Chapter 2: Latihan Taekwondo Bersama Senior Cantik

.

"Tadaima."

"Okaeri."

Aku sedikit terkejut karena ada yang menjawab salamku. Mungkinkah itu Karin-nee? Ternyata benar, dia sekarang sedang menyiapkan makan malam. "Tumben Karin-nee pulang lebih cepat," kataku basa-basi.

"Oh soal itu, pekerjaan Nee-san di Rumah Sakit Kuoh sudah selesai. Jadinya Nee-san pulang lebih cepat." Jawab Karin-nee tanpa menatapku. Pandangannya fokus pada makanan yang sedang dimasak.

"Kalau begitu baguslah, aku akan mandi dulu."

"Oke, jangan kelamaan. Makanan sebentar lagi siap."

"Iya."

Aku langsung membersihkan tubuhku di kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Apartemen yang disewa- ralat, apartemen yang dibeli oleh Karin-nee memiliki toilet di masing-masing kamar. Jadinya, tak ada kata mengantri toilet di apartemen ini.

Setelah membersihkan kotoran yang menempel di tubuhku –semoga saja kesialan ikut hilang, aku turun menuju ruang makan. Di sana sudah duduk Karin-nee dengan celemek yang masih terpakai di badannya. Aku menyapanya ramah, tak lupa memuji masakannya meski hanya sekedar basa basi –faktanya masakan Karin-nee memang enak, sangat enak.

Bicara soal Nee-san, Uzumaki Karin nama lengkapnya, adalah seorang dokter muda yang berprestasi. Tahun ini umurnya memasuki 22 tahun. Anak tertua di keluarga Namikaze Uzumaki. Banyak bakat yang dimiliki Karin-nee, aku pun merasa seperti tertinggal jauh olehnya. Meski begitu aku tak membenci Karin-nee, justru aku menyayanginya. Tak ada untungnya juga membenci seseorang yang sudah mengurusku dari kecil. Oh satu lagi, Karin-nee masih single.

"Terima kasih atas makanannya. Aku ke kamar dulu, Nee-san." Kataku.

"Ya. Jangan lupa belajar untuk pelajaran besok, Naruto-kun."

"Kalau itu tenang saja." Balasku dengan cengiran biasa.

Aku langsung bergegas menuju kamarku dan mengurung diri. Sebenarnya ini bukan sifatku, jika aku masih di Konoha mungkin setelah makan malam aku bergegas ke luar rumah dan bermain bersama teman-teman. Seperti itulah kegiatanku sehari-hari bersama teman SMA khusus laki-laki dulu. Tapi sekarang berbeda, aku masih belum punya teman di kota ini. Rasanya sepi. Aku tak tahu apa lagi kegiatan yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kamar. Mengajak Karin-nee bermain? Tidak mungkin. Karin-nee harus fokus pada pekerjaannya. Aku tak mau menyusahkannya.

"Bosan," keluhku yang sudah hampir 1 jam menatap buku pelajaran.

Drit drit drit ….

Oh itu suara hpku, pertanda ada e-mail masuk. Kira-kira dari siapa ya?

Ino: 'Halloo … Naruto-kun, lama tak bertemu. Kamu baik-baik saja?'

Aku cukup kaget karena yang mengirim e-mail padaku adalah Yamanaka Ino, temanku waktu SMP. Aku cukup senang Ino mengirimku e-mail, dia adalah salah satu teman wanitaku yang kuanggap NORMAL.

Naruto: 'Hai juga Ino, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?'

Aku senyam-senyum sendiri sambil memandang layar smartphone-ku.

Ino: 'Aku baik-baik saja, terima kasih. Etto … sebenarnya ada yang ingin kubicarakan,'

Bicara? Bicara apa? Aduh, kenapa jantungku dag-dig-dug begini.

Naruto: 'Bicara apa Ino? Langsung saja, jangan merasa sungkan seperti itu. Kau adalah temanku.'

Aku mengklik tombol send dengan perasaan campur aduk, antara senang karena ada teman chat dan malu-malu karena Ino sepertinya … ah lupakan. Beberapa menit berlalu, Ino tak kunjung memberi balasan. Aku berusaha untuk berpikir positif, mungkin saja Ino mengetik e-mail yang panjang. Tak lama kemudian, hpku kembali berbunyi.

Ino: 'Naruto … etto … ano … a-apa kamu sudah punya pacar?'

Eh apa? Eh … APA? Ino menanyakan tentang statusku? Mu-mungkinkah Ino ingin berpacaran denganku?

Naruto: 'Be-belum, memangnya kenapa? A-apa Ino ingin mengajakku pacaran?'

Sumpah, hatiku jadi berbunga-bunga. Ino adalah gadis cantik dan baik. Dia berbeda dengan gadis lainnya di SMP yang selalu mengerumuniku, pegang-pegang kepalaku, sampai memelukku yang berakibat aku kehilangan oksigen karena sesak. Ughh … itu tak menyenangkan meskipun teman laki-lakiku selalu iri.

Drit drit drit ….

Akhirnya setelah penantian lama. Aku jadi tak sabar ingin membacanya. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku membaca e-mail dari Ino dengan teliti.

Ino: Pacaran? Ahaha, tentu saja tidak. Aku hanya memastikan apa Naruto-kun masih jomblo. Kebetulan kalau kamu masih jomblo ada yang ingin kutanyakan. Minggul lalu aku diberi tugas drama yang berperan sebagai jomblo tersakiti. Aku hanya ingin tahu keseharian jomblo yang tersakiti itu bagaimana, perasaannya bagaimana, serta diskriminasi apa yang diterima setiap harinya oleh teman-temanmu. Oh satu lagi, apakah jomblo yang tersakiti pernah berpikiran untuk bunuh diri-

"MATI SAJA SANA!"

Sejak saat itu, aku tak mau lagi baca kelanjutan e-mail-nya.


Pagi hari yang cerah, kulihat matahari memancarkan sinarnya tanpa terhalang oleh awan. Tapi menurutku, pagi ini adalah pagi terburuk dalam sejarah hidupku.

"Sial, suasana hatiku benar-benar buruk. Ini gara-gara Ino. Dasar! Semua wanita memang sama saja, selalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat perasaan orang lain di sekitarnya." Gumamku dengan kesal. Bayangkan saja, pertama hatiku dibuat berbunga-bunga, lalu hatiku disakiti bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum suntik. Itu sangat sakit!

"Haah … sepertinya aku kehilangan semangat untuk sekolah," pasrahku lalu hendak menarik selimut lagi sebelum suara Karin-nee terdengar di telingaku.

"Naruto, apa kau sudah bangun?"

'Bahaya. Jika Nee-san masuk ke kamarku dan aku pura-pura tidur kejadian kemarin akan terulang kembali. Sepertinya tak ada pilihan selain berangkat ke sekolah.' Batinku semakin pasrah menghadapi kenyataan pahit ini.

"Iya Nee-san aku sudah bangun!"

"Kalau begitu segera siap-siap ke sekolah. Nee-san akan menunggumu di ruang makan."

Yang dapat terakhir kulakukan hanya berdoa pada Tuhan agar mendatangkan kenikmatan, bukan kesialan.

Pagiku berjalan seperti biasa, mandi-sarapan-berangkat sekolah. Jarak antara apartemenku dan sekolah cukup jauh sehingga aku perlu menaiki kereta agar tidak terlambat. Apartemen yang kutempati cukup dekat dari stasiun. Hanya perlu berjalan sekitar 5 menit maka sudah sampai.

Aku menaiki kereta yang berhenti di depanku. Duduk di bangku yang kosong lalu mengeluarkan smartphone dan headset dari tasku. Aku memasang headset di kedua telingaku dan kuputarkan lagu kesukaanku yang selama ini selalu kudengar saat hendak pergi ke sekolah. Kebiasaanku ini dimulai sejak pertama kali masuk SMP. Selama 4 tahun lebih ini aku hanya pernah mendengarkan 1 lagu. Sebuah lagu yang liriknya persis seperti yang pernah kualami dulu.

Perjalanan memakai kereta perlu waktu 6 menit untuk mencapai stasiun berikutnya. Waktu yang pas karena kebetulan lagu yang selalu kudengar durasinya 5 menit lebih. Jadi saat kereta sampai maka lagu yang kudengar pun selesai.

Saat sudah sampai di stasiun, aku perlu jalan kaki selama 15 menit untuk sampai di gerbang SMA Kuoh. Dan di sinilah aku sekarang, tepat di depan gerbang SMA Kuoh yang terbuka lebar. Sungguh jantungku kembali berdetak kencang. Aku segera masuk ke kelasku dengan tergesa-gesa seperti siswa yang belum mengerjakan PR-nya.

"Ohayou," sapaku ramah saat memasuki kelas. Beberapa murid penjawab sapaanku dan sisanya sibuk dengan obrolan masing-masing.

"Ohayou, Uzumaki-san. Kamu datang cukup cepat hari ini," balas seorang gadis yang duduk di bangku paling depan baris ke 2.

"Ayame-san … 'kan?" tanyaku ragu-ragu. Takut salah orang.

"Iya."

"Ada yang ingin kutanyakan,"

"Tanya apa Uzumaki-san?"

"Begini, apa kamu pernah pendapatkan hukuman dari Mei-sensei karena tidak bisa menjelaskan pelajaran yang sebelumnya belum diajarkan?" tanyaku karena teringat perkataan Irina kemarin.

"Hukuman? Mei-sensei tidak pernah memberi hukuman pada murid yang tidak bisa menjelaskan pelajaran barunya. Beliau hanya menyuruh kami untuk belajar bab selanjutnya sebelum diterangkan." Jawab Ayame yang membuatku terbengong seperti orang bodoh.

AKU DITIPU!

Dan pelajaran pertama pun dimulai dengan hatiku yang sudah sangat kesal pada perempuan di sampingku ini. Perempuan yang kemarin berhasil menipuku dengan tampang memelas dan mulut yang pintar.


Sekolahku hari ini berakhir pukul 3 sore. Aku cepat-cepat membereskan buku-bukuku. Hari ini adalah latihan pertamaku di klub Taekwondo. Kulihat Sona Kaichou sudah berdiri di depan pintu, menungguku sambil menggenggam selembaran.

Aku menghampirinya sambil tersenyum, "Kaichou, ada apa?"

"Uzumaki-kun, aku ke sini hanya ingin memberikanmu ini," Kaichou menyodorkan selembaran yang dipegangnya padaku.

Aku menerimanya dan membaca selembaran itu, "Oh, formulir pendaftaran klub Taekwondo rupanya,"

Kaichou mengangguk, "Uzumaki-kun tinggal menandatanganinya saja lalu serahkan pada guru pembimbing klub Taekwondo agar bisa diakui sebagai anggota resmi."

"Terima kasih Kaichou, aku sangat terbantu dengan kebaikanmu." Kataku sambil membungkuk.

Muka Kaichou terlihat memerah. Pandangan yang sebelumnya ditujukan padaku mulai fokus pada arah lain, seperti tak mau menatapku. "Ka-kalau begitu aku permisi dulu karena masih ada pekerjaan OSIS yang harus kuselesaikan. Semoga Uzumaki-kun dapat bahagia di sekolah ini." kata Kaichou yang langsung meninggalkanku pergi.

"Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu." Gumamku memikirkan perkataan terakhir Kaichou. Akupun meninggalkan kelas menuju ruang klub Taekwondo yang berada di dekat lapangan olahraga.

"Jadi di sini," aku menatap bangunan yang tidak terlalu besar di depanku. Aku membaca plang yang bertuliskan 'Klub Taekwondo' dengan di samping kanannya terdapat lambang orang yang sedang menendang ke atas.

Aku mengetuk pintu beberapa kali. Ada jawaban dari dalam yang menyuruhku masuk. Dengan perlahan aku membuka pintu. Kuedarkan pandangan, melihat beberapa puluh orang sedang duduk sambil memandang seorang sensei di depan mereka. Dan aku sedikit terkejut melihat siapa sensei itu.

"Kalau tak salah kau yang namanya Uzumaki Naruto 'kan? Orang yang direkomendasikan oleh Sona Sistri." Tanya sang sensei sambil tersenyum. Senyuman yang sudah tak asing lagi bagiku.

"Benar. Saya datang ke sini untuk mengikuti klub Taekwondo, Guy-sensei." Kataku tegas.

"Perkataan yang bagus seperti biasanya, Naruto-kun." Guy-sensei terlihat mengacungkan jempol kanannya, membuat anak didiknya terheran-heran. Mereka pasti memikirkan apa hubungan kami berdua.

"Kalau begitu langsung saja. Naruto-kun cepat ganti pakaianmu! Ruang ganti pria berada di sebelah kanan." Perintah Guy-sensei.

"Baik. Tapi aku belum memiliki seragam Taekwondo. Aku hanya membawa baju olahraga sekolah."

"Tak apa."

Aku langsung mengganti pakaianku dengan cepat. Tak mau mereka menunggu. Setelah itu Guy-sensei menyuruhku untuk memperkenalkan diri. Aku memperkenalkan diri dengan baik. Respon yang kudapat bisa dikategorikan normal, baik dari kaum laki-laki maupun kaum wanita. Ya Tuhan aku sangat bersyukur di klub Taekwondo tidak ada jenis wanita seperti Irina. Mereka semua adalah wanita normal yang tak tergila-gila pada pria tampan sepertiku. Mereka menganggapku biasa-biasa saja! Aku sangat bersyukur pada-Mu.

"Seperti yang kalian lihat tadi, aku dan Naruto-kun terlihat akrab karena anakku dulu adalah teman SMP Naruto-kun." Jelas Guy-sensei. Raut wajah para murid menandakan mereka mengerti, tidak keheranan seperti tadi. "Sekarang kalian pergi ke lapang dan lakukan pemanasan seperti biasa!"

Kompak para murid keluar dengan teratur dan langsung membuat 3 barisan sesuai tingkatan kelas. Aku memutuskan untuk berdiri paling belakang di barisan kelas 1 karena tidak enak seseorang yang baru sepertiku berdiri di depan. Kulihat Guy-sensei berdiri menghadap kami sambil ditemani beberapa orang yang memakai sabuk hitam. Sepertinya mereka adalah para pelatih. Aku sedikit terkejut melihat salah satu orang yang berdiri sejajar dengan Guy-sensei adalah wanita muda. Mungkin dia masih bersekolah.

Sedikit penjelasan tentang hubunganku dengan Guy-sensei. Dulu sewaktu SMP, aku memiliki teman bernama Rock Lee, dia adalah anak Guy-sensei. Aku akrab dengan Lee yang memiliki sifat mudah bergaul sepertiku. Guy-sensei adalah guru olahragaku saat di SMP. Tapi entah kenapa beliau bisa mengajar di SMA Kuoh yang jelas-jelas jaraknya cukup jauh dari kota Tokyo. Mungkinkah Lee juga bersekolah di sini?

"Berdoa dimulai!" kata Guy-sensei.

Aku mengikuti gerakan doa khas Taekwondo. Setelah berdoa dan memberikan salam hormat, kami semua mulai melakukan pemanasan. Pemanasan dalam dunia Taekwondo tidak jauh berbeda dengan pemanasan seperti olahraga biasa. Hanya perbedaannya di pemanasan Taekwondo ditambahkan beberapa gerakan kaki, seperti menendang dan mengangkat kaki setinggi-tingginya sesuai kemampuan individu.

Fiuhh … cukup lelah juga karena gerakan pemanasannya banyak.

Setelah pemanasan selesai, dimulailah latihan yang sesungguhnya. Semua murid kembali berbaris dan menghadap Guy-sensei serta 3 orang lainnya.

"Baiklah, mulai sekarang aku akan mengajar anak kelas 3. Akeno, kau kutugaskan untuk mengajarkan Naruto-kun dasar-dasar Taekwondo. Sisanya mengajar seperti biasa! nici."

"Yee!" seluruh murid bersorak penuh semangat.

Mereka berpisah mengikuti guru masing-masing. Kulihat seorang wanita muda yang sudah memakai sabuk hitam menghampiriku dengan senyuman.

"Salam kenal, namaku Himejima Akeno. Mohon kerja samanya." Wanita itu memperkenalkan diri dengan suara merdunya.

Aku sempat terkagum sebentar lalu buru-buru membungkukkan diri sambil mengucapkan namaku. "Uzumaki Naruto. Mohon bimbingannya Akeno-sensei."

"Ara ara nfufufu~ kamu laki-laki yang energik rupanya. Ikuti aku, kita mulai latihannya."

"Baik!"

Aku mengikuti ke mana Akeno-sensei berjalan. Rupanya Akeno-sensei menuju sisi barat lapangan yang sepi. Dia mengatakan tempat ini bagus untuk latihan bagi pemula tunggal sepertiku. Tempat ini sepi dari teriakan murid-murid lainnya yang berada di seberang sana.

"Baiklah, untuk pertama-tama jangan panggil aku Akeno-sensei." Tegasnya yang membuatku heran. Bukannya umum untuk memanggil sensei pada seorang guru?

"Lalu aku harus memanggil dengan sebutan apa?"

"Panggil aku Sabeum. Sabeum adalah sebutan untuk pelatih yang memiliki tingkat DAN 1-3." Kata Akeno-sense- ups … maksudku Akeno-sabeum.

"Ano … Sabeum, apa itu DAN?" tanyaku dengan wajah polos. Aku benar-benar tak tahu menahu tentang Taekwondo.

"DAN adalah tinggkatan strip bagi sabuk hitam. Lihat sabuk hitamku yang memiliki 1 strip, itu artinya aku berada di tingkat DAN 2."

Selanjutnya, Akeno-sabeum menjelaskan seluruh basic Taekwondo. Mulai dari tingkatan sabuk putih hingga hitam sampai nama-nama teknik. Aku hanya mengangguk mengerti saja. Mungkin sekarang adalah hari keberuntunganku karena dapat dilatih pribadi oleh Akeno-sabeum yang memiliki wajah sangat cantik. Bukan hanya 1 hari saja, melainkan untuk beberapa waktu sampai aku dapat menguasai teknik-teknik dasar.

"Sekarang aku akan memperlihatkan beberapa teknik dasar padamu. Sebelum itu bantu aku mengambil sand-sack di ruang klub." Kata Akeno-sabeum.

"Baiklah."

Kami berdua pergi menuju ruang klub untuk mengambil peralatan. Sebenarnya aku tak tahu apa itu sand-sack. Apakah sejenis dengan samsak tinju?

Setelah berjalan beberapa saat, kami akhirnya sampai di ruang klub dan langsung memasuki gudang yang ada di belakang. Ruang klub Taekwondo terbilang cukup luas dengan beberapa ruangan seperti kamar ganti pria-wanita, toilet, gudang, dan ruang berkumpul –kadang dipakai untuk sparring. SMA Kuoh selalu memfasilitasi lebih pada klub yang memberikan banyak penghargaan. Contohnya klub Taekwondo, Basket, Sepak Bola, Voli, Kendo, dan Tenis. Para klub itu selalu mengikuti kejuaraan dan meraih kemenangan. Berbeda dengan klub lainnya yang bertujuan untuk mengisi waktu sepulang sekolah dan mengembangkan diri.

"Bantu aku mengangkat itu." Kata Akeno-sabeum sambil menunjuk sebuah benda mirip seperti … SAMSAK? Jadi benar itu samsak?

"Tak masalah." Kataku santai menyembunyikan keterkejutanku.

Kami berdua menggotong samsak itu dengan Akeno-sabeum yang berada di depan. Mengangkat samsak ini bersama sudah berat apalagi kalau sendirian? Aku tak bohong, samsak ini memang berat. Kuyakin beratnya lebih dari 30 kg. Aku lihat gadis di depanku tak kesulitan membawanya, seperti sudah biasa. Akeno-sabeum memang terbaik!

Dan sampailah kami di tempat semula, sisi lapangan yang dipenuhi pepohonan rimbun. Aku melemaskan pinggangku yang pegal setelah menurunkan samsat itu. Tenagaku cukup terkuras.

"Ara ara~ baru segitu saja Naruto-kun sudah kelelahan nfufufuf~," kata Akeno-sabeum mengejekku dengan nada yang dibuat sensual. Itu membuatku sedikit malu dan merinding disaat yang bersamaan.

"Bantu aku mengaitkan samsak ini di batang pohon itu." Kulihat gadis itu menunjuk batang pohon yang berada tepat di atasnya. Jaraknya cukup jauh sehingga harus dilakukan berdua.

"Apa yang bisa kubantu Akeno-sabeum?"

"Gendong aku,"

Apa aku tak salah dengar? Gendong? Well, untuk ukuran orang yang baru bertemu ini sudah melebihi batas. Berdasarkan pengalamanku, seorang wanita apalagi wanita cantik tidak mungkin meminta bantuan pada pria yang baru dikenalnya. Apalagi bantuan ini berupa gendongan. Normalnya wanita itu meminta bantuan pada orang yang lebih dikenalnya. Kejadian itu pernah terjadi sewaktu aku masih duduk di bangku SMP.

"Yakin?" tanyaku.

"Memangnya kenapa? aku hanya memintamu untuk menggendoku karena jika aku sendiri tidak akan sampai. Aku harus mengaitkan rantai samsak ini ke batang itu."

Aku terdiam sebentar. Bukannya aku tidak mau, tapi ini membuatku gugup. Beberapa ingatan burukku tentang wanita mulai berputar di otak. Terlebih aku juga tidak enak karena banyak yang melihat. Tapi saat kulihat wajah Akeno-sabeum yang berharap penuh maka aku pun mengikuti perintahnya.

Aku berdiri di depan Akeno-sabeum lalu berjongkok. Beberapa saat kemudian kedua bahuku terasa berat karena pahanya.

"Tahan samsaknya sampai aku selesai mengaitkan rantai." Kata Akeno-sabeum. Aku hanya mengangguk lalu mengambil samsak itu dan berdiri.

Berat badan Akeno-sabeum terasa ringan seperti bukan seorang atlet saja. Yang menjadi masalahnya adalah aku mulai merasakan pegal di kedua lenganku karena menahan samsak itu agar tidak jatuh sekaligus menahan kaki Akeno-sabeum agar dia tidak jatuh juga.

Jujur, aku sedikit terkejut setelah tanganku bersentuhan dengan kaki Akeno-sabeum yang terasa lembut. Kupikir semua atlet Taekwondo memiliki kulit kaki yang keras. Kemarin aku sempat melihat beberapa video demonstrasi Taekwondo di internet. Mereka semua pasti memiliki kaki kuat dan keras seperti baja. Aku sangat terkagum saat salah satu atlet Taekwondo menghancurkan 6 lapis papan yang tebalnya 3 cm menggunakan kaki telanjang.

Terakhir, aku berpikir bahwa Akeno-sabeum tidak sekuat para atlet lainnya hanya karena kakinya yang lembut.

"Sudah selesai, turunkan aku!" kata Akeno-sabeum yang sempat-sempatnya mengelus rambutku.

Waktunya menunjukkan teknik-teknik dasar. Akeno-sabeum menyuruhku duduk di depannya dan memperhatikan gerakannya. Pertama-tama dia menjelaskan kuda-kuda dasar sebelum mengeluarkan teknik tendangan. Aku mengangguk mengerti. Selanjutnya, Akeno-sabeum memperagakan teknik dasar. Dia membuat gerakan tendangan lambat agar aku paham. Dalam Taekwondo tidak boleh asal tendang saja. Ada beberapa step yang harus diikuti dalam satu teknik dan Akeno-sabeum menjelaskan semua ini dengan rinci.

"Kamu mengerti, Naruto-kun?"

"Ya. Aku mengerti."

"Bagus, sekarang aku akan memperlihatkanmu tendangan aslinya."

Akeno-sabeum membuat kuda-kuda yang kokoh. Pandangannya lurus pada samsak. Katanya dia akan memperlihatkan teknik tendangan menyamping arah kepala atau atas. Akeno-sabeum memulai tendangannya dan … BAAM! Nyaliku langsung menciut saat samsak yang dia tendang bergerak sekitar 50 derajat dari titik awal dan setelahnya mengayun beberapa kali sampai berhenti. Bayangkan, seseorang yang bisa membuat samsak seberat 30 kg bergerak sekitar 50 derajat hanya dalam 1 kali tendangan. Dan hebatnya lagi, dia adalah seorang wanita.

Tarik kata-kataku yang mengatakan Akeno-sabeum itu tidak kuat. Kenyataannya dia sangat kuat!

"Sekarang aku ingin melihat Naruto-kun menendang. Targetku hari ini adalah Naruto-kun harus menguasai minimal 1 teknik dasar, atau tidak … nfufufu." Kata Akeno-sabeum dengan tawa khasnya yang membuatku berkeringat dingin.

Oh sial, di balik wajah sayu cantiknya terdapat segudang kesadisan yang tak pernah kubayangkan.


"Akhirnya selesai juga!" kataku bernafas lega karena latihan hari ini berakhir.

"Nfufufu~ aku kagum padamu Naruto-kun, kau bisa menguasai 1 teknik dasar hanya dalam 1 hari. Naruto-kun membuatku bangga sebagai seorang guru." Kata Akeno-sabeum.

Kami sekarang sedang berjalan menuju murid lainnya untuk melakukan upacara penutupan.

"Sampai bertemu dilatihan berikutnya." Kata Akeno-sabeum lalu memisahkan diri menuju Guy-sensei dan yang lainnya.

Setelah upacara penutupan yang diisi kata-kata singkat dari Guy-sensei dan diakhiri dengan doa, kami semua langsung menuju ruang klub untuk ganti pakaian. Kulihat para pelatih tidak masuk ke ruang klub melainkan berbincang seperti membicarakan sesuatu yang penting. Terlihat jelas dari raut wajah mereka yang menunjukkan keseriusan.

15 menit kemudian aku sudah selesai ganti baju. Aku memutuskan untuk langsung pulang karena tidak ada kegiatan lain di sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Guy-sensei saat hendak meninggalkan ruang klub Taekwondo.

"Naruto-kun, bagaimana dengan latihan pertamamu?" tanya Guy-sensei.

"Menyenangkan meskipun sangat menguras tenaga. Tapi aku semakin tertarik untuk belajar ilmu bela diri Taekwondo." Jawabku dengan senyuman.

"Baguslah kalau begitu. Oh ya, jangan lupa untuk membeli seragam Taekwondo secepatnya. Atau kau bisa memesan langsung padaku."

"Ah tidak terima kasih. Aku akan membelinya sendiri Guy-sensei."

"Baiklah kalau begitu. Dan ingat, saat latihan jangan panggil aku Guy-sensei. Kau pasti sudah tahu 'kan nama panggilan untuk para pelatih."

"Ya. Saya sudah tahu, Sabeum Nim."

"Hahaha … rupanya kau sudah banyak diajari oleh Akeno ya, itu bagus. Dan 1 hal lagi, latihan Taekwondo diadakan 3 kali dalam 1 minggu, yaitu hari Senin-Rabu-Sabtu. Ingat itu baik-baik dan jangan sampai lupa!"

"Tenang saja. Ngomong-ngomong, apa Rock Lee sekolah di sini?" tanyaku.

"Tidak. Anak itu masih belajar di Tokyo. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi aku pamit ke ruang klub dulu. Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya, Naruto-kun."

Guy-sensei meninggalkanku pergi, setelah terdiam beberapa saat aku lalu melanjutkan perjalanan ke luar sekolah. Di koridor utama aku tak sengaja berpapasan dengan Sona Kaichou. Katanya dia juga akan pulang. Setelah kami menyimpan kembali uwabaki di loker masing-masing, jadilah sekarang aku keluar sekolah bersama Kaichou.

"Uzumaki-kun terlihat lelah sekali," kata Sona Kaichou yang diam-diam mencuri pandang ke arahku.

"Ya. Tapi ini sudah biasa, jadi Kaichou tak perlu khawatir." Kataku sambil tersenyum.

"Baguslah kalau begitu," Gumam Sona Kaichou lalu mengambil sebotol air putih dari tasnya dan diberikan padaku. "Ini untukmu."

Aku sempat tercengang Sona Kaichou bisa perhatian seperti ini. Biasanya wanita berwajah datar sering tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Kebetulan aku juga masih haus, tapi aku tidak enak menerima pemberian Kaichou. Alasannya bagaimana ya … entahlah tapi aku merasa tidak enak saja.

"Terima kasih atas tawarannya Kaichou, tapi aku tak dapat menerima itu karena tak mau merepotkanmu." Tolakku halus sambil memasang wajah meyakinkan.

"Hal seperti ini tidak merepotkanku. Jadi terimalah, Uzumaki-kun." Kata Kaichou dengan wajah memelas.

"Y-ya … kalau kau memaksa maka aku akan menerimanya. Sekali lagi terima kasih Kaichou." Kataku sambil menerima pemberiannya. Aku membuka tutup botolnya lalu kuminum.

"Sama-sama." Sona Kaichou terlihat senang karena air pemberiannya diterima bahkan sampai diminum di depan matanya. "Kalau mau aku bisa saja memberikanmu air minum setiap Uzumaki-kun selesai latihan." Kata Kaichou malu-malu. Mukanya dia palingkan ke arah lain.

"Kalau itu aku tak bisa menerimanya karena itu sudah terlalu berlebihan. Dan aku tidak suka yang berlebihan." Tolakku yang kini memasang wajah tegas. Tanda aku benar-benar tidak suka diberi perhatian yang berlebih seperti itu.

Oke, bagi sebagian orang khususnya yang hanya melihat saja memang akan terasa menyenangkan diberi perhatian seperti itu. Tapi yang jadi masalahnya 'si penerima perhatian' akan merasa tidak enak dan sudah merepotkan orang lain. Lama-kelamaan dia akan merasa bersalah. Itulah yang membuatku tidak suka diberi perhatian berlebih.

Kaichou yang terkejut mendengar perkataan tegasku seketika menunduk. Aku tak tahu raut wajah apa yang ditunjukkannya karena terhalang oleh poninya. Entah kenapa, aku jadi merasa bersalah. Mungkin perkataanku terlalu berlebihan.

"Maafkan aku kalau kata-kataku terlalu berlebih seperti tadi."

"Tidak. Uzumaki-kun tidak harus meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah memaksakan egoku. Maafkan aku Uzumaki-kun." Sona Kaichou lalu menunduk.

Merepotkan, aku jadi salah tingkah. Perasaanku juga campur aduk. Entah kenapa perasaan bersalahku jadi semakin besar. Akhirnya aku hanya menerima ucapan maaf dari Kaichou.

'Oh jadi Uzumaki-kun tidak suka perhatian yang berlebih ya … yosh! sudah kusimpan baik-baik di otakku.' Batin Sona menyeringai tipis dalam hatinya.

"Ka-kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan." Kataku yang masih gugup. Kami sekarang sudah berada jauh di luar sekolah. Hampir sampai di stasiun.

"Uzumaki-kun, apa kamu besok ada acara?" tanya Kaichou tiba-tiba.

Hmm … besok hari Minggu. Tak ada jadwal sekolah. Biasanya aku selalu main bersama teman-temanku. Tapi sekarang aku masih belum punya teman. Jadi … aku tak ada acara- ah lupa! Aku harus segera membeli seragam Taekwondo!

"Ada," jawabku singkat.

"Apa itu?"

"Rencananya aku akan membeli seragam Taekwondo … tapi aku belum mengenal betul kota ini dan tak tahu di mana toko olahraga."

"Kalau begitu aku bisa menemanimu membeli seragam Taekwondo sambil mengenalkan padamu lebih jauh tentang kota ini." Tawar Kaichou tiba-tiba.

"Apa tidak merepotkanmu?" tanyaku yang mulai kembali merasa tidak enak. Aku sudah terlalu merepotkan Kaichou.

"Tentu saja tidak. Kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu."

Aku menimbang-nimbang tawaran Kaichou. Pertama, aku tak terlalu hafal betul tentang kota ini. Kedua, Kaichou adalah warga asli Kuoh yang pastinya hafal betul segala hal di kota ini. Ketiga, jika seandainya aku menolak tawaran Kaichou dan meminta Karin-nee untuk menemaniku maka … ah tidak, itu tidak mungkin. Aku tak mau merepotkan Karin-nee. Lagipula Karin-nee adalah seorang dokter yang sewaktu-waktu bisa menerima panggilan darurat dari rumah sakit saat hari liburnya, terlebih Karin-nee juga sepertinya belum tahu banyak tentang kota ini. Keempat … aku memutuskan untuk menerima tawaran gadis cantik berambut hitam pendek di sampingku.

"Baiklah. Terima kasih banyak Sona Kaichou atas tawarannya." Kataku sambil membungkuk.

"Tak masalah. Jadi … kita akan jadian di mana?" tanya Kaichou.

Aku berhenti sesaat, otakku merespon ada kesalahan di perkataan Kaichou. "Jadian apanya?"

Kulihat wajah Kaichou langsung memerah padam. "Eh … a-ah ma-maksudku kita janjian di mana Uzumaki-kun?"

"Oh janjian … hm, aku tak tahu tempat-tempat di kota ini. Kalau begitu kita janjian di stasiun saja jam 10, bagaimana?" usulku. Stasiun adalah satu-satunya tempat yang kutahu. Sumpah sampai sekarang aku hanya tahu jalan dari apartemen ke sekolah. Jadinya memilih tempat stasiun adalah yang terbaik.

"Baiklah. Lagipula rumahku dekat dengan stasiun." Kulihat Kaichou tak keberatan dengan usulku.

Perbincangan kami terputus sampai sana. Sona Kaichou mengantarkanku sampai stasiun. Kami berpisah saat kereta yang membawaku mulai melaju. Kulihat gadis itu terus melambaikan tangan sambil tersenyum manis meskipun kereta yang kunaiki ini telah pergi dari stasiun. Aku hanya tersenyum tipis melihat itu. Bagaimana caranya aku bisa melihat Kaichou meskipun kereta sudah meninggalkan stasiun? Karena jalur keretanya berbelok, tidak lurus sehingga aku masih sempat melihat gadis mungil ketua OSIS dari balik jendela.

Hidupku hari ini cukup menyenangkan. Tidak ada kesialan yang kudapat dari makhluk bernama wanita. Sebaliknya, aku mendapatkan keberuntungan dari mereka.

Kembali ke stasiun, Sona yang masih setia tersenyum menatap kereta yang sudah hilang di belokan membatin, 'Akhirnya, aku bisa kencan dengan Naruto-kun. Tak sia-sia aku menguping pembicaraan antara Naruto-kun dan Guy-sensei tadi.'

To Be Continued


Kamus dadakan:

-Nici= Sekian

-Yee= Ya

-Sabeum Nim= Sebutan untuk pelatih yang memiliki tingkat DAN 4-6

AN: Terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah mem-favs, follow, dan review.

Well, membayangkan Akeno yang memakai seragam Taekwondo dengan sabuk hitam rasanya gimana gitu, yang pasti cocok dan mantap! Ngahah ….

Untuk humor di awalan chapter saya terinspirasi dari postingan salah satu akun di Instagram. Mungkin kalian sudah banyak yang tahu atau pernah mengalaminya secara langsung? Hayoo ngaku yang pernah ngalami siapa?!

Humor di chapter ini tak terlalu banyak. Disesuaikan dengan lawan main Naruto saja. Jika karakternya seperti Irina tentu banyak, beda dengan Sona atau Akeno.

Soal musik yang selalu Naruto dengarkan, itu adalah clue untuk alur di chapter-chapter berikutnya.

Balasan reviews anonym:

Key: Apa di sini ada iblis, malaikat, dan malaikat jatuh? Tidak. Harap baca warning sebelum isi cerita agar tidak kebingungan.

Kamvang: Pair-nya bisa tidak gak pakai Akeno sama Rias, karena sudah mainstream. Sorry, ini sudah jadi keputusan yang tak bisa diganggu-gugat. Oke, saya memang menyadari pair ini mainstream. Tapi, saya akan buat alur yang anti-mainstream. And thanks buat sarannya.

Yang review pakai akun sudah saya balas lewat PM.

Jangan lupa review yang banyak ya!

Indra Kusuma