"Nah Shuu-kun apakah kau mau berpacaran denganku?"
Chapter 2:
Siapa sangka jika waktu seminggu itu lama sekali. Bagi kalian yang malas untuk sekolah, pasti kalian menantikan hari sabtu dan minggu, hari dimana kalian bisa membuang tas sekolah kalian dan melupakan guru-guru menyebalkan kalian.
Tapi bagi Asano Gakushu, seminggu itu waktu yang cepat. Sebagai ketua OSIS dia memiliki banyak kegiatan dan di saat bersamaan dia harus tetap mempertahankan nilainya. Mana ada waktu untuk menghitung setiap menit dan jam? Semuanya berlalu begitu saja.
Tapi, minggu ini akan menjadi minggu yang sangat panjang baginya.
Hari ini Akabane Karme mengajaknya 'berkencan' setelah sepulang sekolah. Jangan salah paham, kata 'berkencan' itu memiliki arti ambigu bagi mereka berdua.
Gakushu ; karena terpaksa jadi ikut / Karma; memang beneran niat
Ajakan pacaran Karma yang waktu tadi istirahat siang, sama dekali tidak di jawab Gakushu. Remaja berambut jingga itu malah menampar teman sekelas sementaranya tersebut lalu kabur dari ruang OSIS—dengan tenang dan alasan se masuk akal mungkin.
Lalu, ketika pelajaran dimulai kembali dan Gakushu kembali ke kelas. Dia menemukan secarik kertas yang merupakan surat dari Karma. remaja bersurai merah itu mengajaknya minum kopi di kafe dekat sekolah.
Mengirimkan surat seperti itu, klasik sekali huh.
Sebenarnya dia berniat untuk menolak atau mengabaikan pesan tersebut. Tapi dilihatnya Karma berdiri di depan gerbang sekolah. Sambil menyandarkan dirinya di pagar dia berbicara dengan telpon, dan belum menyadari keberadaan Gakushu.
"Gomen~ daripada mengendalikan Terasaka ada yang lebih ingin kukendalikan sekarang."
Mengendalikan. Gakushu mendengus kesal mendengarnya. Siapa yang akan kau kendalikan huh? Pikirnya sebal. Dia merogoh sakunya, melihat jam di ponselnya. Jika memang si sialan Karma akan mengajaknya, dia berharap kalau remaja tersebut tidak akan memakan banyak waktunya.
Dia sudah harus berada di rumah, sebelum ayahnya pulang.
Agak terdengar mengelikan. Meskipun tidak terlihat demikian, sebenarnya keluarga Asano masih memakai tradisi memberitahu jika dia sudah pulang 'tadaima' dan 'okaeri' untuk menyambut.
Gakushu selalu menyambut kedatangan ayahnya, meskipun sebelumnya pria tersebut tidak memberitahukan kepulangannya. Tapi lama-lama juga, akhirnya pria tersebut luluh dan mulai memberitahukan kepulangannya.
Dia sangat senang sekali bisa menyampaikan 'Okaeri' pada ayahnya. Simple sekali bukan Gakushu itu?
Akhirnya Karma menutup ponselnya lalu melirik ke arah Gakushu yan terlihat memikirkan sesuatu. "Hei?" panggilnya, membuyarkan lamuan lelaki yang masih menatap jam ponselnya.
Gakushu menyimpan ponselnya kembali "Oh..Kau sudah selesai?"
"...Begitulah" Karma berjalan duluan dan Gakushu mengekor di belakang. Yang mengajak merasa risih dengan kesunyian di antara mereka, apalagi kenapa si Asano itu berjalan di belakangnya?. "Mengenai yang tadi siang..." dia membuka pembicaraan "Apa kau memikirkannya?"
Kedua mata violet Gakushu melihat punggung remaja di depannya, lalu dialihkannya ke tempat lain. Sebuah kerutan menghiasi dahinya, tampak berpikir keras, hasilnya dia mengeleng pelan. "Itu hanya candaanmu kan, Akabane?"
Karma berhenti, begitu juga yang di belakang. Menoleh ke belakang dia melempar senyum penuh arti "Sebenarnya aku bukan tipe yang humoris lho"
"Memang, tidak ada satupun tingkahmu itu yang membuatku tertawa"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Gakushu pulang ke rumahnya, dia menatap sedih pintu garasi yang telah tertutup—bertanda jika mobil Gakuho sudah di dalam—. Dia cukup kecewa karena dia datang lebih terlambat daripada Ayahnya. Tapi patut diakuinya, bersama Karma itu cukup menyenangkan, jika untuk ukuran mengobrol doang di kafe. Memang agak menyebalkan sekali anak itu; terkadang mempermainkannya, tapi terkadang juga bisa pengertian dan berbicara layaknya orang normal pada umumnya.
"Okaeri." Kali ini giliran Gakushu yang menyampaikan, dan berharap-harap jika orang yang tinggal bersamanya itu menyambut.
Tidak ada, sama sekali tidak ada balasan.
Melepas sepatunya, Gakushu segera naik keatas menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dia kembali turun dan menuju dapur untuk membuatkan makan malam. Memang dia sengaja untuk membiarkan sebagian perutnya kosong, hanya karena ingin makan bersama ayahnya.
Tapi...Dimana pria tersebut? Bagaimana kalau misalnya dia sudah makan diluar, percuma saja dia memasak bukan?— Dalam kehidupan Gakushu, dia memastikan tidak adegan ngenes, seperti misalnya ; orang yang disukainya menolak masakan yang telah dibuatnya susah payah, hanya dengan alasan 'aku sudah makan'.
Cerdik sekali huh?
Mengetuk pintu kamar ayahnya, kelihatannya beliau tidak ada disana. Setelah itu dia berpindah posisi, dan benar dugaannya— Tepat di sebelah kamar Gakuho adalah perpustakaan pribadi plus ruang kerja beliau. Lampu ruangan tersebut menyala, besar kemungkinan jika pemilik sedang berada di dalam.
Seenaknya saja sang anak masuk kedalam. Beberapa kertas berterbangan, mengenai Gakushu yang berdiri di depan pintu yang telah di tutupnya kembali.
Ruangan tersebut berukuran sedang, perpustakaan utama keluarga mereka dua kali lipat lebih besar daripada ini. Sebenarnya Gakushu jarang masuk ke ruangan dengan eksterior klasik ini, karena ruangan tersebut adalah ruangan pribadi ayahnya. Tapi karena keadaan yang mengharuskan dirinya untuk mencari ayahnya, mau tidak mau dia masuk (seenaknya) apalagi beliau juga tidak melarang.
Asano Gakushu terkadang tidak mengaggap Gakuho adalah ayahnya. Jika sepenuhnya dia mengakui kalau pria tersebut adalah ayahnya, mau di kemanakan perasaannya itu?— Sedikit banyak dia harus menentukan kapan dia bersikap seperti orang asing di hadapan Gakuho, dan saat dia harus bertingkah seperti seorang anak.
Maka karna itu, Gakushu tidak mau merepotkan dirinya untuk mengetuk pintu.
Angin yang menerbangkan kertas-kertas telah berhenti bersamaan dengan Gakushu menutup jendela ruangan tersebut. Lupa menutup jendela, apa ada yang bisa membayangkan kalau monster itu melakukan hal secerobah itu.
Sambil setengah mengerutu, Gakushu memunguti kertas-kertas yang barjatuhan lalu meletakannya ke meja kerja. Setelah itu pandangannya ia berikan pada sosok yang tertidur di sofa panjang.
Seolah kembali ke masa mudanya. Jika biasanya Gakuho mempunyai gaya rambut poni belah, saat dirumah beliau memilih gaya yang lebih santai.
Monster itu tidur nyenyak, sama sekali tidak ada penjagaan. Jika saja dia tidak 'sangat' mencintai ayahnya, mungkin dia akan menyerang pria itu dan membunuhnya.
Gakushu tersenyum seraya menyingkirkan poni merah yang menutupi wajah ayahnya. "Tenang sekali untuk seseorang yang membuatku kesal tadi siang." bisiknya lalu menjauh. Baru saja dia akan meninggalkan ruangan tersebut, sebuah tangan menahannya.
Gakuho sudah berpindah posisi menjadi duduk. Mulailah jantung Gakushu bersenam ria, entah matanya yang sudah rusak atau dia memiliki selera aneh. Tapi melihat monster yang mengendalikan Kunugigaoka sedang mengusap matanya, itu manis sekali menurutnya.
"Tidak biasanya kau pulang malam." suara serak dan berat Gakuho memecahkan keheningan di ruangan tersebut. Gakushu memaksakan senyumnya "Merindukanku?" tanyanya main-main, semoga saja suaranya tidak bergetar "...Apa kau mau makan malam?"
"Lebih baik kau belajar untuk mengalahkan Akabane-kun bukan?," tangan lelaki yang lebih tua lerulur, berusaha untuk menjangkau pipi anaknya. Spontan saja Gakushu melangkah mundur, jika saja pria itu menyentuhnya dia tidak akan bisa menahan dirinya lagi.
"Dingin sekali huh," komen Gakuho santai sambil menarik kembali tangannya. Pria tersebut berdiri dari sofanya "Buatkan ayah makan malam, Asano-kun" ucap pria itu sebelum keluar dari ruangan.
"Baik..."
Tanpa mendengar balasan anaknya, Gakuho meninggalkan ruangan. Gakushu yang sendirian masih berusaha menenangkan dirinya, mencengkram erat dadanya sampai kaos putih yang dikenakannya kusut. Wajahnya memanas, lima tahun adalah waktu yang lama dan menyiksa untuknya. Kau tinggal satu atap bersama orang yang kau sukai tapi kau sama sekali tidak bisa menjangkaunya.
Bukan tidak bisa, tapi kau dilarang untuk meraihnya apalagi memilikinya.
Tentu saja, karena yang kau 'cintai' itu ayahmu...
Suara pengorengan, dan panas kompor api yang menyala. Siapa sangka kalau anak tunggal keluarga Asano sudah sangat terbiasa di tengah situasi tersebut. Gakushu memecahkan telur dan dengan cekatan membolak-balik isi yang berada di wajan. Omelet Rice, makanan yang dibuat dengan bahan seadanya.
Gakuho sudah duduk di kursi makan dengan segelas air diatas meja. Sang anak meletakan kedua piring, lalu juga duduk berhadapan dengan ayahnya.
Mereka makan dengan tenang dan hening. Keduanya selalu menyukai suasana tenang, itu adalah alasan kenapa rumah mewah mereka berbeda dengan apa yang dikira orang. Tidak ada pelayan yang berlalu lalang untuk mengikuti perintah mereka, juga tidak banyak supir yang mengantarkan mereka keana kemari jika perlu.
Mobil Gakuho hanya satu, dan yang selalu setia kepadanya hanyalah seorang sopir tua.
Setelah kedua piring telah kosong. Gakushu membawa semua peralatan makan ke cucian se,entara Gakuho sibuk dengan ponselnya. Pandangan pria tersebut begitu serius, mungkin masalah pekerjaan. Setelah membersihkan segala sesuatu, Gakushu hendak meninggalkan dapur yang merangkap dengan ruang makan tersebut. Tapi tiba-tiba saja remaja tersebut mengingat sesuatu.
Ciuman di dahi..Apa maksudnya?
Sungguh dia ingin bertanya pada ayahnya, tapi disisi lain dia juga tidak ingin bertanya.
Aneh sekali bukan? Sebagai ketua dewan pria tersebut mencium salah satu muridnya. Bahkan, ketika mereka di rumah mereka tidak pernah melakukan sesuatu seperti itu.
Menyadari seustu dari diri anaknya, Gakuho bertanya "Ada apa Asano-kun?"
Pertanyaan tersebut membuat remaja tersebut tersentak. Gakushu mulai gelagapan cukup lama sampai akhirnya dia berhasil menenangkan diri dan menemukan sebuah pertanyaan.
"Mengenai..Kau akan mengusirku jika aku tidak bisa mengalahkan Akabane. Apa kau yakin? Kau tidak akan bisa mengurus dirimu sendiri"
Gakuho meletakan ponselnya diatas meja, lalu menoleh ke anaknya. Meski tak kentara, tapi bola mata berwarna unggu itu menatap anaknya bertanya-tanya "Apa kau merasa kau tidak bisa mengalahkan Akabane?"
Kelihatannya Gakushu telah memilih pertanyaan yang salah. Apa yang dipikirkannya? Memilih pertanyaan seolah dia tidak percaya diri melawan setan merah itu.
Gakushu berdehem lalu meralat yang sebelumnya "Maksudku," dia memberi jeda "Sebagai seseorang yang cerdik aku harus mulai memikirkan hal baik dan buruk, jika telah menghadapi musuh"
Kedua mata Gakuho teralihkan ke tempat lain, sejenak pria tersebut berpikir. Kali ini dia memahami maksud anaknya, tapi kemenangan adalah segalanya. "Kau sudah dewasa huh." komennya lalu beranjak dari tempatnya.
Gakushu bisa bernafas lega karena ayahnya tidak menyadari jika yang baru saja muncul bukan dari jalan pikirnya yang mulai dewasa atau apapun, melainkan hanya kerena terdesak. Yah...Setidaknya dia dipuji.
"Maa...Aku akan kembali ke kamarku. Oyasumi"
"Oyasumi Asano-kun"
...
Di depan meja belajarnya, dia masih membuka-buka buku pelajaran. Dia sama sekali tidak berniat untuk tidur, lebih tepatnya dia tidak bisa tidur. Gakushu melihat rumus-rumus matematika dengan tatapan bosan, ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan rumus tersebut. Dia hanya tidak punya selera untuk belajar.
Ayolah, ini sudah tengah malam dan kenapa dia duduk di meja belajarnya? Apalagi dia juga tidak berniat untuk belajar.
Dia hanya tidak bisa tidur. Ayahnya, atau lebih tepatnya orang yang disukainya. Entah pria tersebut punya kepribadian ganda atau apa, tapi sikap Gakuho di rumah dan di sekolah itu...Sedikit banyak berbeda, meskipun sama-sama dingin.
Hubungan mereka itu; menaklukan dan ditaklukan. Jika aku bisa menaklukannya apakah...Aku bisa mengatakan perasaanku? Begitu batinnya bersamaan dengan dia menutup bukunya. Rasanya seperti aktivitas matanya itu tebalik. Ketika malam dia tidak bisa tidur dan ketika pagi datang, dia akan sangat mengantuk.
Tenang saja, anak-anak nakal yang suka bergadang juga merasakan hal yang sama.
Gakushu berdiri dan berpindah ke ranjangnya.
Daripada memilih kasur dengan ukuran King dia lebih memilih kasur dengan Queen. Bukannya sangat kesepian jika kau memliki kasur sebesar itu, padahal kau sendirian. Remaja tersebut berbaring lalu membenamkan wajahnya ke bantal. Wangi...Tentu saja dia adalah orang yang mencucinya bersama dengan kain-kain lain di rumah ini. Aroma yang menempel pada spreinya pasti juga menempel pada sprei ayahnya, tentu saja pewanginya sama sih.
Apa yang dia pikirkan? Jangan-jangan...Karena saking lamanya memandam cinta akhirnya dia jadi gila, dan berakhir mesum?
"Aku masih ingin tinggalnya bersamanya," pipinya yang merona dan di kembungkan karena merajuk. Manis sekali, sayang sekali tidak ada yang melihat. "Sebaiknya aku mulai memikirkan cara untuk mengalahkan si sialan Akabane."
OXO
Hari ketiga Akabane Karma sebagai murid kelas A. Remaja bersurai merah tersebut tidak menghabiskan waktunya di bangunan utama, melainkan di hutan. Jika Koro-sensei menemukannya mungkin setelah dia kembali ke kelas E, gurita itu akan menghukumnya.
"Ah...Sangat ingin melakukan pembunuhan" hanya tiga hari saja menjauh dari sekumpulan orang aneh kelas End, rasanya dia merindukan kelas reot tersebut.
Memang sih, pembunuhan itu menarik baginya. Tapi Asano Gakushu juga memikatnya.
Dia telah berbicara banyak hal dengan anak tunggal pak kepala dewan kemarin. Mulanya dia mencoba menghindari topik sekolah, dengan fokus ke aktivitas sehari-hari. Lalu. Mencoba memasuki topik sekolah yang membuat remaja bersurai jingga tersebut agak sebal. Dan, yang merupakan tujuannya—
—Karma mulai mengerti apa yang terjadi dengan keluarga Asano. Dia tidak tahu apakah si kepala keluarga Asano yang dingin mengetahuinya, tapi dia mengetahuinya.
Gakushu mencintai ayahnya sebagai laki-laki. Status pernyatan tersebut masih; kira-kira saja, tak ada bukti yang pasti. Karma menyimpulkan hal tersebut karena; setiap kali dia menarik topik mengenai pak kepala dewan yang peduli padanya karena semester ini dia berada di peringkat pertama, Gakushu akan terdiam.
Dan menunjukan wajah patah hati.
"Apa...Aku kalah dari pak tua lipan itu?" Karma mengeleng pelan. Remaja tersebut menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar di belakangnya "Menyebalkan sekali huh. Kalau sudah seperti ini apa yang harus kulakukan?"
Bayangan wajah Gakushu yang memucat dan semua tingkah aneh orang itu, terbayangkan kepala di kepala Karma. sekarang dia mengerti jawaban dari semua itu.
Pasti menyiksa sekali huh
"Kau memilih seseorang yang salah untuk dicintai. Aku tidak tahu kalau rivalku sebodoh itu," gumam Karma lagi lalu terkekeh kecil "Tapi di saat bersamaan manis sekali huh. Shuu-kun itu"
Maka karna itu, akan lebih baik jika aku yang memilikinya bukan?
To Be Continue
A/N:
Ya ampun Chapter ini Cuma nyampah doang, sama sekali belum masuk ke inti cerita.
Kalihatannya saya enggak di bunuh ini karena telah menulis sesuatu yang waw, ehem seperti ini.
Kali ini gak ada adegan erotic, karena...Gakuho kan agak pekok disini kali ya, lalu Karma juga lagi bisa nahan diri. Dan Gakushu..Dia gak mungkin nyerang keduanya.
Maa...Kelihatannya Fic ini disambut dengan baik, saya senang sekali : )
The reply time
Misacchin-san:
Hi ketemu lagi!. Saya senang kalau Misacchin-san masih membaca karya saya. Terima kasih, buat reviewnya juga.
Takanashi Ageha-san :
Salam kenal Ageha-san! Saya senang jika Ageha-san menyukai..err..Crazy Enough to Love Him (panjang banget sih?) /padahal diri sendiri yang buat judul/
Punya fetish incest juga hahaha... tapi AsaAsa otu memang sesuatu banget bagiku. Pas mereka deket-deketan ama sinis2an gitu kali ya, rasanya pingin ngiket mereka berdua biar gak copot (?) Trus pas si om lipan kalah taruhan ama Koro-sensei, lalu anaknya menjemputnnya (duh baik sekali) padahal udh di gampar.
Itu rasanya 'sesuatu' (?)2
Maa...Yang pasti terima kasih telah membaca dan me-review : )
Takamiya Haruki-san:
Hi ketemu lagi! Haha..senang kalau Haruki-san masih menyukai karya saya. Eh..Itu Ren nongol juga karena rasanya dia yang paling deket ama Asano kalau di sekolah sih, apalagi dia seketarisnya kan?. Foursome rasanya kalau jadi begitu kasian juga yang Asano. Masa om lipan mau dituker ama dua cowok yang menurutnya di bawah dia (?)
Maa...terima kasih buat reviewnya
Karushuuchi otp-san:
Usernamenya menunjukan sekali kalau Otp-san (panggil gitu aja yah) sangat menyukai KaruAsa hahah. Terima kasih telah membaca dan bahkan menyukai fic ini, bahkan me-review.
Xhakira-san :
Hey Hey, masih ketemu lagi ^^
Iya ini chapternya idah datang, makasih buat reviewnya!
Kiri Shota-san;
Salam kenal : )
Iya nih Asano tersiksa, tapi saya suka membuatnya gundah begitu /nih orang sadis/ saya banyak ketemu Asano Incest, dengan adegan S&M. Maa...Bukan berarti gak suka, tapi saya gak suka kekerasan. Kalau saya jadi Sadist nya (Iya..saya bukan Maso) saya lebih suka menyiksa secara mental /lebih sadis gak sih/
Pokoknya trims buat review nya!
Miss Taurus-san:
Salam kenal!
Eh iya sih Ch kemarin sisi KaruAsa, haha tapi kali ini saya datang dengan AsaAsa yang gak mutu, semoga aja masih suka hahaha..
Terima kasih buat reviewnya!
Nanaho Haruka-san:
Salam kenal !
Maa...Kita fokus di keduanya ya? Chapter kali ini banyak Asanocest nya, semoga masih suka hahaha..
Terima kasih untuk reviewnya!
