THAT (FREAK) BOY

Author : bubbletea88

Main cast : CHANBAEK :3; little Kaisoo maybe (?)

Length : mollayong~~~ /?

WARNING, IT's YAOI fict, SO IF YOU DON'T LIKE YAOI, PLEASE CLOSE THIS PAGE AND I RECOMMEND IT (?)

.

.

Enjoy!

.

Park Chanyeol's POV

"KAU?" teriakku refleks saat melihat pemuda berambut coklat itu duduk di sebelah bangku yang akan kududuki.

"KAU!" teriaknya. Aish— pemuda di hadapanku ini ? Dia yang mengambil barisanku waktu di supermarket waktu itu. tentu saja aku tidak terima. Tatapannya masih saja sama seperti saat itu.

"Apa yang kau lakukan di sini, bocah ?" kataku sambil duduk di sebelahnya. Aku tau banyak pasang mata yang memandang ke arahku. "Ini bukan tempat bermainmu, oh ya— itu pintu keluar di sana" lanjutku.

Mata hazel pemuda itu memicing tajam. Lagi-lagi tatapan dingin itu. "Bocah katamu ? Ya! Aku ini sudah kuliah, ahjussi"

T-tunggu dulu. Pemuda bertubuh pendek ini ? Dia ? KULIAH ? Refleks aku tertawa karena jawabannya. "Apa ? Kau kuliah ?"

"Aish, terserah saja jika ahjussi tidak percaya!" sahutnya tak mau kalah.

"ASTAGA PARK CHANYEOL!" baru saja aku akan membalas ucapannya. Enak saja dia memanggilku 'Ahjussi' memang ia pikir berapa umurku ? Aish— Yixing hyung sudah memotong duluan. Di sebelahnya ada seorang pemuda, ah itu mahasiswa yang di ajar oleh Yixing-hyung.

"Rapat sudah mau dimulai Park Chanyeol, kenapa tingkahmu begini eoh ?" omel Yixing. Aku hanya melirik tajam ke arah pemuda yang bahkan aku belum tau namanya itu. "Kau mau menyalahkannya ?" tanya Yixing.

BINGO!

"Ne, hyung dia pernah—"

"SSTTT! Chanyeol-a, mengalah sedikit, oke ? Setidaknya untuk di rumah sakit ini saja—" potong Yixing-hyung cepat. Sesudah Yixing hyung pergi, aku hanya diam duduk di sebelah pemuda itu dan mulai mendengarkan rapat. Selama rapat aku hanya menunduk.

Apa Yixing-hyung yakin bisa mempercayakan anak menyebalkan ini kepadaku ?

Apa aku harus minta maaf pada anak ini ? Hmm— sepertinya tidak, karena bukan aku yang bersalah dalam kasus ini.

.

.

Author's POV

Selama rapat, keduanya hanya diam. Tidak seperti Yixing dan Junmyeon. Yixing cenderung menjelaskan kata-kata ilmiah yang mungkin tidak Junmyeon mengerti. Kadang mereka terkikik bersama. Lain halnya dengan Chanyeol dan Baekhyun. Keduanya terlalu gengsi untuk berbicara satu sama lain. Apalagi setelah Chanyeol kena omel Yixing.

Keduanyapun juga terlalu gengsi untuk meminta maaf duluan. Selesai rapat Chanyeol langsung keluar dari ruang rapat meninggalkan Baekhyun. Yixing dan Junmyeon menghampiri Baekhyun yang menghela napasnya berat.

"Mianhada, aku minta maaf atas nama dokter itu—" kata Yixing sambil tersenyum kecut.

"Ah, aniya— ini bukan salah Yixing-uisanim"

"Panggil saja aku 'sunbae'" kata Yixing sambil menepuk pundak Baekhyun.

"Oh ya, Chanyeol itu bukan orang yang seperti itu— dia akan banyak tersenyum jika sudah mengenal baik orang itu" lanjut Yixing kemudian pergi dengan Junmyeon.

Baekhyun hanya merengut. "Apa benar ?" gumamnya. Jujur, ia bingung harus ke mana sekarang. Ugh—

Sementara di lain pihak, Chanyeol hanya duduk di sofa yang ada di ruangannya sambil membaca biodata milik Baekhyun. "Ah, Byun Baekhyun-ssi" katanya. Matanya menatap tajam kertas tak bersalah itu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"From : Yixing-hyung

Kemana kau, dasar pria tidak bertanggung jawab—

Baekhyun ke mana eoh ? Oh ya, waktunya cek keadaan pasien!"

"Mwoya ? aku ? Tidak bertanggung jawab ? Aish.." Chanyeol menggeram kemudian meletakkan kertas itu dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia mulai membawa file-file keadaan pasien.

Kakinya melangkah ke dalam ruang bermain. Mata bulatnya menemukan sesosok pemuda yang tidak ingin ia temui sekarang ada di luar ruang bermain sambil menatap kedalam. Baekhyun, tentu saja.

"Kalau mau masuk, masuk saja" kata Chanyeol mengagetkan Baekhyun yang tadinya tersenyum melihat tingkah anak-anak yang ada di dalam.

Chanyeol sudah masuk duluan ke dalam ruang bermain, sementara Baekhyun masih membeku di luar. tapi matanya mengikuti tiap gerakan yang Chanyeol buat. Ia sedikit tertegun saat melihat banyak anak yang menyambutnya dengan senang.

"Chanyeol-hyung, ayo main!"

"Chanyeol-oppaaa, ayo bernyanyi lagiii"

"Aniya, Aku harus mengecek keadaan kalian. Ayo kembalilah ke kamar!" kata Chanyeol. Semua anak menurut. Chanyeol menggendong seorang anak perempuan yang rambutnya diurai.

"Ikut tidak ?" tanya Chanyeol pada Baekhyun.

"eh, apa ?" kata Baekhyun tanpa sadar. Chanyeol berusaha bersabar.

"Mau ikut mengecek keadaan pasien tidak ?" tanya Chanyeol sekali-lagi. Chanyeol sesekali tersenyum karena tingkah Soomin yang digendongnya.

"Ini teman Oppa ?" tanya Soomin lucu. Kedua pasang mata pemuda itu menatap Soomin. "Lucu sekali— kenalkan, aku Soomin"

"Eh ?" gumam Baekhyun heran. Sementara Chanyeol dan Soomin sudah menatap Baekhyun.

"Apalagi ? Kenalkan dirimu, Soomin yang meminta" kata Chanyeol sambil tersenyum pada Soomin dan mengusak rambut gadis kecil itu.

"Ekhem.." dehem Baekhyun menata suara. "Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida— omong-omong aku bukan temannya"

"Eoh ? Baekhyun-oppa arraseo," kata Soomin lucu kemudian turun dari gendongan Chanyeol. "Eii, gotjimal—" lanjut Soomin kemudian meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun berdua di ruang bermain.

Beberapa menit hanya diam, tidak ada percakapan. Baekhyun menunduk. Begitupun Chanyeol. "Apa menatapku ?" tanya Chanyeol dingin saat tau Baekhyun menatapnya.

"A-ani,"

"Ayo cepat, bantu aku menulis keadaan pasien" Baekhyun mengangguk menanggapi Chanyeol. Tanpa mereka sadari, ada Yixing yang menatap mereka dari jarak yang cukup jauh.

Yixing yang tersenyum penuh arti berjalan menjauh dari tempat itu. Tadi, setelah Junmyeon pulang karena ibunya menelpon, Yixing membolehkannya. Di ruangannya, Yixing menyampirkan jas dokternya kemudian membereskan mejanya dari kertas-kertas. Jam 16.38, waktunya ia pulang.

Ia tidak perlu khawatir karena hari ini Chanyeol jadi dokter jaga semalaman ini. Sambil menenteng tasnya pemuda asal China itu berjalan keluar dari rumah sakit. Sesekali ia membungkuk dan tersenyum pada resepsionis, dokter lain atau perawat yang lewat.

.

.

"Joohyun-a, buka mulutmu, aaaa" kata Chanyeol sambil mengarahkan senternya ke mulut laki-laki berusia 3 tahun ini. "Aih, charanta" Chanyeol mematikan senternya dan mengusak rambutnya.

"Baekhyun-a, tulis keadaannya, tenggoroknya masih ada luka sedikit, dan masih ada radang" kata Chanyeol sambil menatap Baekhyun yang sibuk menulis.

"Akhirnya selesai!" kata Chanyeol sambil membawa Baekhyun ke ruangannya.

"Jadi boleh aku pulang ?" tanya Baekhyun kemudian mengambil tasnya.

"Siapa bilang kau boleh pulang eoh ?" tanya Chanyeol dingin. Kaki jenjang pemuda itu melangkah menghalangi pintu. Seperti anak kecil yang tidak menginginkan eommanya pergi. "Hari ini aku jadi dokter jaga, karena kau mahasiswa yang kuajari jadi…" kata Chanyeol jahil,

"MWOYA ? JADI AKU ? harus menemanimu sampai malam eoh ?" cerocos Baekhyun.

"YA, Aku lebih tua daripadamu, asal kau tau!" kata Chanyeol lagi.

"Astaga, oppadeul—" kata Soomin yang tiba-tiba mendorong pintu ruangan Chanyeol. "Seperti anak kecil saja bertengkar" Oh ya, Soomin sudah hapal benar letak ruangan Chanyeol. Ia juga sering mengunjungi ruangan Chanyeol jika ia bosan.

"Aih, uri hime kami tidak bertengkar— ada apa kesini ?" tanya Chanyeol sambil mencium pipi Soomin. "Apa kau bosan eoh ?"

"Ani, tapi teman-teman ingin mendengarkan permainan gitar Chanyeol-oppa!"

"Jinjjayo ?" tanya Chanyeol.

Pemuda tinggi itu bersedia berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Soomin. Ia tersenyum lebar sambil terus menggoda Soomin.

"Baekhyun-oppa, sini" kata Soomin sambil menarik tangan Baekhyun. Mata bulat Chanyeol bertemu dengan mata Baekhyun. "Chanyeol-oppa itu dokter paling cuek lho!"

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya sambil menyeringai. Baekhyun sudah mengangkat tubuh Soomin saat Chanyeol ingin menggelitiknya. "Hahaha!"

"awas kau, masa dokter setampan aku dibilang cuek ?" goda Chanyeol sambil menggelitik tubuh Soomin yang ada di gendongan Baekhyun.

"Sudah ah!" pekik Soomin. Saat Soomin turun dari gendongan, hanya Chanyeol dan Baekhyun yang masih dalam posisi seperti berpelukan. "nah gitu dong, jangan bertengkar lagi, oh ya Chanyeol-oppa kutunggu di ruang bermain!" goda Soomin jahil

Sesaat keduanya saling melepaskan tangan mereka masing-masing. Chanyeol menunduk kikuk dan Baekhyun meletakkan tangannya di saku celananya. "Maaf, a-aku" kata Baekhyun terbata.

"Gwaenchana" kata Chanyeol melembut. Chanyeol masih menunduk, entah kenapa jantungnya tidak bisa diajak kompromi.

"Ani, sungguh aku minta maaf.. atas kejadian itu— juga saat rapat tadi siang" Baekhyun pun menundukkan kepalanya sambil menggerakan sebelah kakinya dengan gugup. Sebenarnya, ini bukan style Baekhyun yang meminta maaf duluan. Biasanya Baekhyun tidak akan meminta maaf duluan.

Chanyeol mengangguk lucu dan tersenyum kikuk. "Kau belum makan siang ya ? Kantin ada di lantai 3, makan saja dulu daripada kau sakit" kata Chanyeol kemudian meninggalkan ruangannya dan melangkah ke ruang bermain. Sementara Baekhyun melongo melihat senyuman Chanyeol.

Ia sudah sering melihat Chanyeol tersenyum. Chanyel yang tersenyum untuk orang lain, bukan kepadanya. Baru kali ini ia melihat senyum Chanyeol yang yah— bisa dibilang adorable.

Lamunannya tersadar saat perutnya berbunyi. Sudah jam setengah 5 tapi daritadi Baekhyun sama sekali belum makan. Baekhyun segera menuju ke kantin di lantai tiga.

'Apa begini rasanya jadi dokter magang eoh ?' batinnya.

.

.

Zhang Yixing, pemuda keturunan China itu baru saja selesai mandi. Kaos biru dan celana pendek hitam juga handuk putih yang ia kalungkan di lehernya semakin membuatnya terkesan tampan. Kamar dengan desain simple ini di penuhi oleh pigura foto.

Mulai dari fotonya saat kecil bersama kedua orangtuanya, foto keluarga besarnya saat berkumpul, ah— dan fotonya saat berusia kurang lebih 5 tahun bersama seorang anak laki-laki.

"Junmyeon-a, apa kau tidak mengingatku eoh ?" Yixing bermonolog sendiri saat mata sipitnya menatap foto itu. Matanya menatap lekat anak laki-laki yang memakai kemeja putih dengan noda lumpur itu. Wajahnya terlihat bahagia dengan senyumnya yang jenaka.

Saat itu, Yixing masih berusia 5 tahun saat dirinya bersahabat dengan seorang anak laki-laki bernama Kim Junmyeon itu. Entah bagaimana, yang jelas dua setengah tahun itu merupakan hari-hari terbaiknya bersama Junmyeon yang menjadi tetangganya. Ia selalu bermain dengan Junmyeon sepulang sekolah.

Setahu Yixing, Junmyeon menetap sementara di China, karena urusan bisnis ayahnya. Tapi, saat tau mereka akan berpisah. Yixing mengurung dirinya di kamar. Walau di kamar, ia masih bisa melihat melalui jendela kepergian sahabatnya itu.

Tanpa sadar, Yixing yang melamunkan hal itu sudah tertidur lebih dulu ke alam mimpinya. Entah apa yang ia mimpikan tapi yang jelas, ia selalu menggumamkan nama Junmyeon. Cinta 'kah ? Sahabat ?

.

.

Jam sembilan lebih seperempat, Chanyeol masih asyik bermain dengan anak-anak diruang bermain. Soomin masih ada di sana, dengan kurang lebih 8 anak. Sementara yang lain sudah mengantuk dan pergi tidur duluan. Baekhyun ? Chanyeol bahkan tidak melihat Baekhyun sejak tadi sore.

Ada rasa khawatir memang. Chanyeol menghentikan tawanya juga candaannya. "Chankkaman, Oppa akan mencari teman oppa— Soomin mau ikut ?" Soomin mengangguk saat ditanya oleh Chanyeol. Oh ya, luka Soomin sudah sedikit membaik jadi Soomin tidak perlu di infus seperti kebanyakan anak di ruang bermain.

"Oppa mau mencari Baekhyun-oppa?" tanya Soomin.

"Ne, oppa sedikit khawatir" jawabnya jujur. Chanyeol naik lift untuk mempercepat. Dokter tinggi satu ini mencari di kantin pun tidak ada, begitu pula di ruang berkumpulnya dokter.

Kurang lebih 15 menit Chanyeol mencari Baekhyun yang ternyata ada di ruangannya. Chanyeol menurunkan Soomin dari gendongannya. "Baekhyun tertidur lelap di sofa ruangannya. Aish, bocah ini—" gumam Chanyeol dengan keringat di wajahnya yang membuatnya semakin tampan. Chanyeol meyeka keringatnya dengan sapu tangan yang selalu ada di saku celananya.

Soomin hanya menatap Baekhyun yang tertidur. Beberapa surai coklat Baekhyun turun menutupi matanya. Soomin tertawa lucu sambil membiarkan Chanyeol mendekati Baekhyun. Gadis kecil itu duduk di kursi di seberang Baekhyun.

Tangan Chanyeol terulur untuk merapikan surai coklat itu. Jarak antara keduanya pun tidak jauh. Mata bulat Chanyeol menelusuri tiap inci wajah Baekhyun dengan seksama. Bahkan kulit wajahnya pun seperti bayi.

Bahkan matanya yang memiliki lipatan mata yang kecil, hidungnya. Dan – oh, bibir tipis itu. Chanyeol hanya melihat bibir tipis itu tanpa sadar bergerak mendekat. Bahkan Chanyeol dapat merasakan nafas Baekhyun di pipinya. Manis. Menatap wajah Baekhyun dari dekat cukup membuat jantung Chanyeol berdegup tidak karuan.

"Engg" lenguh Baekhyun yang membuat Chanyeol bertambah gugup. Dengan kesadaran penuh, Chanyeol mengecup bibir tipis itu. hanya menempelkannya, tidak sampai melumatnya karena takut Baekhyun terbangun.

Sementara gadis kecil itu, sudah melongo, kemudian tersenyum penuh arti saat Chanyeol menatapnya dengan meletakkan telunjuknya di bibir. Soomin mengangguk. Chanyeol kemudian menyuruh Soomin untuk membangunkan Baekhyun.

Jantung Chanyeol tidak akan sehat jika terus bersama Baekhyun yang membuat detak jantungnya tidak karuan. Chanyeol menatap Baekhyun yang terbangun.

Mata sayunya mengerjap imut. "Eoh, maafkan aku"

"Ani, pulanglah— ini sudah malam. Besok aku datang jam 12 siang, awas jika kau terlambat—" ancam Chanyeol.

Baekhyun membungkuk, kemudian mengusak surai Soomin lucu. Setelah Baekhyun keluar Chanyeol menghembuskan nafasnya lega. "Eii, Chanyeol-oppa pengecut sekali—" kata Soomin lucu.

Chanyeol menatap tajam gadis kecil itu. "Mwoya ? Masa aku terang terangan menciumnya di hadapan para dokter. Oh ya, jangan bilang pada siapapun termasuk Yixing-uisa, arrachi ?" Chanyeol mencubit hidung kecil gadis yang terkikik itu.

.

.

"Eomma, aku pulang" lirih Baekhyun saat pulang. Sunyi— tentu saja, ini sudah jam sembilan. Baekhyun menata sepatunya di rak kemudian melangkah masuk ke rumahnya.

"Omo, omo Byun Baekhyun— kenapa pulang selarut ini eoh ?" tanya eomma Baekhyun yang membuat langkahnya terhenti karena terkejut.

"Hehe, besok saja aku ceritakan…" kata Baekhyun tersela karena ia menguap. "Aku sudah sangat mengantuk eomma"

"Ah, arraseo—" kata eommanya kemudian membiarkan anak laki-lakinya itu masuk ke kamarnya. Sementara itu, Baekhyun melepas mantelnya dan melemparnya sembarangan. Pemuda itu langsung merebahkan tubuhnya tanpa peduli jika ia belum mengganti pakaiannya.

Pada malam itu, Baekhyun tertidur sangat nyenyak. Sementara Chanyeol harus mati-matian menahan kantuknya. Beruntung teman shiftnya itu segera datang dan menggantikannya sehingga Chanyeol bisa pulang ke apartemennya dan tidur untuk beberapa jam sebelum kembali ke rumah sakit pagi ini.

.

.

Paginya, sekitar jam 7 lebih 25 menit, Baekhyun baru saja bangun dan mengerjapkan matanya untuk berpikir. Ia baru ingat hari ini tidak perlu ke universitasnya. Baekhyun menyingkap selimutnya kemudian turun dari tempat tidur. Lantai kamarnya menjadi sangat dingin.

Baekhyun beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok giginya. "Aish, kau tampan byun baekhyun" katanya bermonolog saat melihat pantulan dirinya di cermin deat wastafel.

Kening Baekhyun mengerut saat melihat ada ruam kemerahan kecil di bawah bibirnya. "Apa ini lecet eoh ?" gumamnya sambil mengusap ruam itu menggunakan ibu jarinya. Kemudian ia mengangkat bahu dan membiarkannya kemudian melanjutkan aktivitasnya.

"Pagi eomma!" katanya setelah mengganti bajunya dengan kaos v-neck putih dan celana training hitam. "Pagi Appa!"

"Eoh, kau tidak ke universitas ?" tanya Appa Baekhyun sambil menggigit rotinya.

"Aniya, aku kan magang untuk kira-kira sebulan" katanya bangga sambil menunjukkan deretan gigi rapinya.

"Kenapa kemarin kau pulang larut eoh ?" tanya eommanya. Baekhyun bingung harus menjelaskan dari mana.

"Karena aku sedang jadi dokter magang yang di tangani oleh seorang dokter, jadi aku harus mengikuti jadwal dokter itu" jelas Baekhyun sambil mengangkat gelas susunya. "kebetulan dokter itu jadi dokter jaga, beruntung aku pulang lebih dulu"

.

.

Park Chanyeol's POV

Pagi ini, aku sengaja ke rumah sakit karena kata Yixing-hyung ada seorang anak dalam keadaan kritis. Aku segera melangkah menuju ruangan operasi yang di saja sudah ada Yixing-hyung. Ada Junmyeon disana.

Beberapa dokter lainnya pun disana. Tapi operasi belum dimulai karena anak yang kuketahui bermarga Han terus saja merengek melihat jarum suntik yang berisi obat bius.

"Bujuk dia Park, aku sudah menyerah" kata Yixing sambil meletakkan jarum suntiknya dan membuka masker hijau itu dan menariknya sampai dagu. Aku terkekeh kecil. Sementara mata anak kecil itu terus saja menatap semua dokter bergantian.

"Yaa~ Han-ssi, kau ingin sembuh kan ?" tanyaku sambil membuka maskerku. Anak kecil itu mengangguk. "Bagus, sekarang, hyung hanya akan menyuntikkan ini tapi bukan ke tubuhmu, tidak akan sakit bukan ?"

Aku sedikit kecewa saat anak yang kira-kira berusia 10 tahun itu menggeleng. "Ani, A-aku takut jarum suntik, hy-hyung" gumamnya sambil sesekali terisak.

"Aigoo aigoo tidak apa-apa, tenang saja oke ?" kataku. "Apa cita-citamu nanti eoh ?" Aku berusaha mengganti topik. Sementara aku masih mengobrol seru dengan anak yang menceritakan hal-hal seru di sekolahnya itu, Yixing dan beberapa dokter lain memegang infus juga tangan anak itu.

"Selesai—" kata Yixing-hyung membuat anak itu menoleh cepat. Yixing-hyung tersenyum lebar. "Lihat, kau berhasil kan ?" lanjutnya sambil menunjukkan suntik yang tadinya berisi obat bius sekarang sudah habis.

"Tadi dokter itu menyuntikkannya ke sini," tambahku sambil menunduk sebuah pipa kecil dekat jarum infus anak itu. Sekarang, hanya perlu menunggu reaksi dari obat bius itu.

.

.

Kira-kira butuh waktu satu setengah jam untuk menyelesaikan operasi itu. beruntung pada saat aku selesai dan keluar dari ruang operasi, aku bertemu Baekhyun yang memakai sweater abu-abu. Aku tidak memanggilnya, dia juga tidak menatapku, tapi aku menatapnya lekat— bagaimana ia berjalan, wajahnya yang manis, terlebih bibir pink itu

Astaga, aku pasti sudah gila. Ingat Chanyeol-a, dia itu pemuda menyebalkan yang mengambil barisanmu saat itu kemudian beradu mulut denganmu.

Tanpa sadar, ternyata selama melamun tadi… Baekhyun menyadari kehadiranku. Dia juga menatapku lekat sambil tersenyum. Tersenyum seolah tidak terjadi pertengkaran antara kami. Tangannya pun melambai lucu ke arahku.

.

.

Author's POV

Baekhyun melangkah masuk ke rumah sakit dengan santainya. Sweater abu-abu dengan celana jeans. Ah, ditambah mantel yang hanya dipegangnya dari tadi. Matanya dengan teliti mencari sosok tinggi yang di carinya.

Mendengar sedikit keributan dari arah ruang operasi ia menoleh dan menemukan sosok tinggi berbaju hijau khas ruang operasi. Terlihat tampan memang, tapi Baekhyun segera menyingkirkan pikiran bodoh itu.

Seakan tidak ada komando dari otak, Baekhyun tersenyum manis sambil balas menatap manik coklat Chanyeol sambil melambai.

"Annyeong hasseo sunbaenim" katanya sambil mendekat dan membungkuk.

"T-tunggu, a-ku harus mencuci tanganku dulu" Chanyeol gelagapan. Sungguh, berada di dekat Baekhyun hanya akan membuat jantungnya kelelahan karena berdegup tidak karuan.

Baekhyun menatap tangan Chanyeol yang masih dibungkus sarung tangan yang berlumur darah.

"Kenapa ? jijik ?" tanya Chanyeol sambil berjalan ke arah wastafel dekat ruang operasi. Baekhyun mengikutinya, dan mengangguk sebagai jawaban. "Dokter macam apa kau, bahkan takut pada darah eoh ?" cibir Chanyeol.

"Ha-hanya sedikit takuk kok" balas Baekhyun tidak terima. "itu karena, karena.. aku pernah melihat seseorang yang ditembak dan da-darahnya…"

"Oh, aku mengerti" kata Chanyeol. "Kau trauma" Chanyeol membasuh tangannya kemudian mengeringkannya dengan sapu tangan yang ia bawa.

"Aku tau rasanya, mengerikan ya ?" tambah Chanyeol. Baekhyun mengangguk lucu.

"Ayo, makan siang," ajak Chanyeol seolah mereka adalah teman.

.

.

Di sisi lain. Yixing yang sudah selesai melakukan operasi keluar dan membersihkan dirinya. Baju operasinya kotor terkena bercak darah. Ia segera mengganti bajunya. Setelah selesai ia kembali ke ruangannya di mana sudah ada Junmyeon di sana.

"Ju-Junmyeon-a,"

"Ne Sunbae ?" tanggap Junmyeon sambil menatap lekat Yixing.

"Apa… kau sudah pernah ke China ?" tanya Yixing hati hati. Junmyeon terlihat berpikir untuk sesaat. Kemudian mengangguk sambil tersenyum.

"Eung, aku pernah, aku masih kecil saat itu" katanya lucu. "Di sana… tepatnya di sebelah rumahku, ada seorang anak laki-laki—"

Napas Yixing sedikit tercekat saat itu. Ia tidak menyela ucapan Junmyeon dan membiarkan Junmyeon bercerita.

"Maaf aku cerita terlalu banyak ya ?"

"Ani, lanjutkan saja" kata Yixing sambil tersenyum paksa.

"Hmm, aku selalu melihatnya sebelum aku kenal dengannya"

Benarkah ? Bahkan Yixing kecil tidak tau jika ia selalu di perhatikan oleh Junmyeon, yang saat itu menjadi tetangga barunya.

"Aku selalu melihatnya di omeli oleh ibunya, karena tiap pulang sekolah, seragam anak itu pasti lusuh dan sedikit kotor"

Eung… itu benar. Sekarang Yixing benar-benar cengo. Ternyata Junmyeon tidak lupa eoh ? Yixing bahkan sempat melamun sebelum akhirnya kembali mendengarkan dua kalimat terakhir Junmyeon.

".. Tapi, saat anak itu menjadi sahabatku, ayahku sudah harus kembali ke Seoul" katanya. "Aku sungguh rindu anak yang dulu kupanggil gege itu"

"Kalau boleh tau… siapa nama anak itu ?" tanya Yixing lagi.

"Aku hanya ingat panggilannya, Xingxing-ge" balas Junmyeon sambil tertawa. "Panggilan yang lucu bukan ?"

Sekarang, yixing bahkan bingung harus berbuat apa.

Kata kata 'Aku sungguh rindu anak yang dulu kupanggil gege itu' membuat Yixing harus berpikir berulang kali untuk mencernanya.

.

.

Sore itu, kedua orang yang err— bermusuhan itu sudah ada di ruangan Chanyeol. Baekhyun membawa buku-buku pelajarannya dan mencoba untuk belajar sementara Chanyeol berkutat dengan laptop dan lembaran-lembaran kertas yang menumpuk.

Sesekali mata bulat Chanyeol melihat Baekhyun yang kesulitan mengerjakan soal. Baekhyun mendesis karena sudah berkali-kali ia mncoba tapi tidak menemukan jawabannya.

Chanyeol tersenyum miring, "Hey, biar kubantu"

"Mwo? Boleh" kata Baekhyun sambil menggeser tempat duduknya dan membiarkan Chanyeol duduk di sebelahnya.

"Ya, kau yang bodoh atau memang soalnya yang terlalu sulit eoh ?" Chanyeol terkekeh.

"Kemarikan pensilnya kalau kau tidak mau membantu!"

"TIDAK!"

"KEMARIKAN!" pekik Baekhyun berusaha merebut pensilnya dari Chanyeol.

"Tida- akh!"

Yah— hanya karena pensil, posisi mereka berdua sedang tidak elit. Astaga, Baekhyun tanpa sengaja menindih tubuh Chanyeol yang berbaring di sofa.

Chanyeol hanya menyeringai tipis,

KRIET,

"ASTAGA PARK-SSI APA YANG KAU LAKUKAN ?" pekik seorang namja yang hanya melongo di depan pintu ruangan Chanyeol.

TBC

Panjang kah ? atau kurang ?

Membosankan ya ceritanya ? tau kok—

Maafin aja authornya ya, masih amatir :P

BETEWE KENAPA ADA RUMOR TAO MAU KELUAR, EMANG BENER?

DAN KENAPA YIXING NGHAPUS SEMUA FOTO IGNYA ? ;AAA;

Dan katanya, papanya Tao setuju TAO KELUAR DARI EXO! APA INI HUWEEEE ;AAA;

Kita sebagai fans, hanya bisa mengharapkan yang terbaik. Kapanhari kaki Tao sempat bengkak kan ? get well soon Tao

Okay, sekian curcolku,

Maaf jika saya mengupdate terlalu lama,

Last, review ya ? Paling nggak kritik deh biar aku tau bagian mana yang kurang pas untuk kalian :)

Bubbletea88