Pulau Rintis, Malaysia.
08 February 2020.
Krystal menatap orang-orang di sekitarnya dengan bingung. Demi apapun yang ada di dunia ini, Krystal sama sekali tidak tahu ada dimana dia saat ini atau ada di tahun berapa dia saat ini. Dalam hati Krystal berharap dia tidak mundur terlalu jauh dari tahun dia seharusnya berada, tapi bagaimana jika...
'Tidak! Aku pasti hanya mundur dua atau tiga tahun saja,' Ucap Krystal dalam hati.
Memakai mini dress selutut berwarna putih, dengan hiasan wajah dan rambut yang sedikit mencolok, tentu saja membuat Krystal menjadi pusat perhatian, gadis itu terlihat seperti pengantin wanita yang sedang kabur.
Setelah hampir satu jam lamanya berjalan, Krystal pun memasuki area perumahan. Krystal lelah, apa lagi ia berjalan memakai high heels yang sangat tinggi, dia yakin kalau kakinya sudah bengkak saat ini.
Lalu Krystal melihat sebuah kedai, kedai itu terlihat seperti kafe outdoor milik ayahnya. Mungkin Krystal akan mampir sebentar ke kedai itu, memesan minuman dingin dan juga sekantong es batu untuk mengompres kakinya.
Krystal menghampiri kedai itu dengan langkah tertatih-tatih, ia meringis ketika rasa perih dan ngilu menyerang punggung, jari, serta telapak kakinya.
"Selamat datang di kedai kokotiam!"
Krystal mengabaikan sapaan ramah seorang gadis, ia segera menghampiri bangku terdekat dan melepas high heels mahalnya. Krystal hampir menangis saat melihat kakinya yang bengkak dan memerah, bahkan ada beberapa bagian yang lecet.
"Astaga, ada apa dengan kakimu?" Gadis yang menyapa Krystal tadi, bertanya dengan raut wajah khawatir.
"B-bisa ambilkan es batu untukku? Aku mohon," kata Krystal dengan nada serak. Suaranya serak karena tenggorokannya kering, ditambah dia sedang menahan diri untuk tidak menangis.
"Tentu saja," Jawab gadis tadi lalu segera pergi dari hadapan Krystal.
Tidak butuh satu menit gadis itu muncul dengan sekantung es batu di tangannya. Segera Krystal mengambil kantung es batu itu dan menempelkannya secara bergiliran di setiap bengkak dan lecet di kakinya.
"Namaku Ying, kau?"
Krystal mengernyit, kenapa nama gadis itu sama dengan nama sahabat ayahnya? Mungkin hanya sebuah kebetulan, pikir Krystal.
"Namaku Krystal."
"Asalmu dari mana?"
"Aku lahir di Singapore, menghabiskan masa kecilku di Kuala Lumpur dan berkuliah di Korea selatan," jawab Krystal.
"Kenapa kau berkeliaran dengan penampilan seperti itu?" Ying kembali bertanya.
"Kabur dari rumah saat pesta pernikahan seseorang," jawab Krystal acuh. "Oh iya, berapa harga minuman spesial di tempat ini?" Tanya Krystal berusaha mengalihkan topik.
"4 Ringgit," jawab Ying sambil tersenyum.
"Murah sekali..." gumam Krystal heran.
Krystal mengambil gedget berwarna gold dari tas slempang hitamnya. Krystal terlihat mengetik sesuatu, lalu terhenti dan menoleh kearah Ying.
"Tahun berapa ini?" Tanya Krystal.
Ying menatap Krystal bingung, tapi langsung menjawab. "2020."
"APA?!" Krystal memekik karena terkejut, membuat Ying dan beberapa orang yang ada di tempat itu ikut terkejut. "Ahh... M-maaf." Krystal meminta maaf dengan gugup.
'Sial! Bagaimana bisa aku terlempar begitu jauh?! 2020?! Aku terlempar 23 tahun ke belakang?!'
Sinar biru muncul dari layar gedget milik Krystal, sinar biru itu terlihat seperti hologram yang membentuk lima lembar uang malaysia. Krystal mengklik salah satu text yang ada di ponselnya, dan setelah itu sinar hologram tadi berubah menjadi lima lembar uang 100 ringgit.
Ying melempar tatapan kagum pada gedget milik Krystal. "Astaga, bagaimana benda itu bisa melakukannya?"
"Teknologi baru," jawab Krystal asal.
Tidak mungkin Krystal mengatakan jika gedget itu adalah alat printer 3D mini produksi 2040. Krystal memberikan 100 ringgit kepada Ying, dan memesan minuman dingin spesial serta cake coklat.
'Kira-kira... Ayah sedang apa yah?'
TING!
Lamunan Krystal buyar ketika alat printer 3D mininya berbunyi, ia mengklik layar alat itu dan muncul sepucuk surat dengan amplop coklat, Krystal segera mengambil surat itu dan membacanya.
'Hei ini aku, kakakmu Halilintar, bukan Halilintar pecahan elemental ayah. Pertama-tama aku mau bilang, maaf karena telah mengirimmu ke tahun 2020.'
Krystal mendengus kesal, bagaimana dia bisa tidak tahu kalau kakaknya lah dalang dari semua ini? Tentu saja si Halilintar yang melakukannya.
'Kau tahu, aku tidak ingin melakukannya tapi aku harus. Kau tahu 'kan alasan Bunda meninggal karena apa? Yap, itu karena luka parah yang di dapatnya dari peperangan melawan Alien jahat yang bersekutu dengan teroris di tahun 2021.
Terserah kau mau mengatakan jika kau adalah anaknya dari masa depan atau apapun iu, yang penting buat dirimu akrab dengan mereka maka itu akan memudahkanmu untuk melindungi Bunda.
Semoga kau berhasil. Maaf aku tidak bisa menemanimu, dan melakukan hal yang tidak kau setujui. Aku menyayangimu.'
Crystal Snow
"Ada gadis aneh di kedai Atok Abah," kata Ochobot.
Boboiboy tidak merespon.
"Gadis itu bilang dia mencari ayahnya," kata Ochobot lagi.
"Maksudmu aku harus segera mengganti pakaianku lalu berpecah menjadi tujuh kemudian mencari ayah gadis itu?" Tanya Boboiboy dengan nada tidak bersemangat.
"Tidak juga," jawab Ochobot.
"Lalu?"
"Katanya, nama ayahnya adalah Boboiboy."
Hening, Boboiboy tidak merespon karena terkejut. Lalu suara tawa khas Ochobot terdengar memenuhi kamar dominan biru milik Boboiboy.
"Aku bercanda, kenapa kau serius?"
Boboiboy menatap Ochobot kesal lalu melempar bantal kearah power sphera kesayangannya itu. "Keluar dari kamarku!"
"Eh, tapi aku serius ada gadis yang mencarimu di kedai. Dia bilang, dia mengenalmu dan ada urusanmu," ucap Ochobot, kali ini tidak bercanda.
"Aku istirahat--"
"Assalamualaikum..."
Boboiboy dan Ochobot menoleh kearah pintu masuk kamar Boboiboy, mereka terkejut saat mendapati Krystal berdiri di sana dan tersenyum canggung.
"Walaikumsalam," balas Boboiboy cepat. "Kau siapa? Kenapa bisa ada di situ? Siapa yang mengizinkan kau masuk?"
Krystal meringis saat mendengar pertanyaan bertubi-tubi Boboiboy. "Aku Krystal, aku terlalu lama menunggu di kedai karena itu kakekmu menyuruhku untuk langsung ke rumah ini dan menemuimu."
"Memangnya apa urusanmu?" Tanya Boboiboy lagi.
"Bisakah kita berbicara di ruang tengah? Aku lelah berdiri," Kata Krystal dengan santainya.
Krystal berjalan duluan mendahului Boboiboy dan Ochobot untuk ke ruang tengah, sangat tidak peduli jika saat ini Boboiboy menatapnya dengan kesal dan Ochobot hanya diam saja tanpa mengeluarkan kata apapun.
Dan disanalah mereka duduk di ruang tamu dan saling bertatapan, kecuali Ochobot yang sudah pergi ke kedai untuk kembali membantu Tok Abah.
'Bukannya kalau sepasang lawan jenis berada di satu ruangan itu... Orang ketiganya setan?' Pikir Krystal ngawur. 'Uh, tapi orang yang di depanku ini adalah ayahku, jadi... Gapapa kan?'
"Jadi, apa urusanmu?" Tanya Boboiboy to the point.
"Sebenarnya kalau kuceritakan siapa aku, kau pasti tidak percaya," ucap Krystal. "Tapi apapun yang kukatakan bukan kebohongan."
Boboiboy menaikan sebelah alisnya. "Lalu?"
"Apa kau bisa mempercayaiku?"
Terlihat dari tatapannya, Boboiboy tahu kalau gadis itu sedang berharap.
"Tergantung," jawab Boboiboy. "Kalau kau punya alasan yang cukup membuatku percaya pada setiap ceritamu, maka aku akan mempercayaimu," kata Boboiboy.
"Jika aku bilang kalau aku anakmu dari tahun 2043, apa kau percaya?" Tanya Krystal dengan suara pelan.
Tatapan ragu terlihat dari mata Boboiboy. "Kau punya bukti?"
Krystal mengangguk cepat dan membuka tas slempangnya, gadis itu mengeluarkan handphone rose goldnya dan mulai membuka folder dimana foto-foto serta videonya bersama sang ayah berada.
Salah satu video di klik oleh Krystal. "Ini adalah video saat usiaku masih 5 tahun, Bunda yang mengambil video ini."
Boboiboy mengambil ponsel itu, dan memperhatikan setiap adegan di video itu. Adegan awal di video itu ada seorang anak kecil yang duduk di pangkuan seorang pria.
"Ayah! Ayah nyanyi dong buat Ital!" Kata anak kecil itu, Boboiboy menyimpulkan kalau anak itu adalah gadis yang ada di hadapannya, Krystal versi anak kecil.
"Krystal mau Ayah nyanyi apa?"
Ketika wajah si pria yang Krystal panggil 'Ayah' tersorot, Boboiboy terkejut. Pria itu memiliki wajah yang sama dengannya, hanya saja terlihat lebih dewasa dan matang.
"Lagu kolea! Yang nyanyi-nya ada banyak!"
"Kalau--"
Boboiboy mempause video tersebut, kemudian menatap Krystal dengan tatapan yang sulit di artikan. Boboiboy menggelengkan kepalanya, lalu kembali memfokuskan diri pada ponsel Krystal.
Kemudian selama setengah jam, Boboiboy terus membuka satu persatu video yang ada di folder itu. Krystal hanya memperhatikan, sambil berharap kalau Boboiboy akan percaya padanya.
"Kau mengeditnya 'kan?" Tanya Boboiboy setelah selesai dengan ponsel milik Krystal.
Krystal menggeleng. "Tidak sama sekali, dan aku yakin kau tahu kalau itu bukan editan."
Gadis itu benar, Boboiboy tahu kalau video itu bukan editan sama sekali.
To be countinue
Hello? Hai!Pertama-tama aku mau bilang, maaf karena part satu ini sangat mengecewakan dan mungkin aku akan merevisinya agar menjadi lebih baik (entah kapan, lihat saja nanti). Aku hanya gadis yang baru terjun ke dunia penulisan, jadi mohon bantuannya agar aku bisa menulis dengan lebih baik lagi.
Kedua, maaf karena chapter pertama ini pendek, dan hanya terdiri dari 1000k words saja.
Ketiga, THANKS UDAH MAU MAMPIR DAN REVIEW DI CERITA INI HUHUHHU (believe me I almost screaming). Sorry aku gak bisa balas satu-satu reviewnya, intinya terima kasih banyak.
And, uhh... What time is it? Almost 3:10 AM, so I'm gonna say bye and see u later in the next chapter.
With loves : Lujaecy.
