Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
.
.
.
.
.
.
Naruto mengecup satu persatu jemari Sakura, menatap lembut sepasang emarld sayu di bawahnya. " Rikudou Sennin, eh?" Dia tertawa mendengar Sakura yang berpura-pura mengejeknya. Sakura tersenyum. Jemarinya mengelus rahang kokoh Naruto yang kini menindih tubuhnya. Naruto terdiam menikmati setiap belaian Sakura di rahangnya dengan kedua mata terpejam, tangan Sakura begitu halus menyentuh kulitnya. Apa ini rasanya menjadi calon ayah, dimana kau menantikan anak dalam rahim istrimu yang belum di ketahui apa jenis kelaminnya. apa ini rasanya menjadi suami? Kau begitu bahagia, dia selalu cantik dan memabukan.
Dulu aku sempat berfikir, orang tuaku kejam. Mereka meninggal di saat aku masih bayi, baru melihat dunia. mereka tidak ada untukku, aku kesepian, sendirian dan di jauhi. Tapi aku sadar, mereka, ayah dan ibu, jauh lebih menderita dan sakit dari apa yang aku rasakan saat itu. Mereka menunggu lama untuk melihatku lahir ke dunia, menjaga selama aku masih belum terbentuk sempurna, tapi saat hari itu tiba, aku di lahirkan, mereka tidak bisa hidup berlama-lama bersamaku, untuk melindungiku. Naruto tersadar dari lamunannya saat Sakura mengecup sudut bibirnya, dia tersenyum lembut.
"Aku mengerti perasaanmu Naruto. Jangan terlalu di fikirkan, aku janji." Sakura memeluk leher Naruto, menangis di lengkungan leher pria yang juga memeluknya. "Aku janji... kita akan jadi keluarga bahagia. Aku janji."
Naruto terkekeh pelan. Sudut matanya sedikit berair, "Kau membaca pikiranku eh." Dia mengecupi cuping telinga juga rambut Sakura.
"Bukan." Kemudian berbisik lembut di telinga Sakura. Wanita berambut merah muda itu memejamkan mata saat deru nafas Naruto menggoda telinganya. "Aku bukan Rikudou Sennin. Namaku Namikaze Naruto, Hokage konoha, calon ayah dari anak yang di kandung istriku, Haruno Sakura."
"Namikaze." Sakura membenarkan ucapan Naruto. Lelaki berparas tampan itu tertawa, dia mendekatkan keningnya dengan kening Sakura di bawahnya, " Namikaze Sakura." Gumamnya kemudian mencium kening Sakura sayang, "Ibu dari calon anak-anakku." Mereka saling menatap penuh kasih sayang.
Sakura kembali melingkari leher Naruto dengan kedua lengannya. "Ya." Seraya tersenyum lembut.
Mereka berciuman. Naruto mencium bibir Sakura lembut lalu turun sampai leher, lengan berototnya tidak tinggal diam, Meremas setiap lekuk tubuh wanitanya hati-hati. "Aahh!" Sakura memejamkan mata menikmati hisapan Naruto di lehernya, dia menjambak rambut belakang Naruto, meremas rambut kekuning pria itu lembut, menekan kepala Naruto di lehernya. Jajahan bibirnya berpindah ke payudara Sakura yang mendesah di bawahnya. Payudara putih kemerahan Sakura yang begitu menggoda mulutnya minta di hisap. "Akh! Anathhhh-..." menghisap keras puting kecoklatan Sakura penuh nikmat. "Ummmm..." Naruto memggeram menikmati puting yang di hisapnya. Tangannya tidak tinggal diam. Meraba turun ke perut Sakura yang sedikit membuncit, dia berhenti di sana, mengelus perut buncit itu penuh kasih sayang.
"Anathaaahh... sudah." Racau Sakura mencoba menjauhkan bibir Naruto dari payudaranya, "Ouhh... anathhh gel_ ummm... akh!"
Naruto melepas puting Sakura dari mulutnya, mengangkat kepala lalu menatap Sakura yang tampak lelah dengan wajah merah. Dia terkekeh melihat wajah menggemaskan Sakura, "Maaf... aku terlalu, terbawa suasana. Iya. Terlalu terbawa suasana hehehe..." cengirnya seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal." Hey Sakura-chan."
Sakura mengatur nafasnya yang terputus-putus karena lelah. "Ya."
"Kapan dia lahir? Aku tidak sabar menjadi Ayah."
Sakura tersenyum lemah. "Lima bulan lagi. Mungkin." Lalu tertawa kecil melihat Naruto yang cemberut di atasnya.
"Kenapa lama sekali."
"Langsung saja." Gumam Sakura dengan suara parau.
Naruto memiringkan kepalanya kesamping kiri, tidak mengerti dengan ucapan Sakura, dengan kedua mata birunya menatap Sakura polos. "Maksud Sakura-chan?"
"Enghh..." Sakura menggeliat di bawah tubuh Naruto, "Kau berat."
Naruto tersenyum. Kedua matanya menatap Sakura yang menguap dengan kelima jemarinya bermain di antara helaian merah muda Sakura. "Naruto... ini sudah hampir pagi. Aku lelah, aku ngantuk. Cepat selesaikan."
Dengan mudah Naruto mengangkat Sakura ke tempat lebih tingggi. Dia melebarkan kaki Sakura, menatap takjub labia basah kemerahan wanita Itu, "Secepat itu. Hmm... aku tidak mau."
"Jangan main-main Naruto, ini sudah hampir pagi." Sakura mulai kesal.
Naruto terkekeh geli, "Kau terlalu indah untuk di abaikan Sakura-chan." Lalu mengedipkan mata jail kearah Sakura yang merengut kesal di bawahnya.
Naruto terkekeh melihat wajah merajuk Sakura. Berdiri dari tempat tidur dia melepas jubah Hokage, baju orange khas miliknya dan terakhir melepas celana serta boxer orange bergambar rubahnya.
Sakura mengambil bantal di sampingnya lalu melemparkan bantal itu tepat ke perut kotak Naruto.
"Kenapa?" Tanya Naruto bingung. Kenapa Sakura melemparnya dengan bantal.
"Apa tidak ada warna lain selain orange."
"Hahaha..."
"Apanya yang lucu."
"Orange itu sexy Sakura-chan." Goda Naruto. Mengabaikan Sakura yang cemberut di atas tempat tidur Naruto naik ke tempat tidur lalu menempatkan diri diantara selangkangan basah Sakura. Dia menjilat jari telunjuk juga jari tengahnya, melumuri jarinya dengan liur, yang kemudian di masukan kelipatan Sakura.
"Ahhh..." Sakura mencengkram sperei putih di bawahnya, saat dua jari Naruto keluar masuk di area intimnya, mengocok kewanitaannya. "Enghh... Naruuuuto."
"Ugh. Kau sangat basah dan buas Sakura-chan." Naruto mengeluarkan kedua jarinya, menjilat jarinya yang di lumuri cairan Sakura penuh nikmat.
Sakura menatap Naruto jijik. "Kau mau mencobanya Sakura-chan." Naruto mengulurkan jari yang tadi di jilatinya ke arah mulut Sakura.
Sakura menggeleng. "Tidak."
"Ayolah... Sedikit saja."
"Tidak."
Naruto mengangkat bahu. Dia menunduk menatap lipatan kecil Sakura yang melelehmengeluarkan cairan putih kental unik, lalu menjilat, melumat, dan menghisapnya buas.
"Ouhh... Naruuutohh!"
Puas menyiksa lipatan intim Sakura, dia menempatkan miliknya di belahan mungil berlendir Sakura, menusuknya dalam kemudian menggenjotnya cepat.
"Akh! Akh! Akh! Akhhh!" Sakura memekik saat tanpa aba-aba Naruto memasuki dan menggenjot kasar.
Dia di butakan nafsu sampai lupa pada janjinya sebelum bercinta tadi. Naruto terus memacu miliknya di lipatan Sakura. Gerakannya cepat, kasar, keras dan menuntut. Tanpa mengurangi kecepatannya Naruto mencium bibir Sakura, membagi cairan yang tadi di hisapnya dengan Sakura.
Kedua mata Sakura membulat merasakn rasa asing di mulutnya. Lebih dari itu, dia takut. Takut dengan gerakan Naruto, yang tak terkendali, melukai calon bayinya. Ini bukan yang pertama, mereka sering melakukannya, Naruto yang kasar saat di tempat tidur dan sulit mendapat klimaks, kalau dia sedang kosong dia tidak keberatan tapi kali ini...
"Naruuutoooh... Ouh! Akh! Naruuhh... Akhu mhoon, ugh! Henti_khaaann..." Tubuh Sakura bergunjang hebat. Kedua tangannya mencengkram lengan Naruto erat sampai buku-buku jarinya memutih dan kukunya melukai lengan Naruto.
Gerakan Naruto berangsur memelan, tak lama kemudian pria berkulit tan itu menghentikan gerakannya. Naruto menatap wajah kacau Sakura, rambut menempel di pelipis karena keringat, mulut mungil yang terbuka kesulitan bernafas, lalu menempelkan keningnya dengan kening Sakura. "Maaf... Aku." Menghela nafas Naruto memejamkan kedua matanya. Dia merasa, bersalah.
"Aku tidak apa-apa. Sungguh." Sakura menangkup kedua pipi Naruto membuat pria itu membuka matanya. Mereka Saling menatap. Sakura tersenyum meyakinkan lalu memeluk punggung Naruto, "Lain kali jangan di ulangi." Menenangkan Naruto.
Dia balas memeluk tubuh polos Sakura, "Aku tidak janji."
"Kenapa?"
"Itu sangat sulit."
"Kau begitu memabukan Sakura-chan." Mengeluarkan miliknya yang belum sampai, Naruto memeluk tubuh Sakura lalu menarik selimut, mengabaikan miliknya yang berdenyut minta di puaskan.
Sakura menatap Naruto tidak mengerti. "Kenapa menatapku seperti itu?" Goda Naruto. Dia mengeratkan pelukannya sampai dada penuh Sakura berdempetan dengan dada kotaknya lalu mencium kening lebar Sakura. "Kau bilang ngantuk. Ingat Sakura-chan, kau harus banyak istirahat." Nasehat Naruto seraya tersenyum lembut.
"Tapi, tapi kau..."
Satu tangan Naruto menyusup kebalik selimut. Mengelus perut polos Sakura sayang, "Dia jauh lebih berharga. Aku tidak mau egois."
Sakura tersenyum. Wanita merah muda itu menyamankan posisi kepalanya di dada Naruto. "Terimakasih Naruto-kun."
"Aku yang berterimakasih padamu Sakura-chan. Terimaksih telah mencintaiku, terimakasih untuk semuanya."
Sesungguhnya seorang ayah yang baik adalah ayah yang mau membuang jauh egoisnismenya, tidak memikirkan diri sendiri, mau memikirkan masa depan putra/putrinya, tidak harus dengan materi tapi juga bisa dengan ajaran-ajaran baik dan nasihat-nasihat baik yang bisa jadi bekal untuknya kelak.
FiN.
Author note: Ahaha... maaf guys, ficnya aneh. #hehehe...
Abisnya mau gimana lagi, aku tidak pandai berkata-kata. Tapi jujur, saya sudah berusaha buat yang terbaik. Untuk segala kekacauan dalam fic ini, saya selaku Author yang bertanggung jwab, minta maaf. #saya hanya Author yang sedang belajar tapi, sangat payah. Ehem. Saya juga sedang menyelesaikan fic multichap NS saya yang terbaru, #plak! Yang berjudul "KITSUNE (Siluman rubah.)" Dengan harapan semoga kalian, NS lovers, menyukainya :)
