MY BELOVED AUNTI
I do not own Harry Potter, J.K Rowling does!
Don't Like, Don't Read!
.
Jatuh cinta adalah hal yang lumrah bagi remaja seperti James Potter. Tapi bagaimana kalau wanita yang dicintai James adalah bibinya sendiri?
.
.
PRANG!
James melempar vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Bunga lily berhamburan tak karuan di lantai kamarnya. Meraih Firebolt yang tersandar di lemari, dengan kesetanan dia menghantamkan sapu itu ke meja sampai patah-mematah. Tidak berhenti sampai disitu, bedcover dan seprai di ranjangnya ikut menjadi korban. James menarik benda tersebut dengan kasar lalu membantingnya ke lantai. Dengan putus asa dia menghempaskan diri ke ranjangnya dan memejamkan mata. Napasnya terengah-engah.
Hamil. Dia hamil!
Tangannya mengepal kuat, membuat kulit telapaknya memutih. Dia ingin menghancurkan sesuatu – atau seseorang. Dia ingin membunuh pria itu, merobek setiap jengkal kulitnya, lalu membakarnya di api fiendfyre sampai mencair dan tidak tersisa sedikitpun. Dan James bersumpah akan menontonnya tanpa melewatkan satu detail pun ketika hal itu terjadi.
Masih jelas di ingatannya ketika pesta ulang tahun yang seharusnya meriah menjadi pesta terburuk yang pernah dialaminya seumur hidup.
.
.
Beberapa saat sebelumnya...
Grimmauld Place No. 12
31 Juli 2020
"Happy Birthday!"
Sorakan riuh memenuhi ruang keluarga Rumah Kuno Black. Harry Potter yang baru saja pulang dari Kementerian mematung tak percaya di depan pintu. Seluruh keluarga Weasley dan Potter menyesaki ruangan itu dengan aksesoris-aksesoris pesta menghiasi dinding dan langit-langit. Berdiri paling depan, Ginny Potter membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk Snitch besar. Di atasnya terdapat lilin angka 40.
Ketiga anaknya berdiri di sekitar Ginny dan kedua sahabatnya tersenyum padanya. Ron dan Hermione terlihat konyol dengan topi kerucut bertengger di kepala mereka. Harry tertawa penuh haru.
"Selamat ulang tahun, Dad!" James, Albus, dan Lily berteriak serempak lalu memeluknya dengan pelukan teletubbies.
"Dan selamat untuk pengangkatanmu sebagai Kepala Departemen Auror," kata Bill menepuk bahunya.
"Terima kasih semuanya," jawab Harry agak serak.
Langsung saja ucapan demi ucapan selamat membanjirinya. Harry sama sekali tidak menyangka keluarganya akan mengadakan pesta kejutan untuknya. Dia tertawa ketika Ginny mencium pipinya lalu mengajak semua orang menyanyikan lagu ulang tahun. Semua orang bertepuk tangan ketika Harry meniup lilin kuenya. Dia segera mencium pipi Molly dan memeluk Arthur yang duduk di kursi, usia tua membuat mereka terlalu capek untuk berdiri lama-lama.
George menyalakan tape dan lagu-lagu ceria mengalun. Sambil menyantap kue, mereka menari bersama-sama. Harry memutar-mutar Lily yang terkikik imut. Ron berdansa sambil tertawa bersama keponakannya Roxanne. George, Charlie, Albus, Rose, Fred, dan Louis menari meniru gerakan mengusir wrackspurt ala Luna Lovegood (sekarang sudah menjadi Scamander). Semua orang tertawa dan bergembira.
Di suatu sudut ruangan, Hermione Weasley berdansa riang dengan keponakannya, James. James terpana menatap Hermione yang tertawa lepas, topi kerucut konyolnya bergoyang-goyang mengikuti gerakannya.
"Aunti harus sering-sering tertawa seperti ini biar awet muda," kata James sambil tersenyum.
Mata Hermione berbinar, "Benarkah? Tapi tanpa tertawa pun Aunti tetap cantik dan awet muda." Wanita itu mengedipkan mata.
Dalam hati James sangat setuju. Kau memang selalu terlihat cantik, Hermione...
"Selamat ya, James. Kata Ginny kau mendapatkan lencana Ketua Murid kemarin, ya?" tanya Hermione.
Postur tubuh James menjadi lebih tegak, seolah ingin membanggakan diri.
"Tentu saja, siapa lagi kandidat yang lebih baik daripada aku," seru James bangga, pipinya bersemu merah saat bibinya mengacak rambutnya.
"Nah, untuk itu nanti Aunti punya hadiah yang paling spesial untukmu. Yang ini berbeda, karena kau juga berbeda dari yang lainnya. Kau kan keponakan terfavorit Aunti," kata Hermione sedikit berbisik, seakan hal ini adalah rahasia.
Mata cokelat James membulat dan berbinar bahagia sekaligus penasaran. Merlin, dia berbeda dari sepupunya yang lain? Hermione paling menyukainya dibanding yang lainnya? Dan tadi katanya hadiah paling spesial? Hanya untuk dirinya? Dirinya seorang?
Ya, Tuhan...
Apakah Hermione akhirnya memiliki perasaan yang sama sepertinya? Jantungnya bertalu-talu tak keruan penuh antisipasi akan hadiah paling spesial yang dijanjikan wanita yang dicintainya.
James terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari Ron dan Hermione melirik penuh arti satu sama lain. Hermione mengangguk pada Ron sambil tersenyum lembut. James tersentak ketika Ron menarik tangan Hermione lalu membawanya ke tengah-tengah ruangan. Matanya menyipit memandangi pamannya.
"Ehhm, perhatian semuanya," teriak Ron meminta perhatian semua keluarganya.
Semua orang berhenti menari dan mengalihkan perhatian pada Ron dan Hermione. Harry menatap Ron penasaran, sementara yang ditatap hanya tersenyum penuh rahasia. Lalu Ron bicara lagi.
"Sebelumnya selamat untuk sahabatku, Kepala Auror," keluarga Weasley tertawa, "Maaf Harry kalau kami mencuri kejutan di pestamu, tapi kami harus memberitahu sesuatu pada kalian," seru Ron menatap keluarganya satu per satu.
Harry menggeleng geli, "Cepatlah, Ron. Jangan membuat kami penasaran."
Harry melihat Hermione, berusaha meminta petunjuk. Tapi Hermione hanya tertawa kecil dan mengisyaratkan suaminya untuk lanjut. Lalu matanya melirik James penuh antisipasi. James sendiri masih diam di tempatnya, menunggu dengan tidak sabar kabar yang akan disampaikan oleh paman sialannya itu. Entah kenapa rasa takut menjalari tulangnya, seolah sudah memiliki firasat bahwa apapun kabar itu, itu bukan sesuatu yang bagus. Tapi dia memusatkan pandangannya pada mata cokelat karamel Hermione.
Bibir merah muda Hermione mengucapkan kalimat tanpa suara pada James. James menangkap apa yang dikatakan bibinya, 'hadiah spesialmu'. Keningnya berkerut, apa hubungannya hadiah spesial itu dengan sesuatu yang akan diberitahukan Ron.
"Ayolah, Ronald, kami sudah hampir mati penasaran!" Percy berdecak tak sabar pada adiknya.
Ron dan Hermione terkekeh melihat semua orang yang memandang mereka tidak sabaran.
Ron berdehem lagi, "Dad, Mum, dan semuanya, kalian harus siap-siap ya untuk menyambut cucu Weasley yang ketiga belas lahir tahun depan."
Semua mematung dan suasana Grimmauld Place No. 12 mendadak sunyi senyap. Bahkan tape pemutar lagu pun terdiam karena lagu yang diputar kebetulan sudah habis. Dan bersamaan dengan lagu berikutnya dimulai, terdengar teriakan kencang Rose. Gadis itu berlari melompat-lompat memeluk ibunya, disusul oleh Hugo.
"M-mum … Mum … Dad …?" Hugo bertanya dengan terbata-bata.
Hermione mengangguk lalu mengelus perutnya yang masih terlihat rata, "Kalian akan segera punya adik."
Langsung saja suasana jadi heboh. Molly berdiri dari kursinya dan memeluk Hermione erat. Harry, Bill, George, Charlie, dan Percy menepuk punggung Ron dengan bangga. Fleur, Audrey, Angelina dan Ginny mengerumuni Hermione sambil bertanya tentang bayinya. Delapan cucu Arthur plus Teddy memberi selamat pada Rose dan Hugo. Sudah dipastikan adik mereka yang ketiga ini nanti bakal jadi yang tersayang dan menjadi little baby buat semua orang, karena cucu termuda adalah Lily. Sementara Lily saja sudah empat belas tahun.
Mendadak Ron mendekati James yang berdiri kaku seperti patung. Matanya menatap kosong pada Hermione yang juga mendekatinya. Tidak ada yang menyadari senyum Harry yang langsung memudar begitu melihat putra sulungnya. Ron merangkul bahu James dan Hermione menyentuh lengan James dengan sayang. Mereka berdua sama sekali tidak sadar tubuh keponakan mereka yang seperti papan.
Hermione tersenyum lembut memandang wajah tampan James, lalu memandang keluarganya.
"Tadi aku sudah memberitahu James bahwa dia akan mendapat hadiah paling spesial karena terpilih menjadi Ketua Murid yang baru," Hermione mengedipkan mata, membuat semua orang – kecuali Harry- tertawa. "Sebenarnya, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan lencana Ketua Murid, karena aku dan Ron sudah sepakat sejak tahu aku hamil."
Ron mengangguk, menepuk punggung keponakannya yang kaku, "Aku dan Auntimu sudah setuju kau, James Sirius Potter, akan menjadi ayah baptis sepupu bungsumu nanti."
Rose dan Lily menutup mulut mereka tak percaya, lalu bertepuk tangan seperti yang lain. Louis menjabat tangan James.
"Nah, nah, ayah baptis! Mulai sekarang kau harus rajin-rajin ke perpus, baca buku untuk menjadi ayah yang baik ya," ucap Louis diikuti oleh Fred.
"Yup, benar sekali, Daddy. Semoga saja nanti bayinya cowok, kita bisa melatihnya jadi pemain Quidditch terhebat sepanjang masa," Fred dan Louis ber-highfive.
"Tul, lagipula kita kan masih kekurangan cowok, sudah cukup ada satu Rose di rumah," celetuk Hugo, mengabaikan pelototan kakaknya.
Hermione tersenyum menyaksikan antusiasme anak-anak dan keponakannya. Namun senyumnya luruh mendapati raut wajah James yang teramat dingin. Belum sempat dia mengatakan apapun pada James, Ginny merangkul bahunya.
"Terima kasih, Mione. Aku yakin Jamie akan jadi ayah baptis yang luar biasa untuk si kecil nanti. Aku akan pastikan itu," akhirnya perhatian Hermione teralihkan oleh adik iparnya yang terus mengajaknya bicara.
Ron yang masih merangkul bahu James memandang pemuda itu. Dia melemparkan senyum ramah. Dia sadar selama ini sikap James padanya agak dingin dan tidak bersahabat. Mungkin dengan cara ini bisa mencairkan kekakuan di antara mereka. Bagaimanapun juga James adalah anak baptisnya. Namun Ron sama sekali tidak tahu, bukannya memperbaiki hubungan mereka, hal ini malah semakin membuat kebencian James padanya menjadi berkali-kali lipat.
"Oke, oke..." Seru Teddy, "Sekarang, untuk ayah baptis baru, bolehlah sepatah dua patah kata, ya kan? Nah, James, ayo mana pidatonya?"
"Ayo James!" Teriak Louis, Fred, dan Hugo.
"Jamie … Jamie … Jamie ..." Lily bersorak memancing yang lainnya.
"Jamie … Jamie … Jamie ..."
James akhirnya membuka mulut setelah sekian lama terdiam. Seketika semua orang diam, menunggu James mengucapkan sesuatu. Harry memandang cemas pada Potter sulung itu. James menatap Hermione yang memandangnya antusias, menunggunya. Pemuda tampan itu membiarkan rasa sakit dan kekecewaan memenuhi matanya. Dengan puas ia melihat bibinya agak mundur ke belakang, tersentak oleh emosi di matanya. James ingin Hermione tahu penderitaannya selama ini. Dia ingin wanita itu tahu bahwa James tersiksa karena cinta yang dirasakannya. Hermione harus tahu hatinya sakit setiap kali melihat kemesraan yang dipamerkan bersama suaminya. James ingin Hermione menyadari perasaannya, bahwa dia tidak ingin dianggap sebagai keponakan. Bahwa dia laki-laki yang bisa dicintai juga. Persetan dengan Ronald-fu***ng-Weasley. Dan tentu saja dia ingin Hermione tahu bahwa kabar ini sungguh menghancurkan hatinya, bahwa dia mengandung bayi milik laki-laki sialan itu.
Hadiah paling spesial? Damn you, Ron Weasley!
James akhirnya tidak tahan lagi. Kepalanya serasa mau pecah. Dia harus pergi dari tempat ini sebelum dia membunuh seseorang -yang seenaknya merangkul bahunya- dengan sadis di depan Kepala Auror. Dia tidak bisa melihat ekspresi takut dan sedih di mata Hermione yang masih menatapnya.
"Aku … aku ingin ke kamar kecil," akhirnya James berhasil bicara. Tanpa buang waktu lagi ia menerobos keluarganya dan pergi keluar ruang pesta. Dia tidak berniat ke kamar kecil, melainkan langsung ke kamarnya di lantai tiga.
Sepeninggal James, suasana di ruang pesta menjadi canggung dan aneh. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan James. Harry menatap datar ke pintu, lalu mengalihkan pandangan ke Hermione dan Ron. Bisa ditebak, Ron terlihat bingung. Sementara Hermione agak terguncang, sudut matanya berair.
"Well, sepertinya Jamie kita syok. Dia mungkin masih tidak percaya akan jadi ayah baptis di umur muda seperti itu," kata George berusaha memecah kekakuan.
Dan usahanya berhasil. Louis, Fred, dan Hugo terkekeh geli melihat reaksi James. Sementara Lily mendengus, dia mengira pasti kakaknya iri karena perhatian bibinya akan terfokus pada bayinya nanti, dan bukan dia lagi.
Harry hanya diam saja saat keluarganya kembali mengobrol riang dan masih mengolok-olok reaksi James yang menurut mereka sangat lucu. Namun Harry sama sekali tidak merasa ada yang lucu. Mereka tidak tahu kenapa James terlihat marah dan dingin. Pahlawan dunia sihir itu mendesah melihat Ron tersenyum menghibur istrinya yang masih sedikit terguncang. Bukan salah Ron atau Hermione, mereka suami istri, dan berita kehamilan bukan sesuatu yang aneh disini. Dia memutuskan akan bicara pada James nanti.
Saat berjalan menuju sofa dan duduk, Harry akhirnya menyadari ada satu orang lagi selain James yang sama sekali tidak berkata sepatah kata pun sejak Ron mengumumkan kehamilan Hermione. Harry memandang Albus, putra keduanya, yang masih diam tak bergerak di samping meja kue. Sepasang mata hijau zamrud yang diwariskan darinya masih menatap pintu meskipun kakaknya sudah tidak terlihat lagi disana. Melihat dari kilatan emosi yang melintas di manik hijau Albus, Harry tahu bahwa dirinya bukan satu-satunya yang menyadari perasaan James pada Hermione.
.
.
Albus Potter berdiri dengan ragu di depan kamar saudaranya. Dia menimbang-nimbang apakah harus mengetuk atau tidak. Sudah beberapa menit dia berdiri di sana tapi masih belum menemukan keberanian untuk mengetuk pintu. Keluarga Weasley sudah pulang beberapa menit yang lalu. Dan di sinilah dia sekarang.
Menghembuskan napas panjang, Albus mengumpulkan sisa keberanian Gryffindor-nya dan memutar kenop pintu.
Tidak terkunci. Pikirnya lega.
Dengan perlahan karena tidak ingin mengejutkan James, ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Kedua matanya membulat melihat kondisi kamar yang sangat kacau. Pecahan vas kaca berserakan di lantai, bunga-bunga lily putih tercecer basah, di sudut kamar tergeletak seprei dan selimut yang acak-acakan, dan yang paling menggenaskan adalah sapu terbang kesayangan James yang hancur tidak berbentuk di dekat meja belajar.
Di atas ranjang king-size, saudaranya terbaring diam, wajahnya tertutupi bantal. Dadanya yang bidang naik turun dengan cepat. Dan suara-suara yang teredam bantal membuat Albus berhenti dan menatap nanar pemuda itu.
James menangis!
Albus akhirnya menggeret kursi lalu duduk, berusaha membuat bunyi untuk memberitahu James bahwa dia tidak sendirian di kamar. Tapi James tidak bergeming sedikitpun. Kedua saudara itu masih dalam posisi masing-masing hingga beberapa puluh menit lamanya. Tidak ada yang mau bergerak atau bersuara. Hanya terdengar suara detak jarum jam, menandakan waktu terus berjalan.
Beberapa menit kemudian, James menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Albus langsung duduk tegak di kursinya. Kakaknya menatap langit-langit dengan wajah datar, tapi kedua matanya menunjukkan rasa sakit. Tangan Albus terkepal, dia tidak suka melihat saudaranya seperti ini.
"Aku menyedihkan, ya?"
Tiba-tiba James membuka suara. Albus masih memandanginya tanpa ekspresi.
"Jatuh cinta pada wanita yang sudah menikah. Tidak tanggung-tanggung, wanita itu menikah dengan paman sendiri. Dan anak-anaknya adalah sepupu sendiri. Dan nanti akan melahirkan anak yang nantinya akan jadi anak baptisku sendiri," James tertawa, tapi tawanya jauh dari kata bahagia.
Albus masih tidak menjawab apapun. Dia membiarkan saudaranya menumpahkan semuanya.
"Hadiah spesial, eh? Dia memberiku hadiah paling spesial karena aku keponakan favoritnya? Dia menghadiahiku bayi hasil cintanya dengan laki-laki lain?" Tawa James semakin keras.
James menoleh, menatap Albus. Albus hampir meringis melihat raut wajah kakaknya.
"Kau lihat muka Ronald Weasley tadi, Al? Begitu bahagia! Dia merangkul bahuku, mengumumkan ke semua orang bahwa aku akan jadi ayah baptis anaknya. Seolah-olah dia mengejekku, 'Hei, lihat Jamie! Aku meniduri wanita tersayangmu dan dia hamil anakku lagi sekarang. Apa yang bisa kau lakukan sekarang eh, Jamie? Jangan kecewa ya, aku akan berbagi bayiku juga denganmu nanti!' Kau dengar itu, Al?"
"James."
"Aku pasti terlihat sangat menyedihkan tadi, ya kan?"
"James, hentikan!"
"Hell, aku James Potter, demi tuhan! Ayahku Harry Potter si pahlawan, aku tampan, hot, cerdas, populer, aku bisa mendapatkan gadis bodoh manapun yang aku mau. Tapi tidak, aku malah tergila-gila pada wanita itu."
"James!"
"Katakan padaku, Al. Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya? Apa aku idiot atau apa?"
Albus mendesah lalu berdiri dan berjalan menuju ranjang, dengan hati-hati menghindari pecahan vas di lantai. Ia duduk di tepi ranjang di samping James.
"Kau tidak idiot, Jamie," Albus terkekeh pelan saat James berdecak mendengar nama panggilan konyolnya.
"Lalu kenapa?" tanya James lagi.
Albus mengangkat bahunya, "Aunti Hermione memang cantik dan seksi, tidak ada yang akan menyangkal itu. Aku sendiri sedikit naksir padanya. Huh, kalau saja dia bukan tante kita. Makanya kubilang kau bukan idiot."
Mata James menyipit, "Kau naksir padanya?"
Albus tertawa, "Whoa, jangan panas dulu. Dia milikmu, Kak. Kau kira aku tidak tahu kalau kau mencintai Aunti?"
James mengamati Al untuk beberapa saat, lalu menghembuskan napas berat. "Dia bukan milikku."
"Aku tahu," Albus mengangguk.
Mereka duduk hening selama beberapa saat. Tidak lama kemudian James tertawa, diikuti oleh adiknya.
"Aku tidak pernah memikirkan akan membahas ini denganmu," kata James di sela-sela tawanya.
"Aku juga. Sudah merasa lebih baik?" tanya Albus sambil sesekali terkekeh.
James menaruh bantal di bawah kepalanya. Dia tersenyum lembut menatap ke arah lemari pakaiannya. Albus mengikuti pandangannya dan ikut tersenyum. Pullover merah tergantung di pintu lemarinya.
"Untuk membuatmu merasa lebih baik lagi, kuberitahu ya, Aunti Hermione tidak memberiku hadiah spesial, dia bahkan tidak mengucapkan selamat padaku. Padahal aku sudah dengan sengaja memamerkan lencana Kapten Quiddtich baruku di depan mukanya," kata Albus dengan geli.
James tertawa kecil.
Tiba-tiba James melempar bantal yang tadi di bawah kepalanya ke lantai.
"Merlin, Al, aku benar-benar mencintainya!" Seru James frustasi. "Dan aku masih sakit hati sekarang."
Albus mengangguk, tentu saja dia tahu itu. Dia menepuk pundak kakaknya.
"Mungkin kau harus mencari pacar baru lagi. Aku dengar Luciana Malfoy sedang jomblo sekarang. Dia lumayan seksi kok. Tapi hati-hati saja dengan kakaknya," katanya sambil mengedipkan mata.
James mendengus, "Scorpius pasti akan mengutukku kalau aku berani main-main dengan adiknya."
Mereka berdua tertawa. Masih ingat saat Al mencoba merayu Luciana dan mengajaknya kencan ke Hogsmeade. Scorpius jadi kebakaran jenggot dan membuat rambut Al hangus setengah, tidak peduli Al sahabat baiknya atau bukan.
"Lagipula, mereka tidak bisa membuatku lupa pada Hermione. Betapapun cantiknya mereka," desah James pelan.
Al manggut-manggut mendengarnya. Yah, setidaknya James sudah bisa tertawa sekarang. Kalau pun James tenggelam lagi dalam rasa sakitnya, Al berjanji pada dirinya sendiri akan selalu ada untuk kakaknya.
.
.
Sudah seminggu James terus mendekam di kamarnya. Dia hanya akan keluar saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Setelahnya, dia kembali mengurung diri di kamar. Dan sebagai ibunya, Ginny mengkhawatirkan putranya itu. Sejak ulang tahun suaminya, James memang bertingkah aneh. Al bilang padanya James butuh waktu sendiri, yang membuat Ginny semakin khawatir. Dia juga kesal dengan Harry yang tidak berkata apapun tentang James, seolah-olah itu normal. Ginny benci ketika ia tidak tahu apa-apa.
Dengan agak jengkel, Ginny mengoleskan selai ke roti dengan pisau. Sesekali dia melirik Harry yang duduk tenang di kursi sambil membaca Daily Prophet. Al menyesap susunya sambil mengutak-atik smartphone-nya. Entah untuk apa Harry membelikannya alat komunikasi Muggle itu, Ginny juga tidak tahu.
Ginny meletakkan pisaunya di atas piring, "Oke, jadi apa? James kenapa, Al? Harry? Kenapa kalian tenang-tenang saja seperti ini?"
Harry menoleh padanya, "Biarkan saja dulu, Gin. Dia masih remaja dan kau tahulah anak remaja zaman sekarang gampang terkena galau."
Mata cokelat Ginny menyipit, "Galau? Galau? Ini sudah seminggu lebih Harry. Dia tidak mau bercerita padaku setiap kali aku tanya. Al? Kau tahu kenapa kakakmu bertingkah aneh seperti itu?"
Al mengendikkan bahu, "Dia baru putus dari pacarnya, Mum. Biasa."
Ginny mengurut hidungnya dengan frustasi, "Ck, biasa? Mum tahu dia itu suka gonta-ganti pacar, jadi patah hati karena putus cinta tidak mungkin membuatnya seaneh ini. Lagipula James itu bukan tipe orang yang sampai sedepresi itu hanya karena patah hati."
Harry dan Albus mendengus pelan. Dalam hati mereka memikirkan hal yang sama, 'Dia tidak tahu saja James seperti apa.'
Tidak lama kemudian, James melangkah malas ke dalam ruang makan, diikuti Lily di belakangnya. Mereka makan dalam hening. Ginny masih mengamati anak sulungnya, mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan James sekarang. Ia akui, dari ketiga anaknya, hanya James yang sama sekali tidak bisa diprediksi oleh Ginny. Coba saja ada Hermione disini, pikirnya lelah.
Ngomong-ngomong tentang Hermione, Ginny juga jadi kepikiran tentang sikap James di pesta tempo hari. Tidak biasanya anak itu bersikap dingin pada Hermione. Biasanya James akan bertingkah layaknya anak kecil tiap kali Hermione memberinya hadiah. Apa James tidak suka dijadikan ayah baptis? Tapi hal itu aneh sekali. James tidak akan pernah menolak apapun pemberian Hermione, sekecil apapun itu.
Terkadang dia cemburu akan kedekatan anaknya dengan kakak iparnya itu. Sejak kecil James tidak pernah bergantung padanya. Yang diocehkannya hanya Hermione, kado dari Hermione, es krim dari Hermione, buku dari Hermione, mainan dari Hermione, dongeng yang diceritakan Hermione, Aunti Mione begini, Aunti Mione begitu. Dia adalah ibunya, tapi dia malah tidak terlalu memahami putranya itu. Charlie pernah bertanya apa kesukaan James, anak itu malah menjawab,
'James suka warna biru dan merah, soalnya Aunti Mione juga suka biru dan merah.'
'James suka berang-berang, soalnya kata Daddy, patronus Aunti Mione berang-berang.'
'Aku suka es krim rasa vanila, soalnya Aunti Mione kalau beli es krim pasti belinya yang vanila.'
'Mum, belikan buku Hogwarts a History ya, kata Aunti Mione, itu buku favoritnya sepanjang masa.'
'Mum, Dad, nanti kalau sudah besar, James mau menikah dengan cewek yang rambutnya seperti Aunti Mione, matanya seperti Aunti, mukanya seperti Aunti juga.'
Ginny mendesah pelan. Kadang-kadang dia berpikir jangan-jangan James berniat menikah dengan Hermione saja. Mungkin saking nge-fans anak itu dengan Hermione.
"Aku selesai," suara datar itu membuyarkan lamunannya.
Dilihatnya James mengelap mulutnya dengan tisu, lalu berdiri dan melangkah keluar ruang makan. Tidak diragukan lagi dia kembali mengurung diri di kamarnya.
.
.
Mata James terpaku ke layar televisi di depannya. Adegan di layar menampakkan stadion yang terangkat dari tanah karena kekuatan Magneto. Lalu robot-robot prajurit non-logam yang aktif sendiri dan terbang ke udara lalu menembaki rudal-rudal ke tanah. Film terus berlanjut, namun pikiran James tidak terfokus kesana. Bayangan wajah Hermione yang terkejut saat menatap matanya terus berseliweran di ingatannya. Bahkan si seksi Jennifer Lawrence yang sedang beraksi di layar pun tidak bisa mengusir wajah Hermione dari kepalanya.
Setelah memikirkan kembali kejadian hari itu, James merasa menyesal membuat auntinya sedih seperti itu. Tidak seharusnya dia melakukan itu, membuat Hermione merasakan rasa sakitnya. Itu semua bukan salah Hermione, tapi salah suaminya. Seandainya Ron Weasley tidak ada, seandainya usianya sama dengan Hermione, seandainya dia bisa kembali ke masa lalu, mencegah Hermione menikah dengan pamannya.
Kalian boleh mengatainya gila, berlebihan, sinting, atau kurang ajar. James sama sekali tidak peduli. Dia akui dia memang egois. Dia tidak akan menyangkalnya. Mematikan televisi dan DVD yang diputarnya, James menyandarkan kepala ke dipan.
TOK TOK TOK
Ia tersentak saat ketukan pelan terdengar dari pintu kamarnya. James memutar matanya kesal, pasti itu ibunya. Bukankah dia sudah bilang tidak ingin diganggu siang-siang begini?
"James."
Secepat kilat James duduk tegak di atas ranjang. Itu bukan suara ibunya.
Itu Hermione!
Sedang apa auntinya di sini? Pikir James panik. Dia belum siap sama sekali bertemu dengan Hermione. Kenapa dia bisa ada di sini?
Lalu pintu kamar terbuka. James mengutuk dirinya karena lupa mengunci pintu kamarnya tadi. Dia menahan napas begitu sosok wanita yang menguasai hatinya melangkah pelan ke dalam kamar. Hermione menawarkan senyum lembut seperti biasanya, membuat jantungnya berdetak kencang.
"Aunti?" katanya lirih.
Hermione tersenyum, "Maaf, Aunti mengganggu istirahatmu. Aunti kesini hanya untuk melihat keadaanmu. Ibumu bilang kau tidak mau keluar kamar, kecuali untuk makan. Kau baik-baik saja, James?"
Muka James memerah, "A-aku, Aunti…"
Sial! Apa yang dipikirkan ibunya sih? Kenapa dia harus memanggil Hermione kemari?
James memperhatikan Hermione yang mendekatinya lalu duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan senyum keibuan. Dia tidak tahu harus bicara apa. Hermione terlihat sangat cantik, ia memakai navyblue sundress selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai bebas ke punggung. Pandangan James beralih ke perutnya yang masih rata.
"James," yang dipanggil mendongak, "Aunti minta maaf karena memutuskan sesuatu tanpa bertanya padamu terlebih dulu. Apalagi Aunti mengumumkannya di depan semua keluarga. Kalau kau memang keberatan, Aunti akan bilang pada pamanmu dan yang lain."
Hatinya serasa dicubit saat matanya bersirobok dengan mata auntinya yang terlihat menyesal. Dia tidak mau melihat auntinya sedih lagi. Dia menggeleng.
"Tidak, aku tidak keberatan, Aunti. Maafkan aku, saat itu aku sedang banyak pikiran. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Aunti. Aku mau jadi ayah baptis untuk si kecil nanti," kata James, memandang perut Hermione sambil berandai-andai palsu, mengangankan bayi yang tumbuh di sana adalah miliknya.
Binar biasa di manik cokelat itu akhirnya kembali, James mendesah lega. Hermione tertawa kecil.
"Benarkah?" tanyanya bahagia.
James mengangguk, "Ya, Aunti. Terima kasih sudah mempercayakan hal sebesar ini padaku."
Hermione mengangguk lalu memandang ke sekeliling kamar. James meringis malu, dia sadar kondisi kamarnya memang sangat berantakan.
"Sepertinya kau sudah mendekam disini terlalu lama. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sekarang? Mau temani Aunti kan?" tanya Hermione.
James terkejut, "Maksudnya sekarang? Berdua saja?"
Hermione mengangguk. Jantung James semakin menggila. Jalan-jalan berdua saja dengan Hermione? Merlin!
"Ak-aku akan ganti baju," kata James, akhirnya pulih dari rasa kagetnya.
Wanita itu bertepuk tangan sekali, lalu melompat berdiri, "Alright, kalau sudah siap, Aunti menunggumu di ruang makan. Aunti akan minta izin dulu ke ibumu."
Sepeninggal Hermione, James tidak membuang waktu lagi. Dengan kecepatan mengagumkan ia segera ganti baju. James memakai setelan yang menurutnya membuatnya terlihat lebih ganteng. Celana jeans hitam dan kemeja lengan panjang berwarna navyblue, sama seperti warna pakaian Hermione. Menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku, James mematut diri di cermin. Dia memasang jam tangan platina hadiah ulang tahun kelima belas dari Hermione. Dia membuka dua kancing teratas kemejanya, memperlihat sedikit dada bidangnya yang putih, membuatnya terlihat semakin seksi. Meraih dompet dan tongkat sihirnya, James buru-buru keluar kamar dan tidak sabar menuruni tangga.
Sesampainya di ruang makan, ia melihat Hermione sedang berbicara pada ibunya yang tengah memasak untuk makan siang. Lily membantu Kreacher membawakan baskom berisi potongan ayam yang sudah dicuci ke atas meja. Peri yang sudah sangat tua itu menatap Lily berterima kasih.
Ibunya menoleh ketika menyadarinya berdiri di ambang pintu. Hermione akhirnya berdiri dari kursi dan mendekatinya.
"Hmm, begini kan tampan," puji Hermione memperhatikan James dari kepala sampai kaki. Muka James memerah. "Kalau saja Aunti masih muda, pasti sudah langsung naksir nih."
Hermione berbalik ke Ginny, tanpa menyadari efek ucapannya terhadap pemuda itu. Lily terkikik melihat muka kakaknya yang sudah seperti kepiting rebus dengan mata membulat tak percaya.
Kalau saja Aunti masih muda, pasti sudah langsung naksir nih.
Apa Hermione tidak tahu arti ucapannya itu? Dada James seolah melambung oleh harapan. Berarti ada kemungkinan Hermione memiliki perasaan padanya.
Hermione meraih lengan James, melambai ke Ginny, Lily, dan Kreacher. Mereka berdua menuju pintu utama. James yang masih terpana tidak peduli Hermione mau membawanya kemana. Sementara itu Hermione tersenyum geli melihat keponakannya yang bengong dengan muka merona. James memang selalu seperti itu setiap kali dipujinya, membuatnya terlihat sangat cute, persis seperti ayahnya dulu.
"Nah, ayo masuk," kata Hermione membuat James bangun dari trans sesaatnya.
"Wow," serunya kagum.
Dia baru tahu ternyata auntinya tidak ber-Apparate atau melalui Flo ke rumahnya, tapi membawa mobil Mercedes Benz hitam metalik milik pamannya. Dia memandang Hermione penuh tanya.
"Kita jalan-jalan ke London Muggle," jawab auntinya.
Dengan bersemangat James duduk di kursi penumpang. Mobil hitam itu pun meluncur mulus di jalanan London. James mulai mengutak-atik radio, dan mulai menggoyangkan kepala saat suara familiar Rihanna melantun di mobil. Hermione hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Aunti suka sekali jalan-jalan naik mobil. Tapi selalu saja sendirian. Ron sudah punya lisensi untuk mengemudi, tapi dia tidak pernah mau naik mobil, katanya 'kenapa harus susah-susah pake mobil kalau bisa lebih cepat dengan Apparate', huh. Rose juga, dia tidak bisa jalan-jalan naik mobil, selalu mabuk darat. Harus siap banyak kantong plastik," Hermione dan James tertawa.
"Aku suka naik mobil, Aunti," kata James bersemangat.
Hermione mengangguk, "Baguslah, biasanya cuma Hugo yang bisa diajak keliling London naik mobil, itu pun kalau dia sedang tidak malas. Jadinya, yaaah, aku biasa sendirian pakai mobil ini. Padahal Aunti suka melihat pemandangan di jalan-jalan kalau sedang tidak menyetir. Tapi tidak bisa karena selalu jadi yang menyetir."
James tersenyum lembut mendengar curhatan auntinya yang menurutnya menggemaskan. Nanti saat umurnya delapan belas, dia akan meminta dibelikan mobil pada ayahnya dan belajar menyetir. Dengan begitu dia akan bisa mengajak Hermione jalan-jalan keliling kota. Setiap hari pun tidak apa-apa.
Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol ringan. James menceritakan tentang pelajaran, Quidditch, dan profesor-profesornya di Hogwarts. Hermione menceritakan tentang cerita-cerita lucu dia, paman, dan ayahnya semasa sekolah dulu. James tertawa keras sekali ketika mendengar auntinya pernah berubah menjadi kucing raksasa di tahun kedua gara-gara memasukkan bulu kucing Millicent Bulstrode ke ramuan Polijusnya.
"Bayangkan, Jamie. Aku jadi kucing raksasa berseragam Hogwarts," tawa Hermione berderai.
"Sayang sekali tidak ada fotonya," James berdecak sambil terus tertawa.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di tempat parkir mobil di depan sebuah Departement Store besar. Melepas tali pengaman, mereka berdua keluar dari mobil. James memandang kagum gedung tinggi berwarna cokelat keemasan di depannya.
"Kita dimana, Aunti?" tanya James pada Hermione yang menekan tombol di kunci mobilnya. Suara beep menunjukkan mobil mereka sudah terkunci aman.
"Ini Harrods, ayo!"
James berusaha mengendalikan detak jantungnya saat Hermione menggandeng tangannya memasuki pusat perbelanjaan itu. Dia menunduk menatap Hermione yang sibuk melihat ke sekitarnya. Dengan senang dia memperhatikan warna pakaian mereka yang sangat serasi. Ini untuk pertama kalinya James berkencan berdua dengan Hermione.
Well, ya, bagi James, ini adalah kencan. Dengan setelan serasi membuat mereka terlihat seperti pasangan di mata James.
Sebenarnya bukan hanya di mata James, namun bagi orang-orang yang melihat mereka berdua pun mengira mereka adalah pasangan. Bagaimana tidak? Kedua orang itu tidak mirip, si wanita kelihatan terlalu tua untuk menjadi kakak perempuan si pemuda. Sementara tatapan yang diberikan oleh si pemuda terlalu intim untuk dianggap sebagai tatapan anak untuk ibunya. Jadi, ya, mereka terlihat seperti pasangan dengan usia yang terpaut jauh, namun entah bagaimana tetap terlihat cocok.
Selagi tidak menghabiskan waktu untuk menatap Hermione, James mau tak mau mengagumi interior Departement Store ini. Dindingnya terbuat dari perpaduan warna cokelat keemasan dan hijau yang memanja mata. Ketika mereka tiba di tangga eskalator, mata James membulat takjub. Sambil berdiri di eskalator yang bergerak naik, James memperhatikan ukiran Hieroglif Mesir dan Sphinx yang terukir di dinding dan pilar-pilar.
Hermione mengajaknya berkeliling. Belanja baju untuknya, Rose, Hugo dan Paman Ron. Kata auntinya, semua yang dijual disini adalah merek-merek Muggle kelas atas. James tersenyum senang saat Hermione membelikannya setelan Giorgio Armani yang membuat gadis-gadis di sekitar mereka terpana menatapnya kagum ketika James menjajalnya. Dengan postur tubuh sempurnanya, dia bisa saja dikira model.
Saat giliran Hermione yang keluar dari ruang ganti untuk menjajal dress, giliran James yang terpana. Rahang James hampir jatuh ketika wanita 41 tahun itu keluar dengan memakai gaun malam cokelat keemasan yang menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk indahnya. Gaun itu berleher lebar dan rendah, dengan lengan gaun yang seperti menggantung di bahu. Warna cokelat keemasannya membuat kulit bersih Hermione semakin tampak bersinar. Membuatnya terlihat jauh lebih muda. Hermione berputar-putar di depannya.
"Bagaimana menurutmu, Jamie? Pantas tidak kalau Aunti memakai ini ke pesta Kementerian? Atau terlalu terang mungkin ya?"
James menggeleng, "Aunti cantik sekali."
Dengan penuh kepuasan James menyaksikan rona merah menjalari pipi auntinya. Akhirnya, datang juga hari dimana Hermione Granger merona mendengar pujian darinya. Biasanya auntinya hanya tertawa setiap kali dipujinya.
"Berarti gaunnya bagus ya? Ya sudah, ambil yang ini saja," kata Hermione tersenyum malu-malu.
Kalau dia berbelanja dengan ibunya atau Lily, James pasti sudah mengeluh minta duduk atau pulang. Tapi ini Hermione. Tidak peduli seberapa lama pun auntinya belanja, dia akan menemani tanpa protes. Mereka berkeliling lagi selama beberapa menit, lalu Hermione mengajaknya ke sebuah restoran Italia.
Rasanya James tidak ingin hari ini berlalu begitu cepat. Dia ingin seperti ini terus, berdua saja tanpa ada pengganggu. Terdengar klise mungkin, namun saat ini James merasa dunia hanya milik mereka bedua. Tidak ada Ronald Weasley, tidak ada Rose dan Hugo, hanya mereka berdua. Mudah sekali untuk melupakan bahwa wanita yang duduk di hadapannya sekarang ini adalah istri orang lain. Dan dia tidak lebih dari keponakan saja. Tapi James membuang jauh-jauh pikiran menyakitkan itu dan menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Sambil mengobrol mereka menghabiskan spaghetti mereka.
"Jadi," Hermione bicara dengan nada lembut, "Siapa dia, James?"
Alis James berkerut bingung mendengar pertanyaan Hermione. Siapa apanya?
"Maksud Aunti siapa?" tanyanya tak mengerti.
Hermione memutar bola matanya, "Siapa lagi? Gadis yang sudah berhasil membuat si pangeran Hogwarts patah hati? Kata Lily kau baru putus dari pacarmu sampai-sampai kau tidak mau keluar dari kamar. Jadi, siapa gadis itu?"
James mematung di tempat. Adiknya dan mulut embernya!
"Aku tidak mengerti, Aunti. Tidak ada gadis manapun," jawab James, menghindari pandangan Hermione.
Dia tahu Hermione menguasai Legilimency. Dan meskipun tahu auntinya tidak akan memasuki pikirannya tanpa izin, James tetap tidak sanggup menatap mata cokelat caramel itu. Dia takut dia malah mengungkapkan semuanya saat ini juga.
James membeku ketika tangan lembut Hermione menyentuh tangannya. Seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata, James akhirnya mendongak menatap mata wanita itu.
"Dia pasti gadis yang luar biasa hingga James Potter mencintainya sedemikian rupa," kata Hermione memandangnya lembut.
Terhipnotis, James mengangguk, "Dia wanita yang luar biasa. Tidak ada wanita yang lebih cantik daripada dia. Saat tersenyum, dia membuatku melupakan tanah tempatku berpijak."
Hermione mengamatinya selama beberapa saat, "Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya?"
James mengangguk, lalu tersenyum sedih, "Dia segalanya untukku, Aunti. Hanya saja, dia bukan milikku. Dia sudah memiliki laki-laki lain."
Mata cokelat caramel itu berubah sedih, "Dia benar-benar idiot karena tidak memilihmu, James."
James menggeleng, menatap dalam wajah cantik di hadapannya, menghapal setiap lekuknya, "Kebalikannya, dia wanita yang sangat jenius. Dia cerdas dan kuat. Dia tidak hanya cantik di luar, tapi juga di dalam. Bahkan dengan cintaku yang sangat besar untuknya, aku tetap tidak layak untuknya. Tidak ada pria yang cukup layak untuknya, Aunti."
Hermione menghembuskan napas panjang, "Apa dia tahu kau mencintainya?"
Pemuda itu menggeleng.
Mata Hermione membulat, "Jamie, bagaimana mungkin kau melepas gadis itu begitu saja, tanpa mengatakan tentang perasaanmu padanya?"
"Aku…aku tidak bisa mengatakannya," jawab James pahit. "Aku takut dia akan membenciku setelah itu."
"Menurut Aunti, kau harus mengatakannya. Kadang seorang gadis tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran para lelaki. Mungkin dia meninggalkanmu karena dia ragu oleh perasaanmu, Jamie. Katakan padanya kalau kau benar-benar mencintainya," Hermione menggenggam tangannya erat.
"Kalau dia menolak?" tanya James pelan.
"Kau sungguh-sungguh mencintai dia, kan?" James mengangguk mantap mendengar pertanyaan itu.
"Kalau begitu jangan menyerah dengan mudah. Kau laki-laki. Dia sudah punya pacar baru? Oh, James, pasangan yang sudah menikah saja bisa bercerai, apalagi kalau hanya sekedar pacaran. Aku tahu tidak mudah menggantungkan diri pada harapan. Tapi tanpa harapan untuk mencapai sesuatu, tujuan apa yang kau punya untuk menjalani hidup? Dulu dengan harapan ingin membuat dunia ini lebih damai tanpa Voldemort, aku, ayahmu, dan Ron tidak buta arah. Kami tahu apa yang ingin kami capai. Dan kau juga tidak berbeda. Aunti mengenalmu, sweetheart, tidak mudah bagimu untuk jatuh cinta seperti itu. Gadis ini pastilah sangat istimewa. Dia benar-benar bodoh jika tidak bisa melihat ada laki-laki tampan dan gagah sepertimu yang sangat mencintainya, hmm?" Hermione tersenyum menguatkan.
James menatap Hermione lama sekali. Dia mengamati bibir ranum itu dan menahan hasrat untuk melumatnya. Harapan ya? Bisakah dia berharap wanita di depannya ini akan mencintainya suatu hari nanti? Bisakah dia berharap wanita ini akan jadi miliknya? Jika dia ingin menjawab, maka jawabannya adalah ya. Dia ingin berharap. Dia tidak mau menyerah, meskipun dia akan mencapai tujuannya bukan sekarang. Mungkin setahun, dua tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun lagi. Dia mau untuk berharap.
James menyunggingkan senyum menawannya yang biasa, "Aunti benar, aku tidak mau menyerah begitu saja. Merlin, aku James Potter, anak Harry Potter yang paling tampan, gagah, pintar, dan tentu saja Chaser Gryffindor paling hebat yang pernah dikenal Hogwarts. Oh, dan jangan lupa tahun ini aku juga Ketua Murid."
Mereka berdua tertawa lepas. Mukanya merona seperti biasa ketika Hermione mengacak-acak rambutnya gemas.
"Kakek dan Nenekmu dulu Ketua Murid, ayahmu juga. Dan kalau saja aku tidak melanjutkan tahun ketujuhku di Hogwarts bersama dengan ibumu, bisa dipastikan Ginny yang jadi Ketua Murid," kata Hermione penuh rasa bangga.
James menatapnya hangat.
.
.
Matahari sudah hampir terbenam di peraduannya. Setelah bercanda ria di mobil sepanjang perjalanan pulang, mobil akhirnya berhenti di depan perumahan Grimmauld Place.
"Bilang pada orangtuamu Aunti tidak bisa mampir. Aunti harus pulang menyiapkan makan malam," kata Hermione sambil menjejalkan tas belanja Harrods ke tangan James.
James mengangguk, lalu tiba-tiba dia memeluk erat pinggang Hermione dan membenamkan wajahnya di bahu wanita itu. Hermione sempat kaget, namun segera balas memeluk keponakannya itu. James memejamkan mata, hidungnya menghirup wangi tubuh Hermione.
"Aku sangat mencintaimu, Aunti," bisiknya lembut di telinga Hermione.
Hermione tertawa, menepuk punggungnya, "Aunti juga mencintaimu, Sayang."
Tidak dengan cara yang aku inginkan, pikir James miris.
Dengan berat hati ia melepaskan pelukannya.
"Terima kasih untuk hari ini, Aunti Mione." Katanya lalu mengecup pelan pipi bibinya.
Hermione terdiam sejenak lalu mengangkat tangan, mengacak rambut James yang memang sudah berantakan. Dia lalu masuk ke mobil.
James masih berdiri di tempatnya, tidak melepaskan matanya dari mobil hitam yang semakin lama semakin jauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan. Menghembuskan napas panjang, ia melangkah ke undakan teras rumahnya. Hingga memasuki rumah sampai ke kamarnya, senyum tidak hilang dari wajahnya.
.
.
"Malam, Dad, Mum, Lils, Al, dan oh… Kreacher juga," sapa James ceria saat duduk di kursinya di ruang makan.
Semua keluarganya, termasuk Kreacher, memandangnya aneh. Ginny tersenyum lembut membalas sapaan putranya. Tidak sia-sia dia meminta tolong Hermione untuk menyembuhkan anaknya yang seminggu belakangan bertingkah aneh ini. Al mendengus, tahu benar alasan kenapa saudaranya tiba-tiba good mood.
Harry menatap putranya lekat-lekat. Dia tahu dari Ginny bahwa hari ini James menghabiskan waktunya bersama Hermione. Dan melihat raut bahagia James sekarang, dia tidak tahu apakah ini hal baik atau buruk. Dia mendesah, setidaknya James baik-baik saja.
Untuk saat ini.
.
.
Bersambung...
Hufth...
Finally bisa apdet jugaa... Sorry teman-teman kelamaan apdetnya, tapi mending telat daripada gak apdet sama sekali, hehehe (jangan ditimpuk)
Chapter ini fokus ama James-Hermione nya dulu, kasian sih sebenernya membuat James menderita kayak gini. Tapi kapan lagi bisa ngbikin cowok cakep menderita? Hahahahaha, masa cuma Hermione terus sih yang dibikin menderita, selalu mengharap, selalu nunggu, dikhianati, kasian dunks... Tentang apakah James ama Hermione bersatu, hmmmm...liat aja nanti.. wkwkwk
Yah, inilah apdetannya, kalau ada typo mohon dikoreksi ya, atau kalau ada masukan, sekiranya ada kalimat yang janggal atau kurang tepat. Semoga chap ini bisa memuaskan... Enjoy it yaaaa!
