Pale Boy
Genre :
Angst, Drama
Rating :
T/PG
Pairing :
Secret!Pairing
Suga-Centric
Character :
All BTS ' members
Others K-Pop idols as cameo
Warning :
Yaoi/Boys-Love/Slash/Homosexual
Anxiety, depression
Typo '(s)
Disclaimer :
Fan fiksi ini dibuat murni hasil pemikiran dari saya sendiri. Suatu kesamaan cerita, tokoh, tempat serta waktu dalam fan fiksi ini adalah ketidaksengajaan.
Enjoy.
Author POV
Hujan lebat tampak mengguyur kota Seoul sedari pagi buta. Suasana yang seharusnya sangat mendukung untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur, menikmati sejuknya udara hujan, namun tampaknya hal itu tidak berlaku untuk kebanyakan orang di Seoul. Justru jalanan di Seoul terlihat semakin padat. Kendaraan dan manusia berlalu lalang dengan tujuan mereka masing-masing.
Di tengah kesibukan yang begitu mencolok, tampak seorang laki-laki muda duduk termenung di kursi ayunan suatu taman. Taman yang kosong mengingat hari masih pagi buta, ditambah dengan hujan yang lebat.
Laki-laki muda itu tampak santai dengan pakaian kaos hitam, ditutupi hoodie hitam serta celana training putih lengkap dengan sepatu converse hitamnya. Jika seseorang perduli untuk melihat kearahnya, mungkin mereka akan berfikir bahwa laki-laki muda ini tengah beristirahat sesudah jogging. Namun, mungkin mereka juga akan berfikir kalau laki-laki muda ini gila. Siapa yang akan jogging ditengah guyuran hujan seperti sekarang ini?
Tapi, siapa perduli? Toh, semua orang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Di Seoul, seseorang yang sibuk memperdulikan orang lain tidak akan bisa bertahan. Semakin kau egois, maka posisimu akan semakin kuat. Untuk apa memperdulikan orang lain, diri sendiri adalah yang terpenting, bukan?
Laki-laki muda itu masih tampak asik terduduk di kursi ayunan tanpa memperdulikan tubuh dan pakaiannya yang mulai basah. Ia tetap asik menundukkan kepalanya entah apa yang ia lakukan. Ia tampak asik dengan dunianya sendiri.
Sebuah bunyi langkah kaki perlahan mulai terdengar mendekati laki-laki muda itu. Namun, ia tampak tetap tenang dan enggan untuk mengangkat kepalanya. Ia terus menunduk meski suara langkah kaki itu tampak terus mendekat, mendekat dan mendekat.
Sampai pada akhirnya langkah kaki itu terhenti tepat di depan laki-laki muda itu. Langkah kaki yang juga menghentikan guyuran hujan pada tubuh laki-laki muda itu.
"Apa kau baik-baik saja?" sebuah suara lembut namun dengan aksen yang khas menyapa telinga laki-laki muda itu.
Laki-laki muda itu mengangkat kepalanya pelan. Ia menatap lurus sang penganggu ritual pagi harinya. Seorang pemuda dengan rambut oranye terang, berjas serta mengenakan payung putih. Tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, ia kembali menundukkan kepalanya. Sebuah usiran halus tanpa kata.
Pemuda yang merasa diacuhkan itu pun kembali bersuara, kini dengan volume yang lebih keras.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan pertanyaan yang sama.
Laki-laki muda itu tak menghiraukan. Ia tetap terdiam menatap sepatu converse hitamnya. Mereka berdua tetap terdiam, masing-masing pihak menunggu reaksi dari yang lain. Sebelum pemuda itu kembali melayangkan pertanyaan, sebuah suara ponsel diantara mereka memecah keheningan.
Laki-laki muda itu berdiri pelan, lalu merogoh saku celananya. Tanpa melirik pemuda berambut oranye itu, ia hanya mematikan ponselnya lalu berlalu meninggalkan pemuda berambut oranye yang masih terdiam menatap kepergian laki-laki muda itu.
Seoul International University 9:00 AM
Seorang pemuda dengan rambut oranye terang tampak masuk ke kelasnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia melap keringat di dahinya pelan sebelum tersenyum bangga.
Aku tidak terlambat pagi ini! Kemajuan! Pikirnya antusias. Dengan langkah pelan, ia memasuki ruang kelasnya dengan nafas yang lebih teratur. Bisa ia lihat sudah banyak murid lain di kelas. Hal yang wajar mengingat kelas akan mulai 15 menit lagi. Melihat kursi yang tampak kosong di belakang kelas, ia pun tersenyum lebar. Ia segera berjalan cepat menuju kursi itu.
"Eits, aku akan duduk disana." sebelum ia sempat mendudukkan dirinya di kursi yang ia inginkan, sahutan suara dibelakangnya menghentikannya.
"Hai, Jimin."
Mata pemuda berambut oranye itu membelalak kaget melihat figur yang sangat dikenalnya tengah berdiri di depannya.
"Taehyung!"
Pemuda berambut oranye—Jimin—berlari kecil menghampiri Taehyung dan langsung memeluknya erat. Taehyung tertawa pelan sebelum membalas pelukan Jimin.
"Ba-bagaimana bisa kau ada disini? Bukankah kau akan melanjutkan pendidikan di Daegu saja? Dan, kau merubah warna rambutmu!" ujar Jimin usai memeluk sahabat karibnya.
Taehyung tertawa pelan lalu mengacak rambut Jimin pelan. "Kujelaskan nanti. Sebentar lagi akan bel. Oh ya, apa kau ingin duduk disana?" tanyanya sambil menunjuk kursi yang hendak diduduki Jimin sebelumnya.
Jimin mengangguk. "Iya, aku kurang suka mata kuliah ini, ada baiknya aku duduk di belakang. Aku bisa gila kalau harus duduk di depan memperhatikan dosen seperti mereka." Jelasnya sambil mengarahkan kepalanya kearah para murid yang duduk di depan kelas.
Taehyung mengangguk mengerti. "Baiklah, ayo."
"Tunggu sebentar, Taehyung. Kursi di bagian belakang sudah penuh. Hanya tinggal satu kursi kosong, aku lebih baik duduk di kursi yang bisa bersampingan denganmu. Bukankah itu lebih asik? Kita bisa mengobrol seharian!"
Taehyung memiringkan kepalanya bingung. "Tinggal satu ya? Kurasa aku bisa meminta murid itu untuk pindah. Dia kelihatannya lebih cocok di depan kelas." tunjuk Taehyung kearah seorang pemuda berkacamata yang tampak asik dengan buku bacaannya.
"Kau mengenalnya?" tanya Jimin.
Taehyung hanya tersenyum. "Kau tunggulah disini." Dengan langkah santai Taehyung berjalan menuju pemuda berkacamata di belakang kelas. Ia mengetuk meja pemuda itu pelan.
"Hai."
Pemuda berkacamata itu menatap Taehyung bingung. "A-ada ya-yang bisa kubantu?" tanya pemuda itu dengan terbata.
Taehyung menggelengkan kepalanya pelan. "Kau lihat temanku disana? Dia ingin duduk di bagian belakang kelas, tapi kursi yang kosong hanya di sampingmu ini. Kosong bukan?"
Pemuda berkacamata itu mengangguk pelan. Taehyung tersenyum puas sebelum ia menampakkan wajah bingung. "Ah, tapi dia tidak ingin duduk dengan orang asing. Dan, kau tahu sudah tidak ada kursi kosong lagi selain di sampingmu, 'kan?"
Pemuda berkacamata itu kembali mengangguk. "Jadi, Kim Min Jae, apa kau keberatan untuk pindah?"
Minjae menatap Taehyung bingung sekaligus takut, dia hanyalah seorang kutu buku di kampus ini, bagaimana bisa ia tahu namanya. "T-tapi, sudah tidak ada kursi kosong lagi di bagian belakang. D-dan, aku tidak ingin duduk di bagian depan kelas." tolak Minjae dengan raut muka takut bercampur khawatir.
Wajah ramah Taehyung berubah keras seketika. Ia tersenyum pelan sebelum mendekatkan dirinya dengan Minjae, ia menepuk pelan pundak pemuda itu. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan di telinga Minjae.
"Kau tahu Minjae, sudah lama aku ingin sekali mengakrabkan diri denganmu. Aku memang baru saja pindah ke kampus hari ini, tapi aku tahu tentang semua orang di kelas ini. Kau tahu 'Savage'? Geng kampus yang suka membuat masalah di dalam ataupun di luar kampus ini? Dan, kau tahu siapa yang memimpin mereka? Kim. Taehyung. Kau merasa akrab dengan nama itu? Ah, aku lupa kalau kau bahkan belum mengenalku. Aku, Kim Taehyung."
Minjae membelalakan matanya kaget. Dia tidak menyangka Taehyung yang suka dibicarakan itu adalah Taehyung ini. Bukankah seharusnya pemuda itu di Daegu!?
Minjae menatap Taehyung takut, dia begitu kaget melihat wajah ramah Taehyung yang sebelumnya kini seudah tergantikan dengan wajah datar dan dingin.
"Apa kalian baik-baik saja?"
Sebuah suara menghentikan obrolan Taehyung dan Minjae. Taehyung berbalik pelan sebelum senyuman lebar kembali tercetak di wajahnya.
"Jimin, bukankah sudah kukatakan untuk menunggu saja?"
Minjae menatap Taehyung kaget. Bagaimana bisa pemuda itu merubah ekspresi wajahnya secepat itu seolah tidak terjadi apa-apa?
"Tak apa, Taehyung. Lagipula sebentar lagi akan pelajaran akan dimulai, aku rasa eh.." bingung Jimin sembari menatap Minjae.
"Minjae." jawab Minjae yang mengerti maksud Jimin.
Jimin tersenyum pelan. "Kurasa Minjae sudah nyaman dengan kursinya, aku tidak keberatan duduk di depan. Lagipula, kita bisa tetap mengobrol, siapa perduli dengan dosen?"
Taehyung tersenyum pelan menatap Minjae.
"Benarkah begitu?"
Biarpun Taehyung tengah tersenyum, namun Minjae bisa merasakan bagaimana suara Taehyung merendah dan dingin yang berbanding terbalik dengan senyuman di wajahnya.
Jimin menatap Minjae yang terdiam. "Minjae?"
Minjae menggeleng pelan sambil merapikan buku-bukunya. "A-aku tidak keberatan Jimin-ssi. Lagipula, ada baiknya untuk duduk di depan kelas. Sebagai mahasiswa beasiswa aku harus memperhatikan pelajaran. Silahkan duduk."
Sebelum Jimin sempat membalas, Minjae langsung berbalik dan berjalan cepat menuju depan kelas.
"Ada apa dengannya?"
"Ck, kau terlalu banyak berfikir. Bukankah lebih baik kita duduk dan menyiapkan buku?" ajak Taehyung sambil mendudukkan dirinya dan menarik Jimin pelan untuk duduk di sampingnya.
Jimin hanya terdiam sambil terus menatap meja di depannya. Ia masih merasa ada yang janggal dengan sikap Minjae. Dia memang tidak mengenal Minjae, mereka baru memulai kelas satu minggu yang lalu. Belum banyak orang yang dikenali Jimin di kampus ataupun di kelas ini. Tapi, ia sering berpapasan dengan Minjae, dan ia merasa senyum serta ekpresi wajah Minjae tadi tampak janggal.
"Jimin?"
"Ah, ya?"
Taehyung menatapnya bingung. "Apa yang kau fikirkan?"
Jimin menggeleng pelan, lalu tersenyum meyakinkan. Ia tidak ingin membuat Taehyung khawatir di hari pertamanya ini.
Sebelum Jimin sempat menjawab, kehadiran dosen menghentikannya.
"Sudah masuk, kurasa kita lanjutkan nanti."
Seorang pria berkisaran usia 30-an tampak berdiri di depan kelas dengan laptop di tangannya. Setelah meletakkan laptopnya di atas meja, ia menghadap kelas sebelum tersenyum pelan.
"Ah, kurasa jumlah yang hadir semakin hari semakin banyak. Aku senang jika kalian mulai sadar pentingnya pelajaran ini, dan tidak membolos."
Sedangkan, para murid hanya bisa tersenyum terbiasa mendengar sambutan dosen mereka.
"Ah, aku lupa. Kalian mungkin sudah menyadari wajah asing di antara kalian. Nah, kau di belakang kelas. Majulah dan kenalkan dirimu."
Jimin menepuk Taehyung pelan.
"Majulah, cepat!"
Taehyung memanyunkan bibirnya. "Aku tidak suka melakukan perkenalan di depan kelas. Bisakah kulakukakan disini?" pintanya sambil menghadap dosen.
Pria itu hanya bisa mengangguk pelan tak tega melihat wajah memelas Taehyung.
Taehyung tersenyum lebar.
"Hallo semuanya! Kenalkan, namaku Kim Taehyung."
Suara bisik-bisik mulai terdengar begitu Taehyung selesai menyebutkan namanya.
"Taehyung? Omo, jangan-jangan dia Taehyung 'Savage' itu!"
"Ya ampun, siapa nama dia?"
"Astaga, bukankah ia seharusnya di Daegu?"
Jimin menatap seisi kelas bingung. Apa? Bagaimana bisa mereka tahu kalau Taehyung berasal dari Daegu? Dan lagi, Savage? Apa itu?
Dosen memukul mejanya keras begitu mendengar keributan kelas.
"Apa-apaan kalian, tidak bisakah kalian menghormati teman kalian yang sedang bicara? Kalian ini sudah dewasa, apa hal seperti itu harus terus diingatkan!?" kesal pria itu. "Lanjutkan."
"Ah, terima kasih! Wah, kelihatannya kalian tahu banyak soal diriku. Aku memang berasal dari Daegu, seharusnya aku pindah kesini di hari pertama. Tapi, karena sesuatu aku harus menundanya sampai hari ini."
Suara bisik-bisik di kelas masih terus terdengar. Sebelum dosen sempat kembali menegur mereka suara Taehyung sudah kembali terdengar.
"Kalian tahu, kepindahanku disini memang sedikit sulit. Sebuah, ah bagaimana mengatakannya. Group? Geng? Ya, kalian pasti tahu siapa yang kumaksud. Mereka ingin bertemu denganku terlebih dahulu. Kurasa mereka geng yang baik, mereka membantu penyusunan surat-surat kepindahanku."
Suara bisik-bisik di kelas mulai mereda.
"Ah, apa Geng ini membuat kalian risih? Aku bisa membantu kalian untuk bicara dengan mereka. Aku sudah terbiasa menghancurkan apapun yang suka ikut campur. Itu sangat mengganggu." lanjutnya dengan wajah dingin.
Ia menatap seisi kelas. Tanpa menunggu lama, para murid langsung mengerti dan menggelengkan kepala mereka cepat.
Taehyung kembali tersenyum lebar. "Ah, aku rasa sekian perkenalanku! Terima kasih!" usainya sambil membungkukkan badan dan kembali duduk.
Dosen hanya bisa terdiam menatap Taehyung. Sebelum ia tersadar kalau ia harus segera kembali mengajar. "Ah, kau sudah selesai? Baiklah, aku rasa urusan Group ataupun Geng yang kau bahas tadi bisa kau diskusikan sendiri dengan teman sekelasmu nanti. Pelajaran kita mulai."
To Be Continue
Author's Note
Hallo!
Author ingin mengucapkan terima kasih bagi yang sudah menyempatkan membaca dan menunjukkan ketertarikan pada cerita Author.
Maaf jika chapter pertama ini masih pendek. Seiring berjalannya cerita, setiap chapter akan semakin diperpanjang sesuai dengan konteksnya. Semoga, chapter pertama ini dirasa cukup untuk pembuka.
Terakhir, mind to review?
