SachiMalff proudly present

hunhan month

gone

oh sehun – lu han

warning : sehun-centered, manxman, death-chara, unbeta-ed

...

...

...

Yang ia sukai tak pernah lepas dari yang namanya salmon, steak dimasak setengah matang, macchiato, daffodil di sore hari, origami, burung bangau dari kertas, sepak bola, rintik hujan, dan—

—Oh Sehun.

"Aku mencintaimu."

.

.

.

Oh Sehun selalu heran bagaimana burung bisa terbang. Tidak—maksudnya, bagaimana tiap kepak sayap itu bisa menghasilkan irama yang sepadan dalam putaran angin yang, bahkan, tak menentu.

Atau ia heran, bagaimana bunga bisa mekar, layu, lalu akan tergantikan oleh mekarnya bunga lain. Keindahan, apakah bisa ditukar? Di gantikan?

Atau ia bisa heran, kenapa campuran antara warna cokelat karamel, hitam legam, putih susu dan merah terang bisa menghasilkan sebuah lukisan yang menjadi masterpiece Tuhan. Ialah rambut cokelat karamel, dengan obsidian hitam legam yang mampu menatapmu hangat hingga kau akan merasa bahwa kau hanya seringan kapas. Kulit putih seputih susu yang akan selalu pas jika disanding dengannya. Warna bibir merah terang tanpa polesan apapun, akan sangat lembut jika ia membenturkan dengan bibirnya sendiri.

Daun yang berguguran tertiup angin, hawa dingin menusuk rusuk, kaki yang menapak, mata yang menatap tajam lurus ke depan, raut muka yang tak berekspresi, gerakan yang bahkan tak nampak, keheningan yang meraja mayapada. Dan dua orang berdiri bersampingan.

Satu di antaranya membawa lily. Mengherankan mengetahui bahwa biasanya ia akan datang sendiri, dengan daffodil di tangan.

"Baekhyun hyung?"

Baekhyun menoleh.

Keheningan memberi jeda untuk memikirkan kata yang tepat, atau memberi waktu untuk memikirkan pertanyaan yang pas. Tentang sebuah hal yang menghambatnya dari pusaran dunia.

"Apa kau pernah mencintai seseorang?" jeda, "hingga kau rasanya akan mati bila tak bersamanya. Yang di dirinya akan kautemui ketenangan hingga kau merasa ingin menangis saking bahagianya. Yang di dirinya kau merasa seperti bunga yang takkan pernah melayu, yang menjadikanmu burung yang tak pernah lelah mengepakkan sayapnya karena dia adalah muara tempat kau akan kembali lagi esok harinya. Yang di dirinya, akan kau temui sebuah alasan mengapa semua kau selalu tersenyum tanpa alasan?"

"..."

"Semua orang akan mencari sesuatu. Yang membuat mereka merasa sempurna. Kau bisa menemukannya di mana saja, sebenarnya. Mungkin pada bunyi teko yang mengepul di pagi hari, karena yang akan meminum kopi buatanmu adalah kekasih hatimu. Atau pada suara keran air yang meluber kemana-mana, karena kau tahu yang akan membenarkannya ketika rusak adalah kekasihmu. Atau kau akan menemukan dirimu merasa sempurna ketika bahkan, kau memandang tumpukan baju yang kotor. Karena kau akhirnya tahu alasannya, karena seseorang di balik itu semua.

Beri aku waktu satu abad untuk menyadari dan mengenangnya, hyung. Tentang sesuatu itu. Yang membuatku sempurna, melengkapiku. Ketika melihatnya, akulah burung yang paling sempurna karena aku terbang tanpa sayap. Akulah bunga tercantik karena aku tak perlu sinar atau air untuk tumbuh. Cukup dengan bangun di sampingnya saat aku pertama membuka mata, mengucapkan kata cinta, atau berbagi napas tiap detiknya. Aku jatuh, hyung. Dalam pusarannya. Dan hanya akan ada dia."

Baekhyun tersenyum. "Kau sudah dewasa, rupanya?"

Pemuda yang lebih tinggi membuka bibirnya untuk melontarkan tawa semerdu kicau burung di pagi hari. "Cukup mengerti untuk hal seperti itu."

Byun Baekhyun mengangguk. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel tebalnya, membenamkan lehernya lebih kedalam mantel, mengusir hawa dingin di awal musim gugur. Kakinya terpasung tegap, namun tak menunjukkan satu gerakanpun.

"Kau tahu jika dia mencintaimu."

Kalimat itu terbang tersapu angin, tak meninggalkan apa-apa kecuali makna yang terbias ambiguitas semata.

"Kau tahu dia akan selalu di inti harimu—menetap di hatimu."

Helai rambut Oh Sehun tersibak pelan, sebagian menutupi dahinya. Bunga lily di tangannya bergerak lembut, seolah memberitahukan padanya bahwa hari beranjak semakin sore. Matahari bergegas turun kembali ke dasar bumi, menjemput temaram yang kian mengerucut.

Mungkin ia tak tahan lagi akan gejolak di hatinya, yang ingin meneriakkan bahwa ia merindunya, mencintainya seolah tak ada hari esok untuk mengucapkannya.

Mungkin benar bahwa waktu adalah hal paling berharga di bumi; karena waktu telah hilang baginya. Sedetik waktu akan ia pinta untuk kekasihnya, si sempurna Luhan. Untuk sedetik ia rela mengemis pada Tuhan, untuk mempertemukannya kembali dengan wujud raga yang telah terbujur kaku di dalam tanah.

Sehun-ah, jika aku tak lagi bersamamu nanti, berjanjilah bahwa kau takkan menangis. Tuhan membenci orang yang menangis diatas takdir, Sehun-ah. Jangan khawatirkan aku, oke? Aku akan baik-baik saja. Aku takkan kemana-mana, selalu ada di hatimu. Sehun-ah, ketika kau memintaku untuk hidup bersamamu, aku awalnya ragu jika ini semua takkan berhasil. Kau adalah contoh kesempurnaan sedangkan aku hanyalah orang biasa. Kau, lelaki sempurna, datang padaku dengan hati yang berdenyut berdebum di kedua tanganmu. Kau memberiku hatimu sedangkan aku hanya Lu Han yang tak tahu jika aku bisa memberikanmu hal yang lebih dari sekadar hidup dan seluruh cintaku.

Maka aku bersedia hidup denganmu, Sehun-ah.

Mungkin kau akan tertawa ketika membaca ini karena terdengar begitu klise namun aku mencintaimu. Dulu, dulu sekali, kau pernah bertanya apa aku menyesal telah meninggalkan kehidupanku yang dulu dan semua orang-orang yang berada di sana demi dirimu? Dulu memang aku sempat meragu, Sehun-ah. Namun tidak sekarang.

Aku rela melakukan hal apapun agar bisa mencintaimu.

I would be willing to leave my paradise for a barren desert that holds no promises as long as it is with you.

Jadi, jangan pernah menangis, oke?

Kumohon hiduplah dengan baik dan kejar apa yang ingin kauraih karena di sini, aku akan selalu mengawasimu dan mengirimkan cinta dan kasih sayangku.

Ingat aku di tiap kelopak bunga yang mekar di musim semimu. Ingat aku di tiap salju yang turun di depan rumahmu. Ingat aku di tiap sinar matahari yang menerangi harimu. Ingat aku di tiap hembus pelan angin di musim gugurmu...

the end