Yo, Gaes, Kei is here. Untuk fiksi ini, Author putuskan akan jadi dua chapter saja. Dan ini adalah chapter terakhir

.

.

.

Happy Read

.

.

Tittle : Kupu kertas pembawa pesan

Warning : KaitoLuka, Death chara, Typo,

Declaimer : Yang Kei miliki hanyalah cerita ini.

Note,

"Abc" : Percakapan biasa

'Abc' (Petik satu) : Perkataaan dalam hati, percakapan tak langsung (Tv, Radio, Dll)

.

.

"Eh? Kenapa?" Tanya Luka pada perawat yang ada di depannya.

Seperti ini seperti biasa, Luka datang untuk bertemu Kaito. Namun entah kenapa, perawat di bagian informasi mengatakan hari ini Kaito tak bisa menerima tamu.

"Hanya pemeriksaan lanjutan, Luka-san. Kaito-kun baik-baik saja, tapi mungkin kau tak bisa melihatnya hari ini." Jelas si perawat

"Pemeriksaan lanjutan?"

"Ya, untuk memeriksa perkembangan kesehatannya, tenang saja."

"Baiklah kalau begitu, mungkin aku akan datang besok saja. Tolong sampaikan salamku untuknya, terima kasih," Pamit Luka

"Tentu , Kaito-kun pasti sangat senang ya, punya pacar yang pengertian dan manis seperti Luka-san. Aku jadi khawatir dia akan kena diabetes," Goda si perawat. Entah kenapa, setiap perawat disana terlihat begitu akrab dengan Kaito dan suka sekali menggoda Luka.

"A-apa... aku bukan pacarnya tau," Pekik Luka sambil berlari keluar dari rumah sakit, meninggalkan perawat yang tertawa gemas karena tingkahnya.

"Gadis yang baik," Bisik si perawat.

Luka berjalan tanpa arah, sebenarnya dia ingin menjenguk Yuki. Namun kelihatannya Yuki juga sedang menjalani rehabilitasinya, Karena tidak ingin mengganggu, Luka memutuskan untuk berjalan-jalan dikota. Dan sekarang, Luka berada disebuah pusat perbelanjaan sendirian, melihat banyak orang berlaku lalang membuat Luka sedikit merasa menyesal.

"Hahh, seharusnya aku langsung pulang saja," Keluh Luka, sebelum dia sempat membalikkan badannya sebuah suara menghentikannya.

"Loh, Luka-kun?," Luka berbalik, dihadapannyaberdiri seorang pria dengan kacamata, seorang dokter yang dikenal dengan nama HiyamaKiyoteru.

"A-ano..., " Luka berusaha mengingat pria didepannya, "Dokter Hiyama?"

"Ping pong!. Anda benar nona Luka. Sekarang anda pilih hadiah yang ada di saku saya atau tirai tiga?" Ucap Kiyoteru menirukan acara kuis, candaanKiyoteruitu malah membuat Luka merasa semakin malu.

"Ma-maaf?"

"Ahaha, hanya bercanda kau sangat kesulitan mengingatku ya?"

"maaf."

"Jangan khawatirkan hal itu. Ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan disini?"

"Bukan apa-apa, aku hanya sedang berjalan-jalan. Kupikir aku bisa bertemu dengn Kaito, tapi dia sedang pemeriksaan rutin jadi aku kesini," Jelas Luka, Kiyoterutersenyum.

"Kau sangat dekat dengan Kaito-kun ya," mendengarnya membuat Luka kembali memanas, knnapa semua orang suka sekali menggodanya?

"Bu-bukkan begitu Dokter, kami tidak sedekat itu!"

"Aku serius Luka-kun. Yah aku akuiKaito-kun memang dekat dengan semua orang, tapi merasa kau itu lain,"

"Maksud anda?"

"Hmm, aku juga bingung, tapi kurasa kau memang dekat dengan Kaito-kun. Ah, mau berjalan denganku?" Tawar Kiyoteru. Karena tak tau mau kemana, Luka memutuskan untuk mengikuti Kiyoteru, siapa tau dia juga bisa bertanya tentang Kaito.

"Uhm, dokter Hiyama, sudah berapa lama Anda bertugas dirumah sakit itu?"

"Aku? Kurasa sudah enam bulan,"Kiyoteru seperti mengingat-ingat,melirik sedikit kearah Luka, "Kaito-kun sudah dirumah sakit sebelum aku datang, kurasa,"

"Tentang Kaito, memang dia sakit apa?"

"Apakah seorang dokter boleh mengatakan privasi pasiennya?"

"Ehm, kurasa, tidak," lirih Luka. Kiyoteruberhenti sejenak dan melihat Luka yang lebih pendek darinya. Sedikit tersenyum, "Dia baik-baik saja Luka-kun. Tapi temanilah dia,"

"Eh?," Kaito baik-baik saja kan? Lalu kenapa dokter dihadapannya ini berkata seolah akan terjadi sesuatu pada Kaito.

"Kuberi tahu sesuatu. Meskipun Kaito terlihat riang, dia itu sedang tidak separah itu, tapi kurasa sejak bertemu denganmu dia jadi lebih cerah. Hanya perasaanku."

Luka tertegun, dia ingat ekspresi Kaito saat pertama kalimelihatnya di atap rumah , dan menyedihkan.

"Baiklah, aku sampaidisini saja. Ada hal yang harus segera ku urus. Bagaimana denganmu Luka-kun?"Kiyoteru berhenti di persimpangan, tampak akan mengambil jalan yang berbeda.

"Y-ya?" Luka tersadar dari lamunannya, "kurasa aku akan terus saja Dokter Hiyama. Terima kasih, jalan-jalan dengan Anda cukup menyenangkan," Luka meneruskan jalannya sambil melambaikan tangannya pada Kiyoteru. Kiyo5eru membalasnya.

"Ayo pergi lagi kapan-kapan," Dia agak mengeraskan suaranya karena jarak sudah cukup jauh,

"Ah, Luka-kun," Luka berhenti, menatap pada si dokter yang tengah berteriak, "Rahasiakan ini dari tunanganku ya!"

"Eh?" Pekik Luka, sedangkan Kiyoteru sudah pergi jauh dari hadapannya sambil terkikik, "Dokter yang aneh," komentarnya.

Dalam diam, melanjutkan perjalanannya. Berhenti sejenak lalu melihat ke arah langit. Ini adalah musim panas, tentu saja suhu diluar akan sangat berat. Luma sedikit menyesal karena tak mendapatkan hasil apa-apa.

"Hah, kurasa aku akan pulang saja."

.

.

Keesokannya. Seperti biasa, Luka mengunjungi Kaitonamun kali ini mereka tidak duduk di atap rumah sakit, mereka hanya bersantai di kamar Kaito. Luka memang datang agak siang hari ini dan Kaito bilang, sebentar lagi pemeriksaan rutin, dia akan merepotkan perawat yang datang jika pergi sekarang.

"Kaito," panggil Luka pelan.

"Ya?"

"Sebenarnya Kau ini sakit apa? Bagiku kau tidak terlihat terlalu buruk."

"Yah hanya sakit biasa. Orang tuaku hanya terlalu khawatir. Ada apa?"

"Uhm? T-tidak, aku hanya penasaran saja. Kira-kira kapan kau bisa keluar?"

"Mungkin sebentar lagi. Hey Luka, kau masih sekolah?" Tanya Kaito

"Uhm? Aku baru saja lulus. Ada apa?"

"Hanya penasaran. Sudah punya rencana?"

"Belum, kurasa," Luka menunduk, kedua tangannya bergerak memainkan ujung baju yang dipakainya, "Aku tak tau harus apa."

"Hmm? Apa kau punya hobi, atau cita-cita?

"Entahlah, aku tak yakin. Membingungkan," ujar Luka.

"Kurasa kau harus lebih percaya diri Luka,"

"Tak semudah itu Kaito,"Belum sempat Kaito menanggapi Luka, seorang perawat datang untuk pemeriksaanrutin, "permisi. Selamat siang Kaito, Luka-san."

"Selamat siang Lenka-san" Jawab Kaito dan Luka bersamaan.

"Kurasa aku mau keluar dulu," Luka berdiri dari tempat duduk membuat Kaito menatapnya bingung.

"Kenapa? Pemeriksaannya hanya sebentar, seperti biasa."

"Uhmm, aku harus ke kamar kecil," Luka melangkah menuju pintu, sedikit menunduk pada perawat bernama Lenka untuk memberi salam yang dibalas oleh sebuah senyuman oleh Lenka.

.

.

Alih-alih pergi ke kamar kecil, Luka memutuskan untuk mengunjungi Yuki, dia dengar gadis itu sudah mulai berjalan tanpa kursi roda. Hari ini Yuki sedang bersantai di kamarnya, keadaan di luar yang panas membuat dia merasa malas untuk pergi keluar.

"Selamat siang," sapa Luka, memastikan Yuki masih bangun walaupun hari masih terbilang siang, "Yuki,kau tidak tidur?"

"Selamat siang kak Luka, aku tidak biasa tidur siang ehehe," Ujar Yuki.

"Aku boleh duduk?" Luka mendekati Yuki, dapat dia lihat sebuah buku tertelungkup di pangkuan Yuki, "sedang membaca?"

"Uhm," Yuki mengangguk cukup keras, membuat kedua kucirnya ikut tersentak, "Buku pelajaran dari sekolah," lanjutnya.

"Buku pelajaran?"

"Uhm, Yuki sudah dua bulan tidak masuk sekolah, jadi Yuki ketinggalan banyak sekali pelajaran,"

"Memang Yuki kelas berapa?"

"Kelas lima. Yuki selalu dapat peringkat satu lho,"

"Benarkah? Waahh, orang tua Yuki pasti sangat senang," tanpa Luka sadari, raut muka Yuki sedikit berubah, "Orang tua Yuki ada dimana?" Ah, pertanyaan yang salah. Luka baru menyadari kesalahannya.

"Mereka bekerja, jadi mereka jarang bersama Yuki," Luka terdiam, dia tak terlalu pandai bicara dengan anak-anak.

"Yuki tidak merasa kesepian?"

"Tidak. Kak Kaito dan dokter Kiyo terkadang kemari untuk menemani Yuki, jadi tidak apa-apa"

"Apa Yuki marah dengan ayah dan ibu karena mereka tidak menemani Yuki?"

"Pekerjaan mereka sangat banyak, Yuki tidak akan marah jika Mama dan papa tidak menemani Yuki"

"Yuki... tidak berpikir mereka... jahat?"

Hening, sikap Yuki membuat Luka benar-benar merasa bersalah, bagaimanapun Yuki masih kecil, tak seharusnya dia mengatakan hal yang cukup kejam itu.

"Mama menangis."

"Setiap kesini, Mama selalu menangis. Mama selalu minta maaf karena tidak bisa menemani Yuki. Mamabilang sangat ingin keluar dari pekerjaannya, tapi tempat Mama bekerja belum mengizinkan Mama untuk keluar, pasti karena pekerjaanMama sangat bagus," Yuki berhenti sejenak, dengan sebuah senyum yang tampak dipaksakan dia melanjutkan, "Tentu saja. Pekerjaan Mama sangat bagus, Mama adalah Mama yang paling hebat. Kerena itu... karena itu tempat kerja Mamatidak mau Mama berhenti."

"Yuki,"

"Ehehe, makanya Yuki tidak boleh menangis. Jika Yuki ikut menangis, Mama pasti akan semakin sedih dan menangis lebih keras lagi. Dokter Kiyo yang mengatakannya, 'Jika ada orang yang menangis, harus ada orangyang tegar dan menenangkannya'. Yuki tak terlalu mengerti, tapi pasti maksudnya Yuki harus bisa membuat Mama tersenyum lagi."

"Kak Luka, apa kakak punya cita-cita?"

"Aku? Y-yah aku punya beberapa hal yang ingin ku lakukan. Bagaimana dengan Yuki?"

"Yuki, ingin punya sebuah restoran! Jadi Yuki bisa terus bersama Mama dan Papa!"

"Restoran?"

"Un! Nanti Mama yang akan jadi kokinya, Mama sangat pintar memasak lho. Masakannya adalah masakan paling eeenak di dunia," Luka terkikik, dia juga menganggap masakan ibunya yang paling enak., "Dan Papa. Papa akan jadi pelayannya, dulu papa pernah menjadi pelayan dan Papa sangat tampan pasti banyak orang yang akan tertarik untuk makan di restoran," Yuki benar-benar bersemangat tentang orang tuanya, hal itu menunjukkan betapa Yuki sangatmenyayangi orang tuanya. Menyadari hal itu membuat Luka malu juga merasa bersalah telah berpikiran buruk tentang orang tua Yuki.

"Lalu bagaimana dengan Yuki?"

"Uhhmmm, Yuki akan menjadi pencicip makanan yang dibuat oleh Mama, juga menjadi pengawas agar Papa tidak menggoda wanita lain saat sedang bekerja! Lihat, Yuki punya dua pekerjaan." Yuki sedikit membusungkan dadanya, hal itu membuat Luka tertawa pelan.

"Ahaha, benar. Yukiakan mendapat hadiah lebih karena punya dua pekerjaan,"

"Tentu, Mama dan Papa harus menemani Yuki sepanjang hari karena Yuki sudah bekerja keras, huaaahh," entah karena lelah atau karena efek obat yang diminumnya, Yuki kini merasa mengantuk.

"Dan sekarang sudah saatnya bagi pekerja kecil ini untuk tidur." Luka sedikit menyentil hidung Yuki, membuat gadis kecil itu menggembungkan pipinya.

"Yuki belum mengantuk, Yuki masih ingin mengobrol dengan kak Lukaaaaahh," Yuki kembali mengucek matanya tanda lelah.

"Lihat? Tidurlah, aku akan menemani sampai Yuki tidur," Yuki akhirnya mengangguk

"Un," Jawabnya pelan.

Menyelimuti tubuh Yuki sampai sebatas dada, Luka kemudian membelai pelan kepala Yuki. Bersenandung lembut, berusaha membuat gadis kecil itu dari Luka membuat Yuki perlahan semakin tenang.

"Kak Luka tau? Mama juga senang bersenandung saat Yuki tidur," Ujarnya pelan.

"Hmm? Benarkah?"

"Un, Mama adalah mama yang sangat baik," Luka tak menjawab, dia hanya membelai puncak kepala Yuki, membiarkan dia tenggelam dalam alam bawah sadarnya.

Setelah Yuki tertidur,Luka tidak lantas meninggalkannya. Dia masih melakukan hal yang sama untuk beberapa saat. Setelah yakin Yuki benar-benar telah terlelap, barulah Luka menghentikan kegiatannya.

"Selamat tidur Yuki," Ucapnya sambil mengecup kening Yuki.

.

.

"Kau ke tempat Yuki?" Tanya Kaito sekembalinya Luka dari kamar Yuki.

"Eh, kau tau?" Luka melihat sekeliling, Lenka sudah tidak ada.

"Yah, hanya menebak," Luka sadar, dia cukup lama bersama dengan Yuki.

"Maaf," Ujarnya. Kaito tertawa pelan.

"Hmm? Kenapa minta maaf? Aku hanya bertanyatau. Jadi bagaimana keadaannya?"

"Yuki? Ceria seperti biasa, dia sedang belajar saat aku kesana tapi sekarang dia sudah tidur."

"Dia memang anak yang rajin. Dia bilang ingin punya restoran nanti,"

"Ya, dia sangat bersemangat saat mengatakannya. dia bilang ingin bekerja dengan orang tuanya,"

"Hmm? Jadi kau sudah dengar tentang orang tuanya?"

"Eh? Iya," jawab Luka lirih, "Kaito sudah tau tantang mereka?" Kaito mengendikan bahunya

"Begitulah," Jawabnya singkat, "lebih tepatnya aku melihatnya sendiri. Saat Yuki dibawa kemari karena kecelakaan, Ibunya sangat panik dan tidak berhenti menangis," Jelasnya.

"Kenapa kau tidak bilang? Aku... memikirkan hal yang tidak-tidak pada orang tua mereka tau," Luka kembali menunduk tanda bersalah. Kaito melirik Luka, hening cukup lama tercipta.

"Apa yang kau dengar bukanlah apa yang kau tau," Ujar Kaito pelan, "Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku yang harusnya minta maaf, memang salahku tidak mengatakannya secara jelas padamu." Luka menggeleng.

"Kurasa kau juga tidak salah, tak mungkin menceritakan hal seperti ini dulu,"

"Terima kasih," Pria itu tersenyum, "Kini kau sudah tau,ada banyak rahasia untuk suatu hal. Kenyataan bisa saja berbeda dengan yang kau pikirkan, mungkin berat untuk sekarang, tapi nanti pada saatnya pasti akan menjadi hal yang indah."

"Seperti kupu-kupu?" Kaito terhenyak.

"Ya, seperti kupu-kupu,"Dan mereka berdua kembali tertawa.

"Hey Kaito," Luka menghentikan tawanya, "Apa kau masih sekolah?"

"Ya?" Kaito menoleh pada Luka, menatapnya penasaran.

"Tidak, melihat Yuki belajar membuatku penasaran."

"Aku sudah semester lima di universitas S. Yah seharusnya" Kaito terkekeh tampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Seharusnya?"

"Ada beberapa masalah dan aku memutuskan untuk keluar, begitulah."

"Berhenti di semester lima, sayang sekali. Sebentar," Luka tersentak, sadar akan sesuatu, "Universitas S? Bukankah itu universitas terbaik di wilayah ini? Kaito mahasiswa di universitas se-elit itu?" Pekik Luka tanpa sadar.

"Kurasa kau terlalu berlebihan Luka," Ujar Kaito, tampaknya dia cukup terkejut dengan perubahan sikap Luka.

"Kurasa tidak. Universitas S terkenal sangat ketat dalam hal nilai, dan kudengar program akademis disana sangat bagus," Sahut Luka antusias

"Tidak sebagus itu kok."

"Ya ampun Kaito, itu universitas yang hebat. Bagi orang sepertiku, bisa diterima masuk adalah sebuah impian."

"Luka," panggil Kaito tiba-tiba

"Iya?"

"Bagaimana kalau kau mendaftar masuk di Universitas S?" Usul yang terdengar mustahil -bagi Luka- tiba-tiba terlontar dari Kaito.

"Eh? Tu-tunggu dulu!" Sahut Luka gugup, "Itu mustahil bukan? Ini terlalu mendadak, lagipula nilaiku tidak terlalu bagus, dan juga..."

"Cobalah!" potong Kaito, "Tak masalah jika gagal bukan? Setidaknya kau sudah mencoba,"

"Tapi..."

"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi mungkin kau bisa mempertimbangkannya nanti."

"U-un, akan ku pikirkan,"

.

.

"Ibu." Panggil Luka, kini mereka tengah menikmati makan malam bertiga dengan Luki.

"Ya?" Jawab ibunya

"Menurut ibu... menurut ibu, bagaimana jika aku mendaftar di Universitas S?" tanya Luka ragu.

"Universitas S?"

"Kakak serius? Universitas S yang itu?" Ucap Luki ditengah kegiatan mengunyahnya.

"Luki telan dulu makananmu!," Tegur Mizki, beralih pada Luka, "Kalau kau yakin, kenapa tidak? Lagipula ibu rasa tidak ada salahnya mencoba. Apa kau sudah punya rencana?"

"Yah untuk jangka panjangnya belum. Akan ku pikirkan nanti."

"Kenapa tiba-tiba? Bukankah kau bilang mau bekerja saja?" Tanya Luki.

"Setelah kupikir lagi, ada beberapa hal yang ingin ku lakukan, dan mungkin aku harus kuliah agar bisa melanjutkan," senyum terukir di wajah Luka saat mengakannya.

"Beberapa hal?" Tanya Luki curiga.

"Akan aku bicarakan dengan ibu nanti saat kau sudah pergi. Orang seperti kamu tidak akan mengerti!" Luka menjulurkan lidahnya membuat Luki sedikit merengut.

"Ya, tentu saja, mungkin harusnya kakak bicarakan saja dengan Kaito-san, aku rasa dia lebih paham tentang ini,"

"Kau... bagaimana" Luka menoleh pada Mizki yang terlihat sedang menahan tawanya, "Ibuuu..!"

"Hahaha, maaf maaf, tapi ini bukan hal yang harus ibu rahasiakan bukan?"

"Uhhh, memang sih. Tapi kalau Luki..." Luka menatap tajam pada Luki, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum jahil.

"Tidak apa-apa kak. Eh ngomong-ngomong dia itu sakit apa? Aku dengar dari ibu dia sudah lama dirumah sakit?" Luka menggeleng.

"Entahlah, dia selalu menjawab penyakit biasa kalau aku bertanya. Ibu tau?"

"Tidak, dia tidak pernah cerita pada ibu."

"Aneh, bukankah dia seperti menyembunyikan sesuatu kalau seperti itu?"

"Hei, jangan berprasangka seperti itu, setiap orang punya privasinya sendiri. Sekarang diam dan habiskan makananmu," Ujar Mizki, Luki menurut dan kembali memakan makanannya yang tinggal sedikit. Luka terdiam,

'menyembunyikan sesuatu'

Entah kenapa perkataan Luki barusan terasa mengganggu pikiran Luka.

.

.

"Kau tidak bisa masuk Luka-san," Tegas Lenka untuk kesekian kalinya, suster pirang itu bersikeras tidak memperbolehkan Luka masuk ke ruangan Kaito.

"Tapi kenapa?" pertanyaan yang sama terulang, Luka tidak akan merasa puas sebelum mendapat kejelasan dari membuatnya khawatir adalah sejak tadi banyak perawat yang lalu-lalang, meskipun samar dapat dia dengar kata 'keadaan Shion memburuk' terucap dari si perawat.

Lenka mendesah, merasa tidak ada pilihan lain dia bicara dengan lirih.

"Sebenarnya, keadaan Kaito-kun sedikit menurun akhir-akhir ini. Karena itu, kondisinya harus lebih diawasi," Jawaban itu membuat Luka sedikit terkejut, dugaannya benar.

"Apakah, dia akan baik-baik saja?" Lenka menggeleng tanda bahwa dia juga tidak tahu.

"Pulanglah, Luka-san," Ujarnya pelan, sedikit memohon.

Sebuah gumaman menjawab pertanyaan Lenka, Luka berbalik meninggalkan Lenka di meja resepsionis sesekali melirik ke arah kamar Kaito. Hingga tanpa sengaja dia melihat sosok nyonya Kaiko -ibu Kaito, yang berjalan gelisah di sebuah lorong, tanpa pikir panjang Luka menghampiri Nyonya Kaiko.

"Bibi Kaiko!" Kaiko menoleh, mendapait Luka herlari kearahnya, "Apa yang terjadi pada Kaito? Mungkin ini 5dak sopan, tapi tolong katakan padaku," tanpa sadar Luka meninggikan suaranya. Kaiko yang terkejut tersenyum tipis.

"Luka-chan."

.

.

.

"Keadaan Kaito kembali kritis," Ujar Kaiko

"Kembali?"

"Kaito sedah lama sakit. Mungkin sudah hampir satu tahun ini dia keluar-masuk rumah sakit,"

"..."

"Satu-satunya harapan hanya operasi,"

"Kalau begitu..."

"Operasi itu bisa saja merenggut nyawanya, begitulah yang dokter katakan,"

"Eh?"

"Itu adaah pilihan yang berat. Saat merasa depresi, Kaito cenderung lebih banyak bicara. Dia tersenyum seolah tidak ada apa-apa, padahal di dalam dia sangat hancur."

"Bibi Kaiko,"

"Kau tau? Saat bersamamu, Kaito tersenyum lebih tulus. Seolah kalian berbagi beban yang sama, menghiburmu sudah sama seperti menghibur dirimu sendiri."

"Aaa... tidak, kurasa anda berlebihan, bibi,"

"Tidak. Atau mungkin iya. Tapi sebagai ibu aku merasakannya, itu adalah s3nyum paling tulus milik Kaito dalam satu tahun ini. Dan karenanya aku berterimakasih,"

"..."

"Benar juga. Kaito, memutuskan untuk operasi,"

"Eh?"

"Jadwalnya adalah tanggal 17, seminggu lagi."

.

.

.

"LUKA!" Luka tidak berada di tempat biasa. Kaito melihat sejeliling, tertangkap olehnya Luka sedang berdiri di tepi atap rumah sakit, "Kau bicara dengan ibuku?"

"Kaito," Panggil Luka Lembut, berjalan perlahan mendekati Kaito, "Dasar Bodoh!" Makinya sambil memukuli Kaito.

"Aw, aw, kenapa...?"

"Kenapa kau berbohong? Kenapa kau bertingkkah sok kuat begitu? Setidaknya katakan kalau sakit! Dasar Kaito bodoh!" serang Luka sedangkan Kaito berusaha untuk menenangkan Luka.

"Maafkaan aku," Ujar Kaito sambil menahan kedua tangan Luka.

"Jangan menahannya sendirian, bibi Kaiko sangat khawatir tau,"

"Aku tau,"

"Kaito yang bilang, aku harus berusaha. Karena itu karena itu, Kaito juga harus berusaha," Luka menyodorkan sesuatu yang membuat Kaito tersenyum.

"Ya, kau benar," Kaito menerima benda itu -sebuah origami kupu-kupu.

"Jadilah kupu-kupu, Kaito,"Luka mencoba menirukan kata-kata Kaito.

"Uhhh," Kaito menahan tawanya, "Tidak cocok tau,"

"Jahat, aku malakukannya untukmu tau!"

"Aw,, iya iya aku mengerti."

"Ngomong-ngomong, Kaito,"

"Ya?"

"Aku juga..." Kalimat Luka terhenti, menarik nafas panjang, "Aku memutuskan untuk ikut ujian masuk Universitas S," Ucap Luka mantap. Kaito tersenyum lega, kemudian mengacak pelan rambut Luka.

"Kamu pasti bisa," Ucapnya singkat.

"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil begitu," Luka pura-pura merengut, menyentuh puncak kepalanya, "Ujiannya tanggal 17, satu minggu lagi," lanjutnya.

"Begitukah?"

"Ayo kita berjuang bersama, Kaito,"

.

.

.

"Akhirnya selesai," Luka merenggangkan tubuhnya.

Ujian masuk yang mmemakan waktu 6 jam baru saja selesai. Beberapa temannya mengajak untuk pergi ke cafe dan beristirahat sejenak. Namun dengan alasan masih ada pekerjaan, Luka menolak ajakan mereka.

"Ada yang harus ku lakukan," ucapnya.

Tanpa banyak bicara dia langsung berlari menuju rumah sakit, melihat keadaan Kaito tentu saja.

'Kaito, aku sudah berusaha. Karena itu...'

'Kamu juga harus berusaha!'

Menaiki tangga, melewati beberapa lorong dan belokan, akhirnya ruangan Kaito terlihat. Tanpa mengetuk, Luka langsung membuka pintu kamar tersebut

Greeekk

"Ah, ujianmu sudah selesai, Luka,"

Adalah kalimat yang Luka harapkan keluar dari lisan Kaito. Namun, ranjang kaito terlihat rapi, bahkan bantal dan selimut yang biasa digunakan Kaito juga tidak ada. Tanpa sadar matanya mulai berkaca, hingga sebuah tepukan halus menyentuh bahunya.

"Terimakasih, telah bersamanya selama ini," Kaiko, mengatakannya dengan penuh penyesalan. Kata-kata itu sudah menegaskan satu hal.

Lutut Luka kehilangan tenaganya sedetik kemudian.

.

.

.

"Kaito memutuskan untuk operasi. Jadwalnya tanggal 17, satu minggu lagi. Dia, selalu memperhatkanmu, kamu yang berusaha bangkit, pada akhirnya dia juga berkata 'aku juga akan berusaha' pada dirinya sendiri," Kaiko berhenti sejenak, mengambil sesuatu dari dalam tasnya, "Aku menemukan ini diantara barang-barang Kaito, kurasa ini untukmu."

Luka menerima bingkisan itu, tanpa banyak bertanya dia membukanya. Sebuah Hairclip, berbentuk kupu-kupu berwarna merah muda dengan noda biru dibagian tengahnya. Namun yang menarik perhatiannya adalah selembar kertas yang terselip diantaranya.

"Mungkin, itu juga hal yang ingin dia katakan pada dirinya sendiri," Jelas Kaiko, "Dia pria yang aneh ya," kekeh Kaiko. Luka membuka kertas itu, hanya terdapat dua kata di dalamnya, namun hal tersebut membuat dadanya terasa sesak. Mengingatkannya pada perkataan Kaito.

'Jika seseorang mengerti tentang 'penderitaan', dia akan jadi orang yang lebih baik. Luka adalah orang yang baik, kamu tidak akan membiarkan seseorang bersedih. Luka pasti akan bahagia, lebih dari siapapun. Karena itu, Luka...'

-Jalani hidupmu-

Air mata kembali membanjiri pipinya.

.

.

.

"Kau sudah boleh istirahat, Megurine-san" Gadis merah muda itu menoleh.

"Ah, terimma kasih. Aku istirahat dulu."

"Baiklah,"

Luka berjalan menuju ruang istirahat, membuka loker kerjanya lalu mengambil bekkal makanan yang dia bawa.

"Huft, lelahnya," Keluh Luka. Tanpa sengaja dia melihat pantulan dirinya di cermin, sebuah hairclip merah muda menghias sisi rambutnya.

"Kaito..." desisnya tanpa sadar, "Aku akan berusaha!" Ujarnya kemudian.

Kaito, maaf, aku gagal pada ujian masuk universitas. Sudah kubilang mustahil bukan? Tapi tak masalah, toh aku sudah berusaha. Kini aku bekerja di sebuah restoran. Kau tau? Keluarga Yuki benar-benar membuka sebuah restoran, tempatku bekerja sekarang. Yah, meskipun tidak seperti ekspektasi Yuki, hahaha. Baiklah, aku akan kembali bekerja, sudah saatnya aku kembali menjalani hidupku. Salam hangat dariku.

.

.

.

END

.

.
O'Kei dengan demikian fiksi ini berakhir. Hahaha, Author janjikan satu minggu dan lihat… /BAKAR AUTHORNYA!. Ok tenang, hal yang susah disini adalah setelah Author baca lagi, kog kayaknya endingnya malah jadi kaya 'Shigatsu wa kimi no uso' dan setelah beberapa kali amandemen (Yailah) jadilah ending yang beginilah…. Hohoho. Anyway, maafkan jika ada kesalahan tolong beritahu Author. Dan terakhir, jika ada komentar, silahkan tuliskan di kotak Review dibawah. Jaa na ^_^