pemandangan itu hanya miliknya. Kim Taehyung adalah miliknya seorang.

Ia bukannya tidak mengingat peringatan Park Jimin semalam. Bukannya tidak terpikir soal itu, Jungkook hanya enggan memikirkannya terlalu serius karena: kenapa harus dipikrikan kalau melakukannya sudah membuatnya puas? Menakutkan, memang. Jungkook bukannya tidak menyadari soal rasa hausnya untuk selalu melihat Taehyung. Terlebih, untuk selalu bisa menyentuhnya. Sungguh begitu menyiksa. Mustahil ia bisa bertahan kalau sampai tidak menemuinya barang sehari saja. Pokoknya, kalau Taehyung tidak juga menerima panggilannya siang ini, Jungkook sungguh akan mendatangi rumahnya.

.

.

.

Taehyung belum juga bangkit dari jeratan selimutnya yang tebal. Terlalu enggan untuk beraktivitas dan kali ini ia ingin memaklumi dirinya untuk sekali saja, bermalas-malasan seharian. Akhir-akhir ini terlalu banyak hal aneh terjadi dan yang Taehyug butuhkan adalah istirahat yang cukup dan berharap itu bisa menjernihkan pikirannya. Tapi, bahkan setelah menggeliat dan bersembunyi di balik selimut sejak pagi, Taehyung sama sekali tidak bisa terlelap.

Ada yang aneh dengan tubuhnya. Oversensitive. Seolah tubuhnya sudah mengingat dengan baik bagaimana tangan Jeon Jungkook menyentuhnya, membuatnya sangat peka terhadap segala bentuk sentuhan. Bahkan gesekan dengan sprei mampu membuatnya teringat dengan sentuhan Jungkook dan itu gila. Lebih-lebih, bahkan ketika ia memejamkan mata, entah kenapa dia tetap bisa melihat ilusi Jungkook. Tatapan tajamnya yang selalu terlihat seperti ingin menelanjanginya, juga suaranya yang lembut dan tegas, juga sentuhannya yang kasar dan kuat, namun juga bisa berubah halus dan lembut kalau ia berlaku baik.

Dan pagi tadi mungkin kali pertamanya Taehyung mengalami mimpi basah sebegitu detailnya. Setiap sentuhannya terasa begitu nyata dan itu menakutkan. Bagaimana ia mendapati bagian bawah tubuhnya yang basah seperti juga peluh di sekujur tubuhnya. Sungguh, itu situasi yang abnormal. Kim Taehyung bukan maniak seks. Dia tidak pernah sebegitu tergila-gilanya untuk disentuh. Keinginan yang begitu kuat, kegelisahan, rasa panas yang menggelora, juga degup jantung yang tak terkendalikan, membuatnya yakin, nyaris sepenuhnya yakin, kalau ini kemungkinan besar adalah efek buruk dari kutukan sialan itu.

Bahwa dia dan Jungkook jadi saling terikat. Saling tergila-gila.

Dan...

Kalau teorinya itu benar, maka dia benar-benar berada dalam masalah.

Makanya, sebisa mungkin, Taehyung akan mencoba membatasi dan mengurangi frekuensinya bertemu dengan Jungkook. Selain karena dia juga tidak mau melakukan itu tiap hari, ia juga perlu membuktikan apa yang akan terjadi kalau hasrat itu diabaikan. Ini juga sebuah tindakan preventif. Mencegah kalau-kalau kelak ia akan salah paham dan terlalu bergantung dengan Jungkook.

Walau belum begitu berhasil, tapi sejak semalam, ia sudah mematikan teleponnya dan berniat untuk mengurung diri di kamar. Ia bahkan tidak menerima tawaran ibu dan ayahnya untuk pergi menengok neneknya sekaligus berkunjung ke kuil di Daegu. Astaga, dia merasa hina dan kotor. Rasanya tidak layak untuk berhadapan langsung memohon ampunan Para Dewa. Kali ini, yang ia inginkan hanya tidur. Melupakan segalanya untuk beberapa saat.

.

.

.

Matanya baru mau memejam ketika bel rumahnya berbunyi, Taehyung berkontemplasi mati-matian untuk membuka pintunya atau tidak. Sungguh, ia khawatir kalau itu Jungkook. Ia memang baru sekitar seminggu mengenal laki-laki sialan yang seenaknya mengklaim dirinya sebagai kekasihnya, tapi Taehyung seperti sudah paham betul kalau si aneh Jeon Jungkook adalah orang yang nekat dan tak tahu batas. Bukannya tidak mungkin ia datang ke rumahnya di siang bolong seperti ini. Well, ini salahnya, lain kali ia akan lebih berhati-hati untuk tidak membiarkan orang asing tahu alamat rumahnya.

Bel terus berbunyi dan mustahil Taehyung bisa pura-pura tidak mendengarnya, terlebih, ketukan itu terdengar berisik dan akhirnya Taehyung menyerah. Dengan menggerutu kesal, akhirnya ia melepaskan diri dari kungkungan kemalasannya. Rusak sudah niatannya untuk bermalas-malasan seharian.

"Astaga, sabar sebentar," Taehyung bukannya tidak berusaha untuk cepat. Tapi entah kenapa orang di balik pintu itu sangat tidak sabaran dan terus menekan belnya.

"HYUNG! LAMA!" dan betapa leganya Taehyung saat mendengar suara itu. Melihat wajah manis Kim Minjae, adik sepupunya di balik pintu tidak pernah membuatnya bahagia. Mungkin ini pertama kalinya ia merasa se-bersyukur ini mendapati kedatangan Minjae. Tanpa perlu dipersilakan masuk, Minjae melengos sambil terus menggerutu dan mengeluh.

"Aku sudah menghubungimu sejak pagi loh, hyung. Tapi, tidak ada jawaban. Padahal kata paman dan bibi, kamu ada di rumah. Ah, menyebalkan sekali! Aku nunggu di minimarket hampir dua jam!" dan mendengar ocehan itu Taehyung hanya bisa memberikan cengiran kotaknya sambil minta maaf sekenanya. "Lagi males pegang handphone, aku dikejar orang gila," dan Minjae memutar matanya malas saat mendengar eksplanasi singkat itu. Tapi, mendadak Minjae mengingat cerita Taehyung soal seseorang yang ingin membunuhnya beberapa waktu lalu.

"Oh. Cowok itu? Masih? Kenapa gak lapor polisi? Maksudku, kalau dia benar-benar masih mengancam membunuh, bukannya itu bahaya?" dan itu membuat Taehyuung ingat kalau dia belum menjelaskan kelanjutan ceritanya pada Minjae. Bagaimana pada akhirnya, dia dan Jungkook malah menjalani hubungan yang aneh, yang Jungkook sebut sebagai hubungan kekasih.

"Dia sudah tidak ingin membunuh sih, sebaliknya, pesonaku malah membuatnya tergila-gila," Taehyung mengatakannya dengan nada bercanda. Membuat Minjae memutar matanya malas dan duduk di sofa sambil menjawab malas, "terserah apa kata hyung sajalah. Kalian memang sama-sama punya masalah psikologis,"

"Omong-omong, ngapain ke sini?"

"Mau ngajak nonton sih. Batman vs Superman sudah keluar tapi aku bingung mau nonton dengan siapa, tapi kalau hyung gak mau juga gak apa," Taehyung jadi menimbang-nimbang ajakan itu. Well, sebelumnya, dia memang berniat untuk mengurung diri seharian, tapi, mungkin pergi menonton adalah ide yang bagus. Setidaknya itu mungkin bisa membuatnya sedikit melupakan soal Jungkook.

"Boleh. Asal kau yang traktir. Aku mandi dulu."

.

.

.

Jungkook melihat sebuah mobil hitam terparkir di rumah Taehyung. Mencurigakan, terlebih sejak tadi, Kim Taehyung tidak juga merespon panggilannya. Me-nye-bal-kan, Jungkook dengan kesal membanting pintu mobilnya dan dengan tak sabar, ia mengetuk pintu rumah Taehyung dan memencet bel dengan kasar. Sungguh, ia sangat kesal, bahkan setelah sampai di rumahnya, ia masih tidak mendapatkan respon. Apa Taehyung mengabaikannya? Apa alasannya? Rasanya Jungkook benar-benar ingin menghukumnya karena sudah membuatnya khawatir seperti ini. Pokoknya, sampai pintunya dibuka, Jungkook tidak akan berhenti menekan bel itu. Masa bodoh kalau ini bisa disebut mengganggu ketertiban umum. Yang terpenting saat ini adalah bertemu dengan Taehyung.

Usahanya membuahkan hasil. Mendengar ada derap langkah, Jungkook mengantisipasi kalau-kalau yang membukakan pintu adalah Nyonya atau Tuan Kim. Ia sudah membuat ekspresi meminta maaf yang tulus kalau-kalau orang tua Taehyung memarahinya karena sudah membuat keributan. Tapi, ketika seseorang laki-laki yang tidak ia kenal membukakan pintu, Jungkook jadi kesal sendiri. Kenapa juga laki-laki ini membukakan pintu rumah Taehyung? Sialan. Apa yang dilakukan kekasihnya semalam sampai-sampai dia tidak kunjung memberi kabar dan lagi, dia membiarkan laki-laki lain masuk ke rumahnya? Berengsek. Apa yang dia lakukan di rumah Taehyung-nya?

"Maaf, Tuan dan Nyonya Kim sedang keluar, ada yang bisa dibantu?" laki-laki itu mengucap ramah, yang ia balas dengan "Mana Taehyung?" tanpa menunjukkan sedikitpun niat untuk balas bersikap ramah. Laki-laki di depannya memang manis, ia juga tampak baik, tapi, tidak, jungkook tidak punya niat sedikitpun untuk bersikap ramah sekarang. Malahan, sekarang ia menajamkan matanya, berusaha menguliti nyali laki-laki yang sekarang mulai tampak terganggu dengan sikap buruknya.

"Eh…kalau hyung sedang mandi… m-mau tunggu di dalam?" Mandi? Sial. Pikiran-pikiran buruk soal apa yang sudah Taehyung lakukan bersama laki-laki ini menguasai otaknya. Membuatnya semakin kesal, terutama saat laki-laki yang tingginya tidak jauh dari tinggi Taehyung itu mempersilakannya masuk. Bersikap seolah-olah dia punya hak atas rumah ini untuk mengizinkannya masuk. Kekesalannya semakin menjadi saat laki-laki itu dengan santainya menawarinya minum. Berengsek. Memangnya dia siapa? Pemilik rumah ini? Cih. Jungkook tahu kalau Taehyung itu anak satu-satunya, makanya tidak mungkin laki-laki sialan itu adiknya Taehyung.

Di sisi lain, laki-laki itu, Kim Minjae, masih berusaha untuk ramah dan berniat untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Sekeras mungkin agar tidak membuat marah laki-laki galak itu. Batinnya mempertanyakan kenapa kakak sepupunya bisa berteman dengan laki-laki tidak ramah ini. Seingatnya, Taehyung tidak pernah menyinggung soal…eh, tunggu. Tiba-tiba ingatannya menampar keras. Jangan-jangan, ini yang Taehyung maksud dengan orang gila itu? Minjae menatap pada laki-laki mencurigakan dengan setelan gelap, mata mendominasi, lengkap dengan aura membunuh. Minjae terlalu sibuk menerka-nerka sampai tidak menyadari derap langkah Taehyung menuruni tangga.

"Minjae, aku lupa naruh dompetku..." dan ketika itu, seperti ada bola besar di tenggorokan Taehyung yang membuatnya sulit berkata-kata, bahkan untuk menelan ludahnya saja, ia harus bersusah payah. Lagipula, siapa yang tidak kaget saat melihat sosok yang susah payah ia hindari, malah duduk manis di sofa. Lengkap dengan senyum menukik yang jahat. Sempurna, orang yang dihindarinya seharian itu sekarang duduk dengan santainya di dalam rumahnya sendiri. Mata Taehyung bergerak gesit mencari sosok yang bertanggungjawab atas ini, Kim Minjae. Sepupu sialannya itu yang hanya menjawab tatapannya dengan isyarat penuh maaf.

Hening.

Ketiganya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Taehyung menatap Minjae, meminta pertanggungjawabannya karena sudah mempersilakan masalah besar untuk masuk ke rumahnya. Minjae menggeleng, menjawab dengan isyarat kalau tidak, Minjae tidak bisa membantunya kalau keadannya seperti ini. Dan itu membuat Taehyung memberanikan diri menatap Jungkook dan melihat kalau mungkin, mungkin saja Jungkook akan berbaik hati kalau dia menjelaskan ini baik-baik.

"Oh. Mau pergi?" Dan mampus. Belum sempat Taehyung menyiapkan diksi, Jeon Jungkook sudah duluan menyerang. Taehyung memandang ke arah Minjae dan sialnya, Minjae malah sok sibuk mengaduk sirup, pura-pura tidak mendengar. "Iya, kenapa memang?" jawab Taehyung tak kalah ketus. Niat awalnya memang untuk menjelaskan atau minta maaf, tapi lidahnya memberontak dan lagipula, sesekali, Taehyung ingin untuk tidak merasa bersalah seperti biasanya. Dan menyadari kalau kali ini ada Minjae yang mungkin bisa membantunya kalau-kalau Jungkook akan berubah ganas, Taehyung jadi berani. Di sisi lain, mendengar jawaban Taehyung, Jungkook terkesan juga dengan usaha Taehyung untuk terlihat kuat. Dan entahlah, rasanya Jungkook justru malah senang. Berarti ini akan jadi pertarungan yang asyik.

"Oh, kenapa ya? Tidak merasa ada yang salah?" di sisi lain, Minjae yang mendengar dua laki-laki itu saling menyerang, jadi bingung sendiri. Oke. Dia jadi merasa canggung dan terlibat dengan dua orang ini bukan pilihan yang bagus untuk menghabiskan waktu akhir pekan berharganya.

"Salah? Apa sih. Sudahlah, aku mau pergi dengan Minjae," dan ketika itu, Minjae malah menatapnya penuh arti sebelum menjawab, "Hyung, aku pulang saja. Aku baru ingat kalau harga tiket akhir pekan itu mahal. Jadi... jadi kalian have fun ya!" dan itulah saat Taehyung sadar kalau adalah kesalahan besar untuk mempercayakan nyawa berharganya pada Kim Minjae. Ternyata, sepupunya si pengkhianat itu bisa-bisanya melarikan diri setelah membawa masalah padanya.

.

.

.

Seperginya Minjae, Taehyung tahu kalau mungkin ajalnya sudah dekat. Dan begitulah, penyesalan memang ada di akhir karena kalau di awal, namanya kesadaran…

"Oh. Wajahmu kenapa? Takut? Habis melihat hantu?" dan Jungkook bangkit dari sofa, membuat Taehyung mundur perlahan. Oke, tadi, bisa dibilang, karena ada Minjae, Taehyung jadi punya keberanian untuk melawan, tapi sekarang, sadar kalau dia hanya sendiri dan Jungkook bisa melakukan apapun, rasanya nyalinya jadi ciut. Hanya sisa harga diri yang membuatnya merasa harus untuk menutupi ketakutan nya.

"A-aku tidak takut."

Oh, betapa Jungkook ingin membuktikan kebenaran dari kalimat itu.

Dan dalam hanya waktu beberapa detik, Jungkook, dengan gerakan kakinya yang gesit, hasil latihan bela diri selama bertahun-tahun, berhasil menerjang kaki taehyung hingga pemuda kurus itu hilang keseimbangannya. Belum cukup dengan itu, Jungkook mendorong—tidak sekuat tenaga, tapi—cukup kuat untuk membuat tubuh Taehyung terjatuh ke lantai. Tidak sempat bangun, sekarang Jungkook menimpa tumbuh itu sampai tidak ada perlawanan dari Taehyung yang bisa membuatnya sanggup bangkit. Gila. Gerakannya sangat cepat, Taehyung jadi teringat tentang singa yang menerkam rusa, dan sadar kalau saat ini dia berperan sebagai rusa, membuat Taehyung ingin meronta melepaskan diri.

Tapi, apa bisa disebut meronta? Kedua tangannya dicengkeram erat oleh kedua tangan Jungkook. Sementara kedua kakinya pun sulit untuk digerakkan karena tertahan oleh otot baja Jeon Jungkook. Yah, yang bisa ia lakukan hanya menyesali perlakuannya dan menatap. Ah, tidak. Bahkan dia tidak berani menatap sepasang mata yang rasanya bisa mengulitinya itu.

"Kenapa denyut nadimu kencang sekali? Yakin tidak takut?" Dan Taehyung mengumpat kesal, ia berusaha melepaskan pergelangannya yang dicengkeram erat. Sial. Mulutnya memang bisa berbohong, tapi, tubuhnya sama sekali tidak bisa menutupi kenyataan kalau: ya, dia saat ini sangat takut. Lagipula, orang mana yang tidak takut kalau ada di posisi seperti ini?

"Jawab!" Jungkook meninggikan nadanya. Tidak sepenuhnya kesal, tapi dia cukup menikmati saat melihat ketakutan di wajah Taehyung. Well, sebut dia jahat, tapi Jeon Jungkook tidak bisa menahan diri karena gemas dengan tingkah laki-laki di bawahnya ini yang masih saja sok kuat walaupun sudah tidak berdaya seperti ini. Rasanya, tidak akan ada seorangpun yang bisa menahan diri untuk tidak menggoda Kim Taehyung.

"Jung-jungkook…"

"Apa? Bicara yang jelas," dan Taehyung yang masih menghindari tatapan Jungkook sekarang terpaksa harus menatap Jungkook karena pemuda di atasnya itu sekarang mendekatkan wajahnya ke wajah Taehyung. Dua tangannya tak berdaya menempel di lantai, tertahan oleh dua tangan kekar Jungkook.

"Seingatku, pertanyaannya adalah: Yakin, tidak takut?" suara Jungkook terdengar menakutkan. Ia membisikan itu kata-per-kata ke telinga Taehyung yang sudah sangat sensitif. Membuatnya semakin tegang karena mana mungkin tidak takut saat maut sudah ada di atas tubuhnya seperti ini? Tapi, harga diri, itu satu-satunya sumber kekuatan yang membuat Taehyung merasa harus melawan.

"Ya-yakin." Seharusnya kata itu terdengar tegas. Tapi, alih-alih tegas, kata itu malah terdengar seperti sebuah bisikan orang tercekik. Lalu, ketika ia merasakan tekanan di antara kedua kakinya, barulah ia sadar kalau ini sudah keterlaluan. Ia berusaha menghindari gesekan itu tapi Jungkook terus menekan lututnya ke daerah selangkangannya. Membuatnya tak kuasa menahan erangan karena rasanya aneh dan lagi, Jungkook melakukan itu saat dia mengenakan jeans ketatnya. Taehyung rasanya bisa merasakan miliknya mulai bereaksi dengan gesekan lutut Jungkook.

Barbar. Binal. Brengsek.

Rasanya umpatan itu ingin ia keluarkan kalau saja lidahnya tidak kelu. Ia hanya bisa mengerang sambil berusaha melawan kaki Jungkook dengan menendang-nendangkan kakinya sendiri. Tapi, gesekan itu semakin cepat. Tubuhnya yang sudah sangat peka itu sebegitu mudahnya untuk dirangsang dan rasanya sekarang Taehyung bisa yakin kalau miliknya sudah mengeras.

"Hm, suka?" dan mendengar itu, rasanya Taehyung ingin menampar Jungkook saat ini juga. Kalau saja tangannya tidak tertahan, ia pasti sudah melakukannya. Sungguh, ia enggan menjawab. Dia masih berusaha menahan diri agar tidak memohon ampun. Bagaimanapun, ia sadar kalau dia mengalah, itu hanya akan membuat Jungkook senang. Mendengar tidak ada jawaban, membuat Jungkook menekan lututnya lebih keras sampai Taehyung menggelengkan kepalanya dan berusaha melepaskan diri dengan sekuat mungkin.

Dia membenci tubuhnya yang entah kenapa tidak bisa saling bekerja sama untuk membantunya lepas dari situasi ini. Demi Tuhan, ini situasi membahayakan dan kenapa saat ini sistem pernafasannya tidak bisa berfungsi dengan normal, lalu kenapa juga jantungnya harus memompa darahnya terlalu cepat, juga tangannya yang malah terkulai lemas, dan yang paling penting, kenapa hormon testosteronnya terpacu dan malah membuatnya terangsang. Oh Dewa-Dewi, apa yang salah dengan tubuh ini?

"Kalau kau minta maaf dan mengakui kalau kau salah, aku akan memberikan apa yang kamu mau," katanya. Dan taehyung dengan harga dirinya yang masih ada, rasanya ingin meninju Jungkook saat dia mengatakan itu dengan penuh percaya diri. Si mesum sialan ini, dia pikir dia paham apa yang Taehyung mau? Dia pikir Taehyung semurah itu? Semudah itu? Ini pelecehan namanya!

Tapi, Taehyung memilih bungkam dan berusaha untuk bertahan dengan segala rangsangan dari Jungkook. Sungguh. Setiap kaki Jungkook menekan dan memberikan gesekan, rasanya taehyung jadi refleks mengangkat tubuhnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Belum lagi, desahannya jadi tidak tertahankan. Tapi, dia tidak mau mengalah lagi. Diam dan menahan diri adalah hal yang bisa ia lakukan. Memangnya, siapa yang mau melakukan itu? Taehyung tidak butuh itu.

Setidaknya, itu yang ada dalam pikirannya, tapi, lama-lama itu menyiksa juga. Rasanya jeans ketat yang menahan kebebasan miliknya untuk bangkit membuatnya merasa sakit. Belum lagi, tekanan Jungkook yang semakin menjadi. Astaga, apa iya, dia bisa kuat menahan diri? Dan sampai kapan si bodoh ini melakuakan pelecehan seksual padanya seperti ini?

"Ah...ah..." taehyung tidak mengerti lagi kenapa dia bisa terdengar begitu menjijikan. Belum lagi matanya yang memejam karena berusaha menahan sensasi membingungkan antara sakit dan nikmat itu. Tapi, sebenarnya, selain Taehyung, Jungkook sendiri juga mulai tidak sabar. Dia ingin menggoda Taehyung lebih lama lagi, tapi pada akhirnya dia sendiri jadi susah karena dia ingin segera melakukan itu dengan Taehyung. Apalagi, suara berat desahan Taehyung yang terus menggelitik kupingnya. Sialan. Kalau begini, rasanya Jungkook yang pada akhirnya harus mengalah.

Ah.

Terserah.

Jungkook akhirnya menyerang mulut Taehyung yang terbuka. Salahkan bibir manis kemerahan yang terus terbuka itu. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk menggigitnya sampai bengkak. Dan bagi Taehyung, kalau hanya tekanan di selangkangan, mungkin ia bisa menahannya, tapi, kalau ditambah dengan ciuman dan Jungkook melakukan itu di saat yang bersamaan, rasanya Taehyung tidak sanggup lagi untuk menahan diri. Apalagi, Jungkook tidak memberikannya waktu untuk bernafas.

Taehyung berusaha melepaskan ciuman Jungkook dengan memalingkan wajahnya. Kalau tidak, mungkin dia bisa mati kehabisan nafas. Walau awalnya Jungkook kesal, dia akhirnya membiarkan taehyung menghentikan ciuman itu. Akhirnya, ia menggunakan lidahnya untuk menjilat garis rahang taehyung yang tajam. Membuat taehyung gemetar karena sensasi geli yang tidak tertahankan dari otot hangat itu menjalar sampai ke ubun. Apalagi, lidah Jungkook terus bergerak sampai ke kupingnya, membuat Taehyung refleks memejamkan mata dan mengernyit karena ia jadi terlalu sensitif. Seluruh tubuhnya merasakan itu lagi. Sensasi terbakar yang selalu ada setiap kali tubuhnya disentuh seperti ini.

Kutukan sialan.

Saat ini, Taehyung yakin kalau ia benar soal teori itu. Bahwa, kutukan membuat Jungkook tergila-gila dengan tubuhnya, dan sebaliknya, dia juga tergila-gila untuk disentuh olehnya karena, orang normal pasti akan mampu melawan saat mengalami pelecehan seperti ini. Tapi, kenapa dia selalu membiarkan Jungkook melakukan apapun dan lagi, kenapa dia menikmatinya?

.

.

.

"Jung Jungkook, ma-ah...haah..." Taehyung memejamkan matanya lagi. Punggung nya terasa kaku karena kulit telanjangnya bergesekan langsung dengan lantai yang dingin. Pakaiannya sudah terlucuti dan Taehyung tidak peduli lagi dengan kenyataan kalau saat ini dia telanjang di lantai ruang tengah rumahnya dengan posisi memalukan. Astaga. Ruangan ini tempat keluarganya menonton televisi. Kalau mereka sampai tahu kalau Taehyung membiarkan orang lain memasukinya di tempat seperti ini, Taehyung tidak berani lagi memikirkan kemarahan mereka.

"Sudah kubilang—aku—kesal—kalau—kau—menghilang." Di setiap jeda katanya, Jungkook memberi sentakan pada prostatnya, membuat Taehyung tidak bisa menahan tubuhnya yang terus terdorong karena tidak kuasa menahan beban tubuh Jungkook.

"Oke, aku akan mengalah, akan memaklumi, kalau kau memang mau pergi atau berhubungan dengan laki-laki lain, terserah. Tapi, jangan menghindar, jangan menghilang, jangan sampai melakukannya lagi," dan Taehyung merasakannya: sakit. Bukan hanya di bagian bawah tubuhnya, atau punggungnya yang terus bergesek dengan lantai, bukan juga di pergelangan tangannya yang masih dicengkeram kuat-kuat oleh Jungkook. Entah kenapa, rasa sakit yang teramat sangat itu justru terasa di hatinya. Lucu. Dari semua luka fisik yang mungkin ia rasakan saat ini, yang paling ia rasakan justru rasa sakit abstrak yang ada di hatinya.

Ini semua, membuatnya semakin menyadari kalau ikatan ini, rasa saling tergila-gila ini hanya sebuah ikatan kutukan. Bahwa ada dua tubuh yang saling terikat karenanya. Iya, tidak ada perasaan yang mengikat di sini. Ini semua murni hubungan fisik.

Lalu, kenapa hatinya terasa amat sakit?

. . .

. .

.

.next?

a.n

Makasih supportnya~ baca reviewnya bikin ngakak juga, ternyata banyak yang sama-sama suka berimajinasi jahat, dan ayo terus berimajinasi jahat soal dua maknae ini. Maafkan ketidakjelasan ini dan selamat membaca. Jangan sungkan kasih masukan. Trimss!