Disclaimer : saya tidak memiliki KHR.

Warning! Typo, abal-abal, tulisan jelek, tidak rapi. Harap dimaklumi.

"Italy"

"Japan"

Thought

.

.

.

". . . .Giotto."

Giotto terkejut ia bisa dengan mudah menyebutkan namanya kepada orang asing, senyuman gadis tersebut semakin lebar. Giotto bisa merasakan mukanya memanas, lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Tanpa ia sadari iris orange miliknya berubah kembali menjadi biru, brunette mengangkat alisnya tertarik.

"Perkenalkan namaku Tsunahime. Panggil saja aku Tsuna." Sambil tersenyum lembut Tsuna memperkenalkan diri.

Jepang? Hanya itu yang terlintas dipikiran Giotto saat mendengar nama Tsuna.

Giotto merespon dengan anggukan pelan dan mengalihkan pandangannya kearah lain.

Pandangan Giotto bertemu dengan tatapan takut anak-anak lain yang juga akan dijadikan budak. Seketika ekspresi Giotto menjadi suram, seakan menyadari apa yang dipikirkan Giotto.

Brunette langsung memegang borgol yang mengikat tangan dan kaki Giotto, Giotto berbalak saat melihat api tiba tiba melahap borgol tersebut. Panik Giotto pun dengan reflek menutup matanya, menunggu saat saat dimana nyala api tersebut membakar tangannya.

Ia mulai mengeryit heran saat sensasi panas tidak menyentuh tangannya sama sekali, malah Giotto merasakan sentuhan lembut yang mengelus dahi Giotto yang sempat terluka saat keluar dari panjaranya.

Giotto membuka mata perlahan, terkejut saat melihat borgol kaki dan tangannya meleleh lalu dengan cepat ia menatap iris caramel brunette dengan tatapan bingung.

Brunette hanya tersenyum melihat tatapan bingung giotto, lalu mengelus kepala pirang miliknya dan berdiri menghampiri anak-anak lain yang masih terborgol.

Giotto mengelus kepalanya, lalu ia menyadari jika luka di dahinya tiba tiba menghilang.

Setelah melelehkan semua borgol yang membelenggu anak-anak tersebut, brunette lalu membawa mereka kepanti asuhan terdekat. Disana Giotto dan yang lainnya disambut hangat, oleh kepala panti yang sepertinya adalah teman brunette.

Giotto menatap brunette yang berbincang dengan wanita berambut dark green dan bermata deep blue.

"Giotto, perkenalkan ini temanku, Sephira." Brunette memperkenalkan kepala panti yang tersenyum lembut kearah Giotto dan anak-anak lain, mereka semua sangat bersemangat karena bisa keluar dari tempat busuk itu dan diperkenalkan dengan orang yang baik hati.

Setidaknya menurut Giotto, Sephira adalah orang yang baik.

"Halo anak-anak! Kalian akan berada dibawah perlindunganku. Untuk saat ini kalian pasti lelah kan? Aku akan menunjukan kamar kalian, ikuti aku." Ucap Sephira lembut sebelum pergi diikuti anak-anak lain, kecuali Giotto yang hanya menatap brunette dengan pandangan ragu.

Mengetahu tatapan Giotto, brunette tersenyum lembut lalu mengelus kepala Giotto.

"Ada perlu apa?"

"Um. . .t-terima kasih s-sudah menolong kami. . .Tsuna. . ."

"Tentu saja sweetie, dan kau juga perlu mandi dan pakaian baru. Pergi temui Luce." Giotto tersenyum lebar sebelum berlari mencari Luce untuk menuruti perkataan Tsuna.

.

.

.

-3 Days later-

"Tsuna! Tsuna! Dimana kau?." Sosok Giotto berlari mengitari panti asuhan untuk mencari sesosok brunette yang sangat ia kagumi.

Giotto pun berhenti berlari saat melihat Tsuna sedang membaca surat dibawah pohon besar yang berada tidak jauh dari panti asuhan, ia mendekati Tsuna yang sepertinya sedang larut dengan surat tersebut.

"Tsuna!" Panggil Giotto sekali lagi, Tsuna terserentak lalu mengalihkan pandangannya karah sesosok blonde yang sedang menatapnya dengan mata berbinar.

"Ada apa sweetie?"

"Madam Sephira memintaku memanggilmu untuk makan siang, apa yang sedang kau baca?"

"Aah, ini adalah surat dari teman-temanku. Mereka memintaku untuk bertemu dengan mereka."

"Eh? Apa kau akan pergi? Apa tempatnya jauh? Berapa lama kau akan pergi?" Terdengar dengan sangat jelas terdapat kekecewaan di nada bicara Giotto, Tsuna terkekeh.

"Hmm. . . Mungkin aku akan pergi sangat lama, tetapi jangan khawatir karena aku akan sering mengunjungi kalian sweetie." Tsuna mengacak acak rambut terang Giotto, lalu ia berdiri dan membersihkan rok hitamnya.

Tsuna tersenyum lalu menggandeng tangan Giotto. "Ayo kita kedalam, Sephira akan marah jika kita tidak dapat makanan."

". . . . ."

.

.

.

.

.

Selesai acara makan siang mereka, Giotto selalu ada disamping Tsuna. Seakan enggan pergi darinya, bahkan saat Tsuna berbicara private dengan Sephira.

Dan disinilah ia sekarang, duduk disamping Tsuna yang berbicara serius dengan Sephira diruang kerja milik Sephira.

"Sephira, aku harus segera pergi. Jika aku tidak kembali, Hayako akan meledakkan Sicily hanya untuk mencariku." Sephira tertawa pelan.

"Tentu saja kau boleh pergi dear, kapan kau akan pergi?"

"mungkin nanti sore."

"Eh!? Kau pergi nanti sore Tsuna!?"

"Cepat sekali, bagaimana dengan misimu? Apa sudah menemukan orang yang kau cari?" menghiraukan pertanyaan Giotto, Sephira bertanya kepada Tsuna dengan khawatir. Giotto mengeryitkan dahinya karena dihiraukan, dia merasa agak tersinggung.

"Kalau itu aku sudah menemukannya Sephira, jangan khawatir." Tsuna tersenyum lebar lalu mengelus kepala terang Giotto, mengisyaratkan agar ia tidak perlu tersinggung.

Sephira menghela nafas, lalu menatap Giotto dengan tatapan pernuh arti. Yang bersangkutan hanya menatap Sephira balik dengan tatapan heran.

"Madam Sephira! paman Kawahira datang!" Salah satu anak menerobos masuk ruang kerja Sephira, Sephira berdiri lalu berpamitan dengan Tsuna dan Giotto untuk pergi menemui tamu tidak terduganya.

Pintu tertutup, meninggalkan Tsuna dan Giotto dalam kesunyian sampai Giotto mengeluarkan suaranya.

"Tsuna, kemana kau akan pergi?"

"Hm? Ah, aku akan pergi menemui sahabatku yang bernama Hayako dan Lambina. Lalu kami akan menemui sahabatku yang lain yang berada di jepang, Rukuri, Kyoka, Rhea dan Tadeshi."

"Tsuna! Umm. . . begini. . . a-apa aku bo-boleh. . ."

"Hmm?"

". . . ." Giotto tidak bisa melanjutkan permintaan egoisnya didepan innocent face milik Tsuna! Jadi Giotto hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Dan seperti membaca pikiran Giotto, Tsuna pun bertanya.

"Nee Giotto, apa kau mau pergi ke jepang bersamaku?"

.

.

.

.

.

Harap maklum dengan typo yang bertebaran.

Kritik dan saran please. . . no flame.