Title: [Another] You

Disclaimer: Masashi Kishimoto (Naruto) and Yukito Ayatsuji (Another)

Pairing: SasuNaru, Naru/FemItachi

Warning: mature (for Gore-language), horror, mistery, romance, shounen-ai, death characters, curse,

Summary: Naruto dan kakaknya (Ino) pindah kesuatu kota, di sekolahnya yang baru, kelas 3-3;2. disana ia jatuh cinta pada guru mereka, dan sayang sekali guru (wanita) itu punya seorang adik yang sombong, tampan dan pintarnya luarbiasa, Uchiha Sasuke. tapi... suatu ketika kejadian mengerikan mulai muncul.

based of world [ANOTHER] -kalo animenya another itu tahun ke 26 sekarang tahun ke 33 dan kisahnya murni buatan saya kecuali orang tambahan dan kutukan kelas/kotanya.

Kalau Animenya saat SMP, di cerita ini SMA… rasanya aneh nulis Mature dan Gore tapi tokohnya SMP, they're too young to die…


A/N: don't like, don't Read!

...

The Second Person: Uchiha Sasuke

Terlahir sebagai Uchiha dan kembar itu, sesuatu yang memuakkan. Tidak cukup dengan memiliki kakak wanita super cantik dengan seribu kelebihan, tapi ia pun memiliki kakak kembaran yang tidak kalah tampannya dari dirinya. Mereka identik tapi tidak perlu dibahas, karena ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Terimakasih untuk takdir yang akhirnya memisahkan mereka berdua.

Sasuke tidak membenci Mitachi, walaupun sikapnya keterlaluan lengketnya dengannya. Seakan-akan dirinya akan hilang dikeesokan harinya. Kakak perempuannya yang pendiam memang selalu seperti itu. Semenjak kecil ia berbeda dari kakak kembarannya yang selalu bisa diandalkan oleh semua orang. Ia pun cerdas, pandai dan ahli beladiri sama seperti kedua kakaknya. Tapi kalau Mitachi memiliki nilai 10 (sempurna) untuk setiap sisi hidupnya. Maka kakaknya memiliki nilai 9.8, sedangkan dirinya hanya 9.7.

Bagaimana pun nilai 9,7 dibandingkan dengan yang lainnya akan tetap terlihat rendah kan?

Tak peduli kalau nilai 9.7 itu sudah terbilang tinggi, tapi selama tidak sempurna maka tidak ada artinya dihadapan ayahnya. Ibunya sangat sayang padanya, bahkan ia berani mengatakan kalau sebagai anak bungsu dalam keluarga ia paling disayangi oleh keluarganya (mungkin kecuali ayahnya).

Awalnya ia sangat peduli dengan ayahnya, tapi semenjak Mitachi tidak menuruti ayahnya untuk meneruskan perusahaan Uchiha corp. yang terbilang sangat besar di Jepang, ayahnya jadi murka. Ah, hanya sekedar informasi, ayahnya berada di Tokyo dengan kakak kembarannya dan hanya ada ia, Mitachi dan ibunya di rumah mereka.

Alasan kenapa ibunya tidak mengikuti ayahnya di Tokyo, itu karena ibunya menderita penyakit mental. Ibu, selalu melihat sesuatu yang tidak ada. Aku tidak menjelaskan apa dan semenjak kapan. Tapi kakak laki-laki ku pun dilarang pulang karena 'khayalan' ibuku semakin parah karena kakakku. Ada yang mengatakan kalau penyakit ibuku ini dibuat-buat oleh seseorang yang membenci keluarga Uchiha. Kesampingkan urusan keluarga Uchiha, karena seperti Mitachi aku tidak ingin melanjutkan perusahaan ayahku, dan ayahku juga tidak berharap aku demikian.

Aku lebih tertarik untuk melanjutkan dojo (aliran Uchiha-Sharingan-), dokter atau mungkin guru. Rahasiakan ini pada Mitachi, karena ia pasti akan semakin memanjakanku kalau aku ingin menjadi guru. Passion Mitachi yang sangat besar sangat mempengaruhiku. Aku jadi berpikir bahwa orang yang jenius sejati itu yang bisa membuat orang lain 'mengerti' konsep yang ia katakan. Bukan seseorang yang pintar untuk dirinya sendiri, seperti kakaknya yang terlihat gila, karena bisa tahu saham perusahaan mana yang akan jatuh hanya dari melihat garis-garis merah dan hijau (bukan berarti ia tidak mengerti, ia hanya tidak seahli kakaknya itu).

Satu hal lagi kenapa aku berpikir untuk menjadi guru. Itu karena ia ingin mengenal lebih baik otak manusia bodoh. Semenjak ia cerdas dan orang yang dibawahnya sekalipun walaupun terhitung cerdas akan ia katakan bodoh. Ini alasanku pula memperhatikan Uzumaki Naruto. Laki-laki bodoh dengan senyum tiga jari kemanapun ia pergi.

Si bodoh itu pun bahkan tidak mengenal siapa dirinya ketika mereka bertemu.

Padahal sebelum kematian pasangan Uzumaki, kedua orang tua Naruto yang juga Dokter pribadi keluarga Uchiha. Ia dan kakaknya sangat dekat. Bukan dirinya, karena ia benci di bodoh itu. Karena ia merasa dijadikan satu level dengan Naruto yang bodoh oleh kakak laki-lakinya.

Dan lagi… dengan sombongnya si Dobe sial itu bertanya, 'Siapa itu Uchiha Sasuke?' dengan wajah kesalnya.

Heh, Sasuke tahu… kalau si Dobe itu suka sekali dengan Mitachi. Setelah kakak laki-lakinya, kemudian kakak perempuannya? Apakah kalau keduanya telah tiada maka si Dobe itu akan meliriknya?

Oh, bukan berarti Sasuke menyukai si Dobe, tapi ia benci kalau ada seseorang yang lebih memilih kedua kakaknya dari pada dirinya. Apa yang beda dari dirinya dan kakak laki-lakinya kecuali nilai rata-rata 0.1 itu?

"Nani?" teriak seseorang dengan sangat keras. Uchiha tahu persis hanya si bodoh itu yang akan berteriak dan mengganggu anak lainnya ditengah pelajaran.

Kelas 3-3 sedang berada di alam terbuka dan melukis (sekalipun mereka terpisah, tapi untuk beberapa kelas seperti Seni dan Olahraga, yang membutuhkan tempat khusus mereka akan digabung. Sebenarnya Sasuke memilih Science sebagai jurusannya, bukan Art seperti Naruto dan teman-temannya. Tapi ia sengaja mengambil beberapa kelas seni untuk meregangkan otot-ototnya dengan melihat kebodohan Naruto.

Walaupun bodoh dan tidak tahu seni, tapi melihat Naruto berusaha menggambar itu… membuat perasaannya aneh dan ia suka perasaan anehnya itu. Menggelitik dan menenangkan pada saat yang sama ia juga akan tersenyum.

"Kau harus melukis kekuranganmu, Uzumaki-kun." Kata guru mereka yang sedikit 'nyentrik' dengan memilih untuk mengajar diantara pepohonan Sakura dan sungai di dekat Yomikita.

Mungkin ini juga salah satu alasan Sasuke mengambil mata pelajaran ini.

"Aku sudah menggambar matahari diantara bulan-bulan, menunjukkan kalau aku kurang 'tenang' tapi kenapa disalahkan juga."

Guru yang bernama Sai, entah apa nama keluarganya itu tersenyum, "Kau tahu Uzumaki-kun, mungkin kau menganggapnya sebagai kekurangannya, tapi bagaimana dengan Hyuuga-san…" mendengar ini Hinata sedikit tersentak, "…atau Aburame-kun, atau mungkin Nara-kun yang kekurangan aktivitas verbal, mereka akan iri padamu."

"Tapi… Sai-Sensei…" katanya sedikit geram.

"Iya, Uzumaki-kun?"

Naruto menarik napasnya dan berteriak, "Bagaimana bisa aku menggambar sesuatu seperti di**less!-" beberapa siswa terkejut mendengar ucapan Naruto, "Itu pornografi, Sensei! Aku tidak mau!"

"Ah… begitu, tenang saja… nanti aku yang akan bertanggung jawab dan menjadikannya sebagai koleksi pribadiku." Katanya santai.

Lalu tiba-tiba, Shikamaru yang sepertinya telah selesai menggambar mengangkat tangannya. Sai melirik kearah siswa malas tapi jenius itu.

"Ada apa Nara-kun? Kau ingin bertanya bagaimana menggambar 'kemalasan'mu itu?"

"Hn… aku sudah selesai…" katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya, "Sensei, kami bingung, dari tadi anda berbicara dengan siapa?"

Sai sedetik seperti terkejut, tapi semua orang pun tahu kalau Sai memang sengaja mengajak Naruto itu mengobrol (semenjak kelas 2 mereka memang selalu seperti itu). Ini semua untuk menguji 'kebodohan' Naruto, sebagai salah satu kekurangannya.

Guru muda dan berkulit pucat itu menepukkan tangannya perlahan, "Aku hanya berlatih untuk berinteraksi dengan orang lain, Nara-kun. Kau tahu kan tema lukisan hari ini 'kekurangan', dan aku rasa berekspresi adalah kekuranganku."

Saat Nara dan Sai berbicara, Sasuke melirik ke wajah Naruto yang muram. Ia menyeringai, seperti apa rasanya menjadi matahari yang sudah tidak dikelilingi oleh planet lainnya. Kau kesepian Dobe? Rasakan! Pikirnya.

Naruto menatap kertas yang bergambar abstrak dihadapannya, ia berdiri dan merobek kertasnya menjadi empat bagian, lalu membuangnnya. Ia rasa kekurangannya bukan pada sifatnya yang terlalu berisik dan di**less, tapi kekurangannya adalah…

*sret…sret…sret…

Coret kuas dengan warna cat orange kemerahan dikertas milik Naruto dan kemudian ia pergi.

Sasuke melihat teman kakaknya sejak kecil itu, dan mengikutinya pergi dari tempat itu. Sakura berguguran dimusim semi dengan indahnya. Tapi Naruto, berjalan sendiri seperti seseorang yang pulang dari kantor dimusim dingin. Lelah, dan sendiri. Anak bungsu Uchiha itu melirik gambar baru Naruto, hanya sebuah coret-coretan seperti lingkaran, hanya ada satu.

Sendiri dan hampa? Itu kah artinya. Naruto benar-benar seperti badut yang sanggup menghiburnya sebosan apapun harinya. Kini gilirannya untuk menghibur sibadut yang sedang sedih itu kan?

"Hei, Dobe!"

Naruto terdiam sebentar, dan membalikkan tubuhnya dengan dahi yang mengkerut, "Kau mau apa, Teme!" entah kenapa Naruto selalu emosi saat melihat Sasuke. Uchiha sendiri pun tidak tahu ia salah apa.

"Hn…" Sasuke tersenyum padanya, bukan senyum yang tulus tentu saja, "Aku hanya tertarik dengan lukisanmu…"

Mereka sudah saling berhadapan dan siap untuk saling memukul. Setidaknya mereka ada dikebun belakang dan saat jam pelajaran, jadi tidak akan ada yang memperhatikan mereka berdua. Termasuk jika mereka berdua bertengkar dan berakhir dengan saling membunuh. Ah… tidak mungkin Uchiha melakukan hal buruk itu. Bukan karena ia adalah adik Mitachi yang berprofesi sebagai guru serta wali kelasnya. Tapi karena ia seorang Uchiha.

"Bukan urusanmu, Teme!" Naruto membentak Sasuke, dan tangannya sudah terkepal dengan kuat. Tidak perlu menunggu waktu lama baginya untuk memulai pertengkaran diantara mereka berdua.

"Hn… apa dengan otakmu yang kecil itu kau tidak paham juga, usuratonkachi?" katanya perlahan dengan mendekati Naruto.

Ia sudah ada dihadapan Naruto dan menutupi wajah kecoklatan Naruto dari cahaya matahari dengan kepalanya yang tertunduk. Tidak lupa dengan seringai di ujung bibirnya.

"Kau!" Naruto benar-benar geram dan tangannya yang terkepal erat itu sudah menggenggam kerah Naruto, menariknya dan bersiap menghajarnya, "Katakan hal itu sekali lagi, dan wajah tampanmu itu akan rusak selamanya!"

"Heehhh?-" seringainya, tanpa berusaha melepaskan dirinya dari Naruto, "Aku tidak tahu kalau kau suka dengan wajah tampanku ini Naruto… dan… kapan kau pernah menyentuh wajahku ini dengan tanganmu, Huh?" sindirnya.

"Teme!" dan satu kepalan tangan berkulit coklat langsung mengarah padanya.

Bukan Uchiha namanya kalau tidak bisa menghindari pukulan semacam itu. Naruto memang kuat, tapi secara kecepatan dan teknik Uchiha lah yang lebih unggul. Mereka bertengkar dengan amarah yang entah dari mana. Sesaat Naruto bisa melayangkan tinjunya pada wajah 'tampan' Sasuke, dan darah mengalir dari dalam mulutnya. Ia langsung kesal yang benar-benar berpikir akan membunuh si Uzumaki.

Perkelahian mereka diringi dengan bergugurannya kelopak Sakura. Bahkan mereka tidak berhenti saling memukul saat seluruh anak kelas 3-3 akan kembali ke kelas. Jawabannya mudah, itu karena tidak ada yang berusaha menghentikan mereka berdua. Mereka berdua adalah 'orang itu' jadi teman-teman sekelas mereka tidak ada yang melirik mereka. Mungkin kecuali laki-laki pendiam berkepala merah.

Sesaat Uchiha tahu kalau laki-laki berkepala merah itu melirik mereka berdua. Atau Naruto? Entahlah, karena mereka tidak sekelas dan ia tidak peduli dengan laki-laki yang sepertinya juga suka berkelahi itu.

Sasuke terkapar, darah mengalir dari bibirnya. Ia mengusap pipi yang sedikit memar, tubuhnya sakit. Naruto hanya bisa melayangkan pukulannya sekali ke wajahnya, sayangnya tidak sama nasibnya dengan tubuhnya. Tapi keadaan Naruto lebih parah dari dirinya. Wajahnya babak belur, ia yakin keesokan harinya ia akan melihat mata birunya itu dilingkari hitam. Mata yang sama seperti milik laki-laki berambut merah itu. Mungkin itu juga alasan si rambut merah itu memiliki mata panda atau rakkun?

Diantara napasnya yang tersengal itu ia berbisik, "Tsunade-sama, pasti akan menghajarmu, dobe… melihatku seperti ini."

"Salah…mu… Teme! Kau… pasti akan diomeli oleh Mitachi-san." Katanya dengan penuh pengharapan. Harapan kalau Mitachi akan ikut mengobati adiknya di klinik kecil milik neneknya. Ini pula yang membuat bertengkar dengan Sasuke jadi menggairahkan yaitu; demi bertemu Mitachi.

"Hn… hari ini Nee-san keluar kota dengan ibunda."

Ctik.

Naruto lupa kalau pagi ini neneknya juga ikut menemani Uchiha Mikoto ke Tokyo untuk bertemu dengan Psikolog-pribadinya. Neneknya itu dokter spesialis bedah dan jantung, bukan ahli jiwa. Dokter jenius yang juga tahu jenis obat-obatan dari yang kimia hingga obat alami.

"Kalau begitu kau pergi saja ke dokter lainnya sana! Jangan ke klinikku!"

"Klinik itu miliki Tsunade-sama, dobe… bukan milikmu! Dan ia adalah dokter pribadi keluarga kami. Kalau kau tidak mengerti karena kapasitas otakmu yang sangat rendah itu aku mengerti…"

"Temeeee…..!" Naruto kesal, tapi sekujur tubuhnya sakit sekali, dan ia hampir tidak bisa bergerak.

"Ah… pasti kau tidak mengerti kata-kata yang aku gunakan ya? Maaf lain kali aku akan menggunakan perkataan yang sesederhana mungkin."

"Terserah kau saja!"

"You're welcome."

Naruto melirik kearah Sasuke yang sudah mencoba untuk berdiri, "Untuk apa kau menyambutku?" tanya Naruto yang hanya mendengar kata 'welcome' dengan jelas atau mungkin ia tidak mengerti 'you're welcome'? yang mana saja boleh.

Laki-laki dengan duck butt itu menatap Naruto, ia antara tidak percaya dan terkejut dengan perkataan orang yang masih tergelepar di rerumputan itu. Ia menghembuskan napasnya, dan membuang tatapannya. Lalu ia berpaling dan melangkah pergi. Sebelum itu ia berbisik dengan sangat pelan, "Dobe… entah kenapa aku kagum padamu kenapa bisa hidup sampai sejauh ini dengan ke-dobe-anmu itu."

Lirih, tapi sampai pada telinga Naruto.

Langit yang biru dan rahang yang terasa linu. Matanya terbelalak, seribu pertanyaan muncul: 'bagaimana kalau dirinya memang 'orang tambahan itu'? ia menutup matanya kembali. Mungkin ia tertidur lama setelahnya, karena saat ia membuka matanya langit terlihat sangat gelap, dan tetesan hujan membangunkannya. Ia bergegas dan lari ke kelasnya. Rupanya kelas masih sepi. Sunyi, seperti hidupnya sekarang ini.

Ia memasuki kelas, dan tentu saja tidak ada yang peduli padanya. Naruto duduk dan dengan memar di wajah dan seluruh tubuhnya? Apakah seharusnya ia pulang saja? tapi nanti kalau sampai ketahuan Tsunade-baasan ia membolos lagi seperti hari pertamanya, ia pasti akan diomeli. Ini semua karena Uchiha Sasucker brings*k itu! Benar-benar menyebalkan!

Bel istirahat berdering, sudah waktunya ia makan siang. Naruto selalu membawa bekalnya dari rumah (buatan dirinya sendiri tentunya, Ino mana mau membuatkannya). Di dalam kelas dengan kursi 30, ia hanya duduk sendiri dibarisannya.

Tiba-tiba Shikamaru mendatanginya, menarik sebuah kursi dan menaruhnya dibekalnya dihadapannya. Ia terlalu malas untuk membeli roti di kantin jadi ia minta dibawakan bekal juga. Shikamaru duduk dan membuka bekalnya. Kiba berteriak dari meja terdepan (sial sekali Kiba, karena undian tempat duduk ia dapat kursi paling depan).

"Hoi, Shikamaru! Sedang apa kau disana!" teriaknya.

Mustahil dengan suaranya yang mirip gonggongan anjing itu ada anak yang tidka mendengarnya. Naruto hampir menjatuhkan sumpitnya karena suara menyebalkan itu. Namun dengan tenangnya, Nara berbalik pada Kiba dan berkata, "Langit dari meja ini terlihat lebih indah dari pada langit dari meja manapun." Katanya sambil tersenyum.

"Oho! Benarkah!" Kiba berdiri dan berlari kearahnya, "Yuhuuuu! Langit itu tidak terlalu gelap!" tujuknya pada bagian awan yang sudah meneteskan hujan. Ia membalikkan kursi dihadapan Naruto dan menaruh roti serta kotak susu dihadapannya. "Kalau begitu aku juga ingin makan ditempat ini."

"Hufh, mendoukusai…" kata Shikamaru perlahan.

Mereka berdua memang tidak 'menganggap' Naruto, tapi rasanya ia terharu dengan sikap mereka. Ia bahagia dan memakan bekalnya dengan rasa yang lebih asin dari biasanya. Kiba dan Shikamaru hanya mengobrol tentang lukisan abstrak milik Chouji. Dari gossip mereka itu sepertinya Chouji menyukai Ino. Ia tidak habis pikir kenapa ada orang yang bisa menyukai gadis semengerikan Ino. Yah… Ino cantik, pandai dan… errrr… errr… dan seorang Ino? (What! PIG! *I'll kill you Naruto!-by Ino). Tapi setahu Naruto… Ino itu suka pada Sasuke… ah, semua wanita juga kalau disodori laki-laki seperti Sasuke pasti akan menerima dengan senang hati!

"Hufh, Mendoukusai…" kata Shikamaru sekali lagi dan berdiri dari tempatnya. Ia kembali kemejanya, menyerong dari tempat duduknya. Semenjak dikanan Naruto kursi kosong, Nara selalu menaruh barang-barangnya di meja belakangnya dan tidur. Kiba pun melakukan hal yang sama. Ia kembali ke kursinya, mengambil sesuatu dan keluar kelas.

Naruto merapikan kotak bekalnya dan bergegas ke toilet. Ia lupa kalau ia bisa bebas keluar kelas kapanpun yang ia mau. Ditengah lorong saat dirinya kembali dari toilet ia tidak sengaja menabrak seorang gadis pemalu yang ia kenali sebagai Hyuuga (terlihat dari matanya), tapi ia tidak tahu dengan jelas siapa nama lengkapnya, Hina, atau Hana… entahlah…

Buku yang dipegangnya berjatuhan dan dengan malu-malu ia mengambil seluruh bukunya lalu pergi. Naruto yang sempat mengambilkan satu dari empat buku yang gadis itu bawa sedikit terkejut dengan sikapnya. Lalu ia lebih terkejut lagi ketika melihat beberapa plester di lantai. Plester untuk menutupi luka?

Naruto mengambilnya, dan dibalik satu bungkusan plester berisi sepuluh itu terdapat tulisan 'silakan dipakai'. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi ia yakin pasti ia gadis yang baik hati. Naruto tidak sadar kalau ada seseorang yang sudah memandangnya dengan dengki dari kejauhan.

Ia sudah menempelkan tiga plester; di dahinya satu, dipipi dan dibawah dagu. Sasuke suka sekali memukul dengan tangan kanannya. Pasti nanti malam ia hanya bisa miring ke sebelah kanan (karena tubuh bagian kirinya lebih banyak yang memar).

Sasuke menunggu-ehem- duduk terdiam di ruangan tunggu klinik Konoha milik Tsunade-sama. Tubuhnya telah diperiksa oleh Shizune-san dan lukanya telah diolesi salep agar tidak membengkak parah dan sebagian telah ditutupi plester. Ia pun diberi beberapa obat-obatan lainnya untuk diminum. Ia belum juga melihat Naruto, padahal lukanya lebih parah darinya. Sasuke berusaha keras meyakinkan dirinya untuk tidak peduli pada Naruto.

Tidak mencari Naruto dan tidak khawatir pada si Dobe Naruto, yang selalu jatuh cinta pada Uchiha. Kecuali dirinya. Ia masih ingat sampai mereka berumur 5 tahun, Naruto memanggil ibunya 'kakak' dan mengidolakan sahabat Kushina semenjak dulu itu. Lalu ketika beranjak berumur 6 – 7 tahun, ia selalu mengekor pada kembaranku. Saat itu Mitachi sangat sibuk sebagai anggota/ketua OSIS dan beberapa klub lainnya (seperti klub minum teh dan panah). Jadi, Naruto hampir tidak pernah bertemu dengan gadis pendiam itu dan sebagai gantinya ia seperti permen karet pada alas kaki, menempel erat pada kembarannya.

Mereka berdua lebih terlihat sebagai anak kembar dari pada aku dan kakakku itu. Kami sangat mirip, bahkan hingga rambut pun sama dan anehnya Naruto bisa membedakan kami hanya dari 'bau tubuh' kami. Katanya bau tubuh kakak lebih manis dari pada miliknya yang dingin seperti es. Ia tidak peduli apa kata Naruto. Ia tidak merasa tersaingi, karena tidak penting juga hanya disukai oleh Naruto. Jadi, saat itu ia tidak peduli.

Sampai suatu hari, kakak sakit dan memintaku untuk menemui Naruto…

Saat itu…

"Ke…"

Ketika musim semi dan hujan turun dengan derasnya, hanya dengan menggunakan kaos orange-nya dengan gambar 'narutomaki' dan celana pendek hitam. Matanya yang biru menatapnya dengan bahagia. Itu cara Naruto menatap kakaknya, bukan dirinya. Hari hujan, dan sepertinya ia terkena flu.

"…Suke…"

Matanya biru dan senyumnya sangat man-…

"TEME!"

'Plik'

Sasuke terbangun dari entah apa yang barusan ia alami, mungkin khayalannya saja atau mungkin juga hanya sekedar mimpi. Dihadapannya sudah ada Naruto dengan pakaian 'rumah'-nya berwarna hijau (tetap dengan narutomaki). Naruto yang barusan ia lihat jauh lebih kecil dari yang ada dihadapannya, dan wajahnya pun tidak dipenuhi kerutan kebencian seperti itu.

Tanpa ia sadari tangannya meraih pipi Naruto dan di usapnya pipi dengan bekas luka. Sasuke tidak tahu ia bisa mendapat bekas luka ajaib itu dari mana. Karena kanan dan kirinya terlihat simetris. Tapi… wajahnya tidak jauh berbeda, gurat kekanakannya masih terlihat.

Ah… wajahnya sedikit memerah…

'Plak'

Naruto menampik tangan Sasuke, "Apa yang kau lakukan?!" dan seringai sudah ada diwajah Sasuke.

"Heh, tentu saja ingin memeriksa maha karya ku…"

"Sial kau, Teme!" kata Naruto sambil mengayunkan tinju ke arah Sasuke yang sedang duduk dan ditangkapnya dengan mudah. Naruto berusaha melepaskan genggaman tangan Sasuke, "Lepaskan…!" teriaknya, lengan kanannya sepertinya sedikit terkilir saat adu pukul dengan Sasuke sebelumnya.

Suara Naruto menggema di klinik kecil itu, tapi tidak ada yang datang. Shizune terlalu sibuk untuk mengurusi mereka berdua, dan Ino sepertinya belum pulang. Mereka hanya berdua di ruangan itu. Sasuke menggenggam semakin erat tangan Naruto dan menarik tubuhnya. Ia memeluk tubuh kecil yang terjatuh dan pemiliknya mengerang kesakitan.

"Apa yang kau lakukan, Teme! Lepaskan!"

Ia bukan gay, sampai milyaran tahun ia tidak akan memilih laki-laki yang bentuknya rata dari pada tubuh hangat seorang wanita. Ia memang terkenal sebagai Sex-God di SMA mereka. Bukan karena rekor-nya meniduri para gadis (dan HANYA yang masih gadis) tapi karena laki-laki pun mengejarnya. Gossip tentangnya menyebar dengan luas. Kondisi kejiwaan ibunya dan Mitachi yang terlalu sibuk dengan aktivitas sebagai gurunya, keduanya tidak pernah memperhatikan Sasuke pada tahap ini.

Sasuke tahu keluarganya menyayanginya, walaupun ia tingkatan terendah diantara saudaranya yang lain. Tapi keluarga tetap keluarga, dan Uchiha tetap Uchiha. Ia tidak tahu kalau laki-laki bertubuh hangat dan lembut, tapi ia bisa jamin kalau Naruto bertubuh hangat dengan harum khas jeruk menempel padanya. Ia tidak mengerti kenapa tubuh berbau matahari Naruto juga memiliki aroma jeruk.

Ia suka tomat, tapi… sepertinya jeruk pun…

"TEME!"

Naruto mendorong tubuh Sasuke dengan kuat, hingga dirinya jatuh ke lantai. Sasuke menatapnya dengan mata kosongnya. Dulu… Naruto tersenyum saat dipeluknya, dan kembali memeluknya dengan sangat erat…

Ah, iya… itu karena Naruto menganggapnya sebagai S-

"Kau, demam?" tanya Naruto mengelus-elus lengannya yang sakit, "Kenapa kau tidak tidur!"

Sasuke melirik kearah Naruto, "Aku tidak ingin di rumah." Katanya simpel dan bernada memerintah.

"Kalau begitu pergi ke tempat lain! Hotel! Atau rumah kekasihmu!"

"Hn…"

"Teme!"

"Tempat ini adalah klinik yang dimiliki oleh dokter pribadi Uchiha, Dobe."

"Itu bu-"

Sasuke menyela entah apa perkataan Naruto, "Kau tidak lihat aku sakit? Atau pukulan dikepalamu itu kurang keras untuk menyadarkan mu, Dobe?"

Naruto ingin sekali menghajar orang dihadapannya ini. Tubuhnya memang sedang sakit, dan karena pagi ini udara sangat dingin, ia sepertinya terkena demam. Shizune sudah memberikan obat padanya, ia sangat mengantuk.

"Biarkan aku tidur di sini, Dobe… ini salahmu." … iya, ini salah si Dobe, karena tidak langsung pulang sehabis mereka saling memukul.

Naruto berdiri dan bertolak pinggang, "Kau-Harus-Pulang!"

"Hn…", Sasuke meliriknya dan menggumam, kesadarannya semakin menipis.

Ia tertidur lama sekali rasanya, hingga saat ia membuka kedua matanya. Ia sudah ada ditempat yang asing. Kamar yang tidak begitu luas dan ada jendela yang sedikit terbuka. Ia bisa melihat jendela kamarnya sendiri dari luar, itu artinya ia ada di dalam kamar Naruto.

Sasuke bangkit perlahan dan melihat kalau langit memperlihatkan cahaya senjanya. Tubuhnya masih terasa berat, dan kaku tapi demamnya sudah hampir hilang. Ia selalu berpikir kalau kamar Naruto akan dipenuhi dengan warna orange dan kotor luarbiasa. Diluar dugaannya, kamar Orange-boy terlihat cukup rapi dan bersih. Walaupun tidak sebersih dan serapi miliknya. Setidaknya ada beberapa Shounen J*mps berceceran di meja.

Angin berhembus dan membawa matanya pada suatu lemari berwarna coklat tua. Sasuke menyeringai, dan membuka lemari itu. Sepertinya ini kesempatan terbaiknya untuk ekpedisi.

15 Menit kemudian.

Buku 'how to cook ramen', kaset porn, majalah dewasa, surat-surat cinta, kumpulan puisi cinta, boneka teru-teru, dan… manga yaoi?

Napasnya tersedak, lalu tertawa sebisanya mengingat tubuhnya masih sakit. Ia tidak tahu kalau Naruto tertarik pada yaoi. Yaoi! Kamisama! Menggelikan. Ternyata Naruto benar-benar kearah sana rupanya. Lalu ia melihat ada satu buku diary kecil kusam diujung rak buku 'rahasia' dibalik pakaian yang digantung. Ia pernah melihat buku itu, diari itu pemberian kakaknya untuk Naruto sebagai hadiah ulang tahun ke-enamnya. Bagaimana Sasuke tahu? Memang ada hal yang tidak sanggup diketahui Uchiha dengan nilai rata-ratanya 9,7?

Sampul berwarna orange itu dibukanya. Ia tidak habis pikir kenapa kakaknya itu memberikan Naruto diary, padahal Naruto sendiri belum bisa menulis. Tentu jawabannya karena Naruto suka sekali menggambar saat ia kecil. Walaupun gambarnya sama levelnya dengan isi kepalanya itu. Sasuke bahkan tidak tahu apa yang Naruto gambar.

Satu hal yang Sasuke tahu, ada dua gambar laki-laki yang sepertinya dibuat semirip mungkin dengan krayon biru tua, itu dirinya dan kakak kembarnya. Ia tertawa kecil ketika melihat coretan seperti tanda silang dengan krayon merah diatas yang satu dan coretan berbentuk hati setengah melingkar diatas yang satu. ia terdiam dan matanya menerawang. Kenapa dari keluarga Uchiha hanya ia yang dibenci oleh Naruto semenjak mereka kecil? Apa si bodoh itu tidak tahu kalau ia… kalau ia… hanya ingin..

'Dreeekkkk'

Si pemilik diary kecil itu masuk. Sasuke hanya melirik kearahnya. Ia tidak menginginkan sesuatu yang lebih dari Naruto. Ia hanya ingin duduk dan membuat laki-laki yang mulai mengernyitkan alisnya itu tertawa. Jujur, Sasuke suka sekali tawa tiga jari milik laki-laki dihadapannya ini.

"Apa yang kau lakukan! Arrrgghhh! Kau membongkar lemariku!" bentak Naruto dan merapikan barang-barang yang disembunyikannya kembali ketempatnya.

"Hn… dobe."

Naruto melirik Sasuke, dan mengambil paksa diary kecil yang ia lupakan itu, "Apa! Pergi kau! dasar tidak tahu diuntung! Aku berat-berat membopongmu ke kamarku, dank au mengacak-acak barang-barangku! Hish! Keluar kau!"

"Naruto."

"Apa!"

Sasuke sudah menggenggam manga yaoi ditangannya, "Aku tidak tahu kau suka, yaoi. Kupikir kau suka kakakku." Wajah Naruto memerah, entah karena memang ia kearah sana atau karena ia mengingat Mitachi.

"I-itu…milik Ino!"

"Hn… dan Ino menyembunyikan barangnya dikamarmu, ditempat persembunyian barangmu yang lain." Katanya sambil menyeringai.

Manga yaoi itu diambil paksa oleh Naruto, ia keluar, dan sesaat kemudian ada suara teriakan antara dirinya dan seorang wanita, yang dikenali sebagai Ino. Mungkin manga itu sungguh punya Ino. Semenit kemudian Naruto masuk, wajahnya sudah merah dan kali ini ia tahu laki-laki dihadapannya ini sedang marah.

"Ino sial!" umpatnya, dan melirik Sasuke yang sedang menatapnya, "Apa yang kau lihat!"

Sasuke membuang tatapannya, "Nee… Dobe."

"Bisa kau berhenti memanggilku dengan nama konyol itu, Teme."

"Usuratonkachi." Dan Sasuke kembali merebahkan tubuhnya dikasur, ia tidak memperdulikan Naruto yang menggumam, menyuruhnya pergi, "Kau sungguh menyukai Mitachi?" tanyanya dengan nada serius (kapan Sasuke tidak serius?).

Naruto mengedipkan matanya dua kali dan kemudian wajahnya memerah. Dengan gugup ia menjawabnya dengan terbata-bata seperti orang gagu, "Engg… errrr… Mi-mitac-chi-san? Su-suka… ti-tidak mungkin aku menyu-nyukai Mi-"

"Akan kukatakan padanya kau membencinya."

"Aku menyukainya!" kata Naruto tiba-tiba tanpa berpikir panjang, dan Sasuke sudah menyeringai. Selebarnya ia bisa, dan itu pertanda buruk bagi Naruto. "Ma-mana bisa aku membenci guruku dan tetanggaku sendiri, Teme!"

"Kau membenciku." Liriknya.

Alasan kenapa Naruto benci sekali dengan Sasuke semenjak mereka kecil, itu karena perkataan Sasuke selalu yang ketus dan terlalu jujur. Entah apa maksud Sasuke, tapi ia selalu dapat membuat Naruto menjadi merasa gugup dan salah tingkah seperti ini. Perkataannya selalu membingungkan, Naruto harus berpikir keras untuk menjawab bahkan terhadap hal-hal kecil. ia masih ingat ketika dirinya dan…

"Huh… kenapa kau terdiam, Dobe? Bukankah itu hal yang sebenarnya?"

Dan Sasuke selalu bisa membuatnya terpojok. Tidak bisa menjawab, dan membuatnya emosi karena ia sadar kalau ia terlalu bodoh untuk menjawab pertanyaan Sasuke. Perkataan Sasuke itu masuk ke bagian sel otak Naruto terdalam, "Itu kenapa aku membencimu, Teme!"

Teman atau musuh atau rival, atau apalah-nya itu, terdiam. Lalu tertawa kecil, "Hn… aku tahu. Kau membenciku karena aku adalah aku. Yah…" dan ia tersenyum, "Sepertinya hanya kau yang membenci 'duplikat' dari kakak? Kau menyukai kakakku, tapi membenci duplikatnya?"

"Heh, jangan samakan dirimu dengan Mitachi! Kau itu kurang ajar!" kata Naruto kesal. Mitachi adalah gadis yang tenang, pendiam dan anggun. Tidak seperti laki-laki yang pendiam dan mulutnya kurang ajar seperti Sasuke!

"Aku tidak berbicara tentang Mitachi, Dobe."

Wajah Naruto mengeras, dan matanya terbelalak. Sungguh, Naruto membenci Sasuke! Ia selalu bisa membuat tulang di tubuhnya menjadi linu hanya dengan berpikir, dan bodohnya ia juga selalu memikirkan perkataan Sasuke.

Buh… Naruto tertawa terbahak-bahak hingga matanya mengeluarkan air, "Kalau bukan Mitachi, memang siapa lagi? Sejak kapan kau punya kakak lainnya, Teme!" Naruto benar-benar tidak paham cara Sasucker berpikir. Apa orang jenius itu seperti memiliki selulit dikepalanya yang hebat itu ya?

Kini giliran Sasuke yang terdiam, alisnya sudah dikernyitkan dan terdapat tanda tanya besar dari wajahnya yang biasanya dingin tanpa ekspresi itu, sambil perlahan bangkit dari kasur Naruto, "Kau… kau berlebihan Dobe, kakak! Kakakku! Kakak kembarku…" Ia melihat wajah Naruto yang sepertinya kebingungan itu, Naruto tidak ingat kakak kembarnya? Atau ia pura-pura tidak ingat? "Kau…tidak ingat tentang orang yang kau su-…"

'Blakkk' pintu kamar Naruto tiba-tiba terbuka, Ino masuk kekamarnya, "Naruto! Kau sudah lihat tele…vi…." Dan matanya bertemu dengan Sasuke yang terkejut dengan kedatangannya, "Sasuke?"

"Hn…" Sasuke kembali menatap Naruto yang memalingkan wajahnya pada Keponakannya.

"Ino-Pig! Kan sudah aku bilang kau tidak boleh masuk ke kamarku seenaknya!" seru Naruto kesal dengan perbuatannya, Ino memang terbiasa masuk kekamar Naruto dan berbuat sesuatu yang menyebalkan (seperti menyimpan benda-benda buruk –manga yaoi :p - agar tidak diketahui teman-temannya).

Ino menggebrak meja Naruto, "Kau bilang apa Naruho! Selama aku lebih tua darimu, aku boleh melakukan semua hal yang kusukai terhadapmu! Baka!"

'Pik' urat emosi di wajah Naruto sudah muncul. Biasanya perkelahian mereka akan direlai oleh Tsunade atau Shizune, semenjak keduanya berada entah berantah. Kemungkinan akan ada hal yang hancur di rumah itu.

"Kau pikir kau siapa! Bisa seenaknya padaku!"

"Tentu saja! Naruto, Aho! Kau kan pembantu ku!"

"Jangan seenaknya saja, Ino-Pig!"

"Naruho!"

Mereka berdua terus perang mulut. Sasuke melirik Naruto dan Ino secara bergantian, dan mulai tidak nyaman dengan pertengkaran mereka berdua. Bukan kah aneh? Ino… seharusnya lebih memperhatikan dirinya dari pada Naruto, dan mengatakan Naruto bisa diapakan saja sesuka dirinya itu… sedikit banyak mengganggu dirinya (entah bagian mana).

"Ehem…" Sasuke mulai mencoba melerai mereka, dan kedua saudara itu hanya meliriknya sesaat dan kemudian kembali bertengkar, "Er… memangnya ada berita apa di televisi?"

'Bukkkhhh…' pertanyaan Sasuke bersamaan dengan mendaratnya tendangan di kaki Naruto. Naruto terjatuh kelantainya yang dingin sedangkan Ino mengalihkan perhatiannya pada Sasuke.

"Ah… Sasuke-kun… sejak kapan kau ada disini?" dan Ino sebisa mungkin berpura-pura tidak melihat Sasuke.

Sasuke memutar bola matanya, padahal tadi Ino sudah sempat menyapanya, "Hn… sejak tadi. Ada apa ditelevisi?" katanya singkat, dan melirik Naruto yang mengusap kakinya sembari mengerang kesakitan.

"Ada kecelakaan, di Tokyo! Kami tidak bisa menghubungi Tsunade-baasan atau Mitachi-san!" katanya dengan panik setelah mengingat apa yang akan dikatakannya pada Naruto, "Aku takut kalau mereka menjadi korbannya."

Bukan hanya wajah Naruto yang tiba-tiba memucat, tapi wajah Sasuke yang putih pucat itu pun menjadi semakin pucat. Ia langsung merogoh kantongnya dan mendapatkan ponselnya. Ia menghubungi kakaknya.

Naruto berdiri dan ingin mendengarkannya juga hingga Sasuke membentaknya, "Gunakan ponselmu, Dobe!"

Saat itu Naruto terlalu panik, jadi ia langsung menuruti perkataan Sasuke. Diambilnya handphonenya dan menghubungi neneknya, "Baa-chaaannn! Ayo angkat! Angkat! Jangan mati Baa-san."

Ino melihat saudaranya yang panik, dan kemudian kepalanya, "Naruho, jangan berkata seperti itu!"

Tiba-tiba Sasuke menutup ponselnya. Kedua saudara berbeda nama keluarga menatapnya. Sasuke memasukkan kembali ponselnya ke kantongnya, "Percuma, saat ini pasti ada banyak orang yang ingin memastikan kakak atau Tsunade-san selamat, jadi menelpon mereka saat ini pun percuma."

Perkataan Sasuke memang masuk diakal. Naruto ikut-ikutan mematikan ponselnya. Duckbutt-Prince itu akhirnya beranjak keluar dari ruangan setelah ia merasa suntuk diruangan yang tenang itu.

"Tidak ada gunanya berdiam diri, lebih baik kita melihat berita, dan memastikan kalau nama kakak dan Tsunade-san tidak ada dalam daftar korban." Sasuke melirik Naruto yang sudah mengangkat wajahnya.

"Kau benar juga, Teme! Tunggu aku!" dan ia berlari mengejar langkah panjang Sasuke.

"Kapan aku pernah salah?"

"Hish! Kau terlalu sombong!"

"Itu kenyataannya, Do-…"

Keduanya sudah tidak terlihat dari pandangan Ino, dan suara pertengkaran mereka sudah tidak dapat didengar dengan jelas. Ino terpaku melihat keduanya bertengkar sambil keluar kamar seperti itu. Ia sudah tahu kalau mereka memang selalu bertengkar dan entah kenapa terlihat seperti membenci satu sama lain, walaupun ia tahu pada saat yang sama mereka itu adalah saingan (perhatian Mitachi-sepihak dari Naruto). Tapi ia juga tahu kalau hanya Naruto yang mampu mendekati Sasuke sampai seperti itu.

Bahkan mereka berdua melupakan Ino?

"Huh… dasar mereka…" katanya sambil merebahkan diri dikasur, ia melihat manga yaoinya, "Aaaa… ini manga-ku,,, sudah lama sekali… kucari-cari ternyata ada disini, dasar Naruto! Awas saja nanti!"

"Kecelakaan di jalur utama Tokyo km 45 sampai saat ini memakan korban hingga 17 orang. Satu bis berisi 34 anak-anak dengan 3 orang dewasa didalamnya penyebab utama kecelakaan ini terjadi. 11 anak dan 1 orang tewas ditempat serta 25 orang lainnya luka-luka. Selain itu kecelakaan ini juga terjadi pada mobil yang ditabrak bis sekolah dengan 2 korban tewas ditempat, dan 4 korban lainnya meninggal dalam perjalanan rumahsakit. Belum ada laporan baru mengenai jumlah korban yang meninggal dalam kecela-"

'pip'

"Teme! Jangan kau gonta-ganti channelnya terus!"

Sasuke melirik Naruto yang duduk di lantai tepat dihadapan televisi sedangkan dirinya duduk dengan santainya di sofa. Tidak santai, sedikit panik sebenarnya, tapi tidak mungkin ia memperlihatkan kepanikannya dihadapan si Dobe. Ia benci terlihat lemah dihadapan rival (dalam berkelahi, karena mustahil soal 'otak')-nya itu dan inginnya ia bisa selalu diandalkan oleh banyak orang khususnya si Dobe. Terlihat kuat, dan bisa diandalkan, huh?

"Teme!"

'Slumph'

Tangan Naruto menyenggol lengan Sasuke. Laki-laki berambut gelap itu melirik kearah Naruto. Ia melihat mata biru yang dipenuhi dengan rasa khawatir. Rupanya ia sebegitu khawatirnya kah dengan kakaknya yang perfect itu? Dan tanpa ia sadari, perasaan 'geli' yang ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang menggusar didalam dadanya.

Pertanyaan yang muncul dalam hatinya, 'Hei, Naruto… bagaimana kalau orang yang terjebak kecelakaan di Tokyo itu, Aku? Apakah, mata birumu itu akan sekelam saat ini?' huh…

Alis Naruto terangkat sebelah, dan ia kebingungan. Tangannya menepuk- nepuk lengan kiri Sasuke, "Hei, Teme kau kenapa?" dan Sasuke tidak juga berhenti tertawa. Ia menertawakan dirinya sendiri yang mengharapkan si Dobe, tetangganya, rivalnya, kalau kakaknya Mitachi hilang kesadarannya atau si Dobe tetap mengejar kembarannya bisa jadi suatu hari nanti Naruto akan menjadi ip-

'tap'

"Panasmu sudah turun, Teme…"

Waktu seakan terhenti, didahinya tanpa dihalangi oleh apapun. Napasnya terhenti saat mata berwarna biru menatap fokus pada kegelapan dimatanya. Nafsu. Gairah. Desire…. Atau Lust… menyelinap masuk kekulitnya. Seakan memburunya dan ingin mengecup hidung serta bibir dihadapannya. Bibir yang merengut karena kebingungan.

Mata itu berkedip lagi, dan perlahan diangkatnya, dengan hati-hati. Sampai sini Sasuke masih terdiam seperti orang bodoh. Ada yang hidup diantara kematian dan kemunafikan. Lust. Lust. Lust. Begitu pikirnya. Sejak kapan Naruto terlihat edible seperti saat ini. Dulu waktu kecil ia selalu benci kalau kembarannya mencium dahi Naruto sebelum tidur. Seakan-akan ingin berteriak, 'Hei Nii-san! You're Soooo Geeeeeeeeeei!'

Dan lihat sekarang, andaikan Naruto tidak bodoh. Ia pasti tahu kalau Sasuke sedang 'lapar'. Hitamnya mata itu tak menghentikan kebodohan Naruto yang sudah memalingkan wajahnya dan bergumam sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Sasuke. Tidak seperti yang dikira banyak orang (termasuk para pembaca), wajahnya tidak merah. Ia hanya seperti orang bosan yang menunggu Sasuke keluar dari lamunannya.

'Pip', Naruto kembali mengganti channel televisi berkali-kali hingga ia menemukan berita kecelakaan itu lagi. Sasuke pun memalingkan wajah kearah televisi, tidak menghiraukan kejadian yang barusan. Jujur ia sedikit kecewa karena Naruto tidak mengkhawatirkan keadaan 'anehnya'. Mungkin ia memang sakit karena menginginkan Naruto khawatir padanya. Apakah aneh, menginginkan seseorang untuk mengkhawatirkan dirimu?

"-rikut nama-nama korban: Aomine Ryouta (5), Aikichi Mei (6), Akiharu Miyu (5), Asuka Seichiro (45), Okumura Yukiorin (15), Eiichi Makoto (24), Fujiwara Hikaru (6), Hitachiin Hikaoru (17), Harumiya Kyou (5), Heiwajima Izaya (25), Kagami Tetsuya (6), Tsukahara Yuki (15), Kiyoshi Junpei (21), Murasakibara Akashi (5), Saseme Naruke (5), Rivaille Eren (28), dan Roy Edward Elric (27), Kepolisi-"

'pip', dan Naruto melirik Sasuke kembali, "Temeeee…" geramnya karena rivalnya itu mematikan televisi dengan mencabut kabel televisi, "Kau tidak boleh mencabut begitu saja!"

"Hn…" gumamnya dan melenggang pergi kembali ke kamar Naruto. Ia ingin tidur, tapi tidak ingin tidur di rumahnya. Naruto mengekor dibelakangnya, dan mengejar Sasuke saat ia melihat laki-laki itu memasuki kamar.

Naruto menarik kemeja Sasuke dari belakang, "Kau mau kemana, Teme!"

Langkah kaki Sasuke terhenti dan ia berpaling menatap Naruto, "Hei, Naruto." Katanya pelan dan seperti tidak bermaksud apapun.

Tangan berkulit kecoklatan tidak juga melepaskan pegangannya, dengan sedikit keraguan ia menatap suara aneh Sasuke. Mungkin Sasuke ingin mengajaknya berkelahi lagi? Atau melakukan sesuatu yang ia benci, pikirnya. Sasuke hanya terdiam dihadapan laki-laki berambut pirang itu.

"Ma-mau apa kau, Uchiha!" katanya terbata.

Tapi Sasuke hanya terdiam, mata hitamnya jarang sekali berkedip. Mereka berdua hanya berdiam diri saling menatap. Naruto memperhatikan struktur wajah Sasuke yang sedikit lebam dipipinya karena bekas pukulannya sebelumnya. Walaupun pukulan yang mengenai wajahnya jauh lebih banyak dari yang ada diwajah Sasuke.

Wajah Sasuke benar-benar mirip dengan wajah Mitachi-san. Perbedaannya mungkin hanya pada rambutnya yang seperti ekor bebek dan sifat mereka saja. ah… dan gender tentunya. Kalau Sasuke adalah perempuan mungkin ia akan secantik dan seanggun Mitachi-san. Cih, ia yakin Sasuke versi perempuan akan tetap jadi seorang Sasuke. Orang yang menyebalkan. Tapi apakah aku akan menyukainya kalau ia perempuan? Mungkin benar apa yang ia katakan, setelah Mikoto-san, dan Mitachi-san, mungkin setelahnya ia akan menyukai Sasuke versi wanita.

Huh, terdengar aneh.

"Kau menyukai apa yang kau lihat, Dobe?" perkataannya menyadarkan lamunan Naruto, "Atau kau sedang mengingat-ingat wajah kakakku? Terakhir kali aku bertemu dengannya, baik struktur tubuh dan wajahnya masih identik denganku, Dobe…" katanya lalu menyeringai melihat wajah kemerahan Naruto.

"Struktur tu-tubuh kalian berbeda, Teme!-" lalu Naruto terdiam, "Jangan-jangan kakakmu seorang crossdresser? Banci kaleeeenggg?" dan wajahnya sudah menyerupai seseorang yang melihat hantu dihadapannya.

"Kau ini bicara apa, bodoh… kakakku, tetap laki-laki dan tidak pernah menggunakan pakaian perempuan seperti kau!"

"Aku tidak pernah menggunakan pakaian perempuan, Teme!"

"Huh? Kau melupakannya? Kau pernah merayu kakakku dengan yukata-"

Naruto menyela perkataan Sasuke, "Mitachi-san bukan perempuan?" hatinya beku, mendengar wanita yang diidolakan dan dicintainya itu adalah laki-laki.

"Eh?" pikiran Sasuke kembali teralihkan, matanya melebar, "Kau ini… aku tidak membicarakan Mitachi, aku berbicara tentang S-"

"Hei, Naruto! Sasuke! Hufh…"

Seseorang menyela perdebatan mereka berdua. Napas yang seakan-akan menampakkan tipisnya oksigen diudara itu menandakan kalau wanita dihadapan mereka baru saja berlari sekuat tenaganya.

"Iya, Shizune-chan?" tanya Naruto, dan Sasuke hanya menatap gadis itu.

Ia tersenyum, sedetik kemudian menunjukkan ponselnya.

"Tsunade-san, Mikoto-san dan Mitachi-san baik-baik saja. Aku baru saja menerima pesan dari Tsunade-san!" Naruto menghembuskan napas leganya dan Sasuke hanya terdiam. Seolah-olah ia memang tahu kalau ibu dan kakak perempuannya baik-baik saja.

"Ada apa?" tanya Ino yang turun dari lantai dua (masih dari kamar Naruto).

Shizune tersenyum pada gadis berambut pirang, "Tsunade-san baik-baik saja, tapi sepertinya baru akan pulang keesokan harinya." Katanya menghembuskan napasnya, "dan…" lalu melirik Uchiha satu-satunya diruangan itu, "Mitachi-san berpesan kalau lebih baik Sasuke-kun menginap disini saja."

"Benarkah!" tanya Ino kegirangan, bukan karena nasib neneknya yang baik-baik saja, tapi karena laki-laki yang ia sukai akan menginap di rumahnya. Ia harus memberitahukan hal ini pada Sakura, dan membuat gadis itu kesal setengah mati. "Iya! Lebih baik kau menginap saja disini, Sasuke-kun! Masakan Naruto sangat enak lho!"

"Diam kau, Ino-pig!"

Laki-laki berambut hitam itu melirik Naruto, alisnya sedikit terangkat walaupun tidak ada ekspresi yang muncul diwajahnya. "Kau bisa memasak, Dobe?" tanyanya.

Andaikan saja, Naruto bukan tetangganya, ia pasti tidak akan tahu kalau Sasuke sedang terkejut. Ia mencubit Ino, dan gadis pirang yang lebih tinggi darinya itu memukul kepala Naruto.

Sasuke dan Shizune hanya melihat mereka berdua bertengkar entah tentang apa. Naruto tidak terlihat sedih dan kesepian seperti saat ia sedang berada disekolah. Mungkin si Ino dihadapannya ini sudah seperti kakak bagi Naruto. Yah… setahu Uchiha, Ino itu memang sepupu Naruto.

"Mereka seperti kakak adik ya…" kata Shizune perlahan dan dijawab 'Hn…' oleh Sasuke sebagai rasa setujunya. "Awalnya Tsunade-san khawatir saat ia akan dititipkan kekeluarga kakak dari ibunya itu. Mengingat hubungan Kushina dan Mito tidak seakur Kushina dengan Mikoto-san."

Anak laki-laki yang lebih tinggi dari perempuan disampingnya itu mengetahui alasan kepindahan Naruto mengikuti keluarga Yamanaka-san. Saat itu, Naruto kecil terlalu sedih untuk mengingat kedua orang tuanya yang meninggal, dan hubungannya dengan kakak kembarnya hancur karena dirinya. Seringai kecil muncul disudut bibirnya saat ia mengingat kejadian lebih dari 10 tahun lalu itu.

"Tapi sepertinya kekhawatiran Tsunade-san tidak berlebihan. Karena entah kenapa Naruto malah tumbuh menjadi anak nakal yang suka sekali berbuat onar dan berkelahi seperti ini." gadis itu menghembuskan napasnya saat ia melihat Naruto di'kunci' lehernya oleh Ino dan melirik Sasuke, "Maafkan sifatnya yang suka sekali berbuat onar itu Uchiha-"

"Naruto tidak melakukan hal yang salah." Kata Sasuke memotong ucapan Shizune.

"Huh?"

"Ia hanya menjadi dirinya sendiri, sayang sekali orang lain tidak ada yang mengerti hal itu." Dan berjalan mendekati Naruto, lalu ikut menendang kaki Naruto.

Wanita berambut coklat itu tersenyum melihat Naruto marah-marah karena menjadi korban kekerasan. Sepertinya ia butuh banyak plaster untuk tubuh Naruto. Rupanya anda benar, Tsunade-san… Naruto dan Ino-chan memang lebih baik keduanya dibawa ke kota kecil ini. Yomiyama… ditempat kecil ini, mereka terlihat jauh lebih dekat dari sebelumya… pikir Shizune.

"Naruto, malam ini aku mau Sukiyaki!" teriak Ino yang masih memiting kepala Naruto, "Atau kau tidak akan kulepaskan!"

"Pig! Pig! Pig! Kau pikir siapa kau!"

"Ha! Bukan kah jelas aku ini Ojou-sama! Diam dan ikuti perintahku, DObe!" kata Ino mengikuti ucapan Sasuke.

Alis Sasuke terangkat sedikit, sebenarnya ia ingin komplain. Panggilan Dobe itu hanya boleh diucapkan olehnya untuk Naruto.

"Ojou! Ojou! Jangan bercandAAAAAAAAA sakitttt! Lepaskan!"

Sasuke duduk disalah satu kursi meja makan menatap Naruto 'memasak', Ino berada disampingnya membantunya memotong sayuran, dan Shizune-san kembali menjaga klinik kecil mereka. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa Naruto bisa memasak. Melihat kedua orang berambut pirang sedang memasak itu aneh. Seperti melihat istri dan anak gadisnya yang sedang memasak. Sedangkan suaminya, duduk dengan secangkir kopi dan koran ditangannya. Keluarga kecil yang berbahagia.

Ehem. Maksudnya, istri dan anak laki-lakinya memasak…errrr….

Kalau dilihat-lihat wajah Naruto memang sedikit girly, mungkin karena struktur wajahnya mirip dengan Kushina-san yang cantik itu. Gadis mengerikan luarbiasa kalau ia sedang memarahi anak satu-satunya. Sasuke mana mungkin melupakan kawan baik ibunya itu. Lalu Minato-san, laki-laki yang tenang dan ramah…

Hei, Naruto… andaikan kedua orang tuamu masih hidup. Senyummu pasti akan lebih lebar dari saat ini kan? Sama seperti saat kau menemui Niisan dan Neesan. Mungkin kalau aku meniru perilaku kedua kakakku, kau akan tersenyum padaku? Tapi… pada saat yang sama 'aku' akan menghilang dari hadapanmu.

"Aku baru tahu kalau kau punya minat pada pantat laki-laki, Sasuke?" sindir Naruto yang mendapati Sasuke melamun melihat punggungnya. Ino hanya melirik dan kembali menyiapkan bumbu yang diminta Naruto.

Sasuke melihat senyum Naruto, bukan senyum tiga-jari-seperti-orang-bodoh miliknya, tapi sungguhan tersenyum. Mata berwarna hitam terbelalak, dan pisau ditangan Naruto sudah diletakkan diatas meja. Ia mengayun-ayunkan tangannya dihadapan Sasuke.

"Kau sakit, Uchiha."

Sakit? Aku.. aku tidak sedang sakit… lalu ia mengingat demam kecilnya beberapa saat lalu, ah… iya.. dirinya memang sedang sakit.

"Heelllloooo? Ada orang dikepala pantat-bebek-Uchiha?" tanya Naruto sedikit khawatir. Uchiha terdiam atau mengacuhkannya itu biasa tapi melamun dan kepalanya kosong itu seperti tanda-tanda kecil akan datangnya kiamat.

Dan Sasuke berpikir kalau Naruto mengkhawatirkannya, lalu sebelumnya pun tersenyum padanya. Naruto, laki-laki yang membenci dan dibencinya.

'Plek'

Wajah Sasuke menatap mata biru yang memang terlihat khawatir. Tidak hanya sepasang sudah ada dua pasang mata biru yang menatapnya. Terasa panas pipinya memikirkan Naruto kembali menyentuh wajahnya, sampai ia sadar kalau itu tangan orang lain.

"Sasuke-kun… wajahmu sedikit hangat."

Ia menampik tangan Ino yang terkejut melihat ekspresi aneh Uchiha. Sasuke berdiri dan berjalan keluar bergitu saja meninggalkan dua orang berambut pirang dalam keadaan kebingungan karena sikap abstraknya.

Diluar dapur, Sasuke mengusap-usap kembali wajahnya. Tidak pernah ia merasa sejijik itu dipegang oleh seorang wanita. Ia menampar wajahnya sendiri agar ekspresi anehnya hilang.

Naruto kembali menggenggam pisaunya, "Bukankah wajahnya aneh?"

Ino mengangguk mendengar perkataan saudaranya, "Ia seperti kesal, terkejut, kebingungan dan… tersipu malu pada saat yang sama."

Mata biru yang jauh lebih indah dari yang satunya melirik pintu dapur, "Malu-malu? Seorang Uchiha malu-malu? Mungkin ia sungguh sakit."

Diam-diam Naruto menghindari pemikirannya sendiri, 'Sasuke tersipu malu karena disentuh Ino?'. Ia tidak mungkin mengartikan rasa sesak diantara perut dan dadanya itu sebagai cemburu. Itu pasti karena lapar. Iya… dirinya sedang lapar.

"Naruto?"

"Ah… iya…"

"Ini, tahu-nya…"

Ia mengambil potongan tahu berbentuk dadu dari tangan Ino dan memasukkannya ke panci sambil mengaduk-mengaduknya. Sejak kapan ia melamun?

"Aku tidak percaya kalau kau benar-benar bisa masak, Dobe."

Naruto tersentak kembali mendengar suara yang dibuat sedikit parau oleh Sasuke. Makan malam yang gaduh, terutama Sasuke dan Naruto. Walaupun menurut pandangan Sasuke, Naruto sedikit murung. Ingat, kau makan semeja dengan orang yang kau benci. Tentu kau akan murung.

Sup Miso, dan ikan. Makan malam standar bagi orang jepang. Tapi masakan Naruto memang ehem… sesuai dengan standar minimal Uchiha. Tidak mengecewakan, dan sebelumnya Ino meminta Sukiyaki pada si Dobe ini artinya si Dobe memang pandai memasak. Ia merebahkan dirinya di kasur, matanya bertemu dengan tatapan tajam Naruto.

"Kenapa harus kau yang diatas kasur dan aku yang menggunakan futon!" bentaknya membanting bantal yang ia ambil dari kamar neneknya.

Sasuke meliriknya kebosanan dan memalingkan tubuhnya agar membelakangi Naruto. Laki-laki berambut pirang itu semakin kesal, "Temeeeee!"

"Hn… sudah malam, tidur, Dobe."

"Itu kasurku!"

Awalnya Naruto tidak (yang akhirnya) setuju kalau Sasuke tidur dikamarnya. Sasuke tidur di kamar Tsunade itu terasa aneh menurutnya. Dari pada ia tidur di sofa, atau dibahkan dikamar Ino (walaupun Ino tidak menawarkan dirinya, tapi bisa dilihat dari mata yang berkilau-kilauan itu), akan terasa jauh lebih hangat kalau Sasuke tidur dikamarnya. Ketika Naruto mengeluarkan ektra futon dan menggelarnya disamping kasurnya, Sasuke dengan santainya melenggang naik keatas tempat tidur Naruto dan kini suara dengkuran sudah terdengar perlahan. Walaupun sebenarnya Sasuke tidak mendengkur.

Urat amarah Naruto sudah muncul dikepalanya, dan kakinya sudah siap menendang Uchiha jatuh dari kasurnya. Berhubung Uchiha menghadap dinding dan sedang sakit (padahal dirinya juga sedang sakit), akhirnya ia mengalah dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Sasuke.

Lebih baik ia berbagi kasur dengan Sasuke dari pada ia tidur di kamar nenek tua itu. Tidak ada yang tahu jebakan apa saja didalamnya dan Naruto memilih jalan yang dikiranya lebih aman. Tidur di samping Sasuke dan melupakan futonnya.

Sasuke sedikit terkejut saat ia merasa ada punggung yang menempel dipunggungnya. Hangat tapi juga panas pada saat yang sama. Ditempat yang sempit seperti ini, ia membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Naruto. Ia kesulitan tidur dengan lampu kecil yang ada di sudut kamar dan cukup untuk menerangi ruangan. Walaupun cahanya redup, cahaya tetaplah cahaya. Apalagi kamar Naruto yang dipenuhi warna-warna mencolok.

Hish, dasar Dobe penakut… pikirnya. Sasuke tahu kalau Naruto takut dengan hal-hal berbau horror, setiap kali Ia menginap dan tidur diranjang kakak kembarannya (yang satu kamar dengannya). Lampu kamar mereka pasti akan dinyalakan. Dasar Dobe, habbit die hard. Kalau sudah begitu, biasanya ia akan pergi keluar dan menyelinap tidur dengan Mitachi atau kedua orang tuanya bahkan di sofa.

Ia masih ingat, saat tubuhnya tidak lebih dari 120 cm. Kecil dan kurus berdiri disamping tempat tidur tingkatnya. Pagi hari, ketika Naruto-bola-kuning-kecil itu menginap pasti ia akan melihat kakaknya berdekapan dengannya di kasur yang paling bawah (Sasuke di atas). Seperti sedang memeluk boneka yang lama ia inginkan, walaupun ia tahu Uchiha tidak memeluk boneka bahkan Mitachi sekalipun. Sasuke kecil yang kesal melihat adegan mesra dan menyebalkan baginya itu akan menarik selimut yang melingkupi keduanya. Lalu membuangnya keluar jendela, dan membiarkan jendelanya terbuka. Ia akan semakin bahagia kalau keduanya sakit setelahnya, sayangnya si Dobe terlalu bodoh untuk sakit (katanya orang bodoh tidak akan masuk angin?).

Laki-laki bermata kelam itu masih menatap punggung Naruto. Pertanyaannya yang muncul saat ia mengingat masa kecilnya itu adalah 'kenapa kakak tidak pernah sakit, atau kedinginan di ruangan yang jendelanya terbuka saat musim dingin tanpa selimut atau penghangat ruangan?' ia lalu mengingat betapa hangatnya punggung Naruto, dan menyelinapkan tangannya kepinggang Naruto, kemudian mendekap tubuh yang sedikit lebih pendek darinya itu.

Senyum kecil mengembang di bibirnya saat ia menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.

Hangat.

Lalu ia menutup kedua matanya, menggeser kepalanya dan menyelinap kerongga diantara leher dan pundak Naruto. Ia menciumi bau Naruto yang anehnya tidak tercium bau jeruk. Hanya bau Naruto.

"Ngghh… Kenapa ada tangan?"

Suara Naruto memecah keheningan malam, dan Sasuke hampir saja memukulnya lalu membisikinya untuk kembali tidur. tapi tidak mungkin ia lakukan, karena akan mempermalukan dirinya sendiri kalau Naruto tahu ia sedang 'sadar' memeluk Naruto. Hish, ia memang sakit.

Naruto mengangkat tangan itu dan membalikkan kepalanya. Ia melihat wajah tidur (pura-pura) Sasuke dan menghembuskan napasnya. Di dalam ruangan yang redup, Naruto paham kalau yang memeluknya adalah Sasuke. Tapi ia anggap lalu, mengingat udara dingin dan Sasuke sedang sakit. Ia kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Sasuke dan menarik selimutnya sampai ke pundaknya.

Ia tidak pernah memiliki ingatan dipeluk oleh seseorang saat ia tidur, kecuali oleh kedua orang tuanya saat mati lampu. Bukannya ia mempermasalahkannya, tapi… yang memeluknya adalah Sasuke! Sasuke! Kalau Mitachi…er…. Wajahnya memerah, mengingat gadis pujaannya itu. Hormonal teenager.

Orange-boy tidak sadar kalau Sasuke membuka kedua matanya dan menyeringai. Ia tidak tahu kalau Naruto 'menikmati' pelukannya. Bahkan tubuhnya secara alami mencari kehangatan dari Sasuke. Dobe…seringainya. Lalu ia kembali mengingat kalau Naruto seakan-akan tidak tahu kalau Sasuke memiliki kembaran. Yap, ia memang memiliki kembaran yang tinggal di Tokyo dengan ayahnya. Pewaris Uchiha corp. Bukannya ia gila harta dan kesal karena posisi tertinggi akan dimiliki kembarannya. Ia hanya tidak peduli dengan perusahaan ayahnya. Kalaupun ia menyelinap ke perusahaan itu dan berpura-pura sebagai kembarannya, siapa yang akan tahu?

Tidak ada yang akan tahu, karena mereka berdua sangat mirip. Bahkan mungkin Naruto pun tidak akan menyadarinya, karena si bodoh ini sudah lama tidak 'mencium' bau tubuh kakaknya, ia pasti akan lupa sekalipun ia bertemu dengan kakaknya. Atau kalau ia tiba-tiba tersenyum dengan ramah dan mengatakan ia kakak kembarannya. Naruto yang bodoh tidak akan tahu.

Matanya tiba-tiba terbelalak diredupnya ruangan. Mungkin itu pula alasan Naruto membiarkannya memeluknya dalam tidur… karena secara alami tubuhnya menerima dekapan Sasuke mengingat betapa identiknya si kembar Uchiha. Bukan karena ia adalah Sasuke, tapi karena ia kembaran dari kakaknya.

Ha…ha… rupanya begitu. Inginnya tertawa, tapi… entah kenapa ia malah merasa sangat kesal.

"Hei, Dobe."

Ia tahu Naruto tersentak dan berusaha membalikkan tubuhnya. Namun ditahan untuk tetap berada ditempat oleh Sasuke.

"Aku tidak tahu kalau kau benar-benar menjurus kesana. Yah… walaupun aku tahu semenjak kau selalu mengekor pada kakakku, kau itu tidak selurus pemikiranmu."

Naruto bergerak dengan gelisah, "Ap-apa yang kau katakan, Sasuke! Kau yang memelukku, bodoh!"

"lalu kau menerima kupeluk."

Ia tahu Naruto menelan ludahnya, "I-itu karena kau…"

"Karena kau ingat kakakku, Naruchan?"

"Mi-Mitachi! Aku tidak….membayangkannya." ia berbohong, dan Sasuke tahu.

"Oh… Mitachi, yang kuingat terakhir kali dada Nee-san tidak rata, bodoh."

'Shit!'

Naruto speechless, dan diam tidak bergeming sedikitpun.

"Aku tahu kalau kau punya perasaaan pada kakak kembaranku, Naru-chan. Kalian terlihat sangat gay saat kecil. mungkin kau membenciku karena wajahku seperti Niisan?"

Sasuke masih memeluk Naruto, dan semakin erat untuk membuat Naruto tidak bergeming.

"Aku tidak tahu kau punya kembaran, Sasuke. Bisa tolong hentikan." Katanya sedikit tersedak. Uchiha tidak tahu kenapa Naruto tersedak, dan seperti kesulitan napas. Mungkin ia menderita suatu trauma?

"Masih berbicara seperti itu, Dobe. Aku tidak akan mempermasalahkan kau yang melupakan kakakku." Seringainya, ia paham kenapa Naruto ingin melupakan kakaknya. Sungguh, semuanya itu hasil yang ia inginkan dari hal yang pernah ia lakukan dulu.

"Kalau begitu lepaskan aku, Sasuke! Aku mau tidur!"

"Tadi kau tidak komplain ku peluk…"

Naruto menggeser tubuhnya sedikit, "Sekarang!"

"Karena kau sadar, yang memeluk bukan kakakku?"

Sasuke tahu, wajah Naruto memerah sekalipun dalam kegelapan. Tuhkan! Naruto memang mengarah kesana, walaupun sebenarnya ia tidak tahu kalau Naruto membayangkan Mitachi bukan kembarannya.

Seringainya kembali muncul, dengan suara yang dibuatnya seksi ia berbisik ditelinga Naruto, "Kau tahu… aku sudah lama tidak menyentuh perempuan."

"I-itu bukan masalahku, Teme!" gugupnya, bahkan Naruto tidak pernah menyentuh perempuan sebelumnya. Kalaupun menyentuh itu adalah Ino dan mereka sedang berkelahi.

"Masalahku, masalahmu, atau masalah kita Dobe…"

"Bagaimana bisa itu masalah kita!"

"Kau tahu… ada anak perempuan berambut merah di kelasku, yang sepertinya menginginkanku, Dobe…"

"Bukan masalahku."

Lalu ia terhenti sebentar. Mereka satu kelas itu artinya gadis itu pun di kelas 3-3. Kelas kutukan! Kutukan itu!

"Kau bercanda Sasuke! Kau bisa membangkitkan kutukan itu kalau kau bersama dengan gadis itu, Teme!" erangnya, tapi Ia tidak berteriak, karena kamar Ino disebelahnya. Ino akan memukulnya kalau ia membuat kegaduhan.

"Lalu?" tanya Sasuke yang tahu kalau ia akan memenangkan segala permainan yang dimulainya.

"Kau… kau tidak khawatir dengan…dengan… dirimu dan keluargamu?" wajah Naruto semakin memucat kalau ia sampai kehilangan 'keluarganya' dan orang yang dicintainya saat ini.

"Hn…"

Sasuke melirik kelangit-langit ruangan, dan ia kembali berbisik pada Naruto saat si Dobe tidak berkata apapun, "Hei, Dobe… Kalau kau tidak mau aku tidur dengan anak sekelas kita … kau harus tidur denganku. kalau kau tidak mau kutukan itu kembali dan membunuh banyak orang dikelas kita bahkan termasuk diri kita sendiri dan terutama kakakmu itu dan Mitachi."

Mata biru terbuka lebar. Ia sangat terkejut mendengar perkataan Sasuke. Ti-tidur dengan Sasuke. Melakukan Se-se-se…ks… dengan sesama laki-laki. Ia dan Sasuke?

"Ja-jangan bercanda, Teme!"

"Hn… kau tidak mau Naru-chan?" Sasuke meniup telinga Naruto perlahan. Ia sangat senang karena berhasil membuat si Dobe ini panik. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berhasil mempermainkan si Dobe.

Naruto berusaha melepaskan dirinya dari Sasuke dan bangkit, lalu menampik tangan Sasuke yang masih ada di pinggangnya. Ia berdiri dan wajahnya terlihat sangat terkejut. Sasuke sadar kalau sepertinya ia sudah kelewatan mempermainkan Naruto. Si Dobe terlalu menganggapnya serius.

"Lebih baik aku mati dari pada aku harus tidur denganmu, Teme!" dengan suara rendah yang penuh dengan amarah, Naruto keluar dari kamarnya dan membanting pintunya meninggalkan Sasuke yang masih terkejut melihat ekspresi Naruto yang benar-benar marah.

Ia ingin tertawa karena sepertinya Naruto benar-benar memakan bulat-bulat perkataannya. Tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Matanya pun masih menatap pintu yang tidak tertutup rapat. Telinganya mendengar suara Ino yang marah-marah dan seseorang yang turun dari tangga dengan kesal.

Sasuke terkejut, tidak hanya pada ekspresi Naruto, tapi juga pada dirinya sendiri yang kecewa mendengar jawaban dari Naruto. Seperti terkena batu yang ia lempar sendiri. Ini mustahil, tapi perasaannya itu benar-benar nyata.

'Lebih baik aku mati dari pada aku harus tidur denganmu, Teme!'

Keesokan paginya, saat Sasuke bangun dan bersiap untuk pulang kerumahnya untuk mandi, lalu pergi ke sekolah. Ia tahu dari Ino yang sudah menggunakan make up lebih tebal dari biasanya, kalau Naruto sudah pergi entah kemana setelah memasak sarapan pagi untuk mereka bertiga (Sasuke, Ino dan Shizune).

Ia memakan sarapan paginya yang masih hangat setelah menyikat giginya, itu artinya Naruto belum pergi terlalu lama. Mungkin ke sekolah, dan ia menyeringai mengingat wajah terkejut Naruto. Pada saat yang sama ia pun merasa napsu makannya hilang mengingat perkataan si Dobe pula.

Sebesar itukah ia dibenci?

Bukan masalah baginya dibenci oleh si Dobe. Sama sekali bukan masalah!

"Sa-Sasuke-kun?"

Sasuke melirik tajam gadis dihadapannya yang juga sedang sarapan pagi.

"Ng… kau marah kenapa?"

"Aku tidak marah." katanya singkat dan Ino tahu, kalau Sasuke tidak mau lagi berbicara pada dirinya. jadi, ia pun menghentikan perkataannya.

'Kau menatap tajam apapun yang kau lihat, Sasuke-kun… itu kau bilang tidak marah?'

Ruangan kelas yang ia pikir akan kosong di jam sepagi ini ternyata tidak seperti yang ia duga. Manusia termalas yang pernah ia temukan sedang membaca sesuatu dan menggunting koran di mejanya. Koran, dan beberapa majalah terbuka. Ia terlihat sedikit gelisah. Wajah pemalasnya terlihat gelisah. Aneh sekali, mungkin salah satu member AKB48 kesukaannya keluar, atau meninggal, atau apa.

Naruto duduk di kursinya dan melihat kelangit luar. Ia tidak habis pikir dengan tingkah laku Sasuke. Kalau ia hanya mempermainkannya, itu sangat keterlaluan! Keterlaluan!

Arrrrhhh! Bukan berarti ia menginginkan kalau Sasuke itu serius! Eh! areeee!

Gumamnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sasuke sial! tubuhnya sakit karena semalaman ia harus tidur di ruang praktek klinik neneknya.

'Brak-brak-sraaaakkkk'

Ia mendengar suara kertas dan buku dijatuhkan. Wajahnya sedikit terkejut melihat tingkah laku Shikamaru yang membuang majalah, dan koran-koran yang ada dihadapannya tadi. Sampah, dan guntingan-guntingannya berserakan dilantai. Lalu ia mengambil tasnya dan keluar kelas. Hari itu Shikamaru tidak kembali lagi kekelas. Untuk pertama kalinya si genius itu membolos. Ia memang pemalas, tapi ia tidak pernah membolos. Aneh, padahal tadi pagi ia sudah datang kelas, dan sekalipun tidak ada seorang pun yang bertanya padanya atau marah padanya. Tapi ia tahu anak sekelas sedang jengkel dengan 'sampah' yang berserakan dilantai. Ah… Naruto jadi mengerti kenapa Shikamaru membawa koran-koran dan majalah lalu mengguntingnya di kelas. Agar ia tidak repot-repot membersihkan sampahnya dan orang lain yang mengganggap ini semua tindakan Naruto, tapi tidak mungkin menyalahkannya.

Hoooo… cerdas sekali si pemalas itu, pikirnya kagum.

Naruto terdiam, ada yang aneh…

"Dari mana, ia tahu kalau aku akan datang sepagi ini?" gumamnya.

Hari itu, ia juga tidak bertemu dengan Sasuke. Ia memang sengaja menghindari Sasuke. Tidak keluar kelas dan saat ada kelas yang sama dengan si Teme, ia memilih untuk membolos. Ia tahu Sasuke ada di kelasnya, dan ia pun tidak mencari Naruto… mungkin memang ia hanya dipermainkan oleh Sasuke, dan ia malah terlalu serius menanggapi Sasuke!

Ia merendahkan tubuhnya, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. kalau ia bertemu dengan Sasuke, ia pasti akan diolok-olok habis-habisan oleh Sasuke. Ia membayangkan seringaian Sasuke sambil berkata, 'Kau anggap aku serius, Dobe? Hah! Kau benar-benar bodoh. Siapa juga yang mau dengan dirimu! Tidak pernah melihat dirimu di cermin?'

Naruto menggertakan giginya. Ia merasa kesal dengan khayalannya sendiri. Walaupun ia tidak mengerti kenapa ia bisa sekesal ini.

Hari itu seperti hari biasanya, kecuali Shikamaru yang menghilang entah kemana dan Mitachi yang tidak muncul (bukan berarti Mitachi harus muncul-karena Mitachi masih ada di Tokyo). Ada untungnya juga ia menjadi 'itu' karena ia tidak harus bersih-bersih ruangan. Kiba sudah memaki-maki Shikamaru yang dianggapnya membolos dari tugas piketnya hari itu. Ruangan yang kotor dan si Pemalas itu dianggap Kiba melarikan diri. Kelas yang kosong dan hanya ada mereka bertiga.

Angin berhembus dengan kencangnya, mengibaskan rambut dan tirai kelas saat Kiba membukanya untuk membersihkan kapur pada penghapusnya. Sepertinya akan hujan, karena langit terlihat sangat mendung. Naruto hanya duduk di kursinya walaupun bel telah berdering 15 menit yang lalu. Ia hanya ingin memastikan Sasuke benar-benar sudah keluar dari kelasnya dan pulang kerumahnya. Ia tidak ingin melihat Sasuke. Ia hanya tidak sadar kalau Sasuke pun memikirkan hal yang sama.

Kiba meneriakkan sesuatu seperti ia harus menutup jendela yang sulit ditarik dari tempatnya. Kelas yang hanya terdiri dari 5 orang wanita itu menyisakan, Konan dijadwal piket hari ini. Gadis yang tenang dan pendiam, biasanya ia berada di sisi laki-laki berambut kemerahan di kelas 3.3-1. Kiba, Konan dan Shikamaru, piket hari ini. Satu kelas hanya 15 orang (walaupun dikelasnya ada 16 orang), dari biasanya 30 orang. Pasti kerepotan kalau harus piket. Semenjak ia adalah orang 'itu', Naruto tidak kebagian jadwal piket. Lucky.

Naruto melihat bunga sakura yang kelopaknya terhembus angin. Beterbangan masuk ke kelasnya yang jendelanya masih terbuka karena kesulitan ditutup oleh Kiba. Ia tidak sadar kalau ada sosok yang berdiri di depan pintu kelasnya, karena terlalu sibuk mendengar umpatan Kiba. Konan mendekatinya dan berkata sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Kiba menatapnya dan mengangkat tangannya. Ia mundur memberikan jalan pada Konan untuk menutup jendelanya, tapi angin yang berhembus dan hujan yang turun membuat lantai basah dan licin.

Kiba terpeleset.

Tubuhnya condong keluar jendela.

Mata Naruto terbelalak dan tubuhnya reflek berlari kearah Kiba. Hari itu adalah hari terakhir di bulan April. Dimana kutukan itu akan dimulai. Jangan-jangan… Sasuke…

'Brakkkkkkgggggggghhhhh!'

Suara yang terjadi karena terbenturnya tubuh. Naruto terhenti, ia tidak sanggup melangkah lagi, matanya terbuka lebar melihat hal yang dihadapannya. Kiba-Kiba… dan Konan menutup kedua matanya. Ia bisa melihat ekspresi terkejut gadis pendiam itu.

"Apa yang kau lihat, Naruto! Bantu aku mengangkat Inuzuka!" bentaknya.

Naruto terbangun dari kagetnya dan berlari kearah Sasuke untuk membantu mengangkat Kiba. Kiba selamat, Sasuke berlari dari pintu saat tubuh Kiba condong. Gerakan yang sangat cepat, bahkan Konan yang disampingnya saja terkejut Kiba akan jatuh dan tidak sempat melakukan apapun.

Suara erangan Kiba mungkin terdengar ke kelas yang sebelah, dan laki-laki berbadan besar, seingatnya bernama Akimichi Chouji muncul. Ia membantu Konan untuk menariknya kembali. Kiba sudah terduduk di lantai, ia meneriakan sesuatu yang kurang baik. Bahkan Konan menepuk-nepukkan pundaknya. Ia paham, Kiba pasti terkejut, nyawanya hampir saja melayang kalau bukan karena Sasuke dan Naruto. Tapi mereka tidak mungkin mengucapkan terimakasih langsung pada mereka berdua. Jadi, ketiganya (Kiba-Konan-Chouji) meninggalkan Naruto yang terdiam dan Sasuke yang menatap laki-laki disebelahnya, untuk memeriksakannya ke ruang kesehatan.

Tubuh Naruto masih kaku. Hari ini tanggal 30 April… hari terakhir dibulan ini. Kalau saja Kiba, terjatuh dan mati hari ini… mungkin… mungkin… kutukan itu dimulai. Ia tidak sadar Sasuke sudah berdiri dihadapannya.

Sasuke menatap lekat Naruto yang terdiam dihadapannya. Ia ingin melakukan sesuatu padanya. Tapi tiba-tiba teriakan Naruto semalam muncul kembali dan membuatnya kesal. Seringai kecil muncul di sudut bibirnya. Bukankah lebih baik kalau ia melanjutkan apa yang telah ia mulai?

Ia mendekati laki-laki berambut pirang dihadapannya dan membisikinya,

"Tawaranku, masih berlaku Naruto…"

Lalu mengangkat wajahnya seperti orang sombong saat Naruto menatapnya dengan wajah ketakutan luar biasa. Amarah dan rasa pedih yang tidak bisa ia ungkapkan, membuatnya terjatuh dan tubuhnya disangga oleh lututnya. Menunduk, pikirannya kacau. Kiba hampir saja mati dihadapannya. Kematian seseorang, karena kutukan kelas ini kembali. Lalu ia mengangkat wajahnya dan ingin sekali ia memukul wajah sombong orang dihadapannya.

Ini kah yang harus ia lakukan? Agar kutukan itu tidak muncul? untuk menyelamatkan orang yang disayanginya?

Tbc~

….


Saya baru inget bedanya Yaoi dan Shounen Ai. Belum tahu ada Yaoi-nya apa nggak, tapi yang pasti emang Sasunaru. Rated M for the Horror, and Gore… Orang tambahan di animenya itu si Ibu Guru walikelasnya, sekaligus mbaknya si tokoh utamanya itu…ternyata. Btw, satu kelas awalnya 50, tapi kalo di Jepang kayaknya cuma sampe 30 jadi saya ganti. Jumlah kursi dikelas 3.3-1 / 3.3-2 itu 20, dan muridnya 15-16 orang... -_- maaf lama, saya stuck entah di mood atau apa untuk nulis Could it be Love? Sama Hullo Baby, kalo ada yang nunggu, sabar aja… dari dua bulan lalu, baru jadi setengah chapter. Lost my Muse, I think. Walaupun ceritanya udah ada, tapi kalimatnya dan nyusun 'suasananya' yang susah. kalau udah jadi dan kalian baca...mungkin tahu nanti bagian mana yang buat saya 'stuck'... thanks anyway.

Thanks to: madness break (kalo yaoi itu lemon...nggak bisa buatnya sayah), Konno Asuka (yang jelas banyak pembunuhannya, jeng dan intrik), Himawari Wia, Viviandra Phanthom, Sannur, Dei, Kinana (yoroshiku onegaishimasu), Yue-hime, Couphie, Jink 1314, Amach cuka'tomat-jeruk, Yhanie tea 5, Icah he. For review.

btw: alasan kenapa saya nggak pernah jawab satu persatu bukan karena saya nggak mau atau apa, tapi setiap saya baca fic, dan ada yang ngebales panjang bahkan lebih dari ceritanya itu sedikit mengganggu (menurut saya), jadi maaf. terimakasih sekali atas perhatiannya :D. (nggak nyadar dia kalau A/N-nya udah panjang-lol)

...

[SPOILER]

Next Chapter.

The Third Person: Yamanaka Ino

"Kau tahu Naruto mau kemana Shizune-san? Aku tidak tahu kalau Naruto memiliki kekasih? Bukan kah aneh, ini pertama kalinya ia menggunakan jaket hitam kebanggaannya itu di hari minggu., kalau bukan karena ia berkencan?"