Disclaimer : Masashi Kishimoto-sensei

Warning : OOC (Bangeeet), Typo (Aaabizzz), Boy x Boy, SasuNaru(Of Course!), n masih banyak kekurangan lainnya, nah makanya Minna... Miyu mohon reviewnya... buat koreksi...

#Menerima Review dalam bentuk apapun

Happy reading Minna...

Muuaach :*

.

.

a Case In Uchiha's House

.

.

Naruto duduk di mejanya sambil menopang dagu lancip berwarna tan miliknya. Iris safirnya menatap lekat-lekat laki-laki bersurai hitam kelam yang kini tengah membaca buku bisnis dalam diam seakan-akan hidupnya hanya berdua dengan buku yang kini tergenggam erat di tangan putih porselennya.

"Kenapa kau memperhatikan aku seperti itu, Dobe?" tanya Sasuke tanpa ada stressing di kalimat datarnya. Wajahnya tetap terpaku pada buku setebal 10 senti itu tanpa melirik ke arah Naruto yang masih diam mengamati dirinya.

"Hm, Teme... kau tahu? Aku benar-benar heran padamu." Kata Naruto sambil mengubah posisi menopang dagunya dengan menyandar ke kursi.

Sasuke hanya mengangkat bahunya tak peduli. Padahal ia benar-benar berharap jika teman pirangnya ini tidak membahas masalah penyamarannya, karena Ia tidak tahu harus menjawab apa nantinya, apalagi setelah kejadian Naruto yang berhasil membongkar identitasnya membuat ia harus berusaha mati-matian untuk tidak menampakkan ekspresi terkejutnya.

"Hn." Akhirnya hanya gumaman itu yang keluar dari bibir Sasuke setelah pergumulan panjang di otak jeniusnya.

Naruto mengangkat alisnya sebelah.

"Aku tahu, Teme! Kau dari klan Uchiha, kan? Mengakulah!" seru Naruto. Untung saja di kelas itu hanya ada dia dan Sasuke, kalau tidak? Hancur leburlah penyamaran Sasuke.

"Hn, berilah alasan spesifik yang menjelaskan kalau aku dari Klan Uchiha." Kata Sasuke terus dengan tampang datarnya yang serata papan setrika.

"Oke, Ini!" kata Naruto sambil meraih dan menunjuk buku bersampul dongker yang terdapat di meja Sasuke.

.

...Sasuke U...

.

"Memangnya klan apalagi yang memiliki ciri-ciri sepertimu, hmm.. lihat! Huruf 'U' di sini!" seru Naruto kesal.

Sasuke tetap stay cool, meskipun kini ia tengah memeras otaknya agar dapat memberi alasan logis untuk teman sekelasnya yang tak bisa dianggap remeh itu.

"huruf 'U' di sana bukan berarti 'Uchiha', dobe!" kata Sasuke pelan. Ia membalik halaman bukunya dengan profesional dan teratur.

"Cih, lalu apa? Uzumaki? Hahaha... jangan bercanda." Kata Naruto sambil tertawa lepas.

"Mana ada klan Uzumaki berambut hitam sepertimu. Anak TK pun pasti tahu kalo rambut khas klan Uzumaki itu adalah merah, Teme.. hahaha..." lanjut Naruto sambil tertawa geli.

Sasuke tetap diam, kemudian ia menutup bukunya dan menggebarak mejanya dengan kasar.

"Aku berasal dari klan Umezawa, klan yang punah, dan aku adalah pemilik nama klan yang terakhir." Seru Sasuke dengan kesal. Nafasnya tampak memburu karena menahan amarah yang sebenarnya dibuat-buat untuk mengelabui Naruto.

Mendengar itu, Naruto langsung menciut. Ia pun tertunduk dan kembali duduk di tempat duduknya.

"ma.. maafkan aku, ne.. Sasuke... aku tak bermaksud... uhm.. klan-mu." Kata Naruto yang seakan terhipnotis dengan perkataan Sasuke yang of course Bull Shit-nya.

Sedangkan si Sasuke? Ia menyeringai, karena aktingnya bisa mengelabui Naruto yang sejak seminggu yang lalu terus berupaya membuat Sasuke membongkar identitasnya.

'Hampir saja, aku harus hati-hati dengan bocah kuning ini.'

.

.

.

Pukul 07.00 Pagi

"Naru-chan... bangunlah..." kata Kushina sambil menggoyang pelan tubuh Naruto yang masih terbungkus selimut berwarna oranye.

Mendengar suara halus milik ibunya itu, Naruto tidak bergeming sedikit pun, malah semakin mempererat pelukannya pada bantal gulingnya.

"Naru-chaaaan..." suara Kushina naik satu oktaf.

Naruto tetap tak bergeming dan masih sibuk dengan mimpi indahnya bersama seorang pacar.

"Naruuuu-chaaaaaaan..." naik 2 oktaf.

"Naruuuuuuutttooooooooooooooooo!" Teriak Kushina yang mampu merobohkan kediaman mereka yang terbilang sederhana itu dengan suara 'seksi' nan menghancurkan pendengaran miliknya.

Naruto langsung terbelalak kaget dan tanpa sadar sudah duduk dengan iris safir membulat sempurna.

"Nah, sekarang mandilah! Kau tak mau,kan. Kalau Kaa-san menaikkan suara satu oktaf lagi." Kata Kushina sambil meremas bogemnya yang sudah terkepal beberapa saat setelah ia berteriak kencang membangunkan Naruto.

Melihat aura mengerikan yang dikeluarkan Kushina, Naruto mengangguk lugu ketakutan dan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Naruto pun segera menuju dapur untuk ikut makan bersama keluarganya yang lain.

Tiba-tiba...

Tok... Tok...

Baru saja Naruto hendak memasukkan sepotong roti ke mulutnya, tapi ia tidak jadi melakukannya karena terdengar suara ketukan di pintu rumahnya.

"Tunggu sebentar." Kata Kushina sambil beranjak dan berlari kecil untuk melihat orang yang bertamu ke rumahnya pagi ini.

"Ck, mengganggu saja." Kata Naruto sambil memasukkan roti itu dan mengunyahnya perlahan.

"Haha... seharusnya kau bersyukur karena ada orang yang mau datang kemari sepagi ini." Kata Kyuubi- Kakak Naruto- sambil mengacak-acak surai kuning milik adiknya itu.

"Hoi, rambutku sudah ku tata dengan rapi! Dan kau, merusaknya!" seru Naruto sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyuubi yang hanya berjarak 40 senti itu.

Kyuubi yang melihat adiknya marah-marah seperti itu hanya bisa tersenyum geli sambil terus merusak surai pirang milik Naruto dengan gemas.

"Kalian seperti anak-anak." Dengus Minato kesal karena melihat tingkah laku kedua anaknya itu, kemudian ia menyeruput teh yang berada di hadapannya sambil membaca koran pagi dengan tenang.

"Naru-chan, ada Inspektur Danzou. Ia ingin bertemu denganmu." Kata Kushina, terdengar seperti menginterupsi kegiatan acak-mengacak rambut yang dilakukan oleh Kyuubi dan Naruto. Mendengar hal itu, Naruto dan Kyuubi menghentikan kegiatannya dan diakhiri dengan dengusan kesal dari mereka secara bersamaan.

"Cepatlah!" kata Kushina sambil menarik Naruto menuju ke ruang tamu.

"Oh, Naruto!" Seru Inspektur Danzou sambil berdiri dan mengusap-usap tangannya.

"Ah, Inspektur. Ada perlu apa anda datang kemari?" Tanya Naruto dengan ramah sambil menunjukkan senyuman lima jari miliknya. Setelah itu, ia pun duduk di hadapan Inspektur Danzou yang tampak sangat gelisah.

"Hm, begini... apa kau sudah mendengar kabar di media tentang pencurian di kediaman keluarga Uchiha?" tanya Inspektur Danzou sambil terus mengusap tangannya dengan gelisah.

Naruto mengernyitkan alisnya kemudian menghela nafas pelan.

"Aku belum mendengarnya, silahkan ceritakan kasus yang menghebohkan ini." Kata Naruto sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.

" Ketika tepat pukul 02.00 tadi malam, anak bungsu dari keluarga Uchiha mendengar suara yang agak berisik dari arah jendelanya. Setelah membuka matanya, di dapatinya seorang laki-laki berusaha keluar dari kamarnya melalui jendela setelah membawa sebuah kotak perhiasan dari brangkas yang ada di kamarnya. Setelah itu, si pencuri langsung melompat keluar, padahal kamarnya berada di lantai dua. Dan di sini hal menariknya, tidak di temukan jejak apapun di bawah."kata Inspektur Danzou.

"Kenapa si bungsu Uchiha itu tahu kalau pencuri itu laki-laki. Berarti dia melihat wajahnya, dong." Kata Naruto sambil mengernyitkan dahinya.

"Karena pencuri itu berambut pendek dan tubuhnya tegap seperti laki-laki." Jelas Inspektur Danzou.

Naruto mengangguk tanda mengerti, kemudian ia membuka mulutnya kembali.

"Apa yang dicuri?"

"Mutiara hitam keberuntungan keluarga Uchiha yang diwariskan secara turun temurun kepada setiap CEO Uchiha Corp. Nah,Apakah kau mau menyelidiki kasus ini lebih dalam?" kata Inspektur Danzou sambil berdiri dari tempat duduknya. Ia tampak mengeratkan mantel berwarna hitamnya kemudian mengusap kedua telapak tangannya menunggu jawaban dari Naruto.

Diam sesaat...

"Yah, ayo." Kata Naruto sambil bergegas mengambil tas sekolahnya yang berada tak jauh di sampingnya.

"Kaa-san, Tou-san, Aniki, aku duluan!" teriak Naruto, kemudian ia bergegas menyusul langkah lebar Inspektur Danzou yang sudah berada di halaman depan rumah mereka.

.

.

Di Kediaman Uchiha

Naruto membelalakkan matanya setelah melihat rumah, ah istana milik keluarga Uchiha yang benar-benar megah dengan kedua penyangga kokoh raksasa di depannya. Rumput hijau muda terhampar bebas di halaman depan istana keluarga kaya raya itu. Jangan lupakan pula mobil-mobil berjajar rapi di bagasi yang terletak sendiri di serong kiri istana itu. Mulai dari BMW, Fortuner, Ford, sampai mobil sport tercepat di dunia yang harganya selangit pun ada di sana.

Inspektur Danzou tersenyum melihat reaksi Naruto yang benar-benar kagum dengan rumah atau yang lebih tepatnya istana keluarga Uchiha itu.

"Naruto, hati-hati, kau bisa tersandung jika melihat rumah ini dengan tatapan seperti itu." Kata Inspektur Danzou sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Eh, Ah!" Naruto langsung gelagapan karena kedapatan mengagumi rumah keluarga Uchiha sampai-sampai matanya terbelalak hampir keluar dari kelopaknya.

Naruto pun mempercepat langkahnya menyusul Inspektur Danzou yang sudah bergabung dengan teman-temannya di depan pintu rumah keluarga Uchiha.

"Nah, Uchiha-sama... Ini detektif yang kami maksud." Kata Inspektur Danzou memperkenalkan Naruto pada seorang laki-laki paruh baya berambut hitam dan bertubuh tinggi yang tampaknya adalah kepala keluarga Uchiha, Fugaku Uchiha.

"Hn." Hanya itu yang keluar dari mulut laki-laki paruh baya itu, kemudian ia menghampiri Naruto yang masih bengong dengan rumah keluarga Uchiha itu.

"Hei, detektif. Aku akan membayar berapa pun yang kau minta, asalkan kau menemukan mutiara itu beserta pencurinya." Kata Fugaku sambil memasang wajah meremehkan yang membuat Naruto hanya bisa mengelus dada dengan sifat angkuh alami dari keluarga ini.

"Baiklah, Tuan.. saya akan mencoba semampu saya." Kata Naruto sambil membungkuk hormat.

" Sasuke, kemarilah! Detektifnya sudah datang!" seru Fugaku sambil melambaikan tangannya ke dalam rumah.

Seorang laki-laki berambut hitam legam dengan kulit seputih porselen tampak berjalan menghampiri Naruto dengan mata yang sedikit tertutup. Meski wajah tampannya tak menyiratkan kekalutan, Naruto tetap bisa menebak jika Uchiha bungsu ini benar-benar merasakan tekanan yang sangat berat.

"Hmm, Uchiha-sama.. bisakah saya mendapatkan satu atau dua informasi dari anda?" tanya Naruto dengan tenang sambil mengambil sebuah notes bergambar rubah dari tasnya.

Mendengar suara yang familiar itu, Sasuke langsung membuka matanya dan menyaksikan sendiri seorang pemuda berambut kuning cerah serta memilik manik sebiru laut yang telah menjadi teman sekelasnya berdiri dengan tangan yang siap mencatat.

Sasuke tertegun beberapa saat, kemudian menghela nafas.

"Aku tak yakin." Kata Sasuke dengan ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah terangkat angkuh.

Twitch?

Kening Naruto mengerut setelah mendengar perkataan Sasuke yang menurutnya sangat me-ren-dah-kan dirinya itu.

"Hm, tak apa-apa kalau anda tak mau diajak bekerja sama." Kata Naruto sambil mengangkat bahunya cuek sambil berusaha mengembalikan kembali notes-nya kedalam tas.

"Tunggu!" seru Sasuke sambil menggenggam lengan Naruto yang berwarna tan itu.

"Baiklah, akan kuceritakan."

.

"Hm.. jadi begitu, bolehkah saya berkeliling sebentar di sekitar rumah anda?" tanya Naruto dengan sopan.

Ia tampak menautkan jari-jarinya

"Hn, lakukanlah. Yang penting mutiara itu kembali ke tanganku." Kata Sasuke masih dengan nada angkuhnya membuat Naruto sedikit jengkel mendengarnya.

"Cih." Naruto berdecih kesal, kemudian beranjak dari sofa empuk itu.

'Lihat saja! Akan kulunturkan wajah angkuhmu itu, Uchiha!' teriak Naruto dalam hati dengan kesal. Ia pun memulai penyelidikan.

.

.

"Hah... kasus ini rumit." Kata Naruto sambil menyandarkan tubuhnya di sofa milik keluarga Uchiha itu.

"hn, sudah ku duga." Kata Sasuke dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan ayah, ibu, serta kakaknya yang duduk di sampingnya tetap diam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

'What!'

Naruto menggeram kesal mendengar perkataan Sasuke yang terkesan menyebalkan dan angkuh itu.

"Ya... kasus ini rumit jika di lihat dengan mata tertutup." Kata Naruto sambil menyodorkan kotak kayu ke depan mata Sasuke yang kini tengah membulat tak percaya.

"Ka...Ka...Kau.."

Sasuke masih terbelalak. Tidak, bukan hanya Sasuke, tapi seluruh keluarganya.

"Bagaimana bisa?" seru Mikoto sambil membuka kotak itu, memastikan mutiara hitam seberat 300 gram itu masih ada di sana.

Naruto mengangkat bahunya.

.

FLASHBACK

Naruto semakin menemukan titik terang kasus tersebut.

Hingga Ia memanggil seorang pelayan wanita yang bertugas untuk membersihkan kamar Sasuke.

"Hai, anda Shion?" tanya Naruto sambil menjabat ramah tangan pelayan wanita itu. Senyum lima jarinya tak lepas dari wajah tan miliknya.

"Iya, tuan. Ada perlu apa anda memanggil saya?" tanya pelayan itu dengan gugup. Ia tampak menautkan kedua telapak tangannya menghindari kegugupan.

"aku mau bertanya, apa kau pernah melihat kotak tempat tuan muda mu menyimpan mutiara hitam itu?"tanya Naruto blak-blakan.

"Ti..tidak, saya tidak pernah melihatnya. Sekalipun tak pernah." Jawab Shion dengan gugup.

Naruto mengangguk mendengar hal itu, kemudian ia kembali membuka mulutnya.

"Oh, ya sudah. Kau suka permainan survival?" tanya Naruto dengan santai.

Shion langsung mengangguk dengan senang.

"Tentu saja! Ayah saya sering membawa saya ke tempat permainan survival." Seru Shion dengan semangat.

"Ah, benarkah? Baguslah. Ku rasa tubuhmu terlatih." Kata Naruto sambil menunjuk pundak Shion yang tampak tegap meskipun ia sengaja menyembunyikannya dengan membungkuk agar bahunya tidak terlihat tegap.

Mata Shion langsung membulat.

"A.. haha.. sepertinya saya ada pekerjaan lain di dapur." Kata Shion sambil membalik tubuhnya dan hendak pergi sampai sebuah suara membuat ia kembali tertegun.

"Kau menyelinap masuk ke dalam kamar tuan-CEO- yang-angkuh-itu dengan hati-hati dari jendela kamarnya dengan tali. Ceroboh memang, tapi kau harus lewat dari sana karena biasanya ada dua penjaga yang selalu ada di dekat lorong kamarnya, kemudian kau membuka brangkas itu dengan berbekal pengalamanmu di permainan survival. Ya... terkadang kita harus membuka ruang yang terkunci untuk sampai ke tempat finish di permainan itu. Setelah kau mengambil kotak itu, kau kembali bergegas turun dan berakhir di gudang yang tepat berada di bawah kamar tuan muda itu. Tentu saja jejakmu tak akan terlihat di tanah atau di mana pun, tapi semua fakta yang aku temukan Mernuju padamu, dan fine!" kata Naruto panjang lebar, ia nyengir kuda dengan hipotesis yang baru saja ia sampaikan.

Setelah mendengar itu, Shion langsung terduduk lesu. Air matanya keluar dan ia menangis sejadi-jadinya.

"Ma..maafkan aku, aku... tidak bermaksud..."

"Kau ingin membiayai pengobatan ibumu, kan? Nah, aku akan mencarikan solusinya, tapi aku minta kau kembalikan mutiara itu padaku." potong Naruto sambil menyodorkan tangannya meminta mutiara itu.

Shion langsung menunduk dan mengangguk lesu, kemudian Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju taman yang berada di halaman belakang keluarga Uchiha itu dengan Naruto yang mengikutinya.

Setelah itu ia tampak membongkar-bongkar tanah gembur tempat bunga aster ditanam.

Namun matanya terbelalak kaget, Kotak kayu yang berisi mutiara itu, Tidak Ada! Ia terus membongkar tanah itu dengan segenap kekuatannya berharap ia dapat menemukan kotak kayu itu.

"Tidak, tidak mungkin! Tidak mungkin!" serunya sambil menggeleng.

"Nah, ini pelajaran untukmu, nona. Seperti itu lah yang dirasakan oleh tuanmu saat benda pentingnya hilang." Kata Naruto sambil mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir lambang klan Uchiha dari saku jas sekolahnya.

Shion hanya dapat bernafas lega setelah melihat benda itu sudah ada di tangan Naruto.

"Apakah anda akan menyerahkan saya pada polisi?" tanya Shion sambil menunduk pasrah dengan apa yang sekarang dihadapinya.

Naruto mengangkat bahunya kemudian tersenyum riang.

"hm, aku akan tutup mata soal kasus ini, tapi berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi.

Kalau aku mendapatimu melakukan hal yang sama, aku tidak akan main-main lagi. Hm.. Setidaknya, kalau kau ada masalah ceritakan pada orang terdekatmu, mungkin mereka bisa membantu." Kata Naruto sambil berbalik pergi meninggalkan Shion yang sekarang menatap punggung detektif remaja itu dengan penuh kekaguman.

.

.

"aku harap kalian menepati janji. Aku ingin uang sebesar 300.000.000." tambah Naruto.

Mendengar itu, Fugaku langsung mengangguk dan tampak mengambil sesuatu di meja yang terletak tak jauh darinya, kemudian menuliskan nominal yang diinginkan Naruto.

"Ini." Kata Fugaku sambil menyodorkan cek bernilai 300.000.000, itu.

Naruto menerimanya kemudian beranjak pergi.

"Tunggu, aku ingin tahu siapa pelaku itu." Kata Sasuke sambil menahan lengan Naruto. Ia benar-benar tidak sadar bahwa ia menggamit dengan kuat lengan Naruto.

"Ck, kau itu mengigau. Yang kau lihat itu konsepnya hampir sama dengan fatamorgana." Kata Naruto sambil melepas cengkraman Sasuke dan berjalan keluar dari kediaman keluarga Uchiha itu.

Sasuke mengerutkan dahinya kemudian mendengus kasar, kakinya melangkah menyusul Naruto yang berada beberapa meter darinya.

"Aku tidak mengigau, bodoh! Aku sadar! 100% sadar. Lalu, kau menemukan kotak itu di mana?" Kata Sasuke sambil menekankan setiap kata pada kalimatnya. Mata Sasuke memicing curiga ke arah Naruto.

"Hm.. kau saja yang tidak teliti mencarinya. Sudah, tak usah banyak tanya. Aku mau sekolah." Kata Naruto sambil melenggang pergi dengan cek sebesar 300.000.000 di tangannya.

"Sekolah? Kau pikir ini sudah jam berapa?" kata Sasuke sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Cih, sok tahu kau..."

Naruto melihat ke arah jam tangannya dan... setelah melihat jarum di jam tangannya, matanya membulat sempurna.

"Uwooo!" teriak Naruto. Ia meremas surai kuningnya dengan kesal. Bagaimana tidak? Jarum jamnya menunjuk ke arah angka 12 dan ulangan matematikanya hari ini di adakan pada jam 10.00.

"Ck, benar-benar dobe." Kata Sasuke sambil tertawa geli melihat Naruto yang tengah bergalau ria.

Mendengar ungkapan 'dobe' tadi, Naruto langsung menoleh dan menghampiri Sasuke dengan kaki yang sengaja dihentakkan.

"Dasar, Kau yang idiot!" seru Naruto setengah berteriak.

"Kalau aku se-dobe kamu, aku tak akan jadi CEO, bodoh." Kata Sasuke dengan angkuhnya. Sebuah seringai terpatri manis di bibir pink-nya.

"Cih, kalau saja wajahmu tak tampan, aku pasti sudah menonjoknya dari tadi." Kata Naruto dengan kesal. Sukses membuat pemilik surai hitam itu terdiam di tempat.

Melihat reaksi yang ditunjukkan Sasuke, Naruto langsung gelagapan dan tertawa GaJe.

"Eh?! A..hahaha... jaa.. saya permisi pulang." Kata Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Wajah Naruto sedikit bersemu merah karena malu dengan ucapannya yang terdengar seperti mengatakan kalau si Uchiha yang menyebalkan itu, Tampan.

Sasuke masih terpaku melihat sosok Naruto yang mulai menjauhi kediamannya itu. Ia menatap punggung Naruto yang sangat ramping itu sambil menyeringai setan.

"Tuan muda?"

Seorang bodyguard menepuk bahu Sasuke dengan pelan, membuat Sasuke tersadar dari lamunannya.

Ia pun berbalik kembali ke arah kediamannya yang megah itu.

"Ck, sial! Kenapa aku merasa aneh seperti ini?" kata Sasuke sambil menepuk dadanya yang sedang bergemuruh dengan pelan.

.

TBC

To

Be

Continued...

Makasih buat reviewnya, Minna...

Miyu senang deh, n bakalan berusaha buat yang terbaik untuk Minna...

Muaaach :*