DRAP DRAP DRAP DRAP

"KARMAAA!" Terdengar suara teriakan membahana disekitar lorong gedung jururan ilmu sosial. Sekelabat kemudian sebuah bayangan hitam lewat, angin berhembus kencang dibelakangnya, segera menerjang seorang berambut merah mencolok tak jauh didepannya.

"KAR—UMFF—"

Sayang aksi menerjangnya gagal karena yang dipanggil—Karma—segera berbalik dan menahan pipi Maehara Hiroto dengan sebelah tangannya. Mencengkeramnya kuat.

"Kharmah, tho—tholong le—lefhaskhan—" Pinta Maehara, setengah memelas. Mendecih, Karma segera melepaskan genggamannya.

"Apa maumu?" Tanya Karma datar, Maehara masih mengusap pipinya.

"Kau ini, begini, " Ia sengaja mendekat, agar orang lain tidak mendengar, "Kudengar dari Isogai, kau menyukai seseorang, ya?"

Karma mengulas seringai.

.

.

COINCIDENCE

Genre : Romance/Friendship

Rate : T…?

Pair : KarmaxNagisa

Setting : AU, College!AU, Senior!Karma, Junior!Nagisa

Warnings : Typo(s) , alur dan EYD berantakan, OOC, garing, amburegul, emeseyu, de-el-el

.

.

#HappyReading!

.

.

Ansatsu Kyoushitsu/ Assassination Classroom © Matsui Yuusei

FanFiction © 30th AssassinTarget. Ameru

.

Aku menyukaimu, secara kebetulan. Tapi aku yakin.

.

Maehara dan Isogai menjadi pendengar yang baik ketika Karma menceritakan kisah kemarin itu. Bagaimana ia melihat rupa malaikatnya itu, rambut birunya yang indah, Karma menceritakan semua. Maehara ber-ooh ria, sementara kening Isogai berkerut, tengah berpikir.

Karma yang menyadari raut keras Isogai, lantas bertanya, "Ada apa, Isogai? Kau tahu sesuatu?" Isogai mendongak.

"Yah, sepertinya aku tahu siapa malaikatmu itu, " Keping pucat Karma membola senang, "Dia salah satu juniorku, kami sama-sama tergabung dalam organisasi pecinta alam." Tuturnya.

"Benarkah?" Tuding Maehara.

"Tentu saja, " Sergah Isogai, "Karena juniorku ini yang satu-satunya berambut biru se-universitas ini…"

Maehara ber-ooh lagi.

Karma mengangguk, paham, "Kalau begitu, kenalkan aku padanya…" Katanya.

Isogai menerawang langit-langit kelas, menimang-nimang, "Hmm… boleh. Kupikirkan waktu yang pas nanti."

Mereka segera kembali ke tempat duduk ketika bel berbunyi dan Korosensei, dosen mereka, memasuki kelas.

.

.


Jam istirahat tiba. Seluruh murid berhamburan keluar kelas, mencari makan. Karma juga ikut keluar, mendadak Isogai memanggilnya.

"Karma, kau mau ke kantin?" Tanya ikemen kelas.

Karma menggeleng, "Tidak, aku akan ke perpustakaan, " Melihat raut Isogai yang curiga, Karma segera menimpali, "Tidur." Katanya.

.


Karma berjalan menyusuri lorong yang ramai oleh banyak orang yang tengah mengobrol sembari menyantap bekal atau makanan yang dibeli dari kantin. Beberapa berceloteh, mengerjakan essay, dan lainnya. Kening Karma berkerut tatkala melihat gadis-gadis juniornya berbisik melihatnya dan terkikik genit. Namun Karma nampak tidak peduli. Ia mencari sesuatu,

Tepatnya seseorang.

Menurut penuturan Isogai, malaikatnya ini adalah junior—yang kebetulan—satu jurusan dengan Karma, sekitar satu tahun dibawahnya. Dan kalau ditelisik lagi, Karma sudah berkeliling lorong kelas yang dimaksud, tapi tidak melihat rambut biru indah itu. Karma bingung, apa Isogai salah memberi informasi? Tidak mungkin, Isogai adalah sumber informasi terpercaya, tidak mungkin salah.

Melirik arlojinya, ia memutuskan berbelok ke kanan, menuju perpustakaan. Menyambung kegiatan tidurnya.

.

.


Hening dan sensasi dinginnya AC perpustakaan menyambut Karma. Inilah mengapa ia senang datang ke perpustakaan saat ia tidak lapar, tempat cocok untuk tidur.

Karma melangkah diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi, memamerkn barisan buku berbagai topik dan genre. Melihat itu rasa kantuknya perlahan hilang.

'Ah, sial. Ya sudah, aku baca buku saja, ' Batin Karma, kemudian ia berbelok ke arah kiri, ke arah buku ensiklopedia tokoh terkenal.

BRUK

Karma tidak melihat apa di depannya, alhasil ia menabrak sesuatu—atau sesorang—dan membuat sejumlah buku jatuh berserakan. Karma hendak mengumpat, namun diurungkannya. Ia sedang baik, tidak ingin mencari masalah.

Mengambil beberapa buku, Karma lalu menumpuknya kembali. Setelah rapi, ia memberikan tumpukan buku itu, "Ini. Lain kali hati-hati."

Suara lembut yang menyambutnya, "Ah, terima kasih. Maaf, aku menabrak senpai."

"Ah, tidak apa—"

Manik kuning pucat Karma bertemu dengan teduhnya aquamarine.

Itu dia.

Karma menemukannya.

'W—waah, aku tidak menyangka akan sedekat ini…' Batin Karma. Dalam hati ia berterima kasih pada Isogai dan informasinya.

Berusaha menetralkan atmosfer canggung, Karma berujar—plus senyum ganteng, "Kau membaca buku sebanyak itu?"

Si rambut biru tersenyum canggung, mengangguk, "Iya senpai, ada beberapa materi yang aku belum mengerti…" Ujarnya.

Karma mengibaskan tangan, lalu mengulurkan tangan membawa tumpukan buku itu, "Biar aku bantu kau belajar, " Lalu Karma menuntun malaikatnya ke meja yang kosong, dekat dengan jendela. Lalu meletakkan buku tebal itu.

Pemuda itu menatap Karma canggung, sekaligus bersalah. Karma yang mengerti tersenyum kembali.

"Tidak usah sungkan. Akan kubantu." Katanya. Perlahan pemuda rambut biru itu duduk di seberangnya.

"T—Terima kasih, senpai terlalu baik…" Ujar pemuda kuncir dua itu malu-malu. Karma berharap ronanya tidak muncul.

"Tidak usah formal begitu, " Diselingi tawa kecil, "Panggil saja Karma, Akabane Karma. Semester tiga." Ujarnya, memperkenalkan diri.

Perlahan, senyuman terkembang di wajah manis itu, "Nagisa Shiota… semester dua. Mohon bantuannya, Karma-senpai."

Tawa kembali meluncur dari mulut Karma, "Panggil Karma saja. Kau terlalu formal…"

"Baik… Ka—Karma-kun." Kemudian tersenyum lagi—kali ini rona merah menyapu pipi sang junior.

Astagay dia manis sekali.

.


Jam istirahat Karma habiskan dengan mengajari juniornya—Nagisa Shiota—merangkap gebetan—tentang ilmu sosial. Nagisa rupanya cukup tanggap, apa yang Karma jelaskan, dapat ia pahami dengan baik. Mendengar bel berbunyi, Nagisa membereskan bukunya.

"Terima kasih, Karma-kun, sudah membantuku belajar…" Nagisa berkata, mensejajarkan langkahnya dengan Karma.

"Tentu. Lain kali, kalau ada yang tidak paham, tanyakan saja padaku, Nagisa-kun…" Ujarnya pelan, terdengar modus terselubung. Nagisa mengangguk sebagai jawaban.

"Oh iya."

Nagisa berbalik, menyadari Karma berhenti berjalan.

"Ya, Karma-kun?"

Kuning pucat bertabrakan dengan aquamarine.

"Bolehkan… kita berteman…?"

Nagisa menganga sebentar, sebelum ia tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus.

"Un! Tentu saja!"

Jantung Karma meleleh karenanya.

.

.


"Psst, Isogai, "

"Ya, Maehara-kun?"

"Dari jam istirahat, Karma senyum-senyum terus. Kenapa dia?" Berjengit, "Malah senyumnya menyeramkan lagi…"

Lawan bicara hanya bisa senyum maklum, "Entah."

.

.


To : Isogai Yuuma

From : Akabane Karma

Subject : -

Kau tahu, Isogai? Aku bertemu dengannya saat di perpustakaan. Aku membantunya belajar, dan kami berteman. Sekarang aku tahu namanya, Nagisa Shiota. Nama yang sangat manis. Aku berterima kasih atas informasimu.


THE END


YEE APDEETT! /heh

udh pd lama nunggu, ya? hehehe, gomen ^^ soalnya Ameru lgi siap2 buat TO 3 /mendadak pundung/ smoga sukses, buat yg mo UN jugaa :D