Heated Summer

Akashi Seijuro & You

Genre Romance Rating T+

-o-

© 2016 Rocalatte Effe

-o-

Kamu tahu, kita hanya berduaan saja lho

-o-

Musim panas adalah musim yang ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Kita bisa memakai baju tipis dan pergi bersantai ke pantai, lalu memecahkan semangka dan memakannya ramai-ramai. Saat matahari sudah kembali ke peraduannya, kembang api akan meluncur menghiasi langit malam. Ah, sungguh indah.

Tapi bagimu, keindahan itu tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma.

"Nilaimu jelekkan? Kalau kamu remedial, rencana ke Okinawa akan kita batalkan." Begitu kata Seijuro saat kalian makan siang di atap Senin yang lalu. Kau hampir saja tersedak telur gulung kalau saja tidak cepat-cepat menyambar teh hijau milik Seijuro.

"Loh, kok gitu?" Protesmu. Seijuro menenggak tehnya sebelum berbicara, "Kalau remedial, berarti harus ikut kelas musim panas." Ujarnya dengan tatapan masa-itu-saja-nggak-tahu.

"Tapi 'kan…" untuk sesaat hidupmu rasanya kelabu. Sudah lama sekali kau menantikan liburan berdua dengan Seijuro. Dan rencana matang yang kau siapkan dua bulan yang lalu seketika hancur karena kapasitas otakmu.

"Seijuro, kamu 'kan tahu kalau aku tidak bisa belajar. Hehehe," Kau memaksakan diri untuk tertawa, yang disambut helaan napas dari belah bibir Seijuro, "Makanya aku yang akan mengajarkanmu. Hari Sabtu dan Minggu nanti kamu tidak ada acara, 'kan? Bagaimana kalau kita belajar di rumahmu? Waktunya bisa lebih efektif kalau kita juga manfaatkan hari libur untuk belajar."

Kau mendongkak. Matamu yang berkaca-kaca menatap Seijuro tak percaya.

"Kalau tidak mau–"

"–aku mau!"

Kini giliran Seijuro yang melempar pandangan tak percaya.

"Kebetulan sekali orangtuaku sedang berlibur ke London."

Oh.

Berduaan saja di rumahmu sementara orang tuamu tidak ada tentu bukan hal yang terbayangkan oleh Seijuro sebelumnya. Tapi karena sudah terlanjur…

"Kalau kamu keberatan–"

"–tidak. Di rumahmu, pukul 10. Ok?"

"Ok."

-o-

Dua jam sudah berlalu dan hampir separuh waktunya ia habiskan hanya untuk memandangmu. Sebenarnya Seijuro berusaha membuang jauh-jauh pikiran aneh yang lalu-lalang di otaknya, misalnya mencoba memandang sederetan polaroid yang tergantung di sebuah tali di dinding kamar atau sekedar menenangkan diri dengan terapi suara hujan. Seijuro sadar dialah yang berinisiatif untuk membuatmu belajar dan akan sangat ganjil jika dia menganggumu. Tetapi melihat bibirmu yang bergerak melafalkan rumus-rumus yang sudah ia berikan sebelumnya….

Seijuro melemparkan gulungan kertas kearahmu. Dia biasanya tidak sejahil itu padamu. Tapi entah kenapa melihat wajah seriusmu yang memandang kertas-kertas bukannya dirinya, membuat Seijuro ingin mendapat perhatian lebih darimu.

"Seriously?"

Kau mentapnya tajam.

Seijuro mengangkat alisnya sambil menyeringai jenaka.

"Kamu sendirikan yang bilang aku tidak boleh remedial? Jadi jangan ganggu aku."

"Hei…"

"Kukira kita hanya belajar."

"Kamu tahu," Seijuro memangku dagunya, "kita hanya berduaan saja lho."

"Lalu?"

"Jarang sekali ini terjadi. Kamu mau coba sesuatu yang baru?"

Alismu berjungkit.

"Seperti?"

"Seperti…" Seijuro memajukan kepalanya, ujung hidungnya nyaris menyentuh milikmu, "masa kamu tidak tahu?"

Sedetik kemudian kau merasakan bibirnya di bibirmu. Matamu membelalak untuk beberapa saat sebelum tertutup rapat. Ini tidak seperti pertamakalinya kalian berciuman, tapi entah mengapa kali ini rasanya sangat berbeda. Apa karena kalian berdua saja di kamarmu dan di luar sana sedang turun hujan? Seperti didrama-drama yang sering ditonton Satsuki.

Seijuro menarik dirinya menjauh. Tidak cukup jauh karena kau masih bisa merasakan nafasnya menyapu wajahmu. Menghabiskan detik-detik yang berlalu dengan saling bertatapan.

Astaga. Apa Akashi Seijuro biasanya memang setampan ini? Apakah matanya memang seindah dan setajam ini? Apakah–

"Ayo cepat selesaikan soal-soalnya." –Akashi Seijuro memang semenyebalkan ini?

Dengan sikap ogah-ogahan kau mengambil pensil kemudian melanjutkan pekerjaanmu yang sempat tertunda. Sesekali menggumankan betapa bencinya kau kepada Seijuro.

"Maaf sudah membuatmu berharap," Seijuro berusaha menahan senyumnya. Kau hampir menyuarakan protesmu tapi tertunda karena melihatnya beringsut mendekat kemudian berbisik pelan di telingamu, "Kalau kamu bisa tidak remedial, di Okinawa kita lanjutkan."

Sebuah pukulan mendarat di dahi Seijuro. Tetapi ia malah tersenyum tipis melihat wajahmu yang memerah seperti kepiting rebus.

Yah, sebenarnya tanpa syarat itupun Seijuro tidak akan ragu untuk melanjutkannya.

Tapi biarkan dia fokus belajar dulu, deh.

"Janji, ya?"

-fin.