Guling kanan guling kiri. Mata merem melek. Jimin susah tidur, padahal sudah jam dua belas lewat, dan terlelap saja tidak bisa. Isi kepalanya masih beraktivitas hingga rasanya pening. Terus kepikiran macam-macam hal sampai ia ingin menggunduli saja rambutnya.

Kim Taehyung jatuh cinta.

Kim Taehyung jatuh cinta.

Sekali lagi, Kim Taehyung jatuh cinta!

Setelah belasan tahun mengenal pemuda manis yang gemar meminum jus apel ini, akhirnya di umur dua puluh dia mengetahui (dengan sadar dan berada di lokasi kejadian) kalau Taehyung akhirnya menyukai seorang pria! Jimin menangis batiniah, jiwaninya meraung-raung seperti gembel hanya karena pengakuan polos sahabatnya itu. Sumpah mati, dia tak tahu bisa jadi begini kacau karena mendengar Taehyung berkata: aku suka dia!

Gila betul. Apa Jimin sakit hati?

Ya tentu saja!

"Sial, siapa sih orang itu?!"

Jimin menendang-nendang selimut hangatnya kesal. Wajahnya bersungut, berapi-api, membara oleh emosi yang berkecamuk di dalam dada dan kepalanya. Sialan, sialan, sialan; begitu terus kata yang terulang di dalam kepalanya. Rasanya menyesakkan dan melelahkan sekaligus.

Baru kali ini Jimin punya saingan!


Ambition

..

Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung

[MinV] and [TaeGi – YoonTae]

..

I will run to reach you!


"Namanya Yoongi Min!"

Jimin mendengus kesal. Moodnya turun ke lambung, malas meladeni, ingin kabur saja, tapi apa daya wajah berseri-seri dari Taehyung itu mampu menggagalkan rencana ngambek Jimin. Mana bisa, sih, Jimin marah pada jelmaan bocah lima tahun macam Taehyung? Kalau mereka bertengkar dan saling diam, Jimin yang rugi. Tidak dapat asupan tingkah manis Taehyung bisa membuatnya kacau. Pernah suatu kali Taehyung terbaring sakit dan Jimin harus menjalani hari tanpanya, dia berubah jadi pria seram yang disentuh sedikit bisa mengamuk seperti badak.

Jadi, ya, dia terima saja. Walau sakit juga, ternyata.

"Memang Heechul sunbaenim itu social butterfly, ya. Aku dapat informasi dari dia, tak salah aku bergantung padanya dalam hal ini," Taehyung mengunyah sandwich tuna yang diberikan Jimin untuknya. Rasanya sedikit lebih pedas dari yang pernah dia ingat. Sepertinya, ini dibeli dari toko berbeda. Atau Jimin memberikan saus yang terlalu banyak? Masa bodoh, Taehyung sudah lapar. Rasanya, ia jadi mudah lapar sekarang. Karena, ehem, memikirkan pria misterius yang ganteng itu, ternyata menguras tenaga juga. "Kudengar dia anak band, posisi sebagai keyboardist. Tetapi dia juga bisa nge-rapp, sial, bukankah dia keren?"

Skip saja, dong. Huhuhu. Ada aku yang jauh lebih keren, Tae.

"Tapi kemarin dia bawa biola, kan ya? Apa dia itu jenius musik? Atau dia bisa memainkan banyak alat musik –astaga, dia benar-benar keren! Jimiiin, ya Tuhanku, dia kelihatan sangar tetapi nyatanya lembut, ya? Kau tahu apa yang membuatku berpikir dia lembut?"

Jimin merengut, berusaha tak mau dengar.

"Dengar tidak siiih?"

"Hmmmmmm," terpaksa, deh. Untung Taehyung lucu. "Apa itu?"

Dia tertawa manis. "Musik. Dengan keyboard, atau sebut saja dia bisa main piano... dan biola! Itu kan alat musik klasik yang menenangkan. Kau tahu aku suka musik yang seperti itu. Penampilannya bisa seperti preman, tetapi hatinya selembut dentingan tuts dan gesekan senar biola. Ah, dia akan sangat romantis jika memainkan sebuah lagu untukku," pipinya merona hebat. Hanya karena membayangkan sesuatu yang belum terjadi, Taehyung bisa merona.

Merona!

Kapan, sih, Jimin pernah membuatnya merona?

Bajingan betul Min Yoongi itu. Baru sekali bertemu Taehyung, langsung bisa membuatnya merona karena berimajinasi. Jimin bahkan telah menghabiskan belasan tahun disisinya dan tak pernah mampu membuat Taehyung berdebar-debar sambil menangkup pipi bulatnya yang merah muda dan bicara dengan aksen malu-malu seperti perempuan! Jimin 'kan juga ingin jadi bahan imajinasi Taehyung! Dia bisa romantis, lagipula, kapan sih dia tidak bersikap romantis untuk satu-satunya Dewi di hati Park Jimin ini?

Makan disuapi, hujan dipayungi, tidur dikeloni, kedinginan dipeluk.

Kurangnya dimana? Yoongi bahkan tidak bicara padanya lebih dari dua puluh detik!

Jimin akan mencarinya, dan buat perhitungan!

Satu. Dua. Tiga. Aku akan menjauhkanmu dari Taehyung-ku!


Sejak deklarasi perang sepihak, Jimin memutuskan untuk menjauhkan Taehyung dan Yoongi sebisa mungkin. Walau sejauh ini dia merasa lega. Sebab manusia serba hitam seperti malaikat maut itu belum terlihat lagi sejak pertemuan pertama mereka. Kampus ini memang luas bukan main, dan mendengar isu bahwa dia anak band cukup mengguncang batin Jimin kalau-kalau pria itu satu fakultas dengan Taehyung. Kesenian. Tetapi mendengar cerita Taehyung yang merana karena dia galau tidak menemukan sosok yang dikaguminya dimana-mana, membuat Jimin tersenyum bahagia kehilangan seonggok pria sok keren itu.

Sudah hampir satu bulan. Kurang sembilan hari.

Mungkin itu hanya iklan. Jimin bernapas lega. Hot isu di kampus juga meredup, orang-orang mulai lupa dengan perbincangan Taehyung menyukai pria misterius dan kembali membicarakan mereka yang bersikap manis seperti suami istri. Ah, ini yang dia suka. Jadi pusat perhatian disisi Taehyung. Walau mirisnya, Taehyung masih penasaran dan suka ngomongin Yoongi tanpa henti, Jimin tidak peduli. Setidaknya saat ini, Taehyung masih dalam genggamannya. Enak saja diberikan begitu saja, pada orang aneh maniak hitam pula? Ogah!

"Aku pipis dulu, ya."

"Mau ditemani, gak?"

"Apaan, sih?! Gak!" Taehyung mengetuk dahi Jimin dan merengut. Melenggang pergi menjauhi Jimin yang tertawa jahil.

.

.

Frekuensi Taehyung kencing dengan urinoir itu lebih minim dibanding dia menggunakan kloset duduk. Dia agak tidak nyaman harus pipis bersebelahan dengan orang lain, yang mana memungkinkan dia dan orang lain bisa melihat penis masing-masing. Itu terdengar menakutkan. Walau sama-sama cowok, itu kan barang pribadi!

Lagipula, dia ini kan, ekhem, gay. Jadi ya malu kalau melihat penis atau penisnya dilihat.

Masalahnya dia udah kebelet. Dan dua dari tiga toilet rusak, satu-satunya yang tersisa diisi orang sedang buang air besar. Jadi terpaksanya dia pipis di urinoir. Matanya melirik-lirik, mengawasi keadaan sekitar. Barangkali ada orang yang pernah nembak dia, jangan sampai kedapatan melihat penisnya! Memalukan, dan dia tidak suka memperlihatkan tubuhnya. Agak terndengar narsis, tapi dia takut kalau nanti memang terlihat oleh orang yang pernah nembak dia, nanti dijadikan bahan fantasi masturbasi bagaimana?! Kan seram!

"Ayo cepat saja, Taehyung," dia membuka resleting jeans dan celana dalamnya cepat. Dengan mata yang berkeliling memastikan keadaan sepi. Buru-buru ia mengeluarkan miliknya untuk buang air, sudah tidak tahan lagi.

Fyuuuh. Taehyung mengeluarkan air untuk membasuh air kencingnya dan penisnya. Dia selalu bawa tisu kalau ke toilet karena dia tidak suka tubuh sensitifnya basah. Dia sedang membersihkan dirinya sampai ia mendengar langkah berat yang berhenti di sebelahnya. Suara resleting dibuka santai dan gemerincing air kencing.

Taehyung menoleh cepat. Lalu lupa caranya bernapas.

M-Min Yoongi! Oh, Man, holy shit!

Sudah tiga minggu dicari-cari seantero kampus dan akhirnya bertemu di toilet? Tahu begitu, kemarin-kemarin Taehyung tunggu di toilet! Hari ini Yoongi pakai sesuatu yang lebih cerah, t-shirt merah maroon dan jeans belel, converse merah tua dan topi bisbol yang sama dengan pertama kali Taehyung bertemu dengannya. Lebih simpel namun manis, jauh lebih ringan ketimbang dandanan berat hitam-hitam waktu itu. Kali ini, Taehyung bisa melihat wajahnya lebih jelas.

Putih sekali, nyaris pucat. Pipinya agak berisi, rahangnya tegas, bibirnya tipis dan lembab, matanya tajam tetapi kelopaknya sayu, kurus tetapi tegap, dan auranya itu... ah, Taehyung langsung berdebar tidak karuan. Ternyata dia benar-benar ganteng dari dekat. Ingatannya tidak salah.

"Apa yang kau lihat?"

"E-Eeehhh?"

Yoongi mengernyit dan menghadap Taehyung. "Buat apa menatapku begitu? Apa kau senang melihatku pipis, dan kenapa kau masih memegang penismu sambil melihatku?"

Mata Taehyung terbuka lebar. Refleks turun melihat penis Yoongi yang masih basah lalu menahan teriakannya dan menutup penisnya sendiri, membenarkan celananya hingga rapi kembali. Terburu-buru dan kentara gugup dengan wajah yang tak bisa ia tampilkan.

Memalukan! Yoongi mendapatinya menatap dirinya sambil memegang penisnya sendiri!

Dia pasti mengira Taehyung berpikiran mesum! Gawat!

"Kau berani juga," Yoongi memulai lagi. Selesai membereskan dirinya, dan telah berdiri tegap dalam keadaan yang rapi. Sudah terpasang celana. Suara beratnya membuat Taehyung refleks menatap wajahnya. "Melihat orang kencing lebih dari sepuluh detik tanpa berkedip, berkali-kali meneguk ludah, dan berkali-kali melirik penisku –"

"Aku tidak lihat yang itu!"

"Oh ya?"

Taehyung mengulum bibir, "Hanya sekali... yang tadi! Cuma sekali! Aku tidak lirik-lirik anumu!"

"Bagiku, kau tetap terlihat seperti maniak."

Memalukan! Taehyung langsung berlari dengan wajah semerah tomat. Matanya basah menahan tangisnya keluar. Dia malu sekali karena kejadian tadi. Bayangkan saja jika itu terjadi pada dirimu. Kau secara kebetulan bertemu orang yang kau suka di toilet, pipis bersebelahan, refleks mengagumi keindahan parasnya dan tidak sengaja - kebetulan melihat penisnya! Dia bahkan masih memegang penisnya sendiri karena memang dia sedang membersihkan diri! Dia tidak berpikiran kotor, dia hanya mengagumi wajah indah Yoongi dan pikiran pria itu benar-benar menusuk. Taehyung merasa luar biasa takut dan malu. Tidak punya muka untuk bertemu dengannya di lain waktu. Padahal dia ingin mengenalnya lebih jauh. Dia sudah berencana menanyakan Holy sebagai basa-basi, atau sesuatu tentang musik sebagai bahan obrolan.

Tetapi kenapa malah terjadi insiden melihat penis masing-masing?!

Menggelikan!

"Tae! Astaga, kau kenapa? Wajahmu –"

"Jimiiiiiin! Aaaah, bagaimana ini?! Bagaimana? Aku sudah tidak punya muka untuk melihatnya lagi! Aku memang bodoh! Memalukan sekali! Aku harus bagaimana?!"

"Apanya, Tae? Bicara yang jelas dong."

Taehyung menutup wajahnya yang memerah total. Menggerung heboh sendirian tanpa peduli Jimin yng teriak-teriak panik. Jantungnya masih deg-degan. Benar-benar malu. Dan ketika Jimin menggenggam lembut pergelangan tangannya, rasanya ia langsung lemah. Ingin menangis tiba-tiba, karena tahu-tahu dadanya sesak dan matanya panas, "Jimin,"

"Aduuuh!" Jimin berpindah cepat ke sisinya. "Kenapa, Tae? Jangan nangis!"

"Aku malu banget! Sampai rasanya mau kubur diriku sendiri,"

Jimin mengusap wajah Taehyung yang basah, "Cerita dong, kenapa. Biar aku ngerti,"

"Aku ketemu malaikatku!" sekarang gantian Jimin yang dag dig dug. "Yoongi juga pipis di toilet yang sama. Dia pipis di sebelahku! Dan... dan... dan aku kedapatan melihat dia saat kencing! Bahkan aku gak sengaja lihat itu-nya dia! Lalu Yoongi negur aku, sumpah, itu memalukan!"

Kampret. Jimin langsung marah, emosinya memuncah, sebal, berapi-api.

Wajahnya ikut merah karena kesal. Sialan betul Min Yoongi itu!

Di pertemuan kedua sudah lihat penis Taehyung! Jimin saja belum pernah!

Grrrrh! Menyebalkan! Dia kalah satu langkah.

Mulai kali ini, dia tak akan lengah lagi.


To be continue!


a/n:

salam! Aku mendapat pesan positif untuk fanfik ini.

banyak dari kalian berharap ff ini akan happy ending, beberapa juga udah berpikiran kalau aku mungkin akan menyetir cerita ini jadi angst. Nah loh, susah ya ngelepas jabatan penulis Angst wkwkwkwk.

Jadi gini. Seperti apa yang kukatakan kemarin, aku berencana menjadikan Jimin dan Taehyung sebagai pasangan. Walau disini, sejak awal, emang cuma Jimin yang 'kelihatan' suka sama Taehyung, ya? tapi ini kan baru awal ehehehe. Dinikmati aja dulu.

Dan aku ingin mencoba sesuatu yang segar. Aku ingin coba menulis hal romens yang ringan, yang humor, dan tidak angst. Walau nanti di chapter-chapter depan pasti ada momen sedihnya. Tetapi untuk ff ini, aku berusaha banget untuk produksi ff romance-humor yang ringan. Dengan tema yang ringan juga; love with bestfriend, and war of reaching love.

Mohon dukungannya, ya!