EPILOG
.
.
.
.
2 lelaki yang berada di balik pilar lampu jalan besar, terdiam ditempatnya masing-masing. Yang lebih tinggi sedikit, menatap temannya yang berwajah rupawan khas kaukasian didepannya. Sinar matanya menyorotkan keraguan dan sangsi dengan jelas. Ia pun menghela nafasnya perlahan dan panjang.
PUK
"sam?"
Lelaki yang tepat berada dibelakang pilar lampu tersebut tersentak dan langsung mengerjap cepat. Ia pun memutar tubuhnya dan menatap pemuda dibelakangnya.
"hah?"
Pemuda bername-tag Yoo Seonho terlihat salah tingkah saat kawan kentalnya, si rupawan berwajah kaukasian tersebut menatapnya dengan binar bingung.
"lu, gak apa-apa kan, Sam?"
Samuel Kim menatap lamat seonho lalu tak lama mengangguk samar. Hening menyelimuti keduanya. Seonho masih diam. Seakan menunggu jawaban yang paling benar, terlontar dari bibir kawan kentalnya tersebut.
"gua—speechless, seon. Gu—gua—I'm not expect this will be happened"
Seonho mengulum bibirnya sembari mengangguk-angguk kecil. Samuel menyugar surai coklat kayunya dengan wajah pias.
"mereka bukan pacaran lagi, seon. They've been—engaged"
Samuel menyeka wajahnya cepat.
"gila. Gak nyangka gua. Kak daehwi tunangannya pak dongho!" — Samuel.
"gila gak tuh, seon?!" — Samuel lagi.
"anjir. Saingan gua berat amat. Pak dongho, coy. Gila!" — masih Samuel.
"gimana caranya gua ngegebet kak daehwi, kalo saingan gua pak dongho" — masih Samuel, lagi.
"sam"
Samuel akhirnya teralih pada seonho. Pemuda kim itu melayangkan tatapan tanya pada seonho.
"gak bisa, sam"
Kening Samuel berkerut.
"apaan yang gak bisa, seon?"
Seonho memasang wajah –sok, teduhnya dengan tangan yang berakhir pada bahu tegap Samuel lantas menepuk-nepuknya perlahan. Dengan niatan memberikan dukungan untuk sahabatnya tersebut.
"gak bisa lu ngegebet kak daehwi lagi, sam"
Samuel menepis pelan tangan sahabatnya dari bahu. Alisnya hampir menyatu dengan sorot mata yang lebih nyalang.
"kenapa gak bisa? Gak ada yang gak bisa, kalo lu mau usaha! Nothing is impossible, seon!"
Seonho menatap jengah lelaki di depannya lalu menoyor kepala samuel dengan cukup keras. Sehingga Samuel merangkai beberapa makian kasar, terkhusus untuk seonho.
"lu usaha sampe lebaran monyet juga, gak bakal bisa, cuk. Pertama, mereka itu udah tunangan. Kedua, saingan lu itu, sekelas pak dongho. Ketiga, lu gak ada apa-apanya kalo dibandingin sama pak dongho. Keempat dan yang paling penting. Mimpi lu itu ketinggian, buat ngegebet kak daehwi yang jelas-jelas, tunangannya pak dongho"
Ada senyap yang canggung melingkupi keduanya.
"eh, njing. Lu sahabat gua bukan, sih? Kok malah belain pak dongho, bukannya gua?"
Seonho kembali menghela nafasnya sembari menggeleng maklum.
"gua sahabat lu dari jaman make pampers, nyet. Gua bukannya ngebelain pak dongho. Gua cuma mau nyadarin lu, sam. Gua segitu baiknya sama lu, lu masih suudzon sama gua? Sampis emang lu, sam"
Samuel masih menatap seonho dengan tajam. Seonho pun mendekat lantas merangkul Samuel dan menariknya untuk melangkah bersama.
Menuju minimarket yang tadi didatangi oleh daehwi dan dongho, dimana mereka mengetahui sebuah rahasia besar yang sudah bisa dipastikan, akan menggemparkan seluruh isi sekolah jika mulut mereka seringan guliran kapas.
Tapi nyatanya, mereka adalah pemuda jantan yang tau martabat mereka sebagai lelaki. Mereka tidak akan mengatakan apa yang baru saja mereka saksikan, pada siapapun. Hal itu secara tak langsung, telah mereka camkan dalam otak masing-masing.
Ya, walaupun mereka punya niatan untuk bertanya langsung pada daehwi jika ada kesempatan bertemu nanti.
"tapi kan, seon. Gua udah sayang banget sama kak daehwi. Udah terlanjur cinta ini hati sama dia, seon. Kenapa juga, tunangannya kak daehwi mesti pak dongho?"
Seonho menoleh. Alisnya terangkat satu. Sesungguhnya, dirinya tidak mengerti apa yang ingin samuel bahas saat ini.
"lah? Emangnya kenapa?"
Samuel menatap seonho dengan binar polosnya.
"kalo sebangsal pak taemin kan, gua masih ada keyakinan, seon. Gua bakalan bisa nikung, kalo gua usaha terus-terusan. Nah ini? Pak dongho, cuk. Gua juga takut, kalo nikung pak dongho mah. Bisa mental pulang kampung ke los angeles gua, kena high kick-nya pak dongho"
Seonho menatap datar Samuel. Ia mengkesah panjang setelahnya dengan gelengan mafhum yang samar. Sepertinya, hari minggu nanti ia akan ikut pergi ke gereja bersama sang nenek. Supaya Samuel secepatnya tersadar dari keterpurukannya atas kisah kasih cintanya dengan si kakak kelas yang terlanjur kandas, bahkan sebelum sempat untuk berkembang.
.
.
.
END
Epilog yang tidak berfaedah sungguh.
Maafkan jika muel saya buat rada-rada disini.
Untung seonhonya masih rada bener.
.
.
.
BYE!
